Just another WordPress.com site

By. Arrhenius Petwien Gunde

Kej. 13:1-13

Pengambilan keputusan merupakan bagian integral dari kehidupan. Tiada hari bahkan waktu dimana kita tidak melakukan pengambilan keputusan. Adakalanya pengambilan keputusan menjadi begitu mudah, namun tidak jarang ia menjadi begitu sulit, dilematis dan bahkan butuh pengorbanan. Terkadang kita menjadi puas atas keputusan yang diambil ketika hasilnya bersesuaian dengan perhitungan, namun tidak jarang kita juga menjadi putus asa oleh karena hasil yang berbanding terbalik dengan keinginan. Bahkan mungkin ada diantaranya menjadi penyesalan untuk jangka waktu yang panjang. Ternyata: walaupun setiap hari kita diperhadapkan dan melakukan pengambilan keputusan tidak menyebabkan kita secara otomatis menjadi semakin terlatih menghasilkan keputusan baik.
28 Januari 1986, Challenger Space Shuttle (misi STS-51-L) meledak 73 detik setelah lepas landas yang langsung menyebabkan kematian seluruh awaknya. Setelah diselidiki, rupanya kecelakaan hebat tersebut di picu oleh kegagalan segel O-ring disaat pembakaran roket. Segel O-ring adalah semacam media isolasi kompartement, yang sedianya untuk setiap isolasi kompartement terdapat 3 lapis Segel O-ring. Namun rupanya oleh karena efisiensi dana maka yang terpasang hanya 2 Segel O-ring. Beberapa ahli berpendapat bahwa 2 Segel O-ring sebenarnya masih sanggup untuk menahan tekanan gas panas dari pengapian roket asalkan suhu udara di luar tidak lebih rendah dari 12° C. Namun, di hari itu, oleh karena tekanan politik, pihak NASA sepakat meluncurkan roket saat suhu udara menunjukan angka -1° C.
Carl Spetzler, director of the Strategic Decision and Risk Management program at Stanford University and CEO of the Strategic Decisions Group, menulis tentang 6 elemen untuk sebuah good decision:
1. Frame/sudut pandang yang benar
2. Kejelasan tentang kebutuhan
3. Menciptakan pilihan-pilihan yang kreatif
4. Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, termasuk informasi yang tidak pasti
5. Penalaran yang meliputi apa yang diketahui dan tidak diketahui dari resiko
6. Komitmen untuk mewujudkan
Tentu saja 6 element ini telah menolong begitu banyak direktur dan manager ketika perusahaan mereka diambang kebangkrutan. Menolong begitu banyak orang ketika mengalami masalah pribadi. Menolong mereka yang sedang berkompetisi. Namun demikian, pertanyaannya disini adalah apakah setiap good decision secara otomatis adalah keputusan Allah? Bukankah sering sekali saat kita mengambil keputusan adalah saat dimana kita sesungguhnya sedang fokus pada apa yang mungkin, apa yang menarik, dan apa yang menguntungkan bagi diri kita sendiri?
Narator secara unik meletakkan kisah perpisahan Abraham dan Lot setelah good decision dari Abraham untuk memenuhi panggilan Allah, dimana Lot pun ada dalam respons yang sama. Berkali-kali narator menggunakan kata: ‘Lot pun ikut bersama-sama dengan Abraham”. Melalui ungkapan ini narator sedang berkata bahwa Lot bukan saja menjadi satu tim petualang berjalan bersama mengikuti Abraham tetapi sesunguhnya Lot telah mengambil keputusan untuk berasosiasi dengan Abraham. Berasosiasi dengan Abraham untuk menerima panggilan Allah dan masuk dalam perjalanan iman menuju negeri yang akan ditunjuk sendiri oleh Allah. Berasosisasi untuk meninggalkan dunia, sistem dan value lama menuju sebuah tatanan baru dimana perintah Allah adalah penggeraknya. Rupanya keputusan untuk memberi respon positif atas panggilan Allah, haruslah disertai dengan keputusan untuk menjalani panggilan itu dengan perilaku yang bersesuaian dengan panggilan. Keputusan untuk menjadi pengikut Kristus seharusnya adalah termasuk keputusan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Keputusan untuk menjadi pelayan Kristus seharusnya direalisasikan juga dalam keputusan untuk menjadi hamba yang sepenuhnya dikendalikan oleh Kristus.
Dari kisah tentang Abraham dan Lot ini beberapa point yang penting, pertama: good decision seharusnya dihasilkan dalam kepekaan. Lot hanya berasosiasi, ia tidak belajar untuk peka. Peka terhadap signal-signal dari Allah. Abraham belajar dari apa yang terjadi di Mesir, ia belajar untuk bergantung pada Tuhan dan bukan pada fenomena yang terlihat. Saat itu memang Abraham mengalami rasa takut akan dibunuh oleh orang Mesir oleh karena kecantikan istrinya, tetapi setelah itu ia belajar untuk bergantung pada Tuhan dan bukan pada fenomena yang terlihat (walaupun memang kejadian seperti ini nantinya kembali berulang pada pasal 20). Lot didesak oleh kebutuhannya, sehingga tatkala Abraham memberikan pilihan: ‘… jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan; jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri’, Lot pun menjatuhkan pilihannya pada apa yang mungkin, apa yang menarik, dan apa yang menguntungkan baginya tanpa mempedulikan realita bahwa orang Sodom adalah komunitas yang sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Sama seperti Lot, terkadang kita menghasilkan keputusan hanya berdasarkan pada apa yang mungkin, apa yang menarik, dan apa yang menguntungkan bagi kita.
Good decision dihasilkan dalam kepekaan. Kepekaan terhadap 5 hukum utama kehidupan: pertama hukum kewajaran hidup, kedua hukum hati nurani, ketiga hukum kedewasaan, keempat hukum kesehatan jiwa, dan kelima hukum Allah. Hal ini menjadi sulit oleh karena sering sekali kita menghasilkan keputusan dalam kebiasaan (apa yang biasa dilakukan), keterdesakaan (spontanitas), dan keinginan (fokus pada diri sendiri). Tanpa sadar kita telah mengabaikan potensi dan anugerah yang sesunguhnya telah Tuhan tanamkan dalam diri kita saat kita memberi respons ya atas panggilan Tuhan. Hal utama yang dikehendaki Tuhan dalam diri kita saat membuat keputusan adalah konsistensi pada nilai kebenaran. Martin Luther King, Jr pernah berkata: kewajiban saya adalah melakukan hal yang benar. Sisanya ada di tangan Tuhan.
Tuhan telah menciptakan kita dengan kemampuan yang hampir tak terbatas namun, seringkali Tuhan menjadi kecewa oleh karena 2 hal: pertama, kita memutuskan tidak melakukan apa-apa oleh karena resiko yang kita hindari dan kedua, kita memutuskan melakukan segala sesuatu tanpa bertanya pada Tuhan: apa yang harus saya lakukan? Inilah jebakan kehidupan, namun percayalah bahwa Sang empunya dan pemberi kehidupan ada bersama kita. Seorang kaya, dalam perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus (Luk. 12:19-20), memberi keputusan bagi jiwanya: ‘…jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Disaat yang sama Tuhan pun mengeluarkan keputusan: ‘Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu …’. Ingatlah: good decision hanya dihasilkan dalam kepekaan. Buatlah keputusan yang besar, hebat dan jadilah visioner seolah-olah hidupmu akan sangat panjang, namun tetaplah peka dengan suara Tuhan seolah-olah malam ini adalah hari terakhirmu. Mulailah membuat keputusan bukan berdasarkan fenomena yang anda lihat, tetapi pada kepekaan terhadap potensi dan anugerah yang telah Tuhan beri bagi anda.
Point kedua yang saya pelajari dari kisah tentang Abraham dan Lot adalah good decision seharusnya menghasilkan pertumbuhan. Musa menuliskan narasi tentang pengambilan keputusan Abraham dengan cara yang unik yang justru memperlihatkan pertumbuhan imannya. Awalnya, kisah tentang good decision dari Abraham ditempatkan setelah keputusan yang salah dari Abraham oleh karena rasa takut akan nyawanya apabila orang Mesir mengingini Sarai, uniknya, setelah itu semua, Abraham memimpin 318 hamba-hambanya berperang melawan raja Kedorlaomer bersama 4 raja sekutunya, untuk menyelamatkan Lot. Jika pada awal kisah Abraham adalah seorang pria yang tidak berani berkorban bahkan untuk komitmen seorang suami kepada istrinya, namun demikian, setelah itu ia menjadi seorang paman heroik bagi keponakan yang telah meninggalkannya.
Bagaimana dengan kita? Bukankah melalui karya-Nya, Kristus telah memberi kita kuasa dan membekali kita dengan segala macam sarana pertumbuhan, sehingga dalam setiap keputusan yang kita buat seharusnya memperlihatkan konsistensi kita berdiri di atas kebenaran-Nya dalam sebuah keyakinan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang mampu menggeser kita? Bukankah seharusnya setiap keputusan kita adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak Allah yang keinginan-Nya bagi kita hanya 1, yaitu bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus? Saya pribadi mengalami kesulitan untuk menjawab ya. Tidak hanya itu, terkadang saya membangun sistem self-mechanism dengan segala macam rasionalisasi dan pembenaran diri atas setiap keputusan sang keliru, seolah-olah Allah adalah pihak yang bertanggung jawab. Kehidupan adalah sebuah perjuangan, dimana didalamnya kita masing-masing berjuang untuk bertumbuh.
Ingatlah: Tuhan tidak pernah menempatkan seseorang di tempat yang terlalu kecil untuk bertumbuh. Setiap keputusan yang kita buat bukan hanya soal analisa data, situasi atau kepentingan, tetapi soal perjuangan kita untuk bertumbuh. Pdt Yakub Susabda dalam khotbah wisuda di kampus STTRII yang bertema: God’s will, my will menjadi inspirasi bagi saya dan kemudian saya parafrasekan sebagai berikut: memahami God;s will dan mengintegrasikannya dengan my will adalah pekerjaan berat yang tidak akan pernah selesai, namun dari situlah tercermin pertumbuhan dari orang percaya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk membuat keputusan dalam segala kepekaan dan memberi kepastian bahwa kita sedang terus bertumbuh, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: