Just another WordPress.com site

deus revelatusAllah secara religius umumnya dipahami oleh agama-agama dalam kesakralan deus absconditus.  Ia adalah Pencipta yang ilahi, penyelenggara dalam keteraturan serta kudus dalam kodrat-Nya.  Ia berada dalam essensinya yang tidak dapat dipahami, pikiran-Nya tidak dapat diduga dan keseluruhan karya-Nya dahsyat tak terselami.  Dengan demikian, agama-agama pun mendoktrinkan-Nya sebagai keberadaan yang  jauh dari penyingkapan nalar, kodrat dan perasaan manusia.  Namun demikian, iman Kristen melihat secara berbeda.  Melalui firman-Nya, sang deus absconditus kini membiarkan diri-Nya menjadi dapat dikenal, disapa dan menjadi karib.  Hanya dalam iman Kristenlah deus absconditus pada saat bersamaan menjadi deus revelatus.

Uniknya lagi keseluruhan penyataan diri tersebut berkenan Ia hadirkan melalui firman yang mengambil bagian melintasi sejarah, masuk ke dalam konteks peradaban dan menggunakan keseluruhan ornamen yang dapat dikenali oleh manusia bagi diri-Nya.  Allah memutuskan bagi diri-Nya secara ontologis masuk ke dalam principium cognoscendi externum, yaitu Alkitab.[1]

Secara essential, Allah (deus absconditus dan deus revelatus) menjadikan Alkitab sebagai sarana penyataan yang cukup, memadai dan mumpuni agar diri-Nya dapat dikenal, disapa dan menjadi karib.  Menjadi keniscayaan hanya oleh karena adanya anugerah iman dari Allah dalam diri umat untuk menanggapi firman-Nya.  Diyakini bahwa penyataan diri tersebut dihadirkan melalui fakta-fakta Alkitab.[2]

Alih-alih memperkenalkan diri-Nya, Allah justru mengajak penerima dan pembaca Alkitab untuk berelasi dengan-Nya dalam principium cognoscendi internum.  Penyataan diri Allah kini menjadi sangat kompleks.  Memang Allah telah menyingkapkan dirinya melalui Alkitab, namun demikian pada saat yang bersamaan Ia menuntut penerima dan pembaca Alkitab untuk juga mengenalnya dalam iman (principium cognoscendi internum) melalui penerimaan dan pembacaan Alkitab (principium cognoscendi externum).  Karenanya, Alkitab merupakan jembatan menuju pemahaman iman yang pada saat bersamaan digunakan Allah untuk mencurahkan anugerah kebenaran-Nya.  Untuk itu, umat Allah memerlukan pemahaman yang tepat mengenai Allah, penyataan diri-Nya dan kebenaran-Nya sebagai satu kesatuan utuh dari Ia yang ingin dikenal, disapa dan menjadi karib. Disanalah terletak tujuan essensial Alkitab yang melaluinya telah memberi hikmat kepada kita dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2 Tim. 3:15).

[1]  Kitab II Timotius 3:16 menggunakan istilah θεόπνευστος yang secara khusus menjelaskan bahwa Alkitab adalah produk aktif dari Allah yang hidup.  Secara filosofis memberikan pengertian bahwa a supernatural quality in all its own, therefore, inheres in scripture.  scripture is affirmed nonetheless to owe its origin not to human but to divine initiative in a series of statements whose proximate emphasis is the reliability of scripture.  Carl F.H Henry, “Inspiration” dalam Baker’s Dictionary of Theology, pen., Everett F. Harrison (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1983), 286.

[2]  Joel B. Green, Memahami Nubuatan, pen., Hans Wuysang dan James Pantou (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005), 12.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: