Just another WordPress.com site

Cara Mengungkapkan Cinta

Kidung Agung 6:1-3

Pendahuluan:

Satu-satunya bahasa yang dapat diterima oleh keseluruhan manusia walau berbeda bangsa, suku, ras, usia, ideologi bahkan agama adalah bahasa cinta.  Bahasa cinta mempertemukan, mempersatukan, bahkan mempereratkan.  Bahasa cinta adalah bahasa tindakan dan ia tidak pernah bisa berdiri sendiri tanpa adanya orang lain.  Bahasa cinta sanggup menggerakan orang untuk melakukan pengorbanan apapun yang ia miliki bagi orang lain.  Bahasa cinta dapat membuat seseorang menjadi kuat memperjuangkan hidup ketika ia diambang kematian.  Itulah bahasa cita yang kita kenal.  Namun, rupanya bahasa cinta dapat juga mejadi sangat merusak.  Demi cinta terhadap ideologi tertentu seorang yang lemah lembut dapat berubah menjadi seorang yang fatalis.  Demi cinta terhadap keyakinan ajaran agamanya, seseorang dapat menjadi seorang teroris.  Demi cinta terhadap kekasih, tidak jarang seorang muda menjadi egois.  Jadi bahasa cinta dapat dengan mudah menjadi bahasa yang merusak apabila kita keliru mengungkapkannya.

Tema renungan saat ini sangat menarik yaitu: cara mengungkapkan cinta.  Mengapa penting bagi kita untuk secara serius mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan cinta?  Karena cara pengungkapan bahasa cinta yang salah dapat menyebabkan seseorang yang lemah lembut menjadi fatalistis, teroris dan egois.  Sebaliknya, cara yang tepat dalam  mengungkapkan cinta bukan saja membuat cinta itu terpelihara awet, tetapi juga menjadi cinta yang unggul yang membuat hidup manusia semakin efektif.

Kitab Kidung Agung sering sekali dipahami sebagai kitab yang seronok, sehingga menjadi tabu untuk dibicarakan.  Ada lagi yang menyebutnya sebagai kitab khusus bagi suami istri.  Ada juga yang bahkan merohanikannya secara ekstrem sehingga kitab Kidung Agung adalah bahasa simbolik yang menjelaskan hubungan Gereja dengan Kristus.  Namun demikian, bukan berarti itu salah, karena itu pun adalah perspektif penafsiran Alkitabiah terhadap kitab Kidung Agung.  Tujuan utama kitab kitab Kidung Agung adalah mengekspresikan cinta secara jujur, terbuka, penuh hasrat/antusias dan sebagai ekspresi manusiawi terhadap rasa cinta yang muncul.  Jadi, kitab Kidung Agung sebenarnya merupakan ekspresi normal yang muncul saat cinta itu dihargai, dijunjung tinggi dan dirayakan dalam kebersamaan pribadi yang dipersatukan Allah oleh cinta.  Melalui kitab Kidung Agung ini kita akan belajar cara mengungkapkan cinta secara tepat, benar dan Alkitabiah.

Kitab Kidung Agung merupakan sastra bersahut-sahutan perihal cinta antara seorang pria dan wanita.  Menurut tradisi, kesusasteraan ini didedikasikan kepada Salomo, seorang yang penuh hikmat, yang juga memiliki pengalaman yang personal mengenai cinta.  Sehingga, beberapa penafsir cenderung melihat kitab Kidung Agung sebagai buah karya dari Salomo.  Namun demikian, sampai saat ini hal tersebut masih misterius.  Yang terpenting adalah kita mampu menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui kitab ini.  Melalui kitab ini, kita belajar cara mengungkapkan cinta secara benar, yaitu:

Prinsip pertama yang harus dipahami mengenai cara mengungkapkan cinta adalah cinta harus ditumbuhkan dalam saling percaya.  Rasa percaya ini bukan saja menghubungkan antar pribadi, namun dalam kitab Kidung Agung memberikan penekanan lebih pada pujian kepada Tuhan.  Ekspresi tersebut dapat dilihat dalam sepanjang kitab ini, yaitu ketika keduanya saling memuji menggunakan kata ‘bagaikan’.  Misalnya harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu (1:3); bagaikan merpati matamu (4:1); rambutmu bagaikan kawanan kambing (6:5) dan lain sebagainya.  Dengan demikian, rasa saling percaya disini adalah saling percaya dalam kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam sebuah hubungan.  Kehadiran Tuhan yang harus di puja dan dihormati.  Kehadiran-Nya yang menghadirkan ucapan syukur, sekaligus rasa saling percaya antar pribadi yang dihubungkan oleh cinta tersebut.  Prinsip ini dapat ditemukan pada pasal 6:1, bahwa kemanapun perginya sang jelita bahkan diantara wanita-wanita lainnya, maka itu tidak akan menggoyahkan pandangan sang kekasihnya pada wanita lain.

Prinsip kedua mengenai cara mengungkapkan cinta adalah bahwa cinta itu dirayakan dalam hubungan saling memiliki yang membangun bagi keduanya.  Sederhananya adalah tidak ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan dalam sebuah hubungan.  Prinsip ini jelas nampak pada ayat 2 dan 3.  Ada frase yang diulang yaitu: ‘untuk menggembalakan domba’, frase ini sebenarnya hendak menunjukan pada sisi keuntungan yang dihasilkan oleh hubungan dan rupanya keuntungan itu dinikmati secara bersama dan adil oleh keduanya sebab diapit oleh frase ‘aku kepunyaan kekasihku dan kepunyaanku kekasihku’.  Dengan demikian, cinta itu rupanya harus diungkapkan dan dirayakan dalam hubungan yang saling memiliki dan membuat keduanya berelasi secara sehat dan membangun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: