Just another WordPress.com site

Mencari kebenaran metode/tata cara baptisan sedikit banyak telah menggiring pemahaman umat untuk fokus pada bentuk dan bukan pada content. Pada akhirnya perdebatannya adalah dengan cara apakah gereja masa kini melakukan ‘pembaptisan’? Selam atau Percik? Namun demikian, baiklah dilakukan penelusuran terhadap baptisan yang diterima Yesus hingga baptisan yang diperintahkan Yesus. Yesus secara sadar dan iklas menerima baptisan Yohanes yang sebelumnya hadir dengan membawa seruan: ‘bertobatlah dan berilah dirimu di baptis sebab Kerajaan Surga sudah dekat’. Apakah Yesus memerlukan pertobatan? Jika tidak, apa sebenarnya efektifitas pembaptisan yang Ia terima. Seruan Yohanes harus dipahami dalam 2 nuansa.
Pertama: penyataan ilahi bagi Israel atas penjajahan Romawi karena dosa pemberontakan mereka. Ada panggilan untuk ‘membersihkan diri’ dari kenajisan pemberontakan terhadap Allah.
Kedua: penyataan ilahi bagi Israel atas masih adanya harapan baru mengenai pemulihan identitas umat Allah mengenai status kewargaan sorgawi. Israel seharusnya adalah warga sorgawi dan bukan warga jajahan Romawi. Jadi pembaptisan merupakan ‘simbolisasi’ masuknya/diterimanya kembali Israel ke dalam Kerajaan Sorga yang sudah datang.
Dari 2 nuansa ini jelas bahwa Yesus tidak membutuhkan baptisan Yohanes (makanya Yohanes membuat pengakuan bahwa dirinyalah yang seharusnya dibaptis oleh Yesus, bahkan ia tidak layak membuka kasut Yesus), namun Ia toh rela menerimanya oleh karena Ia secara simbolik sedang membuktikan bahwa Allah telah berinisatif untuk menjadi wakil umat bagi keselamatan umat.
Pertanyaan berikutnya: kenapa selam? berkali-kali Alkitab (khususnya Perjanjian Lama) menunjukan bahwa pembaptisan dengan cara diselamkan merupakan demonstrasi yg efektif secara horisontal untuk simbolisasi pentahiran (imamat 14:8-9, contohnya Naaman), sedangkan percik adalah demonstrasi yg efektif secara vertikal (Im. 14:7, contohnya antara lain perkakas bait Allah). Masing-masing (selam maupun percik) memiliki nilai teologis yg sama unggulnya hingga oleh para bapa gereja diterima sebagai bagian dari sakrament (latin, sacramentum-pengingat/penanda). Pertanyaan berikutnya: apakah Tuhan Yesus ‘mewarisi’ baptisan Yohanes ketika memberi perintah kepada para murid-Nya (mis. Injil Matius 28:19)? Inilah bagian tersulit secara teologis, namun demikian, sebelum perintah ini diberikan Tuhan Yesus berkata: ‘kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi’ dan kuasa itu ‘memperlengkapi’ penugasan (mulai dari kata pergilah dan seterusnya) yg sesungguhnya sedang merujuk ingatan para murid akan peristiwa proklamasi kelembagaan spiritual gereja yg dilakukakan Tuhan Yesus beberapa waktu sebelumnya (Mat. 16:19).
Jadi tetap ada perbedaan antara baptisan Yohanes yg diterima Tuhan Yesus dan perintah Tuhan Yesus untuk membaptiskan. Baptisan Yohanes merujuk pada simbolisasi tindakan/keputusan pada pertobatan sebagai bentuk ‘pemulihan’ dari warga jajahan menjadi kewargaan sorga, sedangkan perintah Tuhan Yesus untuk membaptiskan adalah penanda dari diterimanya anugerah ilahi dari mereka yang menerima kuasa menjadi murid yang diikat dalam persekutuan Tubuh Kristus, yang nantinya akan terus menerus memberi diri untuk diajar melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan Yesus (inilah yg kemudian menjadi pola hidup jemaat mula-mula dalam kisah para rasul 2:41-42, inilah juga yang dimaksudkan oleh Paulus ketika berkata Yesus adalah Kepala dan yang sulung-Kolose 1:18).
Kiranya melalui penjelasan yg terbatas ini mampu memberikan sedikit pencerahan agar kita fokus pada content alasan masing-masing kita memberi diri dibaptis baik secara selam maupun percik, yaitu menjadi 1 dalam persekutuan Tubuh Kristus sehingga semakin hari menjadi serupa dengan Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita.

Comments on: "Baptisan: Selam vs Percik?" (3)

  1. Yunit Drs said:

    Nampaknya rohani si penulis masih suam-suam kuku, tidak ada kejelasan, masih buram. Hal ini terbukti dari tulisannya yang mengatakan semuanya benar dan syah-syah saja.. Sebagai Laskar Kristus harus berani mengatakan; salah kalau memang itu salah, dan katakan benar kalau memang itu benar. Saya yakin si penulis sangat tahu semuanya, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu karena ia takut. Jangan takut kepada manusia, kelompok, golongan, denom dan sebagainya, tetapi takutlah kepada Tuhan Yesus. Saya yakin bahwa Yesus (Roh Kudus) sangat sedih dengan tulisan ini. Waspadalah. JBU.

    • apa landasan teologis dari anda bahwa baptisan yang ‘paling benar’ adalah baptisan selam. apakah baptisan selam memberi keselamatan? apakah Tuhan Yesus secara spesifik memberi perintah untuk dibaptis secara selam? jika Ya, kenapa bahkan para rasul tidak ada yang mempraktekkan baptis selam? telitilah Alkitab, satu-satunya baptisan selam (itu pun masih perlu ditafsir ulang secara gramatikal dan bukti sekender lainnya) dalam Alkitab adalah baptisan yang dilakukan oleh Filipus kepada sida-sida dari Etiopia. adakah anda telah mempelajari Alkitab secara komprehensif, sistematis dan integrated sehingga memberikan pendapat bahwa tafsiran yang saya lakukan salah. Anda tidak mengenal saya, latar belakang pendidikan teologi saya kemudian langsung memberi cap yang negatif, apakah itu bertanggung jawab?

  2. rimasiar said:

    Hehe dpt refrnsi lagi.
    Maklum ada org muslim yg nanya.
    Thanks ya blg nya
    Jbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: