Just another WordPress.com site

Kekristenan sudah masuk di pulau Siau sejak Mei 1563. Kala itu ada konflik antara para raja-raja di Sulawesi Utara dengan sultan Ternate, yang membawa pada pertemuan dengan armada laut Portugis. Pertolongan banyak di dapat dari armada Portugis ini yang sekaligus membaptis raja Manado dan raja Siau. Kedua raja ini dibaptis oleh Pater Diogo de Magalhaes setelah mendapat pengajaran mengenai kekristenan selama 14 hari penuh.
Pada mula pertama kekristenan masuk, sudah terdapat 25 ribu orang Siau yang menjadi Kristen, namun karena perang terus berkecamuk dan tidak adanya tenaga pelayan rohani dari Portugis, maka jadilah kekristenan di Siau tidak mengalami pertumbuhan selama 10 – 12 tahun. Barulah pada tahun 1588 ditempatkan Pater Fransesco de Croce seorang Italia, yang akan melayani ke 1400 orang Kristen yang masih tersisa. Kekristenan mengalami perkembangan yang sangat lambat dan bahkan kurang karena motivasi yang keliru dari penduduk Siau untuk menjadi Kristen hanyalah sebuah penantian akan kemakmuran kebendaan dengan menempatkan diri dibawah kekuasaan dan perlindungan penguasa-penguasa Eropa.
Setelah Portugis mengalami kekalahan dengan armada perang Belanda, maka pada 9 November 1677 seluruh asset yang menjadi milik Portugis atas Siau diserahkan kepada Belanda. Salah satu isi perjanjian adalah Raja Siau dengan para pembesarnya tidak akan mengizinkan masuknya agama lain selain agama Kristen Gereformeed sebagaimana diajarkan dalam gereja Belanda sesuai dengan keputusan sidang Sinode yang diadakan di Dordrecht pada 1619; juga mereka harus memperlakukan dengan kasih dan keramahan semua pendeta, guru sekolah atau pengajar yang akan ditempatkan kemudian menurut kehormatan dan kedudukan masing-masing. Konsekuensi langsungnya adalah Rosario, tanda salib, patung-patung dan tanda pemujaan lainnya segera dibakar.
Setelah bergantian beberapa utusan misi dari Belanda ke Siau yang kebanyakan tidak betah berada di Siau, maka pada 17 Desember 1854 F Kelling ditahbiskan di Jerman dan diutus dengan kapal menuju Hindia. 3 bulan lamanya ia dibekali dengan pengetahuan bahasa Belanda, pengetahuan mengenai ilmu geografi dan ilmu bangsa-bangsa serta sejarah Zending. Bersama dengan Kelling di utus juga Carl W.L.M Schrbder, E.T Steller dan A Grohe yang kesemuanya berasal dari zending Gossner. Karena birokrasi dan perjalanan sulit yang harus ditempuh barulah pada 15 juli 1857 Kelling tiba di Siau, dan segera ia mendapati bahwa kekristenan di pulau ini hanyalah sebuah nama. Poligami, perzinahan, mabuk-mabukan, praktek-praktek sihi dan perdukunan adalah sesuatu yang biasa.
Kelling bersegera untuk membangun kembali kekristenan dari dasarnya juga berniat membuka persekolahan, namun semuanya menjadi sulit karena orang-orang Kristen yang ada merasa tidak membutuhkan pelayanan kerohanian. Namun, dengan segala kasihnya terhadap penduduk, ia menentang dengan sungguh-sungguh dosa dan bermacam-macam tindakan asusila. Setahun kemudian, yaitu pada 1858 ia pindah ke Tagulandang dan mendapati 3000 jiwa penduduk, yang sepertiganya telah menjadi Kristen dan dibaptis, dengan 1 orang yang telah di sidi di Manado. Beberapa hal penting yang dikerjakan oleh Kelling adalah mengabarkan Injil, menolak pernikahan campuran, melaksanakan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, memberi teguran dengan sungguh-sungguh sambil memberi teladan. Hasilnya terlihat pada tahun 1862, dimana dilaksanakan perjamuan kudus yang pertama dengan 20 anggota sidi jemaat.
Tahun 1860 ia menikah dengan saudara perempuan dari pendeta Grohe. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai 3 orang putera. Walaupun penghasilannya sangat minim, namun ia malah menerima ratusan anak pribumi dirumahnya untuk dididik dalam pekerjaan zending. Ada kalanya berbulan-bulan mereka tidak dapat membeli beras bahkan sagu dan terpaksa berbulan-bulan itu mereka hanya makan pisang saja. Tidak lama menikmati kebahagiaan pernikahan, istrinya meninggal pada tahun 1871 dalam sebuah perjalanan liburan ke Belanda. Padahal setahun sebelumnya, yaitu tahun 1870 mereka diselamatkan Tuhan dari tsunami yang terjadi di pulau Tagulandang dengan 450 korban tewas.
Kelling tidak hanya menjadi pekabar Injil di Tagulandang, namun juga di pulau Siau. 16 tahun lamanya ia menjadi pekabar Injil di Siau. Beberapa hal penting yang dikerjakan Kelling dalam masa pelayanannya adalah menerjemahkan Alkitab dan buku-buku rohani ke dalam bahasa Siau, pada tahun 1871 Katekhismus Heidelberg terjemahannya telah di cetak sebanyak 3000 eks oleh percetakan Rehoboth-zending di Meester Cornelis (Jatinegara). Buku ini terus dicetak hingga cetakan ke empat yang masing-masing dalam oplah 7000 eks.
Tahun 1890 ia menyerahkan pelayanannya kepada anaknya P. Kelling. Adapun hasil pekabaran Injilnya adalah di pulau Siau ada 29 jemaat dengan masing-masing 5000 orang percaya, dengan 1000-an anggota sidi. Ada 23 buah sekolah zending dengan 1000-an murid, 29 orang pribumi yang telah menjadi pengajar di dalamnya. Untuk pulau Tagulandang ada 9 jemaat dengan masing-masing 3000-an anggota dan 9 buah sekolah zending dengan 681 murid. Ini hanyalah angka, dan belum termasuk pengaruh yang ia tinggalkan atas penduduk. Seluruh anggota jemaatnya hidup dalam kesaksian yang baik dan setia.
Pada peringatan 40 tahun jabatannya, Kelling mengalami penyakit radang mata, hingga buta total, tetapi terang dalam hatinya tidak pudar. Menjelang akhir hidupnya ia menulis: “saya, sekarang pada usia hamper 69 tahun, berharap, bahwa Tuhan tidak membiarkan saya disini hidup lama dalam kegelapan badani ini, sebab suara panggilan-Nya akan segera datang kepadaku. Dengan segenap hati saya berharap, bahwa saya sampai pada waktu itu dapat tinggal bersama-sama dengan jemaatku, yang apalagi mereka tidak mau memberi saya berangkat dari tempat ini”.
Dalam keadaan buta pun, Kelling, dengan dibantu beberapa penolongnya, terus melaksanakan tugas penerjemahan berbagai macam literature rohani ke dalam bahasa daerah setempat. Hingga 13 Agustus 1900 ia menghadap Allah pengutusnya dalam usia 71 tahun. Ia dikuburkan di Tagulandang, namun kemudian setelah anaknya P. Kelling meninggal dalam usia lanjut di pulau Siau, kuburannya pun dipindahkan ke pulau Siau, tepat disamping gereja tertua di pulau itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: