Just another WordPress.com site

Perjamuan Kudus:

Seremonial, Sakramental dan Spiritualitas
images
Pendahuluan.
Keikutsertaan orang percaya dalam Perjamuan Kudus seharusnya adalah hasil dari kesadaran akan terbukanya persekutuan baru dengan Allah melalui Kristus, namun ternyata seiring berjalannya waktu telah menyebabkan berubahnya pemaknaan umat terhadap makna seremonial, sacramental dan spiritual dari Perjamuan Kudus. Untuk konteks Indonesia, paling tidak ada 2 kubu yang bertolak belakang secara radikal. Kelompok pertama, Perjamuan Kudus telah sedemikian dimistiskan sehingga unsur-unsur simbolik telah ditambahkan sedemikian rupa dengan segala jaminan jawaban kebutuhan non essential menggantikan aspek kebutuhan essensial yaitu persekutuan yang bergairah dengan Tuhan; dipihak yang lain yaitu kelompok kedua, Perjamuan Kudus hanya menjadi bagian dari ritus rohani yang secara rutin dilaksanakan menurut kalender gerejawi, sehingga persona Allah lama kelamaan terhisab luntur dalam pesona simbol liturgis.
Padahal seharusnya, melalui Perjamuan Kudus, umat menghidupi, menghayati dan memaknai realitas dan eksistensi pengalaman bergairah mengalami Allah. Sebagai pengalaman yang semakin memperkaya kepekaan teologis-spiritualitasnya untuk menikmati perjanjian kekal dengan Bapa melalui peringatan terhadap karya Anak melalui persekutuan spiritual oleh Roh Kudus.

Perjamuan Kudus adalah Pilihan Allah.
Alkitab memberikan kesaksian bahwa Allah selalu menjadi inisiator penggagas perjanjian (covenant). Uniknya adalah, Allah melibatkan unsur-unsur yang melekat dengan kebiasaan manusia bagi diri-Nya sembari memberi makna supranatural, agar manusia memahami maksud dari perjanjian dan menghidupinya sebagai praxis bagi dirinya. Dalam konteks paper ini, Allah menggunakan kebiasaan jamuan makan manusia dan dikenakan bagi diri-Nya, agar manusia yang diundang dalam jamuan makan itu memahami maksud dari undangan tersebut serta menghidupkan relasi spiritual yang telah Allah buka dalam keseluruhan praxis dirinya.

Pada masa Perjanjian Lama, jauh sebelum Yusuf menggunakan jamuan makan untuk memperkenalkan dan membuka jalur rekonsiliasi dirinya dengan saudara-saudaranya, Allah telah memperkenalkan dan membuka jalur relasi diri-Nya kepada manusia melalui Abraham dengan cara menikmati jamuan makan yang disiapkan Abraham. Lebih lanjut, dalam Perjanjian Baru, Paulus secara sengaja menggunakan arti essensi spiritual jamuaan makan di ruang atas yang terjadi antara Tuhan Yesus dengan para murid, untuk memberikan teguran kepada jemaat Korintus agar tidak lagi berkanjang dalam pemahaman yang salah mengenai Perjamuan Kudus. Dengan demikian, Perjamuan Kudus seharusnya tidak hanya dipahami sebagai seremonial, sacramental, namun juga spiritual.

Aspek Spiritualitas dalam Perjamuan Kudus.
Perjamuan Kudus menjadi jalan masuk pada penegasan suatu Perjanjian Baru dari Bapa kepada manusia melalui Kristus. Jika pada masa Perjanjian Lama penegasannya terletak pada dikurbankannya hewan ternak tertentu, maka pada masa Perjanjian Baru, Bapa berinisiatif memberikan diri-Nya melalui Anak untuk menjadi kurban perjanjian kekal melalui pemateraian Roh Kudus atas diri orang percaya, yang dihimpunkan dalam relasi yang terekonsiliasi. Stanley J. Grenz menggunakan istilah a supernatural power God infuses into the soul. Sehingga melalui Perjamuan Kudus, umat merayakan dan mengambil bagian dalam perjanjian yang telah Allah kerjakan pada dirinya, seperti yang juga dijelaskan oleh Calvin bahwa ‘we are truly made partakers of the real substance of the body and blood of Jesus Christ’.

Lebih lanjut, melalui Perjanjian Allah tersebut, umat mengalami penyatuan sempurna menjadi satu tubuh, satu roh dan satu pengakuan. Inilah jemaat Tuhan yang diproklamasikan kehadirannya oleh Tuhan Yesus sendiri (Mat. 16:18). Tidak hanya itu, melalui Perjanjian Allah yang dirayakan dalam Perjamuan Kudus, Allah mengikat umat ke dalam persekutuan ke dalam Bapa dan Anak melalui Roh Kudus. Sama seperti Bapa dan Anak mempertautkan natur-Nya melalui Roh Kudus, demikian juga umat dipertautkan ke dalam natur ke-Ilahi-an melalui Roh Kudus. Allah yang infinitum membiarkan diri-Nya mengambil bagian dalam perjamuan yang finitum, agar umat mengalami-Nya. Jika Allah tidak memprakarsai melalui perjanjian-Nya maka sudah pasti akan berlaku hukum finitum non capax infinitum.

Aspek Sakramental dari Perjamuan Kudus.
Melalui roti dan anggur sebagai materi yang terbatas, Yesus mempersiapkan para murid memahami kematian-Nya. Peristiwa ini kemudian dipahami oleh gereja mula-mula kedalam terminology passover yang merujuk pada aspek sacrifice, redemption dan salvation. Bukan saja untuk menghapus dosa umat tetapi juga untuk membuka pintu terhadap relasi baru antara Allah dengan umat serta umat dengan umat lainnya . Perjanjian Allah yang nampak dalam Perjamuan Kudus, merupakan undangan dari Allah kepada umat untuk mengambil bagian dan berpartisipasi melalui makan roti dan anggur. Dengan demikian, melalui Perjanjian Perjamuan Kudus, umat mengalami pembaharuan pemaknaan dalam pengalaman menjadi satu (unity) menuju persekutuan dengan Allah, yang tentu saja menjadi ritual yang penting dalam membangun persekutuan antar orang percaya juga . Sehingga orang percaya dapat memaknai doa Tuhan Yesus: ut omnes unum sint.

Melalui Perjamuan Kudus, Kristus sendiri memberikan tubuh-Nya – tidak kurang dan tidak lebih – kepada umat, yang melaluinya Ia dipermuliakan. Pada saat yang sama, melalui tubuh Kristus yang dialami dalam Perjamuan Kudus itu, umat dihisabkan menjadi satu dalam kemuliaan Kristus. Sehingga Perjamuan Kudus yang diterima secara bersama-sama dalam komunitas gereja, harus dipahami dalam terang realism sacramental dari umat yang dimuliakan untuk memperlihatkan kemuliaan Kristus kepada dunia. Dari situlah Perjanjian Tuhan menjadi kesaksian nyata bagi dunia.

Perjamuan Kudus pada saat yang bersamaan dengan aspek Perjanjian terkandung juga aspek Peringatan. Peringatan akan diri Yesus sendiri , merujuk langsung pada tindakan untuk remembrance or memory of me, kata Yesus. Dengan demikian pengenangan ini melibatkan unsur pengulangan suatu bentuk kerja atas peristiwa tertentu yang menolong memori melakukan kerja pengenangan akan persona Yesus. Namun demikian, ini pun bukanlah aspek utama dari pesan Tuhan Yesus ini. Penggunaan frase εἰς τὴν ἐμὴν ἀνάμνησιν, oleh Tuhan Yesus ketika berbicara dengan para murid, lebih merujuk pada undangan Tuhan Yesus agar mereka mengingat akan pelayanan dan karya-Nya, utamanya perihal karya keselamatan Allah melalui Kristus di dalam pemateraian Roh Kudus. Melaluinya para murid dibawa juga pada pemahaman bahwa Bapa pun senantiasa mengingat mereka ketika Anak dikenang.

Istilah ἀνάμνησιν, awalnya digunakan oleh Plato untuk menunjukan pada usaha untuk menggali dengan lebih dalam melalui pengulangan sehingga ditemukan makna atau pesan essential. Dalam Perjanjian Lama erat berkaitan dengan kata זכר )zākar) yang penggunaannya merujuk pada pengingat perjanjian antara Allah dengan umat. Sehingga nuansa yang terkandung di dalamnya adalah tindakan manusia untuk mengingat karya Allah agar mereka tetap memelihara perjanjian Allah dalam kehidupan .
Oleh karenanya, Johannes Pedersen menjelaskan perihal jiwa yang mengingat karya Allah sebagai berikut:
When the soul remembers something, it does not mean that it has an objective memory image of some thing or event, but that this image is called forth in the soul and assists in determining its direction, its action. When man remembers God, he lets his being and his actions be determined by him.

Menariknya, Tuhan Yesus sendiri – sebelum merayakan jamuan makan paska bersama – berkata kepada para murid: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita … Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah. (Luk 22:16)” Lebih lanjut, Paulus memberi penekanan dengan berkata: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (ay. 26).

Dalam hal ini, kerja dari memori bukan hanya sekedar mengingat perbuatan dan karya keselamatan yang dikerjakan Kristus melalui kematian (tubuh yang dipecah-pecahkan dan darah yang dicurahkan), tetapi ada unsur pengharapan eskatologis didalamnya, oleh karena terus menerus dilakukan sampai Ia datang. Aspek kedatangan Kristus telah menjadi pengharapan yang menguatkan gereja mula-mula melewati kesulitan hidup yang tak terhindarkan saat mereka menjadi pengikut Kristus. Memori yang bekerja untuk mengingat ulang karya Yesus akan terus menciptakan persona Yesus sebagai Raja, Imam dan Nabi, yang akan datang dalam kemuliaan-Nya.

Aspek Seremonial Perjamuan Kudus.
Melalui jamuan makan paska yang dirayakan ulang setiap tahunnya, umat Yahudi memperingati tindakan Allah yang besar yang telah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 12:14; Ul.16:3). Kelepasan yang mereka alami adalah wujud kesetian Allah, sehingga melalui merayakannya secara berulang, umat menjadikan kesetiaan Allah sebagai pengalaman personal. Demikian pula gereja, merayakan Perjamuan Kudus secara berulang, bukan saja bertujuan mengingatkan akan kematian Kristus di masa lampau. Namun, melalui Perjamuan Kudus, Allah menghadirkan diri kembali bagi tubuh dan darah-Nya yang menyelamatkan dimasa kini. Peristiwa masa lampau menjadi kehadiran yang menyelamatkan juga dimasa kini, inilah kehadiran Kristus yang real.

Melalui mekanisme ini, orang percaya yang mengingat Kristus di sementara mengikuti Perjamuan Kudus, akan disadarkan untuk terus menerus membiarkan keberadaan dan tindakannya untuk ditentukan oleh Dia seperti yang didalilkan oleh Pedersen di atas. Dalam Perjamuan Kudus, umat diajak menikmati Allah secara terus menerus dan berulang; Sehingga melalui berada sehidangan dengan umat, Allah juga terus menerus dengan berulang mengingat umat-Nya, yang terus menerus berdoa mengharap kedatangan-Nya.

Gereja Tuhan dari masa ke masa telah meneruskan dan menjadikan Perjamuan Kudus sebagai hal yang essential dan suci dalam ibadah. Melalui Perjamuan Kudus, umat ada sehidangan dengan Allah, oleh karena tubuh Kristus yang telah dipecah-pecahkan dan darah-Nya yang telah dicurahkan. Di dalam Perjamuan Kudus, umat terus menerus mengingat akan karya penebusan Kristus yang olehnya umat dipersekutukan dengan Bapa melalui pemateraian Roh Kudus. Oleh Perjamuan Kudus, umat diyakinkan akan kesetian Allah terhadap sejarah yang telah berlangsung, sedang berlangsung dan hal-hal yang nantinya akan datang, yang telah Allah garansikan melalui firman yang keluar dari Bapa dan terpatri kuat di dalam iman umat melalui kehadiran Roh Kudus. Keseluruhan hal tersebut disimbolkan di dalam seremoni perayaan Perjamuan Kudus.

Konklusi.
Roti, anggur, rangkaian ucapan-ucapan litany, doa, dan nyanyian yang dipersatukan dalam keseluruhan liturgis adalah simbol yang terlihat dari Allah yang tak terihat, simbol yang terbatas dari Allah yang tak terbatas. Melalui simbol-simbol tersebut Allah memperkenalkan dan menjadikan diri-Nya dialami berulang-ulang oleh umat; pada saat yang sama, melalui simbol-simbol tersebut, umat juga mengalami Allah secara dinamis dalam keseluruhan perjanjian rekonsiliasi dan peringatan akan karya, penyertaan serta janji pengharapan eskatologis.

Penting bagi Paulus untuk memberikan teguran keras kepada jemaat Korintus yang telah merendahkan Perjamuan Kudus. Paulus memberi mereka penilaian sebagai berikut:
Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan Perjamuan Kudus. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

Melalui aspek seremonial, sacramental dan spiritulitas dari Perjamuan Kudus umat belajar aspek-aspek penting dari relasi yaitu kesatuan, kepedulian terhadap yang lain, serta keadilan. Keseluruhan tersebut terkait erat dengan eksistensi jemaat sebagai tubuh Tuhan. As a symbol of community with our Lord, participation in the supper signifies our reaffirmation of Christ’s lordship. Throught our presence at the Lord’s table we publicly confess our loyalty to Christ. Roti, anggur dan keseluruhan rangkaian litany adalah seremoni yang terangkai harmonis menjadi satu kesatuan Perjamuan Kudus. Umat yang menikmati pemeliharan lintas sejarah – ruang dan waktu – berpaut dengan Allah yang menyediakan jamuan makan melalui perjanjian dan peringatan akan kasih-Nya.
Roti, anggur dan keseluruhan rangkaian litany adalah seremoni hadirnya anugerah Allah dalam persekutuan seluruh orang percaya. Melaluinya orang percaya mengalami dan menikmati kasih karunia Allah. Anugerah yang menuntut pertanggung jawaban iman. Seperti yang termaktub dalam Belgic Confession artikel 35 yang berkata: “Therefore no one should come to this table without examining himself carefully, lest “by eating this bread and drinking this cup he eat and drink to his own judgment.” Roti, anggur dan keseluruhan rangkaian litany memang adalah seremoni, tetapi rangkaian seremoni tersebut digunakan Allah untuk menghadirkan diri-Nya agar umat mengenal, bergaul dan mengharapkan kedatangan-Nya.

KEPUSTAKAAN
Bartels, K.H. “Remember” dalam The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 3. Disunting oleh Colin Brown. Grand Rapids, Michigan: Regency Reference Library, 1993.

Belgic Confession dalam Ecumenical Creeds and Reformed Confessions. Grand Rapids, Michigan: CRC Publications, 1987.

Chilton, Bruce. ‘Eucharist: Surrogate, Metaphor, Sacraments of Sacrifice’ dalam Sacrifice in Religious Experince. Diterjemahkan oleh Albert I. Baumgarten. Leiden, Boston: Koln Brill, 2002.

de Lubac, Henry. The Discovery of God. Diterjemahkan oleh Alexander Dru. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerrmans Publishing, 1996.

Grenz, Stanley J. Theology for the Community of God. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000.

———-. Theology for the Community of God. Nashville, Tennessee: Broadman and Holman Publishers, 1994.

Montoya, Angel F. Mendez. The Theology of Food: Eating and the Eucharist. Singapore: Utopia Press, 2009.

Pedersen, Johannes. Israel: Its Life and Culture. Atlanta, Georgia: Scholars Press, 1991.

Pfitzner, V.C. Kesatuan dalam Kepelbagaian: Tafsiran atas Surat 1 Korintus. Diterjemahkan oleh Stephen Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Scott, Jack B. ’akl’ dalam Theological Wordbook of the Old Testament, vol. 1. Disunting oleh R.Laird Harris. Chicago Moody Press, 1981.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: