Just another WordPress.com site

By. John Piper

Semua orang percaya menjadikan jawaban atas pertanyaan ini sebagai prioritas utama untuk bertumbuh! Mereka akan bersama-sama degan yang lain, dalam sejarah gereja, berjalan sangat mendalam dalam hubungan mereka dengan Allah! Saya sebutkan salah satu contohnya, John Owen. Dia telah menulis sebuah buku berjudul Persekutuan dengan Allah, yang merupakan gaya lama untuk menyatakan “hubungan dengan Allah.”

Apa yang dimaksud dengan berhubungan dengan Allah adalah kita menerima komunikasi dari Allah tentang diriNya sendiri baik melalui firmanNya dan melalui sejarah. Dia datang kepada kita dalam Yesus Kristus, melalui pengajaranNya, melalui penyalibanNya, melalui para rasulNya, melalui firmanNya, dan Dia berbicara kepada kita. Dan pengajaranNya menjadi sangat penting bagi kita oleh karena kehadiran Roh Kudus yang tinggal didalam diri kita. Ini barulah setengah hubungan. Dia mengambil inisiatif.

Kita menerima komunikasiNya, dan oleh Roh, telah dibuat hidup untuk Mereka. Kita melihat Mereka datang — komunikasiNya tentang diriNya, karakterNya, dan pekerjaanNya bagi kita — dan kita dibangunkan untuk Mereka. Kita diciptakan untuk mengagumi Mereka, untuk menyenangkan Mereka, dan menjadi berbahagia, penuh pengharapan, dan tergerak. Kemudian kita kembali kepada Dia — juga melalu firman, oleh Roh, dan melalui nama Yesus Kristus —- doa, tindakan syukur, terus berjuang untuk memperjuangkan iman, dan bertindak dalam ketaatan. Hasilnya adalah hidup kita akan mengarah kepada Allah, sedangkan hidupNya mengarah kepada kita manusia. Itulah hubungan.

Hubungan dengan Allah terjadi, yang paling fundamental, oleh Roh melalui firman. Jangan coba-coba lari dari Alkitab untuk menemukan hubungan dengan Allah di dalam hutan-hutan atau dalam semacam pertemuan estetika dengan alam atau dengan sebuah seni yang agung. Itu semua hanya tambahan. Benar, langit menceritakan kemuliaan Allah (Mazmur 19:1). Allah menggunakan seni agung dan puisi indah untuk membangun kita. Tetapi jika kita tidak berpusat pada Alkitab dimana Dia berbicara secara otoritatif dan jelas, maka hubungan kita akan menjadi terdistorsi oleh kesalahan dan dosa.

Jadi biarkan Alkitab menjadi tempat dimana Allah bertemu dengan anda dan berbicara dengan anda, dan biarkan Alkitab menjadi tempat anda berbicara kembali kepadaNya. Hubungan ada dalam persekutuan: Dia kepada kita, dan kita kepada Dia.

Dan terjadi sepanjang hari. Kita mengingatkan diri kita sendiri ketika kita putus asa, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu” (Yesaya 41:10). Anda ingat firman itu dan serukan dalam pikiran, karena mereka adalah janji di dalam Alkitab. Kemudian anda katakan, “Terima kasih Tuhan.” Saya akan mengambil langkah berikutnya dalam ketaatan, “Dan pada saat itu hubungan dinikmati dan dialami dalam sebuah persekutuan. Dan itulah cara anda berjalan dari waktu ke waktu bersama Allah disepanjang hidup ini.

Iklan

By. John Piper

Efesus 4:31-5:2
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Ayat ini sangat kaya hingga kita bisa mengambil hampir setiap frasenya dan merenungkannya berjam-jam. Tapi saya memutuskan untuk menyatukan pemikiran kita di sekitar perintah sederhana di ayat 32, “Ramahlah seorang terhadap yang lain.”

Lima Aspek keramahan Orang Kristen

Saat saya merenungkan ayat-ayat ini di mata saya ayat ini mengatakan kepada lima hal tentang keramahan Kristen:

jangkauan keramahan Kristen,
kedalaman keramahan Kristen,
pola keramahan Kristen,
instrumen keramahan Kristen, dan
sumber keramahan Kristen.
Mari kita pelajari satu demi satu. Dan saat mempelajarinya mari kita berdoa agar Roh Allah akan menjunjung Firman-Nya dengan membuat kita diubahkan oleh firman.

1. Jangkauan keramahan Kristen

Berapa banyak keramahan yang harus kita tunjukkan? Hal ini dibahas dalam ayat 31. keramahan Kristen sangat luas sehingga menggantikan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. . .demikian pula segala kejahatan.” Kata “segala” digunakan dua kali; di awal, ” “segala kepahitan,” dan di akhir, “segala kejahatan.” Inilah bagian manusia lama yang rusak yang harus ditanggalkan. Dan keramahan merupakan manusia baru yang harus dikenakan. Paulus masih memberikan ilustrasi khusus prinsip-prinsip di ayat 22-24.

Kemarahan dan Keramahan

Tetapi muncul pertanyaan apakah semua amarah dan kemarahan harus digantikan oleh keramahan. Kepahitan, ya. Pecahnya pertikaian kekerasan, ya. Pergunjingan dan membicarakan di belakang, ya. Kejahatan, ya. Semuanya, tanpa kecuali, harus dibuang. Tapi bagaimana dengan kegeraman dan kemarahan?

Kami menghabiskan sepanjang malam bersama dua minggu lalu berusaha untuk mendapatkan kesimpulan. Ayat 26 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Dan Yakobus 1: 19 berkata, “Dan juga lambat untuk marah.” Dan Markus 3:5 berkata bahwa Yesus memandang orang-orang Farisi dengan marah. Apakah keramahan Yesus selalu menjangkau orang Farisi? Apakah ramah berkata kepada mereka, seperti yang dikatakan Yesus di Matous 23: 27, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih”? Apakah keramahan saat Ia berkata di Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk menobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Apakah keramahan ketika Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir penukar-penukar yang dari bait suci dan membalikkan meja-mejanya (Yohanes 2: 15, Matius 21: 12)?

Jika Anda berjalan bersama Yesus setelah ia melakukan hal-hal itu dan berkata, “Yesus, tidak baik mengatakan apa yang Anda katakan kepada orang Farisi, ” apa yang akan dikatakan Yesus? Kemungkinan ada dua hal yang ia katakan, Ia seharusnya dapat mengatakan, “Kadang-kadang hati kasih dan semangat untuk kebenaran tidak mengekspresikan diri dalam bentuk keramahan.” Atau dia bisa saja berkata, “Ada sejenis keramahan yang bisa saja sekeras kuku dan setangguh kulit.” Menurut Anda mana yang akan Ia katakan: “keramahan cukup besar untuk mencakup cambukan dan kesengsaraan”? Atau: “keramahan adalah salah satu bentuk kebenaran, tetapi tidak selalu yang terbaik”?

Saat saya sudah melihat semua penggunaan kata “keramahan” di dalam Perjanjian Baru, saya pikir kita akan lebih menghormati kelembutan khusus kata itu dengan mengatakan bahwa Yesus tidak bersikap ramah terhadap orang-orang Farisi. Dia keras terhadap mereka. Dan Roma 11:22 memisahkan antara kemurahan Allah dan juga kekerasannya. Jadi keramahan bukanlah kebaikan mutlak. Hal ini tidak selalu yang paling berbelas kasih. Ini mungkin melibatkan kompromi dengan kejahatan sangat serius sehingga dalam jangka panjang itu menyakitkan orang itu lebih besar daripada membantu. Daerah ini tidak benar-benar keramahan Kristen

Jangkauan Kasih Kristus yang Tidak Terbatas

Jadi ketika Paulus berkata di Efesus 4:26 bahwa kita boleh marah tapi jangan berdosa, kemudian dikatakan dalam ayat 31-32, dan membuang kemarahan dan menjadi ramah, menurut saya maksud Yesus adalah hal ini: Segala kepahitan dan kejahatan harus dibuang. Letusan dalam fitnah dan pertikaian harus dibuang. Tapi ketika berbicara tentang kemarahan emosional dan Anda merasa bahwa ajaran Kristus tidak ditaati dan kemuliaan Allah menghilang dan keramahan gereja berada dalam bahaya, maka, di bawah otoritas Roh Kudus, Anda harus memilih: akankah saya melampiaskan kemarahan saya dalam kekerasan karena pokok kebenaran dan kekudusan dipertaruhkan, atau akankah saya mempermalukan kemarahan saya dengan keramahan karena ada terlalu banyak ego di dalamnya?

Keduanya mungkin dalam jalan kebenaran. Dan dengan demikian jangkauan keramahan Kristen tidak spesifik. Mungkin lebih luas atau lebih sempit dari yang kita pikirkan. Ini merupakan panggilan untuk pemeriksaan diri dalam terang Kitab Suci dan tipuan hati kita sendiri.

2. Kedalaman Keramahan Kristen

Intinya di sini adalah keramahan Kristen bukan semata perubahan luar tingkah laku; keramahan Kristen merupakan perubahan dalam hati. Ayat 32 berkata, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, . .” Keramahan Kristen berhati lembut. Jika hati keras di dalam dan tingkah laku lembut dan sopan serta berguna di luar, itu bukanlah keramahan Kristus.

Ide dibalik “berhati lembut” adalah bagian dalam kita mudah tersentuh. Jika kulit Anda lembut, tidak perlu sentuhan yang terlalu kuat untuk membuatnya merasa sakit. Jika hati Anda lembut, hati Anda mudah dipengaruhi. Hati Anda mudah dan cepat merasa.

Apabila Anda berhenti dan memikirkannya, mengagumkan bahwa hal ini diperintahkan oleh rasul itu. Anda tidak bisa hanya memutuskan untuk berhati lembut dan menghidupkannya seperti keran. Berhati lembut merupakan kualitas karakter yang dalam. Dari mana asalnya? Bagaimana kita bisa menaati perintah ini untuk membuat keramahan kita satu sama lain dalam dan berasal dari hati, bukan dibuat-buat dan dingin? Kita akan melihatnya saat kita lanjutkan.

3. Pola Keramahan Kristen

Dua pola keramahan Kristen diberikan kepada kita di ayat itu. Pertama adalah pengampunan Allah. Kedua adalah kasih Kristus.

Yang pertama kita lihat di ayat 32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Jadi apabila keramahan meminta pengampunan, polanya adalah pengampunan Allah di dalam Kristus.

Pola kedua tampak dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Jadi ketika kasih mengekspresikan dirinya dalam keramahan, polanya adalah kasih Allah yang memberi dirinya untuk kita.

Empat Kualitas Pengampunan Allah

Apa yang diajarkan oleh kedua pola keramahan ini kepada kita tentang ramah seorang terhadap yang lain? Mari kita lihat satu demi satu. Apa yang diajarkan oleh pola pengampunan Allah kepada kita tentang pengampunan kita? Empat hal yang terbersit dalam pikiran:

Pengampunan Allah menganggap dosa secara se Pengampunan bukanlah kesembronoan terhadap dosa. Pengampunan melihat dosa dan mengidentifikasinya-dan kemudian menutupinya. Allah mengampuni apa yang Ia benci. Ketika saya memanggil seorang pria baru-baru ini untuk meminta maaf atas sesuatu yang telah saya katakan dan meminta maaf darinya, ia tidak mengatakan, “Tidak ada bedanya.” Atau: “Aku tidak mendengarnya.” Ia mengatakan dengan tulus dan hangat, “Sudah dimaafkan dan dilupakan.” Dan saya mendapat kesan mendalam bahwa ia bersungguh-sungguh mengatakannya.
Pengampunan Allah mencakup penyelesaian masalah dan demikian juga kita. Setiap dosa yang pernah dilakukan akan mendapat hukuman setimpal-baik di neraka maupun di atas kayu salib. Allah tidak pernah menyapu satu kebohongan kecil ke bawah karpet. Orang selalu membayar. Jadi ketika keramahan meminta kita untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan kepada kita, kita ditopang oleh kebenaran kekudusan Allah. Kesalahan itu akan diatasi dengan: baik orang yang melakukannya kepada kita pada akhirnya akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan dihukum dalam kemarahan yang ditimpakan kepada Kristus ketika Tuhan menanggung kesalahan kita semua (Yesaya 53:4-6); atau orang yang melakukan kesalahan kepada kita pada akhirnya tidak akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan akan dihukum dalam penderitaan neraka. Dan dalam kedua kasus kita tidak boleh takut mengampuni seakan-akan tidak ada penyelesaian di dunia ini.
Pengampunan Allah mahal dan demikian juga pengampunan kita. Harganya adalah Anak-Nya. Dan harga pengampunan kita adalah manisnya balas dendam dan kesenangan menikmati kebencian dan kebanggaan superioritas.
Pengampunan Allah nyata dan demikianlah harusnya pengampunan kita. Tidak ada kepalsuan di dalamnya. Ketika Ia mengampuni, kita benar-benar dipulihkan. Tidak ada yang tertahan di kepala kita yang akan mengintimidasi kita kemudian. Semuanya sirna. “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12). Jadi kita tidak memenuhi standar pola ilahi kita jika kita mengampuni kesalahan namun diam-diam menyimpannya dalam pikiran kita untuk kemudian diingat-ingat. Jika kita mengampuni, marilah kita mengampuni seperti Allah di dalam Kristus mengampuni kita.
Tiga Kualitas Kasih Allah

Itulah pola pengampunan Allah dan empat hal yang dapat kita pelajari dari hal itu dalam mengejar jalan keramahan. Pola kedua bagi keramahan kita adalah kasih Kristus dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Apa yang diajarkan oleh pola kasih Kristus kepada kita tentang kasih kita? Dari semua hal yang bisa kita ucapkan izinkan saya menyebutkan tiga saja.

Kita tidak layak menerima kasih Kristus, dan dengan demikian kita tidak boleh bersikeras bahwa agar orang berjuang mendapatkan kasih dan keramahan kita. Yesus berkata dalam Lukas 6:35, “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka. . .dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tak seorang pun dari kita layak untuk dikasihi oleh Yesus Kristus. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8).
Kasih Kristus untuk kita kudus dan kasih kita haruslah kudus. Tujuan kasih Kristus adalah kekudusan gereja-Nya. “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. . .upaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya . dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” 9Efesus 5:25-27). Dan karena itu kita harus menyingkirkan semua konsep kasih yang digerakkan oleh sentimen dan emosi. Kasih bertujuan untuk kekudusan pria dan wanita, bukan atau perasaan atau kesenangan duniawi mereka. keramahan Kristen bukanlah strategi untuk menghindari konflik. keramahan Kristen berpola pada kasih Kristus dan bertujuan untuk meningkatkan kekudusan.
Kasih Kristus untuk kita penuh pengorbanan dan penyangkalan, dan demikianlah seharusnya kasih kita. Pada dasarnya ini sama dengan yang kita katakan sebelumnya, yaitu, bahwa kasih Allah itu mahal. Tapi baik untuk mengatakannya lagi. Karena setiap kita tahu bahwa hal tersulit mengenai keramahan Kristen adalah menunjukkannya ketika menyakitkan. Saya tidak pernah melupakan keramahan yang ditunjukkan kepada saya oleh Frau Dora Goppelt pada tahun 1974 selama minggu-minggu setelah kematian mendadak suaminya, pembimbing doktor saya di Jerman. Merupakan keajaiban anugerah ketika rasa sakit sedemikian besar sehingga Anda tidak tahu jika Anda bisa bertahan hidup sehari lagi, tapi Anda mengulurkan keramahan kepada mahasiswa asing dan meyakinkan dia kembali bahwa tiga tahun kerja keras itu tidak akan hilang dengan kematian pembimbingnya.
Sebuah keajaiban anugerah! Hal itu membawa kita pada hal keempat yang diajarkan ayat ini tentang keramahan Kristen. Kita telah melihat jangkauan keramahan Kristen yang menggantikan kepahitan dan kejahatan dan fitnah. Kita telah melihat kedalaman keramahan Kristen dalam kelembutan hati. Kita telah melihat pola keramahan Kristen dalam pengampunan Allah dan kasih Kristus. Sekarang kita melihat:

4. Instrumen keramahan Kristen

Apa yang saya maksudkan dengan “instrumen” keramahan Kristus? Saya ingin bertanya, Apa yang harus kita gunakan atau pakai untuk menjadi ramah dan berhati lembut?

Kata Kerja Pasif

Jawabannya ditunjukkan dalam bentuk kata kerja dalam ayat 31. Secara harfiah ayat itu mengatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Kata kerjanya pasif. Ini pastilah petunjuk bahwa instrumen keramahan kita bukan semata diri kita sendiri. Jika tergantung pada diri kita, kita tidak akan lebih mampu membuang kepahitan dan kejahatan dari hati kita daripada kita mengangkat diri kita dari tali sepatu kita sendiri. Tidak terletak dalam diri kita.

Semuanya itu harus DIBUANG dari kita. “Segala kepahitan . . DIBUANG dari Anda.” Seseorang yang lain bekerja selain kita. Hal yang sama kita lihat di ayat 23: “SUPAYA kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, (Kata kerja pasif lainnya!) Pastilah ada kuasa atau orang yang membaharui. Pastilah ada kuasa yang mengambil kepahitan dan kejahatan dari hati saya dan membuat saya berhati lembut dan ramah.

Roh Kudus dan Iman

Dan kita tahu apa kuasa itu (siapa orangnya!) karena Galatia 5: 22 berkata dengan jelas, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, keramahan, kesetiaan. . . “Jika Roh Allah tidak masuk ke dalam hidup kita untuk melakukan pekerjaan supra natural, kita bisa saja mampu meningkatkan penampilan tingkah laku luar, tapi racun di dalam tetap ada. Akan hal ini Paulus berkata, “Dijauhkanlah hal itu.” Ini adalah seruan untuk pekerjaan Roh Kudus untuk mengalahkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Kedua pertanyaan tidak terjawab. Kita masih harus bertanya, Apa instrumen di mana saya sesuai kuas Roh Kudus? Jawabannya adalah iman. Roh bergerak dalam saluran iman. Paulus berseru dalam Galatia 3:2-3, “Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?

Dan jawaban kita haruslah jelas, TIDAK! Saya tidak sedang mencoba mengatasi kepahitan, kegeraman, dan kemarahan, dan pertikaian dan fitnah dan kejjahatan saya dengan kuasa daging! Saya ingin melihat Roh Kudus berbuah dalam hidup saya. Bagaimana saya tampak? Apa yang saya lakukan? Saya melakukan apa yang saya lakukan untuk terutama menerima-Nya Saya percaya. Saya percaya.

Yang meninggalkan sebuah pertanyaan terakhir: Apa yang harus saya percayai, untuk melihat Roh Kudus mengalahkan kepahitan dan kemarahan serta kejahatan hati saya dana membuat saya lemah lembut dan ramah? Itulah hal kelima yang diajarkan ayat kita tentang keramahan Kristen.

5. Sumber keramahan Kristen

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa kita harus percaya bahwa Roh Kudus mengalahkan kejahatan di dalam hati kita. Tiga hal:

Kita harus percaya bahwa Kristus mati menggantikan kita. Ayat 2 “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Itu sungguh kalimat yang mengerikan—bahwa pembantaian Anak-Nya harum bagi Allah. Di dalam kalimat ini ada realitas yang sangat hebat dan sangat mengerikan dan sangat luar biasa dan sangat mengenaskan sehingga ketika kita mempercayainya, realitas itu merupakan kuasa Allah untuk penyucian dan pecabutan besar ketidaramahan.
Kita harus percaya bahwa Allah telah mengampuni semua dosa kita. Ayat 32: ” . . .dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Untuk menjadi ramah, Anda harus diampuni. Untuk menjadi ramah, Anda harus percaya bahwa Anda diampuni atas segala dosa yang pernah Anda lakukan dan yang akan pernah Anda lakukan. Untuk tahu dan percaya bahwa setiap tamparan di muka Allah telah diampuni secara cuma-cuma di dalam Yesus Kristus menghancurkan hati orang Kristen dan membuatnya rendah hati, lembut, dan ramah.
Akhirnya, kita harus percaya bahwa kita dikasihi oleh Allah. Ayat 1: “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Seperti anak-anak KEKASIH! Anak Allah, Anda dikasihi oleh Allah! Percayai ini dengan segenap hatimu, dan Anda akan melihat mujizat di dalam hidup Anda—buah Roh, karunia Allah!
Saudara dan saudari di dalam Kristus, marilah kita mempercayai hal-hal ini, dan ramah seorang terhadap yang lain! Amin.

By. John Piper
Ketika sang pemazmur berseru, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” jawabannya adalah, “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Mazmur 116:12-13). Jadi, mengartikannya ke dalam Natal: Yesus memberi hadiah berupa dirinya sendiri dan kita bertanya, “Sekarang balasan apa yang bisa saya berikan kepada Yesus atas semua manfaat pelayanan-Nya?” Jawaban: Mintalah pertolongannya. Itulah hadiah yang Ia inginkan.

Alasan mengapa Kristus menginginkannya adalah karena ia selalu ingin mendapatkan kemuliaan sementara kita mendapatkan manfaat. Kemuliaan datang kepada-Nya ketika kita bergantung pada-Nya bukannya berusaha memperkaya Dia. Jika kita datang kepada-Nya dengan hadiah-hadiah—seakan-akan ia membutuhkan sesuatu—maka kita menempatkannya dalam posisi orang yang kekurangan, dan kita yang memberikan dukungan. Ia selalu ingin menjadi sosok yang sangat berkecukupan.Karena itu satu-satunya hadiah yang bisa kita bawa kepada Yesus adalah pujian, syukur, kerinduan, dan kebutuhan.

Sebuah mata air tidak dimuliakan dengan kira mengangkat ember-ember air kotor ke atas gunung dan menumpahkannya ke mata air itu. Sebaliknya, sebuah mata air—sumber air di gunung—dimuliakan ketika kita rebah di tepian aliran air, menaruh wajah kita, minum, bangkit dan berkata,”Ah!” Itulah yang disebut penyembahan. Kemudian kita mengambil sebuah ember, mencelupkannya ke dalam mata air, menuruni bukit menuju orang-orang di lembah yang tidak tahu bahwa mata air itu ada, dan kita berkata, “Kecaplah! Ada di atas sana, dan nama-Nya Yesus!” Hadiah yang diinginkan mata air itu adalah orang-orang yang minum, karena dengan demikian mata air itu tampak berlimpah, kaya, dan berkecukupan. Dan Ia menginginkan kita tepat seperti itu.

Bukankah kita sedang memberi kepada Allah saat kita memberi kepada orang miskin (Matius 25:40)?

Ya, tapi apa yang kita berikan? Jelas Yesus sekarang berada di surgam bangkit, penuh kemenangan, dan menyediakan semua yang kita bawa kepada orang miskin. Itulah sebuah pengajaran yang jelas, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Jadi jika Anda memiliki sesuatu untuk dbawa kepada seorang tahanan, pakaian untuk dipakaikan kepada yang telanjang, minuman untuk orang yang haus, pelayanan yang diberikan kepada pengungsi, Anda mendapatkan semuanya itu dari Yesus. Anda tidak mungkin memperkaya Yesus. Jadi apa yang berikan kepada Yesus? Anda memberinya kehormatan, sanjungan, dan kemuliaan.

Juga ingatlah bahwa di dalam nats ini Yesus menyebut orang-orang yang menerima manfaat ini “saudaraku”. Itu artinya bahwa jika Anda memberi kepada orang miskin maka Anda memilih untuk memberkati, atas biaya Anda sendiri, saudara-saudara Yesus. Anda memperlakukan mereka dengan hormat karena mereka milik Yesus.

Yesus tidak membutuhkan makanan atau pakaian. Ia bersuka dalam menerima hormat yang diterima oleh nama-Nya ketika kita memilih untuk berkata, “Kepada saudaranyalah aku akan mengasihi dan berkorban.” Jadi, selama kita berbicara tentang memberi kepada Yesus—dalam konteks Matius 25:40—kita harus memahami bahwa apa yang sedang terjadi adalah bahwa Kristus sedang dihormati, dimuliakan, dan dihargai, karena saudara-saudara Kristulah yang mau kita layani.

By. John Piper
Kolose 2:3
Satu alasan untuk mengagumi dan mempercayai Yesus diatas keberadaan semua orang adalah bahwa Dia mengenal kita lebih daripada orang-orang lain. Dia mengenal kita secara menyeluruh, hati dan pikiran kita. “Ia mengenal mereka semua” (Yohanes 2:24). “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang” (Kisah Rasul 1:24). “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapakah kamu memikirkan hal – hal yang jahat di dalam hatimu?” (Mateus 9:4). Tidak ada seorangpun yang bisa membingungkan Yesus.Tidak ada pikiran dan tindakan yang tidak diketahuiNya. Dia tahu asal dan akhir dari segala sesuatu. Psikotis yang paling kompleks dan susah dipahami dan hal yang paling pintar dengan kata-kata yang paling susah sekalipun terbuka dan sangat jelas bagi pengertianNya. Dia memahami setiap gerakan pada pikiran mereka.

Tuhan Yesus tidak hanya mengenal semua manusia secara menyeluruh sejak awal sampai masa kini, tetapi Dia juga mengetahui apa yang akan dipikirkan dan dilakukan di masa mendatang. Dia mengetahui segala sesuatu yang akan datang dan yang akan terjadi. “Yesus yang tahu semua yang akan menimpa diriNya (Yohanes 18:4). Dengan dasar pengetahuan ini Dia mengatakan hal-hal yang akan terjadi tentang berbagai hal yang akan dilakukan sahabat dan musuhNya. “Tetapi diantaramu ada yang tidak percaya. “Sebab Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.” (yohanes 6:64). “Mulai sekarang,” kataNya. “ Aku mengatakan kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi kamu percaya bahwa Akulah Dia.” (Yohanes 13:19). Alasan Dia mengatakan hal-hal yang akan terjadi ini, jelasNya, adalah agar kita mengetahu bahwa Yesuslah “Dia” – Dia siapa? Bahwa Dialah Putra Allah itu. “Aku” adalah nama untuk Tuhan dalam kitab Keluaran 3:14 dan tujuan sifat keallahan dalam Yesaya 43:10. Yesus mengetahui apa yang akan datang dan terjadi, dan untuk membantu iman kita Dia berkata, “Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” (Mateus 25;24).

Dengan mudah Yesus mengetahui semua hal. Sehingga para rasulNya berkata dengan tulus, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu, dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu; karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” (Yohanes 16:30). Besarnya hal-hal yang diketahui Yesus adalah suatu bukti kekuasaan iman dalam keilahianNya. Pada akhir hidupNya di dunia, Dia menekan Petrus, “Petrus, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Petrus sangat sedih karena Dia sudah mengatakan untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan dia mengatakan, “Tuhan, Engkaucmengetahui segala sesuatu; Engkau tahu bahwa aku mengasihiMu” (Yohanes 21:17). Petrus tidak mengambil kesimpulan dari apa yang diketahui Yesus tentang hatinya bahwa Dia mengetahui segala sesuatu; tetapi dia menyimpulkan dari sifat kemaha hadiran Yesus bahwa Dia mengetahui isi hatinya. “Engkau mengetahui segala sesuatu” adalah sebuah hal yang umum dan pernyataan yang tidak berkualitas yang ditekankan Injil Yohanes dalam pikiran kita.

Hal terbesar yang dapat dikatakan tentang apa yang diketahui oleh Tuhan Yesus adalah bahwa dia mempunyai pengertian tentang Tuhan dengan sangat sempurna. Kita hanya bisa memahami Tuhan dengan tidak sempurna dan dengan pemahaman yang hanya sebagian saja. Yesus memahami Dia dengan sempurna, tak seorangpun di alam semesta ini sanggup memahami Tuhan seperti Yesus. Dia memahami Dia dengan cara Pribadi yang mahahadir memahami diriNya sendiri. “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain anak dan orang yang kepadaNya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mateus 11:27) Tidak seorangpun selain Yesus mampu memahami Bapa dengan cepat, lengkap dan sempurna. Pengetahuan kita tentang Bapa bergantung pada kemurahan Yesus untuk mengungkapkan Bapa itu secara utuh; meskipun demikian kemampuan kita untuk mengenal Bapa itu masih bersifat derifatif, hanya bagian tertentu yang bisa kita pahami dan tidak sempurna.

Tidak ada hal yang lebih besar yang bisa dikatakan tentang pengetahuan Yesus daripada pengetahuan bahwa Yesus mengenal Tuhan dengan sempurna. Semua kenyataan diluar Tuhan hanyalah hal parokial dibanding dengan Kenyataan kekal tentang Tuhan. Semua ilmu pengetahuan alam yang menggali permukaan alam semesta yang telah diciptakanNya hanyalah kenyataan ABC belaka dibandingkan dengan kebesaran pengetahuan Kristus tentang alam semesta yang telah diciptakanNya. Dan pengetahuan tentang alam semesta yang telah tercipta bagaikan setetes embun diatas sehelai rumput dibandingkan dengan lautan pengetahuan bahwa Yesuslah Tuhan Pencipta itu sendiri. Tuhan tidak terbatas. Alam semesta itu terbatas. Pengetahuan yang dimiliki Yang tidak terbatas itu juga Tidak terbatas luasnya. Sehingga, untuk mengenal Tuhan, sebagaimana Yesus mengenalNya, adalah dengan cara memiliki pengetahuan yang tidak terbatas.

Karena itu, marilah kita bertelut dan memuji Yesus Kristus. Apabila kita terpesona oleh kemampuan manusia dan hasil pencapaian suatu ilmu pengetahuan, janganlah kita melakukan kebodohan dengan membunyikan suara-suara kecil tetapi tidak mempedulikan kerasnya dentuman petir yang menggelegar dari Sang Mahahadir. Yesus sangat layak untuk mendapatkan kekaguman kita yang tertinggi. Yesus sangat layak mendapatkan rasa percaya kita yang terdalam. Dia sanggup menunjukkan Bapa kepada kita (Mateus 11:27). Dia sanggup memberikan hikmat yang begitu kuat kepada kita (Lukas 21:15). Dia mampu melihat bagaimana semua hal bekerja bersamaan untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Tidak ada penghakimanNya yang tidak benar (Yohanes 8:16). Dia mengajarkan kepada kita tentang jalan Allah dengan kebenaran yang tidak akan gagal (Mateus 22:16). Percayalah padaNya. Kagumilah Dia. Ikutlah Dia.

By. John Piper
Pernahkah anda bertanya mengapa pengampunan Tuhan berharga? Atau, bagaimana tentang kehidupan kekal? Pernahkah anda menanyakan kenapa seseorang ingin mendapatkan hidup kekal? Mengapa kita ingin hidup selamanya? Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki arti karena tidak mungkin kita menginginkan pengampunan dan kehidupan kekal untuk alas an-alasan yang membuktikan bahwa anda tidak memiliki keduanya.

Pengampunan, misalnya. Anda menginginkan pengampunan TUhan karena anda sangat menderita karena perasaan bersalah yang anda miliki. Anda hanya ingin merasa lega. Apabila anda bisa percaya bahwa Dia mengampuni anda, maka anda akan merasa lega, tetapi hal itu belum tentu berarti keselamatan. Apabila anda menginginkan pengampunan karena alas an lega secara emosi, anda tidak akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan. DIa tidak akan memberikannya kepada orang yang menggunakannya untuk mengambil sesuatu dariNya dan bukan diriNya.

Atau anda mungkin ingin disembuhkan dari penyakit atau mendapatkan pekerjaan atau pasangan hidup. Maka anda bisa yakin bahwa Tuhan sanggup memberikan hal-hal ini, tetapi dosa-dosa anda harus diampuni terlebih dahulu. Seseorang menyuruh anda untuk percaya bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa anda dan apabila anda mempercayai hal ini, maka dosa-dosa anda akan diampuni. Sehingga, dengan anda percaya, anda menyingkirkan halangan-halangan terhadap kesehatan dan pekerjaan dan pasangan hidup. Apakah pemberitaan Injil seperti itu memberikan keselamatan? Saya rasa tidak.

Dengan kata lain, apa yang anda harapkan dari sebuah pengampunan adalah hal yang sangat penting. Mengapa anda menginginkannya menjadi hal yang penting. Apabila anda menginginkan pengampunan hanya demi kesempatan menikmati ciptaanNya, maka Sang Pencipta tidak mendapatkan kehormatan dan anda tidak diselamatkan. Pengampunan adalah hal yang sangat berharga untuk sebuah alasan pamungkas: pengampunan akan membuat anda bisa menikmati persekutuan dengan Tuhan. Apabila anda tidak menginginkan pengampunan untuk hal tersebut, anda tidak akan mendapatkannya. Sama sekali. Tuhan tidak akan bersedia dimanfaatkan sebagai mata uang untuk membeli berhala-berhala yang kita puja.

Seperti halnya, apabila kita bertanya: mengapa kita ingin memiliki kehidupan kekal? Seseorang mungkin akan berkata bahwa neraka adalah sebuah alternative dan itu menyakitkan. Orang yang lain mungkin akan mengatakan: karena tidak ada kesusahan di sana. Orang yang lain lagi mungkin akan mengatakan: orang-orang yang kukasihi sudah ada disana dan aku ingin bersama mereka. Orang –orang yang lainnya mungkin akan memimpikan akan memadu kasih yang tiada berkesudahan atau makanan yang tidak akan habis. Atau keberuntungan yang lebih besar lagi. Dalam semua tujuan-tujuan tersebut diatas ada satu hal yang hilang: Tuhan.

Motivasi penyelamatan untuk keinginan hidup kekal diberikan Tuhan lewat Kitab Yohanes 17:3, “Inilah hidup yang kekal 1 itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Apabila kita tidak menginginkan kehidupan kekal yang berarti sukacita dalam Tuhan, maka kita tidak akan memiliki kehidupan kekal itu. Kita dengan mudahnya berpikir secara kanak-kanakan bahwa kita akan menjadi Kristen apabila kita memnggunakan Injil Kristus yang mulia untuk mendapatkan sesuatu yang kita kasihi dan inginkan melebihi Kristus. “Kabar baik” itu tidak akan terbukti baik untuk siapapun yang tidak menjadikan Tuhan sebagai yang tertinggi dari segala hal-hal yang baik.

Jonathan Edward mengemasnya dalam kotbahnya untuk para jemaatnya pada tahun 1731 seperti ini. Bacalah perlahan-lahan dan biarkanlah kotbah ini menggugah anda terhadap pengenalan kebaikan yang sejati akan pengampunan dan kehidupan.

Orang-orang yang ditebus mempunyai tujuan baik dalam Tuhan. Tuhan sendiri adalah kebaikan yang besar yang dibawa kepada kepemilikan dan kenikmatan oleh tindakan penebusan yang dilakukanNya. Dia adalah kebaikan tertinggi, dan Dialah total keseluruhan semua hal baik yang sudah dibeli oleh Kristus. Tuhan mewariskan kebaikan pada orang-orang kudus; Dialah bagian dari jiwa mereka. Tuhan adalah kekayaan dan harta terbesar mereka, makanan mereka, kehidupan mereka, tempat kediaman mereka, hiasan dan mahkota mereka, dan kehormatan dan kemuliaan kekal mereka. Mereka tidak memiliki apapun di surga kecuali Tuhan; Dialah kebaikan besar yang diterima orang-orang tebusanNya saat mati dan yang dibangkitkanNya pada akhir jaman. Tuhan Allah, Dialah sinar surgawi yang menyinari Yerusalem; Dialah juga ‘sungai kehidupan’ yang mengalir, dan pohon kehidupan yang terus tumbuh ‘ di tengah-tengah kerajaan Allah’. Keindahan dan kehebatan kemuliaan Tuhan akan menghibur pikiran orang-orang kudus selamanya, dan kasih Allah akan menjadi makanan dalam pesta mereka. Orang-orang tebusanNya, tentu saja akan menikmati hal-hal yang lainnya; mereka akan bersukacita menikmati para malaikat, dan akan menikmati persekutuan satu sama lain: tetapi itulah yang seharusnya mereka nikmati di dalam hal menikmati para malaikat, atau menikmati persekutuan satu sama lain, ataupun hal-hal yang lain, apapun itu, hal-hal itulah yang akan menimbulkan kebahagiaan dan kesukaan, dari hal-hal itulah orang akan melihat kehadiran Tuhan di dalam mereka.

By. John Piper
Apakah orang – orang pergi ke Grand Canyon untuk meningkatkan harga dirinya? Mungkin tidak. Paling tidak hal ini merupakan petunjuk bahwa sukacita dalam kehidupan tidak berasal dari menikmati diri sendiri, tetapi dari melihat hal-hal yang besar. Pada akhirnya, Grand Canyonpun tidak akan menjadi petunjuk untuk melihat kenikmatan itu. Kita diciptakan untuk menikmati Tuhan.

Kita semua dibentuk oleh sebuah kepercayaan bahwa kita adalah pusat alam semesta. Bagaimana kita bisa tersadar dan sembuh dari sikap yang menghancurkan sukacita ini? Mungkin dengan cara mendengarkan betapa radikalnya kenyataan tentang Pemusatan Tuhan seperti yang tertulis dalam Alkitab.

Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, keduanya menceritakan bahwa kasih Tuhan kepada kita adalah alat bagi kita untuk memuliakan Dia. “Kristus menjadi seorang pelayan … dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmatNya.” (Roma 15:8 – 9). Tuhan telah bermurah hati kepada kita sehingga kita akan membesarkanNya. Kita melihatnya lagi dalam firmanNya, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan … supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia yang dikasihiNya (Efesus 1: 4-6) Dengan kata lain, tujuan Tuhan mengasihi kita adalah agar kita memuji dan memuliakanNya. Satu lagi gambaran yang diambil dari Mazmur 86:12 – 13: “Aku hendak bersyukur kepadaMu ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan namaMu untuk selama – lamanya, sebab kasih setiaMu besar atas aku”. Kasih Tuhan adalah dasar. KemuliaanNya adalah tujuan kasiNya.

Hal ini sungguh mengejutkan. Kasih Tuhan bukanlah cara Tuhan untuk membesarkan kita, tetapi Tuhan menyelamatkan kita dari pemusatan diri sehingga kita bisa menikmati kebesaran Dia selamanya. Dan apabila kita mengasihi sesama kita, bukan berarti kita membesarkan mereka, tetapi kita membantu mereka untuk menemukan kepuasan di dalam membesarkan Tuhan. Tujuan kasih sejati adalah untuk membantu orang lain menemukan kepuasan di dalam memuliakan Tuhan. Kasih apapun yang tujuan akhirnya berpusat pada manusia adalah kasih yang menghancurkan, karena kasih itu tidak membimbing orang lain kepada satu – satunya sukacita abadi, yaitu Tuhan. Kasih harus berpusat kepada Tuhan, kalau tidak, kasih ini bukanlah kasih sejati; karena kasih yang tidak berpusat kepada Tuhan akan membuat orang lain berada pada ketidakpastian akan tujuan akhir mereka, yaitu harapan akan sukacita.

Salib Kristus, misalnya. Kematian Kristus di kayu salib adalah puncak ekspesi kasih ilahi: “ Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Kemudian, Alkitab juga menulis bahwa tujuan kematian Kristus adalah “untuk menunjukkan keadilanNya karena Ia telah membiarkan dosa – dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya. MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini, supaya nyata bahwa Ia benar.” (Roma 3:25). Mewariskan dosa akan menciptakan masalah – masalah besar yang mengancam kebenaran Tuhan. Mewariskan dosa membuat Tuhan tampak seperti seorang hakim yang melepaskan para kriminal hidup bebas tanpa hukuman. Dengan kata lain, belas kasihan Tuhan akan menempatkan keadilanNya pada posisi yang berbahaya.

Karena itu, untuk membuktikan keadilanNya, Dia melakukan hal yang tak terselami oleh pemikiran kita – Dia menghukum mati PuteraNya sebagai pengganti hukuman atas dosa – dosa kita. Salib menyingkapkan kepada seluruh makhluk bahwa Tuhan tidak hanya menyapu dosa – dosa kita dan menyembunyikannya dibawah lapisan alam semesta. Dia menghukum dosa – dosa tersebut didalam Yesus untuk semua orang yang mau percaya.

Perhatikan, tindakan kasih terbesar ini berada pada pusat kasihNya, yaitu pembuktian akan kebenaran dan keadilan Tuhan. Kasih Jumat Agung adalah Kasih kemuliaan Tuhan. Tuhan meninggikan Tuhan pada kayu salib. Apabila Dia tidak melakukan keadilan ini, Dia tidak adil dan tidak bisa menyelamatkan kita dari dosa – dosa. Adalah sebuah kesalahan apabila kita berkata, “Baiklah, apabila tujuanNya adalah untuk menyelamatkan kita, maka kita adalah tujuan tertinggi dari salib Kristus.” Tidak, kita diselamatkan dari dosa – dosa kita agar kita bisa melihat dan menikmati kemuliaan Tuhan. Inilah tujuan kasih tertinggi dari kematian Kristus. Dia tidak mati untuk membesarkan kita, tetapi untuk melepaskan kita agar kita bisa menikmati dan membesarkan Tuhan selamanya.

Adalah sebuah kesalahan besar memutarbalikkan salib menjadi bukti bahwa harga diri adalah akar dari kesehatan mental. Apabila saya berdiri dihadapan kasih Tuhan dan tidak merasakan sebuah sukacita yang sehat, puas, dan membebaskan, dan jika saya tidak membalikkan kasih Allah tersebut mengikuti harga diri saya, maka saya seperti seseorang yang berdiri di depan Grand Canyon dan tidak merasakan kepuasan akan keindahannya, sampai saya menerjemahkan Canyon tersebut sesuai dengan kepentingan saya. Ini bukanlah kehadiran mental yang sehat, tetapi keterikatan diri.

Cara untuk melepaskan ikatan diri ini adalah dengan melihat bahwa Tuhanlah satu – satunya pribadi di alam semesta ini yang melakukan peninggian diriNya sebagai tindakan kasih yang terbesar. Saat meninggikan diriNya – seperti halnya Grand Canyon – Dia mendapatkan kemuliaanNya, dan kita mendapatkan sukacitaNya. Kabar terindah dalam dunia ini adalah, tidak ada konflik antara keinginan saya untuk mendapatkan sukacita dan keinginan Tuhan untuk mendapatkan kemuliaanNya. Tali yang mengikat kedua hal ini adalah kebenaran bahwa Tuhan akan merasa paling dimuliakan di dalam diri kita pada saat kita menemukan kepuasan tertinggi di dalam Dia. Yesus Kristus mati dan bangkit lagi untuk mengampuni pengkhianatan jiwa kita, yang berubah dari menikmati Tuhan menjadi menikamati diri sendiri. Di atas salib Kristus, Tuhan menyelamatkan kita dari rumah – rumah cermin dan membimbing kita menuju ke gunung – gunung dan canyon – canyon kemuliaanNya. Tidak ada satupun yang bisa memuaskan kita – atau membesarkanNya – lebih lagi.

By. John Piper

Kolose 4: 2 – 3
Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus yang karenanya aku dipenjarakan.
Tulisan ini memberikan 5 aturan umum yang membimbing kita untuk menaikkan doa-doa kita.

Pertama, “Teruslah bertekun dalam doa”. Jangan anda menyerah, teruskanlah kerajinan yang sudah anda tunjukkan dalam doa mingguan anda. Ada banyak kuasa yang anda miliki dalam bertekun di dalam doa. Jangan melupakan hal tentang “sahabat yang gigih dan tidak malu” dalam Lukas 11:8 dan jangan lupa perumpamaan yang diceritakan Tuhan Yesus bahwa “kita harus selalu berdoa dengan tidak gentar” (Lukas 18:8). Ketekunan adalah ujian kemurnian kehidupan Kristen. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa anda sudah bertekun dalam doa selama 60. 70 dan 80 tahun. Oh, marilah kita menjadi gereja yang berdoa dan jadikan tahun 1982 menjadi tahun yang dilingkupi oleh resapan doa kepada Tuhan Sang Penuai. Bukankah suatu hal yang indah apabila kita berkata pada akhirnya, “Aku sudah menyelesaikan pertandingan. Aku sudah mempertahankan iman.” ?

Kedua, “Berjaga-jagalah dalam doamu” Artinya, waspadalah. Sadarlah secara mental. Paulus mungkin belajar dari cerita kebenaran yang terjadi di Getsemani. Tuhan Yesus meminta para rasul untuk berdoa, tetapi Dia menemukan mereka tertidur, sehingga Dia berkata, “Tidak bisakah kamu berjaga-jaga satu jam saja? Berdoalah dan berjaga-jagalah, sehingga kamu tidak jatuh dalam pencobaan.” (Markus 14:37f). Kita harus waspada saat kita berdoa – waspada terhadap melanturnya pikiran kita, terhadap pengulangan yang tidak berarti, terhadap ekspresi dan pendapat yang tidak berarti, terhadap keinginan yang egois dan terbatas pada diri sendiri. Dan kita juga harus berjaga-jaga terhadap apa yang baik. Terutama kita harus sensitif pada pimpinan Tuhan dalam doa-doa kita seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Tuhanlah yang bekerja di dalam kita untuk berkehendak terhadap doa-doa kita tetapi kita akan selalu mengalami pemampuan ilahi sebagai pengambil keputusan dan penyelesaian.

Ketiga, kita bersyukur atas segala sesuatu dalam doa-doa kita. Cerita-cerita yang telah saya dengar tentang apa yang dilakukan Tuhan dalam sebagian besar kehidupan anda melalui doa yang diperbaharui, benar-benar menakjubkan. Hal-hal tersebut benar-benar membuat saya harus selalu bersyukur dalam doa-doa saya. Terus bagikan kepada saya dan orang-orang lain tentang hal-hal baik ini. Tuhan akan membuat tahun ini sebagai tahun tuaian apabila kita terus bertekun dalam doa dengan ucapan syukur.

Keempat, berdoalah bagi saya agar pintu dibukakan bagi saya untuk Dunia. Dalam 2 arti: 1) bahwa di dalam gereja akan hati-hati yang terbuka dan mau menerima firman dari minggu ke minggu. 2) bahwa sesama saya akan terbuka untuk menerima kabar baik saat saya berbagi dengannya. “Tuhan membuka hati Lydia untuk memberi perhatian pada Firman Tuhan.” (Kisah Rasul 16:14) Itulah yang saya inginkan untuk terjadi pada setiap hari minggu dan hari-hari lainnya dalam seminggu. Berdoalah untuk saya.

Kelima, berdoalah untuk saya agar saya bisa berbicara tentang misteri Kristus dengan jelas. “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita” (1 Timotius 3:16). Dan, oh, betapa indahnya panggilan untuk mengabarkannya. Saya menyukai situasi kantor yang berkotbah. Tetapi itu jauh diatas saya. Tolong doakan agar saya memahami misteri Kristus. Doakan agar saya memilih tulisan yang diperlukan. Doakan agar saya berkotbah dengan kuasa Roh Kudus. Doakan agar saya memberitakan kebenaran dengan kasih. Tolong doakan saya, karena tanpa Kristus saya tidak mampu berbuat apapun.

Awan Tag