Just another WordPress.com site

Sudah Selesai

Wes rampung? Tanya seorang teman ketika saya terlihat membawa map menuju ruangan dosen pembimbing skripsi. Spontan saya menjawab: “mungkin”. Dia pun makin heran: “koq mungkin”. Saya berlalu meninggalkannya yang terheran-heran. Pembaca mungkin akan berpikir sama: “seharusnya jawabannya sudah selesai dan bukan mungkin”. Tetapi pikiran saya tetap: “mungkin”. Beberapa alasan filosofisnya: (1) mungkin belum selesai, sebab nanti mungkin akan dicoret-coret oleh dosen pembimbing; (2) mungkin belum selesai, sebab wisuda masih belum dilaksanakan; (3) mungkin belum selesai, sebab bisa saja ada penelitian berikutnya yang mematahkan analisa saya dalam skripsi ini; (4) mungkin belum selesai, sebab waktu yang akan memberi bukti kebenaran hasil penelitian yang saya kerjakan. Jadi, mungkin tidak akan pernah selesai.
Pernahkah kita berpikir sebelum berkata sudah selesai? Seorang siswa berjalan kearah saya sambil membawa kertas ulangan dan berkata “sudah selesai” pak. Padahal waktu ujian baru berjalan 10 menit. Kertas ulangannya langsung saya periksa dan hasilnya luar biasa. Dari 10 soal hanya 5 yang dijawab itu pun dengan 2 saja jawaban benar. Sudah selesai dalam kasus ini berarti saya menyerah pak. Beberapa menit berikutnya, seorang siswa lainnya melakukan hal serupa dengan ungkapan yang sama juga: “sudah selesai” pak. Setelah saya koreksi hasilnya lumayan. 10 nomor dikerjakan seluruhnya dengan 5 jawaban yang tidak tepat sasaran pertanyaan. Sudah selesai disini berarti saya tidak sanggup dan memilih untuk gagal pak.
Pernahkah kita mengerjakan sesuatu dan pada akhirnya berkata sudah selesai? Tape recorder kami tiba-tiba rusak, dan terpaksa harus masuk ke ruang rawatnya. Esok harinya tukang reparasinya datang sambil membawa tape recorder dan berkata: sudah selesai pak. Disini berarti perbaikan sudah selesai. Dua minggu berikutnya tape recorder mengalami kerusakan yang sama dan terpaksa masuk ruang rawat lagi. Beberapa saat kemudian sang tukang datang dan melakukan hal yang sama: membawa tape recorder sambil berucap “sudah selesai”. Belum genap seminggu rusak lagi. Akhirnya tape recorder itu di biarkan saja rusak, sebab kalau pun diperbaiki dan dinyatakan “sudah selesai” maka itu berarti tidak lama lagi akan rusak kembali. Sudah selesai disini artinya untuk sementara masalah bisa di atasi tapi bukan berarti tidak akan terjadi lagi.
Jadi kalau begitu layakkah kata “sudah selesai” sungguh-sungguh berarti sudah selesai. Bagi kita jelas tidak layak, sebab sudah selesai bagi kita dapat berarti: menyerah, tidak sanggup atau nanti berlanjut lagi (continue). Sehingga bagi kita istilah sudah selesai hanya ada pada saat sebuah film berakhir. Sudah selesai artinya tamat, the end, itu pun dalam konteks film. Dalam realitanya, sudah selesai justru berarti tidak sungguh-sungguh selesai, masih akan berlanjut atau justru ungkapan yang mewakili ketidak mampuan. Jadi bagaimana, wes rampung? Belum, ini baru pengantarnya.
Setelah melewati via dolo rosa, Yesus tergantung letih, kepayahan, malu, sangat kesakitan di atas kayu kasar yang disilangkan di punggung-Nya. Hukuman, deraan, hinaan rasa-rasanya tidak pernah berhenti, waktu berjalan sedemikian lambatnya. Lidah-Nya pun kian kelu, haus dan kehilangan rasa. Dengan suara berat dan parau, Ia pun berteriak untuk penghabisannya: “sudah selesai”. Apa yang sudah selesai? Kehidupan-Nya? Tidak, karena Ia bangkit lagi. Pelayanan-Nya? Tidak, karena karya masih berlanjut. Perjuangan-Nya? Tidak, karena sampai sekarang pun gereja terus berjuang. Tubuh-Nya? Tidak, karena 3 hari kemudian Allah mempermuliakan tubuh-Nya. Status-Nya? Tidak, karena justru Allah sangat meninggikan-Nya dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Jika demikian, apa yang sudah selesai?
Pertama, sudah selesai berarti semuanya telah tergenapi. Sejak manusia jatuh dalam dosa, Allah senantiasa menyediakan jalan rekonsiliasi, bahkan sebelum semuanya dilaksanakan Allah telah menyingkapkan caranya kepada Adam dan Hawa. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, atara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” sabda Allah (Kej. 3:15). Rangkaian rencana rekonsiliasi dimulai dari diselamatkannya satu generasi dari air bah, berlanjut sampai dipeliharanya satu bangsa dari penjajahan bangsa asing (kisah pembuangan Babel dan Asyur). Puncaknya, Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh. 3:17).
Kedua, sudah selesai berarti semuanya telah dibayarkan lunas. Kejatuhan manusia dalam dosa menyebabkan keterpisahan hubungan antara Allah dan manusia. Bukan hanya hubungan dalam pengertian fellowship (persekutuan), bahkan intimacy (keintiman). Manusia tidak dapat lagi berhubungan langsung dengan Allah. Hubungan hanya dapat terjadi dalam kesempatan ritual (ibadat, mis: Sabbath), seremonial (perayaan: Paska), dan delegasial (imam sebagai perantara). Bukti lunasnya hutang dosa nyata sesudah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Allah mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Ketiga, sudah selesai berarti sungguh-sungguh sempurna. Allah datang mencari dan membuka diri-Nya agar dapat dikenal oleh manusia. Konsep inilah yang menjadikan kekristenan lebih dari sekedar agama. Banyak hal yang telah Allah gunakan untuk menjadikan diri-Nya terjangkau oleh manusia, misalnya taurat, mezbah, bait Allah, sistem pemerintahan, sistem keimaman, pola ibadah. Semuanya ini bagian dari rencana Allah untuk “intim kembali” dengan manusia ciptaan-Nya dan sungguh-sungguh sempurna sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9).
Jadi bagaimana? Wes rampung? Tentu saja sudah, sebab Yesus sendiri yang telah berkata sudah selesai. Jadi bagaimana sekarang? Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (Flp. 4:8-9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: