Just another WordPress.com site

Ibrani 12:12-17

Kita adalah persekutuan dan bukan perkumpulan.  Bersekutu sudah pasti berkumpul namun berkumpul belum tentu bersekutu.  Oleh karena itu nama kita adalah ‘persekutuan orang percaya’.  Laki-laki dan perempuan yang bukan hanya sekedar berkumpul, namun bersekutu.  Bersekutu bukan hanya karena kita satu jenis yaitu ‘homo sapiens’, namun oleh karena kita telah dipersekutukan Allah dengan diri-Nya melalui penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.  Namun dalam persekutuan ini, kita tidak hanya merayakan penebusan tersebut, namun kita terus menerus mencoba menghayati dan menghidupkan penebusan itu dalam kehidupan setiap hari.  Dalam persekutuan itulah kita mampu menciptakan kerukunan dengan semua orang.  Sudah pasti kita akan sama-sama mengaminkan bahwa persekutuan kita adalah demonstrasi dari kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Kita saling menyapa ‘syalom’ dalam genggaman tangan yang erat, kita saling mengunjungi untuk menguatkan satu dengan lainnya, kita saling mendoakan supaya terpelihara kehidupan spiritual kita, kita bertumbuh melalui pendengaran dan pemberitaan firman agar kita tau bagaimana menjalani kehidupan yang lebih berkenan kepada Tuhan, dan kita kembali ke dalam keluarga kita masing-masing dengan membawa berkat dari Tuhan.  Itu semua hanya akan tercipta dan terwujud apabila kita mengalami hidup rukun dalam persekutuan ini.

Namun demikian, setelah sekian lama kita bersekutu: mengalami pasang surut, berganti sistem, ada yang datang dan ada yang pergi, hingga secara literal dipandang perlu untuk dihayati kembali makna persekutuan kita.  Pertanyaan penting yang masih perlu dan relevan untuk dipikirkan adalah:  mengapa dan bagaimana kita mengalami dan mewujudkan hidup rukun dalam persekutuan kita ini?  Tentu saja pertama-tama dari kelompok kecil hingga dalam persekutuan gereja kita.  Perenungan ini akan menolong kita menemukan jawabannya.

Kerukunan hanya dihasilkan melalui persekutuan.  Mungkin kata-kata ini kedengarannya klise semata, namun apabila kita merenungkannya dalam konteks penerima surat Ibrani maka kita akan menemukan betapa sulit pelaksanaannya.  Penerima surat ini  adalah para orang-orang Ibrani (secara lahiriah disebut Israel oleh karena dilahirkan dari benih Yakub, yang mewarisi hukum Musa sebagai hukum Tuhan dan hidup dalam bahasa serta budaya Ibrani).  Mereka pertama-tama hidup dalam tradisi Torah (hukum-hukum Perjanjian Lama), selanjutnya mereka mempercayai dan menanti pengharapan hadirnya Mesias yang akan menyelamatkan mereka, serta menjadi pengikut Kristus oleh karena kasih karunia dalam iman yang mereka terima melalui kesaksian langsung dari para murid Yesus.  Namun demikian, keadaan menjadi sulit oleh karena mereka hidup bersama-sama dengan orang-orang lain yang juga menerima kasih karunia oleh karena percaya kepada Kristus sebagai Mesias oleh kesaksian para murid Yesus.  Kenapa dikatakan keadaan menjadi sulit?  Oleh karena orang-orang lain itu adalah orang-orang yang memang sama sekali asing bagi mereka: bukan hanya bahasa dan budaya, tetapi juga kepercayaan hidup yang lama.  Orang-orang Ibrani ini ‘dipaksa’ Allah untuk hidup rukun dengan orang Bar-bar yang kanibal; orang Yunani yang suka berpesta-pora bahkan melakukan seks secara menjijikan; orang-orang Romawi yang lebih menekankan pada hal-hal lahiriah dari pada hal-hal spiritual; orang-orang Mesir yang menyembah binatang dan menyukai sihir, dan lain sebaginya.  Hidup rukun oleh karena Allah mengasihi bani Israel sama seperti Ia mengasihi orang Bar-bar, Yunani, Romawi, Mesir yang telah percaya kepada-Nya dan mengalami penebusan dalam Kristus oleh karena kesaksian para murid Yesus.

Memang ada beberapa dari antara orang-orang Ibrani ini yang kemudian merasa unggul karena mereka terlahir sebagai umat Israel, oleh karena itu pada pasal-pasal sebelumnya dari kitab ini kita temukan kecaman dari penulis terhadap apa yang menjadi asaz-asaz kepercayaan Israel: Musa, Sabat, Imam Besar, Harun, Tabut Perjanjian, serta Bait Allah yang secara literal disebutnya hanya sebagai kiasan pada masa sekarang (9:9a) dibandingkan dengan Yesus Kristus.  Orang-orang ini merasa lebih unggul dari orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, oleh karena mereka mengikuti hukum Musa, mempraktekan aturan sabat secara ketat, memperoleh kesempatan mempersembahkan korban penebus salah melalui imam besar, mewarisi ibadah yang dipraktekan dari Harun, memiliki tabut perjanjian sebagai pertanda kehadiran Allah serta Bait Allah sebagai lambang peribadahan yang benar tapi rupanya itu semua hanyalah kiasan, simbol, sebuah lambang.  Sebab ketika Kristus hadir, maka semua itu menjadi sia-sia.  Sama seperti ketika ketika orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, yang dulunya telah hidup dalam kesia-siaan namun sekarang mengalami hidup yang baru oleh karena penebusan Kristus yang mereka percayai berdasarkan kesaksian para murid Yesus, demikianlah mereka telah sama-sama dipersekutukan dengan Allah.

Oleh karena apa yang telah Allah kerjakan baik bagi orang Ibrani dan juga kepada orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, maka tugas selanjutnya dari orang-orang yang telah dipersekutukan oleh Allah dengan diri-Nya adalah menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah; meluruskan jalan dari kaki yang pincang agar tidak jatuh semakin dalam, tetapi menjadi sembuh (ay. 12-13).  Inilah kerukunan yang dihasilkan hanya dalam persekutuan.  Melalui persekutuan ini kita menciptakan kerukunan yang saling menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah, serta meluruskan jalan agar tidak ada seorang pun dari persekutuan ini yang kemudian jatuh semakin dalam dalam kepincangan hidupnya, melainkan menjadi sembuh.  Kerukunan bukan hanya berarti tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, namun kerukunan dalam persekutuan memiliki arti yang lebih dalam dari itu semua yaitu kesediaan diri untuk menjadi penguat dari tangan yang saudaranya lemah dan lutut sahabatnya yang goyah, serta pelurus dari kehidupan rekannya yang telah bengkok. Inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Banyak usaha untuk menciptakan persekutuan.  Misalnya komunitas RT/RW, karang taruna.  Sekarang malah sudah muncul dengan nama-nama yang keren.  Misalnya kumpulan pengendara motor menyebut dirinya biker’s; kelompok pengendara sepeda bersatu dalam bike to work’s; para penyuka tontonan OVJ menyebut dirinya OVJ mania; para penyuka talkshow bukan empat mata menyebut dirinya ‘tukulers’;  bahkan dikalangan kampus ada kelompok untuk orang-orang yang Ip-nya anjlok yaitu ‘nasakom’ (nasib satu koma),  namun demikian apakah bedanya kelompok-kelompok ini dengan kita?  Mungkin kita akan berkata bahwa bedanya adalah bahwa persekutuan kita adalah persekutuan dalam kerukunan.  Jika hanya demikian, apakah bedanya kita dengan persekutuan arisan yang bahkan bisa rukun dalam perputaran uang?  Apakah bedanya kita dengan persekutuan pedagang kaki lima  yang bahkan rukun oleh karena memelihara persaingan sehat diantara mereka, bahkan mereka bisa begitu kompak saat mengalami penggusuran satpol pp?  Kita tidak menduga bahwa ternyata (mungkin) pemahaman kita selama ini tentang persekutuan masih belumlah seunik yang Alkitab sesungguhnya nyatakan kepada para penerima surat Ibrani.

Melalui bagian berikutnya (ay. 14-17) kita akan belajar bahwa kerukunan merupakan demonstrasi persekutuan.  Penulis kitab Ibrani membuka tesisnya dengan berkata (tafsiran langsung untuk ayat 14), ‘damai itu kejarlah engkau dengan seluruh pikiran dan pengudusan diri, oleh karena kecuali melalui anugerah itu tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah’.  Beberapa hal yang penting untuk kita simak, yaitu bahwa kerukunan yang kita pelihara dan kita bangun bukanlah sesuatu yang berasal dari dalam diri kita, yaitu sekedar tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, tidak ada amarah, tidak ada iri dan lain sebagainya, tetapi damai yang hanya tercipta oleh karena penebusan dosa yang dikerjakan oleh Kristus, oleh karena dikatakan bahwa itu adalah anugerah yang memungkinkan seseorang dapat melihat Allah.

Damai atau kerukunan itu adalah anugerah Allah yang Ia demonstrasikan saat Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri-Nya, taat sampai mati bahkan mati-Nya pun di atas kayu salib (Fil. 2:7-8).  Secara sederhana, Ia adalah Allah sendiri namun telah ‘menanggalkan’ ke-Allahan-Nya untuk menjadi sama seperti manusia dalam diri Yesus Kristus, mengenakan kehambaan yang taat bahkan dalam ketaatan spiritual yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia manapun.  Hanya damai itulah yang menyebabkan Ia memandang manusia sebagai umat tebusan, oleh karena Ia telah membenarkannya dalam diri Yesus Kristus. Paulus berkata: ‘kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Rom. 6:18).  Inilah yang menyebabkan kita memiliki damai atau rukun yang berbeda dan unik.  Sekali lagi, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Tugas kita adalah terus menerus sedemikian rupa memikirkan damai itu dan mengaktualisasikannya dalam kudusnya hidup, seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Ibrani tadi.  Pertanyaannya tentu saja adalah bagaimana caranya:  penulis kitab Ibrani lebih lanjut berkata: janganlah ada seorang pun yang keluar dari anugerah Allah (ay. 15) … atau dengan perkataan lain: janganlah ada seorang pun yang menjadi amoral atau cemar seperti Esau, seorang yang telah menjual kebenaran dirinya (ay. 16).  Apa maksud dari penulis Ibrani ini?  Pada bagian yang lain ia juga menulis: Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum (6:4-6).

Ayat-ayat ini memiliki pengertian yang sama, yaitu janganlah kita berpikir bahwa kita bisa menukar anugerah Allah dengan usaha kita sendiri.  Sama seperti keselamatan adalah murni anugerah Allah, maka demikianlah kita harus mendemonstrasikan kerukunan sebagai bagian dari anugerah Allah juga.  Jadi tugas kita dalam menciptakan damai yang seperti ini adalah seperti yang disampaikan oleh Paulus:  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri … (Fil. 2:5-7).

Dengan demikian, kerukunan dalam persekutuan kita menjadi unik oleh karena tidak ada yang menjadi manusia super diantara yang lain, tidak ada yang menjadi nomor satu dibanding yang lain, tidak ada yang lebih unggul, lebih pintar, lebih hebat, dll.  Inilah kebenaran yang telah dipraktekkan oleh Kristus yang hanya dapat ditiru oleh para pengikut Kristus.  Inilah kebenaran yang unik yang tidak dimiliki oleh persekutuan manapun di muka bumi ini.  Jadi mari kita hasilkan kerukunan yang merupakan demonstrasi dari persekutuan, dimana kita semua menaruh menaruh pikiran dan perasaan kita ke dalam pikiran dan perasaan Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri.  Untuk ketiga kalinya saya katakan, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.  Hanya melalui ini kita bisa menciptakan kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Tuhan kiranya menolong kita, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: