Just another WordPress.com site

Kej. 9:1-17; Kej. 1:26

Pendahuluan:
Jika kita membelikan sebuah mainan baru buat anak kita, dan mainan itu adalah sesuatu yang sangat ia impikan, bagaimana biasanya mainan itu akan diperlakukan? Apakah anak kita akan merusak, mengabaikan atau membuang mainan tersebut? Pasti jawabannya tidak mungkin. Anak kita pasti akan memperlakukannya dengan baik, merawatnya, menjaganya, bahkan mungkin tidak akan sembarang di pinjamkan pada temannya. Namun demikian, coba perhatikan mainan tersebut setelah beberapa waktu lamanya. Apa yang terjadi dengan mainan itu? Ada yang bisa menebaknya? Jarang sekali ada anak yang bisa merawat mainannya dalam jangka waktu yang lama, sering sekali yang terjadi adalah pengabaian dan pembiaran, apalagi ketika ia sudah mendapatkan mainan baru.
Sayangnya kebiasaan tersebut bukan hanya terjadi pada anak kita, sebab tidak jarang kita pun melakukan hal yang sama. Apalagi bila kita kaitkan dengan bumi tua kita ini, yang kita tempati bersama-sama, berbagi dengan mereka yang lain dari kita, dinikmati dalam jangka waktu yang sangat lama dan entah sampai kapan. Memelihara bumi sering sekali hanya menjadi slogan dan bahkan mungkin itu hanya menjadi wacana abstrak normatif, yang kita sendiri bingung bagaimana harus memulainya? Kita pun berusaha melakukan sesuatu: misalnya: menggunakan konsep Reduce, Reuse, Recycle dan Repair.
Reduce : berarti kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce juga berarti mengurangi belanja barang-barang yang anda tidak “terlalu” butuhkan seperti baju baru, aksesoris tambahan atau apa pun yang intinya adalah pengurangan kebutuhan. Kurangi juga penggunaan kertas tissue dengan sapu tangan, kurangi penggunaan kertas di kantor dengan print preview sebelum mencetak agar tidak salah, baca koran online, dan lainnya.
Reuse : berarti pemakaian kembali seperti contohnya memberikan baju-baju bekas anda ke yatim piatu. Tapi yang paling dekat adalah memberikan baju yang kekecilan pada adik atau saudara anda, selain itu baju-baju bayi yang hanya beberapa bulan dipakai masih bagus dan bisa diberikan pada saudara yang membutuhkan.
Recycle : mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah organik di rumah anda, menggunakan bekas botol plastik air minum atau apapun sebagai pot tanaman, sampai mendaur ulang kertas bekas untuk menjadi kertas kembali.
Repair : usaha perbaikan demi lingkungan. Contoh memperbaiki barang-barang yang rusak agar bisa kita gunakan kembali seperti sepatu jebol yang kita perbaiki karena dengan begitu kita tidak perlu membeli sepatu baru. Hal lain yang lebih besar adalah reboisasi atau perbaikan lahan kritis karena dengan ini kita bisa memiliki daerah resapan yang lebih besar dan menahan limpahan air yang bisa menyebabkan longsor. Penanaman bakau juga merupakan perbaikan lingkungan. Vulkanisir ban juga repair sehingga dapat kita reuse.
Namun demikian, sering sekali hal-hal tersebut sulit untuk menjadi habbit/kebiasaan. Hari ini kita akan coba merenungkannya bagaimana caranya agar mandat Allah untuk memelihara bumi menjadi suatu kebiasaan? Prinsip seperti apa yang harus kita bangun?
1. Memelihara bumi berarti memperpanjang kesempatan hidup (ay. 1-7)
a. Tersedia kehidupan bagi anak – cucu, bukan hanya berarti kita memiliki anak cucu, namun kesempatan untuk hidup terpelihara bersama mereka (ay. 1-3).
b. Tersedia kesempatan hidup yang sama dengan ciptaan lain (ay. 4-7).
Prinsipnya: kesempatan hidup adalah milik semua makluk.
2. Memelihara bumi berarti menghormati pemilik dan pemberi hidup (ay. 8-16)
a. Prinsip perjanjian: kesepakatan antara 2 pihak, dimana keduanya secara sadar untuk bersama-sama ditundukkan oleh perjanjian. Apabila salah satu pihak gagal, maka perjanjian tersebut batal sehingga segala kerugian dibebankan pada pihak yang sengaja menggagalkannya.
b. Prinsip perjanjian Allah: Allah dalam kemurahan-Nya membiarkan diri-Nya diikat oleh perjanjian yang dibuat-Nya, sekalipun Ia tau bahwa umat tidak mampu memenuhi perjanjian-Nya tersebut. Namun demikian, melalui perjanjian itu Allah sesunggunya sedang mengikat diri-Nya dengan umat.
c. Perjanjian Allah disahkan dengan tanda dalam hal ini busur Allah atau biasa kita sebut pelangi. Tanda ini bukan hanya berfungsi sebagai materai (azas pengesahan), tapi juga sebagai manifestasi kesetiaan Allah (azas eksistensi).
d. Prinsipnya: menjadi umat Allah telah membuat kita terikat untuk setia melayani-Nya.
3. Memelihara bumi berarti memelihara iman menjadi tetap hidup (ay. 17)
a. Saat kita melihat pelangi sehabis hujan, maka sebenarnya pelangi tersebut bisa dijelaskan oleh science, sebagai hasil perlintasan cahaya matahari yang melewati kristal-kristal air dan menghasilkan spektrum warna tertentu yaitu: merah, jingka, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Namun demikian, pemahaman kita tentang pelangi tidak berhenti disitu saja, sebab dalam perjanjian tersebut Allah berelasi secara spiritual dengan manusia melalui tanda busur atau pelangi. Jadi, bagi kita pelangi secara spiritual adalah tanda yang menolong kita untuk beriman. Sehingga walaupun kita mengalami badai hujan sehebat apapun dan setelah itu reda dan kita melihat pelangi maka kita kembali beriman bahwa hidup masih terus berlanjut.
b. Apakah iman itu? Kitab Ibrani dengan jelas memberikan perspektif mengenai iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Heb 11:1 ITB). Semua kita telah mengamini dan menghafalinya, namun jika kita baca lagi, apa sebenarnya artinya? Bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita menghubungkannya dengan kehidupan kita? Ini tidak semudah berkata amin, apalagi menghafalkannya belaka. Iman meliputi dua aspek dasar dan bukti. Dasar dari pikiran, perkataan dan perilaku kita yang mengenal dan mengasihi Allah, serta bukti dari terpeliharanya kehidupan spiritual kita dihadapan Tuhan. Sederhananya: semua yang kita pikirkan, perkatakan, dan menjadi perilaku didasarkan pada pengenalan dan kasih kepada Allah dan melalui pikiran, perkataan dan perilaku tersebut kita membuktikan kehidupan rohani kita di hadapan sesama.
c. Iman yang hidup berarti pikiran, perkataan, dan perilaku yang didasarkan pada pengenalan dan kasih kepada Allah dan melalui pikiran, perkataan dan perilaku tersebut kita membuktikan kehidupan rohani kita di hadapan sesama yang senantiasa relevan di manapun dan kapan pun itu dipraktekkan.
d. Prinsipnya: orang beriman adalah orang yang mampu mencintai Tuhan dan mengasihi ciptaan-Nya pada waktu bersamaan.
Menghadapi dunia yang semakin tua ini, kita bertugas untuk memeliharanya, dari orang-orang baik yang telah mendahului kita, demi indahnya kehidupan kita sekarang dan untuk kehidupan baik yang kita tinggalkan bagi generasi setelah kita. Langkah praktisnya adalah kita berusaha melakukan Reduce, Reuse, Recycle dan Repair sehingga kita bersama-sama menjalankan mandat Allah untuk memelihara bumi. Jangan lalai melakukannya sebab dengan memelihara bumi sesungguhnya:
1. Kita sedang memperpanjang kesempatan hidup.
2. Kita sedang menghormati pemilik dan pemberi hidup.
3. Kita sedang memelihara iman menjadi tetap hidup.
Tuhan kiranya menolong kita semua, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: