Just another WordPress.com site

Prioritas Yesus

Yohanes 12:20-23

Kisah ini berada pada konteks hari-hari menjelang perayaan Paskah menurut aturan Musa, yaitu mengenai peringatan ketika Allah membunuh (Ibr. pesakh) anak-anak sulung Mesir. Bagi orang Yahudi (hingga zaman Yesus), ini merupakan perayaan yang sangat penting dan mulia oleh karena ia adalah peringatan atau proklamasi pelepasan dari perbudakan Mesir. Oleh sebab itu, paskah dirayakan dengan motivasi membarui sikap dan pengucapan syukur dengan sukacita pembaharuan sikap adalah sebuah komitmen untuk meninggalkan hidup lama sebagai bangsa tanpa identitas menjadi bangsa baru dengan identitas khusus sebagai umat Allah. Perayaan Paskah inilah yang kemudian di masa gereja diteruskan dalam perjamuan kudus sebagai proklamasi lepasnya kuasa dosa sebagai bagian dari identitas baru yaitu umat kudus milik Allah.
Dalam konteks penantian masa paskah inilah terjadi pembicaraan antara Tuhan Yesus dengan beberapa murid-Nya (Filipus dan Andreas) perihal beberapa orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus. Apa yang menjadi motivasi dari orang-orang Yunani ini bertemu dengan Yesus? Oleh karena beberapa hari sebelumnya Tuhan Yesus telah melakukan tindakan revolusioner ketika mengusir para pedagang dari pelataran Bait Allah. Orang-orang Yunani ini adalah penganut agama Yahudi (Yahwentis) yang selama ini tidak pernah mendapat bagian di Bait Allah oleh karena pelataran yang biasanya menjadi tempat khusus bagi mereka, telah dipakai oleh para pedagang sebagai tempat jual beli dengan sebelumnya menyuap para imam besar dan penjaga Bait Allah.
Dalam hal ini kita tidak tau tujuan kedatangan mereka. Mungkin berterima kasih, mungkin meminta pengajaran dari Yesus, mungkin hendak menjadikan Yesus sebagai pemimpin mereka, dan apa saja yang bisa menjadi kemungkinan. Yesus pasti tau tujuan mereka dan oleh karena itu Ia memberikan penjelasan pengantar mengenai tujuan kematian-Nya (ay. 23-28), penyingkapan rencana penyelamatan Allah yang tidak bisa dihambat oleh apapun (ay. 30-32), serta realita bahwa hanya sedikit orang yang sebenarnya mampu memberi respon positif terhadap karya Allah dalam Yesus Kristus ini (ay. 35-36). Anehnya, setelah menyampaikan ini semua Yesus ‘menghilang’ dari mereka (ay. 36 b).
Apabila dihubungkan dengan tema renungan ini, Prioritas Yesus, maka kita akan menemukan hal-hal yang menarik dari kisah ini. Pertama, seorang yang beragama belum tentu adalah seorang yang mampu konsisten memberi respon positif kepada Allah. Kita seringkali terjebak pada mitos bahwa seorang yang beragama adalah seorang yang sudah pasti mampu terus menerus taat kepada Allah. Kenapa disebut sebagai mitos? Oleh karena kita harus paham bahwa menjadi seorang yang beragama tidak akan serta merta mengubah naluri kemanusiaan kita. Naluri kemanusiaan adalah naluri yang rentan oleh karena telah terjebak dalam dosa, berada di tengah-tengah dunia yang penuh dosa bahkan tidak jarang pilihan hidup yang ada merupakan pilihan antara dosa yang nampak hingga dosa yang kasat mata. Misalnya: kita tau bahwa suap adalah tindakan melanggar hukum, tetapi kemudian kita berusaha memberikan rasionalisasi pembenaran bahwa itu bukan suap hanya sekedar memberikan ‘uang bensin’.
Penekanan atau prioritas yang hendak disampaikan oleh Yesus adalah tidak sekedar menjadi seorang yang beragama tetapi harus sadar kenapa ia beragama. Sebuah kesadaran bahwa beragama bukanlah status sosial, tetapi sebuah pertanggung jawaban dihadapan Allah yang telah merealisasikan karya-Nya dengan jalan menyelamatkan kita dari keberdosaan. Sehingga melalui paskah kita semakin sadar bahwa beragama bukan hanya sekedar sebuah perilaku tapi sebuah pertanggung jawaban di hadapan Allah. Kepada orang-orang Yunani ini (termasuk Filipus dan Andreas) Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa tindakan penyucian Bait Allah bukan hanya untuk membuka kesempatan kembali bagi mereka untuk bisa melaksanakan ritual ibadah sesuai hukum Musa, tetapi untuk menegaskan bahwa beribadah seharusnya muncul dari kesadaran bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan, yang tidak saja melihat tingkah laku beragama, tetapi mampu melihat dengan jelas tingkah laku keseharian mereka bahkan ketika mereka ada di tempat yang tidak mungkin diawasi oleh manusia.
Kedua, beragama seharusnya membawa manusia pada kesadaran akan kebutuhan perjumpaan dengan Allah dan bukan sekedar menjalankan ritual. Dalam menunjukan perilaku beragama, kebanyakan orang hanya sampai pada melakukan ritual agama. Misalnya membaca Alkitab, menyanyi, berdoa, beribadah di gereja dll. Pertanyaannya adalah dimanakah ia menempatkan Allah ketika melakukan itu semua? Ketika ia berdoa apakah ia sungguh sadar bahwa ia sedang mencoba membangun hubungan dengan Allah; ketika ia membaca Alkitab apakah ia sungguh sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan sabda Allah; ketika ia beribadah di gereja apakah ia sadar bahwa ia sedang bersekutu dengan Allah sembari ia bersekutu dengan sesama umat Allah. Secara sederhana, kita harus sadar bahwa seantero perilaku kita adalah sebuah rangkaian perjumpaan persekutuan dengan Allah.
Perjumpaan dengan Allah oleh karena Allah telah menyelamatkan kita oleh pengurbanan Yesus Kristus di salib. Bahwa melalui pengurbanan tersebut Allah telah menghisabkan kita ke dalam realita persekutuan abadi, erat dan dalam roh. Sederhananya, Yesus telah melakukan apa yang menjadi prioritas dari misi Allah yaitu menyelamatkan manusia. Tindakan prioritas ini dilakukan untuk memulihkan hubungan yang telah terpisah antara manusia dengan Allah. Permasalahannya adalah sering sekali tindakan prioritas dari Tuhan Yesus ini tidak kita responi dengan kesadaran bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang terhisabkan ke dalam kehidupan Kristus, sehingga kesaksian tentang Kristus justru tidak hadir dalam dunia melalui kehidupan kita.
Pada akhirnya, ketika kita berbicara mengenai prioritas karya Yesus melalui salib yang akan kita peringati pada jumat agung pada 6 April nanti serta paskah kemenangan Kristus atas kuasa maut pada minggu kebangkitan-Nya, kita seharusnya berbicara mengenai diri kita dalam relasi dengan Allah. Kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak sekedar beragama tetapi memiliki prioritas Kristus pada saat kita menjadi Kristen.
Selamat Paskah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: