Just another WordPress.com site

Yoh. 14:15-20

Kita mungkin ingat dengan sebuah lagu yang populer pada tahun 90-an yang bagian liriknya antara lain:

Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap hatiku
Aku mengasihi Engkau Yesus
Dengan segenap jiwaku …

Lagu ini begitu tulus menyatakan keinginan untuk mengasihi Yesus dengan segala yang dimiliki: dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Sesungguhnya orang percaya telah diberikan modal yang cukup oleh Allah untuk mengasihi-Nya, selain itu, Allah juga memberikan alat-alat anugerah untuk menyatakan kasih itu. Bahkan, titah-Nya telah disediakan agar orang percaya semakin tumbuh dalam keserupaan dengan Kristus. Inilah wujud yang sesungguhnya dari kasih kepada Allah. Mengasihi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa adalah aspek spiritual orang percaya dihadapan Allah, yang dengannya termanifestasi kerinduan untuk intim dengan Allah , belajar peka akan kehadiran Allah , serta menikmati persekutuan mistik dengan Allah. Inilah Aspek beriman kepada Allah dari orang percaya, yang oleh Paulus dijelaskan sebagai keselamatan oleh kasih karunia melalui iman, bukan karena usaha sendiri, tetapi pemberian Allah (Ef. 2:7).
Namun demikian, bagaimana mewujudkan kasih dalam tindakan adalah aspek yang juga tidak kalah penting dengan mewujudkan kasih dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Bahkan dengan tegas rasul Yakobus berkata bahwa jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (Yak. 2:17. Tidak memahami secara benar konsep iman akan membuat orang-orang berpikir bahwa sedang terjadi kontradiksi antara rasul Paulus dan rasul Yakobus. Iman yang dibicarakan oleh rasul Paulus adalah iman dalam ranah anugerah tindakan aktif Allah untuk menjadikan seseorang memiliki kemampuan untuk mengasihi Allah secara intrinsik, sedangkan iman yang dibicarakan oleh rasul Yakobus adalah iman sebagai konsekuensi logis (Yakobus menulis dalam nuansa keharusan) untuk mengasihi Allah secara ekstrinsik.
Kedua hal diatas tidak bisa dipisahkan. Mengasihi Allah secara intrinsik dan ekstrinsik seperti dua sisi keping mata uang logam. Konsekuensi logis dari mengasihi Allah secara intrinsik adalah menghasilkan kasih kepada Allah secara ekstrinsik. Kasih kepada Allah secara ekstrinsik yang dihasilkan tanpa kasih secara intrinsik adalah tindakan sia-sia sama seperti kasih kepada Allah secara intrinsik adalah juga sia-sia tanpa kasih secara ekstrinsik. Rasul Paulus dan rasul Yakobus sama-sama memberi penegasan akan hal yang essensi dari mengasihi Allah. Nilai penting dari keduanya ada dalam perintah Tuhan Yesus: Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (Yoh. 14:15).
Apabila mengasihi Allah secara intrinsik telah dibahas di awal sebagai mengasihi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka kasih kepada Allah yang ekstrinsik adalah kasih yang nyata dalam perbuatan yang oleh rasul Paulus disebut sebagai buah roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Dalam prinsip yang sama tapi dengan nuansa berbeda rasul Petrus memberikan perintah kepada jemaat agar dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara dan kasih kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang (2 Pet. 1:5-7).
Kata kunci atas kasih kepada Allah secara intrinsik adalah keintiman, sedangkan kata kunci atas kasih kepada Allah secara ekstrinsik adalah ketaatan. Keintiman dan ketaatan adalah prinsip yang essensial dari relasi yang kasih mengasihi, tidak ada apapun yang bisa menggantikan prinsip ini. Sayangnya setiap usaha yang dibuat manusia untuk melakukannya dalam relasi dengan Allah selalu berbuahkan kegagalan atau paling tidak sebagian besar momentum keintiman dan ketaatan tidak terpenuhi dengan sempurna. Inilah masalah umum dan crusial yang dihadapi seluruh orang percaya. Tidak ada seorang pun yang mampu sekaligus menunjukan ketaatan dalam keintiman dan keintiman dalam ketaatan. Rasul Paulus bahkan membuat sebuah pengakuan yang paling tulus “demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Rm. 7:21).
Apakah tidak ada harapan bagi kita untuk dapat mengasihi Yesus dalam ketaatan? Apakah tuntutan menunjukan ketaatan dalam keintiman dan keintiman dalam ketaatan dibuat Allah supaya manusia selalu mendapati dirinya gagal? Tentu saja tidak, Tuhan Yesus dalam prinsip paradoksialnya berkata: marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Mat. 11:28-30).
Untuk itu, Tuhan Yesus telah menyediakan diri memberikan solusinya saat Ia berkata: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14:16-27).
Hadirnya Roh Penolong yang kemudian kita kenal dengan nama Roh Kudus mula-mula secara pribadi diberikan Allah kepada 11 murid , kemudian secara komunal diberikan kepada kelompok pengikut Yesus sebanyak kurang lebih 120 orang pada hari pentakosta. Roh yang sama diberikan kepada kita, seperti yang dijelaskan oleh rasul Paulus ketika berkata: sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memateraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita (2 Kor. 1:21-22).
Dengan demikian, Allah telah memberikan modal yang cukup bagi kita untuk mengasihi-Nya dalam ketaatan. Ketaatan untuk mengasihi Allah dalam keintiman serta keintiman untuk mengasihi Allah dalam ketaatan. Hal yang perlu kita gumuli secara pribadi adalah apakah hidup kita berselaras dengan realita hidupnya Allah di dalam kita? Tuhan Yesus telah berjanji setia dan tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu dan janji-Nya ini adalah bukti bahwa Tuhan Yesus ada di dalam kita dan kita ada di dalam Allah (Yoh. 14:18-20). Syaratnya adalah satu yaitu tinggalah di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kita tidak tinggal di dalam Tuhan Yesus (Yoh. 15:4). Kiranya Allah melalui Roh Kudus memampukan kita untuk mengasihi Tuhan Yesus dalam ketaatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: