Just another WordPress.com site

by. John Piper

Efesus 4:31-5:2

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Ayat ini sangat kaya hingga kita bisa mengambil hampir setiap frasenya dan merenungkannya berjam-jam. Tapi saya memutuskan untuk menyatukan pemikiran kita di sekitar perintah sederhana di ayat 32, “Ramahlah seorang terhadap yang lain.”

Lima Aspek keramahan Orang Kristen

Saat saya merenungkan ayat-ayat ini di mata saya ayat ini mengatakan kepada lima hal tentang keramahan Kristen:

jangkauan keramahan Kristen,
kedalaman keramahan Kristen,
pola keramahan Kristen,
instrumen keramahan Kristen, dan
sumber keramahan Kristen.
Mari kita pelajari satu demi satu. Dan saat mempelajarinya mari kita berdoa agar Roh Allah akan menjunjung Firman-Nya dengan membuat kita diubahkan oleh firman.

1. Jangkauan keramahan Kristen

Berapa banyak keramahan yang harus kita tunjukkan? Hal ini dibahas dalam ayat 31. keramahan Kristen sangat luas sehingga menggantikan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. . .demikian pula segala kejahatan.” Kata “segala” digunakan dua kali; di awal, ” “segala kepahitan,” dan di akhir, “segala kejahatan.” Inilah bagian manusia lama yang rusak yang harus ditanggalkan. Dan keramahan merupakan manusia baru yang harus dikenakan. Paulus masih memberikan ilustrasi khusus prinsip-prinsip di ayat 22-24.

Kemarahan dan Keramahan

Tetapi muncul pertanyaan apakah semua amarah dan kemarahan harus digantikan oleh keramahan. Kepahitan, ya. Pecahnya pertikaian kekerasan, ya. Pergunjingan dan membicarakan di belakang, ya. Kejahatan, ya. Semuanya, tanpa kecuali, harus dibuang. Tapi bagaimana dengan kegeraman dan kemarahan?

Kami menghabiskan sepanjang malam bersama dua minggu lalu berusaha untuk mendapatkan kesimpulan. Ayat 26 berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Dan Yakobus 1: 19 berkata, “Dan juga lambat untuk marah.” Dan Markus 3:5 berkata bahwa Yesus memandang orang-orang Farisi dengan marah. Apakah keramahan Yesus selalu menjangkau orang Farisi? Apakah ramah berkata kepada mereka, seperti yang dikatakan Yesus di Matous 23: 27, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih”? Apakah keramahan saat Ia berkata di Matius 23:15, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk menobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Apakah keramahan ketika Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir penukar-penukar yang dari bait suci dan membalikkan meja-mejanya (Yohanes 2: 15, Matius 21: 12)?

Jika Anda berjalan bersama Yesus setelah ia melakukan hal-hal itu dan berkata, “Yesus, tidak baik mengatakan apa yang Anda katakan kepada orang Farisi, ” apa yang akan dikatakan Yesus? Kemungkinan ada dua hal yang ia katakan, Ia seharusnya dapat mengatakan, “Kadang-kadang hati kasih dan semangat untuk kebenaran tidak mengekspresikan diri dalam bentuk keramahan.” Atau dia bisa saja berkata, “Ada sejenis keramahan yang bisa saja sekeras kuku dan setangguh kulit.” Menurut Anda mana yang akan Ia katakan: “keramahan cukup besar untuk mencakup cambukan dan kesengsaraan”? Atau: “keramahan adalah salah satu bentuk kebenaran, tetapi tidak selalu yang terbaik”?

Saat saya sudah melihat semua penggunaan kata “keramahan” di dalam Perjanjian Baru, saya pikir kita akan lebih menghormati kelembutan khusus kata itu dengan mengatakan bahwa Yesus tidak bersikap ramah terhadap orang-orang Farisi. Dia keras terhadap mereka. Dan Roma 11:22 memisahkan antara kemurahan Allah dan juga kekerasannya. Jadi keramahan bukanlah kebaikan mutlak. Hal ini tidak selalu yang paling berbelas kasih. Ini mungkin melibatkan kompromi dengan kejahatan sangat serius sehingga dalam jangka panjang itu menyakitkan orang itu lebih besar daripada membantu. Daerah ini tidak benar-benar keramahan Kristen

Jangkauan Kasih Kristus yang Tidak Terbatas

Jadi ketika Paulus berkata di Efesus 4:26 bahwa kita boleh marah tapi jangan berdosa, kemudian dikatakan dalam ayat 31-32, dan membuang kemarahan dan menjadi ramah, menurut saya maksud Yesus adalah hal ini: Segala kepahitan dan kejahatan harus dibuang. Letusan dalam fitnah dan pertikaian harus dibuang. Tapi ketika berbicara tentang kemarahan emosional dan Anda merasa bahwa ajaran Kristus tidak ditaati dan kemuliaan Allah menghilang dan keramahan gereja berada dalam bahaya, maka, di bawah otoritas Roh Kudus, Anda harus memilih: akankah saya melampiaskan kemarahan saya dalam kekerasan karena pokok kebenaran dan kekudusan dipertaruhkan, atau akankah saya mempermalukan kemarahan saya dengan keramahan karena ada terlalu banyak ego di dalamnya?

Keduanya mungkin dalam jalan kebenaran. Dan dengan demikian jangkauan keramahan Kristen tidak spesifik. Mungkin lebih luas atau lebih sempit dari yang kita pikirkan. Ini merupakan panggilan untuk pemeriksaan diri dalam terang Kitab Suci dan tipuan hati kita sendiri.

2. Kedalaman Keramahan Kristen

Intinya di sini adalah keramahan Kristen bukan semata perubahan luar tingkah laku; keramahan Kristen merupakan perubahan dalam hati. Ayat 32 berkata, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, . .” Keramahan Kristen berhati lembut. Jika hati keras di dalam dan tingkah laku lembut dan sopan serta berguna di luar, itu bukanlah keramahan Kristus.

Ide dibalik “berhati lembut” adalah bagian dalam kita mudah tersentuh. Jika kulit Anda lembut, tidak perlu sentuhan yang terlalu kuat untuk membuatnya merasa sakit. Jika hati Anda lembut, hati Anda mudah dipengaruhi. Hati Anda mudah dan cepat merasa.

Apabila Anda berhenti dan memikirkannya, mengagumkan bahwa hal ini diperintahkan oleh rasul itu. Anda tidak bisa hanya memutuskan untuk berhati lembut dan menghidupkannya seperti keran. Berhati lembut merupakan kualitas karakter yang dalam. Dari mana asalnya? Bagaimana kita bisa menaati perintah ini untuk membuat keramahan kita satu sama lain dalam dan berasal dari hati, bukan dibuat-buat dan dingin? Kita akan melihatnya saat kita lanjutkan.

3. Pola Keramahan Kristen

Dua pola keramahan Kristen diberikan kepada kita di ayat itu. Pertama adalah pengampunan Allah. Kedua adalah kasih Kristus.

Yang pertama kita lihat di ayat 32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Jadi apabila keramahan meminta pengampunan, polanya adalah pengampunan Allah di dalam Kristus.

Pola kedua tampak dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Jadi ketika kasih mengekspresikan dirinya dalam keramahan, polanya adalah kasih Allah yang memberi dirinya untuk kita.

Empat Kualitas Pengampunan Allah

Apa yang diajarkan oleh kedua pola keramahan ini kepada kita tentang ramah seorang terhadap yang lain? Mari kita lihat satu demi satu. Apa yang diajarkan oleh pola pengampunan Allah kepada kita tentang pengampunan kita? Empat hal yang terbersit dalam pikiran:

Pengampunan Allah menganggap dosa secara se Pengampunan bukanlah kesembronoan terhadap dosa. Pengampunan melihat dosa dan mengidentifikasinya-dan kemudian menutupinya. Allah mengampuni apa yang Ia benci. Ketika saya memanggil seorang pria baru-baru ini untuk meminta maaf atas sesuatu yang telah saya katakan dan meminta maaf darinya, ia tidak mengatakan, “Tidak ada bedanya.” Atau: “Aku tidak mendengarnya.” Ia mengatakan dengan tulus dan hangat, “Sudah dimaafkan dan dilupakan.” Dan saya mendapat kesan mendalam bahwa ia bersungguh-sungguh mengatakannya.
Pengampunan Allah mencakup penyelesaian masalah dan demikian juga kita. Setiap dosa yang pernah dilakukan akan mendapat hukuman setimpal-baik di neraka maupun di atas kayu salib. Allah tidak pernah menyapu satu kebohongan kecil ke bawah karpet. Orang selalu membayar. Jadi ketika keramahan meminta kita untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan kepada kita, kita ditopang oleh kebenaran kekudusan Allah. Kesalahan itu akan diatasi dengan: baik orang yang melakukannya kepada kita pada akhirnya akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan dihukum dalam kemarahan yang ditimpakan kepada Kristus ketika Tuhan menanggung kesalahan kita semua (Yesaya 53:4-6); atau orang yang melakukan kesalahan kepada kita pada akhirnya tidak akan percaya kepada Kristus, di mana kesalahan yang mereka lakukan akan dihukum dalam penderitaan neraka. Dan dalam kedua kasus kita tidak boleh takut mengampuni seakan-akan tidak ada penyelesaian di dunia ini.
Pengampunan Allah mahal dan demikian juga pengampunan kita. Harganya adalah Anak-Nya. Dan harga pengampunan kita adalah manisnya balas dendam dan kesenangan menikmati kebencian dan kebanggaan superioritas.
Pengampunan Allah nyata dan demikianlah harusnya pengampunan kita. Tidak ada kepalsuan di dalamnya. Ketika Ia mengampuni, kita benar-benar dipulihkan. Tidak ada yang tertahan di kepala kita yang akan mengintimidasi kita kemudian. Semuanya sirna. “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12). Jadi kita tidak memenuhi standar pola ilahi kita jika kita mengampuni kesalahan namun diam-diam menyimpannya dalam pikiran kita untuk kemudian diingat-ingat. Jika kita mengampuni, marilah kita mengampuni seperti Allah di dalam Kristus mengampuni kita.
Tiga Kualitas Kasih Allah

Itulah pola pengampunan Allah dan empat hal yang dapat kita pelajari dari hal itu dalam mengejar jalan keramahan. Pola kedua bagi keramahan kita adalah kasih Kristus dalam Efesus 5: 2, “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.” Apa yang diajarkan oleh pola kasih Kristus kepada kita tentang kasih kita? Dari semua hal yang bisa kita ucapkan izinkan saya menyebutkan tiga saja.

Kita tidak layak menerima kasih Kristus, dan dengan demikian kita tidak boleh bersikeras bahwa agar orang berjuang mendapatkan kasih dan keramahan kita. Yesus berkata dalam Lukas 6:35, “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka. . .dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tak seorang pun dari kita layak untuk dikasihi oleh Yesus Kristus. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma (Matius 10:8).
Kasih Kristus untuk kita kudus dan kasih kita haruslah kudus. Tujuan kasih Kristus adalah kekudusan gereja-Nya. “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. . .upaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya . dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” 9Efesus 5:25-27). Dan karena itu kita harus menyingkirkan semua konsep kasih yang digerakkan oleh sentimen dan emosi. Kasih bertujuan untuk kekudusan pria dan wanita, bukan atau perasaan atau kesenangan duniawi mereka. keramahan Kristen bukanlah strategi untuk menghindari konflik. keramahan Kristen berpola pada kasih Kristus dan bertujuan untuk meningkatkan kekudusan.
Kasih Kristus untuk kita penuh pengorbanan dan penyangkalan, dan demikianlah seharusnya kasih kita. Pada dasarnya ini sama dengan yang kita katakan sebelumnya, yaitu, bahwa kasih Allah itu mahal. Tapi baik untuk mengatakannya lagi. Karena setiap kita tahu bahwa hal tersulit mengenai keramahan Kristen adalah menunjukkannya ketika menyakitkan. Saya tidak pernah melupakan keramahan yang ditunjukkan kepada saya oleh Frau Dora Goppelt pada tahun 1974 selama minggu-minggu setelah kematian mendadak suaminya, pembimbing doktor saya di Jerman. Merupakan keajaiban anugerah ketika rasa sakit sedemikian besar sehingga Anda tidak tahu jika Anda bisa bertahan hidup sehari lagi, tapi Anda mengulurkan keramahan kepada mahasiswa asing dan meyakinkan dia kembali bahwa tiga tahun kerja keras itu tidak akan hilang dengan kematian pembimbingnya.
Sebuah keajaiban anugerah! Hal itu membawa kita pada hal keempat yang diajarkan ayat ini tentang keramahan Kristen. Kita telah melihat jangkauan keramahan Kristen yang menggantikan kepahitan dan kejahatan dan fitnah. Kita telah melihat kedalaman keramahan Kristen dalam kelembutan hati. Kita telah melihat pola keramahan Kristen dalam pengampunan Allah dan kasih Kristus. Sekarang kita melihat:

4. Instrumen keramahan Kristen

Apa yang saya maksudkan dengan “instrumen” keramahan Kristus? Saya ingin bertanya, Apa yang harus kita gunakan atau pakai untuk menjadi ramah dan berhati lembut?

Kata Kerja Pasif

Jawabannya ditunjukkan dalam bentuk kata kerja dalam ayat 31. Secara harfiah ayat itu mengatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Kata kerjanya pasif. Ini pastilah petunjuk bahwa instrumen keramahan kita bukan semata diri kita sendiri. Jika tergantung pada diri kita, kita tidak akan lebih mampu membuang kepahitan dan kejahatan dari hati kita daripada kita mengangkat diri kita dari tali sepatu kita sendiri. Tidak terletak dalam diri kita.

Semuanya itu harus DIBUANG dari kita. “Segala kepahitan . . DIBUANG dari Anda.” Seseorang yang lain bekerja selain kita. Hal yang sama kita lihat di ayat 23: “SUPAYA kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, (Kata kerja pasif lainnya!) Pastilah ada kuasa atau orang yang membaharui. Pastilah ada kuasa yang mengambil kepahitan dan kejahatan dari hati saya dan membuat saya berhati lembut dan ramah.

Roh Kudus dan Iman

Dan kita tahu apa kuasa itu (siapa orangnya!) karena Galatia 5: 22 berkata dengan jelas, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, keramahan, kesetiaan. . . “Jika Roh Allah tidak masuk ke dalam hidup kita untuk melakukan pekerjaan supra natural, kita bisa saja mampu meningkatkan penampilan tingkah laku luar, tapi racun di dalam tetap ada. Akan hal ini Paulus berkata, “Dijauhkanlah hal itu.” Ini adalah seruan untuk pekerjaan Roh Kudus untuk mengalahkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Kedua pertanyaan tidak terjawab. Kita masih harus bertanya, Apa instrumen di mana saya sesuai kuas Roh Kudus? Jawabannya adalah iman. Roh bergerak dalam saluran iman. Paulus berseru dalam Galatia 3:2-3, “Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?

Dan jawaban kita haruslah jelas, TIDAK! Saya tidak sedang mencoba mengatasi kepahitan, kegeraman, dan kemarahan, dan pertikaian dan fitnah dan kejjahatan saya dengan kuasa daging! Saya ingin melihat Roh Kudus berbuah dalam hidup saya. Bagaimana saya tampak? Apa yang saya lakukan? Saya melakukan apa yang saya lakukan untuk terutama menerima-Nya Saya percaya. Saya percaya.

Yang meninggalkan sebuah pertanyaan terakhir: Apa yang harus saya percayai, untuk melihat Roh Kudus mengalahkan kepahitan dan kemarahan serta kejahatan hati saya dana membuat saya lemah lembut dan ramah? Itulah hal kelima yang diajarkan ayat kita tentang keramahan Kristen.

5. Sumber keramahan Kristen

Ayat tersebut mengatakan kepada kita bahwa kita harus percaya bahwa Roh Kudus mengalahkan kejahatan di dalam hati kita. Tiga hal:

Kita harus percaya bahwa Kristus mati menggantikan kita. Ayat 2 “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Itu sungguh kalimat yang mengerikan—bahwa pembantaian Anak-Nya harum bagi Allah. Di dalam kalimat ini ada realitas yang sangat hebat dan sangat mengerikan dan sangat luar biasa dan sangat mengenaskan sehingga ketika kita mempercayainya, realitas itu merupakan kuasa Allah untuk penyucian dan pecabutan besar ketidaramahan.
Kita harus percaya bahwa Allah telah mengampuni semua dosa kita. Ayat 32: ” . . .dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Untuk menjadi ramah, Anda harus diampuni. Untuk menjadi ramah, Anda harus percaya bahwa Anda diampuni atas segala dosa yang pernah Anda lakukan dan yang akan pernah Anda lakukan. Untuk tahu dan percaya bahwa setiap tamparan di muka Allah telah diampuni secara cuma-cuma di dalam Yesus Kristus menghancurkan hati orang Kristen dan membuatnya rendah hati, lembut, dan ramah.
Akhirnya, kita harus percaya bahwa kita dikasihi oleh Allah. Ayat 1: “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Seperti anak-anak KEKASIH! Anak Allah, Anda dikasihi oleh Allah! Percayai ini dengan segenap hatimu, dan Anda akan melihat mujizat di dalam hidup Anda—buah Roh, karunia Allah!
Saudara dan saudari di dalam Kristus, marilah kita mempercayai hal-hal ini, dan ramah seorang terhadap yang lain! Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: