Just another WordPress.com site

Kitab Wahyu

Kitab Wahyu ditulis sekitar tahun 90 – 95 M, walaupun ada yang mengatakan lebih awal lagi. Yohanes disebut sebagai penulisnya. Gaya tulisan dan bahasa yang digunakan dalam kitab Wahyu sangat berbeda dengan kitab Injil Yohanes sehingga banyak orang mengambil kesimpulan bahwa penulisnya adalah Yohanes yang berbeda. Tetapi tidak ada Yohanes yang lain yang lebih layak untuk diklaim sebagai penulis kitab ini, selain Yohanes rasul yang sudah begitu dikenal oleh jemaat-jemaat mula-mula. Selain itu tradisi juga mengatakan bahwa Yohanes meninggalkan Israel untuk menetap di Efesus (ibukota Asia, sebuah propinsi Romawi). Di Asia itulah terdapat ke tujuh jemaat yang dibicarakan dalam kitab Wahyu pasal 2 – 3, dan masing-masing jemaat menjadi penerima dari suratnya.
Kitab ini ditulis pada saat sedang gencar-gencarnya dilaksanakan penganiayaan terhadap orang percaya. Yohanes sendiri sedang dalam pengasingan di pulau Patmos (1:9), dan besar kemungkinan ia harus mengalami kerja paksa di daerah pertambangan di situ. Ada oang Kristen yang di bunuh (2:13), ada pula yang dipenjarakan karena iman mereka. Dan peristiwa yang lebih buruk masih akan terjadi (2:10), karena mereka diwajibkan untuk menyembah kaisar Romawi.
Orang-orang Kristen pada zaman itu menjalani kehidupannya sambil menanti-nantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Tetapi sampai 60 tahun sejak masa kematian-Nya harapan itu masih juga belum menjadi kenyataan. Memang cukup manusiawi jika sudah mulai ada jemaat yang goyah imannya. Jadi surat-surat ke berbagai jemaat/gereja, dan kitab Wahyu secara keseluruhan , diperlukan untuk memberi semangat kepada mereka supaya tetap teguh imannya. Allah masih tetap berdaulat. Dialah yang memegang kendali, tidak peduli bagaimanapun tampaknya atau keadaannya. Kristus, bukan kaisar, yang menjadi Tuhan atas sejarah. Di dalam tangan Kristuslah terletak kunci perkara-perkara yang sudah ditetapkan Allah. Dan Ia pasti akan datang kembali untuk melaksananakan keadilan-Nya. Ada masa depan yang indah serta mulia bagi setiap orang percaya yang setia – dan terutama bagi mereka yang telah menyerahkan hidupnya bagi Kristus. Dunia ini dan semua yang ada di dalamnya berada di tangan Allah. Kasih serta pemeliharaan-Nya terhadap umat-Nya tidak pernah mengecewakan.
Pesan yang disampaikan Yohanes ini mempunyai bentuk yang khas untuk memberi inspirasi maupun petunjuk. Lambang-lambang yang begitu jelas serta gamblang, bahkan bagi mereka yang baru pernah mendengar surat edarannya ini pun kepada jemaat-jemaat itu, tidak ada artinya bagi pemerintah pada waktu itu (yang selalu siap menyerang dengan tuduhan yang menghasut). Namun, yang lebih penting ialah bahwa lambang-lambang tersebut akan sama jelas serta gamblangnya bagi orang Kristen pada segala zaman. Orang Kristen masih terus mendapat tekanan-tekanan dari rezim-rezim totaliter. Kemenangan Kristus dan umat-Nya masih tetap relevan untuk zaman sekarang pun, ketika mesin-mesin canggih atau negara begitu sering mendapat kedudukan yang seharusnya diduduki Allah.
Pada zaman kita yang materialistis ini mudah sekali mengabaikan inti yang terkandung dalam kitab Wahyu ini. Di satu pihak, kita memandangnya bukan sebagai sesuatu yang dapat menarik imajinasi, melainkan meremehkannya menjadi sekedar sebuah jadwal rangkaian peristiwa semata-mata. Di lain pihak, karena bertentangan dengan rasio, kita menganggapnya malah sebagai sebuah khayalan dan mistik. Tetapi untuk dapat mengerti kitab Wahyu ini kita harus memandangnya sebagai kitab penglihatan serta sebagai kitab yang berakar kuat pada sejarah, yang memproklamirkan Kristus sebagai Tuhan atas sejarah. Mungkin pada zaman sekarang ini kita justru lebih memerlukan kenyataan-kenyataan kekal dari kitab ini, yang tidak dibatasi waktu. Dan kita memerlukan perspektifnya.
Untuk memahami pesan kitab Wahyu, dua fakta harus diingat: pertama, gereja-gereja yang dialamatkan si pengarang sedang menderita penganiayaan oleh negara (1:9; 6:8-11); 11:11); dan kedua, akhir dunia diharapkan akan segera terjadi (1:1, 3; 22:6, 10). Dengan kata lain, Wahyu adalah sebuah dokumen yang amat bertumpu pada dua kenyataan/peristiwa tadi.
Dengan membaca kitab Wahyu kita dapat segera melihat bahwa aniaya dan kesukaran sedang mencancam gereja-gereja. Masalah-masalah yang gawat baik dari luar maupun dalam gereja mudah terlihat. Jemaat Efesus dipuji karena kesabarannya dan karena tau membeda-bedakan orang-orang jahat (2:2); jemaat di Smirna akan mengalami kesusahan selama sepuluh hari (2:10); di Pergamus, Antipas mati syahid (2:13); kesukaran besar akan menimpa Tiatira (2:22); kepada jemaat di Filadelfia dijanjikan perlindungan Tuhan pada masa pencobaan (3:10).
Selama abad-abad pertama, kaisar-kaisar Roma memegang tampuk kekuasaan atas dunia, yaitu dari kaisar Agustus sampai Domitianus. Semua penganiayaan yang dilancarkan Roma terhadap gereja sebelum kaisar Dekius (250 M) bersifat lokal. Dibeberapa tempat tertentu orang-orang Kristen mulai merasakan sengat perlawanan pemerintah dalam tahun 64 M, kemudian sekali lagi selama pemerintahan Domitianus. Pembuangan Yohanes ke pulau Patmos adalah satu contoh dari kesukaran-kesukaran yang sedang dan akan terjadi.
Haruskah ini menjadi nasib gereja selamanya? Mungkinkah iblis dan sekutu-sekutunya akan memperoleh kemangan? Kitab ini memberikan jawaban yang menentukan. Naga akan dicampakkan dari langit (12:9); orang-orang saleh akan mengalahkan dia (12:11). Akhirnya, dia dan sekutu-sekutunya akan dicampakkan ke dalam “lautan api” (19:20; 20:10). Dengan demikian Allah itulah Mahatinggi dan gereja di tetapkan untuk selama-lamanya sebagai “pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (21:2. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, demikian itulah yang terjadi, “alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18).

Metode Umum Penafsiran
Sebelum mencoba untuk menyelidiki seluk-beluk kitab ini perlu diperhatikan beberapa metode pendekatan berikut ini:
A. Pendekatan dari Segi Masa lalu
Karena menunjuk kepada masa lalu, maka pendekatan ini menegaskan bahwa kejadian-kejadian dalam kitab Wahyu terjadi pada abad pertama, dan karenanya sudah digenapi. Tidak ada aspek nubuatan atau masa datang pada kitab ini. Menurut tafsiran ini maka latar belakang penglihatan-penglihatan itu ialah pertentangan yang ada antara gereja dengan Roma pada zaman para rasul (sampai tahun 100 M).
Pandangan ini menekankan hubungan kitab ini dengan jemaat-jemaat yang disebut alamatnya (1:11), tetapi agaknya hal ini tidak cocok dengan pandangan ke masa depan dari berita Yohanes yang secara khusus menubuatkan hal-hal yang akan datang (band. 1:3,19; 22:18-19).

B. Pendekatan dari Segi Sejarah
Metode ini mengakui sepenuhnya hubungan drama kitab ini dengan kejadian-kejadian di muka bumi, dan memandang kitab Wahyu sebagai sebuah cerita bergambar tentang pertentangan antara gereja dengan dunia (yang digiatkan oleh iblis) sejak zaman para rasul sampai akhir zaman. Krisis-krisis yang timbul dalam sejarah dunia, para penakluk dania masa lalu dan sekarang digambarkan dalam kitab ini.
Kelemahan yang terpenting dari metode ini ialah sukarnya menyesuaikan kejadian-kejadian dalam buku ini dengan peristiwa sejarah. Perselisihan pendapat yang serius, yang tidak dapat dirujukan kembali, antara para penganut pendekatan ini, telah menimbulkan keragu-raguan tentang sahnya pendekatan ini sebagai cara penguraian kitab tersebut.

C. Pendekatan dari Segi Masa Depan
Dengan mengecualikan pasal 1-3, kitab Wahyu dipandang sebagai berhubungan dengan masa depan, dengan menggambarkan drama yang akan terjadi pada akhir zaman, hari kemurkaan Allah dan kedatangan Kristus dari surga. Bagian pembukaan kitab ini, yaitu surat-surat kepada tujuh jemaat, dianggap terbatas pada abad pertama saja, atau sebagai gambar simbolis dari sejarah rohaniah gereja sejak zaman rasuli sampai kedatangan-Nya yang kedua.
Mengingat bahasa nubuatan kitab ini (4:1) dan pentingnya kejadian-kejadian yang dinubuatkan dalam fasal 4-22, maka metode ini agaknya lebih baik penafsirannya dari pada kedua metode sebelumnya. Namun bahaya yang mungkin timbul ialah bahwa dengan demikian buku ini dianggap tidak berhubungan dengan penerimanya dalam abad pertama, dan dalam beberapa hal dengan setiap orang sebelum akhir abad itu. Jika kita berhati-hati terhadap kecendrungan ini, maka pendekatan ini sangat bernilai.

D. Pendekatan dari Segi Idealis
Metode ini harus dibedakan dengan ketiga metode yang telah dibicarakan sebelumnya, karena metode ini tidak ada hubungan dengan sejarah, yakni terjadinya peristiwa-peristiwa yang benar. Metode ini lebih banyak berhubungan dengan kenyataan-kenyataan rohaniah daripada kenyataan sejarah. Dengan menekankan pertentangan antara Allah dan iblis, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan dosa, maka terpisah dari perhatian terhadap keadaan-keadaan sejarah yang khusus, metode ini meyakinkan pembaca bahwa kemenagan akan tercapai oleh kuasa-kuasa kebenaran.
Tentu saja inti dari kitab ini sudah bisa ditangkap melalui pendekatan ini. tetapi peniadaan latar belakang sejarah tidak sesuai dengan ajaran Alkitabiah, yaitu tentang kegiatan Allah dalam lingkup sejarah umat manusia. Unsur simbolis tidak boleh merupakan tekanan tunggal; aspek nubuat harus dipelihara.
Tidak satupun dari pendekatan penafsiran nubuat ini yang memuaskan bila dipakai sendiri. Telah diadakan usaha untuk menyatakan secara ringkas kekuatan dan kelemahan semua metode diatas, dengan demikian memungkinkan kita untuk memilih dari masing-masing metode itu hal-hal yang bermanfaat dan memakainya secara bijaksana dalam penyelidikannya sendiri.

Eksposisi Kitab:
Pasal 1 Pendahuluan: Penglihatan Yohanes mengenai Kristus
Dilihat dari berbagai segi, kitab ini sebenarnya merupakan “Wahyu Yesus Kristus” (1). Tuhan Yesus adalah narasumber bagi Yohanes dan menjadi pokok pembicaraan utamanya. Tuhan Yesus menyingkapkan tirai yang menyelubungi peristiwa-peristiwa yang akan datang agar Yahanes dapat memberitahukannya kepada orang banyak. Tidak ada yang spekulatif terhadap hal-hal ini. Semuanya sudah pasti, hal-hal yang akan segera terjadi. Penglihatan mengenai Kristus pada saat itu ditujukan pada awalnya kepada orang-orang percaya di ketujuh jemaat di propinsi Romawi di Asia – untuk dibicarakan dan kepada orang-orang Kristen sepanjang masa. Kelompok orang-orang Kristen yang sejati tidak akan ditinggalkan sendiri ataupun dibuang. Tuhan Yesus berdiri di tengah-tengah umat-Nya (12-13, 20): Kristus yang hidup, dalam segala kuasa dan kemuliaan-Nya; Tuan atas segala kehidupan dan kematian. Dialah yang menentukan ke mana akhirnya manusia.

Pasal 2 – 3 Pesan khusus kepada Tujuh Jemaat
Surat-surat ini ditujukan kepada jemaat-jemaat di gereja-gereja tertentu. Tetapi pesannya adalah bagi semua jemaat dan gereja secara keseluruhan. Perlu diperhatikan bahwa – kecuali di Smirna dan Filadelfia – bahaya yang dari dalam jemaat itu sendiri jauh lebih merusak daripada bahaya yang dari luar. Tuhan Yesus mengetahui kelemahan dan kekuatan setiap jemaat. Uraian pembukaannya mengingatkan setiap jemaat akan beberapa aspek yang sangat relevan mengenai Pribadi dan pekerjaan Tuhan Yesus.

2:1-7 Efesus
Jemaat di Efesus sangat kuat dan memiliki kemampuan rohani untuk membedakan mana yang benar dan mana yang sesat. Dalam jemaat ini terdapat ajaran yang benar, namun tidak ada kasih – bagi Kristus dan bagi sesamanya – padahal pada mulanya justru kasih itulah ciri khas mereka.
2:8-11 Smirna
Jemaat kecil di Smirna dilanda kemiskinan, tetapi kaya akan hal-hal yang penting. Perkataan Tuhan Yesus sangat membangun semangat mereka. Ia telah menentukan batas penderitaan mereka dan Ia menjanjikan kepada mereka karunia hidup kekal diseberang kubur.

2:12-17 Pergamus
Jemaat di Pergamus sudah bertahan dengan berani untuk berdiri teguh sekalipun ada tekanan dari luar. Tetapi ada beberapa anggota yang telah menganut ajaran sesat. Akibatnya, praktek-praktek penyembahan berhala dari masa lalu merayap masuk.

2:18-19 Tiatira
Jemaat ini juga merupakan sebuah jemaat yang anggotanya sangat beraneka ragam. Dalam banyak hal jemaat ini sehat. Tetapi di dalam persekutuan itu ada seorang perempuan yang sangat berpengaruh. Ia menganjurkan jemaat itu untuk berkompromi dengan dunia penyembahan berhala yang bobrok moral. Dan banyak orang terpikat oleh jalan pikirannya. Ada “orang-orang Kristen” yang jatuh ke dalam lumpur kejahatan yang dalam, mungkin untuk mempertontonkan superioritas moralnya; mungkin karena mereka keliru (pemikiran Yunani) dalam membedakan antara jiwa dan tubuh. Mereka yang tetap setia dijanjikan akan memperoleh kuasa Kristus dan penyertaan-Nya.

3:1-6 Sardis
Walaupun reputasinya baik, jemaat di Sardis sedang menuju kematian. Yang harus diatasi jemaat ini bukan oposisi, melainkan sikap apatis, yaitu tidak mau peduli dan sudah merasa puas dengan driri sendiri.

3:7-13 Filadelfia
Surat ini, sama seperti surat kepada jemaat di Smirna, tidak memuat kata-kata teguran atas kesalahan. Dari surat-suarat ini dapat disimpulkan, bahwa jemaat-jemaat yang paling besar, atau yang penampilannya paling mengesankan atau yang paling bergengsi, tidak selalu pasti baik keadaan rohaninya. Kristus membuka pintu bagi pekerjaan pelayanan yang efektif bukan bagi mereka yang kuat, melainkan bagi mereka yang setia.

3:14-22 Laodikia
Kasus paling buruk dari ketujuh jemaat itu ialah jemaat yang sedemikian puas dengan dirinya sendiri sehingga sama sekali buta dengan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang seperti itu jauh sekali dari yang seharusnya, sampai-sampai Tuhan Yesus sendiri harus berdiri di luar, sambil mengetuk-ngetuk pintu hati orang-orang yang mengaku dirinya Kristen, supaya Ia diperkenankan masuk. Apalagi Tuhan Yesus mengecam mereka sebagai yang suam-suam kuku. Kota ini bangga atas sekolah kedokterannya, dan terkenal akan minyak/salep pelumas matanya yang istimewa. Persediaan air Laodikia dialirkan dari sumber air panas yang cukup jauh. Bila mencapai kota itu maka air sudah dalam keadaan suam-suam kuku. Tidak ada yang patut dipuji dari kota ini.

Pasal 4: Penglihatan Yohanes mengenai Surga
Adegan beralih, secara khusus, dari apa yang terjadi di bumi ke apa yang sedang terjadi di surga. Yohanes senantiasa memandang kehidupan ini dengan perspektif yang benar, karena ia selalu mengarah ke kenyataan-kenyataan yang kekal. Sebab itu, gambaran mengenai jemaat-jemaat yang sedang berjuang itu memudar di hadapan penglihatan yang agung serta mulia mengenai tahta Allah: Allah mengendalikan segala sesuatu yang sedang terjadi. Segala sesuatu mengungkapkan kuasa Allah serta kemuliaan-Nya, kemenangan-Nya, kesetiaan-Nya yang luar biasa dan kesucian-Nya (pakaian putih, “lautan” kaca bagaikan kristal, bening dan tembus pandang). Para tua-tua yang mewakili semua umat-Nya yang setia bergabung dengan makluk-makluk yang mewakili seluruh ciptaan untuk memuliakan Allah.

Pasal 5 – 8:1 Tujuh Materai
Pasal 5 Gulungan Kitab Materai
Sampai disini Yohanes mulai melihat hal-hal yang harus terjadi (4:1). Gulungan kitab itu berisi rancangan tetap Allah bagi dunia ini, sebagaimana diungkapkan kepada Yohanes dengan serangkaian gambaran (6:1 – 8:1). Hanya Kristus yang berhak mulai menggerakan hal ini – bukan karena kekuasaan-Nya (singa), melainkankarena kematian-Nya sebagai korban persembahan (domba yang disembelih). Pasal 4 menggambarkan Allah Sang Pencipta. Pasal 5 ini menggambarkan Allah Sang Penebus. Respon bagi keduanya ialah pujian dan penyembahan yang bersifat universal.

Pasal 6 Materai dibuka
Ketika materai dibuka terjadilah serentetan malapetaka. Kemenangan diiringi dengan pembunuhan, kelaparan dan penyakit, seperti yang sering terjadi di masa Perjanjian Lama. Tetapi tidak peduli dengan apapun malapetaka itu, Allah masih tetap berdaulat dan mengendalikan segalanya. Kasih serta pemeliharaan-Nya atas umat-Nya tidak pernah mengecewakan. Ayat 12-17 menggambarkan serentetan peristiwa dahsyat berturut-turut, yang menjurus pada hari penghakiman oleh Allah sendiri.

Pasal 7 – 8:1
Mungkin keempat angin itu sama dengan keempat penunggang kuda di pasal 6. Jika memang demikian, Yohanes melihat kekuatan-kekuatan yang menghancurkan itu ditahan, sementara Allah memberi tanda pada setiap orang yang menjadi milik-Nya.

Pasal 8:2 – 11:19 Ketujuh Sangkakala
Pasal 8:2-13 Peniup keempat sangkakala pertama
Sangkakala-sangkakala itu mengikuti pola ketujuh materai, tetapi hukumannya lebih berat. Doa-doa umat Allah memainkan peranan penting dalam semua ini. Bunyi sangkakala itu merupakan peringatan. Hukumannya, walaupun berat, masih belum lengkap. Hukuman itu dimaksudkan untuk menyadarkan manusia. Yohanes melukiskan empat malapetaka yang melanda alam ini: bumi, laut, air dan langit. Suara seekor burung nasar menandakan bahwa masih akan terjadi yang lebih buruk lagi. Hukuman yang masih akan datang segera mempengaruhi umat manusia.

Pasal 9 Sangkakala kelima dan keenam
Kuasa-kuasa roh jahat (belalang kalajengking yang ganas), hamba-hamba “si perusak” (Apolion, yunani; Abadon, Ibrani) dilepaskan. Tetapi Allah memberi mereka batas waktu (masa hidup belalang sebenarnya kurang lebih 5 bulan). Walaupun yang menjadi target mereka ialah manusia, tetapi mereka tidak memiliki kuasa untuk menyentuh umat Allah. Mereka datang untuk membawa kesakitan yang sangat, sampai-sampai manusia berusaha agar bisa mati.
Penderitaan ini masih diikuti dengan dibunyikannya sangkakala keenam, yang sekaligus menjadi tanda bagi keempat malaikat yang sebelumnya ditahan di sungai Efrat, untuk membunuh sepertiga manusia. Tetapi, walau sudah diberi peringatan yang paling menakutkan pun orang-orang tetap keras kepala dan tidak mau mengubah cara hidup mereka. Inilah dunia tempat tinggal kita; dunia yang menolak Allah sampai pada akhirnya, walau akibatnya mencelakakan; dunia yang lebih suka membuat “berhala-berhala/dewa-dewa”nya sendiri, yang memilih dan menentukan sendiri standar tingkah lakunya.

Pasal 10 – 11:13 “selingan”: gulungan kitab kecil dan kedua saksi
Ada selang waktu antara sangkakala keenam dan ketujuh, sama seperti antara materai keenam dan ketujuh. Allah “menunda” hukuman-Nya yang terakhir, tetapi tidak untuk selamanya. Malaikat yang cemerlang serta menyilaukan itu menyampaikan kepada Yohanes pesan bagi dunia, pesan tersebut terasa pahit di perut tetapi manis di mulut.
Rupanya bait Allah (yang keempat) sudah dibangun kembali, sehingga sudah dimulai seremonial ibadah di dalamnya. Bait Allah ini dibangun pada saat perjanjian damai di Israel yang dipelopori oleh anti Kristus. Dari tujuh tahun masa tribulasi, tiga setengah tahun pertama diisi dengan kesepakatan bersama tentang peta perdamaian, tiga setengah tahun kedua diisi dengan kekejian terhadap ritual oleh anti Kristus, sehingga perlu dihadirkan dua orang saksi dari masa Perjanjian Lama untuk memberitakan Injil kepada manusia yang tersisa.

Pasal 11:14-19 Sangkakala ketujuh
Sangkakala ketujuh mengumumkan akhir dari semuanya. Puji-pujian dinaikan kepada Tuhan Yesus sebagai pemerintah atas segala-galanya. Proklamasi terhadap kekuasaan Allah atas dunia milik-Nya. Peristiwa maha penting terjadi yaitu tabir bair suci di sorga terbuka sehingga tabut perjanjian terbuka untuk memperlihatkan kemuliaan Allah, yang dalam prosesi pemenangan atas perang melawan kegelapan.

Pasal 12 – 14 Peperangan di Sorga dan Kemenangan Umat Tebusan
Pasal 12 Perempuan dan naga
Bagian-bagian ini secara khusus merupakan penghiburan bagi umat Israel yang teraniaya. Dalam penggambaran lebih lanjut kelihatannya ada misteri yang sedang disingkapkan dalam kaitannya antara Israel dan kelahiran Mesias. Ingatlah bahwa Yesus sendiri menjelaskan bahwa kedatangan Mesias pada awalnya hanya untuk keturunan Israel. Peperangan yang terjadi antara malaikat Allah (mikhael dan malaikat-malaikatnya) dengan naga (si ular tua), yang juga dibantu oleh malaikat-malaikatnya. Tetapi dimenangkan oleh malaikat Allah. Pesan utamanya jelas. Walaupun iblis kuat dan punya kuasa, tetapi ia sudah dikalahkan oleh Kristus.

Pasal 13 Binatang yang keluar dari laut
Binatang yang keluar dari dalam laut merupakan suatu makhluk majemuk yang diambil dari keempat binatang yang melambangkan empat kerajaan dunia berturut-turut seperti dalam kitab Daniel. Dengan mahkota-mahkota dan tanduk-tanduknya (kedaulatan dan kuasa) yang secara terang-terangan menentang Allah. Ia memperoleh kekuatannya dari si jahat (ay., 2, 4) dan tampaknya tidak dapat dibinasakan (ay., 3). Ia dapat menipu dunia, tetapi tidak bagi umat Tuhan (ay., 8).
Binatang kedua, kelihatannya seperti domba namun berbicara dengan suara iblis (ay., 11). Pada pasal 16:13 dan 19:20 ia disebut “nabi palsu.” Ia meniru yang sebenarnya dan menyesatkan banyak orang yang mau beribadah. Setiap orang tanpa mempedulikan statusnya yang tidak menyembahnya pasti dibunuh (ay., 15), atau kehilangan nafkah (ay., 17). Bagi Yohanes kedua binatang itu adalah kerajaan Romawi dan penyembahan kaisar.
Pasal 14 Sukacita orang-orang yang ditebus
Pasal ini sangat berbeda dengan pasal 12 – 13. Di dalam dunia ini umat Allah memang sering diperlakukan semena-mena dan dengan penuh kebencian. Di dalam kerajaan Allah keadaan akan berlaku sebaliknya. Dunia menentang Allah; Allah menentang kejahatan, sehingga setiap orang yang menaruh imannya kepada Allah dan tidak meletakkan dirinya dengan kecemaran dunia akan tampil sebagai “perawan.” Allah menawarkan kepada manusia Injil yang kekal, yang tidak dibatasi waktu (ay., 6), sekalipun kekuasaan dunia yang terbesar pun hanya bersifat sementara (ay., 8). Pada akhirnya akan ada keadilan yang mutlak. Semua yang baik akan dituai dengan penuh kasih; semua yang jahat akan dihancurkan sama sekali. Pada ayat 20 tercantum angka 200 mil. Dalam Alkitab New International Version 1600 stadia (1 stadion panjangnya sekitar 202 yard), sedangkan menurut Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) 300 km, yang jelas adalah bagian ini menjelaskan kehancuran total dari kejahatan di seantero bumi.

Pasal 15 – 16 Ketujuh Malapetaka yang Terakhir
Bencana-bencana besar yang sedang terjadi di dalam sejarah umat manusia, merupakan miniatur dari bencana/malapetaka besar yang terakhir dan berdampak global, yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau mendengar kebenaran. Berbagai malapetaka di sini yang dilukiskan dengan jelas oleh Yohanes mengingatkan kita akan berbagai malapetaka yang telah menimpa Mesir pada waktu Israel eksodus. Tetapi, pertama-tama kita melihat sukacita dan perasaan aman umat Allah. Mereka tidak menjadi sasaran segala kengerian akhir ini, yang secara khusus ditujukan kepada orang-orang jahat.
Berkali-kali dinyatakan dalam Alkitab surga sebagai tempat nyanyian. Bukan nyanyian pemujaan serta puji-pujian yang wajib, yang bernada sendu dan terus menerus secara rutin, melainkan nyanyian spontan. Kehidupan di surga begitu menyenangkan; orang-orang di situ sangat berbahagia dan tidak mempunyai beban, sehingga mereka bernyanyi-nyanyi tanpa tertahankan. Sesungguhnya puji-pujian itu meluap dengan sendirinya.
Keseluruhan pasal 16 memberikan penekanan pada beratnya konsekuensi yang harus diterima oleh bumi, bahkan semua yang dulunya pernah diciptakan Allah. Malapetaka tujuh cawan ditimpakan Allah atas: orang-orang yang memakai tanda dari binatang, laut, sungai-sungai dan mata air, matahari, tahta binatang, sungai besar Efrat , serta angkasa. Sebelumnya semuanya telah dikumpulkan di Harmagedon untuk sebuah perang akhir melawan Kristus. Dalam hal ini terjadi kontras antara kota Allah yang maha tinggi dengan kota Babel , kota besar yang penuh dengan kekejian.

Pasal 17 – 20 Kemenangan Terakhir, Kemenangan Allah
Pasal 17 – 19:5 Jatuhnya Babel
Sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa Babel dijadikan perlambangan dari keberadaan sesuatu yang bersifat najis, kafir serta sikap menentang Tuhan. Pada zaman Yohanes kekuasaan kaisar Romawi digambarkan sebagai Babel dalam masa Perjanjian Baru.
Harus diakui bahwa kesulitan terbesar dari kitab Wahyu adalah bagaimana bentuk/metode penafsiran yang tepat tehadap kitab Wahyu. Memang pada bagian awal sudah diberikan penjelasan tentang berbagai metode penafsiran yang dikembangkan berkaitan dengan kitab Wahyu.
Sejak dari awal kitab ini, Yohanes (dengan kehendak Tuhan) telah menyingkapkan misteri besar masa depan dunia. Semua hal yang akan terjadi atas dunia dimasa mendatang sudah disingkapkan dari selubungnya, tetapi tentu saja dalam penggenapannya ada yang akan terjadi secara nyata pada masa depan tetapi juga ada yang terjadi direntang waktu yang dekat dengan Yohanes. Tanggung jawab kita sekarang adalah menemukan bagian-bagian selubung yang telah terbuka tersebut dan menentukan apakah sesuatu itu masih bersifat nubuatan atau sudah bersifat sejarah.
Pasal 17 ini mengandung kedua unsur di atas, dengan demikian kita harus menafsirkannya secara hati-hati. Pertama-tama harus diakui bahwa ada kemungkinan Yohanes sedang berbicara tentang kerajaan Roma. Roma sebagai kota dengan tujuh gunung (ay., 9), yang moral penduduknya sangat dimanja oleh kebobrokan, sehingga orang-orang Kristen dilemparkan ke stadion untuk diadu dengan singa, tidak sedikit yang dibakar hidup-hidup sebagai hiburan bagi banyak orang. Roma sebagai pusat pembuangan kotoran bagi seluruh kekaisarannya. Berganti-ganti raja dan kekaisaran, tetapi tetap dengan perilaku buruknya.
Selanjutnya harus diakui bahwa setiap zaman akan bangkit babelnya sendiri, tinggal bagaimana kita memberikan penekanan terhadap masing-masing tafsiran. Hal ini dapat terjadi seiring dengan personifikasi dari segala ketamakan dan kemewahan serta kesenangan duniawi lainnya, yang menggoda manusia untuk menjauh dari Allah. Semuanya itu menjanjikan banyak tetapi sebenarnya hanya memberikan sedikit. Dan Babel, sebagai lambangnya, pada akhirnya dibinasakan juga.
Pasal 18 menggambarkan jatuhnya Babel, menggemakan jiwa dari semua nubuatan besar Perjanjian Lama tentang jatuhnya Babel (Yes. 13-14, 24; Yer 50-51; Yeh. 26-28). Pasal ini merupakan pernyataan terakhir yang lengkap tentang hukuman ke atas segala kuasa sepanjang segala zaman, yaitu kuasa-kuasa yang telah menjadi makin kuat karena kejahatannya dan memperlakukan manusia sebagai sekedar komoditi (ay., 13). Umat Allah digoda agar mau berkompromi dengan dunia. Tetapi mereka dipanggil bukan untuk berkompromi (ay., 4). Allah akan membalaskan mereka, keadilan akan ditegakkan. Hal itu demikian pastinya sehingga dapat dikatakan sudah terjadi. Babel sudah jatuh.
Pasal 19 secara khusus merupakan ungkapan sukacita atas jatuhnya Babel. Puji-pujian yang dinaikkan terasa sangat menyentuh serta mengungkapkan kebesaran Tuhan. Hal ini sesuai dengan pentingnya kemenangan ini terjadi, seperti yang sangat didambakan oleh semua umat Allah, juga para malaikat yang senantiasa melayani seluruh umat Allah, juga mereka yang terus memuji Allah dengan puji-pujian. Prosesi kemenangan ini diikuti dengan sebuah Perjamuan kawin Anak Domba. Pada saat peristiwa besar ini terjadi orang-orang akan melihat Yesus bukan lagi sebagai Anak Domba yang kelu di pembantaian, tetapi sebagai pahlawan yang pulang dari kemenangan. Kemenangan terjadi, iblis dan sekutu-sekutunya ditangkap lalu dibinasakan dalam sebuah “peperangan.”
Pada pasal 20 ini Yohanes melihat bahwa iblis itu dikendalikan oleh tangan Allah yang kokoh (ay., 1-3). Ia melihat jiwa-jiwa para martir yang mati karena mempertahankan imannya pada masa kesusahan besar, dibangkitkan untuk bertahta bersama Kristus selama 1000 tahun (ay., 4-6). Pada akhir pemerintahan itu kuasa-kuasa kejahatan bergabung untuk menyerang umat Allah, tetapi mereka semua dibinasakan sama sekali, juga iblis serta kaki tangannya (7-10). Dan ada kebangkitan orang mati secara umum. Ketika itu setiap orang akan berdiri di hadapan Allah dan dan masing-masing dihakimi menurut perbuatannya sendiri. Keputusannya ialah hidup kekal atau binasa kekal

Pasal 21 – 22:5 Dunia Baru Milik Allah
Setelah tidak ada lagi kejahatan, dan maut yang dibinasakan, akan seperti apakah zaman yang baru itu? Bumi yang baru adalah bumi yang tidak ada lagi kecendrungan dan kesempatan untuk melakukan kejahatan, selain itu semua unsur-unsur dosa yang telah mencemari bumi lama ciptaan Allah, telah digantikan dengan yang baru, yang tidak dapat dirusakkan oleh apapun juga.
Buni yang baru tidak akan mengalami kesedihan, kesakitan, perpisahan dengan orang yang dikasihi, bahkan tidak akan pernah ada malam. Karena Allah selalu hadir di situ. Ia sangat dekat. Kehadiran Allah membawa serta dampak pada perubahan kemuliaan manusia yang di tebus. Tidak ada dosa di luar ataupun di dalam, yang dapat menjatuhkan kita, yang dapat merusak hubungan yang sempurna ini, atau yang dapat membuat kita malu ketika berhadapan dengan Allah.
Kota-kota dunia mempunyai kekayaan dan keindahan, tetapi kota-kota itu menjadi tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kemegahan yang mulia dan kecemerlangan kota umat Allah. di sana akan ada kedamaian, kemerdekaan dan jaminan keamanan. Ini merupakan sesuatu yang sangat berharga, sungguh tak ternilai.
Pasal 22:6-21 Epilog
Pada bagian akhir suratnya, Yohanes mengokohkan kebenaran-kebenaran yang telah di tulisnya. Dengan menggunakan istilah-istilah yang paling tajam pada zamannya, ia mengingatkan orang-orang agar tidak mengacaukannya. Kata-kata penutupnya menyatakan bahwa semua ini penting dan mendesak. Hal-hal yang sudah dilukiskannya akan segera terjadi. Kedatangan Kristus sudah sangat dekat. Dan manusia kelak akan ditentukan berdasarkan sikap hidupnya terhadap Mesias. Apabila semuanya telah terjadi, maka tidak ada kesempatan kedua lagi. Pada akhirnya mereka yang tidak diselamatkan akan binasa kekal. Mereka yang tidak masuk ke dalam kehidupan kekal dan ke dalam hadirat Allah akan tertinggal di luar untuk selama-lamanya. Jadi, barangsiapa haus hendaklah ia datang. Hendaklah ia “mengambil air kehidupan” yang diberikan “dengan cuma-cuma” itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: