Just another WordPress.com site

By. John Piper
Ketika sang pemazmur berseru, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” jawabannya adalah, “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Mazmur 116:12-13). Jadi, mengartikannya ke dalam Natal: Yesus memberi hadiah berupa dirinya sendiri dan kita bertanya, “Sekarang balasan apa yang bisa saya berikan kepada Yesus atas semua manfaat pelayanan-Nya?” Jawaban: Mintalah pertolongannya. Itulah hadiah yang Ia inginkan.

Alasan mengapa Kristus menginginkannya adalah karena ia selalu ingin mendapatkan kemuliaan sementara kita mendapatkan manfaat. Kemuliaan datang kepada-Nya ketika kita bergantung pada-Nya bukannya berusaha memperkaya Dia. Jika kita datang kepada-Nya dengan hadiah-hadiah—seakan-akan ia membutuhkan sesuatu—maka kita menempatkannya dalam posisi orang yang kekurangan, dan kita yang memberikan dukungan. Ia selalu ingin menjadi sosok yang sangat berkecukupan.Karena itu satu-satunya hadiah yang bisa kita bawa kepada Yesus adalah pujian, syukur, kerinduan, dan kebutuhan.

Sebuah mata air tidak dimuliakan dengan kira mengangkat ember-ember air kotor ke atas gunung dan menumpahkannya ke mata air itu. Sebaliknya, sebuah mata air—sumber air di gunung—dimuliakan ketika kita rebah di tepian aliran air, menaruh wajah kita, minum, bangkit dan berkata,”Ah!” Itulah yang disebut penyembahan. Kemudian kita mengambil sebuah ember, mencelupkannya ke dalam mata air, menuruni bukit menuju orang-orang di lembah yang tidak tahu bahwa mata air itu ada, dan kita berkata, “Kecaplah! Ada di atas sana, dan nama-Nya Yesus!” Hadiah yang diinginkan mata air itu adalah orang-orang yang minum, karena dengan demikian mata air itu tampak berlimpah, kaya, dan berkecukupan. Dan Ia menginginkan kita tepat seperti itu.

Bukankah kita sedang memberi kepada Allah saat kita memberi kepada orang miskin (Matius 25:40)?

Ya, tapi apa yang kita berikan? Jelas Yesus sekarang berada di surgam bangkit, penuh kemenangan, dan menyediakan semua yang kita bawa kepada orang miskin. Itulah sebuah pengajaran yang jelas, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Jadi jika Anda memiliki sesuatu untuk dbawa kepada seorang tahanan, pakaian untuk dipakaikan kepada yang telanjang, minuman untuk orang yang haus, pelayanan yang diberikan kepada pengungsi, Anda mendapatkan semuanya itu dari Yesus. Anda tidak mungkin memperkaya Yesus. Jadi apa yang berikan kepada Yesus? Anda memberinya kehormatan, sanjungan, dan kemuliaan.

Juga ingatlah bahwa di dalam nats ini Yesus menyebut orang-orang yang menerima manfaat ini “saudaraku”. Itu artinya bahwa jika Anda memberi kepada orang miskin maka Anda memilih untuk memberkati, atas biaya Anda sendiri, saudara-saudara Yesus. Anda memperlakukan mereka dengan hormat karena mereka milik Yesus.

Yesus tidak membutuhkan makanan atau pakaian. Ia bersuka dalam menerima hormat yang diterima oleh nama-Nya ketika kita memilih untuk berkata, “Kepada saudaranyalah aku akan mengasihi dan berkorban.” Jadi, selama kita berbicara tentang memberi kepada Yesus—dalam konteks Matius 25:40—kita harus memahami bahwa apa yang sedang terjadi adalah bahwa Kristus sedang dihormati, dimuliakan, dan dihargai, karena saudara-saudara Kristulah yang mau kita layani.

Iklan

By. John Piper
Kolose 2:3
Satu alasan untuk mengagumi dan mempercayai Yesus diatas keberadaan semua orang adalah bahwa Dia mengenal kita lebih daripada orang-orang lain. Dia mengenal kita secara menyeluruh, hati dan pikiran kita. “Ia mengenal mereka semua” (Yohanes 2:24). “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang” (Kisah Rasul 1:24). “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapakah kamu memikirkan hal – hal yang jahat di dalam hatimu?” (Mateus 9:4). Tidak ada seorangpun yang bisa membingungkan Yesus.Tidak ada pikiran dan tindakan yang tidak diketahuiNya. Dia tahu asal dan akhir dari segala sesuatu. Psikotis yang paling kompleks dan susah dipahami dan hal yang paling pintar dengan kata-kata yang paling susah sekalipun terbuka dan sangat jelas bagi pengertianNya. Dia memahami setiap gerakan pada pikiran mereka.

Tuhan Yesus tidak hanya mengenal semua manusia secara menyeluruh sejak awal sampai masa kini, tetapi Dia juga mengetahui apa yang akan dipikirkan dan dilakukan di masa mendatang. Dia mengetahui segala sesuatu yang akan datang dan yang akan terjadi. “Yesus yang tahu semua yang akan menimpa diriNya (Yohanes 18:4). Dengan dasar pengetahuan ini Dia mengatakan hal-hal yang akan terjadi tentang berbagai hal yang akan dilakukan sahabat dan musuhNya. “Tetapi diantaramu ada yang tidak percaya. “Sebab Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.” (yohanes 6:64). “Mulai sekarang,” kataNya. “ Aku mengatakan kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi kamu percaya bahwa Akulah Dia.” (Yohanes 13:19). Alasan Dia mengatakan hal-hal yang akan terjadi ini, jelasNya, adalah agar kita mengetahu bahwa Yesuslah “Dia” – Dia siapa? Bahwa Dialah Putra Allah itu. “Aku” adalah nama untuk Tuhan dalam kitab Keluaran 3:14 dan tujuan sifat keallahan dalam Yesaya 43:10. Yesus mengetahui apa yang akan datang dan terjadi, dan untuk membantu iman kita Dia berkata, “Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” (Mateus 25;24).

Dengan mudah Yesus mengetahui semua hal. Sehingga para rasulNya berkata dengan tulus, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu, dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu; karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” (Yohanes 16:30). Besarnya hal-hal yang diketahui Yesus adalah suatu bukti kekuasaan iman dalam keilahianNya. Pada akhir hidupNya di dunia, Dia menekan Petrus, “Petrus, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Petrus sangat sedih karena Dia sudah mengatakan untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan dia mengatakan, “Tuhan, Engkaucmengetahui segala sesuatu; Engkau tahu bahwa aku mengasihiMu” (Yohanes 21:17). Petrus tidak mengambil kesimpulan dari apa yang diketahui Yesus tentang hatinya bahwa Dia mengetahui segala sesuatu; tetapi dia menyimpulkan dari sifat kemaha hadiran Yesus bahwa Dia mengetahui isi hatinya. “Engkau mengetahui segala sesuatu” adalah sebuah hal yang umum dan pernyataan yang tidak berkualitas yang ditekankan Injil Yohanes dalam pikiran kita.

Hal terbesar yang dapat dikatakan tentang apa yang diketahui oleh Tuhan Yesus adalah bahwa dia mempunyai pengertian tentang Tuhan dengan sangat sempurna. Kita hanya bisa memahami Tuhan dengan tidak sempurna dan dengan pemahaman yang hanya sebagian saja. Yesus memahami Dia dengan sempurna, tak seorangpun di alam semesta ini sanggup memahami Tuhan seperti Yesus. Dia memahami Dia dengan cara Pribadi yang mahahadir memahami diriNya sendiri. “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain anak dan orang yang kepadaNya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mateus 11:27) Tidak seorangpun selain Yesus mampu memahami Bapa dengan cepat, lengkap dan sempurna. Pengetahuan kita tentang Bapa bergantung pada kemurahan Yesus untuk mengungkapkan Bapa itu secara utuh; meskipun demikian kemampuan kita untuk mengenal Bapa itu masih bersifat derifatif, hanya bagian tertentu yang bisa kita pahami dan tidak sempurna.

Tidak ada hal yang lebih besar yang bisa dikatakan tentang pengetahuan Yesus daripada pengetahuan bahwa Yesus mengenal Tuhan dengan sempurna. Semua kenyataan diluar Tuhan hanyalah hal parokial dibanding dengan Kenyataan kekal tentang Tuhan. Semua ilmu pengetahuan alam yang menggali permukaan alam semesta yang telah diciptakanNya hanyalah kenyataan ABC belaka dibandingkan dengan kebesaran pengetahuan Kristus tentang alam semesta yang telah diciptakanNya. Dan pengetahuan tentang alam semesta yang telah tercipta bagaikan setetes embun diatas sehelai rumput dibandingkan dengan lautan pengetahuan bahwa Yesuslah Tuhan Pencipta itu sendiri. Tuhan tidak terbatas. Alam semesta itu terbatas. Pengetahuan yang dimiliki Yang tidak terbatas itu juga Tidak terbatas luasnya. Sehingga, untuk mengenal Tuhan, sebagaimana Yesus mengenalNya, adalah dengan cara memiliki pengetahuan yang tidak terbatas.

Karena itu, marilah kita bertelut dan memuji Yesus Kristus. Apabila kita terpesona oleh kemampuan manusia dan hasil pencapaian suatu ilmu pengetahuan, janganlah kita melakukan kebodohan dengan membunyikan suara-suara kecil tetapi tidak mempedulikan kerasnya dentuman petir yang menggelegar dari Sang Mahahadir. Yesus sangat layak untuk mendapatkan kekaguman kita yang tertinggi. Yesus sangat layak mendapatkan rasa percaya kita yang terdalam. Dia sanggup menunjukkan Bapa kepada kita (Mateus 11:27). Dia sanggup memberikan hikmat yang begitu kuat kepada kita (Lukas 21:15). Dia mampu melihat bagaimana semua hal bekerja bersamaan untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Tidak ada penghakimanNya yang tidak benar (Yohanes 8:16). Dia mengajarkan kepada kita tentang jalan Allah dengan kebenaran yang tidak akan gagal (Mateus 22:16). Percayalah padaNya. Kagumilah Dia. Ikutlah Dia.

By. John Piper
Pernahkah anda bertanya mengapa pengampunan Tuhan berharga? Atau, bagaimana tentang kehidupan kekal? Pernahkah anda menanyakan kenapa seseorang ingin mendapatkan hidup kekal? Mengapa kita ingin hidup selamanya? Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki arti karena tidak mungkin kita menginginkan pengampunan dan kehidupan kekal untuk alas an-alasan yang membuktikan bahwa anda tidak memiliki keduanya.

Pengampunan, misalnya. Anda menginginkan pengampunan TUhan karena anda sangat menderita karena perasaan bersalah yang anda miliki. Anda hanya ingin merasa lega. Apabila anda bisa percaya bahwa Dia mengampuni anda, maka anda akan merasa lega, tetapi hal itu belum tentu berarti keselamatan. Apabila anda menginginkan pengampunan karena alas an lega secara emosi, anda tidak akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan. DIa tidak akan memberikannya kepada orang yang menggunakannya untuk mengambil sesuatu dariNya dan bukan diriNya.

Atau anda mungkin ingin disembuhkan dari penyakit atau mendapatkan pekerjaan atau pasangan hidup. Maka anda bisa yakin bahwa Tuhan sanggup memberikan hal-hal ini, tetapi dosa-dosa anda harus diampuni terlebih dahulu. Seseorang menyuruh anda untuk percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa anda dan apabila anda mempercayai hal ini, maka dosa-dosa anda akan diampuni. Sehingga, dengan anda percaya, anda menyingkirkan halangan-halangan terhadap kesehatan dan pekerjaan dan pasangan hidup. Apakah pemberitaan Injil seperti itu memberikan keselamatan? Saya rasa tidak.

Dengan kata lain, apa yang anda harapkan dari sebuah pengampunan adalah hal yang sangat penting. Mengapa anda menginginkannya menjadi hal yang penting. Apabila anda menginginkan pengampunan hanya demi kesempatan menikmati ciptaanNya, maka Sang Pencipta tidak mendapatkan kehormatan dan anda tidak diselamatkan. Pengampunan adalah hal yang sangat berharga untuk sebuah alasan pamungkas: pengampunan akan membuat anda bisa menikmati persekutuan dengan Tuhan. Apabila anda tidak menginginkan pengampunan untuk hal tersebut, anda tidak akan mendapatkannya. Sama sekali. Tuhan tidak akan bersedia dimanfaatkan sebagai mata uang untuk membeli berhala-berhala yang kita puja.

Seperti halnya, apabila kita bertanya: mengapa kita ingin memiliki kehidupan kekal? Seseorang mungkin akan berkata bahwa neraka adalah sebuah alternative dan itu menyakitkan. Orang yang lain mungkin akan mengatakan: karena tidak ada kesusahan di sana. Orang yang lain lagi mungkin akan mengatakan: orang-orang yang kukasihi sudah ada disana dan aku ingin bersama mereka. Orang –orang yang lainnya mungkin akan memimpikan akan memadu kasih yang tiada berkesudahan atau makanan yang tidak akan habis. Atau keberuntungan yang lebih besar lagi. Dalam semua tujuan-tujuan tersebut diatas ada satu hal yang hilang: Tuhan.

Motivasi penyelamatan untuk keinginan hidup kekal diberikan Tuhan lewat Kitab Yohanes 17:3, “Inilah hidup yang kekal 1 itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Apabila kita tidak menginginkan kehidupan kekal yang berarti sukacita dalam Tuhan, maka kita tidak akan memiliki kehidupan kekal itu. Kita dengan mudahnya berpikir secara kanak-kanakan bahwa kita akan menjadi Kristen apabila kita memnggunakan Injil Kristus yang mulia untuk mendapatkan sesuatu yang kita kasihi dan inginkan melebihi Kristus. “Kabar baik” itu tidak akan terbukti baik untuk siapapun yang tidak menjadikan Tuhan sebagai yang tertinggi dari segala hal-hal yang baik.

Jonathan Edward mengemasnya dalam kotbahnya untuk para jemaatnya pada tahun 1731 seperti ini. Bacalah perlahan-lahan dan biarkanlah kotbah ini menggugah anda terhadap pengenalan kebaikan yang sejati akan pengampunan dan kehidupan.

Orang-orang yang ditebus mempunyai tujuan baik dalam Tuhan. Tuhan sendiri adalah kebaikan yang besar yang dibawa kepada kepemilikan dan kenikmatan oleh tindakan penebusan yang dilakukanNya. Dia adalah kebaikan tertinggi, dan Dialah total keseluruhan semua hal baik yang sudah dibeli oleh Kristus. Tuhan mewariskan kebaikan pada orang-orang kudus; Dialah bagian dari jiwa mereka. Tuhan adalah kekayaan dan harta terbesar mereka, makanan mereka, kehidupan mereka, tempat kediaman mereka, hiasan dan mahkota mereka, dan kehormatan dan kemuliaan kekal mereka. Mereka tidak memiliki apapun di surga kecuali Tuhan; Dialah kebaikan besar yang diterima orang-orang tebusanNya saat mati dan yang dibangkitkanNya pada akhir jaman. Tuhan Allah, Dialah sinar surgawi yang menyinari Yerusalem; Dialah juga ‘sungai kehidupan’ yang mengalir, dan pohon kehidupan yang terus tumbuh ‘ di tengah-tengah kerajaan Allah’. Keindahan dan kehebatan kemuliaan Tuhan akan menghibur pikiran orang-orang kudus selamanya, dan kasih Allah akan menjadi makanan dalam pesta mereka. Orang-orang tebusanNya, tentu saja akan menikmati hal-hal yang lainnya; mereka akan bersukacita menikmati para malaikat, dan akan menikmati persekutuan satu sama lain: tetapi itulah yang seharusnya mereka nikmati di dalam hal menikmati para malaikat, atau menikmati persekutuan satu sama lain, ataupun hal-hal yang lain, apapun itu, hal-hal itulah yang akan menimbulkan kebahagiaan dan kesukaan, dari hal-hal itulah orang akan melihat kehadiran Tuhan di dalam mereka.

By. John Piper
Apakah orang – orang pergi ke Grand Canyon untuk meningkatkan harga dirinya? Mungkin tidak. Paling tidak hal ini merupakan petunjuk bahwa sukacita dalam kehidupan tidak berasal dari menikmati diri sendiri, tetapi dari melihat hal-hal yang besar. Pada akhirnya, Grand Canyonpun tidak akan menjadi petunjuk untuk melihat kenikmatan itu. Kita diciptakan untuk menikmati Tuhan.

Kita semua dibentuk oleh sebuah kepercayaan bahwa kita adalah pusat alam semesta. Bagaimana kita bisa tersadar dan sembuh dari sikap yang menghancurkan sukacita ini? Mungkin dengan cara mendengarkan betapa radikalnya kenyataan tentang Pemusatan Tuhan seperti yang tertulis dalam Alkitab.

Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, keduanya menceritakan bahwa kasih Tuhan kepada kita adalah alat bagi kita untuk memuliakan Dia. “Kristus menjadi seorang pelayan … dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmatNya.” (Roma 15:8 – 9). Tuhan telah bermurah hati kepada kita sehingga kita akan membesarkanNya. Kita melihatnya lagi dalam firmanNya, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan … supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia yang dikasihiNya (Efesus 1: 4-6) Dengan kata lain, tujuan Tuhan mengasihi kita adalah agar kita memuji dan memuliakanNya. Satu lagi gambaran yang diambil dari Mazmur 86:12 – 13: “Aku hendak bersyukur kepadaMu ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan namaMu untuk selama – lamanya, sebab kasih setiaMu besar atas aku”. Kasih Tuhan adalah dasar. KemuliaanNya adalah tujuan kasiNya.

Hal ini sungguh mengejutkan. Kasih Tuhan bukanlah cara Tuhan untuk membesarkan kita, tetapi Tuhan menyelamatkan kita dari pemusatan diri sehingga kita bisa menikmati kebesaran Dia selamanya. Dan apabila kita mengasihi sesama kita, bukan berarti kita membesarkan mereka, tetapi kita membantu mereka untuk menemukan kepuasan di dalam membesarkan Tuhan. Tujuan kasih sejati adalah untuk membantu orang lain menemukan kepuasan di dalam memuliakan Tuhan. Kasih apapun yang tujuan akhirnya berpusat pada manusia adalah kasih yang menghancurkan, karena kasih itu tidak membimbing orang lain kepada satu – satunya sukacita abadi, yaitu Tuhan. Kasih harus berpusat kepada Tuhan, kalau tidak, kasih ini bukanlah kasih sejati; karena kasih yang tidak berpusat kepada Tuhan akan membuat orang lain berada pada ketidakpastian akan tujuan akhir mereka, yaitu harapan akan sukacita.

Salib Kristus, misalnya. Kematian Kristus di kayu salib adalah puncak ekspesi kasih ilahi: “ Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Kemudian, Alkitab juga menulis bahwa tujuan kematian Kristus adalah “untuk menunjukkan keadilanNya karena Ia telah membiarkan dosa – dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya. MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini, supaya nyata bahwa Ia benar.” (Roma 3:25). Mewariskan dosa akan menciptakan masalah – masalah besar yang mengancam kebenaran Tuhan. Mewariskan dosa membuat Tuhan tampak seperti seorang hakim yang melepaskan para kriminal hidup bebas tanpa hukuman. Dengan kata lain, belas kasihan Tuhan akan menempatkan keadilanNya pada posisi yang berbahaya.

Karena itu, untuk membuktikan keadilanNya, Dia melakukan hal yang tak terselami oleh pemikiran kita – Dia menghukum mati PuteraNya sebagai pengganti hukuman atas dosa – dosa kita. Salib menyingkapkan kepada seluruh makhluk bahwa Tuhan tidak hanya menyapu dosa – dosa kita dan menyembunyikannya dibawah lapisan alam semesta. Dia menghukum dosa – dosa tersebut didalam Yesus untuk semua orang yang mau percaya.

Perhatikan, tindakan kasih terbesar ini berada pada pusat kasihNya, yaitu pembuktian akan kebenaran dan keadilan Tuhan. Kasih Jumat Agung adalah Kasih kemuliaan Tuhan. Tuhan meninggikan Tuhan pada kayu salib. Apabila Dia tidak melakukan keadilan ini, Dia tidak adil dan tidak bisa menyelamatkan kita dari dosa – dosa. Adalah sebuah kesalahan apabila kita berkata, “Baiklah, apabila tujuanNya adalah untuk menyelamatkan kita, maka kita adalah tujuan tertinggi dari salib Kristus.” Tidak, kita diselamatkan dari dosa – dosa kita agar kita bisa melihat dan menikmati kemuliaan Tuhan. Inilah tujuan kasih tertinggi dari kematian Kristus. Dia tidak mati untuk membesarkan kita, tetapi untuk melepaskan kita agar kita bisa menikmati dan membesarkan Tuhan selamanya.

Adalah sebuah kesalahan besar memutarbalikkan salib menjadi bukti bahwa harga diri adalah akar dari kesehatan mental. Apabila saya berdiri dihadapan kasih Tuhan dan tidak merasakan sebuah sukacita yang sehat, puas, dan membebaskan, dan jika saya tidak membalikkan kasih Allah tersebut mengikuti harga diri saya, maka saya seperti seseorang yang berdiri di depan Grand Canyon dan tidak merasakan kepuasan akan keindahannya, sampai saya menerjemahkan Canyon tersebut sesuai dengan kepentingan saya. Ini bukanlah kehadiran mental yang sehat, tetapi keterikatan diri.

Cara untuk melepaskan ikatan diri ini adalah dengan melihat bahwa Tuhanlah satu – satunya pribadi di alam semesta ini yang melakukan peninggian diriNya sebagai tindakan kasih yang terbesar. Saat meninggikan diriNya – seperti halnya Grand Canyon – Dia mendapatkan kemuliaanNya, dan kita mendapatkan sukacitaNya. Kabar terindah dalam dunia ini adalah, tidak ada konflik antara keinginan saya untuk mendapatkan sukacita dan keinginan Tuhan untuk mendapatkan kemuliaanNya. Tali yang mengikat kedua hal ini adalah kebenaran bahwa Tuhan akan merasa paling dimuliakan di dalam diri kita pada saat kita menemukan kepuasan tertinggi di dalam Dia. Yesus Kristus mati dan bangkit lagi untuk mengampuni pengkhianatan jiwa kita, yang berubah dari menikmati Tuhan menjadi menikamati diri sendiri. Di atas salib Kristus, Tuhan menyelamatkan kita dari rumah – rumah cermin dan membimbing kita menuju ke gunung – gunung dan canyon – canyon kemuliaanNya. Tidak ada satupun yang bisa memuaskan kita – atau membesarkanNya – lebih lagi.

By. John Piper

Kolose 4: 2 – 3
Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus yang karenanya aku dipenjarakan.
Tulisan ini memberikan 5 aturan umum yang membimbing kita untuk menaikkan doa-doa kita.

Pertama, “Teruslah bertekun dalam doa”. Jangan anda menyerah, teruskanlah kerajinan yang sudah anda tunjukkan dalam doa mingguan anda. Ada banyak kuasa yang anda miliki dalam bertekun di dalam doa. Jangan melupakan hal tentang “sahabat yang gigih dan tidak malu” dalam Lukas 11:8 dan jangan lupa perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus bahwa “kita harus selalu berdoa dengan tidak gentar” (Lukas 18:8). Ketekunan adalah ujian kemurnian kehidupan Kristen. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa anda sudah bertekun dalam doa selama 60. 70 dan 80 tahun. Oh, marilah kita menjadi gereja yang berdoa dan jadikan tahun 1982 menjadi tahun yang dilingkupi oleh resapan doa kepada Tuhan Sang Penuai. Bukankah suatu hal yang indah apabila kita berkata pada akhirnya, “Aku sudah menyelesaikan pertandingan. Aku sudah mempertahankan iman.” ?

Kedua, “Berjaga-jagalah dalam doamu” Artinya, waspadalah. Sadarlah secara mental. Paulus mungkin belajar dari cerita kebenaran yang terjadi di Getsemani. Tuhan Yesus meminta para rasul untuk berdoa, tetapi Dia menemukan mereka tertidur, sehingga Dia berkata, “Tidak bisakah kamu berjaga-jaga satu jam saja? Berdoalah dan berjaga-jagalah, sehingga kamu tidak jatuh dalam pencobaan.” (Markus 14:37f). Kita harus waspada saat kita berdoa – waspada terhadap melanturnya pikiran kita, terhadap pengulangan yang tidak berarti, terhadap ekspresi dan pendapat yang tidak berarti, terhadap keinginan yang egois dan terbatas pada diri sendiri. Dan kita juga harus berjaga-jaga terhadap apa yang baik. Terutama kita harus sensitif pada pimpinan Tuhan dalam doa-doa kita seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Tuhanlah yang bekerja di dalam kita untuk berkehendak terhadap doa-doa kita tetapi kita akan selalu mengalami pemampuan ilahi sebagai pengambil keputusan dan penyelesaian.

Ketiga, kita bersyukur atas segala sesuatu dalam doa-doa kita. Cerita-cerita yang telah saya dengar tentang apa yang dilakukan Tuhan dalam sebagian besar kehidupan anda melalui doa yang diperbaharui, benar-benar menakjubkan. Hal-hal tersebut benar-benar membuat saya harus selalu bersyukur dalam doa-doa saya. Terus bagikan kepada saya dan orang-orang lain tentang hal-hal baik ini. Tuhan akan membuat tahun ini sebagai tahun tuaian apabila kita terus bertekun dalam doa dengan ucapan syukur.

Keempat, berdoalah bagi saya agar pintu dibukakan bagi saya untuk Dunia. Dalam 2 arti: 1) bahwa di dalam gereja akan hati-hati yang terbuka dan mau menerima firman dari minggu ke minggu. 2) bahwa sesama saya akan terbuka untuk menerima kabar baik saat saya berbagi dengannya. “Tuhan membuka hati Lydia untuk memberi perhatian pada Firman Tuhan.” (Kisah Rasul 16:14) Itulah yang saya inginkan untuk terjadi pada setiap hari minggu dan hari-hari lainnya dalam seminggu. Berdoalah untuk saya.

Kelima, berdoalah untuk saya agar saya bisa berbicara tentang misteri Kristus dengan jelas. “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita” (1 Timotius 3:16). Dan, oh, betapa indahnya panggilan untuk mengabarkannya. Saya menyukai situasi kantor yang berkotbah. Tetapi itu jauh diatas saya. Tolong doakan agar saya memahami misteri Kristus. Doakan agar saya memilih tulisan yang diperlukan. Doakan agar saya berkotbah dengan kuasa Roh Kudus. Doakan agar saya memberitakan kebenaran dengan kasih. Tolong doakan saya, karena tanpa Kristus saya tidak mampu berbuat apapun.

By. John Piper
Tuhan menciptakan kita untuk KemuliaanNya
“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” (Yesaya 43: 6 – 7)

Setiap Manusia harus hidup untuk Kemuliaan Allah

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. “ ( 1 Korintus 10:31). Cara hidup yang memuliakan Tuhan adalah dengan mengasihiNya(Matius 22:37), percaya padaNya (Roma 4:20), bersyukur padaNya (Mazmur 50:3) dan taat kepadaNya (Mateus 5:16). Apabila kita melakukan hal-hal ini, kita menggambarkan kemuliaan Tuhan.

Kita semua telah berdosa dan Kehilangan Kemuliaan Allah

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (Roma 1: 21 – 23). Tidak seorangpun dari kita telah mengasihi atau percaya atau bersyukur atau taat kepada Tuhan sebagaimana mestinya.

Kita Pantas Menerima Hukuman Kekal

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23). Barang siapa yang tidak mentaati Tuhan Yesus akan “mengalami hukuman penganiayaan kekal dan tersingkirkan dari hadirat Allah dan dari segala kemuliaanNya (1 Tesalonika 1:9), “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Matius 25:46)

Dalam AnugerahNya yang Besar Tuhan Mengutus Putera TunggalNya Tuhan Yesus Kristus Untuk Menyediakan Jalan Kehidupan Kekal Bagi Semua Orang Berdosa

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, “ (Galatia 3:13). “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah;” (1 Petrus 3 :18)

Kehidupan Kekal adalah Anugerah Cuma-Cuma kepada Semua yang Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat

“”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kisah Rasul 16:31). “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”(Roma 10:9). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8). “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Galatia 2:20)

By. John Piper
Liburan adalah saat – saat yang berbahaya yang bisa melemahkan kekuatan. Selama liburan harapan kita untuk bersenang – senang akan lebih besar, sehingga kenyataan tentang kesedihan akan terasa lebih berat. Seharusnya anda merasa muram di bulan Februari; dengan begitu masalah ini bisa ditoleransi. Tetapi hari Thanksgiving dan Natal seharusnya dirayakan dengan sukacita dan besar – besaran. Pendapat inipun hanya akan melipatgandakan rasa putus asa yang kita miliki. Bolehkan saya menawarkan obat – obatan pencegah?

Saat Tuhan rindu menunjukkan tentang janjiNya yang tidak akan berubah yang mencerminkan karakter tujuanNya kepada orang – orang pilihanNya, Dia menambahkan sebuah sumpah, sehingga melalui kedua hal tersebut (janji dan sumpahNya), menyatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah ingkar atau salah, “karena itu untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah – ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita” (Ibrani 17 – 18)
“ … Tuhan rindu untuk menunjukkan dengan lebih meyakinkan …”

Tulisan ini sudah mengatakan bahwa Tuhan sudah cukup memberikan kekuatan kepada kita. Tetapi Tuhan kita bukanlah Tuhan yang minimum. TujuanNya bukanlah untuk memberikan sedikit kata-kata penguatan seminimal mungkin. Dia berkata untuk memberikan pengharapan kepada kita. Kemudian, Allah kita yang adalah Allah yang selalu memberikan kata – kata penguatan dan pengharapan dengan penuh perasaan, berkata pada diriNya sendiri: “Ini bagus. Aku suka melakukan ini. Saya harus melakukan ini lagi.” Dan benar, Dia akan terus memberikan kata – kata penguatan lebih banyak lagi.

Tetapi bukan hanya lebih banyak. Kata – kata penguatan itu juga lebih baik. Dia memulai dari janji – jani yang sederhana (yang tidak mungkin gagal dan pasti sangat bisa dipercaya!) kemudian Dia menambahkan sumpah. Dan bukan sekedar sembarang sumpah, tetapi jenis sumpah yang terbaik dan tertinggi tingkatnya – yaitu sumpah yang berdasar diriNya sendiri. Mengapa? Bukan karena firmanNya lemah, tetapi karena kitalah yang lemah dan Dia sabar.

Dia sangat rindu untuk “menunjukkan … membuktikan … membiarkan kita kita melihat … memperlihatkan secara detil … mewakili … mempresentasikan … mengungkapkan … membawakan” pengharapan akan masa depan kita. Dia benar – benar ingin kita merasakan semua hal ini. Setelah melakukan untuk pertama kalinya, Dia akan melakukannya lagi untuk yang kedua, (dan ketiga dan keempat dan seterusnya) untuk terus membantu kita merasakan penguatan dariNya. Inilah yang Dia inginkan. Inilah yang sebenarnya Dia mau. “ Saat Tuhan rindu untuk menunjukkan dengan cara yang lebih meyakinkan …”

“… agar kita mendapatkan penguatan yang kokoh …”

Penguatan seperti apa yang Tuhan ingin kita rasakan? Dia berkata, “Penguatan yang kokoh!” Perhatikan kata tersebut. Dia bisa saja berkata, “penguatan yang hebat” atau “penguatan yang besar” atau “penguatan yang dalam”, semuanya benar. Tetapi kata sesungguhnya adalah “kokoh”. Penguatan yang bertahan melawan musim apapun yang berusaha menjatuhkan. Kotbahkan ini kepada dirimu sendiri; “Tuhan rindu aku mendapatkan kekuatan yang “kokoh”!

“ … untuk menjangkau pengharapan di depan kita …”

Banyak saat – saat indah dalam hidup ini. Tetapi marilah hadapi kenyataan ini: hari – hari ini jahat, ketidaksempurnaan kita membuat kita frustasi, dan kita semakin bertambah tua, dan bergerak mendekati kubur. Apabila kita hanya memiliki pengharapan dalam Kristus semasa kita hidup saja, sungguh, kita ini orang yang pantas dikasihani. Ada saat indah yang akan datang dalam hidup kita. Tetapi hal hal indah inipun dianggap sampah apabila dibandingkan dengan nilai-nilai yang terlampau tinggi saat mendapatkan Kristus. Bahkan disini kita bisa besukacita dengan sukacita yang tak terkatakan dan kemuliaan penuh. Tetapi itu semua dicapai hanya karena adanya “pengharapan di depan kita”. Jangkau dan raihlah pengharapan itu. Tuhan memberikan penguatan untuk melakukannya. Ambillah sekarang juga. Nikmatilah sekarang. Biarlah anda semua dikuatkan oleh pengharapan tersebut. Biarlah anda dikuatkan secara kokoh. Karena pengharapan anda terjamin aman dengan ketidakterbatasan yang ganda: Janji Tuhan dan sumpah yang sudah diucapkan Tuhan.

Awan Tag