Just another WordPress.com site

KELUARAN 16: 4 – 5

Pendahuluan:

Keputusan untuk mengikut Yesus adalah moment penting bagi manusia dalam sejarah hidupnya.  Saat-saat penting ini akan menjadi patokan ke arah mana sejarah dibuat, apakah ke arah keselamatan atau kebinasaan?  Dengan menjadikan Yesus sebagai juruselamat, tentu saja hidupnya akan mengarah pada keselamatan.  Tetapi keputusan untuk menjadikan Yesus sebagai juruselamat dan komitmen untuk mengikuti-Nya tidaklah menjadi tiket untuk berada di jalan bebas hambatan.  Masalah akan tetap datang sebagai realita.  Jadi sangat penting untuk menemukan solusi atas masalah.

Dari sudut pandang umum, masalah menentukan solusi; jika masalahnya adalah aspek finansial, maka harus bekerja agar mendapat uang; jika masalahnya adalah nilai ulangan yang jelek, maka harus giat belajar untuk mendapatkan nilai yang baik. Untuk sampai di tahapan solusi jika – maka, diperlukan beberapa point, misalnya: menemukan inti utama masalah, mengajukan alternalif jalan keluar, memeperhitungkan untung-rugi dan segala kemungkinan lain barulah kemudian memutuskan langkah solusi. Kelihatannya mudah tetapi justru manusia sering menciptakan masalah baru untuk memecahkan masalah lama.

Konteks bacaan hari ini adalah suatu keadaan dimana bangsaIsraelsedang menghadapi beberapa masalah  sekaligus, antara lain : (1) masalah perut (ay. 3); bekal makanan yang dibawa (dirampas) dari Mesir sepertinya sudah habis.  (20 masalah mentalitas; perjalanan yang ditempuh sudah berjalan 15 hari pada bulan kedua, sementara itu tidak ada tanda-tanda bahwa perjalanan akan berakhir.  (3) masalah kepemimpinan (ay. 2); sekelompok masa yang besar jumlahnya ini melihat bahwa Musa dan Harun tidak bisa memimpin mereka, mereka mulai membandingkan dengan kepemimpinan Firaun yang langsung, sedangkan Musa dan Harun adalah bentuk kepemimpinan menunggu perintah.  Untunglah Alkitab melalui perjalanan bangsaIsrael, memberikan  langkah-langkah yang membawa pada upaya penyelesaian masalah. Jawaban Tuhan atas bangsaIsraelsekaligus menjadi solusi tentang bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah.

Fokus Pada Allah.

Keadaan sulit dipadanggurun Sin membuatIsraelbersungut-sungut dan mengharapkan kematian (ay. 3).  Mereka berpikir bahwa kematian dapat menyelesaikan masalah.  Dalam kondisi seperti ini perbudakan Mesir yang dapat menyebabkan kematian lebih baik dari pada kemerdekaan.  Masalah perut membuatIsraelberpikir seperti itu.  Keadaan seperti ini banyak terjadi di masyarakat masa kini.  Tidak jarang hanya karena persoalan perut, nyawa bisa jadi taruhan; bahkan sudah terlalu sering terjadi peristiwa bunuh diri karena alasan perut.

Dalam kondisi seperti ini TUHAN menunjukan eksistensi diri-Nya dengan membuat sebuah proklamasi: “sesungguhnya Aku ..” (ay. 4).  Sebuah proklamasi tentang keberadaan TUHAN yang setia, berbelas asih dan bertanggung jawab.  TUHAN yang memanggilIsraelmenunjukan bahwa Ia setia dan tidak pernah menyesal dengan panggilan-Nya.  Hal yang sama juga ketika Ia telah memilih masing-masing orang yang percaya kepada-Nya (Ef. 1:4), pasti Ia setia.  Dalam kelaparan, TUHAN menunjukan karakter-Nya yang berbelas asih, dengan menyediakan hujan roti dari langit (ay. 4).  Dalam kesusahan, TUHAN menunjukan bahwa Ia bertanggung jawab atas panggilan-Nya.  Terlalu banyak bukti sejarah yang dapat dijadikan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manusia tentang kesetian, sifat belas asih dan tanggung jawab TUHAN atas umat-Nya.

Hal penting yang harus diperhatikan disini adalah apakah umat-Nya tetap fokus pada Allah.  Daripada bersungut-sungut, putus asa atau malah mengharapkan kematian, akan lebih berharga bila umat menanti dengan sabar pertolongan TUHAN. SebabIaadalah TUHAN yang setia, berbelas asih dan bertanggung jawab.

Fokus pada Firman-Nya

Allah dalam kesetian, rasa belas asih dan tanggung jawab-Nya kemudian memenuhi kebutuhan bangsaIsrael.  Allah sekali lagi mengerjakan mujizat-Nya dengan jalan memberikan mana sorgawi.  Beberapa tafsiran yang muncul berkenaan dengan mana ini, antara lain: (1) ada semacam pohon yang memiliki getah yang berasa manis; permasalahannya adalah saat itu bangsaIsraelsedang berada dipadanggurun Sin, jadi tidak mungkin ada jenis pohon apapun. (2) ada sejenis serangga (seperti tawon) yang bisa mengeluarkan lendir berasa manis; permasalahannya adalah butuh berapa banyak serangga yang dibutuhkan agar masing-masing kepala keluarga dapat mengumpulkan masing-masing segomer/orang (satu gomer = 3,6 liter).  Intinya adalah mana yang diperolehIsraelmerupakan bagian dari berkat (mujizat) Allah.

Konsekuaensi logis dari berkat (mujizat) itu adalah Allah menuntutIsraeluntuk hidup menurut hukum-Nya (ay. 4).  Hukum tersebut kemudian dijabarkan pada ayat 16 – 24.  Hukum atau aturan ini merupakan bagian dari bentuk pemeliharan allah atas umat-Nya.  Ketika umat berjalan diperlukan aturan yang mengatur keberlangsungan hidup.  Ketika hukum ini dilanggar tentu saja ada disiplin Allah yang akan dijatuhkan atas mereka.  Demikian juga dengan kehidupan orang percaya masa kini.  Tuhan  telah menjadikan umat-Nya sebagai orang-orang yang merdeka, tetapi kemerdekaan itu bukan berarti umat dapat melepaskan diri dari tuntutan hukum Tuhan.  Oleh karena itu Allah menyediakan firman dalam wujud tulisan (Alkitab) agar umat bisa menjadikannya sebagai alat pegangan hidup.  Tepatlah pesan yang ditinggalkan Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 3:16 – 17, yang berbunyi: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.  Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Fokus pada Pengendalian Diri

Hal ketiga yang harus dikerjakan orang percaya dalam mengatasi masalah adalah berupaya untuk mengendalikan diri.  Setelah menyediakan mana, Tuhan meminta agar umat-Nya mencukupi kebuthannya.  Dalam kelimpahan berkat ada tuntutan untuk hidup sesuai dengan porsi.  Sebagai contoh sederhana, apabila kita diperhadapkan dengan makanan yang berlimpah, penting bagi kita untuk tetap mengontrol porsi makan, agar tidak menderita obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol, sakit jantung dan lainnya.  Self control diperlukan agar orang percaya dapat menghadapi masalah dengan tenang, tidak panik, penuh pertimbangan, menjadi bijaksana dalam menghadapi masalah

Saat  ini kita sedang dikondisikan untuk tidak mampu mengotrol diri.  Seseorang ketika mendapat “lahan basah” memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkaya diri, sehingga ia terjebak dengan korupsi.  Masih banyak contoh lain yang dapat diajukan sebagai akibat dari ketiadaan upaya untuk mengotrol diri.  Pertanyaannya adalah sejauh mana kita bisa mengontrol/mengendalikan diri kita?

Penutup.

Melalui pengalaman bangsaIsrael, umat TUHAN masa kini diajar untuk dapat menyelesaikan masalahnya tanpa menimbulkan masalah baru.  Fokus pada Allah berarti umat berkeputusan untuk senantiasa peka terhadap jawaban TUHAN.  Fokus pada Firman-Nya berarti umat harus senantiasa aktif paling tidak membaca, merenungkan dan terlebih menjadikan firman itu sebagai satu-satunya kebenaran dalam hidup.  TUHAN memberkati jemaat dalam masalahnya masing-masing, amin.

h�}�?�

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: