Just another WordPress.com site

Religiousitas menempatkan Tuhan sebagai causa prima untuk segala sebab akibat, aksi reaksi hingga penetapan dan penentuan.  Kedaulatan-Nya begitu diabsoludkan sehingga kelembutan kasih-Nya menjadi absurd.  Sebaliknya sekularitas menjauhkan Tuhan dari seluruh eksistensi kemanusiaan. Kita sudah selesai berurusan dengan-Nya. Ia adalah bayangan dari runtuhnya bayangan teokrasi yang justru ditolak oleh yang disapa-Nya sebagai umat. Digotomi tersebut memang jarang diakui, sebab dalam eksistensi sekularisme kita masih mengenakan topeng agama; sebaliknya, dalam kehadiran sebagai makluk beragama kita menyembunyikan natur ‘keliaran pikir’.
Sederhananya, bagaimana seharusnya memahami keintiman relational antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia? Pikirkan dan renungkanlah beberapa pokok berikut:
1. Ke-manusia-an dalam naturnya dikuasai keterbatasan.
2. Ke-manusia-an dalam nalurinya dikendalikan ketidakterpuaskan.
3. Ke-manusia-an dalam nalarnya dikekang keliaran.
Dalam konteks inilah seharusnya kita melihat konsep man proposes, God disposes. Allah dalam natur kasih menginginkan manusia menjadi imago dei yang berkuasa menghadirkan damai Allah atas semesta; Allah dalam naluri kudus rindu menjadikan diri-Nya menjadi satu-satunya orientasi manusia; bahkan Allah dalam nalar omniscience-Nya ingin memastikan bahwa manusia tidak terjebak pada resiko konyol hidup ini. So it’s true that: man proposes and God disposes. He realy love’s you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: