Just another WordPress.com site

Pernah dikisahkan tentang seorang pencuri yang memasuki sebuah toko pakaian, namun tidak mencuri satu pun pakaian.  Aneh memang, namun yang ia lakukan justru menimbulkan kekacauan dan kerugian besar dari toko pakaian tersebut.  Si pencuri ini ternyata menukar kacaukan label harga dari semua pakaian yang ada dalam toko tersebut, hingga keesokan paginya seseorang harus membayar $ 250 untuk sebuah sapu tangan dan seorang yang lainnya harus bertengkar dengan kasir karena ia membayar stelan jas bermerk hanya dengan harga $ 2.5.

Apa yang terjadi jika perbuatan pencuri tersebut ia lakukan dalam pendataan penduduk.  Sehingga seharusnya si A yang berprofesi sebagai pendeta tiba-tiba dalam data base bekerja sebagai pengurus pondok pesantren.  Kekacauan dan kerugian bakal terjadi diseantero negeri.  Ilustrasi sederhana di atas membawa pada pemahaman pentingnya sebuah nama.  Melalui nama kita dapat menggambarkan atau menyatakan sesuatu.  Dalam hal ini nama berarti keterangan atas objek.  Nama juga dapat digunakan untuk merumuskan sesuatu, misalnya nama kereta api “sapu jagad” dengan segera membawa kita pada suasana penumpukan penumpang di stasion kereta saat lebaran dan kereta ini merupakan kereta pamungkas yang disediakan pemerintah guna mengangkut semua penumpang.  Tidak ada kelas VIP atau bisnis, semuanya ekonomi; tidak ada beda antara barang dan penunpang, namanya juga kereta “sapu jagad”.

Nama merupakan kata yang digunakan untuk menyebut atau memanggil orang, tempat, barang, binatang dan lain sebagainya.  Nama juga digunakan untuk menunjukan gelar atau kemasyuran yang menyertai penyebutannya.  Bagi manusia, nama digunakan untuk menjelaskan:

nama yang diberikan oleh orang tua sejak lahir (nama daging); bisa juga untuk sebuah ungkapan ejekan (nama ejekan); untuk ditambahkan pada nama semula yang biasanya menjelaskan ciri tubuh atau tabiat dan lain sebagainya (nama julukan, misalnya abi-si hitam); sebutan yang digunakan untuk menyamarkan nama semula (nama samaran); atau sapaan untuk menunjukan rasa sayang atau cinta (nama timangan, misalnya si cabi).[1]

Nama-nama dalam Alkitab pun biasanya dikaitkan dengan harapan atau situasi.  Misalnya nama Ishak artinya tertawa, karena bagi ibunya, kelahiran anak tersebut adalah bukti bahwa Allah telah membuatnya tertawa.[2]  Bagi masyarakat Indonesia, nama bukan hanya meliputi unsur-unsur pengertian di atas, namun juga mengandung arti sebagai harapan dari keluarga.  Misalnya masyarakat Jawa memberi nama: Slamet, Rahayu, dll.

Mudah apabila pembahasan perihal nama ditujukan kepada manusia, namun kesulitan besar muncul apabila ditujukan kepada Allah.  Kesulitan ini telah dipahami dan dialami Bavinck hingga ia menulis: Meskipun Ia pada diri-Nya adalah Allah yang tidak punya nama, Ia dalam penyingkapan diri-Nya adalah Allah yang mempunyai banyak nama.[3]  Allah bahkan merelakan nama-Nya dipahami dalam bahasa yang diterima dan dikenal secara anthropomorphic.

Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai nama Allah, maka perlu melihatnya dalam dua konteks bahasan yaitu:

  1. Nama Allah related dengan perbuatan-Nya.
  2. Nama Allah related dengan personal relationship dengan-Nya.

Nama Allah Related dengan Perbuatan-Nya

Alkitab menyatakan sesuatu yang menarik tentang Allah, bahwa nama-Nya senantiasa terkait dengan karya-Nya.  Alkitab ketika memunculkan pribadi Allah berkenaan dengan nama-Nya, maka hal itu senantiasa berbarengan dengan karya-Nya.  Misalnya, kejadian pasal 1 dibuka dengan “pada mulanya Allah menciptakan” (Gen 1:1 ITB), dimana Allah dikaitkan dengan kata kerja menciptakan, berfirmanlah Allah, Allah mengingat.  Lebih jelas lagi tatkala Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa, ketika Ia berkata: “Aku adalah Aku’.  Perkenalan Allah ini memberi arti:

Ia adalah Allah yang “self-sufficient dan self-existent” yang hanya dapat dikenali melalui karya atau tindakan-Nya.  Aku adalah Allah yang hidup, dan Musa tidak seharusnya mencoba membandingkan atau menemukan nama yang dapat memberikan identitas kepada-Nya, karena tak ada suatupun dibawah kolong langit ini yang dapat dipakai untuk menamai Dia.[4]

Dengan demikian, nama Allah bukanlah nama yang sekedar diungkapkan Alkitab, bahkan nama-Nya pun bukan sekedar sebuah itiked, label atau sebutan.  Sebab nama Allah selalu berkaitan dengan apa yang Ia kerjakan dalam keberadaan-Nya.  Berkhof memberikan penjelasan perihal keterkaitan antara nama dan tindakan Allah ketika ia menulis:

… nama bukanlah sekedar sebutan saja, tetapi merupakan satu ekspresi dari natur yang kepadanya nama itu menunjuk … dalam pengertian umum, nama Allah adalah wahyu-Nya sendiri.  Nama itu adalah penunjukan atas diri Allah, bukan sebagaimana Ia ada dalam kedalaman Jatidiri Ilahi-Nya, tetapi sebagimana Ia menyatakan diri-Nya terutama dalam hubungan-Nya dengan manusia … nama-nama Allah bukanlah merupakan penemuan manusia, tetapi asli dari Allah, walaupun nama-nama itu dipinjam dari bahasa manusia, dan diturunkan dari hubungan-hubungan manusiawi.  Nama-nama itu antropomorfis dan menandai tindakan Allah yang merendahkan diri untuk menemui manusia.[5]

Dengan perkataan lain pernyataan diri Allah selalu terkait dengan penyataan diri-Nya, dalam seluruh atribut ke-Allahan-Nya.  Ia aktif, dinamis dan terus menerus berkarya, hingga umat pun mengalami karya-Nya dan [seharusnya] menyapa sesuai dengan karya tersebut.   Oleh karena itu umat dalam berelasi dengan Allah harus meresponinya melalui satu-satunya cara yaitu mengintegrasikan karya Allah dalam hidupnya setiap waktu.

Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya pada orang-orang Yahudi yang bersoal jawab dengan-Nya dengan mengatakan: “ … sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”.  Penggunaan kata ‘ego eimi‘ merujuk pada eksistensinya dalam kekekalan masa lampau.  Sehingga Yesus Kristus merupakan penyataan diri Allah yang memperkenalkan diri-Nya dalam “pengosongan”  seorang hamba  dan menjadi sama dengan manusia.[6]  Hingga umat menyapa-Nya sebagai Allah Anak, bukan karena Ia telah diperanakan atau melalui sebuah mekanisme reproduksi, namun oleh karena Ia adalah penyataan sekaligus pernyataan diri Allah bagi manusia, dalam eksistensi diri-Nya yang berbanding lurus dengan keseluruhan karya Allah.  Seperti yang dijelaskan oleh Yakub Susabda ketika menulis:

Keunikan kesaksian Alkitab tentang nama-Nya disempurnakan didalam Perjanjian Baru, dimana seluruh pengertian dalam Perjanjian Lama tentang nama-Nya menemukan kesatuan titik dan puncaknya dalam “nama diatas segala nama” yaitu Yesus Kristus (Fil. 2:9).  Hanya satu nama yang Allah berikan supaya orang diselamatkan (Kis. 4:12).  Nama “Yahweh,” nama “Allah” dan segala nama yang pernah dipakai untuk menyingkapkan diri Allah hanya menunjuk kepada nama Yesus Kristus karena didalam nama yang indah ini seluruh kehendak dan rencana Allah untuk manusia tersingkapkan dan terpenuhi.[7]

Melalui nama Allah yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus, Allah beranugerah dalam garansi yang luas dan tak berhingga yaitu keselamatan dan pemeliharaan-Nya atas orang percaya.  Lebih kompleks dinyatakan oleh Yakub Susabda sebagai:

… ia memiliki dan mengenal Bapa (I Yoh. 2:23).  Siapa yang telah melihat Dia, telah melihat Bapa-Nya yang disurga (Yoh. 14:9).  Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Dia (Yoh. 14:6).  Didalam nama-Nyalah doa akan didengarkan (Yoh. 14:13), dan hanya orang-orang percaya yang berhimpun didalam nama-Nya akan mengalami kehadiran-Nya (Mat. 18:20).  Nama-Nya bahkan disebutkan sebagai tanda yang akan tertulis didahi  orang-orang saleh dalam kerajaan surga (Wahyu. 22:4).  Suatu bahasa anthropomorphisme yang menolong orang untuk percaya memahami akan jaminan keselamatan yang mereka miliki dalam nama yang ajaib itu.[8]

Penelurusan ini membawa pada pemahaman awal bahwa nama Allah senantiasa terkait dengan karya-Nya.  Ia ada sebagaimana Ia ada.  Bagian selanjutnya dari paper ini adalah melakukan penelusuran perihal hubungan yang lebih intim yang Allah buka bagi diri-Nya terhadap umat, sehingga umat mendapatkan Allah dalam kerelaan Allah untuk mencari dan menyelamatkannya.

Nama Allah Related dengan Personal Relationship dengan-Nya

Eksistensi diri Allah dalam hubungannya dengan manusia membawa pada persepsi-persepsi beragam dari manusia.  Persepsi-persepsi tersebut nyata dalam beberapa premis seperti misalnya: bahwa adanya Allah  merupakan ide universal dari manusia karena menyadari bagian lemah dalam dirinya; Allah kemudian dipersonifikasikan sebagai pribadi yang terbatas – sama seperti manusia – karena Allah hadir dalam setiap pengalaman manusia; Allah bahkan hanya dipahami sebagai simbol-simbol dari sebuah perjalanan kosmos yang tak terpahami dan tak terpecahkan.  Apabila dulu manusia diciptakan Allah menurut peta dan teladan-Nya, maka sekarang manusia menciptakan Allah bagi dirinya dalam peta dan gambarnya sendiri.[9]

Allah hadir dan berkarya dalam pengalaman hidup manusia.  Memang tidak mungkin memasukan Allah secara keseluruhan dalam kronos-nya manusia[10], namun Allah memberi anugerah dan kemampuan kepada manusia untuk berinteraksi secara pribadi dalam kairos-nya Allah.  Pengalaman-pengalaman inilah yang dimaksudkan sebagai personal relationship ketika bersentuhan dengan Allah dan menghasilkan sapaan pribadi terhadap Allah.  Pengalaman personal relationship ini melahirkan pengenalan pribadi dan aktif tentang Allah, yang selanjutnya memunculkan sapaan pribadi terhadap-Nya yang telah berinteraksi langsung dengan umat.

Perjanjian Lama misalnya mengisahkan beberapa pengalaman tersebut.  Misalnya, Abraham pada saat Allah mengujinya untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran.  Abraham kemudian menyapa Allah sebagai “Allah yang akan menyediakan”  ketika ia menangkap momentum prima dalam kairos-nya Allah.  Musa pada saat Israel mengalami kemenangan atas Amalek, ia menyapa Allah sebagai “Tuhan adalah panji-panjiku”.  Beberapa nama sapaan lain terhadap Allah yang lahir dalam pengalaman seperti itu dijabarkan oleh Yakub Susabda berikut ini:

Dalam konteks pengalaman iman nama-nama Allah disebutkan.  Baik itu “Yahweh Shabaoth” yang artinya The Lord Almighty (Mzm. 69:6, 84:1, Hag. 2:7-9; Amos 9:5); “Yahweh Shalom” yang dipakai Gideon untuk memanggil Allah sebagai “the Lord of peace” (Hak. 6:24); “Yahweh tsidkenu” yang artinya “the Lord is our righteousness” (Yer. 23:6); “Yahweh shammah” yang artinya “the Lord is there” (Yeh. 48:35); “Yahweh Elohe Yizrael” yang disebut-sebut Debora dengan arti “the Lord God of Israel” (Hak. 5:3, Yes. 17:6, Zep. 2:9);  “Qedos Yizrael” yang artinya “the Holy One of Israel” (Yes. 1:4); “Abir Yisrael” yang artinya “the mighty One of Israel” (Yes. 1:24); “Nesah Yisrael” yang artinya “the Strength of Israel” (I Sam. 15:29); “El Olam” yang dipakai Abraham untuk memanggil Allah sebagai “God of Eternity” (Kej. 21:23); “El Elohe Israel” dimana Yakub memanggil nama-Nya sebagai Allah yang adalah “God is the God of Israel” (Kej. 33:20); “Elyon” atau nama yang Melkisedek, Balhum dan Raja Babel sebut untuk Allah yang artinya “God as the High and Exalted One” (Kej. 14:18; Bil. 24:16; Yes. 14:14); dan lain sebagainya.[11]

Berkenaan dengan nama-Nya, Allah memberikan salah satu petunjuk melalui hukum Taurat, yaitu: “Jangan menyebut, nama Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7).  Menyebut nama Tuhan dengan tidak sembarangan, bukan saja hanya berarti tidak menyebut nama-Nya dengan sia-sia, namun haruslah juga menggunakan nama-Nya secara benar dalam konteks pergaulan dan hubungan yang benar dengan-Nya.  Sehingga penggunaan nama-Nya berkenaan dengan pengalaman pribadi dalam momentum prima ketika orang percaya ada dalam kairos-Nya.  Seperti yang nyata dalam penjelasan Yakub Susabda bahwa:

Hanya oleh karena anugerah-Nyalah orang-orang percaya dapat menyebut nama-Nya  dan itu pun harus dalam konteks pergaulan dan komunikasi yang benar dengan Dia.  Karena hanya ditengah momentum kelaparanlah (kelaparan akan makanan rohani, jiwani maupun jasmani) kita seharusnya memanggil-Nya sebagai “Bread of Life,” ditengah kehausanlah kita memanggil Dia “Air kehidupan,” dan ditengah kegelapan hidup ini kita mencari yang adalah “Terang dunia.”  Diluar konteks pengalaman pribadi “dalam momentum prima” tersebut, manusia bisa berada dalam kemunafikan dan kepalsuan imannya.  Ia bisa memanggil nama Tuhan tetapi hatinya jauh dari pada-Nya (Mat. 7:21-23).[12]

Personal relationship ini berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Richard Swinburne dalam bukunya the Existence of God yang juga dikutip oleh Peter Vardy tentang pengalaman keagamaan.  Baginya, pengalaman keagamaan dapat dilihat dalam 5 wujud yaitu:[13]

  1. Dimana individu “melihat” Allah atau perbuatan-perbuatan Allah dalam suatu objek umum atau keadaan yang umum.  Misalnya, seseorang yang percaya mungkin “melihat” tangan Allah ketika memandang langit pada malam hari atau pada suatu pemandangan pedesaan.
  2. Pengalaman-pengalaman tentang objek-objek umum yang sangat luar biasa, yang dapat melibatkan pelanggaran atas hukum alam yang tampak.  Seperti: berjalan di atas air, penampakan-penampakan kebangkitan, sosok yang muncul ke dalam ruang terkunci dan lain sebagainya.
  3. Pengalaman-pengalaman yang seseorang dapat jelaskan dengan memakai istilah-istilah yang biasa.  Jadi penjelasan Yakub tentang mimpinya dan tentang adanya tangga yang naik ke dan turun dari sorga adalah suatu pengalaman pribadi, sekalipun dijelaskan dalam pengertian-pengertian yang dapat diakui dan diterima oleh setiap orang.
  4. Pengalaman-pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dalam bahasa biasa, sekalipun demikian merupakan pengalaman khusus.  Contoh: perasaan tenteram  atau kepuasan, keprihatinan tentang keutuhan yang fundamental dan “kesatuan” dari segala sesuatu atau perasaan kagum.
  5. Individu merasa bahwa Allah sedang berbuat sesuatu dengan cara cara tertentu dalam kehidupannya atau dengan suatu cara mempengaruhi individu itu.  Jadi individu yang bersangkutan menengok ke belakang dalam kehidupannya dan dapat mengklaim bahwa Allah sudah bertindak untuk mewujudkan hal-hal tertentu atau menjadi sedemikian dekat dengan individu itu pada saat-saat yang gawat.

Lihatlah bahwa keseluruhan pengalaman dengan Allah di atas memiliki kemiripan bahkan kesamaan dengan semua agama sehingga disebut sebagai pengalaman keagamaan.  Allah dapat ditemukan dalam keseluruhan bentuk agama, dan bahwa penyataan diri-Nya akan sama dengan pengalaman agama lain termasuk agama-agama primitive.  Jelas ini menunjukan bahwa sesungguhnya baik Richard Swinburne maupun Peter Vardy, melihat eksistensi Allah hanya dari sudut Allah yang terpahami melalui kronos-nya pengalaman beragama manusia.  Itu berarti tidak ada unsur dari pengalaman beragama tersebut yang sebenarnya sedang bersinggungan dengan kairos-Nya yang sesungguhnya “I will be that I will be”.

Jadi apakah pengalaman beragama ini membawa umat pada Allah?  Tidak, sebab Tuhan Yesus berkata: “… penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”.  Yakub Susabda secara tepat menjelaskannya sebagai berikut:

Rupanya Allah memang menempatkan orang percaya diantara dua kutub ini, yaitu diantara kronos dan kairos.  Dengan demikian nyatalah bahwa iman Kristen merupakan iman yang terus bergerak hidup diantara dua kutub ini.  Kalau pengalaman iman bergerak kearah kronos, Allah dan penyingkapan diri-Nya menjadi semakin praktis dan menyatu dengan realita kehidupan dengan perasaan dan pikiran yang predictable sesuai dengan hukum alam.  Tetapi kalau pengalaman iman bergerak kearah kairos, semakin lama orang beriman merasakan Allah menjadi semakin unpredictable, incomprehensible dan unknowable.[14]

Menjembatani realita tersebut Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh. 15:16).  Pada akhirnya, Pentingnya Nama Allah sebagai Nama di atas Segala Nama: Berkenalan, Mengenal dan Bergaul dengan Allah dari Nama-Nya Sendiri, membawa kita pada keputusan untuk setiap saat menjadi Kristen (pengikut Kristus) yang otentik, melalui petunjuk-petunjuk pengenalan akan Dia.  Seperti yang dinyatakan oleh Bill Hybels:

“Allah telah memberi kita petunjuk-petunjuk menuju keotentikan, petunjuk-petunjuk yang dapat memberikan kekuatan padanya, dan kekuatan supranatural ini diperlukan untuk menghasilkannya dalam kehidupan kita.  Terserah kepada kita untuk menentukan langkah pertama dalam suatu perjalanan yang menjadi tempat kita tidak akan pernah ingin kembali.”[15]

Beberapa petunjuk tersebut adalah Ordo Salutis, permulaan perjalanan iman diawali dengan born again in spirit (Yoh. 3), sebagai realita bahwa Roh Kudus masuk dalam hidup yang menolong roh kita (Roma 8) untuk dapat berkomunikasi (mengenal dan percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus).  Setelah mengalami born again, maka dengan sendirinya ia dibenarkan oleh Allah (justification), artinya kita dianggap benar karena kita sudah lahir baru. ‘Dianggap benar’ bukan masalah realita praktis, tetapi masalah status dihadapan Tuhan, sehingga Tuhan melihat kita dengan cara yang baru sebagai pribadi yang telah ditudungi oleh Yesus Kristus (I Yoh. 3:6,9; II Kor. 5:17).

Padahal realitanya kita masih jatuh dalam dosa.  Sehingga seharusnya dosa merupakan realita yang tidak disengaja dan kita menjadi orang yang membenci dosa.  Sebab kita sudah disebut sebagai anak Tuhan (adopted), sehingga kemudian mengalami convertion (pertobatan).  Sejak itu orang percaya berjalan dalam perjalanan iman yang disebut sanctification (Gal. 5:16) artinya berjalan dalam Roh sehingga keinginan daging makin berkurang.  Proses ini berjalan terus hingga Allah membawa kita pada glorification.  Langkah-langkah praktisnya adalah:

  1. Lapar dan haus akan firman Allah. (plan, strategi, making notes, how to apply)
  2. Focus.
  3. Broken (ers).  Allah yg ada di tempat tinggi mau hadir di dalam hati manusia yang hancur.
  4. Child likeness: Anak kecil biasanya: (gampang percaya, ignorant to evil, tidak pernah bosan [never bore to routinity]

Dengan demikian, pengenalan akan nama Allah membawa kita pada keyakinan bahwa Ia telah, sementara dan akan terus berkarya.  Juga terhadap tuntutan-Nya kepada kita untuk terus menerus mengalami-Nya dalam personal relationship, sehingga kita terus bertumbuh secara benar dalam pergaulan dan pengenalan akan Allah.

Kepustakaan

Bavinck, Herman.,  Reformed Dogmatic.  Vol, 2: God and Creation.  Grand Rapids, Michigan: Baker Akademic, 2008.

Berkhof, Louis.,  Teologi Sistematika. Vol, 1: Doktrin Allah.  Surabaya: Momentum, 2007.

Hybels, Bill., Jujur terhadap Allah: Satunya Kata dan Perbuatan.  Diterjemahkan oleh Suryadi.  Yogyakarta: Yayasan Andi, 1999.

Susabda, Yakub.,  Mengenal dan Bergaul dengan Allah.  Batam: Gospel Press, 2002.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.,  Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Jakarta, Balai Pustaka2001.

Vardy, Peter.,  Allah para Pendahulu kita: Tahukah kita apa yang kita Percayai?  Diterjemahkan oleh  Liem Sien Kie.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2001)., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka),  773.

[2] Yakub Susabda, Mengenal dan Bergaul dengan Allah (Batam: Gospel Press, 2002), 193.

[3] Herman Bavinck, Reformed Dogmatic.  Vol, 2: God and Creation.  Grand Rapids, Michigan: Baker Akademic, 2008), 95.

[4] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 195.

[5] Louis Berkhof, Teologi Sistematika. Vol, 1: Doktrin Allah (Surabaya: Momentum, 2007), 67-68.

[6] Filipi 4:6-8.

[7] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 194.

[8] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 195.

[9] Berkhof, Teologi Sistematika, 19.

[10] Kecuali Allah dengan sengaja membiarkan diri-Nya hadir dalam  rentang kronos tertentu.  Misalnya dalam wujud Malaikat TUHAN (hw”±hy> %a:ôl.m;), dan panglima bala tentara Allah (hw”ßhy>-ab'(c.-rf;) dalam Perjanjian Lama, juga ketika Logos yang adalah Allah sendiri hadir dalam wujud pribadi Yesus Kristus selama kurang lebih 33 tahun pelayanan di bumi.

[11] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 196-97.

[12] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 196.

[13] Peter Vardy, Allah para Pendahulu kita: Tahukah kita apa yang kita Percayai?  Pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 106-08.

[14] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 247.

[15] Bill Hybels, Jujur terhadap Allah: Satunya Kata dan Perbuatan, pen., Suryadi  (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1999), 330.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: