Just another WordPress.com site

Bultman terlahir dari keluarga pendeta German Evangelical Church dan mengikuti tahapan pendidikan teologi hingga menjadi guru besar di Marburg yang membuatnya berpengaruh besar terhadap pemikiran teologi pada masa kini. Dengan menggunakan pendekatan form history/form criticism, ia menemukan bahwa tidak ada kesamaan bentuk antara cerita Injil oleh Markus dengan oral tradition yang ada pada jemaat Hellenistic. Artinya, fakta tentang Yesus yang dimiliki dan dikembangkan oleh gereja Yunani sesungguhnya berbeda dengan konteks mula-mula dimana Yesus hidup. Dengan demikian, bagi Bultmann, sangat tidak mungkin kita bertemu dengan Yesus dalam realita yang sesungguhnya apabila kita hanya menerima sepenuhnya apa yang disampaikan oleh Injil. Tentu saja hal ini berimpitan dengan masalah iman, bahwa iman yang diteruskan hingga gereja masa kini merupakaan ‘rekaan’ dari gereja-gereja yang berlatar belakang Yunani, yang berbeda sekali dengan konteks Yahudi dimana Yesus hidup. Jelas bagi Bultmann yang adalah seorang eksistensialis, iman merupakan suatu pengalaman pribadi yang unik, berbeda satu dengan yang lainnya. Sama seperti perbedaan cerita tentang Yesus dari gereja hellenistic dengan oral tradition dari orang-orang Yahudi pada masa hidup Yesus, maka sesunguhnya iman yang benar tidak perlu sama dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab mengenai Yesus. Sebab benar atau tidaknya fakta historisitas Yesus tidak memberikan sumbangan penting bagi iman masa kini, yang unik dan berbeda satu dengan yang lainnya sebagai pengalaman subjektif yang legal dari masing-masing orang. Hal yang terpenting dari Kristus bukanlah fakta historisitasnya¬ melainkan fakta iman kepada-Nya, sebagai bagian dari realita pergumulan orang percaya dengan imannya sendiri. Prinsip inilah yang coba dikembangkan oleh Bultmann melalui pengikut-pengikut eksistensialisnya hingga masa kini, bahwa seorang yang imannya kuat tidaklah bergantung pada apa yang Alkitab saks ikan tentang Yesus, karya dan perbuatan-Nya, melainkan bagaimana interaksi tersebut memberi pengaruh pada penguatan iman orang percaya pada masa kini. Iman kepada Allah yang hidup tidaklah mungkin berupa iman yang statis, melainkan seharusnya merupakan iman yang aktif, bukan pada apa yang telah terjadi di masa lampau melainkan pada realita bagaimana seseorang mengalami pengalaman break into our present dari Allah yang kekal. Iman yang dimiliki secara unik tersebut ketika diperhadapkan dengan realita tuntutan aplikatif, maka ia seharusnya merupakan aktifitas moral yang berbeda dari pengalaman moral di masa lampau.
Pemikiran eksistensialistic Bultmann memberikan sentuhan menarik terutama bagi teologi kontekstualisasi pada masa kini. Orang-orang seperti Bultmann dan pengikutnya, memberikan sentuhan yang berbeda terhadap pengenalan akan Allah dan bagimana pengenalan akan Allah itu operated pada masa kini. Dengan menggunakan prinsip form criticism, Bultmann dan pengikut-pengikutnya mencoba memberikan sentuhan baru terhadap bagaiman seharusnya hidup orang Kristen pada masa kini, dimulai dengan premis bahwa iman itu merupakan pengalaman unik yang subjektif pada masanya, yang tidak melulu bergantung pada fakta atau data dari pengalaman-pengalaman orang beriman pada masa sebelumnya. Pengalaman iman yang baru tersebut, merupakan konteks yang baru pada zamannya yang juga bertemu dengan Allah yang hidup. Realita perjumpaan dan pergumulan iman yang berbeda tersebut, mendorong orang percaya pada masing-masing zaman harus berusaha secara keras dalam pergumulan imannya agar ia mengalami pertemuan secara baru dan unik dengan Allah yang menyatakan diri tentu saja secara baru pula. Hal ini digemakan pada masa kini oleh para teolog kontekstual, yang mencoba mengangkat realita pergumulan iman dari umat manusia masa kini sesuai dengan konteks dimana ia berada, dengan penyingkapan unik, subjektif serta baru dari Allah. Sebuah penyingkapan yang bahkan berbeda dengan pengalaman orang-orang pada masa lampau, termasuk pengalaman beriman dari gereja mula-mula yang helenistic terlebih mereka yang hidup pada zaman Yesus. Misalkan saja dalam menemukan penyingkapan kebenaran melalui Alkitab mereka menggunakan istilah ‘membaca Alkitab dengan mata baru’, yang secara sederhana mecoba menemukan ‘kemiripan’ penyingkapan dengan realita di luar Alkitab yang terjadi dalam konteks masa kini. Semangat eksistensialisme yang begitu kuat mempengaruhi mereka sehingga cenderung untuk bahkan membahasakan penyingkapan Allah melalui Alkitab dengan ‘mata baru’ seperti yang coba dilakukan oleh kelompok feminisme.
Namun demikian, hal berharga yang saya pelajari dari Bultmann adalah usahanya yang serius untuk (sebenarnya) menyadarkan orang Kristen pada masanya (termasuk orang Kristen pada masa kini) untuk mengalami perjumpaan iman secara baru dalam kesadaran akan Allah yang hidup. Dengan demikian, iman yang tercipta adalah iman yang bergumul secara unik, subjektif serta baru dengan Allah, yang dalam perjumpaan iman itu menghasilkan attitude yang baru yang memberi isi secara baru dalam tuntutan konteksnya. Iman sejati adalah iman yang aktif dan dinamis, bukanlah iman copy-an, melainkan iman yang hidup kepada Allah yang hidup. Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah ketika iman itu hanya bagian dari Christ of culture, ketika ia menjadi terlepas dari akar-akar fakta kebenaran yang disingkapkan melalui Alkitab. Memang Allah adalah Allah yang aktif dan hidup, namun demikian, Ia adalah Satu-satunya Allah yang menyatakan/menyingkapkan diri-Nya di dalam Alkitab, sehingga iman tidak boleh membelakangi core beliefe, melainkan iman yang hidup dalam pergumulan konteksnya dengan kekuatan tuntunan prinsip-prinsip kebenaran sejati yang disingkapkan oleh Alkitab, yang juga telah di alami dalam pengalaman real tokoh-tokoh dalam Alkitab yang juga mengalami perjumpaan iman yang unik, subjektif serta baru dengan Allah. Saat iman itu hanya berpaut pada Christ of faith dan melepaskannya dari historical Jesus, maka sebenarnya itu bukanlah iman sejati yang berkuasa oleh karena keserupaan-Nya dengan Kristus, melainkan ‘tipuan’ dunia yang telah melahirkan Christ of culture. Paulus secara tegas berkata: “yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Fil. 3:10-14). Iman sejati sesungguhnya adalah seperti yang diungkapkan oleh Yakub Susabda yang berkata: faith is as inevitable phenomenon in which one is positioned before God and has only one choice, that’s to worship Him.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: