Just another WordPress.com site

Pemimpin NYANYIAN JEMAAT

Oleh Mariane Pisca de Jong, S.Si (Teol)

Menyanyi, sebuah kegiatan yang selalu kita lakukan dalam ibadah. Kita memuji melalui nyanyian, kita bersyukur dengan ber nyanyi, kita berdoa dengan bernyanyi, kita menyesal dengan bernyanyi bahkan kita juga meratap dengan bernyanyi. Rasanya tidak enak jika dalam ibadah, kita tidak bernyanyi. Nyanyian seakan menjadi dominan dalam ibadah. Hal ini memang telah ada dan dilakukan sejak awal peribadahan Kristen bahkan dalam peribadahan Yahudi. Yesus dan murid-muridNya juga bernyanyi dalam perjamuan Paskah (Lihat Mat 26:30 atau Mrk 12:26). Sungguh sangat baik bahwa hingga sekarang kita masih melakukan kegiatan bernyanyi dalam ibadah kita kepada Allah. Namun, apakah kita bernyanyi untuk menyemarakkan ibadah atau kita beribadah dengan bernyanyi…?
Dalam konteks ibadah, kita terbiasa dengan menyanyi dan sering kita tertolong untuk mengeskpresikan jiwa. Namun sering sekali itu hanya menjadi luapan perasaan belaka, yang sebenarnya tidak menyentuh spiritualitas kita. Dengan perkataan lain, sering sekali kita menyanyi hanya sebagai luapan psikologi belaka dan tanpa penghayatan iman. Pertanyaan menarik untuk direnungkan: kapan terakhir kali kita menyanyi dan melaluinya iman kita berelasi secara khusus dengan Allah (bandingkan dengan Yoh. 4:23-24).

Prokantor atau Song leader … ?
Dalam ibadah, umat bernyanyi secara bersama-sama. Maka akan menjadi sulit jika tidak ada yang memimpin. Kita mengenal prokantor sebagai pemandu lagu dalam ibadah atau singer atau songleader. Manakah yang tepat?
Kata latin cantor berarti penyanyi dan direktur musik pada organisasi gereja Lutheran , sama seperti khazan sebagai pengatur dan pemimpin paduan suara dalam sinagoge Yahudi .
Kantoria di Jerman disebut ‘kantorei’ yang terdiri atas para penyanyi koor serta para musisi instrumental. Cantor – di jerman dan di negara-negara lain (status diakui dan berijasah resmi) adalah pemimpin musik ibadah (nyanyian jemaat, kantoria/paduan suara, solis, para pemain instrumen) biasanya sekaligus organis kepala dan dirigen kantoria.
Memang disayangkan jika di Indonesia fungsi ini tidak berijazah dan pengertian cantor seakan ‘disepelekan’ dengan menempelkan istilah ini kepada sekelompok kecil penyanyi yang kualitasnya kurang dari paduan suara, demikian juga pemimpin kelompok kecil tersebut yang berada di depan/pro penyanyi/cantor (dalam bahasa inggris – songleader dan singers).
Pdt. H.A. van Dop mengusulkan istilah yang sederhana: “pemimpin nyanyian” (sebuah istilah yang serupa kita jumpai dalam Mazmur;Pemimpin Biduan). Sebuah istilah yang menamai seseorang yang berkualitas oleh karena telah terdidik dan terlatih untuk sungguh-sungguh melakukan pelayanan dengan berhikmat sebagaimana cantor ini sejak dulu kala juga mengikuti pendidikan (lihat I Tawarikh 25: 1-8).
Nyanyian Jemaat
Nyanyian sangat menolong jemaat untuk mengungkapkan seluruh isi hati baik ucapan syukur, doa atau permohonan, penyesalan,maupun tekad, penyataan iman,dan empati pada sesama dan lingkungan. Nyanyian juga menolong jemaat untuk menghayati isi pembacaan Alkitab, makna Firman Allah dan pengutusan untuk melayani sebagai gereja yang diutus keluar.
Oleh sebab itu, nyanyian yang dipakai dalam ibadah jemaat harus sungguh-sungguh dipersiapkan, tidak asal pilih atau sesuka hati cantor serta harus mempertimbangkan beberapa hal berikut:
 Tahun Liturgi (Apakah saat ini kita sedang merayakan Adven-Natal-Epifani- Pra Paskah- Paskah-Pentakosta- Minggu Biasa)
 Tema Ibadah dan Leksionari atau pembacaan Alkitab (sebaiknya diperhatikan apa yang hendak kita renungkan, gumulkan dalam tema dan pembacaan Alkitab dalam ibadah tersebut)
 Nyanyian dalam rangkaian unsur liturgi (mari perhatikan apakah lagu yang kita pakai sesuai untuk lagu pembukaan, pengakuan dosa, persembahan syukur atau pengutusan dan lain sebagainya)

Praktek bernyanyi dalam ibadah
Ada banyak cara untuk menyanyikan nyanyian ibadah, tidak hanya dinyanyikan secara bersama saja melainkan ada berbagai variasi,tidak monoton guna melibatkan umat secara aktif dalam ibadah serta menolong umat lebih memahami nyanyian dan menghayati makna nyanyian.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dipakai dalam menyanyikan nyanyian jemaat:

Pendarasan/Ruminasi
Cara pendarasan atau ruminasi biasa dipakai untuk melantunkan doa, perikop Alkitab, Mazmur, Instruksi Liturgis atau Salam .
Contoh: PKJ No. 186

Antifonal : Berbalasan antara dua kelompok penyanyi
Misal: Kidung Jemaat (KJ) No. 437, 44, 269, 428

Responsoris : Berbalasan antara seorang pemimpin nyanyian dan orang banyak (umat).
Misal: KJ No. 13, 47,

Refrein: Dinyanyikan bersama dengan refrein yang tetap
Contohnya hampir di setiap lagu, bisa dikombinasikan dengan nyanyian responsoris dan antifonal)

Alternatim/Strofe : Bergilir ganti antara dua kelompok (mirip antifonal) namun bergantian bait per bait (misal bait 1=pria; 2=wanita; 3=anak-anak; 4=pemuda,; bait 5=instrumental musik ; bait 6=semua)
Contoh lagu yang bisa dipakai: KJ No. 170, 80, 69, 78 (dsb setiap lagu dengan bait yang banyak, yang merupakan cerita yang memiliki alur dan klimaks)
Canon: artinya beraturan secara bergaris atau berlini. Bunyi lagunya memang bersusulan antara dua, tiga, empat suara, sehingga membuat garis suara.
Misal: KJ 469, 470, 299; NKB 224, 54 (Taize)

Pemimpin NYANYIAN JEMAAT yang Kreatif
 Pemimpin nyanyian jemaat yang kreatif menyadari benar perannya sebagai pelayan ibadah yang rendah hati.
 Pemimpin nyanyian jemaat yang kreatif adalah pemimpin yang bertanggungjawab dan disiplin.
 Pemimpin nyanyian jemaat yang kreatif selalu berlatih dan belajar.

Pada akhirnya,
Nyanyian dalam ibadah itu membawa kita pada pengenalan, penghayatan dan ‘pemujaan’ kepada Tuhan. Oleh karena ibadah itu adalah bakti, maka nyanyian dalam ibadah adalah roh baru yang telah mengalami sentuhan dari Roh Allah. Hanya itu yang memungkinkan kita bertemu dengan Allah melalui pujian dan melaksanakan tugas menolong orang memuji Allah dengan cara yang benar (Ef. 5:18-21). Itulah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.

“Kewajiban saya adalah untuk melakukan hal yang benar sisanya adalah di tangan Tuhan..”
– Martin Luther King Jr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: