Just another WordPress.com site

Belajar dari Paul Tillich

Allah sebagai the ground of being yang tidak pernah menjadi manusia haruslah dipahami dan harus dikenal sebagai the ultimate concern yang tak terhindarkan oleh manusia. Dalam ‘adanya’ Allah segala sesuatu yang adalah realita selalu terhisab kepada-Nya, walau demikian hanya mereka ‘yang berimanlah’yang mampu menemukan diri dalam tangkapan dari the ultimate concern. Ia menjadi realita yang selalu menarik realita di bawah-Nya oleh karena Ia adalah Allah yang melampaui eksistensi dan essensi. Bahkan oleh karenanya, Allah merupakan ground of being yang melampaui realita dan berada di luar yang real. Dogma, sistematika ajaran, konsep, bayangan maupun pikiran mengenai Allah merupakan usaha yang sia-sia untuk mengenal Allah. Bagi Tillich, sifat Allah selalu melampaui, baik yang natural maupun yang supranatural. Allah merupakan the ground of being yang tak terhampiri; namun, Ia dengan sengaja melakukan perjumpaan dengan manusia melalui spirit yang trancends dan dari luar dirinya. Melalui pengalaman inilah manusia dapat mengalami perjumpaan dengan Allah. Yaitu, apabila manusia telah sampai di titik melepaskan eksistensinya. Sesungguhnya manusia harus mampu melepaskan human existence agar dapat berjumpa dengan eksistensi Allah. Logikanya adalah, apabila Allah itu adalah ground of being yang di dalamnya Ia melampaui eksistensi natural dan supranatural, bagaimana mungkin natur Allah ini bisa dijumpai manusia dalam human existence-nya itu. Bahkan dengan tegas ia menolak teologi, karena sebenarnya teologi hanyalah ekspresi dari human existence. Pernyataan-pernyataan Alkitab terhadap Allah sebenarnya hanyalah ekspresi dari rekaan human eksistence yang sebenarnya tidak pernah mampu untuk menjumpai Allah yang ‘beradanya Dia’ adalah melampaui eksistensi. Natur Allah selalu melampaui segala eksistensi yang natural dan supranatural. Dengan demikian, teologi seharusnya bekerja dengan cara menolong orang untuk bertemu dengan jawaban yang dibutuhkannya. Ketika teologi mensistematisasi dan menformulasi Allah, maka itu bukanlah Alah yang sesungguhnya; sebab, Allah yang sesungguhnya adalah the ground of being yang tidak pernah menjadi manusia, yang harus dipahami, dikenal dan dihayati sebagai the ultimate concern yang tak terhindarkan oleh manusia. Manusia harus sampai pada tingkatan melepaskan anxiously dan berjumpa dengan ‘one thing’ sebagai the ultimate concern.
Pemahaman tersebut datang dari keyakinannya, bahwa sesungguhnya manusia selalu bergumul dengan pencariannya akan Allah, yang infinite, ultimate dan lasting; namun dengan cara yang keliru, yaitu menyibukkan diri pada hal-hal yang sifatnya anxiety. Pada akhirnya kita menjadi sama seperti Martha yang begitu disibukkan dengan urusan budaya (dunia, yang menjadi konteksnya) dan gagal untuk menjadi seperti Maria yang menemukan fokusnya pada infinite attention, unconditional devotion, serta ultimate passion. Kita selalu dihalangi dan diikat oleh hal-hal seperti pekerjaan, yang kemudian menjadi dasar dari keberadaan kita; relasi dengan orang lain, sehingga kita tidak menemukan arti hidup diluar hubungan dengan mereka; kita merasa perlu bertanggung jawab untuk membangun persekutuan, kekuatan dalam hidup, hikmat dalam pikiran, dan menjadi sempurna di dalam spirit kita, yang pada akhirnya membawa kita untuk fokus pada hal-hal yang terlihat baik saja. Dan saat kita membandingkan diri dengan orang lain, maka kita akan menjadi frustasi oleh apa yang dapat kita capai. Pada intinya, sulit sekali bagi manusia untuk menemukan dirinya senantiasa terfokus pada hal-hal yang sifatnya infinite attention, unconditional devotion, serta ultimate passion oleh karena kita tidak dapat melepaskan diri dari hal-hal natural seperti yang juga menjadi fokus dari semua yang lain. Kita tidak mampu melepaskan essensi kita dari eksistensi kita (human existence), dan mengalami perjumpaan dengan Allah yang adalah the ground of being yang tidak pernah menjadi manusia, yang harus dipahami, dikenal dan dihayati sebagai the ultimate concern yang tak terhindarkan oleh manusia. Manusia harus sampai pada tingkatan melepaskan anxiously dan berjumpa dengan ‘one thing’ sebagai the ultimate concern. Demikianlah gereja-gereja sepanjang masa seharusnya menjadi, sebab saat-saat dimana kita tidak sedang berada dalam kemampuan berelasi dengan Allah melalui satu-satunya cara ini, maka sesungguhnya kita tidak sedang berelasi dan sesungguhnya tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah.
Tillich bisa jadi merupakan satu-satunya teolog yang unik, ketika ia menawarkan pengenalan akan Allah melalui melepaskan seluruh presuposisi kearifan kita dan bahkan atas apa yang telah coba diformulasikan teologi melalui apa yang disampaikan Alkitab. Bahkan kita dituntut untuk melepaskan essensi kita dari eksistensi diri yang mengikatnya, sehingga mengalami fokus pada the ground of being yang tidak pernah menjadi manusia, yang harus dipahami, dikenal dan dihayati sebagai the ultimate concern yang tak terhindarkan oleh manusia. Dimana manusia harus sampai pada tingkatan melepaskan anxiously dan berjumpa dengan ‘one thing’ sebagai the ultimate concern. Agak rancu malahan ketika ia memutuskan mengenal Allah justru dari presuposisi yang berbanding terbalik dengan ‘adanya’ Allah. Namun baginya, itulah satu-satunya cara yang efektif untuk berjumpa dengan ‘adanya’ Allah. Namun demikian, pelajaran yang dapat saya ambil dari Paul Tillich adalah konsep melepaskan essensi dari eksistensi kita (human existence) agar mengalami the ultimate concern yang infinite, ultimate dan lasting. Sering sekali, saya memaksakan Allah untuk menjumpai saya melalui media-media yang bukan Allah (pada dirinya sendiri) misalnya melalui lagu, khotbah yang cerdas, bacaan yang serius, percakapan ilmiah dan hal-hal lainnya yang sebenarnya sifatnya adalah memuaskan eksistensi saya dan bukan essensi saya yang terus menerus rindu berjumpa dengan ‘one thing’ sebagai the ultimate concern. Sebab Allah adalah sejalan dengan naturnya yang selalu melampaui (beyond), baik yang natural maupun yang supranatural. Allah merupakan the ground of being yang tak terhampiri; namun, Ia dengan sengaja melakukan perjumpaan dengan manusia melalui spirit yang trancends yaitu manusia yang melepaskan essensi dirinya dari keterikatan pada eksistensi ‘pembuat’ dirinya. Ketika manusia tidak mengalami perjumpaan dengan Allah pada diri-Nya sendiri, maka sesungguhnya tidak ada perjumpaan apapun yang telah terjadi dengan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: