Just another WordPress.com site

By. John Piper
Tuhan menciptakan kita untuk KemuliaanNya
“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” (Yesaya 43: 6 – 7)

Setiap Manusia harus hidup untuk Kemuliaan Allah

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. “ ( 1 Korintus 10:31). Cara hidup yang memuliakan Tuhan adalah dengan mengasihiNya(Matius 22:37), percaya padaNya (Roma 4:20), bersyukur padaNya (Mazmur 50:3) dan taat kepadaNya (Mateus 5:16). Apabila kita melakukan hal-hal ini, kita menggambarkan kemuliaan Tuhan.

Kita semua telah berdosa dan Kehilangan Kemuliaan Allah

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (Roma 1: 21 – 23). Tidak seorangpun dari kita telah mengasihi atau percaya atau bersyukur atau taat kepada Tuhan sebagaimana mestinya.

Kita Pantas Menerima Hukuman Kekal

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23). Barang siapa yang tidak mentaati Tuhan Yesus akan “mengalami hukuman penganiayaan kekal dan tersingkirkan dari hadirat Allah dan dari segala kemuliaanNya (1 Tesalonika 1:9), “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Matius 25:46)

Dalam AnugerahNya yang Besar Tuhan Mengutus Putera TunggalNya Tuhan Yesus Kristus Untuk Menyediakan Jalan Kehidupan Kekal Bagi Semua Orang Berdosa

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, “ (Galatia 3:13). “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah;” (1 Petrus 3 :18)

Kehidupan Kekal adalah Anugerah Cuma-Cuma kepada Semua yang Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat

“”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kisah Rasul 16:31). “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”(Roma 10:9). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8). “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20)

By. John Piper
Liburan adalah saat – saat yang berbahaya yang bisa melemahkan kekuatan. Selama liburan harapan kita untuk bersenang – senang akan lebih besar, sehingga kenyataan tentang kesedihan akan terasa lebih berat. Seharusnya anda merasa muram di bulan Februari; dengan begitu masalah ini bisa ditoleransi. Tetapi hari Thanksgiving dan Natal seharusnya dirayakan dengan sukacita dan besar – besaran. Pendapat inipun hanya akan melipatgandakan rasa putus asa yang kita miliki. Bolehkan saya menawarkan obat – obatan pencegah?

Saat Tuhan rindu menunjukkan tentang janjiNya yang tidak akan berubah yang mencerminkan karakter tujuanNya kepada orang – orang pilihanNya, Dia menambahkan sebuah sumpah, sehingga melalui kedua hal tersebut (janji dan sumpahNya), menyatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah ingkar atau salah, “karena itu untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah – ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita” (Ibrani 17 – 18)
“ … Tuhan rindu untuk menunjukkan dengan lebih meyakinkan …”

Tulisan ini sudah mengatakan bahwa Tuhan sudah cukup memberikan kekuatan kepada kita. Tetapi Tuhan kita bukanlah Tuhan yang minimum. TujuanNya bukanlah untuk memberikan sedikit kata-kata penguatan seminimal mungkin. Dia berkata untuk memberikan pengharapan kepada kita. Kemudian, Allah kita yang adalah Allah yang selalu memberikan kata – kata penguatan dan pengharapan dengan penuh perasaan, berkata pada diriNya sendiri: “Ini bagus. Aku suka melakukan ini. Saya harus melakukan ini lagi.” Dan benar, Dia akan terus memberikan kata – kata penguatan lebih banyak lagi.

Tetapi bukan hanya lebih banyak. Kata – kata penguatan itu juga lebih baik. Dia memulai dari janji – jani yang sederhana (yang tidak mungkin gagal dan pasti sangat bisa dipercaya!) kemudian Dia menambahkan sumpah. Dan bukan sekedar sembarang sumpah, tetapi jenis sumpah yang terbaik dan tertinggi tingkatnya – yaitu sumpah yang berdasar diriNya sendiri. Mengapa? Bukan karena firmanNya lemah, tetapi karena kitalah yang lemah dan Dia sabar.

Dia sangat rindu untuk “menunjukkan … membuktikan … membiarkan kita kita melihat … memperlihatkan secara detil … mewakili … mempresentasikan … mengungkapkan … membawakan” pengharapan akan masa depan kita. Dia benar – benar ingin kita merasakan semua hal ini. Setelah melakukan untuk pertama kalinya, Dia akan melakukannya lagi untuk yang kedua, (dan ketiga dan keempat dan seterusnya) untuk terus membantu kita merasakan penguatan dariNya. Inilah yang Dia inginkan. Inilah yang sebenarnya Dia mau. “ Saat Tuhan rindu untuk menunjukkan dengan cara yang lebih meyakinkan …”

“… agar kita mendapatkan penguatan yang kokoh …”

Penguatan seperti apa yang Tuhan ingin kita rasakan? Dia berkata, “Penguatan yang kokoh!” Perhatikan kata tersebut. Dia bisa saja berkata, “penguatan yang hebat” atau “penguatan yang besar” atau “penguatan yang dalam”, semuanya benar. Tetapi kata sesungguhnya adalah “kokoh”. Penguatan yang bertahan melawan musim apapun yang berusaha menjatuhkan. Kotbahkan ini kepada dirimu sendiri; “Tuhan rindu aku mendapatkan kekuatan yang “kokoh”!

“ … untuk menjangkau pengharapan di depan kita …”

Banyak saat – saat indah dalam hidup ini. Tetapi marilah hadapi kenyataan ini: hari – hari ini jahat, ketidaksempurnaan kita membuat kita frustasi, dan kita semakin bertambah tua, dan bergerak mendekati kubur. Apabila kita hanya memiliki pengharapan dalam Kristus semasa kita hidup saja, sungguh, kita ini orang yang pantas dikasihani. Ada saat indah yang akan datang dalam hidup kita. Tetapi hal hal indah inipun dianggap sampah apabila dibandingkan dengan nilai-nilai yang terlampau tinggi saat mendapatkan Kristus. Bahkan disini kita bisa besukacita dengan sukacita yang tak terkatakan dan kemuliaan penuh. Tetapi itu semua dicapai hanya karena adanya “pengharapan di depan kita”. Jangkau dan raihlah pengharapan itu. Tuhan memberikan penguatan untuk melakukannya. Ambillah sekarang juga. Nikmatilah sekarang. Biarlah anda semua dikuatkan oleh pengharapan tersebut. Biarlah anda dikuatkan secara kokoh. Karena pengharapan anda terjamin aman dengan ketidakterbatasan yang ganda: Janji Tuhan dan sumpah yang sudah diucapkan Tuhan.

By. John Piper
1. Yesus Kristus, seperti Dia dinyatakan kepada kita di dalam Perjanjian Baru, dan Dia menonjol di semua tulisan itu, Dia sendirian dan terlalu besar untuk diciptakan sampai-sampai begitu seragam oleh semua penulis ini. Kekuatan Yesus Kristus tergambar dalam tulisan-tulisan ini; tulisan-tulisan itu tidak menciptakan kekuatan. Yesus jauh lebih besar dan lebih menarik dari semua saksi matanya. Realitas Yesus berdiri teguh mendukung tulisan-tulisan itu sebagai hal luar biasa, kejadian global yang berdiri mendukung dibelakang ribuan pekabar. Sesuatu yang luar biasa telah mendorong saksi-saksi, yang beragam, menceritakan berbagai cerita menakjubkan dalam berbagai variasi tapi tetap menyatu tentang Yesus Kristus.

2. Tidak ada seorangpun pernah menjelaskan tentang kubur kosong Yesus di lingkungan yang memusuhi-Nya di Yerusalem, dimana musuh-musuh Yesus akan melakukan segala hal untuk memperlihatkan mayat itu masih ada, tetapi tidak bisa. Upaya awal untuk menutupi skandal kebangkitan terlihat berkontradiksi dengan seluruh pengalaman manusia : para murid tidak mencuri jenazah itu (Matius 28:13) dan kemudian mengorbankan jiwa mereka untuk memberitakan Injil Agung berdasarkan kebohongan. Teori modern menyatakan Yesus tidak mati tapi mati suri, dan kemudian terbangun di dalam kubur dan mendorong batu kubur serta membohongi para murid, yang skeptis, untuk percaya bahwa Dia bangkit sebagai Tuhan alam semesta —- teori ini tidak menarik.

3. Musuh sinis Kekristenan sangat banyak, (tetapi) dimana klaim-klaim dibuat bahwa banyak saksi mata tersedia untuk dikonsultasikan tentang kebangkitan Yesus dari kematian. “Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal” ( 1 Korintus 15:6). Klaim-klaim seperti itu akan terlihat langsung sebagai kebohongan, jika mereka bisa. Tapi kita tahu tidak ada pernyataan (mengenai hal itu). Saksi mata akan kebangkitan Tuhan sangat banyak ketika klaim sangat penting itu dinyatakan.

4. Gereja mula-mula memiliki kegigihan iman dan kasih dan pengorbanan berdasarkan Yesus Kristus yang nyata. Karakter gereja-gereja ini dan inti Injil akan berkat dan pengampunan, dan keberanian laki-laki dan perempuan — bahkan menghadapi kematian — tidak cocok untuk masuk dalam hipotesa histeria massal. Mereka tidak seperti itu. Sesuatu yang benar-benar nyata dan luar biasa besar telah terjadi di dunia dan mereka cukup dekat untuk mengetahuinya, dan diyakinkan oleh itu, dan tercengkram oleh kekuatannya. Sesuatu itu adalah Yesus Kristus, seperti yang mereka nyatakan, bahkan saat kematian menjemput mereka bernyanyi.

5. Nubuat-nubuatan Perjanjian Lama menemukan penggenapannya dalam sejarah Yesus Kristus. Saksi penggenapan nubuatan ini terlalu banyak, terlalu beragam, terlalu rumit dan terlalu terjalin masuk kedalam sejarah gereja Perjanjian Baru dan begitu banyak tulisan-tulisan itu untuk bisa dimanupulasi oleh semacam konspirasi besar. Memasuki detil-detil, Yesus Kristus menggenapi belasan nubuatan Perjanjian Lama yang membenarkan kebenaran-Nya.

6. Para saksi mata Yesus Kristus yang menulis injil-injil Perjanjian Baru dan surat-surat bukanlah orang yang mudah ditipu atau pembohong atau gila. Hal ini terlihat dari dalam tulisan-tulisan itu sendiri. Buku-buku itu memperlihatkan tanda-tanda intelektual dan sangat sadar dan dewasa dan mempunyai visi moral yang sangat menawan. Mereka memperoleh kepercayaan kita sebagai saksi mata, terutama ketika semua hal dipersatukan dengan penyatuan besar, tetapi secara khas berbeda, pesan mengenai Yesus Kristus.

7. Pandangan akan dunia yang muncul dari penulisan-penulisan Perjanjian Baru secara realitas lebih masuk akal daripada sudut pandang lainnya. Hal ini tidak saja cocok dengan hati manusia, tetapi juga kosmos dan sejarah dan Allah ketika Dia menyatakan diri di dalam alam dan (orang) menyadarinya. Sejumlah orang mungkin sampai pada kesimpulan ini setelah banyak berefleksi, yang lain mungkin sampai pada keyakinan ini dengan pre-refleksi, rasa intiutif yang dalam kecocokan Kristus dan pesan-Nya bagi dunia yang mereka tahu.

8. Ketika seseorang melihat Kristus sebagaimana Dia sebenarnya digambarkan di dalam Injil, maka ada cahaya spiritual yang memberikan keotentikannya sendiri. “Dari dalam gelap akan terbit terang!” (2 Korintus 4:6), dan langsung dipandang oleh Roh — terbangun di hati sebagai cahaya yang bisa dilihat oleh mata. Mata tidak membantah bahwa itu ada cahaya. Melihat Cahaya.

9. Ketika kita melihat dan percaya akan kebesaran Allah di dalam Injil, Roh Kudus diberikan untuk kita sehingga kasih Allah akan “karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”(Roma 5:5). Pengalamam kasih Allah ini diketahui oleh hati melalui Injil-Nya, yang mati untuk kita ketika kita masih berdosa, meyakinkan kita bahwa harapan yang dibangkitkan oleh semua bukti-bukti yang sudah kita lihat tidak akan mengecewakan kita.

by. John Neufeld
Living in this world means suffering. But for the believer suffering and glory belong together. In describing our suffering, Paul is holding a scale before us. Not a bathroom scale, but an ancient scale; one that balanced one weight against the other. On the one side, Paul places all the suffering that Christians will endure on this side of eternity. On the other side of the scale, Paul places our future glory. What does our suffering weigh? How does this compare with the weight of our future glory? 2 Corinthians 4:17 says, “For this slight momentary affliction is preparing for us an eternal weight of glory beyond all comparison.” For believers, all present suffering is light and momentary. Our future glory is weighty and eternal.

The Reality of Suffering in the Christian Life

That might seem insensitive, idealistic or even unrealistic. What is light and momentary about life long chronic pain? What is light and momentary about crippling arthritis? What is light and momentary about the death of a loved one? What is light and momentary about being imprisoned unjustly? I come from a family where I am the first generation to have been born without persecution. My parents witnessed and experienced famine, starvation, torture and war. So did their parents. Growing up and hearing their stories have left me with the lasting impression that peace on this earth is the anomaly, that suffering is its normal state to which it always returns, as water to the lowest place.

Philippians 1:29 asserts that it has been graciously granted to us that we should not only believe in Christ, but suffer for his sake. This includes the call to bear the cross of discipleship, for Christ will always be opposed and his followers will always be hated. I have heard many such stories from parishioners in the international church where I pastor. In their culture, shame is the ultimate ignominy, and they are told they have brought shame to their family. The very first step of conversion, which we frequently celebrate with unbridled joy, has come to them with the taste of a crushing load grief. While many of us cannot identify with that, we must remember that the call to suffering always comes about when one takes the commands for obedience seriously. It may come as we struggle with sin, as we seek faithfulness in an unfaithful world or it may come in the form of persecution. The Bible promises, that however it comes, it will come. That is Christ’s promise (Matthew 24:9, John 15:18-21, 16:33, etc).

How Should Christians Respond to the Reality of Suffering?

The book of Hebrews tells us, that for Christians, all suffering, and that includes illness and tragedy, is actually God’s discipline. Not punishment – discipline. In fact, the call to suffering is God’s way of treating us as sons. It is a mark we bear which identifies us as his own. If we don’t suffer, we are illegitimate children.

None of this belittles the suffering of the child of God, indeed, it elevates it. And what is more, Christ cares. He weeps for and with his children, for he understands our suffering. But he graciously sends it, for he knows that it is necessary for our long term good. To see the long-term benefits, we must compare our present experience with suffering to the pleasure in eternity. And so Paul holds a scale before us, and we are given an exercise of faith. Weigh our suffering on one side, and then on the other place the weight of eternity.

One simply can’t compare the sorrow of the moment to the joy before us. Indeed, Jesus himself was able to endure the cross because of the joy set before him. (Hebrews 12:2) We must think of this often. And so, in Romans 8:18, Paul begins with the words “I consider”. In the Greek, “consider” is actually a mathematical word, a word for calculating a sum. Place on one side of a scale the present suffering and then place one’s future glory on the other side. Now calculate the difference of weight. Will not the present suffering be so small, as to render it inconsequential in comparison? Whenever any believer passes through the portal of death; there is at that moment an outburst of beauty, of inexpressible joy, of delight, of soul rapture – that is so profound and real and everlasting – and heavy – that even the greatest suffering of this world is light in comparison.

All of Creation is Fixated on Future Glory

This thought is intended to make us yearn for eternity. But, surprising as it might seem, not only are we yearning for eternity, so also, says the apostle, is the creation. Many of us remember the earlier space launches. The old Apollo space ships included booster rockets, fuel tanks and all sorts of things that were all jettisoned after hurling a tiny little manned capsule into orbit. Some of us think of eternity in that fashion. “It’s all going to burn”, we say. And by that, we tend to discount the meaning of our experiences with the creation.

But, Paul speaks of an eager longing in creation. The word comes from a root word which means “craning of the neck.” I find that I understand that word. Since I am only 5’9”, every time I am in a crowd, someone 6’1” is always standing in front of me. It must be Murphy’s Law. So I end up stretching out my neck as far as I can, leaning over from side to side, even jumping up and down to see what now is partially obscured.

And that is precisely what creation is doing. It is craning the neck for an event which is just ahead. But now comes the really stunning part. We might assume the event is the second coming of Jesus, and of course it is. But that is not what the text says. Rather, creation is jumping up and down, straining its neck for the revealing of the sons of God. What believers presently are is not what we shall be, and this leaves creation trembling, anticipating, and breathless. Why? Because when we are freed, creation will be freed too!

When the first European explorers came down the St. Laurence River, it was then so abundant with fish, that the sailors could lower wicker baskets on ropes from the side of the ship, and then, as they lifted them from the water, they would be full of fish. Imagine that! Today, the St. Laurence is dead seaway. What now is but a shadow of what once was. And if one listens carefully, one can hear the St. Laurence groaning. This is but a faint picture of the world before sin, a world so pulsating with the dynamism of life has been reduced to but a faint image of its former glory.

How did that happen? Our passage says it was deliberately subjected to futility. Indeed, the futility of the earth comes from the hand of God. The very God who pronounced his creation good, has also created a world that would need a cross, need a savior, need redemption. It was God who cursed the creation after the fall. And it is God himself who will redeem it.

The Need for Perspective

Why is all of this so important? It is important because apart from faith, all suffering, all evil, all futility, all disappointment is meaningless and but a sign of death. But in Christ, sufferings are not the final cries in an empty universe, but are rather the rich, anticipatory cries that are the prelude to joy, life, freedom and fulfillment.

Years ago, I read about a product being marketed that never quite took off. For those individuals who were trying to diet, but who loved fattening foods, one could spray a little taste of ice cream, or pie, or chocolate onto ones tongue. The idea was that one could have the taste without eating the food. In theory, just the taste would satisfy you. But if anyone is like me, the taste of chocolate on my tongue makes me want to break into a chocolate factory and sate my appetite. A foretaste never makes me say, “That is enough.” A foretaste only whets my appetite.

That is the idea in Romans 8:23. Of course, the word in Romans 8:23 is not the word, “foretaste,” but is the word “firstfruit.” I have deliberately substituted one word for the other not to give a false sense of what the scripture says, but to help get the point. In the Old Testament, the idea of a firstfruit comes from the idea of offering. At the beginning of the harvest – the worshiper took the firstfruit of his harvest and offered it to God, and in faith – knowing that there was an abundance more to come in. So – in the same way – having the Holy Spirit living in your life is a firstfruit, or a down payment – or a foretaste – of an abundance to come in. Right now, the Holy Spirit has begun preparing us for our future glory. He has given us life and peace (Romans 8:6), the power to kill sin in our lives (Romans 8:13), and the assurance of our adoption (Romans 8:15). And yet…all of this is just the beginning! God’s people are groaning- with joy and anticipation-until we get the whole thing.

The temptation to forget our future glory is a constant threat, to which many Christians succumb. Yet in Romans 8:18-25, the Lord is calling us to keep our eyes fixed on the age to come. Future glory awaits! And…just in case you didn’t know it, that is the reason for our suffering. God doesn’t want you to put your hope in things on this side of eternity. So that you won’t spend your life settling for lesser treasures, God has His children to groan for eternity. And then, our present suffering will seem light and momentary against the weight of eternity.

by. John Piper
Sudah pasti buat kita penderitaan tidak bisa dimengerti, tidak. Tetapi bagi Allah ada artinya. Karena itu penderitaan bukannya irasional atau tidak masuk akal.

Perspektif kita bukanlah perspektif Allah. Kita tidak mempunyai pandangan yang sama dengan Dia. Ada banyak analogi tentang hal ini. Analogi yang paling saya sukai adalah tentang sulaman. Analogi ini dipakai oleh Corri ten Boom, yang banyak mengalami penderitaan pribadi sewaktu Perang Dunia II ketika dia dipenjarakan karena menolong orang-orang Yahudi.

Dia berkata bahwa penderitaan di dunia ini seperti melihat dibalik karya sulam. Allah menenunnya dari atas ke bawah, sehingga Dia bisa melihat pola gambar yang terbentuk. Kita melihatnya dari bawah, dan yang kita lihat adalah benang-benang kusut. Kelihatannya tidak ada arti sama sekali, walaupun karya sulamannya sama.

Di dalam Alkitab, Allah memberikan cukup bukti akan kemampuanNya sebagai penenun. Alkitab juga memberikan cukup gambaran sekilas dari sulaman tersebut, dan cukup pula janji-janji bahwa Dia akan membuat semua benang kehidupan kita menjadi indah, jadi walaupun kita hanya melihatnya dari bawah dari waktu ke waktu, kita dapat percaya padaNya. Itulah yang kita lakukan ketika mengalami penderitaan.

Kita tidak perlu mengetahui mengapa penderitaan itu harus terjadi sekarang. Mengapa penderitaan itu harus sebegitu beratnya, dan sebegitu besar akibatnya. Kita tidak bisa melihat semua itu. Yang bisa kita lihat adalah janji-janji, “Aku turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagimu” dan “Aku akan melimpahkan anugerahKu dalam kelemahanmu”. Allah telah cukup membukakan bagi kita di dalam Alkitab untuk mengetahui bahwa ada sulaman di atas sana dan bahwa saya adalah bagian dari sulaman itu, dan itu akan menjadi indah. Saya mau bergantung padaNya.

Maukah Anda berdoa untuk orang yang sedang bergumul dengan penderitaan saat ini?

Amin, Marilah kita berdoa.

Bapa, saya berdoa bersama rasul Paulus agar Engkau memberikan pada setiap orang yang sedang mendengar saya saat ini untuk diberikan kekuatan rohani, sesuai dengan kekayaan anugerahMu, melalui rohMu. Saya berdoa agar dengan iman, Kristus tinggal di dalam hati mereka, dan agar mereka berakar dan tertanam dalam kasih. Saya berdoa agar ditengah-tengah penderitaan mereka boleh mendapatkan kuasa, kuasa rohani, bersama semua orang suci untuk bisa memahami betapa tinggi, dalam, panjang dan luasnya, dan untuk mengetahui bahwa kasih Kristus itu melebihi segala pengetahuan.

Saya berdoa agar Krisus dapat menjadi harta yag berharga bagi mereka, biarlah Dia dapat menjadi pengharapan mereka, kekuatan mereka, dan sukacita mereka. Tuhan, jadikan Yesus begitu nyata, begitu berkuasa, begitu dalam, begitu unik, begitu pasti sehingga tak tergoyahkan, agar mereka tidak bimbang dalam ketidak percayaan ketika mereka menjalani kapahitan dalam hidup mereka.

Ya Tuhan, berikanlah anugerahMu yang menguatkan.

Bukan anugerah untuk menepis hal-hal yang tidak menyenangkan,
Bukan juga lari dari segala kesusahan, tetapi berikanlah:
anugerah untuk mengatasi kesulitan dan kepedihan kami,
sehingga dalam kegelapan hidup, ada anugerahMu yang memberikan kekuatan.
Topanglah tiap-tiap orang, ya Tuhan, dengan anugerahMu ketika mereka berserah kepadaMu.

Dalam nama Yesus saya berdoa, Amin.

by. John Piper
Saya harus hati-hati karena saya berpikir tidak seharusnya kita menguji Tuhan dengan melompat terjun dari bait suci, karena Yesus sendiri sudah mengajarkan kepada kita dengan sangat jelas. Jangan menguji Tuhan dengan melakukan hal – hal yang bodoh. Jangan berlari di depan truk yang sedang melaju, jangan menyuntik dirimu sendiri dengan racun, dan jangan memegang ular, dan sebagainya.

Dalam hal ini memilih untuk menderita dengan melakukan kebodohan seperti tersebut diatas adalah sebuah dosa.

Apa yang dimaksud dengan memilih untuk menderita adalah memilih sebuah gaya hidup yang memiliki kasih yang dengan sepengetahuan kita akan melibatkan kita dengan penderitaan. Atau, apabila seseorang meletakkan sebuah pistol pada kepala anda dan berkata, “Kamu mati, atau kamu mau berkata, “Sang Kaisar adalah Tuhan,” dan anda memilih kematian.

Alasan kita memilih penderitaan adalah, pertama, karena alternatif yang ditawarkan berarti ketidaktaatan. Tetapi ada kasus-kasus yang tidak begitu jelas, misalnya apabila gaya hidup yang kita pilih adalah satu-satunya pilihan, dan anda memilihnya karena anda mengasihi banyak orang.

Dan anda tahu bahwa Tuhan akan mengambil penderitaan yang akan anda alami dan mengubahnya untuk kebaikan anda; karena Alkitab mengatakan dengan sangat jelas bahwa kita akan bersukacita dalam pencobaan karena apa yang dihasilkannya, yaitu kemurnian dan harapan, dan karena kemurnian dan harapan lah kebaikan itu bisa terjadi.

Apabila anda mempunyai Tuhan yang berkuasa besar yang anda percayai – karena DIa baik dan juga maha kuasa – anda tahu bahwa DIa akan mengatur penderitaan apapun yang menurutNya bijak, dan DIa akan mengubahnya untuk kebaikan anda dan kebaikan gerejaNya.

Karena itu, demi ketaatan, demi kemurnian anda, dan demi kemuliaan Kristus, orang-orang Kristen harus menyambut resiko-resiko kasih yang akan membawa anda pada penderitaan.

by. John Piper

Efesus 4:31-5:2

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Ayat ini sangat kaya hingga kita bisa mengambil hampir setiap frasenya dan merenungkannya berjam-jam. Tapi saya memutuskan untuk menyatukan pemikiran kita di sekitar perintah sederhana di ayat 32, “Ramahlah seorang terhadap yang lain.”

Lima Aspek keramahan Orang Kristen

Saat saya merenungkan ayat-ayat ini di mata saya ayat ini mengatakan kepada lima hal tentang keramahan Kristen:

jangkauan keramahan Kristen,
kedalaman keramahan Kristen,
pola keramahan Kristen,
instrumen keramahan Kristen, dan
sumber keramahan Kristen.
Mari kita pelajari satu demi satu. Dan saat mempelajarinya mari kita berdoa agar Roh Allah akan menjunjung Firman-Nya dengan membuat kita diubahkan oleh firman.

1. Jangkauan keramahan Kristen

Berapa banyak keramahan yang harus kita tunjukkan? Hal ini dibahas dalam ayat 31. keramahan Kristen sangat luas sehingga menggantikan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. . .demikian pula segala kejahatan.” Kata “segala” digunakan dua kali; di awal, ” “segala kepahitan,” dan di akhir, “segala kejahatan.” Inilah bagian manusia lama yang rusak yang harus ditanggalkan. Dan keramahan merupakan manusia baru yang harus dikenakan. Paulus masih memberikan ilustrasi khusus prinsip-prinsip di ayat 22-24.

Kemarahan dan Keramahan

Tetapi muncul pertanyaan apakah semua amarah dan kemarahan harus digantikan oleh keramahan. Kepahitan, ya. Pecahnya pertikaian kekerasan, ya. Pergunjingan dan membicarakan di belakang, ya. Kejahatan, ya. Semuanya, tanpa kecuali, harus dibuang. Tapi bagaimana dengan kegeraman dan kemarahan?

Kami menghabiskan sepanjang malam bersama dua minggu lalu berusaha untuk mendapatkan kesimpulan. Ayat 26 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Dan Yakobus 1: 19 berkata, “Dan juga lambat untuk marah.” Dan Markus 3:5 berkata bahwa Yesus memandang orang-orang Farisi dengan marah. Apakah keramahan Yesus selalu menjangkau orang Farisi? Apakah ramah berkata kepada mereka, seperti yang dikatakan Yesus di Matous 23: 27, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih”? Apakah keramahan saat Ia berkata di Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk menobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Apakah keramahan ketika Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir penukar-penukar yang dari bait suci dan membalikkan meja-mejanya (Yohanes 2: 15, Matius 21: 12)?

Jika Anda berjalan bersama Yesus setelah ia melakukan hal-hal itu dan berkata, “Yesus, tidak baik mengatakan apa yang Anda katakan kepada orang Farisi, ” apa yang akan dikatakan Yesus? Kemungkinan ada dua hal yang ia katakan, Ia seharusnya dapat mengatakan, “Kadang-kadang hati kasih dan semangat untuk kebenaran tidak mengekspresikan diri dalam bentuk keramahan.” Atau dia bisa saja berkata, “Ada sejenis keramahan yang bisa saja sekeras kuku dan setangguh kulit.” Menurut Anda mana yang akan Ia katakan: “keramahan cukup besar untuk mencakup cambukan dan kesengsaraan”? Atau: “keramahan adalah salah satu bentuk kebenaran, tetapi tidak selalu yang terbaik”?

Saat saya sudah melihat semua penggunaan kata “keramahan” di dalam Perjanjian Baru, saya pikir kita akan lebih menghormati kelembutan khusus kata itu dengan mengatakan bahwa Yesus tidak bersikap ramah terhadap orang-orang Farisi. Dia keras terhadap mereka. Dan Roma 11:22 memisahkan antara kemurahan Allah dan juga kekerasannya. Jadi keramahan bukanlah kebaikan mutlak. Hal ini tidak selalu yang paling berbelas kasih. Ini mungkin melibatkan kompromi dengan kejahatan sangat serius sehingga dalam jangka panjang itu menyakitkan orang itu lebih besar daripada membantu. Daerah ini tidak benar-benar keramahan Kristen

Jangkauan Kasih Kristus yang Tidak Terbatas

Jadi ketika Paulus berkata di Efesus 4:26 bahwa kita boleh marah tapi jangan berdosa, kemudian dikatakan dalam ayat 31-32, dan membuang kemarahan dan menjadi ramah, menurut saya maksud Yesus adalah hal ini: Segala kepahitan dan kejahatan harus dibuang. Letusan dalam fitnah dan pertikaian harus dibuang. Tapi ketika berbicara tentang kemarahan emosional dan Anda merasa bahwa ajaran Kristus tidak ditaati dan kemuliaan Allah menghilang dan keramahan gereja berada dalam bahaya, maka, di bawah otoritas Roh Kudus, Anda harus memilih: akankah saya melampiaskan kemarahan saya dalam kekerasan karena pokok kebenaran dan kekudusan dipertaruhkan, atau akankah saya mempermalukan kemarahan saya dengan keramahan karena ada terlalu banyak ego di dalamnya?

Keduanya mungkin dalam jalan kebenaran. Dan dengan demikian jangkauan keramahan Kristen tidak spesifik. Mungkin lebih luas atau lebih sempit dari yang kita pikirkan. Ini merupakan panggilan untuk pemeriksaan diri dalam terang Kitab Suci dan tipuan hati kita sendiri.

2. Kedalaman Keramahan Kristen

Intinya di sini adalah keramahan Kristen bukan semata perubahan luar tingkah laku; keramahan Kristen merupakan perubahan dalam hati. Ayat 32 berkata, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, . .” Keramahan Kristen berhati lembut. Jika hati keras di dalam dan tingkah laku lembut dan sopan serta berguna di luar, itu bukanlah keramahan Kristus.

Ide dibalik “berhati lembut” adalah bagian dalam kita mudah tersentuh. Jika kulit Anda lembut, tidak perlu sentuhan yang terlalu kuat untuk membuatnya merasa sakit. Jika hati Anda lembut, hati Anda mudah dipengaruhi. Hati Anda mudah dan cepat merasa.

Apabila Anda berhenti dan memikirkannya, mengagumkan bahwa hal ini diperintahkan oleh rasul itu. Anda tidak bisa hanya memutuskan untuk berhati lembut dan menghidupkannya seperti keran. Berhati lembut merupakan kualitas karakter yang dalam. Dari mana asalnya? Bagaimana kita bisa menaati perintah ini untuk membuat keramahan kita satu sama lain dalam dan berasal dari hati, bukan dibuat-buat dan dingin? Kita akan melihatnya saat kita lanjutkan.

3. Pola Keramahan Kristen

Dua pola keramahan Kristen diberikan kepada kita di ayat itu. Pertama adalah pengampunan Allah. Kedua adalah kasih Kristus.

Yang pertama kita lihat di ayat 32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Jadi apabila keramahan meminta pengampunan, polanya adalah pengampunan Allah di dalam Kristus.

Pola kedua tampak dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Jadi ketika kasih mengekspresikan dirinya dalam keramahan, polanya adalah kasih Allah yang memberi dirinya untuk kita.

Empat Kualitas Pengampunan Allah

Apa yang diajarkan oleh kedua pola keramahan ini kepada kita tentang ramah seorang terhadap yang lain? Mari kita lihat satu demi satu. Apa yang diajarkan oleh pola pengampunan Allah kepada kita tentang pengampunan kita? Empat hal yang terbersit dalam pikiran:

Pengampunan Allah menganggap dosa secara se Pengampunan bukanlah kesembronoan terhadap dosa. Pengampunan melihat dosa dan mengidentifikasinya-dan kemudian menutupinya. Allah mengampuni apa yang Ia benci. Ketika saya memanggil seorang pria baru-baru ini untuk meminta maaf atas sesuatu yang telah saya katakan dan meminta maaf darinya, ia tidak mengatakan, “Tidak ada bedanya.” Atau: “Aku tidak mendengarnya.” Ia mengatakan dengan tulus dan hangat, “Sudah dimaafkan dan dilupakan.” Dan saya mendapat kesan mendalam bahwa ia bersungguh-sungguh mengatakannya.
Pengampunan Allah mencakup penyelesaian masalah dan demikian juga kita. Setiap dosa yang pernah dilakukan akan mendapat hukuman setimpal-baik di neraka maupun di atas kayu salib. Allah tidak pernah menyapu satu kebohongan kecil ke bawah karpet. Orang selalu membayar. Jadi ketika keramahan meminta kita untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan kepada kita, kita ditopang oleh kebenaran kekudusan Allah. Kesalahan itu akan diatasi dengan: baik orang yang melakukannya kepada kita pada akhirnya akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan dihukum dalam kemarahan yang ditimpakan kepada Kristus ketika Tuhan menanggung kesalahan kita semua (Yesaya 53:4-6); atau orang yang melakukan kesalahan kepada kita pada akhirnya tidak akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan akan dihukum dalam penderitaan neraka. Dan dalam kedua kasus kita tidak boleh takut mengampuni seakan-akan tidak ada penyelesaian di dunia ini.
Pengampunan Allah mahal dan demikian juga pengampunan kita. Harganya adalah Anak-Nya. Dan harga pengampunan kita adalah manisnya balas dendam dan kesenangan menikmati kebencian dan kebanggaan superioritas.
Pengampunan Allah nyata dan demikianlah harusnya pengampunan kita. Tidak ada kepalsuan di dalamnya. Ketika Ia mengampuni, kita benar-benar dipulihkan. Tidak ada yang tertahan di kepala kita yang akan mengintimidasi kita kemudian. Semuanya sirna. “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12). Jadi kita tidak memenuhi standar pola ilahi kita jika kita mengampuni kesalahan namun diam-diam menyimpannya dalam pikiran kita untuk kemudian diingat-ingat. Jika kita mengampuni, marilah kita mengampuni seperti Allah di dalam Kristus mengampuni kita.
Tiga Kualitas Kasih Allah

Itulah pola pengampunan Allah dan empat hal yang dapat kita pelajari dari hal itu dalam mengejar jalan keramahan. Pola kedua bagi keramahan kita adalah kasih Kristus dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Apa yang diajarkan oleh pola kasih Kristus kepada kita tentang kasih kita? Dari semua hal yang bisa kita ucapkan izinkan saya menyebutkan tiga saja.

Kita tidak layak menerima kasih Kristus, dan dengan demikian kita tidak boleh bersikeras bahwa agar orang berjuang mendapatkan kasih dan keramahan kita. Yesus berkata dalam Lukas 6:35, “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka. . .dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tak seorang pun dari kita layak untuk dikasihi oleh Yesus Kristus. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8).
Kasih Kristus untuk kita kudus dan kasih kita haruslah kudus. Tujuan kasih Kristus adalah kekudusan gereja-Nya. “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. . .upaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya . dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” 9Efesus 5:25-27). Dan karena itu kita harus menyingkirkan semua konsep kasih yang digerakkan oleh sentimen dan emosi. Kasih bertujuan untuk kekudusan pria dan wanita, bukan atau perasaan atau kesenangan duniawi mereka. keramahan Kristen bukanlah strategi untuk menghindari konflik. keramahan Kristen berpola pada kasih Kristus dan bertujuan untuk meningkatkan kekudusan.
Kasih Kristus untuk kita penuh pengorbanan dan penyangkalan, dan demikianlah seharusnya kasih kita. Pada dasarnya ini sama dengan yang kita katakan sebelumnya, yaitu, bahwa kasih Allah itu mahal. Tapi baik untuk mengatakannya lagi. Karena setiap kita tahu bahwa hal tersulit mengenai keramahan Kristen adalah menunjukkannya ketika menyakitkan. Saya tidak pernah melupakan keramahan yang ditunjukkan kepada saya oleh Frau Dora Goppelt pada tahun 1974 selama minggu-minggu setelah kematian mendadak suaminya, pembimbing doktor saya di Jerman. Merupakan keajaiban anugerah ketika rasa sakit sedemikian besar sehingga Anda tidak tahu jika Anda bisa bertahan hidup sehari lagi, tapi Anda mengulurkan keramahan kepada mahasiswa asing dan meyakinkan dia kembali bahwa tiga tahun kerja keras itu tidak akan hilang dengan kematian pembimbingnya.
Sebuah keajaiban anugerah! Hal itu membawa kita pada hal keempat yang diajarkan ayat ini tentang keramahan Kristen. Kita telah melihat jangkauan keramahan Kristen yang menggantikan kepahitan dan kejahatan dan fitnah. Kita telah melihat kedalaman keramahan Kristen dalam kelembutan hati. Kita telah melihat pola keramahan Kristen dalam pengampunan Allah dan kasih Kristus. Sekarang kita melihat:

4. Instrumen keramahan Kristen

Apa yang saya maksudkan dengan “instrumen” keramahan Kristus? Saya ingin bertanya, Apa yang harus kita gunakan atau pakai untuk menjadi ramah dan berhati lembut?

Kata Kerja Pasif

Jawabannya ditunjukkan dalam bentuk kata kerja dalam ayat 31. Secara harfiah ayat itu mengatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Kata kerjanya pasif. Ini pastilah petunjuk bahwa instrumen keramahan kita bukan semata diri kita sendiri. Jika tergantung pada diri kita, kita tidak akan lebih mampu membuang kepahitan dan kejahatan dari hati kita daripada kita mengangkat diri kita dari tali sepatu kita sendiri. Tidak terletak dalam diri kita.

Semuanya itu harus DIBUANG dari kita. “Segala kepahitan . . DIBUANG dari Anda.” Seseorang yang lain bekerja selain kita. Hal yang sama kita lihat di ayat 23: “SUPAYA kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, (Kata kerja pasif lainnya!) Pastilah ada kuasa atau orang yang membaharui. Pastilah ada kuasa yang mengambil kepahitan dan kejahatan dari hati saya dan membuat saya berhati lembut dan ramah.

Roh Kudus dan Iman

Dan kita tahu apa kuasa itu (siapa orangnya!) karena Galatia 5: 22 berkata dengan jelas, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, keramahan, kesetiaan. . . “Jika Roh Allah tidak masuk ke dalam hidup kita untuk melakukan pekerjaan supra natural, kita bisa saja mampu meningkatkan penampilan tingkah laku luar, tapi racun di dalam tetap ada. Akan hal ini Paulus berkata, “Dijauhkanlah hal itu.” Ini adalah seruan untuk pekerjaan Roh Kudus untuk mengalahkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Kedua pertanyaan tidak terjawab. Kita masih harus bertanya, Apa instrumen di mana saya sesuai kuas Roh Kudus? Jawabannya adalah iman. Roh bergerak dalam saluran iman. Paulus berseru dalam Galatia 3:2-3, “Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?

Dan jawaban kita haruslah jelas, TIDAK! Saya tidak sedang mencoba mengatasi kepahitan, kegeraman, dan kemarahan, dan pertikaian dan fitnah dan kejjahatan saya dengan kuasa daging! Saya ingin melihat Roh Kudus berbuah dalam hidup saya. Bagaimana saya tampak? Apa yang saya lakukan? Saya melakukan apa yang saya lakukan untuk terutama menerima-Nya Saya percaya. Saya percaya.

Yang meninggalkan sebuah pertanyaan terakhir: Apa yang harus saya percayai, untuk melihat Roh Kudus mengalahkan kepahitan dan kemarahan serta kejahatan hati saya dana membuat saya lemah lembut dan ramah? Itulah hal kelima yang diajarkan ayat kita tentang keramahan Kristen.

5. Sumber keramahan Kristen

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa kita harus percaya bahwa Roh Kudus mengalahkan kejahatan di dalam hati kita. Tiga hal:

Kita harus percaya bahwa Kristus mati menggantikan kita. Ayat 2 “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Itu sungguh kalimat yang mengerikan—bahwa pembantaian Anak-Nya harum bagi Allah. Di dalam kalimat ini ada realitas yang sangat hebat dan sangat mengerikan dan sangat luar biasa dan sangat mengenaskan sehingga ketika kita mempercayainya, realitas itu merupakan kuasa Allah untuk penyucian dan pecabutan besar ketidaramahan.
Kita harus percaya bahwa Allah telah mengampuni semua dosa kita. Ayat 32: ” . . .dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Untuk menjadi ramah, Anda harus diampuni. Untuk menjadi ramah, Anda harus percaya bahwa Anda diampuni atas segala dosa yang pernah Anda lakukan dan yang akan pernah Anda lakukan. Untuk tahu dan percaya bahwa setiap tamparan di muka Allah telah diampuni secara cuma-cuma di dalam Yesus Kristus menghancurkan hati orang Kristen dan membuatnya rendah hati, lembut, dan ramah.
Akhirnya, kita harus percaya bahwa kita dikasihi oleh Allah. Ayat 1: “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Seperti anak-anak KEKASIH! Anak Allah, Anda dikasihi oleh Allah! Percayai ini dengan segenap hatimu, dan Anda akan melihat mujizat di dalam hidup Anda—buah Roh, karunia Allah!
Saudara dan saudari di dalam Kristus, marilah kita mempercayai hal-hal ini, dan ramah seorang terhadap yang lain! Amin.

Awan Tag

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 290 pengikut lainnya