Just another WordPress.com site

Iman dan Kesalehan

Ayub seorang yang saleh (dalam penilaian manusia) telah benar-benar hidup dalam perilaku (doing) kesalehannya. Bahkan tidak ada seorang pun yang mampu ‘melebihi’ kesalehan hidup Ayub. Setan melihat kesalehan Ayub berdasarkan 2 hal yaitu: pertama, kesalehan Ayub memenuhi seluruh kriteria kesalehan yang ada di dunia. Kedua, kesalehan Ayub terlihat dari perilakunya. Setan pun memikirkan realitas kesalehan yang ‘lebih dari pada itu’, apakah Ayub terbukti saleh dalam keseluruhan aspek kesalehan pribadinya (hal ini hanya diketahui oleh Allah saja) yaitu dalam thinking, filling dan doing? Setan pun ‘meminta izin’ dari Allah untuk mengujinya (Allah sebagai yang berdaulat atas Ayub yang juga Mahatahu memilih untuk mengizinkannya).
Realitanya memang kesalehan kita sering sekali terjebak hanya pada doing. Untuk itu Ayub diperhadapkan dengan realita hidup yang tak terbayangkan oleh karena tidak ada contoh soal sebelumnya. Namun demikian, Ayub telah belajar lebih dari siapapun tokoh (kecuali Yesus Kristus) dalam sepanjang sejarah Alkitab perihal bagaimana memaknai realita hidup yang tidak adil tersebut.
Pertama, Allah harus dikenal dalam realita Allah yang hidup.
Kedua, berelasi dengan Allah seharusnya dalam relasi yang hidup juga.
Ketiga, Allah adalah Allah pada diri-Nya sendiri dan bukan pada image manusia. Ingatlah rumusan sedehana: awalnya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, selanjutnya (dalam proses berelasi) manusia kembali menciptakan Allah tersebut dalam gambar dan rupanya. Hanya dalam realitas inilah persekutuan manusia dengan Allah merupakan persekutuan yang hidup, dinamis dan intim. Anehnya, semua usaha manusia tidak akan bisa membuahkan hasil kecuali Allah menganugerahkan iman kepadanya. Iman bukan sekedar percaya atas sesuatu yang ‘dinalar’ benar, namun iman yang melampaui apa yang mampu ‘dinalar’. Iman sejati (seperti yang diperlihatkan Ayub) adalah:
Pertama: memberikan area yang luas bagi Allah untuk mengintervensi.
Kedua: memberikan ruang yang luas bagi pertumbuhan dalam pengalaman-pengalaman baru yang otentik.
Ketiga: memberikan kesempatan yang luas bagi kepribadian manusia untuk mengenal keilahian Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: