Just another WordPress.com site

sin Masyarakat kita tengah diuji rasa kemanusiaanya dan seringkali hasilnya adalah pengampunan yang salah dan penghukuman yang keliru. Sepasang artis ‘beken’ ibukota terlibat adegan ranjang yang direkam melalui phoneselular dan tidak lama setelah ‘disidangkan’ kini mereka kembali lebih tenar. Pak Bejo (nama disamarkan) hanyalah seorang pemulung yang ‘terpaksa’ mencuri uang kotak amal karena anaknya sakit dan mereka sekeluarga kelaparan. Ia tidak seberuntung yang lain karena harus meregang nyawa setelah di amuk masa yang geram dengan aksinya. Dilain pihak, para petinggi negeri tiba-tiba menjadi buruan berita setelah ‘tertangkap tangan’ entah karena suap, korupsi dan aksi-aksi lainnya. Kalaupun mereka di penjara masih ada seperangkat alat hukum yang dengan mudah mereka dapatkan guna mengeluarkannya dari balik jeruji. Masih banyak lagi contoh kasus yang meresahkan sehingga negeri ini kadung di cap negeri tidak waras.

Hal-hal di atas yang sedang terjadi di negeri ini menunjukan bahwa ada yang sedang salah di negeri ini. Kesalahan essentialnya terletak pada konsep keliru yang telah menjadi pembenaran umum, yang dalam bahasa paper ini akan dibahasakan sebagai “Dosa: Kuasa yang diam-diam Menghanyutkan”. Dosa dikenal luas paling tidak dalam tiga terminology. Pertama, ia merupakan pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Disebut pelanggaran oleh karena adanya hukum normative-ilahi yang telah disandangkan kepada Tuhan dan dipercayai sebagai seperangkat aturan moral-etis yang turun dari surga. Kedua, dosa merupakan suatu tindakan melawan ketetapan Tuhan. Sederhananya, sejauh anda tidak menjadi seorang criminal, melancarkan aksi brutal dan anarkis serta tidak kedapatan berlaku tidak sopan kepada seorang wanita di busway maka anda bukan seorang pendosa. Ketiga, dosa sering sekali diasumsikan sebagai hasil dari adanya pengaruh atau godaan dari si jahat. Tidak jarang pelaku yang tertangkap tangan akan berdalih ‘saya khilaf’. Namun demikian, dalil-dalil tersebut tidak dapat dipertahankan kebenarannya.

Pertama, jika dosa merupakan suatu pelanggaran terhadap hukum Tuhan, maka akan berlaku hukum absolute-relative. Artinya ada seperangkat aturan tertentu yang absolute untuk konteks tertentu sekaligus menjadi relative di konteks lainnya. Sehingga kesahihan suatu hukum normative berlaku jika ia mampu menempatkan dirinya absolute. Dalam hal ini pun hukum bisa saja dimandulkan demi pemenuhan kebutuhan konteks mayoritas atau untuk membela kepentingan minoritas. Jelas ini melanggar nilai essensi dari hukum yang tan hana dharma mangurua.

Hukum seharusnya absolute pada dirinya sendiri dan tetap bernilai sama entahkan ia dilanggar atau tidak. Hukum tidak saja efektif pada saat ia dilanggar tetapi juga tetap memiliki supremasi pada dirinya sendiri sekalipun tidak dilanggar. Sehingga hukum dosa tidak saja efektif ketika ada seperangkat aturan yang dilanggar, tetapi ia juga menjadi ‘kuasa potensial’ saat tidak dilanggar oleh karena adanya nilai absolute dari hukum yang berdaulat. Hukum yang memiliki nilai pada dirinya oleh karena ditambahkannya seperangkat nilai tertentu menunjukan bahwa sesungguhnya masih ada hukum lain yang berada di atas dirinya, atau ia sendiri adalah the low law atau the low legal.

Kedua, jika dosa merupakan suatu tindakan melawan ketetapan Tuhan dan menjadi dosa saat ada tindakan aktif untuk melanggar maka akan berlaku logika dosa pasif-aktif. Jika suatu aktivitas barulah disebutkan dosa jika ia dieksekusi dalam tindakan maka ia seharusnya barulah dosa potensial atau dosa pasif. Konsekuensinya adalah ia tidak bisa dikenakan hukum yang sama dengan dosa yang aktif. Namun demikian, Tuhan Yesus berkata: Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Jelas Tuhan Yesus tidak melihat dosa sebagai hanya suatu tindakan aktif, dosa sudah dimulai sejak dari dalam hati. Dalam hal ini, dosa bukan saja suatu tindakan, lebih dalam dari itu dosa bukan saja terjadi dalam aksi kronologis, tetapi dosa sudah dimulai dari kerja logika sebagai pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan.

Logika sebagai pusat dari logia (pengambilan keputusan) bahkan bisa menjadikan hikmat (logos) sebagai sesuatu yang jahat (logismos). Memang Alkitab sering kali menggunakan ungkapan pertimbangan hati, tetapi sesungguhnya itu sedang merujuk pada aktivitas yang bersamaan terjadi (bukan dalam chronological speaking tapi dalam logicaly speaking) antara nalar dan hati nurani. Nalar sebagai fungsi pertimbangan budi dan hati sebagai pusat perenungan pekerti. Dengan demikian, tindakan hanyalah merupakan mekanisme lanjutan dari suatu proses yang terjadi di dalam inti, sama seperti jarum jam yang bergerak oleh karena ia melanjutkan mekanisme yang berasal dari inti. Jika dosa adalah suatu tindakan, maka selalu akan ada cara bagi nalar untuk mengelabui hati nurani untuk membangun suatu prosedur alibi yang umumnya dengan cara berdalih bahwa ia sedang diganggu, dirasuki atau dikuasasi roh jahat.

Ketiga, jika dosa adalah sebagai hasil dari adanya pengaruh atau godaan dari si jahat, maka dalam hal ini akan berlaku prinsip causalis-mediator. Jika suatu aktivitas dosa terjadi oleh karena adanya godaan si jahat, maka ia adalah peng-ada dari kejahatan. Tuntutan kepada penggagas tentu saja lebih besar dan bahkan bisa jadi harus mengambil semua konsekuensi hukumnya oleh karena sifat causalitasnya. Misalnya, seorang anak kecil yang tidak mengerti mengenai bahaya narkoba dan bahkan sama sekali tidak pernah mengenal pil extacy, namun kemudian karena iming-iming dari bandar narkoba ia pun menjadi pseudo-distributor dan apes karena ia tertangkap pada aksi perdananya. Dalam hal ini kejahatan anak tersebut akan diperhitungkan sebagai dosa mediator, yang tentu saja lebih kecil dibandingkan dengan dosa sang Bandar. Sayangnya, jika mengikuti prosedur dari awal paper ini mengenai terminology pertama dan kedua tentang dosa, maka jelas terminology yang ketiga ini pun tidak dapat di pertahankan dan gugur oleh karena alasan-alasan bantahan yang diajukan terhadap terminology pertama dan kedua. Kecuali jika bisa dibuktikan bahwa ada kejahatan atau pelanggaran yang bukan dosa secara essensial.

Jika ketiga terminology di atas telah dipatahkan sebagai pemahaman yang tidak benar mengenai dosa, maka apakah sebenarnya dosa itu? Dari pada hanya dilakukan penelusuran definitive mengenai dosa, paper ini lebih memilih menggunakan pembuktian faktuil mengenai eksistensi dan essensi dan implikasi dari dosa terutama dalam konteks sifat asalinya. Penelusuran ini akan lebih efektif dari pada hanya melakukan study etimologi dari dosa. Penelusuran etimologi memang diperlukan tetapi akan kurang memberikan jawaban terutama untuk konteks yang tidak memiliki keterkaitan atau kesamaan rumpun bahasa secara semantic. Jika tertarik melakukan penelusuran secara semantic dapat dilakukan telaah terhadap istilah Ibrani dan Yunani perihal kata dosa, yaitu kata חַטָּאת dalam PL dan kata ἁμαρτία dalam PB.

Faktanya pertama dari dosa adalah ia secara essential selalu memiliki cara yang jitu menjadikan dirinya center of life. Menarik bukan saja karena aspek tampilan dari dosa seperti yang terjadi mula pertama pada Hawa dimana buah pohon yang dilarang itu menarik secara pesona (baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya – Kej. 3:6), tetapi juga oleh karena menarik secara principle (menarik hati karena memberi pengertian – ay. 6 b). Kedua hal itu ternyata bagi Hawa adalah center of life dan akhirnya Adam pun sama-sama mengakuinya. Pada awalnya, Allah adalah center of life dari Adam dan Hawa. Keduanya menikmati persekutuan yang intim, personal dan unik dalam taman. Penulis kitab kejadian menggunakan ungkapan “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej. 2:25). Inilah relasi asali dalam trilogy Allah, Adam dan Hawa. Relasi yang intim, personal dan unik dalam taman.

Fakta kedua dari dosa adalah ia secara essential telah merampas suara Tuhan sebagai center of being. Dosa tidak saja menarik, tetapi telah membuat manusia mengalami corrupt secara essensi. Seluruh pusat perhatian dan pertimbangannya telah dicondongkan untuk berpihak pada dosa dan segala tawaran setan, sehingga segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej. 6:5). Dari hatinya meluap kejahatan dan kakinya bersegera melakukannya. Mereka menghamilkan bencana dan melahirkan kejahatan, dan tipu daya dikandung hati mereka (Ayub 15:35). Dosa telah menjadi begitu dalam masuk hingga manusia kehilangan sensus devintitas (kepekaan akan suara ilahi). Jika pun masih ada kepekaan, itu pun telah dikuasai ketakutan dan niat menghindar. Inilah yang terjadi dengan Adam dan Hawa yang ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah (Kej 3:8). Seharusnya suara Tuhan adalah suara damai, kasih dan anugerah yang adalah center of being dari manusia, namun dosa telah menyebabkan kerusakan fatal sehingga justru melarikan diri dari kasih karunia Allah.

Fakta ketiga dari dosa adalah ia telah secara essential menawan keseluruhan eksistensi kebutuhan kemanusiaan – center of need. Oleh karena dosa telah menjadi center of life dan center of being dari kemanusiaan maka keseluruhan eksistensi kebutuhan kemanusiaan telah berhasil ia tawan. Seluruh kekuatan ratio, emotio dan afeksio manusia telah dilumpuhkan oleh dosa, hingga segala sesuatu yang dihasilkannya adalah dihasilkan dalam dosa. Agustinus menyimpulkannya dengan istilah non posse non peccare (tidak dapat tidak untuk tidak berbuat dosa). Kelumpuhan ini juga menyerang hingga center of need manusia kehilangan nilai kebaikan baik bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Misalnya, kebutuhan manusia akan self actualization seharusnya sehat pada dirinya sendiri, namun demikian, dapat condong menjadi suatu penyakit psikologis yang menyebabkan seseorang kehilangan pengenalan akan dirinya sendiri sehingga justru menampilkan orang lain melalui dirinya. Gejala ini selanjutnya lebih dikenal dengan istilah the false self actualization syndrome.

Dari ketiga fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia dalam seluruh essensi, eksistensi dan implikasi hidupnya telah diikat kuat oleh dosa yang mengakar, inilah dosa. Beberapa akibatnya adalah dosa menjadi lebih masuk di akal dan mudah dipraktekkan, dosa menjadikan kita merasa tidak layak bahkan sekalipun mendapat pencerahan bahwa kasih karunia Allah bersifat infinitum (tak terbatas), serta pada akhirnya dosa bukan lagi suatu masalah yang serius buat kita. Memunculkan filosofi hidup bahwa tinggal dalam dunia yang edan maka kita pun harus ikut edan, jika tidak edan maka kita tidak akan keduman (kebagian). Tidak heran jika tiada hari tanpa pemberitaan tentang pejabat-pejabat penting yang tertangkap tangan,hingga kasus yang mencengangkan ketika (oknum) ketua MK pun tertangkap tangan dengan sejumlah uang suap. Tidak heran juga jika para aparatur penegak hukum terbukti melanggar hukum secara besar-besaran seperti contoh kasus (oknum) Dirlantas Polri, sehingga tidak usah heran lagi jika ada berita yang berkata bahwa hampir 90 % (oknum) mahasiswa-mahasiswi di kota A telah kumpul kebo sejak tahun kedua kuliahnya, sehingga beberapa tahun lalu para akademisi dihebohkan dengan beredarnya cd dengan judul xxxxxxx-lautan asmara.

Paling tidak ada dua hal yang umumnya dilakukan manusia untuk menolong dirinya keluar dari dosa, yaitu komitmen untuk bertobat dan membangun kesadaran antisipatif akan adanya dosa. Namun demikian, jika dosa telah sedemikian mengakar dalam keseluruhan essensi, eksistensi dan implikasi hidup manusia, maka tidak ada lagi jalan keluar yang dapat menolongnya. Pada akhirnya setiap usaha manusia menolong dirinya telah justru membenamkannya lebih masuk lagi ke dalam jerat dosa. Tidak ada ruang bagi kemanusiaan yang menyebabkannya mampu mengatasi dosa yang telah mengakar kuat ini. Tidak ada kesempatan bagi manusia untuk dapat memperbaiki dirinya, sebab dosa telah secara simultan menyerang aspek terdalam dari kemanusiaan. Bahkan tidak ada cara yang cukup jitu dan efektif membebaskan manusia dari keberdosaan, sehingga Paulus menyimpulkannya dengan berkata: “… semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: