Just another WordPress.com site

By. John Paper

Matius 13:44-46
“Hal kerajaan surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu. (45) Demikian pula hal kerajaan surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. (46) Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
Minggu lalu kita membicarakan bahwa kebahagiaan Tuhan yang berlimpah dan tidak terbatas adalah dasar dari Hedonisme Kristen. Tuhan berbahagia karena Dia menikmati kebahagiaan yang sempurna dalam keindahan akan kemuliaanNya, terutama saat kemuliaan itu di refleksikan dalam PuteraNya. Tuhan berbahagia karena Dia adalah Tuhan yang berdaulat penuh, karenanya Dia sanggup mengatasi segala sesuatu yang menghalangi sukacitaNya. Kebahagiaan Tuhan tersebut adalah dasar dari Hedonisme Kristen karena kebahagiaan Tuhan itu akan meluap dalam bentuk kasih dan kemurahan kepada kita. Saat Tuhan memanggil manusia, baik laki-laki maupun perempuan, untuk datang kepadaNya, bukan kelemahan dan keterbatasan kita yang perlu dipenuhkan, tetapi kepenuhan yang Tuhan miliki itulah yang akan dibagikan, dan itulah yang Dia sukai. Minggu lalu kita menyimpulkan dengan kalimat “tidak semua orang mendapat bagian dalam sukacita Tuhan selamanya, karena ada syarat/kondisi yang harus dipenuhi. Syaratnya adalah : kita harus menaati perintahNya: “dan bergembiralah karena Tuhan (Mazmur 37:4). Tetapi banyak orang yang kesenangannya bersumber dari kekayaan, balas dendam dan hal-hal yang mereka sukai dan bukan mendapatkan kesenangan di dalam Tuhan. Dengan demikian mereka tidak mendapat bagian dalam kemurahan dan keselamatan dalam Tuhan; mereka adalah orang-orang yang terhilang. Yang mereka perlukan adalah berbalik kepada Kristus – yang sebenarnya sama dengan menciptakan seorang Hedonis Kristen. Inilah yang akan saya bicarakan pagi ini.

Ada yang mungkin akan bertanya, ”Jika tujuan kita hanya berbalik, kenapa kita tidak bisa sekedar berkata, ’Percaya pada Tuhan Yesus dan anda akan diselamatkan’? Kenapa harus membawa istilah Hedonisme Kristen?”. Pertanyaan yang bagus. Inilah jawaban saya. Kita hidup dalam masyarakat yang sudah menjadi Kristen secara permukaan dengan ribuan orang yang hilang mengira bahwa mereka percaya pada Yesus. Dalam kebanyakan kesaksian saya pada mereka yang belum percaya orang Kristen KTP, perintah tentang ”Percayalah kepada Yesus dan anda akan selamat,” adalah hal yang sia-sia, yang tidak akan mempunyai pengaruh dan tidak berarti. Katakan saja, mereka masih melakukan hal-hal seperti; mabuk di jalanan, tinggal serumah tanpa menikah, sex di luar nikah, orang-orang yang sudah tua dan tidak pernah mengikuti kebaktian selama 40 tahun. Seluruh lapisan jemaat gereja masih melakukannya. Tanggung jawab saya sebagai Hamba Tuhan yang mengabarkan Injil dan Guru Jemaat bukan hanya mengulang-ulang ayat-ayat atau kalimat-kalimat alkitabiah, tetapi harus lebih mengatakan kebenaran-kebenaran sedemikian rupa sehingga kebenaran tersebut akan menembus orang yang mendengarnya dan membantunya untuk sadar bahwa mereka memerlukan Kristus. Yang saya coba lakukan adalah mengambil ajaran-ajaran inti Alkitab yang telah terlupakan dan membuat ajaran tersebut seruncing mungkin sehingga setiap hati bisa tertembus dan kemudian sadar. Dengan demikian, jika seseorang berbalik kepada Yesus Kristus, orang tersebut akan menjadi seorang Hedonis Kristen. Jika seseorang tidak diciptakan lagi menjadi Hedonis Kristen, dia tidak akan melihat Kerajaan Surga. Itulah yang saya ingin tunjukkan dalam Alkitab.

Diciptakan oleh Tuhan

Sebelum kita terfokus pada masalah ’berbalik’, kita perlu mengulang kembali kebenaran besar tentang kenyataan untuk membuat fakta bahwa ’berbalik’ itu adalah hal yang perlu dilakukan. Kebenaran pertama yang kita hadapi sebagai manusia yaitu: Tuhan adalah Pencipta kita, yang kepadaNya kita harus memiliki perasaan untuk bersyukur atas segala yang kita miliki. Bukti terbaik dari pernyataan ini adalah hati dan kehidupan Anda sendiri. Kenapa ya rasa sentimentimentil yang sah secara hukum ini akan anda rasakan apabila hal ini terjadi pada anda; ada seseorang yang tidak memperdulikan anda sama sekali, bahkan setelah anda bantu dia. Secara otomatis kita akan menganggap orang tersebut bersalah karena tidak mempunyai perasaan terimakasih untuk seseorang yang telah menunjukkan kebaikan yang sangat besar kepadanya. Mengapa? Anda tahu bahwa hal itu akan menjadi jawaban yang benar-benar tidak memuaskan untuk berkata: Saya merasa demikian karena waktu kecil saya dipukul kalau tidak mengucapkan terima kasih. Kita tidak akan membiarkan orang berkata demikian dengan mudahnya. Kecepatan hati kita untuk menghakimi orang yang tidak tahu berterima kasih ini telah menunjukkan kenyataan terhadap sebuah kebenaran akan kondisi kita, yang diperjelas oleh suatu kepercayaan bahwa: tidak berterima kasih itu salah!

Alasan yang nyata kenapa hati kita merespon demikian adalah karena kita diciptakan dalam gambaran Tuhan. Perasaan sentimen anda yang sah, yang secara otomatis menyebabkan saya merasa bersalah setelah saya tahu bahwa anda menyelamatkan anak saya dari bahaya tenggelam, tetapi saya tidak mempedulikan anda, adalah suara yang sama yang Tuhan katakan dalam diri anda. Sebuah aspek dari gambaran Tuhan dalam diri anda adalah bahwa secara tidak sadar anda menganggap orang tidak mempunyai rasa terima kasih. Sehingga, anda tahu bahwa dalam hati anda ada Tuhan yang berhak atas ucapan syukur kita. Benar-benar merupakan sikap yang hipokritis apabila kita berpikir bahwa Tuhan tidak perlu menerima ucapan terima kasih karena pemberianNya pada kita, sedangkan kita harus menerima ucapan terima kasih atas apa yang kita lakukan. Dalam Mazmur 107 tertulis, ”Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selamanya kasih setiaNya.” (Mazmur 107:1). Singkatnya, jika anda memiliki standard moral yang membuat anda secara otomatis anda terapkan untuk orang lain, anda tidak akan bisa lari dari kenyataan bahwa Hukum Tuhan tertulis dalam hati anda dan pada Hukum itu tertulis: setiap ciptaan seharusnya memiliki rasa syukur (terima kasih) sebanding dengan kebaikan dan ketergantungannya pada Tuhan.

Jatuh dalam dosa

Diskusi diatas menunjuk pada kebenaran besar yang kedua yang harus dihadapi oleh manusia: Kita belum merasa, ataupun apabila kita sudah merasakannya sekarang, atau besok, betapa dalam dan terus menerus perasaan syukur kepada Tuhan yang harus kita ungkapkan kepadaNya sebagai Pencipta kita. Dan kita bahkan tidak memerlukan Alkitab untuk membuktikan bahwa kita itu bersalah. Kita tahu bahwa kita tidak bergantung pada Tuhan; tentang apa yang kita inginkan dari diri kita dan dari orang lain. Kita tahu bahwa perasaaan sentimentil yang sah dalam hati kita yang menganggap bersalah orang tidak berterima kasih, juga merupakan kesaksian nyata bahwa Tuhan juga menganggap kita bersalah karena kita terus menerus tidak berterima kasih kepadaNya, padahal hal itu penting. Dan lagi, bila kita mencoba menekan kesaksian itu dalam hati kita, Alkitab menulis dengan jelas pada Kitab Roma 1:18-21:

Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dan kelaliman. (19) Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya pada mereka. (20) sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyanya sejak udnia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi menjadi sia-sia dari hati mereka yang bodoh dan menjadi gelap.
Setiap manusia yang berdiri di hadapan Tuhan dan menyerahkan hidupnya, Tuhan tidak perlu menggunakan satu ayatpun dalam Alkitab untuk menunjukkan kesalahannya, dan betapa pantasnya dia menerima hukuman atas kesalahan tersebut. Dia hanya akan menanyakan 3 hal: 1) bukankah sudah jelas bahwa secara natur, kita dan segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah, karena sebagai ciptaan, kita bergantung sepenuhnya pada Pencipta kita; bergantung dalam hal kehidupan, nafas hidup dan semuanya? 2)Bukankah peasaan sentimentil yang anda rasakan dalam hati selalu menjadikan semua orang merasa bersalah saat mereka tidak berterima kasih sebagaimana mestinya? 3) Sudahkah kehidupan anda dipenuhi oleh ucapan syukur yang penuh sukacita untuk Tuhan? Sudahkah ungkapan syukur tersebut sebanding dengan kebaikanNya? Kasus ditutup.

Di bawah Murka Tuhan

Dengan demikian, kebenaran besar ketiga yang harus kita hadapi adalah: Tuhan murka karena kita tidak bersyukur kepadaNya. Perasaan sentimentil kita yang sah menuntut adanya standard moral yang jelas. Kita tidak menginginkan perilaku yang tidak bermartabat yang bertentangan dengan karakter kita dibuang begitu saja. Kita saja berpikir demikian, apalagi Tuhan. Kebenaran Tuhan memiliki arti bahwa Dia harus ditinggikan sesuai dengan kemuliaanNya. Saat kita, mengecilkan kemuliaan Tuhan karena kurangnya rasa syukur kita, ada standard yang jelas yang digunakan untuk mengadili kita. Seorang manusia lebih berharga daripada seekor kucing. Dan karena itu anda bisa masuk penjara karena merusak reputasi seseorang, tetapi tak seorangpun pernah dinyatakan bersalah karena seekor kucing. Dan Tuhan jauh lebih berharga daripada manusia – sangat jelas- dan karenanya merusak Karakter Tuhan melalui tanda-tanda ketidak bersyukuran kita membawa dampak kearah kehancuran abadi. Upah dosa (selamanya) adalah maut (Roma 6:23)

Kristus: Pribadi yang menghilangkan Amarah

Berita terburuk yang paling menakutkan di dunia ini adalah berita bahwa kita yang telah jatuh dalam hukuman dari Pencipta kita, dan bahwa Dia memiliki karakter dan Pribadi yang benar untuk tetap mempertahankan kemuliaanNya, dengan cara menumpahkan kemurkaanNya pada dosa karena ketidakbersyukuran kita. Tetapi ada kebenaran besar keempat yang tak seorangpun bisa pelajari dari sifat alami dan kesadaran kita, yaitu kebenaran yang harus diberitakan kepada orang lain dan dikotbahkan di gereja-gereja dan di jalankan oleh para misionaris: kebenaran yang disebut sebagai kabar baik, yang sudah Tuhan tetapkan sebagai cara untuk memenuhi keinginan akan kebenaranNya tanpa menghukum seluruh umat manusia. Dia sudah melakukannya sendiri tanpa sedikitpun jasa kita untuk keselamatan kita. Karena kasih dan hikmatNya Tuhan telah menyusun cara untuk menyelamatkan kita dari kemurkaan Tuhan tanpa melupakan kebenaran Tuhan. Dan, apakah hikmat tersebut?

Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, untuk orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Yesus Kristus, Putera Allah disalibkan, adalah Hikmat Tuhan, yang dengan kasihNya mampu menyelamatkan orang berdosa dari murka Allah, dan kenyataan itu menyatakan kebenaran Allah.

Roma 3: 25, 26,

Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya, Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya
Bagaimana mungkin Tuhan membebaskan para pendosa yang telah menunjukkan rasa tidak bersyukur atas kemuliaanNya, tetapi masih menunjukkan kebenaranNya dan konsistensi komitmenNya terhadap kemuliaanNya? Jawabannya:

Tuhan telah membuat Kristus yang suci dan tidak berdosa menjadi berdosa shingga oleh Kristuslah kita menjadi benar. (2 Korintus 5:21). Dengan mengirim PuteraNya sendiri dalam wujud manusia dan menanggung dosa, Tuhan telah menghukum dosa itu dalam manusia. (Roma 8:3) Dia sendirilah yang telah menebus dosa kita dalam tubuhnya di kayu salib (1 Petrus 2:24) Kristus juga mati untuk dosa-dosa manusia, sekali dan untuk seluruh umat manusia, Dia yang penuh kebenaran menjadi tidak benar, sehingga kita boleh datang kepada Tuhan. (1 Petrus 3:18)
Jadi jika berita terburuk di dunia ini adalah bahwa kita telah jatuh dibawah hukuman Tuhan yang sah dan bahwa Dia harus melakukannya karena KebenaranNya untuk menjaga nilai kemuliaanNya. Hukuman untuk dosa karena ketidak bersyukur an kita, dilakukan dengan cara menumpahkan murkaNya pada kita. Kemudian, berita terbesar yang menggembirakan seluruh umat (berita Injil) adalah bahwa Tuhan bersedia menghukum PuteraNya sendiri sebagai ganti kita (Galatia 3:13), sehingga dengan cara begitu Dia menunjukkan kesetiaanNya terhadap kemuliaanNya, tetapi pada saat yang sama, Tuhan masih menyelamatkan orang-orang berdosa seperti anda dan saya.

Apa yang harus saya lakukan agar diselamatkan?

Tetapi, tidak semua orang berdosa diselamatkan. Semuanya tidak diselamatkan dari murka Tuhan hanya karena Kristus mati untuk orang-orang yang berdosa. Dan inilah kebenaran besar kelima yang perlu kita dengar: ada syarat yang harus anda penuhi agar anda diselamatkan. Dan saya ingin menunjukkan poin terakhir saya yang mengatakan bahwa menjadi seorang Hedonis Kristen adalah bagian dari syarat yang harus kita penuhi tersebut.

”Apa yang harus saya lakukan agar diselamatkan?” Pertanyaan ini mungkin adalah pertanyaan terpenting yang mungkin ditanyakan oleh setiap manusia. Coba kita lihat sejenak beragam cara yang dipakai Tuhan untuk menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan FirmanNya. Jawaban dari Kisah Rasul 16:31 adalah ”Percayalah kepada Yesus dan engkau akan diselamatkan.” Jawaban yang terdapat dalam Yohanes 1:12 adalah bahwa kita harus menerima Kristus :”Bagi semua yang menerima Nya … diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah”. Jawaban dalam Kisah Rasul 3:19 adalah ”Bertobatlah!” Yang artinya ”berbalik dari dosa.” Karena itu bertobatlah dan berbaliklah sehingga dengan demikian dosa-dosamu diampuni”. Jawaban yang terdapat dalam Ibrani 5:9 adalah ketaatan kepada Kristus. ”Yesus menjadi sumber keselamatan kekal bagi semua orang yang taat kepadaNya”. Yesus sendiri memiliki beragam jawaban untuk pertanyaan di atas. Misalnya, dalam Matius 18:3 Dia berkata bahwa syarat yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan adalah sikap yang menyerupai kanak-kanak:

Sungguh, saya katakan dengan serius, jika anda tidak berbalik dan menjadi seperti anak kecil, anda tidak akan pernah memasuki gerbang Kerajaan Surga.
Markus 8:34, 35 menyatakan tentang penyangkalan diri, yaitu sebuah kondisi kesediaan untuk kehilangan kehidupan dunia untuk Kristus:

Setiap orang yang akan mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang akan menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil; ia akan menyelamatkannya.
Dalam Matius 10:37 Yesus mengatakan tentang syarat untuk mengasihiNya melebihi ha-hal yang lain:

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKU” (Baca 1 Korintus 16:22; 2 Timotius 4:8.)
Dan dalam Lukas 14:33 ditulis tentang syarat yang diperlukan untuk selamat, yaitu saat kita tidak terikat oleh harta benda dan milik kita: ”Demikianlah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak dapat melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi muridku.”

Ini adalah syarat-syarat yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru yang harus dipenuhi agar mendapatkan keuntungan dari kematian Kristus di kayu salib dan diselamatkan. Kita harus percaya kepadaNya, menerimaNya, berbalik dari dosa-dosa kita, taat kepadaNya, merendahkan diri kita menyerupai anak kecil dan semakin mengasihinya dengan lebih lagi, melebihi kasih kita kepada keluarga kita, harta benda dan milik kita, dan bahkan hidup kita sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan berbalik menuju Kristus. Dan hal-hal inilah yang merupakan jalan untuk kehidupan kekal.

Satu syarat untuk Keselamatan

Tetapi apa yang kesamaan syarat-syarat tersebut? Apa yang mendorong seseorang untuk melakukannya? Saya rasa, jawabannya tertulis dalam Matius 13:44:

”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya dan membeli ladang itu.”

Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana seseorang berbalik dan dibawa ke dalam Kerajaan Sorga. Dia menemukan harta karun dan karena terdorong oleh sukacitanya, ia menjual semua miliknya agar memiliki harta yang terpendam ini. Anda dikatakan berbalik kepada Kristus apabila Kristus menjadi harta karun yang kudus bagi anda. Kelahiran Baru dari kasih yang kudus ini adalah akar dari keselamatan. Kita dilahirkan kembali – berbalik- apabila Kristus menjadi harta berharga dimana kita bisa menemukan sukacita yang besar dalam mempercayaiNya, mentaatiNya dan berbalik dari segala hal untuk menuju kepadaNya, dan hal-hal tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari kita.

Ada orang yang mungkin akan menentang Hedonisme Kristen: ”Membuat keputusan untuk Kristus tanpa imbalan sukacita adalah hal yang mungkin terjadi.” Saya meragukan hal itu. Masalah yang kita bahas pagi ini bukanlah: ”Bisakah anda membuat keputusan untuk Kristus tanpa imbalan sukacita?” Tetapi masalahnya adalah : Haruskah anda melakukannya? Apakah hal itu akan membawa kebaikan bagi anda bila anda bisa melakukannya? Adakah bukti dalam Alkitab bahwa Tuhan akan menerima orang yang datang kepadaNya tanpa memandang motif, tetapi lebih menunjukkan kerinduan akan sukacita dalamNya? Mungkin ada orang yang akan berkata, ”Tujuan hidup harus untuk menyenangkan Tuhan dan bukan untuk diri sendiri,” Tetapi apa yang menyenangkan Tuhan? Ibrani 11:6:

”Tetapi tanpa Iman orang tidak mungkin berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Anda tidak akan mungkin menyenangkan Tuhan jika anda tidak datang kepadaNya dalam pencarian dan mengharapkan upah.

Apa yang Yesus katakan kepada Petrus saat Petrus terus menyebutkan pengorbanannya dalam menyangkal diri dan berkata, ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau: jadi apakah yang akan kami peroleh?” Yesus melihat benih-benih kesombongan, dengan kata lain Petrus berkata: Kami telah membuat keputusan sebagai pahlawan untuk berkorban demi Yesus” Dan bagaimana Dia menjawab kesombongan yang keluar dari hati Petrus itu? Dia berkata:

Tidak seorangpun meninggalkan segala sesuatu demi Aku yang tidak akan menerima kembali seratus kali lipat, sekarang dan pada waktu yang akan datang, dan dalam kehidupan kekal.

Petrus, jika kamu tidak datang kepadaKu karena Aku adalah harta terbesar dari segala yang kau miliki, maka kamu tidak bisa datang kepadaKu sama sekali. Kamu masih mencintai dirimu sendiri dan segala yang kamu miliki. Kamu tidak menyerupai anak kecil yang minta sesuatu dari Bapanya. Adalah kesombongan yang menginginkan segala sesuatu lebih dari dari seorang bayi yang bagaikan ranting menginginkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dari Kristus sebagai pokoknya. Syarat keselamatan adalah anda datang kepada Kristus dalam pencarian upah dan anda akan temukan dalam DIA harta karun terbesar yang kudus.

Sebagai kesimpulan: Ada 5 kebenaran besar yang harus dimiliki setiap orang. Pertama, Tuhan adalah Pencipta dimana kita berhutang ucapan syukur dan terimakasih atas segala yang kita miliki. Kedua, Tak seorangpun dari kita memiliki rasa syukur dan terimakasih yang dalam dan tulus dan terus menerus yang harus kita berikan kepada Pencipta kita. Ketiga, Dengan demikian, kita berada dalam penghukuman Tuhan yang Maha Benar. Rasa Sentimen kita yang sah menunjukkan bahwa kita ini bersalah. Keempat, Kematian Yesus Kristus untuk dosa-dosa kita sudah dibuat Tuhan sebagai jalan untuk memenuhkan tuntutan kebenaranNya, yang dengan demikian kematian Kristus tersebut menyediakan keselamatan bagi orang-orangNya. Terakhir, syarat yang harus kita penuhi dari keselamatan besar yang diberikan ini adalah dengan berbalik kepada Kristus – dan kondisi berbalik kepada Kristus ini akan terjadi apabila Kristus menjadi harta berharga yang kudus dan sumber segala sukacita. Setiap undangan keselamatan berakar dalam janji akan harta yang besar. Kristus sendiri yang menyediakan kompensasi yang begitu besar untuk setiap pengorbanan. Undangan keselamatan itu bersifat hedonistik:

”Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran. Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. (Yesaya 55:1-3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: