Just another WordPress.com site

By. C. J Mahaney

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah isu yang beredar, menyatakan bahwa seorang musisi rock besar sudah “lahir baru” (born again). Dapat diperkirakan bahwa reaksi dari komunitas Kristen sangat antusias. Tapi begitu dia menyadari menyebarnya isu itu, sang musisi langsung memutus isu yang beredar: “Belakangan ada kabar yang menyatakan bahwa saya sudah lahir baru. Itu tidak benar. Apa yang saya katakan adalah bahwa saya kembali terikat dengan pornografi (porn again).”

Satu huruf dapat membuat perbedaan yang cukup besar.

Saya cenderung skeptis ketika saya mendengar figur publik itu sudah lahir baru. Bahkan walaupun orang itu memang menyatakan diri bahwa ia berkomitmen untuk mengikut Kristus, gaya hidupnya jarang merefleksikan keseriusan untuk berubah. Bahkan seringkali tidak ada bukti pertobatan. Tidak ada keterlibatan di dalam gereja lokal. Sebagai masyarakat awam, Joe Six-Pack mengobservasi ketidak-sesuaian ini, dia secara tidak tepat dapat saja menyimpulkan bahwa inilah arti dari lahir baru.

Renungkan 1 Petrus 2:2-3. Apa itu “susu” yang disebut di sini? Mengapa susu murni itu penting untuk pertumbuhan spiritual?

Charles Colson adalah suatu pengecualian. Sebagai seorang mantan pengacara dan tim bantuan presiden dalam masa pemerintahan Nixon, Colson dijebloskan ke dalam penjara karena keterlibatannya di dalam skandal Watergate. Dalam jangka waktu itu, walaupun terkesan mencurigakan, dia menyatakan bahwa dirinya sudah menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Namun hal ini bukanlah suatu usaha dalam rangka mengurangi hukumannya. Pertobatan Colson adalah suatu hal yang murni, seperti yang dibuktikan dalam gaya hidup barunya. Bukunya, Born Again memberikan bukti yang kuat akan perjumpaan pribadinya dengan Injil.

Walaupun istilah “lahir baru” sering digunakan dalam budaya masa kini, makna (implikasi teologisnya) sudah mulai menyimpang. Misalnya, ketika seorang mantan petinju kelas berat George Foreman kembali bertanding, para komentator olahraga menyatakan bahwa karirnya sedang “lahir baru.” Seorang politisi yang pernah tenggelam kemudian kembali menjadi popular terkadang sering disebut sedang dalam kondisi lahir baru. Dan banyak orang mempersepsikan kelompok lahir baru sebagai kelompok hiperakfif yang berada di dalam gereja, tanpa menyadari bahwa kelahiran baru adalah suatu persyaratan utama sebelum menjadi bagian dari gereja!

Bahkan seorang Kristen yang dewasa dapat gagal memahami istilah penting ini. Namun apabila kita berharap untuk berubah seperti apa yang dikehendaki oleh Allah, kita harus memulai dari suatu pemahaman dan mengalami proses regenerasi- kelahiran baru. Inilah saat dimana seluruh proses penyucian itu dimulai.

“Menjadi seorang Kristen bukan berarti membuat lembaran baru di dalam hidup, melainkan menerima kehidupan baru untuk dijalani.[1]-Thomas Adams

Didikan Seorang Farisi
Istilah “lahir baru” tidak berasal dari jaman Presiden Jimmy Carter. Istilah itu berasal dari Yesus Kristus. Mari menyelidiki di mana Dia mmperkenalkan istilah itu dan bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan olehNya seiring dengan usaha kita untuk menyelidiki kitab Yohanes Pasal 3.

Nikodemus adalah seorang Farisi dan anggota dari komite tinggi masyarakat Yahudi yang disebut Sanhedrin. Dia sangat dihormati di Yerusalem sebagai seorang theologian dan seorang pengajar hukum. Dalam kerangka kedudukan dan martabat yang dimiliki olehnya, sangat mengejutkan bahwa Nikodemus mau mengunjungi Yesus secara pribadi. Lagipula, Yesus tidak mengalami pelatihan formal yang sangat dijunjung tinggi oleh Nikodemus dan teman-temannya. Lagipula, guru yang sederhana ini baru saja menciptakan kehebohan di Bait Suci dan memberikan pernyataan bahwa dia mempunyai otoritas yang unik dari Allah (Yoh 2:13-22). Tapi Nikodemus tergugah oleh pengajaran Yesus, dan dia tidak bisa menyangkal mujizat-mujizat yang telah terjadi. Jadi, dengan kerendahan hati, pengajar religius yang terkemuka ini menyebut seorang tukang kayu yang tidak berpendidikan dari Galilea:

Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yoh 3:2)
Satu hal yang bisa dikatakan tentang orang Farisi – bahwa mereka mengetahui pentingnya etiket. Dengan menyebut Yesus dengan “Rabi”, Nikodemus sedang mengekspresikan penghormatan pada status Yesus sebagai seorang guru, sekaligus menampilkan keinginan untuk belajar. Namun, pernyataan yang disampaikan olehnya setelah itu adalah suatu hal yang akan segera disesali olehnya: “Guru, kami tahu….”

Bukan cara yang direkomendasikan untuk memulai percakapan dengan Anak Allah.

Yesus bisa saja mengkonfrontasi Nikodemus karena sikap arogannya dan segera mengakhiri percakapan yang ada. Sebaliknya, Ia memilih untuk menolong Nikodemus untuk melihat betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki olehnya. Metode yang digunakan oleh Yesus?

“Kita jarang menganggap pengajaran ini [bahwa manusia tidak bisa masuk ke dalam kerqajaan Allah] dengan serius, mungkin karena hal ini memangkas akar kecenderungan kita untuk menganggap diri kita maha mampu. Hal ini menekankan pengajaran Alkitabiah yang menyatakan bahwa keselamatan kita adalah semata-mata karena anugerah Allah. Satu hal yang dibutuhkan di sini adalah hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa melakukannya![2]-Sinclair Ferguson

“Aku berkata kepadamu,” Kata Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (ayat 3).

Pernyataan yang disampaikan oleh Tuhan Allah membingungkan Nikodemus. “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” tanyanya. “Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Nikodemus tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Yesus, dan dia juga tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya dialah yang memberi jawaban, bukan mencari-cari jawaban. Bahka ia mungkin saja ada di dalam Bait Suci waktu Yesus yang berumur 12 tahun datang dan membuat takjub para pemuka agama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehNya. Namun Yesus sekarang bukan lagi seorang bocah.
“Aku berkata kepadamu,” Lanjut Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah… Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (ayat 5,7).

Namun Nikodemus memang terkejut. Bahkan pada kenyataannya, ia merasa terguncang. “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” tanyanya. Pada titik ini Nikodemus membutuhkan dua Tylenol. Ditambah dengan perasaan dipermalukan, terutama ketika Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?? “ (ayat 11-12)
Sangat mudah untuk memandang rendah Nikodemus, namun mari kita menguji diri kita sendiri: Apakah kita memahami apa yang Yesus maksud dengan ‘dilahirkan kembali’? apakah kita terkejut mendengar pernyataan Yesus? Kecuali jika kita sudah pernah mencapai titik dimana, seperti Nikodemus, kita bertanya “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”, kecil kemungkinan bagi kita untuk memahami misteri dan keajaiban dari regenerasi.

“Kelahiran baru bukan hanya suatu misteri yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun, namun hal itu juga adalah suatu mujizat yang tidak satu orangpun dapat melakukannya.”[3]—Richard Baxter

Tidak Ada Yang Bisa Dikontribusikan

Yang Yesus sengaja hilangkan adalah semua sugesti yang menyatakan bahwa Nikodemus secara pribadi bertanggung jawab dalam proses kelahiran kembali. Malahan, Ia menyatakan hal yang sebaliknya:

“Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yohanes 3:6).

Tidak sulit untuk memahami mengapa Nikodemus menganggap pernyataan Kristus cenderung membingungkan. Karena orang Farisi cenderung salah sangka dan salah menginterpretasikan Firman, mereka cenderung untuk berusaha membangun kebenaran mereka sendiri dihadapan Allah. Nikodemus dapat menganggap bahwa kelahiran baru (apapun itu maksudnya) melibatkan beberapa usaha atau kontribusi dari pihaknya. Kebanyakan dari kita juga mungkin berpikiran yang sama. Dan hal itulah yang ditantang oleh Yesus.

“Kamu harus dilahirkan kembali” bukanlah suatu perintah untuk percaya kepada Kristus; itu adalah pernyataan yang mengklarifikasikan apa yang harus Ia lakukan di dalam kita. “Regenerasi adalah suatu perubahan yang dibawa oleh Allah ke dalam diri kita.” Tulis C. Samuel Storms, “bukanlah suatu tindakan otomatis yang dihasilkan di dalam diri kita oleh usaha kita sendiri.”

Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan implikasi yang mengejutkan dari perkataan Kristus:

■ Walaupun hal ini sangat penting bagi kehidupan kekristenan, regenerasi tidak bisa dijangkau dengan usaha manusia.[4]

■ Allah adalah satu-satunya pemrakarsa dari kelahiran baru; hal ini bukanlah tindakan kooperatif antara dua pihak.

■ Regenerasi adalah suatu pengalaman yang harus kita alami, namun hanya bisa disediakan oleh Allah.

Bukan karena Nikodemus kurang cerdas sehingga ia menemukan pernyataan Tuhan sangat membingungkan; melainkan karena hal itu membutuhkan perubahan cara pandang (paradigma) di dalam pikirannya. Hal yang dinyatakan oleh Tuhan memberikan pencerahan betapa tidak berdayanya dan sangat bergantungnya ia pada belas kasih Allah.

Sebelum kita melanjutkan, biarkan saya mengklarifikasi satu hal. Saya bukannya meminimalisir pentingnya pertobatan dan iman. Hal-hal ini harus mencirikan respon kita terhadap regenerasi, dan hal-hal tersebut sangat penting dalam proses perubahan dan kelanjutan dari proses penyucian kita. Namun dari pandangan saya, hal-hal tersebut adalah hasil dari kelahiran baru, bukan hal yang menjadi penyebab kelahiran baru. Teologis A.A Hodge mengingatkan kita untuk terus mempertahankan pandangan Alkitabiah: “apapun yang manusia lakukan setelah regenerasi, kebangkitan dari kematian harus dimulai dari Allah.”[5]
Pertimbangkan hal ini baik-baik. Sadari bahwa transformasi radikal itu dibutuhkan, dan betapa tak berdayanya kita untuk menghasilkan hal itu. Regenerasi adalah karya Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh J.I Packer, “Hal itu bukanlah suatu perubahan yang dapat diciptakan oleh manusia, sebagaimana halnya seorang bayi tidak bisa berkontribusi dalam proses pembuahan dan kelahirannya.” [7] Kita tidak lahir dari “keinginan seorang laki-laki… melainkan dari Allah” tulis Yohanes (Yohanes 1:13).

Suatu sifat dasar yang mengandung kebenaran sudah diimpartasikan, yang di dalamnya Allah adalah satu-satunya pengarang utama. Sebagai tambahan, kita mendapat kepastian bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6). Ini adalah suatu hal yang menggembirakan!
Kita tidak perlu lagi khawatir apakah kehendak pribadi dan disiplin diri kita pribadi sudah cukup. Hal itu tidak cukup. Diubahkan menjadi gambar Allah bukanlah semata-mata tergantung pada kemampuan kita. Namun, kita bisa yakin akan pertumbuhan rohani kita karena Allah-lah yang akan bekerja di dalamnya. Ia telah meletakkan suatu kecenderungan baru di dalam kita, suatu hasrat untuk mengejar kebenaran. “Hal ini.” Menurut J. Rodman Williams, “adalah mukjizat terbesar yang pernah dialami oleh seseorang.”[8]

“Suatu malam, ketika saya sedang duduk di dalam rumah Allah, saya tidak begitu menaruh perhatian pada kotbah yang disampaikan, karena saya tidak mempercayai apa yang sedang disampaikan. Tiba-tiba suatu pemikiran mendatangi saya, ‘Bagaimana kamu menjadi seorang Kristen?’ Saya mencari Allah. ‘Tapi bagaimana kamu bisa memutuskan untuk mencari Allah?’ Suatu kebenaran tersirat di dalam pikiran saya sesaat – Saya tidak mungkin mencari Allah kecuali ada suatu hal yang mempengaruhi pemikiran saya yang membuat saya memutuskan untuk mencari Allah. Saya berdoa, piker saya, namun kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, Bagaimana saya bisa memutuskan untuk berdoa? Saya berdoa karena telah dipengaruhi oleh Kitab Suci ketika saya membacanya. Bagaimana saya bisa membaca Kitab Suci? Saya memang membacanya, tapi apa yang menuntun saya untuk membacanya?. Lalu dalam waktu yang singkat, saya menyadari bahwa Allah ada dibalik semuanya itu, dan bahwa Ia adalah pencipta dari iman saya. Lalu seluruh doktrin dari anugerah dibukakan bagi saya, dan saya tidak pernah beranjak dari doktrin tersebut sampai saat ini., dan saya berkeinginan untuk menjadikan hal ini kesaksian tetap saya, ‘Saya menyatakan bahwa Allah adalah penyebab utama perubahan diri saya.’[6]
—Charles H. Spurgeon

Datanglah Hidup yang Baru
Apa yang terjadi ketika kita mengalami kelahiran baru?

J.I Packer menyatakan bahwa kata regenerasi “menandakan permulaan baru di dalam hidup.. hal itu menampilkan renovasi kreatif yang dibuat dengan kuasa Allah.”[9] Ketika Allah meregenerasi Anda, Ia memanggil Anda untuk menjadi suatu hal yang belum pernah ada sebelumnya. Alkitab menggambarkan hal ini sebagai dengan cara: “Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2 Korintus 4:6). Kesejajaran di sini yang kita liat antara regenerasi kita dan proses penciptaan adalah suatu hal yang disengaja. Regenerasi kita juga merupakan suatu tindakan kreatif Allah. Allah yang sama yang menyatakan, “Jadilah terang”, berbicara pada kita suatu waktu dan berkata, “Datanglah hidup yang baru.” Dan memang hidup itu sungguh nyata adanya.
Kelahiran baru juga bisa dilihat sebagai suatu kebangkitan. Walaupun kita sudah mati di dalam dosa dan tidak mampu untuk mengubah kondisi ini, sekarang kita sudah dibangkitkan oleh Allah dengan karya regenerasi dari Roh Kudus. Teolog R.C Sproul menjelaskan hal ini dengan lebih terperinci:

Roh memperbaharui hati manusia, membangkitkan hati kita dari kematian spiritual. Orang-orang yang sudah mengalami regenerasi adalah ciptaan-ciptaan baru. Dimana sebelumnya mereka tidak mempunyai kecenderungan, keinginan, atau hasrat untuk hal-hal yang berkaitan dengan Allah, kini mereka memiliki kecenderungan hati kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan hasrat akan DiriNya sendiri di dalam hati manusia, yang tidak mungkin terjadi kecuali melalui proses ini.[10]

“Orang mati tidak bisa campur tanan dalam proses kebangkitan dirinya,” menurut W.G.T. Shedd.[11] Jikalau bukan karena karya anugerah Roh Kudus, yang memberikan kepada kita kehidupan yang baru beserta segala kecenderungan dan keinginan untuk menyenangkan, melayani, mematuhi, dan memuliakan Allah, kita masih mati secara spiritual dan bertindak kejam kepada Allah.

Regenerasi berbeda dengan sisi-sisi lain di dalam keselamatan kita. Contohnya, jika pembenaran mengubah status legal kita di mata Allah (di sini kita dinyatakan sebagai orang yang benar, bukan orang yang bersalah), regenerasi mengubah kecenderungan dasar kita. Perubahan internal ini sangat radikal dan ekstensif sehingga kita disebut sebagai ciptaan-ciptaan baru. Gambar Allah yang rusak ketika kejatuhan Adam dan Hawa, kini kembali dipulihkan lewat kelahiran baru dan secara progresif diperbaharui lewat penyucian. Namun, berbeda dengan penyucian, regenerasi bukanlah suatu proses. Hal ini tidak terjadi secara bertahap dan lewat derajat-derajat tertentu. Hal ini adalah kuasa dan karya instan Allah di dalam hidup kita.
Jangan salah paham akan apa yang baru saja saya katakan. Tidak semua orang mengalami regenerasi dengan cara yang dramatis seperti yang dialami oleh Paulus. Ia adalah seseorang yang dibutakan secara supernatural selama tiga hari dan mendengar suara yang langsung dari surga. Namun Paulus bukanlah satu-satunya orang yang lahir baru di dalam Kisah Para Rasul. Ketika Lidia mendengar Injil saat dia sedang mengikuti persekutuan doa wanita, “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis 16:14). Inilah perbedaannya. Mata Paulus dibutakan sementara, dan hati Lidia secara diam-diam dibukakan oleh Allah. Pengalaman yang berbeda, namun hasil yang dihasilkan sama persis adanya.

Terkadang kita tergoda untuk mengukur sejauh mana kebenaran suatu pertobatan berdasarkan kejadian-kejadian yang mengiringi pertobatan itu. Semua orang sangat menyukai pengalaman pertobatan dari seorang pemimpin gerombolan orang jahat atau pengedar narkoba yang hidupnya diubahkan secara dramatis. Namun misalnya anda adalah Lidia. Anda sedang mengendarai mobil anda suatu hari, mendengarkan rekaman kaset yang dipinjamkan orang lain, lalu dengan tanpa disaksikan oleh siapapun, Allah dengan lembut membuka hati anda. Anda tidak mendengar suara apapun, dan mobil anda tidak terpelanting di jalan. Tidak ada hal yang dramatis. Namun begitu anda sampai di tempat kerja anda, anda mengetahui, meskipun anda tidak menjabarkannya dengan kata-kata, bahwa suatu hal yang signifikan telah terjadi. Anda berbeda. Anda sudah dilahirkan kembali.

“Regenerasi adalah suatu perubahaan yang dapat diketahui dan dirasakan: dapat diketahui dari dampak kekudusan dan dapat dirasakan lewat pengalaman yang penuh anugerah.”[12]—Charles H. Spurgeon

Saya mendapat kehormatan untuk dapat mengunjungi tempat di Inggris dimana John Wesley dilahirkan kembali. Pertimbangkan pernyataan sederhana yang ia katakan pada saat itu: “Saya merasakan kehangatan di dalam hati saya secara misterius.” Nyaris tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa pengalaman itu adalah suatu pengalaman yang menguncangkan, namun kebenaran dan pengaruh dari regenerasi John Wesley tidak bisa disangkal.
Baik itu secara diam-diam maupun dramatis, setiap kelahiran baru memiliki kesamaan dalam hal ini: kelahiran baru secara eksklusif dan sepenuhnya merupakan karya Allah. Alur cerita dan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya mungkin saja unik. Namun intinya tetaplah sama. Kita adalah ciptaan-ciptaan baru. Yang lama telah berlalu, yang baru telah datang.

Keputusan yang Sia-Sia
Kita menemukan Yohanes memuat pernyataan-pernyataan penting yang terkait dengan regenerasi tidak hanya di dalam kitab yang ditulis olehnya sendiri. Mari kita mengakhiri dengan memperhatikan pernyataan ini: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yoh 3:9).

Apakah anda pernah membaca ayat ini dan merasa bingung? Ayat ini tidak memiliki maksud seperti apa yang ditulis di dalamnya .. bukan? Hanya segelintir orang yang bisa bertahan satu atau dua jam tanpa berbuat dosa dalam satu atau lain hal. Mungkin maksud sebenarnya dari ayat ini salah diterjemahkan. Atau di lain pihak, kita kawatir, Bagaimana kalau itu benar? Sepertinya itu bukan seperti pengalaman saya… apa ini artinya saya belum “dilahirkan kembali”?

Yohanes tidak bermaksud menyatakan bahwa orang Kristen yang benar tidak mungkin lagi berbuat dosa. Hal ini dapat dibuktikan dari pasal pertama dari kitab ini, dimana ia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1:8). Tidak—dosa masih hadir di tengah keberadaan kita, dan walaupun dominasi dosa di dalam kehidupan kita sudah dihancurkan, kita masih bisa rentan terhadap pengaruhnya setiap saat. Namun ketika Yohanes menyatakan bahwa mereka yang dilahirkan dari Allah “tidak dapat berbuat dosa.” Yohanes mau menunjukkan bahwa regenerasi membuat kita tidak mampu terus menerus berbuat dosa.

Maksud Yohanes dalam pasal ini, menurut Anthony Hoekema adalah bahwa orang Kristen “tidak terus melakukan dan menikmati perbuatan dosa… Orang tersebut tidak bisa terus menikmati saat-saat dimana ia melakukan perbuatan yang berdosa, dan tidak mampu untuk terus hidup dalam kubangan dosa.” [13] John R.W Stott merangkum hal ini dengan cara yang sederhana: “orang percaya mungkin jatuh di dalam dosa, namun ia tidak akan berjalan di dalam dosa.”

Apakah anda melihat adanya perbedaan di antara keduanya?

Regenerasi timbul pertama kali di dalam area utama di dalam hidup manusia. katakan, hati atau roh-nya. Pada tingkatan terdalam di dalam keberadaan manusia, ada suatu perubahaan yang sungguh-sungguh.”[14]
—J. Rodman Williams

Misalkan saya bertindak bodoh untuk menguji pernyataan Yohanes dengan membuat keputusan pribadi: “dalam jangka waktu 6 bulan ke depan saya akan menampilkan gaya hidup yang penuh dosa.” Hal ini jelas bukan sesuatu yang saya inginkan atau rekomendasikan. Namun, saya juga tidak percaya kalau saya bisa menjalankan keputusan seperti itu. Mengapa? Karena saya sudah dilahirkan dari Allah. Sekarang saya mempunyai hati yang baru, hidup yang baru, dan kecenderungan baru untuk mengejar kebenaran dan menyenangkan hati Allah. Walaupun saya masih melakukan dosa, namun karena kuasa ini, saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengabdikan diri saya pada dosa dan terus melakukan perbuatan berdosa. Saya tidak akan mampu menikmati gaya hidup yang penuh dosa. Hanya tindakan ilahi yang mampu melakukan hal seperti ini.
Kita tidak akan merasa putus asa atau rentan di dalam perjuangan harian kita dengan dosa. Kita tidak ditakdirkan untuk terus berjalan dalam ketidaktaatan dan kekalahan. Allah secara internal, supernatural, dan mendasar telah mengubah kita. Sekarang kita memiliki hasrat dan kemampuan untuk menyenangkan hatiNya sepanjang hidup kita. Dengan didorong dan dibawah kuasa anugerah Allah, kita dapat memperolah perubahan yang progresif sepanjang hayat kita.

Inilah awal dari proses penyucian—di dalam perasaan aman dan keyakinan bahwa kita telah dilahirkan kembali, bukan oleh usaha pribadi kita namun oleh kuasa dan kehendak dari Allah.

Diskusi Kelompok
1. Kata-kata apa saja yang mungkin digunakan oleh non Kristen untuk menggambarkan orang Kristen yang “lahir baru” pada umumnya?

2. Apa penyebab yang paling mungkin mengapa pertobatan kalangan selebriti cenderung palsu?

3. Thomas Adams menulis, “Lenyapkan misteri dari kelahiran baru dan anda telah melenyapkan keagungannya.”[15] Apa yang membuat regenerasi begitu misterius?

4. Apakah sulit bagi anda untuk percaya bahwa hanya Allah saja yang bertanggung jawab terhadap kelahiran baru anda?

5. Jika Lidia dan Paulus mewakili dua kutub ekstrim dari pengalaman kelahiran baru, dimana posisi anda?

6. Diskusikan gambaran waktu yang anda buat. Apakah ada pertanyaan mengenai tahapan keselamatan?

7. Baca Ibrani 12:2. Bagaimana “jaminan tanpa syarat” ini mempengaruhi pendapat anda mengenai pengudusan?

8. Apakah bagian ini memicu pribadi anda untuk memiliki pandangan berbeda mengenai kelahiran baru?

Bacaan yang Direkomendasikan
The Christian Life by Sinclair Ferguson (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989)

God’s Words by J.I. Packer (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981)

Referensi
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide (Orlando, FL: Ligonier Ministries, Inc., 1988), Chapter I, p. 14.
↑ Sinclair Ferguson, The Christian Life (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 55.
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 20
↑ C. Samuel Storms, Chosen for Life (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987), p. 108.
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.
↑ Charles Spurgeon, Autobiography, 1 (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1962), pp. 164-65.
↑ J.I. Packer, God’s Words (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 151.
↑ J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II: Salvation, The Holy Spirit, and Christian Living (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1990), p. 37.
↑ J.I. Packer, God’s Words, pp. 148-149.
↑ R.C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Wheaton, IL: Tyndale House, 1992), pp. 171-172.
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 17.
↑ Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), p. 100.
↑ J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II, p. 50.
↑ Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 16.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: