Just another WordPress.com site

ImageMenjadi seorang yang terbelenggu tentu saja tidak pernah ada dalam mimpi pria ini.  Padahal awalnya ia berasal dari keluarga yang religious, pemegang ‘green card’, terpelajar, serta karier yang cemerlang.  Bermula dari  kesadaran bahwa ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu hidup bagi Kristus.  Kini ia terbelenggu, tercabut dari akar kenikmatan dan kenyamanan serta semua yang kita sebut sebagai kebahagiaan hidup.  Anehnya, tak nampak wajah kesedihan, atau pun roman penyesalan bahkan ia pun yakin bahwa mati pun adalah keuntungan.  Para pendengar ajarannya memang ikut berbela rasa, beberapa diantaranya memberikan dukungan dana utamanya doa.  Apakah ia tidak terhibur?  Justru dialah yang memberikan nasehat penghiburan.  Dengan segenap daya yang tersisa dari keletihan menanggung dera hukuman, rasa sakit yang meradang sekujur tubuhnya serta kepahitan hidup yang harus dijalani, ia malah berkata: ‘Gaudete in Domino semper’–Filipi 4:4– (bersukacitalah di dalam Tuhan senantiasa).  Apakah ini sungguh mungkin terjadi dalam konteks kita kini dan sekarang?

Umumnya kita bersukacita pada 3 area hidup ini.  Pertama, low level: sebut saja sukacita imaginative.  Bentuk sukacita kesenangan yang kita bayangkan atau imaginasikan.  Misalnya saat kanak-kanak kita berimajinasi sementara memainkan sepeda baru seolah-olah kita adalah bagian dari petugas polisi bermotor kala itu yang bernama ‘Chips’.  Dari mulut kita terdengar bunyi sirene yang mengaum-aum, menyandang pistol mainan dan bergaya seolah-olah kita adalah polisi ‘chips’ tersebut.  Memang menyenangkan, namun agak menegangkan kalau usia kita sudah di atas 30 tahun tetapi masih betah pada area sukacita ini.

Kedua, medium level: sebut saja sukacita fakultatif.  Sukacita pada level ini adalah bentuk atau hasil dari respon panca indera.  Misalnya saat mengecap makanan tertentu kita dipuaskan oleh karena rasanya yang maknyus.  Sampai-sampai kita menjadi pelanggan tetap yang menikmatinya pada jam-jam yang tetap, pada meja yang sama dan tentu saja yang paling penting menu yang sama.  Tetapi ingat bahwa selera tidak pernah mandeg, kecuali bila kantong mewajibkan kita untuk setia pada menu nasi rames di warteg ‘mpok Ati’.

Ketiga, level yang lebih kompleks: sebut saja sukacita yang determinative.  Sukacita ini adalah hasil dari tercapainya tujuan-tujuan tertentu yang memang selama beberapa waktu ini kita gumuli, pikirkan dan perjuangkan.  Namun demikian, ada pada level ini pun tidak sepenuhnya menyenangkan, oleh karena batas-batas dari tujuan ansihnya adalah tak berhingga, kecuali kita ada dalam kelompok orang-orang yang mudah puas dan berhenti pada shelter awal-awal saja.  Orang-orang seperti ini tentu saja belum pernah menikmati serunya berjam-jam main ps.

Apakah ada diantara 3 level tadi yang mampu memberi jaminan sehingga kita pun bisa berkata sama seperti Paulus: ‘Gaudete in Domino semper’?  rasa-rasanya tidak, sebab ‘Gaudete in Domino semper’ adalah suatu kondisi sukacita yang memenuhi keseluruhan sifat yang paling hakiki dari sukacita sejati, yaitu pertama sifat essential, dimana sukacita itu memenuhi keseluruhan kesadaran kita (ratio, emotio dan afectio); kedua sifat ultimate, ketika sukacita itu menjawab keseluruhan kebutuhan hasrat kita; serta ketiga sifat numena, yaitu saat sukacita itu menggantikan apapun fenomena yang ditawarkan oleh dunia.  Inilah sukacita sejati, yang jangan-jangan selama ini jauh dari pengalaman kristiani kita.

Jadi bagaimana memperolehnya?  Pertama, sadarilah bahwa sukacita sejati adalah hak istimewa dari Allah, yang melaluinya Dia berinisiatif membuka kepada kita relasi dan keseluruhan akses pengenalan akan Diri-Nya.  Saat kita dibawa pada paradigma baru dan benar dalam memehami setiap pesan sukacita yang Ia hadiahkan, bahkan termasuk sebuah kado istimewa yang berbungkus penderitaan dan pergumulan hidup.  Sehingga kita dengan sukacita mengambil bagian dalam keteladan Kristus yang menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya.

Kedua, sadarilah bahwa Sukacita sejati adalah hasil akhir dari pergumulan iman yang serius dengan Allah.  Hanya keseriusan pergumulan yang dapat membawa dampak pada pertumbuhan iman yang signifikan.  Mulai dari serius menggumuli pesan-pesan kebenaran Tuhan (aspek notitia) yang bisa kita terima melalui khotbah, renungan bahan PA dan lain sebagainya, berkanjut pada adanya hasrat untuk memiliki hidup yang diubahkan (aspel acceptia) oleh firman yang telah diterima serta bermuara pada keinginan yang kuat untuk menjadi pelaku firman dan menjadi berkat bagi orang lain (aspek fiducia).  Hanya pertumbuhan iman yang signifikanlah yang menjadi satu-satunya respon yang dapat kita berikan atas anugerah keselamatan yang telah Allah berikan kepada kita.  Pertumbuhan iman yang menjadi pengalaman dari pergumulan iman yang serius dihadapan Tuhan sehingga hidup ini adalah ladang yang efektif untuk kita berteologi, seperti yang digemakan oleh Martin Luther: sola experiential fecit teologium.  Kiranya sukacita sejati (gaudete in Domino semper) dari seorang yang terbelenggu di ruang bawah tanah penjara itu juga menjadi milik kita bersama kini dan disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: