Just another WordPress.com site

Pada tahun 2013 seluruh elemen warga Sitaro akan melaksanakan pemilihan kepala daerah. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita terbiasa memilih dengan mengikuti cara pikir Samuel (1 Sam.10:24; 16:6), yaitu hanya memilih berdasarkan tampilan luar, embel-embel title, omong besar, yang pada akhirnya pemimpin seperti ini tidaklah membawa pada kesejahteraan. Sudah begitu banyak propaganda yang dilakukan oleh calon pemimpin dengan tim suksesnya. Yang tentu saja akan semakin menyulitkan bagi anak-anak negeri untuk menjatuhkan pilihannya. Mungkin tidak separah pemilihan pemimpin di Afganistan, dimana 7 orang capres harus berusaha menyakinkan 10 juta pemilih, yang 2/3 dari penduduknya adalah buta huruf.

Tulisan ini diangkat secara sengaja untuk sama-sama mengungkapkan kegelisahan hati atas wajah kepemimpinan dalam bingkai masa depan Sitro. Lebih lanjut, tulisan ini berisi harapan positif akan masih adanya calon pemimpin daerah yang takut akan Tuhan, yang hatinya masih bergetar ketika mendengar sabda Sang Mawu Ruata. Memang penulis dengan beberapa yang lain tidak memiliki akses langsung ke Sitaro, tapi paling tidak hati kami masih menghendaki tercapainya kemakmuran masyarakat Sitaro yang malunsemahe.

Setidaknya dalam pengamatan penulis dalam pergumulan terhadap kebenaran Firman Allah, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin yang mumpuni, yang memungkinkan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik atau setidaknya sedikit dapat mengurangi beban kesengsaraan rakyat Sitaro. Beberapa kriteria tersebut antara lain:

Punya hikmat yang dari atas.
Pada saat Salomo naik tahta sembari ia melihat tatanan kehidupan rakyat, keanekaragaman tuntutan hidup bangsa Israel, serta peliknya masalah yang ditaruhkan (dipercayakan) Allah dipundaknya untuk memimpin bangsa yang besar itu, maka Salomo datang kepada Allah dan meminta agar diberikan hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat (1 Raj. 3:9). Atas permintaan itu, Allah memberikan kepadanya hati yang penuh hikmat dan pengertian.
Hikmat dan pengertian yang berasal dari atas diperlukan oleh seorang pemimpin. Bukan hanya kemampuan me-manage atau mengelola pemerintahan dan kebijakan publik tetapi dalam hal ini lebih menunjuk pada sikap yang bijak. Bijak dalam menghadapi masalah, kemelut bahkan bijak untuk berbuat tepat disaat yang tepat, sehingga menghasilkan keputusan yang benar dan adil. Hikmat dan pengertian yang dari atas lebih dari sekedar knowledge bahkan kemampuan intelegensia, tetapi lebih kepada sikap seorang pemimpin sejati untuk dapat membuktikan kompetensinya dalam banyak hal.
Seorang pemimpin yang memiliki hikmat dan pengertian yang dari atas akan diberikan kemampuan: memiliki ketrampilan untuk mengetahui banyak hal; memiliki ketrampilan untuk merasakan banyak hal yang sedang terjadi; serta memiliki ketrampilan untuk melakukan banyak hal atas apa yang terjadi.

Punya hati terhadap yang dibawah.
Seorang ahli dalam kepemimpinan pernah menulis sebagai berikut: “Jika orang menghormati anda namun tidak menyukai anda, mereka tidak akan tinggal dengan anda. Jika mereka menyukai anda namun tidak menghormati anda, mereka akan tinggal bersama anda namun mereka tidak akan mengikuti anda. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, anda harus mengusahakan keduanya dari orang-orang yang anda pimpin” (John Maxwell).
Seorang pemimpin selain harus memiliki wibawa karena hikmat dan pengertiannya yang berasal dari atas, ia juga sekaligus harus disukai karena kepekaan dan kepeduliannya terhadap mereka yang dipimpin. Dalam hal ini seorang pemimpin akan diperhadapkan dengan dilema besar. Jika ia terus menerus berada dan berkecimpung dengan sesama yang ada di atas (sistem, tatanan, aturan baku, perangkat atas, dll), maka ia cenderung akan dirasakan terlalu jauh dengan yang dibawah. Tetapi apabila ia terlalu dekat dengan yang dibawah (rakyat, pasar, kebutuhan, tataran praktis, dll), maka ia akan cenderung jauh dengan yang di atas.
Dalam hal ini diperlukan komunikasi yang mantap, dua arah yang tidak terputus atau macet. Komunikasi merupakan bagian yang kelihatan dari interpersonal relationship, guna berelasi dan mengembangkan kepemimpinan. Serta penegakan hukum dengan berotoritas, sebab “seperlima dari semua orang selalu menentang segala sesuatu” (Robert Kenedy).
Kebutuhan mendasar dari orang-orang yang dipimpin adalah cinta dari yang memimpin. Seorang pemimpin yang mencintai atau punya hati terhdap yang dipimpin akan selalu membuka diri terhdap mereka yang dipimpin, baik itu golongan bawah atau bahkan mereka yang ada dalam tingkatan sesama pejabat.

Punya harapan akan masa depan.
Dalam wacana apapun (teologis, sosiologis, psikologis, termasuk tataran praktis) senantiasa menuntut seorang pemimpin untuk punya visi. Dalam kitab Amsal diinterpretasikan bahwa jika seorang pemimpin tidak memiliki visi, maka rakyat yang dipimpinnya akan kacau balau (29:18).
Seorang pemimpin harus benar-benar sadar bahwa ia diikuti oleh kerumunan orang karena itu ia harus tau kemana ia akan melangkah. Kecuali kalau ia bersikap sebaliknya yaitu justru mengikuti kerumunan orang (dalam hal ini bahkan ia tidak sedang melangkah kemana-mana). Diperlukan pemimpin yang memiliki kompas visi dikepalanya, sehiingga ia selalu tau arah yang benar walaupun ditengah-tengah samudra yang bergelora atau badai padang gurun yang ganas. Ketika ia punya kompas visi, maka umat Allah yang mengikutinya tidak akan kacau binasa. Dengan perkataan lain pemimpin tanpa visi bukanlah pemimpin, sebab visi adalah dasar kepemimpinan.
Untuk mencapai visi tentu saja diperlukan program. Visi dan program kerja tidak dapat dipisahkan, mereka selalu berhubungan dengan erat. Visi tanpa program yang jelas dan ketat dalam pelaksanakannya akan menyebabkan umat terus berputar-putar dipadang gurun. Tanpa ada program, maka pemimpin itu akan menjadi pemadam kebakaran. Api masalah menjadi besar, sirene tanpa bahya dibunyikan pemimpin dan ia mengerahkan anak buahnya untuk bersama-sama memadamkan api. Dilain waktu api menjadi besar lagi, sirene tanda bahaya dibunyikan dan begitu selanjutnya yang akan dikerjakan oleh seorang pemimpin apabila tidak disertai program yang jelas serta ketat dalam melaksanakannya.

Punya halter dilehernya sendiri.
Rasul Paulus berkata: “…berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang [telah] kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun tertulis” (2 Tes. 2:15). Maksud penulis pada bagian ini adalah: seorang pemimpin harus mengenakan kekang pada lehernya, yang akhirnya akan memampukan dia untuk tau kapan harus melangkah, kapan harus diam, kapan harus makan, kapan harus tidur dll.
Kekang dileher bukan hanya sekedar memampukan pemimpin untuk melakukan hal tersebut di atas, tetapi juga sekaligus akan memberikan kemampuan kepadanya untuk mengendalikan diri. Dalam konteks Paulus pada saat itu, ia menasehatkan jemaat Tesalonika untuk berpegang pada Taurat Tuhan dan kitab para nabi, serta pada ajaran-ajaran Yesus dan para rasuli-Nya, sehingga dengan demikian mereka akan memperoleh gloria dei (ay. 14). Tentu saja hal ini dapat diselaraskan melalui interpretasi kekinian dengan berkata bahwa apabila seorang pemimpin ingin mencapai tahap klimaks keberhasilan, maka ia harus berpegang pada banyak aturan konstitusi dengan tidak pernah melupakan sejarah pembentuk bangsa ini.
Sejarah, hukum, aturan, norma dll merupakan tali kekang yang harus dikenakan seorang pemimpin dilehernya. Bapak proklamator Ir Sukarno pernah mengeluarkan semboyan “Jas Merah” yang berarti jangan anda sesekali melupakan sejarah. Sejarah adalah penceritaan tentang peristiwa masa lampau, walaupun bukan peristiwa itu sendiri. Ada beberapa contoh kegagalan yang akhirnya diterima oleh mereka yang mulai melupakan sejarah atau sekedar membelokkannya (misalnya saja supersemar), kisah pemberontakan Korah, Datan dan Abiram (Bil. 16).
Seorang pemimpin yang mengenakan kekang pada lehernya sendiri dalam interpretasi praksis mengikuti nasehat Yesus yang berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (Luk. 12:15).

Semoga para pemimpin Sitaro nantinya akan memiliki wajah-wajah seperti ini, dengan demikian masyarakat ini akan berjalan maju, keluar dari krisis multi dimensi, serta memberikan kemakmuran bagi seluruh anak-anak Sitaro, yang berkeadilan sosial. Perjalanan maju Sitaro masih sangat jauh, perahu ini masih terus akan berjalan walaupun ada bagitu banyak kebocoran yang harus segera di tambal.
Kesemuanya akan berlangsung menuju arah yang lebih baik apabila wajah-wajah pemimpin Sitaro [nantinya] akan menunjukan paras yang elok, karena dari dalam dirinya terpancar hikmat yang dari atas, memiliki kedekatan hati terhadap mereka yang dipimpinnya, harapan masa depan yang penuh kemuliaan dan keberhasilan, serta halter yang senantiasa dikenakan untuk mengikat dirinya sendiri atas segala peluang kecurangan dan ketidak adilan.

Harapan segenap masyarakat Sitaro termasuk kami yang diperantauan tentunya merupakan wakil dari harapan seluruh warga Sitaro. Akankah seperti itu??? Semoga Tuhan memberkati Sitaro dengan menghadirkan pemimpin yang mampu mendatangkan perubahan, yang berawal dari perubahan wajah kepemimpinannya terlebih dahulu. Solideo bagi Sitaro yang malunsemahe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: