Just another WordPress.com site

KASIH TUHAN SEPANJANG MASA

MAZMUR 71:1 – 24

 

Pendahuluan:

Pada sebuah kaos “dagadu” terdapat tulisan: “kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.”  Dari tulisan ini seolah-olah terkandung keinginan untuk hidup bahagia, sejak masa kanak-kanak sampai usia senja.  Tentu saja ini menjadi keinginan kebanyakan manusia.  Tetapi kenyataan yang sering terjadi adalah masa tua adalah masa yang “ditakuti.”  (penyakit, lemah fisik, pikun, dll)

Memang tidak ada alasan untuk menolak menjadi tua, dan bahkan menjadi tua seharusnya menjadi kebanggaan.  Budaya Tiongkok menganggap usia tua sebagai lambang dari kebijaksanaa.  Sama halnya dengan budaya Yahudi yang menyatakan bahwa usia tua sebagai wujud kematangan baik pikiran maupun spiritual.  Lepas dari semua bentuk budaya tadi, masalah yang patut diperhatikan sekarang adalah bagaimana menikmati masa tua dengan segala macam pergumulannya?

I.                   Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Karunia Tuhan

Pada ayat 5-8, pemazmur melihat keberadaan dirinya sebagai “tanda ajaib.”  Mulai dari masih kanak-kanak sampai masa tua, hidup manusia adalah tanda ajaib.  Mulai dari kandungan ibu sampai kembali dikandung tanah, hidup manusia adalah tanda ajaib.  Inilah yang menyebabkan pemazmur begitu bersyukur atas hari-hari hidupnya.

Maksud pemazmur dengan ungkapan “tanda ajaib” adalah dirinya sendiri sebagai “mercu suar” yang memberikan isyarat perlindungan Tuhan yang kuat.  Perhatikanlah bahwa diayat 7 ungkapan tanda ajaib dihubungkan langsung dengan hakekat Tuhan sebagai pelindung yang kuat.  Pemazmur sungguh-sungguh menyadari bahwa usianya yang senja justru adalah bukti bahwa ia memiliki Allah yang perkasa, yang perlindungan-Nya kokoh tak tertandingi.  Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa masa tua adalah salah satu bukti dari karunia perlindungan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya.  Bandingkanlah dengan orang-orang lain yang tidak sempat menikmati hidup lebih lama.  Dalam hal ini kita memiliki kesempatan yang lebih untuk menjadi bukti perlindungan Tuhan dimasa tua.  Oleh karena itu, sambil kita menyadari bahwa masa tua adalah juga karunia Tuhan, marilah kita senantiasa mengisi hari-hari senja ini dengan ucapan syukur kepada Tuhan.  Tidak ada yang lebih indah selain senantiasa mengucap syukur dari pada mengutuki diri yang semakin lemah, keriput, pikun dan mungkin menyusahkan banyak orang.

II.                Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Kesempatan menjadi Saksi

Mulai dari ayat 10-13, pemazmur melihat sekelilingnya dipenuhi musuh yang terus mencela dirinya.  Mereka mencela pemazmur karena melihat diri pemazmur yang sudah tidak perkasa lagi, bahkan sudah tidak mampu memegang pedang untuk berperang (ingatlah bahwa mazmur ini ditulis oleh Daud yang adalah seorang pejuang sejati, sejak masa muda ia sudah terbiasa menghadapi musuh.  Ingat juga ketika Daud melawan Goliat dan mengalahkan banyak musuh Israel).  Tetapi semuanya itu sudah tinggal kenangan, sudah tidak ada lagi bekas-bekas kekuatan dan kemegahan masa muda.  Semuanya sudah tertutup oleh kulit yang mengeriput, mata yang mulai rabun, telinga yang mulai tak baik mendengar, pikiran yang mulai pikun, dll.

Tetapi pemazmur tidak mau menjadi orang yang kalah, ia tetap sebagai pemenang karena Allah adalah sumber kemenangan baginya.  Sehingga diayat 14-16, pemazmur datang dengan keterbukaan kepada Tuhan, sambil menantikan pertolongan Tuhan dalam kesusahan.  Pemazmur tak pernah berhenti menaikan pujian kepada Tuhan bahkan dalam intensitas yang terus bertambah (ay., 14).  Bahkan pemazmur berjanji kepada Tuhan untuk menggunakan mulutnya sebagai alat untuk bersaksi bagi sesama untuk menceritakan  bahwa berkat Tuhan tak berhingga dirasakan selama hidup pemazmur.  Sudahkah kita sadar bahwa ketika Tuhan masih memberikan usia yang panjang, itu berarti Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk terus menjadi saksi bagi sesama terutama yang lebih muda bahwa Allah itu baik.  Marilah kita menggunakan kesempatan ini dan semakin sadar bahwa kita yang tua ini adalah saksi yang efektif terhadap kebaikan Tuhan.

III.             Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Kesempatan Berkarya bagi Allah

Mulai ayat 17 – 21, pemazmur melihat bahwa begitu banyaknya karya Tuhan atas dirinya.  Sejak masa kecil (ay., 17) sampai masa tua dan putih rambutku (ay., 18), Allah tidak pernah berhenti berkarya dalam diri pemazmur.  Tuhan tidak pernah meninggalkan pemazmur, tetapi tetap dengan setia berkarya membentuk pemazmur sehingga bisa menjadi teladan bagi angkatan berikutnya, maupun kepada semua orang yang akan datang (ay., 18).  Maksud pemazmur adalah seperti Allah yang menyertainya adalah Allah yang tidak pernah berhenti berkarya, maka penyertaan Allah yang tiada pernah berakhir itu juga seharusnya menyakinkan kita untuk terus berkarya bagi generasi berikutnya.  Mungkin kita sudah tidak bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang masih muda, tetapi pengalaman-pengalaman kita apabila di-share-, maka akan menjadi guru yang baik.  Ada pepatah tiongkok yang berkata: “jika kita ingin mendapat hasil untuk tiga bulan kedepan, maka tanamlah jagung; jika kita ingin mendapat hasil untuk 20 tahun kedepan, tanamlah pohon jati; tetapi jika kita ingin mendapat hasil untuk waktu yang kekal, maka tanamlah manusia.”  Maksud sederhananya adalah masrilah kita meninggalkan warisan yang abadi kepada anak cucu kita.  Bukan warisan harta benda yang habis dimakan waktu, tetapi warisan yang bersifat kekal di kerajaan sorga nantinya.  Marilah kita menjadi teladan dalam ketaatan dan ketekunan bagi semua orang, sehingga kita pun dapat berkata seperti rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 1:6-7: “…kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang percaya di Makedonia dan Akhaya”

 

Akhirnya, marilah kita menjadikan renungan hari ini yang diangkat dari pergumulan pribadi pemazmur kerika ia sedang bergumul dengan hari-hari hidupnya yang senja.  Pemazmur adalah manusia biasa sama seperti kita, hanya saja ia mengembangkan 3 prinsip dalam hidupnya, yaitu:

  1. Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Karunia Tuhan
  2. Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Kesempatan menjadi Saksi
  3. Sadar bahwa Masa Tua juga adalah Kesempatan Berkarya bagi Allah

Semoga kita dapat meneladani pemazmur dan bisa menikmati hari-hari senja yang Tuhan berikan.  Tuhan tetap menolong kita semua di masa senja sekalipun, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: