Just another WordPress.com site

By. E Bradley Beevers

Baru-baru ini saya menonton salah satu film Disney, Aladin. Sebagai penonton yang baik, saya berada pada posisi sang pahlawan. Sehingga setelah film tersebut selesai, saya terus berpikir tentang film itu, dan bertanya pada diri saya sendiri: Apa ya yang akan saya minta apabila Tuhan memberi saya 3 permintaan? Tiba-tiba saja cerita tentang mimpi Raja Salomo menyelinap dibenak saya. Tuhan memberikan Raja Salomo permintaan, apa saja yang yang dimintanya akan dikabulkan, dan Salomo meminta hikmat untuk memerintah Israel. Apakah saya juga akan meminta hikmat jika diberi kesempatan untuk meminta? Tetapi, saya pikir, saya tidak mempunyai kewajiban untuk memerintah Israel seperti Salomo. Mungkin saya akan meminta kehidupan kudus. Kemudian saya menghilangkan pikiran tersebut dari benak saya.

Tetapi kemudian, pikiran tentang ‘permintaan’ tersebut kembali datang di benak saya. Saya sudah memikirkan apa yang akan saya minta. Permintaan saya tersebut adalah: Saya ingin agar saya dapat menarik kembali ucapan yang sudah keluar dari mulut saya; misalnya komentar yang tidak saya pikirkan terlebih dahulu, kecerobohan yang tidak saya sengaja, tetapi berdosa, tidak ada kebaikan hati – dan bahkan, perkataaan bodoh. Apabila anda mempunyai sebuah kupon permintaan setiap petang, berapa kali anda akan berharap ‘untuk membatalkan’ kata-kata anda yang sudah terlanjur keluar dari mulut anda. Anda mempunyai banyak waktu untuk memanfaatkan kupon seperti itu. Misalnya anda mencoba ngobrol tentang hal-hal kecil, tetapi merupakan guyonan (kelakar) yang bodoh, atau memberi komentar yang menyinggung perasaan orang yang anda ajak bicara. Anda gugup sehingga anda mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat, atau meracau. Dengan hal-hal seperti itu anda menyakiti orang secara tajam dimana-mana, dirumah, dengan teman sekamar, dengan pasangan atau anak-anak anda. Biasanya setelah melakukan kesalahan anda akan berusaha menjelaskan, tetapi semakin banyak anda bicara semakin buruk keadaannya. Dan daftar perkataan itu akan semakin panjang. Sungguh benar apa yang tertulis dalam Yakobus 3:2 “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya”

Alkitab memberikan peringatan kepada kita untuk memikirkan bahasa kita secara serius. Perang untuk mengendalikan lidah adalah peperangan yang terjadi dalam kehidupan Kristen. Tuhan Yesus pernah menggambarkan hari akhir sebagai waktu bagi manusia untuk mempertanggungjawabkan “setiap kata-kata sembrono yang pernah mereka ucapkan” (Matius 12:36) Dia berkata bahwa penggunaan bahasa kita menunjukkan perbedaan antara orang-orang yang diselamatkan dan orang-orang yang belum selamat. “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:37). Bahasa merupakan hal yang penting karena bahasa menunjukkan siapa anda. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak baik juga akan menghasilkan buah yang tidak baik juga. Tiap-tiap orang akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya; “Orang yang baik akan mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat akan mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45). Karena itu, Rasul Paulus dengan tegas memerintahkan kita agar menanggalkan manusia lama kita, sehingga “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Kata-kata jahat bukan hanya berbicara saat anda harus diam atau mengatakan sesuatu yang kemudian anda sesalkan dan berharap kata-kata tersebut tidak keluar. Apa yang kita katakan akan berarti buruk untuk berbagai alasan. Misalnya, dengan beberapa kata-kata, kita bisa menentukan apakah hal itu jahat atau baik, ditujukan kepada siapa, dengan intonasi seperti apa kata tersebut diutarakan. Pada sisi lain yang ekstrim, kita membedakan “bahasa kotor” dari bahasa-bahasa yang lain; “bahasa kotor” pada dasarnya jelek. Bukan masalah mengutarakan sesuatu pada waktu yang salah atau oleh orang yang salah. “Kata-kata jahat” seperti itu selalu salah, harus selalu dihindari oleh orang percaya.

Pikirkanlah hal ini. Bahasa kotor adalah jahat, dan selalu jahat, dan benar apabila orang-orang Kristen tidak menggunakannya. Tetapi, apa yang membuat bahasa tersebut jahat? Bahasa tersebut jahat karena bahasa tersebut mengekspresikan cara pandang yang bertentangan dengan Tuhan. Misalnya, “damn” tidak selalu mempunyai arti mengutuk, dalam arti yang sebenarnya kata tersebut merujuk kepada tindakan Tuhan. Tuhan mengutuk yang jahat masuk neraka. Jadi, jika dunia menggunakan kata “damn” ini, mereka meremehkan dan menghina pengadilan Tuhan. Contoh lain misalnya, bagaimana orang-orang yang belum percaya bahkan mencari cara untuk membuat “Tuhan” dan “Yesus” menjadi kebiasaan untuk mengekspresikan kekagetan dan amarah.Saya secara mati-matian memilih dua contoh yang benar-benar menunjukkan bagaimana cara pandang yang salah menyampaikan kutukan. Kata-kata seperti “Damn” atau “Yesus Kristus” bisa digunakan untuk mengutuk atau digunakan dengan cara yang benar. Tetapi, kata-kata kotor dan kata-kata yang merendahkan Tuhan tidak bisa fleksibel, karena kata-kata tersebut selalu berseberangan dengan hal-hal mengenai Tuhan dan selalu salah dalam situasi apapun. Kata kunci dari cara pandangnya adalah “membangun”. Kata-kata tersebut mengekspresikan pemberontakan dan ketidak percayaan – bukan dalam hal apa yang mereka gambarkan tetapi dalam intepretasi yang terkandung dalam deskripsinya. Misalnya, kebanyakan kata-kata kotor atau perilaku immoral berbicara tentang tubuh manusia dan fungsinya. Hal tentang “apa” memang diciptakan oleh Tuhan, tetapi setan menggunakan interpretasinya untuk merendahkan dan menyalahgunakan apa yang Tuhan sudah ciptakan. Tentu saja tidak satu katapun yang benar dalam penggunaan seperti itu; kata-kata yang merendahkan Tuhan seperti itu harus dihindari. Alkitab mengenali kata-kata yang memiliki cara pandang yang salah ini. Dalam I Korintus 12:3 tertulis, “Karena itu aku meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata, “Terkutuklah Yesus” dan tidak seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus”. Contoh lain bahkan mungkin tidak perlu disebutkan, karena “bahkan menyebutkannya ditempat tersembunyipun memalukan.” Orang Kristen biasanya mengenali kosa kata dan frase seperti itu sebagai ujaran yang dilontarkan oleh orang-orang tidak percaya yang mempunyai cara pandang yang berbeda sehingga menggunakan bahasa tersebut secara salah dan bahkan menyebabkan jatuh dosa.

Tetapi, kata-kata ‘kotor” bukanlah satu-satunya bahasa yang berdasarkan cara pandang orang yang tidak percaya. Beberapa definisi atau deskripsi yang kita gunakan sejalan dengan cara pikir orang yang tidak percaya. Seperti kata-kata kutukan dan eufimisme (bahasa untuk memperhalus) itupun mengandung cara pandang yang dibangun di dalamnya. Apabila sebutan untuk kata “berzinah” dibelokkan menjadi ‘affair’, bukankah hal itu sudah membengkokkan deskripsi untuk menghilangkan evaluasi moral yang terkandung dalam sebutan itu. Dan kata yang dipakai untuk menggantikannyapun tidak mempunyai arti yang jelas dalam kamus. “Perzinahan” kedengarannya sangat berdosa, sedangkan ‘affair’ kedengarannya menyenangkan. Dunia secara terus-terusan sedang mencari cara-cara untuk membuat kata-kata yang salah kedengaran normal, bisa diterima dan benar. Seperti halnya menggantikan kata dengan istilah ‘tidur bersama’ untuk kata ‘melakukan hubungan seks bukan dengan pasangan’ akan mengurangi hal-hal yang sebenarnya salah. “Aktif secara seksual” adalah keadaan yang sebenarnya sehingga dengan memperhalus bahasa akan menyembunyikan hal yang sesungguhnya terjadi. Dengan demikian yang tampak adalah keadaan yang pasif, membosankan dan lemah. Apa yang dahulu orang sebut dengan sodomi (yang pertama kali disebutkan dalam Kejadian 19) menjadi ‘homoseksual’ kemudian ‘gay’ kemudian ‘pilihan seksual’ atau ‘gaya hidup alternatif’. Sekarang, bahkan ketidakadilan moral untuk kesalahan-kesalahan seperti itu secara peyoratif disebut “homopobia’

Selangkah lebih jauh

Contoh-contoh berikut ini sangat terkenal dan pemikiran-pemikiran yang tidak alkitabiah jelas-jelas terkandung di dalamnya. Sebagai orang Kristen kita harus (dan seringkali) menjaga perkataan kita sehingga perkataan (atau sebagian perkataan) kita tidak terpengaruh atau menyatu dengan pandangan dunia. Tetapi coba kita gali lebih dalam lagi. Bukan hanya percakapan kita saja, tetapi semua bidang dan aspek dimana terdapat pemberontakan dan perasaan tidak percaya yang terlontar lewat kata-kata harus di hentikan. Sejauh ini saya belum pernah menemukan bagian dari kata-kata tersebut. Sebagian besar kata-kata profanity (kata-kata yang tidak menghormati Tuhan) dan definisi-defini yang “secara politik” dianggap benar, jelas-jelas bertentangan dengan cara pandang Kristen. Baiklah, mari kita tangani dulu kasus tentang kata-kata yang tidak begitu tampak kalau kata-kata ini bertentangan dengan cara pandang Kristen: bagaimana orang-orang menggunakan bahasa untuk meminimalkan tanggung jawab akibat perbuatan mereka. Pertama, coba anda lihat bagaimana dunia berbicara tentang dosa yang jelas-jelas dilakukan. Kita hidup dalam masyarakat dimana menghabiskan sesuatu secara berlebihan dianggap hal yang biasa. Dan anehnya kita jarang mendengar kata”serakah” digunakan untuk menggambarkan perbuatan tersebut. Gaya hidup seperti itu benar-benar “nyaman”. Pola ketidak patuhan dianggap sebagai “masalah” dan bukan dosa. Kata-kata menggerutu dan keluhan adalah “kata-kata tentang apa yang saya rasakan’ atau “berkata jujur”. Bahkan di gereja kadang-kadang kita menyebut kata-kata jahat yang menabur gossip sebagai ‘sharing” atau “konseling”, padahal sebetulnya akan lebih tepat bila disebut ‘ngerumpi’ atau menyebar gosip.

Perhatikan dan pahami apa yang terjadi disini. Istilah-istilah yang kita pakai bukan hanya menjelaskan atau menggambarkan, tetapi istilah-istilah tersebut menginterpretasi. Pada saat kita menggunakan kata seperti gosip, banyak gambaran-gambaran alkitabiah dan tindakan-tindakan yang pasti akan terjadi, masuk dalam pemikiran kita – dan memang itulah yang terjadi. Pada saat kita mencoba menjelaskan kata-kata dan tindakan tersebut dengan cara yang lebih “netral”, sebaliknya hal yang terjadi adalah kita pasti akan melakukannya dengan cara yang tidak alkitabiah sama sekali. Kategori – kategori penjelasan dan deskripsi yang dimiliki Tuhan tidak pernah netral. Cara berpikir para ilmuwan sudah mengkondisikan kita berpikir senetral mungkin seperti yang mereka harapkan. Tidaklah demikian dengan kehidupan kita di dalam Tuhan. Kita hidup di alam semesta yang penuh dengan suara Tuhan. Apa yang Dia ciptakan dan apa yang Dia atur, semuanya menyuarakan kemuliaanNya. Semua ciptaan menyingkapkan Siapa Dia sesungguhnya. “Netralitas” adalah benar-benar hasil dari sebuah ketidak percayaan. Netralitas adalah suatu bentuk penolakan untuk berbicara dan berpikir dari perspektif Tuhan, sehingga apabila kita berbicara tentang ‘netralitas’, itu adalah sebuah bentuk kegagalan untuk memproklamasikan kebenaran Tuhan kepada dunia yang terhilang. Dengan demikian adalah juga sebuah kegagalan untuk mengajak dunia untuk bertobat. Bukankah hal ini merupakan proklamasi kebenaran Tuhan dan perspektifNya saat kita menggunakan kata “berzinah” atau ‘berselingkuh” dan tidak menggunakan bahasa yang lebih netral seperti “teman kerja”? Bukankah istilah “gaya hidup” alternatif hanya mengurangi kesadaran kita dan menghilangkan pernyataan Tuhan? Kata-kata kita harus meyakinkan dan menunjukkan interpretasi menurut Tuhan, yang sudah pasti bertentangan dengan cara berpikir dunia yang penuh pemberontakan; kita tidak “netral”, kita hidup untuk Tuhan, dan tentu saja kata-kata kita harus mencerminkan kenyataan ini, sehingga apapun yang kita lakukan, apakah itu makan atau minum atau apapun juga, kita melakukannya untuk kemuliaan Tuhan.

Kata-kata yang dimiliki dunia meminimalkan tanggung jawab saat digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan emosi dan pola-pola tingkah laku. Topik-topik penting ini merupakan subyek pembicaraan yang sangat terkenal yang menarik perhatian. Tetapi manakala kata-kata itu digunakan untuk membicarakan tentang perilaku seksual, dunia mengubah istilahnya untuk mengalihkan perhatian dunia dari tanggung jawab dengan mengatakan seolah-olah situasilah yang memegang peranan dan menghilangkan peran seseorang yang melakukannya. “Hal itu membuat saya marah.” “Kelakuannya membuatku hidup dalam kepahitan.” “Kamu sangat menyinggung.” “Penderitaan yang terus-menerus ini menghilangkan kerinduanku akan Tuhan.” Seharusnya tidak ada yang bisa kita lakukan tentang reaksi kita tersebut. Karena reaksi-reaksi tersebut langsung berasal dari situasi, mereka menjadi bagian dari situasi-situasi tersebut. Sangat jelas, mereka ada di sana.

Kedua, dunia mengalihkan perhatian dari dosa-dosa yang dimilikinya dengan cara mencari gambaran dan penjelasan yang “netral” dari pengalaman yang terjadi. Misalnya, orang Kristen mengenali perbedaan antara keputusasaan, kekecewaan, kesedihan, depresi, rasa bersalah, ketakutan, amarah, dan dukacita. Secara alkitabiah, masing-masing perasaan tersebut memiliki perbedaan. Masing-masing penjelasan menjelaskan sesuatu secara spesifik, dan masing-masing perasaan dengan mudah diterapkan dalam konteks moral. Orang-orang yang tidak percaya membungkus seluruh perasaan tersebut menjadi sebuah kategori netral (yang kedengarannya tidak bernilai) seperti “tekanan emosi” atau “jengkel”. Pola-pola dosa yang menyebabkan seseorang untuk berjuang adalah “konflik-konflik pribadi” (tentang hal-hal yang tidak bisa dilakukan untuk mengatasinya). Kebiasaan menjadi budak dosa adalah pola-pola yang disebut “penyakit” (yang terlalu kuat untuk dikalahkan), “sesuatu yang kuat dan sulit dikendalikan”, “ketagihan”. Istilah-istilah seperti itu tidak mengindahkan perspektif Tuhan terhadap pengalaman-pengalaman manusia seperti ini. Mereka membuat cara berpikir dunia tentang tindakan emosi, atau pendapat kedengaran netral dan alami. Kemudian diambillah langkah-langkah yang menjauh dari pandangan alkitab. Saya merasa “jengkel dan ingin merengek”, bukan merupakan kata-kata yang benar-benar tidak mengandung kebaikan hati atau penuh kebencian. Saya “putus asa”; saya belum kehilangan perspektif yang benar dalam iman. Saat kita bisa melihat contoh-contoh yang tersebut di atas dengan jelas, maka tidak ada kesempatan untuk berbicara secara netral. Orang-orang tidak percaya sedang melakukannya untuk membenarkan tindakan jahatnya, jadi apa yang disebut sebagai netralitas sebenarnya adalah jubah yang menutupi pemberontakan dan kebencian terhadap Tuhan.

Tetapi, tunggu dulu. Kita mendengar contoh-contoh ini bukan hanya di pabrik-pabrik atau di kantor-kantor, tetapi juga di gereja. Kita harus mengetahui dengan lebih baik. Mengapa contoh-contoh yang disebutkan ini sangat terkenal? Apa yang kuat tentang istilah-istilah ini? Ijinkan saya menawarkan penjelasan. Penjelasan-penjelasan yang dinetralkan memang tampaknya menarik bagi orang-orang yang tidak percaya karena mereka bisa membenarkan pemberontakan mereka. Mereka membuat dosa tampak normal. Secara alamiah, gerakan yang penuh dosa ini juga tampak menarik bagi orang-orang percaya. Tindakan yang penuh dosa ini memenuhi keinginan daging untuk belas kasihan pada diri sendiri dan membenarkan diri sendiri. Tetapi ada alasan lain. Seringkali, faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi, pergumulan, godaan, pikiran-pikiran, harapan-harapan, kerinduan-kerinduan dan pengalaman-pengalaman dapat dijelaskan secara detil. “Hari Jumat sore setelah melewati minggu yang penuh perjuangan, bos saya memanggil saya ke ruangannya. Dalam waktu 5 menit, saya dipecat, dengan hanya menyampaikan alasan yang tidak jelas. Saya hampir-hampir tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya bahkan tidak ingat untuk pergi meninggalkan kantor tersebut. Saya ingin melarikan diri; Saya ingin menonjok dia. Saya ingin keluar. Tetapi yang saya lakukan hanya terduduk di meja saya dengan sangat shock. Saya benar-benar jengkel; seluruh urat nadi saya membenci hal ini, saya sangat jengkel. Akhirnya saya menghabiskan waktu 3 hari sesudah pemecatan itu, setengahnya dengan mondar-mandir tidak karuan dan setengahnya lagi dengan keinginan bulat untuk membunuh bos saya itu. Saya tidak dapat tidur. Saya tidak dapat berpikir tentang hal-hal yang lain. Hal itu benar-benar merupakan hempasan buat saya. Saya harus berhenti memikirkannya; karena setiap kali saya memikirkannya saya akan mengulang kembali ingatan tentang kata-kata yang seharusnya saya lontarkan dengan penuh kemarahan. “Kami mendengarkan penjelasan dan kemudian kami berpikir, “ Yah, begitulah yang terjadi. ”Kebenaran yang akurat sulit terjadi. “Orang itu benar-benar mengetahui seperti apa.” Hati-hati. Penjelasan ini sangat jelas. Respon kedagingan dan respon-respon alamiah jelas tergambar dengan sangat jelas. Pergumulan spiritual tidak. Hal-hal yang detil tidak netral; karena setiap hal yang terjadi memiliki cara pandang sendiri, yang membangun hal tersebut.

Gambaran dari kejadian Jumat sore bisa saja sangat berbeda. “Saat saya keluar dari kantor itu saya menghadapi godaan yang paling besar selama tiga tahun saya bekerja di sana. Saya sangat shock. Samar-samar saya ingat mengucapkan beberapa patah kata doa yang sedikit membantu pada saat saya mengingat kembali apa yang saya dengar dari ucapannya dan saat saya mencoba memerangi amarah saya. Tiba-tiba ayat Alkitab yang telah saya hafalkan masuk kepala dan pikiran saya dengan sangat jelas. “Tuhan akan menyediakan tempat pengungsian sehingga kamu akan mampu menanggungnya.” Situasi saya menjadi sangat jelas, seakan-akan Tuhan telah menyalakan lampu dalam ruangan yang begitu gelap. Saya sadar bahwa saya sedang berdiri di persimpangan jalan. Saya bisa saja tetap memegang erat kemarahan, kepahitan dan frustasi saya. Saya bisa lari dari kenyataan. Saya bisa meninggalkan kantor tanpa sepatah katapun kepadanya. Saya bisa saja menyimpan dendam dan kepahitan terhadapnya. Atau saya juga bisa melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Saya bisa menunjukkan kebaikan hati; saya bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Saya bisa berdoa untuknya. Saya bisa kembali lagi ke kantor dengan riang pada hari Senin untuk membereskan meja saya.” Apakah perbedaan dasar antara dua gambaran di atas? Ya, anda benar. Gambaran yang pertama menunjukkan perbuatan yang tampaknya netral, tetapi kenyataannya menunjukkan cara pandang secara kedangingan dan melupakan segala sesuatu yang dimiliki orang Kristen: Tujuan Tuhan, PerspektifNya, godaan alami spiritual, pergumulan untuk mendapatkan harapan dan tanggapan yang benar, solusi permasalahan. Pada penjelasan pertama sebagian membenarkan kemarahan dan depresi sebagai sesuatu yang alamiah. Dan dari satu perspektif memang alamiah. Tetapi setelah Kristus menyelamatkan kita, kita tidak lagi menjadi ‘manusia alamiah’ yang tidak memahami hal-hal mengenai Roh Allah. Penjelasan yang akurat memang bagus, pergumulan spiritual perlu di poles secara gamblang sehingga pengajaran kita bisa diterapkan dan juga mencerminkan kehidupan nyata. Tetapi memang benar kalau penjelasan dan gambaran yang akurat juga memiliki interpretasi yang juga akurat. Dengan demikian kita perlu memiliki gambaran yang utuh dan benar.

Sebuah contoh untuk Dilakukan

Bagaimana anda mulai mengenali dan bertobat dari perkataan-perkataan jahat? Mari kita ambil contoh yang spesifik. Bolehkah orang Kristen berkata, “Saya terpuruk”? Berada dalam keadaan terpuruk adalah cara yang netral untuk mengungkapkan kesedihan atau depresi. Atau sering juga diartikan kurangnya harapan dan iman, atau lebih memfokuskan diri pada situasi yang tidak menyenangkan dan mengeluh dan melupakan pemeliharaan Tuhan yang penuh kuasa. Ungkapan “Saya terpuruk” mengindikasikan bahwa ada masalah moral dalam ungkapan emosi seperti ini. Kebanyakan kita akan terkejut jika kita mengatakan pada teman kita bahwa “kita terpuruk” dan teman kita tersebut menyarankan kita untuk bertobat. Dalam konsep yang biasa dipahami, kita kita merasa “terpuruk” karena ada masalah dalam diri kita. Kita “terpuruk” karena memang demikian adanya. Yang salah adalah situasinya; dan kita merespon dengan normal. Hal ini terjadi pada semua orang yang merasa “terpuruk”. Biasanya kita lebih cenderung bertanya, “Ada apa?” dan tidak bertanya, “Mengapa anda mengatasi hal itu dengan cara yang demikian?”

Perhatikan hal-hal lain tentang istilah ini. Yang pertama, istilah ini tidak jelas; emosi yang digambarkan bisa tentang banyak hal – depresi, kemarahan, putus asa, kesedihan, kedukaan, kejengkelan, ketegasan, mengasihani diri sendiri, dan lain-lain. Kedua, penjelasan mengapa kita merasa seperti ini, juga tidak cukup karena secara eksklusif sering berfokus pada situasi; tidak memperhatikan hal-hal yang terjadi dari dalam seperti pemikiran-pemikiran yang kita lakukan atau hal-hal yang menyebabkan kita “terpuruk”. Dengan demikian kita bisa membuat diagram seperti ini: Situasi —> Emosi. Istilah yang sangat penting yang berada ditengah dihilangkan, Situasi —> Pribadi —> Emosi. Lagi-lagi, ini adalah netralisasi! Dengan menghilangkan komponen penting ditengah yaitu Pribadi , tidak ada bedanya lagi apakah situasi itu terjadi pada orang percaya atau orang yang tidak mengenal Tuhan; bahkan tidak ada bedanya apakah situasi itu terjadi pada Tuhan Yesus sendiri atau pendosa yang paling jahat sekalipun. Masalah benar dan salah berkurang menjadi kategori-kategori yang bisa kita buat dan pikirkan. Hal ini belum mendekati kebenaran yang sudah tertulis diatas. Jika seseorang berkata bahwa ia sangat berduka atas kematian ayahnya, kita tahu bahwa dia sedih karena mengalami kehilangan. Reaksinya bagus. Tetapi jika dia berkata bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi, depresi, atau mengasihani diri atas kematian tersebut, kita harus mempunyai tanggapan yang berbeda! Istilah-istilah yang spesifik memberikan kita informasi mengenai seseorang. Kita seharusnya tahu lebih baik tentang bagaimana merespon dan membawa perspektif alkitabiah. Dunia mengacaukan konsep ini. Apabila seseorang “terpuruk” mereka hanya bisa menawarkan simpati yang kosong dan sekedar harapan yang tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik yang diharapkan. Tidak ada harapan akan perubahan pada kehidupan nyata, sehingga tidak mungkin keadaan di masa mendatang akan menjadi lebih baik. Bukankah alkitab berkata tentang emosi-emosi tentang hal “terpuruk” dengan acuan dasar kepada Pribadi yang kita kenal, yaitu Tuhan, terhadap apa yang benar, dan bukan hanya terhadap situasi? Perhatikan, misalnya, Mazmur 42 dan 43. Pada saat Pemazmur ‘tertekan” dan “gelisah” , hal itu bukan karena dia tidak lagi pergi ke rumah Tuhan bersama dengan orang banyak. Bukan juga karena dia diancam musuhnya, yaitu orang-orang licik yang penuh tipu daya dan orang-orang yang berlaku tidak adil. Memang hal-hal ini terjadi. Tetapi penyebab kepedihan dan tekanan jiwa yang dialaminya adalah karena jiwanya tidak berharap dalam Tuhan. Dia tidak menggambarkan dirinya dengan sebutan “terpuruk”. Dia melihatnya dengan lebih jelas lagi: “Mengapa kau tertekan hai jiwaku? … Berharaplah pada Tuhan hai jiwaku,” Fokus yang terjadi pada Pemazmur adalah karena dia haus akan Tuhan bagaikan rusa yang merindukan aliran sungai.

Betapa berbedanya gambaran ini dengan ungkapan perkataan dunia yang penuh dengan menyalahkan dan mengasihani diri sendiri! Kosa kata yang dimiliki Pemazmur menunjukkan bahwa dia menguji hatinya dengan sangat hati-hati; dia mencari masalah yang sesungguhnya dan melihat kepada Tuhan untuk penyelesaiannya. Inilah tujuan dari kosa kata anda! Kata-kata anda seharusnya bukan hanya untuk menghindari keluhan yang menjengkelkan tentang dunia ini, tetapi lebih kepada bagaimana cara mengungkapkan situasi spiritual dan respon anda sendiri dengan akurat. Saya sudah melakukan hal ini dengan beberapa contoh diatas. Tetapi ini hanyalah permulaan. Kita memerlukan kosa kata Kristen; kita harus bertindak seperti orang Kristen dalam seluruh aspek kehidupan kita. Ini bukan berarti bahwa kita menemukan seorang Kristen yang masih bayi dan suci yang membuat kita tertutup terhadap dunia. Tujuan kita menjadi lebih kearah kata-kata daripada memproklamasikan kebenaran Tuhan tentang diri sendiri dan alam semesta ciptaanNya – suatu kata-kata yang tidak mengikuti tipuan dunia dan berbagai caranya.

Suatu Contoh lain untuk dilakukan: “Karena”

Karena. Kata ini begitu sederhana, tetapi kata ini bisa mengungkapkan banyak hal. Kita menggunakan kata ini untuk mengatakan tentang penyebab-penyebab perilaku kita atau motivasi yang ada dalam diri kita: sebab-sebab dan motivasi. Mengapa saya melakukannya? Saya melakukannya karena … Apakah Alkitab mengajarkan kepada kita segala sesuatu tentang penyebab kita bertindak dengan cara-cara tertentu? Apakah Alkitab juga mengajarkan kepada kita penyebab-penyebab reaksi yang kita lakukan? Tentu saja. Keinginan kita akan menyingkapkan motivasi dalam hati kita. Apabila tujuan dan kehendak dalam hati kita jahat, maka kata-kata dan perilaku kita akan mencerminkannya; apabila hati kita suci, tindakan dan perilaku kita juga akan suci. Meskipun hal ini merupakan kesimpulan yang cepat, semua yang tertulis dalam alkitab tentang sebab-sebab dan motivasi tepat dan sesuai dengan struktur ini.

Inilah poinnya. Semua kata-kata kita, seperti halnya semua perilaku kita mencerminkan 2 hal, yaitu ketaatan kita atau pemberontakan kita terhadap Tuhan. Kata-kata jahat adalah semua kata-kata yang mengatakan semua hal yang salah dan tidak ilahi. Kata-kata mampu melukis dan kemudian membangun cara pandang, kata-kata itu juga mengungkapkan (atau mengkhianati) apa yang sesungguhnya kita percaya; tindakan kita mencerminkan apa yang kita percaya. Lukas 6:45 mengajarkan hal ini dengan jelas: “ Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya.” Kita tidak bisa bersembunyi, hati kita menyingkapkan siapa sesungguhnya kita. Tugas kita adalah berupaya sehingga kata-kata kita, seperti halnya perbuatan kita, sesuai dengan Alkitab; kata-kata dan perbuatan kita hendaknya menerapkan apa yang sudah diajarkan Alkitab.

Mari kita ambil contoh ini. Bob dan Sue pergi mendaki gunung bersama. Tanpa sengaja mereka meninggalkan salah satu kotak makan mereka di mobil. Mereka mendaki jalan yang sulit dan udara hari itu sangat panas. Setelah satu setengah jam kemudian mereka kekurangan air. Mereka berjalan menyusuri lereng gunung dan mereka tidak menemukan sungai. Mereka meneruskan pendakian selama satu jam dan akhirnya mereka menemukan jejak arah. Bob menyadari bahwa mereka sesungguhnya kehilangan waktu sekitar 45 menit karena mengambil jalan yang salah. Sue berkata, “ Bagus. Saya benar-benar menikmati perjalanan ini. Terima kasih sudah mengajak saya mendaki.” Bob, dengan sedikit terkejut akan kata-kata sindirannya, tidak berkata sepatah katapun. Sue menyadari apa yang telah dia katakan dan berusaha menjelaskan: “Maaf. Saya hanya mengatakan itu karena:

Saya benar-benar lelah. Saya harap anda tidak terganggu.”
Itu adalah saya. Kadang-kadang saya bisa menjadi tidak sabar. Itu tadi hanya cara saya berhubungan dan bukan merupakan hal yang besar.”
Keluarga saya selalu marah terhadap saya. Mungkin saya hanya meniru mereka.”
Hari ini benar-benar hari yang berat buat saya, itulah yang menyebabkan saya berkata demikian.”
Sulit bagi saya berjalan tanpa mempunyai air untuk minum, kepanasan, dan tersesat. Saya hanya jengkel saja.”
Saya hanya ingin kamu tahu apa yang saya rasakan.”
Anda mungkin bisa langsung menggambarkan bagaimana tiap-tiap respon ini terjadi. Tetapi, manakah respon yang benar? Apa yang anda harapkan dari seorang percaya pada situasi seperti ini? Lihat catatan kita lagi. Respon yang mana yang boleh di ucapkan?

Tidak satupun jawaban diatas benar. Mengapa? Karena tidak satupun dari jawaban di atas mempunyai penjelasan secara alkitabiah yang cukup untuk menjelaskan perilaku Sue. Sue langsung menyalahkan Bob; ini dosa. Mungkin ada faktor-faktor kelelahan Sue, latar belakang keluarganya, atau kebiasaannya dalam berhubungan satu dengan yang lain. Hal-hal ini memang akan membentuk godaan amarah yang dia hadapi. Tetapi hal-hal tersebut tidak menjelaskan mengapa dia meresponnya dengan frustrasi. Boleh jadi Sue memang berbeda karena dia lelah, kepanasan, berasal dari keluarga yang mempunyai latar belakang tertentu, atau menjalani “hari yang berat.” Tetapi tidak satupun dari alasan ini mengungkapkan kebenaran Alkitab, karena perilakunya yang berdosa. Tidak satupun menjelaskan kepada kita mengapa dia bersikap jahat. Karena itulah dia tidak boleh berkata, “Saya bersikap demikian karena…,” dan mengisi saja dengan alasan-alasan yang jelas-jelas tidak masuk akal.

Ingat, kita mencatat pikiran-pikiran Pemazmur dan mempelajari perilakunya. Cobalah untuk menirunya. Cobalah melihat situasi Bob dan Sue dari cara pandang orang percaya. Apakah yang “menyebabkan” perilaku tersebut? Ingat dengan diagram kita diatas? Situasi —> Pribadi —> Tindakan (di sana, emosi; di sini, perilaku). Alkitab mengajarkan bahwa perilaku Sue tidak berasal dari situasi tetapi berasal dari pribadi yang merespon terhadap situasi. Dengan demikian pertanyaan-pertanyaan “mengapa” tidak dijawab dengan mengacu kepada situasi; pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab dengan acuan pribadi. Mengapa Sue melontarkan kata-kata dengan kasar? Bukan karena dia telah kepanasan dan haus. Tetapi karena dia tidak menginginkan susahnya kepanasan dan kehausan.

Saya akan memberikan ilustrasi yang telah saya pelajari di Sekolah Minggu ketika saya masih kecil. Orang atau pribadi itu seperti spon; keadaan dalam kehidupan kita memeras spon tersebut. Apa yang keluar dari spon itu saat anda memerasnya? Pasti itu tergantung apa yang ada dalam spon tersebut. Apabila spon tersebut direndam dalam tinta, maka tintalah yang akan keluar; bila spon tersebut direndam dalam air maka airlah yang akan keluar. Demikian juga dengan orang percaya. Jika anda penuh dengan kehidupan Yesus, maka anda akan merespon situasi- situasi yang tidak menyenangkan dengan cara-cara yang menyerupai Kristus. Jika anda penuh dengan kehidupan duniawi dan keserakahan yang egois, maka perilaku anda akan mencerminkan hal ini juga. 2 Korintus 4: 6-18 mengajarkan hal ini dengan jelas. Kita memiliki harta kemuliaan Tuhan yang menyinari hati kita, sebuah harta dalam bejana tanah. Karena kita memiliki kuasa Allah yang melampaui segala kuasa saat kita “ditindas dengan keras”, kita tidak hancur atau putus asa. Tetapi kehidupan Yesus nyata dalam tubuh fana kita. Kita tidak tawar hati, meskipun manusia lahiriah kita semakin merosot, namun manusia batiniah kita diperbaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan kami.

Dengan demikian, keadaanlah yang menekan/memeras spon. Dan karenanya keluarlah tinta. Mengapa? Ada 2 kemungkinan jawaban untuk itu: (1) karena spon nya diperas (makanya tinta keluar); atau (2) karena tinta ada di dalam spon (makanya tinta keluar). Jawaban Alkitab untuk pertanyaan ‘mengapa’ adalah jawaban kedua. Ketertarikan Tuhan adalah pada hal mengapa tinta nya keluar, dan bukan hal-hal yang lain. Dan ketertarikan Tuhan tersebut mempunyai alasan yang bagus! Bukankah pertanyaan yang sebenarnya adalah tentang situasi yang dihadapi Sue? Pertanyaannya bukanlah ,”Mengapa Sue bereaksi?” Dia bereaksi karena dia adalah manusia yang hidup. Setiap kali anda bertindak, sesuatu akan muncul. Tetapi pertanyaan sesungguhnya adalah, “Mengapa Sue bereaksi dengan cara seperti itu?” Mengapa hal itu keluar? Penjelasan Sue yang tertulis secara panjang di atas hanyalah berbagai cara untuk mengatakan, “tinta keluar karena saya ditekan”. Padahal penjelasan Alkitab selalu selalu begini, “tinta keluar karena tinta tersebut ada di dalam spon.” Kata-kata yang pedas, tajam dan tanpa kasih tidak disebabkan karena kepanasan, kekurangan air, kelelahan, latar belakang keluarga, atau Bob menyebabkan mereka tersesat. Namun, kata-kata tersebut disebabkan oleh hati yang tidak kudus.

Penderitaan, Perilaku dan Kata-kata

Model ini menyebabkan timbulnya pertanyaan alkitabiah dengan level yang lebih tinggi. Apa hubungan antara situasi yang sulit atau menyakitkan (ataupun yang menyenangkan) dengan perilaku? Jawaban yang paling jelas adalah bahwa situasi menyerupai pemandangan latar dari suatu panggung/pementasan. Situasi adalah sebuah setting, bukan action-nya. Apabila kita di beri tahu bahwa latar belakang suatu pentas berada pada jalur kereta api, kita masih belum tahu apa-apa tentang alur ceritanya! Mungkin saja ceritanya menyeramkan, menyenangkan, atau menyedihkan. Inilah masalahnya dengan situasi yang kita miliki. “Saya tumbuh dalam keluarga yang suka melecehkan”, pernyataan ini bisa membuka cerita tentang kesetiaan Tuhan dan penebusanNya, atau juga bisa membuka cerita tentang keluhan dan belas kasihan pada diri sendiri. Tiap-tiap situasi mempunyai godaan karakter masing-masing, tetapi drama yang sesungguhnya dimainkan oleh hati. Mari kita lihat Ulangan 8:2-6:

“Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintahNya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kau kenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. Maka haruslah engkau insaf, bahwa Tuhan, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan dengan takut akan Dia.”
Ini adalah situasi yang sulit! Dan maksud Tuhan dengan menempatkan mereka di padang gurun itu adalah membuat padang gurun sebagai “setting” atau “latar” agar Dia bisa mengajar umatNya untuk merendahkan diri, menguji mereka dan mengajar mereka. Ayat itu berlanjut seperti ini:

Sebab Tuhan Allahmu membawa engkau masuk ke negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung. Suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari pegunungan akan kau gali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji Tuhan, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikanNya kepadamu itu. Hati-hatilah, jangan sampai engkau melupakan Tuhan, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik dan mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Maka janganlah kau katakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. (Ulangan 8:7 – 14, 17)
Ini adalah sebuah situasi yang berbeda; sangat bertentangan dengan situasi pertama. Tetapi fokus Tuhan tetap pada hati. Kedua keadaan dan situasi menguji umatNya. Ujian itu berbeda. Pergumulan di padang gurun (seperti Bob dan Sue pada jalan setapak tanpa memiliki air) akan menekan kita pada satu sisi. Apakah keluhan atau iman yang akan keluar? Tanah perjanjian (seperti Bob dan Sue yang sudah kembali ke mobil dan menemukan kotak makanan mereka) menekan dengan cara yang lain lagi. Apakah mereka melupakan Tuhan atau mengucap syukur? Permasalahannya selalu apakah umat Tuhan akan merespon dengan benar atau dengan cara yang berdosa. Itulah yang menjadi fokus pembicaraan Tuhan. Situasi itu hanyalah “latar” yang digunakan Tuhan, tetapi Tuhan lebih tertarik kepada “drama”nya. Dia ingin tahu apakah umatNya akan merespon “latar” tersebut dengan benar.

Marilah kita lihat komentar alkitabiah pada kehidupan umat Israel – I Korintus 10: 1 – 13

“Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama. Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu adalah Kristus. Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan pada bagian yang terbesar dari mereka, karena itu mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis, “Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Janganlah kita melakukan percabulan seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. Dan janganlah kita mencobai Tuhan seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. Dan janganlah bersungut-sungut seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu dimana zaman akhir telah tiba. Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, berhati-hatilah supaya ia jangan jatuh. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Ada pelajaran yang sangat besar di sini. Pikirkanlah situasi ini! Tempatkan posisi anda pada posisi bangsa Israel. Bagaimana anda akan merespon apabila anda hanya memiliki sepasang pakaian ( yang tidak pernah rusak!), tidak ada tempat berlindung yang tetap, masa depan yang tidak pasti, panas, pasir, bahaya perang dari orang sekitar, sering kekurangan air, dan tidak adanya variasi makanan yang jelas! Masalah-masalah ini sangat berat! Mungkin kita akan menghadapi masalah ini dengan tidak adanya ucapan syukur. Paling tidak kita akan memahami seseorang yang mengeluh dan akan memberikan pengertian padanya. Bisakah anda bayangkan, persekutuan doa dan sharing seperti apa yang yang akan mereka bicarakan pada saat teduh di padang gurun ini? Mereka baru saja akan hidup mapan dan memasang tenda mereka dengan nyaman. Tetapi tiba-tiba awan berpindah, sehingga mereka harus cepat berkemas-kemas! Benar-benar berat!

Tetapi apakah yang menjadi fokus Tuhan dalam komentar Alkitab 1 Korintus? Dia benar-benar tidak peduli untuk “meringankan situasi” . Dia hanya melihat keluh kesah, mereka yang menyebabkan Dia masuk dalam pencobaan, moralitas yang semakin menurun, keinginan jahat dan penyembahan berhala. Dia bahkan tidak menyebutkan kesukaran yang mereka hadapi untuk alasan yang bagus. Tuhan lebih tertarik pada dramanya. Dia memperingatkan jemaat di Korintus – dan juga kita – untuk tidak mengulangi lagi drama ini dengan latar tertentu yang kita buat. Latar hanyalah latar. Drama yang sama dapat dimainkan pada setting yang lain, yang sama sekali tidak menyerupai setting di Sinai! Drama itu bisa dimainkan dalam kehidupan anda. Tuhan tahu itu. Maka, Dia menasehati kita untuk tetap meletakkan dan menganggap latar belakang tersebut tetap sebagai latar belakang. Dalam hal apa yang menyebabkan perilaku yang berdosa, tetap saja keadaan dan situasi tidak ada hubungannya. Mungkin kita cenderung akan berkeluh kesah apabila semua menjadi berat, atau menjadi tinggi hati hati bila semua berjalan lancar dan baik; tetapi kita tetap terancam dosa-dosa ini karena dosa-dosa tersebut bukan disebabkan oleh situasi. Baik keluh-kesah ataupun kesombongan berasal dari hati yang penuh dosa.

Sering terdapat godaan untuk memikirkan reaksi-reaksi yang salah dan berdosa ini sebagai hal yang disebabkan oleh hati anda yang berdosa dan situasi yang sulit, kedua hal itu. Ini adalah bagian dari pencobaan tentang pembenaran diri: menyalahkan diri anda sendiri, tetapi hanya sebagian; mengambil tanggung jawab atas perbuatan anda, tetapi hanya sebagian, tidak seluruhnya. Pikirkanlah kembali tentang apa komentar Tuhan terhadap perjalanan bangsa Israel yang berputar-putar mengitari padang gurun. Tidak ada sedikitpun kunci tentang tanggung jawab ‘ganda’ ini. Tetapi, mengapa hal itu bisa terjadi? Coba anda lihat kembali pada kitab Ulangan 8. Bisa di duga bahwa bangsa Israel akan tiba dengan selamat di tanah perjanjian apabila tidak ada musuh, tidak ada kelaparan, kehausan, dan pembelokan perjalanan. Tetapi Tuhan berkata bahwa Dia mengirimkan kesukaran tersebut untuk menguji bangsa Israel “untuk mengetahui apa yang ada dalam hatinya”. Jika kita berkata bahwa Israel mengeluh karena mereka memang umat berdosa dan karena keadaan memang berat, maka kita membuat Israel hanya bertanggung jawab setengah/sebagian dan Tuhanpun hanya bertanggung jawab setengah/sebagian. Tidak bisa seperti ini! Israel tidak bisa memasuki tanah perjanjian hanya karena satu alasan: mereka telah melakukan dosa.

Mengapa hal ini penting? Karena kita semua seperti Sue. Kita cenderung menjelaskan perilaku kita yang berdosa dengan berbicara tentang situasi. Kita berkata bahwa kita melakukan sesuatu karena … dan tidak mau mengakui bahwa hati kita adalah satu-satunya penyebab. Bukankah hal ini sungguh buruk? Ya! Ini hanya bagian kecil; tetapi pernyataan-pernyataan tentang penyebab – penyebab dan motivasi-motivasi seperti ini adalah sebuah bentuk penyerangan terhadap kebenaran Tuhan. Pada satu sisi kita bisa memaklumi diri kita dan sehingga bisa bertobat. Dengan menunjuk pada situasi dan bukan pada diri kita, iman kita dirampas dan sehingga segala sesuatu bisa menjadi sangat berbeda. Sekali lagi, keadaan mungkin akan menjadi tidak menyenangkan. Sue tidak mempunyai jaminan bahwa dia dan Bob tidak akan tersesat kalau suatu hari mereka akan mendaki gunung lagi (atau dalam jalan pulangnya). Jika karena itu dia marah-marah, tentu saja lain kali kalau dia mendaki gunung lagi hal itu akan terulang lagi, Sue akan kembali marah-marah. Tetapi dalam Kristus, dia memiliki harapan yang lebih besar dan lebih realistis. Dia memiliki firman yang mengubahnya. Dia dan Bob mungkin akan tersesat lagi; tetapi kalau dia sudah diubah oleh Roh Kudus , Bob tidak perlu takut lagi akan kata-kata yang tidak memiliki kasih yang akan diterimanya – bahkan pada perasaan frustrasi yang dirasakan dari dalam yang diungkapkannya. Tujuan Tuhan adalah, pada waktu yang akan datang pada situasi yang sama, Sue akan bisa merespon dengan sukacita, damai, perjuangan dan kasih. Mungkin dia akan mentertawakannya dan mungkin akan menikmati perjalanan yang lebih jauh karena tersesat! Mungkin dia akan tabah menjalaninya tanpa keluhan, dan akan minum air dengan penuh ucapan syukur kepada Tuhan sampai akhir perjalanan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: