Just another WordPress.com site

Belajar dari Karl Barth

God for the world and God for humanity (heaven for the earth). Allah tidak mungkin diikat dalam sebuah formulasi dogmatik atau pikiran teologi dan justru karena natur Allah yang bebas ini maka seharusnya teologi dan dogmatikalah yang berubah dan mengikuti penyingkapan diri Allah kepada masing-masing zaman atau generasi. Teologi pada dirinya sendiri ada untuk memahami dan mengenal Allah dengan tujuan agar Allah itu diberitakan ke dalam dunia, sehingga dalam hal ini tugas teologi sama dengan tugas sains yaitu menyatakan Allah. Tidak hanya sama dengan sains, bahkan dalam orang ateis sendiri pun ada semacam keyakinan yang terus menerus berbicara mengenai Allah. Hal itu oleh karena ateis pada dirinya sendiri merupakan transfering an identical dignity and function (of God) to another object. Bahkan teologi pada dirinya sendiri tidak dapat menemukan kebenaran tanpa hadirnya Roh Kudus di dalamnya. Tanpa Roh Kudus, teologi hanyalah sistematisasi pikiran manusia dan bukanlah sebuah kebenaran. Realita ini didasarkan pada diri Allah yang adalah bebas dan tidak dapat dibatasi oleh apa pun, bahkan oleh perbuatan dan penyataan-Nya yang pernah atau telah terjadi dalam sejarah. Dengan demikian, teologi yang berusaha menemukan Allah harus terus menerus dilakukan dengan cara baru, sebab tanpa pem’baru’an ini teologi hanyalah formalitas sistematisasi pemikiran manusia dan tidak pernah menjadi good news dari Allah.
Dalam pikiran Barth tentang Allah, ia berkata: “He is the God who again and again discloses himself anew and must be discovered anew, the God aver whom theology neither has nor receives sovereignty“. Inilah inti yang seharusnya dari evangelical theology. Bagaimana mungkin teologi dapat mengenal dan mengalami Allah apabila ia pada dirinya sendiri hanya merupakan rangkaian hasil pemikiran manusia terhadap Allah yang dapat saja menyatakan diri-Nya di luar batas pemikiran manusia. Kehadiran Allah adalah kehadiran yang tidak terbatas, sehingga bagaimana mungkin ia dapat dibatasi oleh keterbatasan pemikiran manusia (finitum non capax infinitum). Uniknya, Allah yang infinitum ini dengan rela beranugerah kepada seluruh manusia ciptaan-Nya untuk memiliki kemampuan berjumpa dengan Allah melalui pikirannya masing-masing yang finitum pada dirinya sendiri. Dengan demikian, evangelical theology seharusnya terus menerus berbicara mengenai realita Allah yang menyatakan diri-Nya melalui tindakan-Nya di dalam sejarah manusia. Realita Allah sampai dalam batasan sejauh mana Allah merelakan diri-Nya untuk dikenali, sebab He makes himself known, but in it he also is who he is. Teologi harus sampai pada kesadaran bahwa Allah tidak dapat dibatasi dalam formulasi doktrin bahkan termasuk juga oleh karya-Nya di masa lampau, sekalipun itu telah tercatat dalam Alkitab.
Evangelical theology haruslah lahir dari pemahaman bahwa God for the world and God for humanity. Allah yang berinteraksi dengan manusia adalah Allah yang berinteraksi melalui dan di dalam sejarah, sehingga evangelical theology yang sejati dan benar harus juga nyata dalam interaksi yang sama, yaitu interaksi dalam realitas sosial. Yesus sendiri merupakan spirit dari evangelical theology saat Ia mengosongkan diri-Nya dalam ketaatan karena kasih untuk melakukan gerakan social solidarity, sehingga melalui Kristus yang ada dalam kita sesungguhnya Ia sedang melibatkan diri-Nya dengan manusia dalam social solidarity. Sebaliknya, manusia yang care terhadap penderitaan manusia lainnya adalah manusia yang memiliki spirit in Christ. Walaupun demikian, kita tetap tidak bisa membatasi karya Allah hanya dalam realita kehidupan sosial manusia, sebab Ia tidak akan mungkin dapat diasosiasikan dan dikurung dalam batasan sejarah manusia. Dalam realita ini, Kristus hanyalah prinsip yang menolong manusia untuk menangkap pesan yang diberikan Allah melalui Alkitab. Yesus menjadi prinsip oleh karena Ia hanyalah berdasarkan apa yang dapat diingat dan dinyatakan oleh para penulis Alkitab. Manusia perlu meneladani Kristus sebagai prinsip dalam hidupnya, namun manusia hanya dapat melakukannya dalam iman yang terus menerus terorientasi pada primal history yaitu moment which has no before and after, tanpa itu iman Kristen hanyalah asosiasi terhadap masa lalu.
Dari apa yang menjadi salah satu pokok pikiran Barth di atas, saya melihat bahwa baginya, iman yang sejati adalah hanyalah iman yang encountering with God. Momentum persekutuan yang tidak dapat dibatasi oleh sejarah (ruang dan waktu), teologi (dogmatika dan warisan gereja, bahkan oleh penyataan diri Allah di masa lalu (Alkitab). Namun bisa saja Allah menggunakan alat-alat anugerah tadi untuk membuat manusia bertemu dengan primal history dari orang-orang yang dulunya juga pernah mengalami encountering with God. Namun, iman pada dirinya sendiri hanya dimungkinkan oleh karena anugerah dari Allah yang bebas menyatakan diri-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki melalui pengalaman encountering with God. Setiap saat iman berhadapan dengan dua realitas yaitu persekutuan atau perseteruan dan ini sangat ditentukan oleh pengalaman encountering with God, hingga ia pada dirinya sendiri menyatakan dirinya dalam komitmen baru untuk transfering an identical dignity and function (of God) to another object. Iman dengan demikian harus diaktualisasikan, sama seperti teologi barulah menjadi teologi sejati saat ia berteologi (menghadirkan teologi) dan menjadi kabar baik bagi seluruh umat manusia. Kesejatian iman dan teologi inilah yang akan lahir apabila good news itu datang dari Allah yang menyatakan diri-Nya dalam kebebasan-Nya sebagai Allah, yang tidak terikat oleh konsep, sistematika pikir maupun keterangan-keterangan mengenai perbuatan-Nya di masa lampau. Sebab Allah selalu menyatakan diri-Nya secara baru di dalam pengalaman pribadi tiap manusia yang mengalami encountering with God. Pada prinsipnya God for the world and God for humanity (heaven for the earth).
Pikiran Barth menolong saya untuk memahami penderitaan sebagai ‘salah satu’ dari berlimpahnya anugerah Allah yang rela menyatakan diri dan mempersilahkan diri-Nya untuk dikenal dan dipahami melalui pengalaman encountering with God. Pertanyaan: Jikalau Allah itu baik, mengapa harus ada penderitaan? Merupakan pertanyaan yang lahir dari dalam diri yang mencoba untuk meresponi Allah yang bebas itu melalui segala perbuatan-Nya di masa lalu, tindakan-Nya (yang sama bebasnya) pada masa kini dan bahkan termasuk pengharapan di masa depan. Pertanyaan itu lahir dari iman yang menyampaikan keluh kesah kepada Allah yang telah bersedia menyatakan diri-Nya sebagai good news. Good news¬nya adalah Allah telah menyatakan diri-Nya dalam rupa Kristus yang dalam karya dan perbuatan-Nya merupakan bukti dari Allah yang solider bahkan terhadap social fact. Namun demikian, iman sejati itu bukanlah iman yang statis. Iman yang sejati adalah iman yang terus menerus bertumbuh dalam pergumulan, pergulatan dan perjumpaan melalui pengalaman encountering with God. Kiranya Tuhan terus menerus menolong kita mengalami encountering with God.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: