Just another WordPress.com site

Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”
Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:
Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.
Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”
Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.
(Kej 50:15-21 ITB)

Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Yakub, ayah Yusuf dan saudara-saudaranya, meninggal dan dimakamkan di Kanaan.  Sekembalinya mereka di Mesir, muncul ketakutan bagi saudara-saudara Yusuf, apabila nanti Yusuf akan membalas dendam terhadap kejahatan dan atas segala kemalangan yang dialaminya, yaitu:

  1. Dikucilkan (37:4)
  2. Dicemooh  (37:19)
  3. Dibuang ke sumur (37:24)
  4. Dijual (37:28)
  5. Difitnah (39:14-20)
  6. Dilupakan (40:23)

Yusuf punya kuasa dan kesempatan untuk membalas dendam tapi ternyata ia tidak melakukannya. Beberapa ujian hidup juga dialaminya, namun ujian-ujian hidup ini telah membawa Yusuf pada kematangan karakternya.  Apa saja ujian hidup yang dialami Yusuf ?

Ujian kemalangan (37:28)

Ketika Yusuf berada di sumur itu, mungkin sangat berguna baginya. Di situ ia sendirian dan putus asa, maka ia telah siap untuk dibentuk oleh Tuhan. Jika dalam dirinya ada kesombongan, ambisi pribadi atau visi tentang kepentingannya sendiri, maka ia akan meratapi kemalangannya di dalam sumur.

Pengalaman di dalam sumur merupakan kemenangan awal bagi Yusuf. Hebat!

Ujian Badani (39:1-23)

Persoalan kedua yang dihadapinya adalah bujukan istri Potifar untuk tidur dengan dia. Daya tarik seks merupakan daya pikat atau bujukan yang terkuat bagi laki-laki. Dikendalikan atau tidaknya, menentukan sifatnya. Hingga saat ini Yusuf telah menyatakan kesaksian yang suci dan murni bagi Allah. Hebat!

Ujian jiwa dan pikiran (40:1-41:36)

Sampai di titik ini, sebenarnya Yusuf dapat berpikir, “aku taat kepada bapa tetapi dijual oleh saudara-saudaraku. Aku setia kepada Tuhan dengan tidak menjamah istri tuanku tetapi sekali lagi aku menderita dan difitnah serta dianggap penjahat.”

Seolah-olah penderitaan terjadi karena ia setia dan ini sungguh tidak adil. Yusuf seharusnya kecewa dan frustrasi dengan tiap kejadian yang dialaminya. Tetapi ia justru semakin setia kepada Tuhan. Hebat!

Ujian kemakmuran (41:41-42)

Dalam waktu beberapa jam saja, Tuhan memulihkan Yusuf, mengangkatnya dari penjara yang hina dan dimuliakan oleh Firaun sendiri dengan cara diberi kedudukan sebagai pimpinan  suatu negara yang makmur, luas, modern serta sedang mengalami masa kejayaan dalam sepanjang sejarah.

Meskipun mendapatkan semua kelimpahan, namun lagi-lagi Yusuf tidak juga menyangkal Tuhan dan imannya. Hebat!

Ujian Batin (50:15)

Tuhan mengijinkan Yusuf untuk menghadapi suatu ujian lagi. Yusuf diberi kesempatan untuk membalas dendam kepada saudara-saudaranya. Mereka telah memperlakukannya sedemikian kejam, dan sekarang Yusuf punya kuasa dan kesempatan untuk membalas.

Yusuf menyerahkan dirinya kepada Tuhan , maka sifat Tuhan dinyatakan dalam hidupnya,yaitu buah Roh. Yusuf mengampuni dan menunjukkan rahmat kepada saudara-saudaranya. Yusuf bukanlah seorang munafik yang berpura-pura ikut Tuhan. Yusuf ‘asli’ dan sungguh-sungguh mengampuni saudara-saudaranya.

Karakter Yusuf telah dibentuk oleh Tuhan sedemikian rupa dan ia menang atas ujian klimaks ini. Hebat!

Ini ada sebuah surat yang diberikan untuk teman-teman muda di sini:

Teman-teman,

Perkenalkan, namaku Yusuf.

Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar cerita hidupku.

Aku masih muda, sama seperti teman-teman

Tapi aku nggak mau dianggap ‘gampangan’ seperti anggapan saudara-saudaraku

Aku nggak gampang menyerah untuk meraih impianku

Aku terus berusaha untuk tunjukkan bahwa aku bisa!

Aku bisa mengabaikan kata hati yang terus membujukku untuk berbuat kesalahan

Aku ingin terus dekat dengan Tuhan

Banyak orang mengira hidupku begitu sengsara, terkekang dan nggak asyik.

Tapi teman-teman, pandangan itu keliru !

Aku mau bilang pada teman-teman disini, aku  harap teman-teman juga akan bilang ke siapa aja yang ingin tahu tentang hidupku:

Aku menikmati hidupku. Hidupku asyik!

aku bangga akan hidup masa mudaku

Kenapa demikian? Karena aku melihat banyak pemandangan hidup,

Tapi aku dikuatkan Tuhan selalu untuk bisa memilih pemandangan yang bikin hidupku asyik yang bukan asyik sesaat.

Aku begitu beruntung mengalami hidupku ini.

Aku seorang muda yang hebat tapi bukan ‘gampangan’.

Aku rindu teman-teman disini juga mengalami masa muda yang asyik seperti aku.

Aku yakin teman-teman juga adalah seorang muda yang hebat!

God be with you always, my friends !

 

Dari temanmu di masa muda,

Yusuf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: