Just another WordPress.com site

Salib, Wajah Solider Allah
Tujuan utama Yesus dengan rela mengerjakan semua penderitaan-Nya adalah menyelesaikan karya penebusan, hutang dosa manusia telah dilunasi dan rencana keselamatan kekal sudah dianugerahkan. Secara teologis semua hal diatas tidak dapat diragukan, tetapi apabila diperhatikan dari sudut pandang yang lain, Yesus telah memberikan penggambaran yang jelas bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia …”
Tentu saja Allah hadir dan menyertai umat-Nya dalam segala keadaan. Turut bekerja bukan saja berarti bahwa Allah pernah mengalami penderitaan tetapi juga turut merasakan setiap pergumulan yang dihadapi umat. Begitu dekatnya ungkapan ini, sampai-sampai nuansa yang timbul disana adalah berada dalam keadaan sukcaita. Bahkan Paulus dengan tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa oleh karena Allah, ia ikut ambil bagian dari apa yang kurang dalam penderitaan Kristus.
Bagaimana mungkin memberikan penggambaran yang tepat bahwa Allah solider atas pergumulan manusia? Solider dalam bentuk yang paling dalam berarti bahwa Allah hadir dan ikut mengalami penderitaan bersama-sama dengan pelaku utama yaitu manusia. Dengan demikian pemahaman tentang Allah akan sama dengan pandangan agama suku tentang allah yang tidak mampu bahkan untuk membela dirinya sendiri, sehingga harus ada sekelompok orang yang menjadi pembelanya. Tetapi dengan melepaskan Allah dari realitas tersebut akan sama saja dengan pengakuan filsafat bahwa Allah sudah terlalu menikmati “dunianya” sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan ciptaan-Nya.
Epikuros salah satunya yang memberikan pemaparan tentang perihal 4 jenis Allah. Pertama, Ia mampu dan mau melaksanakan kehendak-Nya. Kedua, Ia mampu tetapi tidak mau melaksanakan kehendak-Nya. Ketiga, Ia tidak mampu tetapi mau melaksanakan kehendak-Nya, serta keempat, Ia tidak mampu sekaligus tidak mau melaksanakan kehendak-Nya. Konsep Allah yang dimiliki dalam ke-Kristenan tentu saja berbeda dengan semua bentukan di atas.
Allah yang dipahami adalah Allah yang secara teologis, etis dan estetik hadir dalam realita hidup umat-Nya, tetapi bukan juga Ia terlalu lemah sehingga harus “mengalami”, atau terlalu kuat dan jauh sehingga “pura-pura” mengalami penderitaan. Sehingga solidaritas Allah disini harus dipahami dengan bijaksana dimana Allah dalam Yesus Kristus secara real pernah mengalami tekanan yang paling berat dan paling buruk dalam sepanjang sejarah. Tetapi juga Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh apapun, sehingga Allah dalam Yesus adalah Allah yang menang.
Dengan demikian solidaritas Allah harus dipahami bahwa Allah tetap ada dalam posisi yang kuat dan tak terjangkau oleh penderitaan tetapi Ia secara aktif merangkul manusia menderita dan memberikan penghiburan dan kemenangan. Inilah yang mengakibatkan manusia penderita bisa bertekun dalam penderitaan, karena penderitaan yang dialaminya adalah penderitaan biasa yang tidak melampaui kekuatannya. Penderitaan Kristus di atas kayu salib, sudah terlalu cukup menjadi alasan sehingga Allah membenarkan manusia berdosa demi kasih karunia-Nya.
Lukas menceritakan bahwa suatu ketika seorang ahli Taurat datang untuk mencobai Yesus. Pertanyaan pamungkas yang coba ditanyakan ahli Taurat tersebut adalah: “Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan ini mungkin pernah terjadi dalam realita hidup manusia normal, tetapi penekanan yang ingin ditunjukan disini adalah untuk menjadi sesamaku, maka orang tersebut harus ada dalam posisi sejajar dengan aku. Sejajar dalam segala aspek, misalnya: politik, status, budaya, nilai-nilai etis, ekonomi, kepercayaan, dan lain sebagainya.
Kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tak kunjung keluar dari penderitaan, akan menjadi pemicu terhadap dampak sosio-ekonomi yang semakin memperparah hubungan horisontal Indonesia. Dimana pertanyaan “siapakah sesamaku?” tidak patut untuk dipertahankan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dalam semangat persatuan menuju keadilan sosial. Untunglah Yesus telah memberikan solusi yang tepat lewat perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Teladan ini, harus menjadi terapan praktis dalam hidup dalam semangat “bersama kita bisa.”
Jawaban atas pertanyaan yang diajukan sendiri oleh ahli Taurat tadi adalah: “Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.” Artinya persepsi siapakah sesamaku harus diubah; bukan lagi dari sudut pandang aku, tetapi diubah dari sudut pandang ia/dia. Dengan demikian semua pihak akan berusaha menjadi “orang yang menunjukan belas kasihan.” Sikap seperti ini merupakan pengejawantahan semangat solidaritas Allah atas penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.
Seharusnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diajukan lagi, sebab Yesus telah terlebih dahulu menjadi sesama bagi manusia. Rangkaian peristiwa di kayu salib, mempertemukan Yesus dengan seorang terhukum yang secara sadar bahwa ia layak untuk dihukum. Kesadaran ini membuat Yesus menjadi sesama yang baik baginya dan berkata kepadanya: “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.” Penderitaan yang dialami oleh Yesus tidak serta merta mewajibkan-Nya untuk tutup mata dan memikirkan penderitaan sendiri. Dengan demikian teladan yang diberikan oleh Yesus, seharusnya membuat orang percaya bersama-sama dengan Allah turut ambil bagian dan solider terhadap penderitaan, serta menjadi sesama yang baik dari sesamanya yang sedang menderita; walaupun orang percaya itu sendiri sedang menderita.
Usulan teologis di atas dapat dijadikan wacana untuk mengembangkan metode berteologi dalam penderitaan. Bukan pula untuk melupakan kondisi bahwa Allah senantiasa mencurahkan berkat bagi umat-Nya, sehingga dekat dengan Allah membawa konsekuensi diberkati. Tetapi juga tidak melupakan realita yang lain dimana Allah juga “menghajar” orang-orang yang dikasihi-Nya. Metode berteologi seperti ini kena-mengena dengan upaya memberdayakan masyarakat teologi dalam semangat in loco (konteks kebudayaaan lokal), dengan tidak melupakan keberadaannya yang in globo (konteks universal).
Setelah melalui riset terhadap pembahasan tematis terhadap perihal pemeliharaan Allah yang mencakup seluruh umat manusia, maka beberapa hal yang dapat digumuli berkaitan dengan upaya berteologi dalam konteks Indonesia, yaitu: Pertama: jelas bahwa Allah yang dipahami dalam konsep iman Kristen berbeda dengan konsep Allah dari agama suku maupun desain filsafat. Allah dalam Yesus Kristus adalah pribadi yang solider dengan pergumulan dan penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.
Sikap solider Allah merupakan kondisi yang real dan aktif, dimana Allah mengambil inisiatif untuk memberikan penghiburan dan pertolongan yang tanggap serta tepat waktu. Selain itu, Allah sendiri dalam Yesus Kristus, telah menunjukan teladan kemenangan atas penderitaan, sehingga dapat menjadi jaminan bagi orang percaya untuk turut serta bersama-sama dengan kemenangan Allah itu.
Kedua, kehadiran orang percaya dimanapun konteks hidupnya (in loco maupun in globo) harus menjadi sesama yang baik bagi sesamanya, seperti wajah Allah yang nyata dalam pergumulan Yesus Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, Yesus sebagai wajah Tuhan yang menderita merupakan semangat hidup solider dan menjadi sesama bagi sesamanya, entah dalam konteks penderitaan maupun tidak dalam penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: