Just another WordPress.com site

Kekristenan dan Kematian

Arti dasar dari kematian adalah pemisahan (separation). Secara umum, kematian secara fisik didefinisikan sebagai berhentinya aktivitas secara permanent baik itu menyangkut manusia maupun makhluk hidup lainnya. Kematian rohani artinya kehilangan atau ketiadaan kehidupan rohani atau kondisi terpisahnya manusia dari Allah yang adalah sumber kehidupan.
Kata dasar bahasa Yunani untuk kematian adalah thanatos, yang dapat diartikan sebagai kematian atau keadaan mati. Kata ini juga digunakan untuk menggambarkan kehancuran atau hukuman mati. Pada masa Hellenistis, istilah ini merujuk pada pengertian secara metafora perihal kematian secara intelektual maupun kematian secara rohani. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka kematian dapat dilihat sebagai berhentinya atau akhir dari segala aktifitas kehidupan, kehancuran akan eksistensi manusia, dimana kematian menjadi garis akhir dari kehidupan manusia. Sebenarnya kematian adalah sesuatu kejadian yang normal menimpa manusia, yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Dengan kata lain kematian adalah sebuah konsekuensi terhadap kehidupan yang telah dialami.
Pandangan ini memberikan kesimpulan bahwa, dimana ada kelahiran dan kehidupan, maka disitu juga pasti akan ada kematian. Inilah hukum sebab akibat: jika seseorang telah memperoleh kehidupan di dunia ini, maka konsekuensi logisnya adalah ia harus siap juga menghadapi saat kematian.
Di dalam Perjuanjian Lama, kata yang dipakai untuk kematian adalah maivet (kematian) dan mut (mati atau dibunuh). Perjanjian Lama memandang kematian sebagai peristiwa yang diliputi oleh suasana yang kelam dan menyeramkan. Hal ini digambarkan sebagai peperangan antara dua suku/bangsa yang saling dicengkeram oleh ketakutan dan maut yang diakibatkan oleh tindakan yang sangat brutal dari suatu pihak kepada pihak yang lainnya. Ini adalah bentuk kematian yang tidak wajar, yang didahului dengan penyiksaan yang berat.
Perjanjian Lama juga menggambarkan kematian sebagai peristiwa yang diliputi oleh suasana yang kelam dan menyeramkan, yang seolah-olah tidak ada harapan lagi setelah seseorang menjalani kematian itu. Pengharapan setelah kematian di dalam Perjanjian Lama, agak suram.
Berbeda dengan Perjanjian Lama, yang menampilkan kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, maka Perjanjian Baru memunculkan nuansa yang berbeda. Ajaran tentang kematian dalam Perjanjian Baru sangat berbeda dengan apa yang dipahami dalam Perjanjian Lama. Jika dalam Perjanjian Lama, orang-orang memandang kematian sebagai sesuatu yang mengerikan dan tanpa harapan, maka dalam Perjanjian Baru, kematian bahkan disambut dengan sukacita (Flp. 1:21).
Yesus sendiri bahkan dalam Perjanjian Baru memberikan pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang dipahami dalam Perjanjian Lama. Yesus memandang kematian sebagai keadaan tidur. Di dalam beberapa peristiwa kematian, Yesus selalu memberikan reaksi dengan mengatakan bahwa orang yang sedang terbaring itu tidaklah mati melainkan tidur (Mrk. 5:39; Mat. 9:24; Luk. 8:52; Yoh. 11:11). Berdasarkan reaksi Yesus terhadap peristiwa-peristiwa ini, maka dapatlah disimpulkan bahwa bagi Yesus kematian berarti berhentinya kegiatan seseorang di dalam dunia ini.
Tentu saja pandangan ini berbeda dengan pemahaman orang-orang pada masa Yesus, yang memandang bahwa tidur yang dikatakan oleh Yesus adalah mengandung arti yang normal, yaitu kegiatan rutin dari manusia untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah serangkaian kegiatan. Itulah sebabnya, pada saat Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Lazarus sedang tidur, maka yang mereka pahami adalah tidur dalam arti sebenarnya, sehingga mereka memberikan tanggapan bahwa biarlah Lazarus bangun sendiri. lagi pula, tidur bagi orang yang sakit dianggap sangat baik untuk proses penyembuhan penyakitnya.
Pandangan Yesus tentang kematian sebagai keadaan tidur tidak serta merta berarti bahwa Yesus mengajarkan bahwa jiwa manusia dalam keadaan tidur setelah kematian, sebagaimana yang diajarkan oleh penganut paham bahwa jiwa dalam keadaan tidur (soul sleep) pada rentang waktu antara kematian dan kebangkitan.
Maksud Yesus di dalam pernyataan-Nya itu adalah memberikan suatu pemahaman bahwa sebenarnya kematian itu memberikan suatu rasa aman dan perhentian bagi seseorang yang telah sekian lama berjuang dengan segala jerih payah untuk memelihara kehidupannya, baik itu secara lahiriah maupun secara rohani. Kematian merupakan puncak kemenangan, khususnya bagi mereka yang terus memelihara iman sampai kepada kesudahan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: