Just another WordPress.com site

Ibarat dua sisi mata uang, kehidupan manusia beriring sejalan di antara dua kutub.  Ada saat senang, juga ada susah; ada saat gembira, ada juga menangis, ada saat bersama, ada juga waktunya berpisah; ada waktunya bahagia, tetapi juga tidak jarang manusia menderita.  Dua sisi kehidupan yang terintegrasi dalam realita hidup, seharusnya membawa manusia pada kesadaran untuk menghargai setiap moment yang terjadi dalam dirinya.  Dan bukannya hanya menerima sisi yang “enak,” oleh karena alasan Allah, tetapi juga menerima sisi yang “tidak enak,” karena Allah juga hadir dikondisi yang sama.

Teologi berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain, menurut zamannya[1]; Teologi Purbakala digantikan dengan Teologi Abad Pertengahan, dilengkapi dengan Teologi Kontemporer dan Teologi Modern.  Sekarang ini yang coba dikembangkan adalah Locus Theology atau model berteologi dalam konteks; Sebagai upaya mengerti iman Kristen dalam istilah-istilah (term-term) suatu konteks khusus.[2]  Berbicara tentang Locus Theology, sudah banyak contoh yang

dikembangkan, misalnya saja Teologi Pembebasan[3] di gereja-gereja Amerika latin juga beberapa gereja Afrika.  Selain itu ada juga Waterbuffalo Theology[4], yang berasal dari semangat yang sama terhadap masalah sosio-ekonomi.

Beberapa waktu yang lalu (bahkan sampai sekarang), berkembang teologi kemakmuran di sebagian gereja-gereja neo-pentakosta di Indonesia.  Seolah-olah kemiskinan, kebangkrutan, kegagalan, penderitaan, sakit-penyakit, dll; semata-mata terjadi karena kegagalan dari orang percaya untuk mengikut Yesus.  Sedangkan mereka yang menjadi sukses, kaya, tidak sakit, tidak menderita adalah kelompok “penurut” Kristus.

Sampai di tataran manakah pemahaman di atas dapat dipertahankan?  Padahal nyata-nyatanya keadaan kebanyakan masyarakat Indonesia tidak jauh dari penderitaan.  Bukan juga berarti penulis secara sepenuhnya menerima teologi penderitaan, tetapi dari makalah ini dapat dilihat wajah Allah yang tertuju kepada semua orang entahkan dalam penderitaan atau pun dalam kebahagiaan.  Sesungguhnya Allah adalah milik semua umat dalam suka dan duka, karena Allah tidak dapat dibatasi oleh kondisi, tetapi juga Allah sekaligus menunjukan “wajah-Nya” dalam segala kondisi.  Secara khusus makalah ini akan menyingkapkan wajah Allah yang solider terhadap umat-Nya yang menderita.

 

BUKTI PENDERITAAN YESUS

Judul di atas hampir kedengaran klise bagi orang Kristen, sebab Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa di atas kayu salib.  Tetapi pembuktian ini dirasa perlu sebagai langkah kongkrit untuk menunjukan solidaritas Allah terhadap penderitaan umat-Nya; Pembuktian dimaksud berasal dari aspek teologis juga medis, sehingga dirasa dapat memenuhi target yang hendak dicapai dari riset ini.

Persepektif Teologis

Ibrani 2:9 menjadi salah satu bagian Alkitab yang memberikan pemaparan tentang penderitaan Yesus.  Penyengsaraan terhadap diri Yesus yang dilaksanakan secara terbuka merupakan salah satu keuntungan, sebab kesaksian dari banyak pihak justru merupakan bukti akurat.  Keuntungan selanjutnya adalah banyaknya tulisan (entah dari sumber tertulis atau hasil informasi lisan) yang menjelaskan kepada khalayak ramai bahwa Yesus sungguh menderita, tetapi juga mengalami kemenangan yang luar biasa.  Ada banyak upaya dari pihak lawan yang berupaya membungkam, tetapi tidak cukup jitu untuk menghilangkan ingatan banyak pihak.[5]  Pada bagian berikut ini akan diberikan pemaparan dari sumber kitab Ibrani 2:9, yang sekaligus menjadi pembuktian dari persepektif teologis terhadap bukti-bukti penderitaan yang diderakan kepada Yesus.

 

Yesus Seketika Lebih Rendah Dari Malaikat

Keunikan dari kitab Ibrani adalah upaya yang serius untuk membuktikan superioritas Kristus ditinjau dari perspektif berpikir masyarakat Ibrani.  Keseriusan terlihat dari metode yang sistematis sekaligus kena-mengena dengan in locus hidup masyarakat Ibrani.  Selain itu penulis[6] surat sudah sangat mengenal kebutuhan dari masyarakat.  Dalam pemaparan awalnya, penulis kitab Ibrani menjelaskan bahwa penderitaan Yesus nyata dari aspek diturunkannya status seketika lamanya sehingga menjadi lebih rendah dari malaikat.

Maksud dari penulis kitab Ibrani adalah dalam melewati rangkaian penderitaan – termasuk maut – Yesus diperlakukan tidak adil.  Yesus seharusnya dihormati karena keberadaan-Nya sebagai Allah, tetapi penderitaan yang harus Ia pikul, membuat Ia harus ber-kenosis; Bahkan untuk seketika waktu Yesus berada lebih rendah dari malaikat.  Ungkapan ini muncul karena dalam pemahaman orang Ibrani tentang malaikat yang adalah pelayan khusus Allah, sehingga dalam situasi tertentu malaikat juga dihormati.

Menarik diperhatikan pasal 1 memberikan penekanan bahwa Yesus berada jauh lebih tinggi dari para malaikat, tetapi ada alasan khusus sehingga penulis kitab Ibrani menegaskan bahwa untuk seketika waktu Yesus lebih rendah dari malaikat.  Istilah hlattwmenon (elattomenon) yang dipergunakan disini adalah bentuk kata kerja partisip perfect pasif akusatif dari kata elattow.  Secara etimologi berarti kecil dalam ukuran, derajad, arti, kurang dalam waktu atau seperti umur yang lebih muda.[7]  Secara teologis memiliki makna yang mendalam, sebab kejinya dosa yang harus ditanggung oleh Yesus membawa konsekuensi “terbuang” dari kekudusan Allah.  Pergumulan yang terberat adalah saat-saat jauh dari Allah.

Peristiwa tragis dirasakan oleh Yesus, sehingga dari salib Ia berteriak: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat. 27:46).  Pada bagian yang lain pemazmur (Maz. 22) – seperti dikutip Yesus – menjelaskan perasaannya yang hancur (ay., 16-21) ketika dosa menjadi alasan keterpisahan dengan Allah.  Dengan demikian saat-saat terbuang dari Allah yang dialami Yesus, bukanlah sebuah simbolisasi dari kontrasnya terang dengan gelap; tetapi suatu keadaan real yang dialami oleh Yesus.  Sedetik saja pun terpisah dari Allah, sudah merupakan penderitaan dan keterbuangan yang fatal, sampai-sampai harus direndahkan jauh di bawah malaikat.  Pemahaman yang benar terhadap situasi ini mengakibatkan orang percaya “mempertahankan” kedekatan dengan Allah.

Yesus Mengalami Maut.

Dasar pemikiran perikop ini tentu saja bukan lahir dari pemahaman yang dibuat oleh Hegel maupun Karen Armstrong tentang God is dead,[8] sebab dasar rancang bangun teologi saja sudah membuatnya berbeda.  Pengalaman dalam maut yang dialami Yesus juga tidak sama dengan teologi kematian semu atau pura-pura, sebab Yesus sungguh-sungguh mati.  Realita ini diakui oleh banyak bukti Alkitab, salah satunya kitab Ibrani 2:9.  Menarik diperhatikan pemaparan penulis kitab Ibrani yang menghubungkan maut dengan penderitaan.  Jadi maut yang dialami oleh Yesus bukan sekedar realita tetapi sebagai bentuk penderitaan.  Ungkapan to paqhma tou qanatou (to pathema tou thanatou) merupakan dua rangkaian kata benda yang kait-mengkait dengan kata kerja estejanwmenon (estepshanomenon).

Penting untuk diperhatikan bahwa proses penderitaan dalam maut justru menyebabkan Yesus telah dimahkotai (having been crowned).  Secara teologis dapat dilihat bahwa Yesus memang mati – selangkah lebih jauh dari keterpisahan dengan Allah – dan ada dalam kondisi terburuk dalam pengalaman hidup.  Dalam pemikiran Yudaism, Yunani atau budaya banyak agama paganisme termasuk agama suku di Indonesia, kematian dipandang sebagai berhentinya atau akhir dari segala aktivitas kehidupan, kehancuran eksistensi manusia, dimana kematian menjadi garis akhir dari kehidupan manusia,[9] is the end.

Peristiwa penderitaan dalam kematian yang dialami Yesus, semakin dilengkapi dengan prosesi menuju kematian. Mulai dari fitnahan, diludahi, dicambuk, dipukul, dipaku, ditusuk, sampai akhirnya mati, semakin menggenapi penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Nubuatan dalam Yesaya 50:6; 53:2-10 menjadi bukti akurat tentang penderitaan Yesus, sehingga segala bentuk penderitaan tadi disebut dengan “kesusahan jiwa.”[10] Pada bagian berikut ini, akan diberikan penyarian dari sudut pandang medis, sebagai pembuktian pelengkap terhadap penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Dengan demikian semua prosesi penderitaan yang dihadapi oleh Yesus, lebih lagi dapat dipahami sebagai peristiwa faktual.  Dimana Ia sungguh-sungguh menderita, tidak ada rekayasa dari pihak manapun, termasuk dari pihak Allah.

Perspektif Medis[11]

Penyaliban merupakan hukuman mati perlahan-lahan yang biasa dilakukan pemerintah Romawi bagi mereka yang dianggap penjahat besar.  Penyaliban ini dirancang agar terhukum mengalami penderitaan yang luar biasa sambil menantikan kematiannya.  Melalui pengetahuan secara anatomi maupun dari penelitian terhadap praktek-praktek kuno mengenai penyaliban, maka sangat mungkin untuk menemukan data akurat terhadap proses penyaliban di masa Romawi.  Hasil survei menjelaskan bahwa setiap luka-luka yang terjadi sudah dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan rasa sakit yang luar biasa sehingga menyebabkan kematian.

Penderaan hukuman cambuk sebelum penyaliban, dilakukan dengan tujuan untuk melemahkan fisik terhukum.  Pengeluaran darah yang sangat banyak bisa menyebabkan orthostatic hypotension (penurunan tekanan darah akibat berbagai gerakan perubahan posisi tubuh), bahkan menyebabkan pula hypovolemic shock (kejang akibat kekurangan cairan tubuh).  Ketika korban direbahkan di tanah dalam persiapan memaku kedua tangannya, luka-luka bekas cambukan dipunggungnya akan terkoyak kembali dan tercemar oleh debu tanah.

Hal ini bisa menyebabkan infeksi dan demam tinggi, sehingga terhukum bisa saja mengigau di atas kayu salib.  Dengan tangan terentang tetapi tidak tegang, pergelangan tangan dipaku ke palang salib.  Terbukti bahwa persendian dan tulang pergelangan tangan dapat menahan berat seluruh tubuh yang tergantung disalib.  Karena itu, paku-paku besi sangat mungkin ditancapkan di antara kedua jajaran tulang pergelangan tangan

Walaupun paku yang menembus pergelangan tangan bisa lewat di antara unsur-unsur tulang tanpa mengakibatkan keretakan, namun paku yang tertancap akan memutuskan syaraf motorik (penggerak) bagian tengah.  Sedangkan bagian-bagian syaraf lain yang terangsang akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa di kedua tangan.  Pengaruh parthophysiologic (penjalaran rasa sakit) yang terutama sebagai akibat penyaliban, selain kesakitan yang mengerikan, adalah gangguan nyata pada pernapasan normal, khususnya pernapasan keluar.

Berat badan yang tertarik ke bawah dan tergantung pada kedua lengan yang terpaku, akan menyulitkan otot-otot di antara tulang iga untuk berkontraksi dalam posisi menarik nafas.  Proses ini akan mengakibatkan proses pernapasan yang pasif dan sangat lemah.  Pernapasan menjadi pendek dan sesak.  Cara pernapasan menjadi sangat tidak memadai dan akan mengakibatkan hypercarbia (napas cepat, banyak gas CO² keluar).  Untuk mencapai pernapasan yang memadai memerlukan upaya mengangkat tubuh dengan mendorong kaki dan melenturkan siku dan bahu.

Gerakan ini akan membuat seluruh berat badan tertumpu pada tulang mata kaki dan akan menimbulkan kesakitan yang amat sangat pada kaki yang terpaku.  Melenturkan siku juga dapat mengakibatkan pula pergeseran luka dipergelangan tangan yang terpaku dan mengakibatkan rasa sakit yang hebat di sekitar syaraf tangan yang rusak.  Mengangkat tubuh juga akan memarut bilur-bilur luka dipunggung.  Kejang pada otot-otot dan kesemutan disekujur tangan yang terentang akan menambah penderitaan.  Jadi setiap gerakan yang dibuat akan justru memperhebat sengsara jiwa dan raga.

Kitab injil Matius memberikan deskripsi yang unik sekaligus sempurna terhadap tahapan-tahapan pergumulan Yesus dalam prosesi penderitaan-Nya.  Pada bagian-bagian ini akan mengikuti sistem kronologis yang dibuat oleh penulis injil Matius.  Dengan demikian pembaca akan menemukan setiap lekuk demi lekuk penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Bukan hanya sekedar penderitaan rohani sebagai konsekuensi teologis terhadap dosa yang dipikulnya, tetapi realnya hukuman yang harus Ia pikul bagi kita.

 

Tahap Pertama (Matius 26:37)

Semua penderitaan rohani dan jasmani yang dialami oleh Kristus bermula di taman Getsemani.  “Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44).  Di bawah tekanan yang hebat, pembuluh darah halus dalam kelenjar-kelenjar keringat dapat pecah sehingga keringat bercampur dengan darah.

Tahap Kedua (Matius 26:67)

Setelah ditangkap diwaktu malam dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, Yesus dibawa kepada Kayafas dan Majelis Yahudi.  Ketika itu mereka menutup matanya dan berulang-ulang memperolokkan Dia, meludahi dan manampar Dia.

 

Tahap Ketiga (Matius 27:2)

Pada pagi hari Yesus sudah dipukul berulang-ulang dan penat, dibawa ke bagian lain kota Yerusalem untuk diperiksa oleh Pilatus.  Barabas dilepaskan dan Yesus disesah dan kemudian diserahkan untuk disalibkan.

 

Tahap Keempat (Matius 27:26)

Penyesahan cara Romawi dilakukan dengan melucuti pakaian korban serta merentangkan tubuhnya pada sebuah tiang atau membungkukkan tubuhnya pada sebuah tiang yang pendek dengan tangan diikat.  Alat penyesahnya adalah sebuah kayu pendek dengan beberapa tali kulit di ujungnya.  Pada ujung tali kulit itu telah diikatkan potongan-potongan kecil besi atau tulang.  Dua orang yang berdiri sebelah-menyebelah korban itu akan memukuli punggungnya – sebagai akibatnya – daging punggung korban akan tersayat-sayat sedemikian rupa sehingga pembuluh-pembuluh darah dan urat nadi, bahkan tidak jarang organ-organ di dalam tubuh dapat dilihat dari luar.  Sering korban sudah mati sementara penyesahan dijalankan.  Penyesahan merupakan penyiksaan yang sangat mengerikan, dibuktikan dengan ketidakmampuan Yesus untuk berdiri sendiri sambil memikul salibnya yang merupakan akibat langsung dari peyesahan yang mengerikan ini.

 

Tahap Kelima (Matius 27:28-29)

Tali yang mengikat Yesus dilepaskan dan Ia ditempatkan di tengah-tengah sekelompk tentara Romawi, mereka mengenakan kepada-Nya jubah berwarna ungu dengan sebatang tongkat ditangan-Nya.  Mereka kemudian memasangkan mahkota dari ranting-ranting yang berduri di kepala-Nya.  Para prajurit kemudian mengejek, menampar dan memukul kepalanya sehingga duri-suri makin terbenam di tengkorak kepala-Nya.

 

Tahap Keenam (Matius 27:31)

Balok salib yang berat itu diikatkan pada pundak Yesus.  Mulailah Ia berjalan dengan perlahan-lahan menuju bukit Golgota.  Beratnya balok salib tersebut ditambah lagi kepenatan jasmani yang hebat, membuat Dia terjatuh.  Yesus mencoba untuk berdiri, namun tidak sanggup lagi.  Simon orang Kirene kemudian dipaksa untuk memanggul salib tersebut.

 

Tahap Ketujuh (Matius 27:35)

Di bukit Golgota balok salib yang melintang diletakkan di tanah dan Yesus dibaringkan di atasnya.  Kedua tangannya direntangkan di atas balok salib dan paku besi persegi dipakukan melalui pergelangan tangan sampai tembus ke kayu.  Setelah itu Yesus diikat dengan bantuan tali balok salib yang melintang diikatkan dan dipakukan pada tiang salib.  Dan sebuah penyangga untuk tubuh-Nya dipasang pada salib itu.  Akhirnya kakinya direntangkan dan dipakukan pada salib itu dengan paku yang lebih besar.

Tahap Kedelapan (Matius 27:39)

Kini Yesus tergantung dalam keadaan yang menyedihkan berlumuran darah, penuh dengan luka-luka dan ditonton banyak orang.  Berjam-jam lamanya seluruh tubuh-Nya terasa sakit luar biasa, lengan-Nya terasa lelah, otot-otot-Nya kejang dan kulit-Nya tercabik-cabik dari pungung yang nyeri.  Kemudian muncul penderitaan baru yaitu rasa sakit yang hebat terasa dalam dada-Nya ketika cairan mulai menekan jantung-Nya.  Ia merasa sangat haus dan sadar akan perkataan makian dan cemoohan orang-orang di bawah salib.

 

Tahap Kesembilan (Matius 27:46)

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku.”  Kata-kata ini merupakan puncak dari segala penderitaan-Nya bagi dunia yang terhilang.  Seruan-Nya dalam bahasa Aram “Allahku-Allahku mengapa Kau tinggalkan Aku,” menunjukan bahwa Yesus sedang mengalami pemisahan dari Allah, sebagai pengganti orang berdosa.  Pada tahap ini semua kesedihan, penderitaan dan rasa sakit mencapai puncaknya.  Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita (Yes. 53:5) dan Ia telah memberikan diri-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (II Tim. 2:6).  Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:1).  Dia mati sebagai yang ditinggalkan Bapa, agar kita tidak akan pernah ditinggalkan oleh-Nya.

 

Tahap Kesepuluh (Matius 27:50)

Dengan nyaring ia mengucapkan kata-kata-Nya yang terakhir, “sudah selesai” (Yoh. 19:30).  Seruan ini menandakan akhir dari segala penderitaan-Nya serta penyelesaian karya penebusan, hutang dosa manusia telah dilunasi dan rencana keselamatan kekal sudah dianugerahkan.

RELEVANSI  PENDERITAAN YESUS

Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa tujuan utama Yesus dengan rela mengerjakan semua penderitaan-Nya adalah untuk menyelesaikan karya penebusan, hutang dosa manusia telah dilunasi dan rencana keselamatan kekal sudah dianugerahkan.  Secara teologis semua hal diatas tidak dapat diragukan, tetapi apabila diperhatikan dari sudut pandang yang lain, Yesus telah memberikan penggambaran yang jelas bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia …”[12]

Tentu saja Allah hadir dan menyertai umat-Nya dalam segala keadaan.  Turut bekerja bukan saja berarti bahwa Allah pernah mengalami penderitaan tetapi juga turut merasakan setiap pergumulan yang dihadapi umat.  Begitu dekatnya ungkapan ini, sampai-sampai nuansa yang timbul disana adalah berada dalam keadaan sukacita.  Bahkan Rasul Paulus dengan tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa oleh karena Allah, ia ikut ambil bagian dari apa yang kurang dalam penderitaan Kristus.[13]  Beberapa hal yang dapat menjadi acuan atas kebenaran ini akan dijabarkan pada bagian berikut ini.

 

Solidaritas Allah dalam Penderitaan Manusia

Bagaimana mungkin memberikan penggambaran yang tepat bahwa Allah solider atas pergumulan manusia?  Solider dalam bentuk yang paling dalam berarti bahwa Allah hadir dan ikut mengalami penderitaan bersama-sama dengan pelaku utama yaitu manusia.  Dengan demikian pemahaman tentang Allah akan sama dengan pandangan agama suku tentang allah yang tidak mampu bahkan untuk membela dirinya sendiri, sehingga harus ada sekelompok orang yang menjadi pembelanya.  Tetapi dengan melepaskan Allah dari realitas tersebut akan sama saja dengan pengakuan filsafat bahwa Allah sudah terlalu menikmati “dunianya” sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan ciptaan-Nya.

Epikuros salah satunya yang memberikan pemaparan tentang perihal 4 jenis Allah.  Pertama, Ia mampu dan mau melaksanakan kehendak-Nya.  Kedua, Ia mampu tetapi tidak mau melaksanakan kehendak-Nya.  Ketiga, Ia tidak mampu tetapi mau melaksanakan kehendak-Nya, serta keempat, Ia tidak mampu sekaligus tidak mau melaksanakan kehendak-Nya.  Konsep Allah yang dimiliki dalam ke-Kristenan tentu saja berbeda dengan semua bentukan di atas.

Allah yang dipahami adalah Allah yang secara teologis, etis dan estetik hadir dalam realita hidup umat-Nya, tetapi bukan juga Ia terlalu lemah sehingga harus “mengalami”, atau terlalu kuat dan jauh sehingga “pura-pura” mengalami penderitaan.  Sehingga solidaritas Allah disini harus dipahami dengan bijaksana dimana Allah dalam Yesus Kristus secara real pernah mengalami tekanan yang paling berat dan paling buruk dalam sepanjang sejarah. Tetapi juga Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh apapun, sehingga Allah dalam Yesus adalah Allah yang menang.

Dengan demikian solidaritas Allah harus dipahami bahwa Allah tetap ada dalam posisi yang kuat dan tak terjangkau oleh penderitaan tetapi Ia secara aktif merangkul manusia menderita dan memberikan  penghiburan dan kemenangan.  Inilah yang mengakibatkan manusia menderita bisa bertekun dalam penderitaan, karena penderitaan yang dialaminya adalah penderitaan biasa yang tidak melampaui kekuatannya.  Penderitaan Kristus di atas kayu salib, sudah terlalu cukup menjadi alasan sehingga Allah membenarkan manusia berdosa demi kasih karunia-Nya.

 

Menjadi Sesama Bagi Manusia lainnya

Lukas menceritakan bahwa suatu ketika seorang ahli Taurat datang untuk mencobai Yesus.[14]  Pertanyaan pamungkas yang coba ditanyakan ahli Taurat tersebut adalah: “Siapakah sesamaku manusia?”  Pertanyaan ini mungkin pernah terjadi dalam realita hidup manusia normal, tetapi penekanan yang ingin ditunjukan disini adalah untuk menjadi sesamaku, maka orang tersebut harus ada dalam posisi sejajar dengan aku.  Sejajar dalam segala aspek, misalnya: politik, status, budaya, nilai-nilai etis, ekonomi, kepercayaan, dan lain sebagainya.

Kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tak kunjung keluar dari penderitaan, akan menjadi pemicu terhadap dampak sosio-ekonomi yang semakin memperparah hubungan horisontal Indonesia.  Dimana pertanyaan “siapakah sesamaku?” tidak patut untuk dipertahankan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dalam semangat persatuan menuju keadilan sosial.  Untunglah Yesus telah memberikan solusi yang tepat lewat perumpamaan orang Samaria yang baik hati.  Teladan ini, harus menjadi terapan praktis dalam hidup dalam semangat “bersama kita bisa.”

Jawaban atas pertanyaan yang diajukan sendiri oleh ahli Taurat tadi adalah: “Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”  Artinya persepsi siapakah sesamaku harus diubah; bukan lagi dari sudut pandang aku, tetapi diubah dari sudut pandang ia/dia.  Dengan demikian semua pihak akan berusaha menjadi “orang yang menunjukan belas kasihan.”  Sikap seperti ini merupakan pengejawantahan semangat solidaritas Allah atas penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.

Seharusnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diajukan lagi, sebab Yesus telah terlebih dahulu menjadi sesama bagi manusia.  Rangkaian peristiwa di kayu salib, mempertemukan Yesus dengan seorang terhukum yang secara sadar bahwa ia layak untuk dihukum.  Kesadaran ini membuat Yesus menjadi sesama yang baik baginya dan berkata kepadanya:  “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.”[15] Penderitaan yang dialami oleh Yesus tidak serta merta mewajibkan-Nya untuk tutup mata dan memikirkan penderitaan sendiri.  Dengan demikian teladan yang diberikan oleh Yesus, seharusnya membuat orang percaya bersama-sama dengan Allah turut ambil bagian dan solider terhadap penderitaan, serta menjadi sesama yang baik dari sesamanya yang sedang menderita; walaupun orang percaya itu sendiri sedang menderita.

Usulan teologis di atas dapat dijadikan wacana untuk mengembangkan metode berteologi dalam penderitaan.  Bukan pula untuk melupakan kondisi bahwa Allah senantiasa mencurahkan berkat bagi umat-Nya, sehingga dekat dengan Allah membawa konsekuensi diberkati. Tetapi juga tidak melupakan realita yang lain dimana Allah juga “menghajar” orang-orang yang dikasihi-Nya.  Metode berteologi seperti ini kena-mengena dengan upaya memberdayakan masyarakat teologi dalam semangat in loco (konteks kebudayaaan lokal), dengan tidak melupakan keberadaannya yang in globo (konteks universal).

 

KESIMPULAN

Setelah melalui riset terhadap pembahasan tematis terhadap perihal pemeliharaan Allah yang mencakup seluruh umat manusia, maka beberapa hal yang dapat digumuli berkaitan dengan upaya berteologi dalam konteks Indonesia, yaitu: Pertama:  jelas bahwa Allah yang dipahami dalam konsep iman Kristen berbeda dengan konsep Allah dari agama suku maupun desain filsafat.  Allah dalam Yesus Kristus adalah pribadi yang solider dengan pergumulan dan penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.

Sikap solider Allah merupakan kondisi yang real dan aktif, dimana Allah mengambil inisiatif untuk memberikan penghiburan dan pertolongan yang tanggap serta tepat waktu.  Selain itu, Allah sendiri dalam Yesus Kristus, telah menunjukan teladan kemenangan atas penderitaan, sehingga dapat menjadi jaminan bagi orang percaya untuk turut serta bersama-sama dengan kemenangan Allah itu.

Kedua, kehadiran orang percaya dimanapun konteks hidupnya (in loco maupun in globo) harus menjadi sesama yang baik bagi sesamanya, seperti wajah Allah yang nyata dalam pergumulan Yesus Kristus di atas kayu salib.  Dengan demikian, Yesus sebagai wajah Tuhan yang menderita merupakan semangat hidup solider dan menjadi sesama bagi sesamanya, entah dalam konteks penderitaan maupun tidak dalam penderitaan.

 

BIBLIOGRAFI

Alkitab

Alkitab.  Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2005

New International Version.  Michigan: Grand Rapids, 1984.

Perjanjian Baru: Yunani – Indonesia.  Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1994.

Biblia Hebraica Stuttgartensia.  Germany: Gesamtherstellung Biblia – Druck Stuttgard, 1990

 

Buku

Armstrong, Karen.  Sejarah Tuhan: Kisah Pendarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, peny., Yuliani Liputo, pen., Zaimul Am. Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2002.

Enns, Paul. The Moody Handbook of Theology.  Chicago: Moody Press, 1995.

House, H. Wayne. Chronological and Background Charts of the New Testament. Michigan, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, t.t.

Hegel, Georg Wilhelm Friedrich.  Filsafat Sejarah, pen., Cuk Ananta Wijaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

 

Artikel

Bromiley, Geoffrey. W. “Elatton” dalam Theological Dictionary of the New Testament, ed., Gerhard Kittel dan Gerhard friedrich, pen., Geoffrey W. Bromiley.  Michigan, Grand Rapids: William B Eerddemans Publishing Company, 1992.

Saruan, Josef Manuel.  “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater, peny. um., A.A Yewangoe dan lainnya.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Diktat

Gunde,  Arrhenius P. Catatan kuliah, Eksposisi Kitab 1-2 Tesalonika dan Wahyu, sem. IV.   Depok: Sekolah Tinggi Teologi Skriptura, 2007.


[1] Studi lebih lanjut dari topik ini dapat dilihat dalam buku: Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Chicago: Moody Press, 1995).  Dalam tulisannya Enns sudah membagi perkembangan dan keberadaan Teologi dari berbagai jenis hubungan, antara lain: Individu, Pandangan, Isi, Metode, dan Zaman.  Buku ini sangat baik apabila secara khusus ingin melakukan Pemelajaran terhadap Teologi Sistematika.

[2] Josef Manuel Saruan, “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater, peny. um., A.A Yewangoe dan lainnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 30.  Dalam karyanya ini, banyak membahas perkembangan teologi (sedikit memiliki kesamaan dengan buku dari Paul Enns, tetapi lebih menitik beratkan pada upaya membangun teologi in locus (dalam konteks) di Indonesia.  Seharusnya bentuk/model berteologi sudah harus menjadi pemikiran kita untuk lebih memasyarakatkan teologi Injili.  Dengan perkataan lain kita perlu melakukan model pendekatan baru kepada umat dalam membahasakan teologi dalam tataran yang “dimengerti” oleh umat.

 [3] Teologi ini berkembang sebagai hasil pergumulan socio-economy dari masyarakat setempat yang berusaha secara etis dan moral untuk memperjuangkan kesamaan hak antara tuan dan hamba, sebagai orang merdeka.

 [4] Teologi ini diperkenalkan oleh Kosuke Koyama yang dipengaruhi oleh hermeneutik yang dikembangkan di Thailand.  Kosuke Koyama memulai penyelidikannya dengan memperhatikan kehidupan petani miskin yang mengerjakan sawahnya dengan menggunakan kerbau.  Kerja keras dari para petani – termasuk kerbaunya – tidak serta merta membuat mereka lepas dari kemiskinan.

[5] Salah satu upaya yang dilakukan dari pihak Mahkamah Agama Yahudi yaitu dengan memberi sejumlah uang kepada para tentara untuk memberikan saksi palsu atas kebangkitan Yesus (Matius 28:11-15)

[6] Penelusuran perihal siapa penulis kitab Ibrani, salah satunya dapat dilihat dalam buku: H. Wayne House, Chronological and Background Charts of the New Testament (Michigan, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, t.t), 140-144.

 [7] Geoffrey. W. Bromiley, “Elatton” dalam Theological Dictionary of the New Testament, ed., Gerhard Kittel dan Gerhard friedrich, pen., Geoffrey W. Bromiley (Michigan, Grand Rapids: William B Eerddemans Publishing Company, 1992), 593.

[8] Beberapa tokoh filsafat yang lain juga memiliki dasar berpikir yang sama, tetapi buku-buku seperti: Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Filsafat Sejarah, pen., Cuk Ananta Wijaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar); Juga dapat dilihat dalam karya Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pendarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, peny., Yuliani Liputo, pen., Zaimul Am (Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2002), merupakan contoh klasik bagaimana Allah dihadirkan sebagai “yang tak berdaya.”

[9] Arrhenius P. Gunde, Catatan kuliah, Eksposisi Kitab 1-2 Tesalonika dan Wahyu, sem. IV, (Depok: Sekolah Tinggi Teologi Skriptura, 2007), 20.

[10] Yesaya 53:11.

 [11] Informasi yang didapat kebanyakan diunggah dari Internet, sehingga tidak dapat disajikan secara aktual catatan kaki dari buku refrensi.  Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilihat di: http://www.bible.org/foreign/indonesian/myth-in.htm.

[12] Roma 8:28

[13] Kolose 1:24

[14] Kisah lengkapnya dapat ditemukan Lukas 10:25-37.

[15] Lukas 23:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: