Just another WordPress.com site

Iman kepada Allah yang berinkarnasi merupakan jawaban atas pergumulan manusia. Menempatkan iman kepada pribadi kedua Allah yang berinkarnasi merupakan sauh yang kuat, oleh karena melalui inkarnasi sesungguhnya Allah telah menjadi sama seperti manusia kecuali dalam dosa, mengambil rupa hamba yang dalam ketaatan terus memikul salib dan menjadi tebusan bagi umat-Nya. Iman kepada-Nya menjadi efektif oleh karena umat meresponi dalam persekutuan Allah yang berinkarnasi (Inkarnal: di dalam daging, menjadi daging, memikul dalam diri-Nya segala keterbatasan manusia), yang tidak terbatas pada realita Allah yang datang mencoba memahami apa yang dialami manusia, hingga Ia dalam diri Yesus hanya harus mengalami ‘trans‘ dan merasakan apa yang telah dialami oleh manusia. Sulit memikirkan kebenaran dari Allah yang menyatakan diri-Nya dalam keadaan ‘trans‘.

Iman yang efektif adalah iman yang tak terpahami oleh karena ia terus bergumul dalam pencarian, pengenalan dan persekutuan dengan Allah. Yesus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan tetap merupakan misteri yang ditemukan dalam perjumpaan dengan Allah (encountering with God) dalam momentum prima yang dianugerahkan Allah kepada umat-Nya. Seperti Paulus yang terus menerus berusaha agar ia bisa mengenal Allah dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, sehingga keserupaan dengan-Nya merupakan suatu keniscayaan. Walaupun memang Allah yang berinkarnasi itu adalah deus revelatus yang sekaligus deus absconditus.

Iman kepada Yesus tidak dapat digantikan oleh gambaran apapun yang diberikan oleh budaya, karena terbukti bahkan simbol-simbol ritual kurban dalam Perjanjian Lama tidak sanggup menggantikan darah ‘anak domba’ yang tercurah atas Golgota. Sebab hanya melalui iman kepada Yesuslah Kristologi bukan saja menjadi objek empiris, namun bagian dari experience; Kristologi yang bukan saja dogmatis namun praxis; kristologi yang inkarnal dan bukan transposition; Kristologi yang tidak hanya berhenti pada hadir dan mengalami penderitaan umat, namun Kristologi yang secara serius mengerjakan bagi umat jalan keluar yang essensial atas penderitaannya; Kristologi yang kehadirannya memberi makna bukan hanya tampil dengan wajah yang sangat teduh namun dengan sorot mata yang tajam kepadanya, dengan mata yang besar namun indah meskipun hidungnya pesek (seperti yang diusahakan dalam perspektif kontekstualisasi), namun Kristologi yang menjadi daging, yang ber-Inkarnasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: