Just another WordPress.com site

Metode Riset Literatur

Silabus

Mata kuliah ini tidak berkaitan dengan ajaran teologi, tetapi bukan berarti tidak penting untuk dipelajari oleh mahasiswa teologi. Harus disadari bahwa berteologi erat kaitannya dengan pemaparan ide dalam bentuk tulisan ataupun lisan dan tentu saja ada kaidah-kaidahbakudikalangan akademisi yang harus dipahami agar “teologi” kita dihargai. Oleh karena itu, mata kuliah: Metode Menulis Makalah harus menjadi perhatian penting bagi mahasiswa teologi.

Tujuan:

  1. Mahasiswa memahami kaidah penulisan esei, makalah, skripsi, tesis dan disertasi.
  2. Mahasiswa terlatih untuk membuat karya ilmiah dalam format yang digunakan secara umum dikalangan akademisi.
  3. Mahasiswa mampu membuat esai, makalah dan  skripsi dalam satu format.

 

Topik Bahasan:

  1. Pendahuluan:
    1. Pengertian
    2. Manfaat
  2. Persiapan Awal:
    1. Pemilihan Pokok Bahasan
    2. Penyiapan Bibliografi Awal
    3. Pencatatan Bibliografi Awal
  3. Perencanaan dan Penetapan Arah
    1. Tujuan kendali
    2. Garis Besar Kasar
    3. Pencarian dan Pengumpulan data
      1. Penggunaan Kartu
      2. Pencatatan Data

–          Parafrase

–          Kutipan langsung

–          Gabungan

  1. Penyempurnaan Garis Besar
  2. Penulisan bentuk kasar
  3. Penyempurnaan Bentuk Kasar
    1. Pendekatan
    2. Penanganan
    3. Perbaikan
  4. Penulisan bentuk Akhir
    1. Format bahan Awal
    2. Format Isi
    3. Format Kepustakaan
    4. Contoh Format Catatan Kaki dan Bibliografi dari masing-masing Sumber
  5. Penutup

 

Penilaian:

  1. Absensi
  2. Makalah
  3. Tugas Mingguan
  4. Praktek pembuatan

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Harus disadari bahwa tanggung jawab yang diemban sebanding dengan meningkatnya status yang dimiliki. Kesadaran ini menimbulkan konsekuensi pada keseriusan dalam mengisi hidup; Dalam kaitannya dengan status sebagai ‘orang terdidik’, maka menjadi mahasiswa tentunya akan diikuti dengan berbagai tuntutan yang harus diselesaikan, salah satunya adalah pembuatan tugas – esai, makalah, skripsi, tesis maupun disertasi – yang tentu saja harus dikerjakan sesuai dengan aturan baku yang ada.  Disinilah nilai penting dari mata kuliah Metode Menulis Makalah, harapannya adalah mahasiswa dapat ditolong untuk memenuhi tuntutan akademik.

Menghasilkan sebuah tulisan pada dasarnya bukanlah pekerjaan yang asing, dengan sedikit diperlengkapi dengan pengetahuan dan pengalaman maka seseorang sudah dapat menjadi penulis, entahkah sebagai penulis lepas maupun penulis tetap. Namun sebagian orang merasa menulis merupakan pekerjaan yang berat, sehingga keluh kesah sudah menjadi kebiasaan yang membawanya pada kegagalan untuk menjadi penulis.  Oleh karena itu, tulisan ini kiranya dapat menolong untuk mengubah persepsi sekaligus sebagai ladang yang subur untuk menumbuhkan hasrat menulis. Dengan demikian menulis akan sama mudahnya dengan membaca ataupun mengucapkan

 

Pengertian

Bagian ini secara khusus akan memberikan penyarian terhadap beberapa bentuk tulisan yang dikenal dikalangan perguruan tinggi, yaitu: esei, makalah, skripsi, tesis dan disertasi.

 

Esei

Istilah esei (Ing. essay) biasanya hanya dianggap sebagai ‘karangan’, tetapi apabila diperhatikan lebih lanjut ada beberapa tulisan juga yang dimasukan dalam kelompok ini; misalnya: cerpen, roman, novel, dll.  Selain itu istilah esei juga merupakan sarana untuk menyampaikan penilaian terhadap suatu pokok masalah, seperti yang disampaikan oleh Petrus maryono:

Kata esei punya arti lebih khusus.  Tekanannya, tulisan ini menjadi sarana untuk menyampaikan penilaian terhadap suatu pokok masalah.  Penilaian itu entah berupa keyakinan atau pernyataan sikap penulis terhadapnya.  Esei lebih dari sekedar laporan faktual, bukan juga hanya ungkapan khayalan.  Penulisnya berpangkal pada pemilihan “satu pokok masalah.” Pokok masalah menuntun pada riset, yaitu pencarian data.  Hasil penemuan dalam riset mendasari pengajuan pendapat.[2]

 

Dari fungsinya ini, tidak jarang esei merupakan cara yang ampuh bagi penulis untuk memaparkan suatu bahan pemikiran. Walaupun demikian esei bukanlah satu-satunya cara, sebab masih ada bentuk-bentuk penulisan lainnya yang dapat menjadi sarana.

 

Makalah

Istilah paper (term paper, research paper) agak lebih keren dipakai oleh mahasiswa dibandingkan dengan istilah makalah, walaupun sebenarnya pada prinsipnya semua istilah tersebut menunjuk pada sebuah karya tulis yang disusun sebagai hasil dari sebuah penelitian yang cukup mendalam terhadap suatu pokok permasalahan.  Bidang teliti disini dapat berupa data lapangan, literatur maupun kasus, yang harus melewati tahapan riset yang dalam sehingga layak untuk dipercaya kebenarannya serta layak untuk diakui keberadaannya.

Tulisan yang dihasilkan bukan saja hanya berupa laporan terhadap riset tetapi di dalamnya harus mengandung kesimpulan penulis yang menjadi jawaban terhadap pokok masalah yang sedang dibahas.  Prinsip yang sama juga harus diterapkan pada skripsi, tesis bahkan disertasi, hanya saja nantinya terdapat penekanan yang berbeda dari masing-masing tulisan.  Dapat juga dinyatakan bahwa makalah merupakan bentuk yang lebih dalam dari esei.  Dengan demikian mahasiswa terlebih dahulu harus jelas terhdap proyek yang sedang dikerjakan, apakah esei, makalah, skripsi, tesis atau disertasi yang sedang digarapnya.  Pemahaman awal ini nantinya akan membuat mahasiswa paham terhadap bentuk-bentuk tulisan yang lazim digunakan dalam perguruan tinggi.

 

Tesis

Adakesamaan pengertian antara skripsi, tesis dan disertasi, hanya saja dibedakan dari besaran serta kedalaman riset yang dilakukan.  Perbedaan lainnya juga diikuti dari gelar (sarjana, master/magister atau doktor) yang diberikan oleh perguruan tinggi sebagai tanda terpenuhinya tuntutan perkuliahan yang ditempuh oleh mahasiswa.

Dari tiga bentuk tulisan – skripsi, tesis dan disertasi – penulis memilih untuk memaparkan istilah tesis lebih lanjut, karena ada makna lain yang terkandung didalamnya.  Istilah tesis dapat mengacu kepada penyarian pandangan seseorang terhadap suatu topik bahasan. Tentu saja ada unsur-unsur penting yang harus dipenuhi selain dari riset, yaitu faktor kebenaran yang diungkapkan. Dengan demikian tesis juga dapat memiliki peran yang setara dengan dalil atau teorema dalam dunia eksakta.

 

Manfaat

Selain sebagai upaya pemenuhan tuntutan dari masing-masing mata kuliah, serta untuk mendapatkan gelar sebagai tanda kelulusan dari satu bidang ilmu tertentu.  Penting disadari akan manfaat dan kegunaan yang besar dari kebiasaan menulis, dari dalamnya akan terbentuk suatu pola pemikiran yang kritis, sebagai upaya pembenahan sekaligus menunjukan kebenaran.

Manfaat lainnya akan diperoleh justru setelah mahasiswa lepas dari pendidikan di perguruan tinggi, misalnya ketika diminta untuk membawakan seminar atau khotbah.  Apalagi jika kecakapannya ini terus ditingkatkan dan terus menghasilkan buah pikir dalam bentuk artikel untuk diterbitkan media cetak.  Manfaat-manfaat yang besar ini seharusnya, menjadi pemacu bagi mahasiswa untuk segera membangun dan mengembangkan kemampuan olah pikir dalam bentuk tulisan.  Selain itu apabila bidang penulisan ini terus diasah maka bukan tidak mungkin suatu ketika kebiasaan ini akan menjadi sumber penghasilan tetap dari pembuatan buku.

Kalaupun manfaat-manfaat diatas masih bersifat jangka panjang, tetapi paling tidak pola membaca akan menjadi kebiasaan dari mahasiswa, sebab dengan membaca maka ada banyak hasil yang segera dinikmati.  Mengingat sifat kait-mengkait antara kebiasaan membaca dan menulis, maka sangat penting untuk mengusahakan kedua hal tersebut.  Pada awalnya dijadikan sebagai hobby dan lambat laun akan menjadi habit.

 

BAB II

PERSIAPAN AWAL

 

Hal penting yang harus diperhatikan dalam persiapan awal ini adalah: pemilihan pokok bahasan dan pengumpulan bibliografi awal.  Kedua hal ini penting karena kesuksesan pengerjaan riset ditentukan oleh kematangan perencanaan serta komplitnya bahanbakuyang diperlukan.  Ibaratnya memasak dua hal ini seperti buku resep dan bahanbakumasakan.  Pada bagian-bagian berikut ini penulis akan memberikan pemaparan terhadap dua hal tersebut.

 

Pemilihan Pokok bahasan

Bagian ini dapat disamakan dengan istilah judul, sebab dalam artian tertentu memiliki kemiripan, walaupun kadang-kadang keduanya tidak selalu identik.  Langkah awal ini terlalu sering dilupakan oleh mahasiswa, padahal pemanfaatan moment ini dengan baik akan menjadi starting point menuju bagian-bagian berikutnya.  Kecerobohan penulis mengerjakan starting point akan merusakkan keseluruhan isi makalah yang dikerjakan. Ada beberapa prinsip yang diajukan sebagai kaidah pemilihan pokok bahasan, yaitu:

–          Mengasyikkan:

Semakin menarik pokok bahasan yang dipilih akan membuat penulis semakin bergairah dalam menggarap makalahnya.  Disisi lain pembaca juga akan memberikan perhatian serta waktu untuk membacanya

–          Terjangkau:

Disini perlu kepekaan dan kejujuran dari pihak yang akan menggarap tulisan.  Berbagai aspek harus dipertimbangkan, misalnya: waktu, besaran tulisan (ruang penulisan), bahanbaku, kepakaran, dll.

–          Terbuka:

Harus diakui bahwa ada beberapa pokok bahasan tertentu yang sudah dianggap selesai, sehingga tidak perlu lagi untuk dibahas (misalnya hal-hal yang bersifat doktrinal).  Disini bukanlah berarti topik-topik ini tidak perlu dibahas, tetapi lebih bertujuan agar diperhatikan oleh orang lain.  Dari sudut lain, sifat terbuka dari penulisan bertujuan sebagai sumbangan pemikiran, alternatif pemecahan, tambahan informasi yang masih terbuka bagi generasi selanjutnya untuk membahasnya.

–          Relevan:

Relevansi dari suatu makalah tentunya akan sangat diharapkan, sehingga riset dan study yang sudah dikerjakan dapat dinikmati manfaatnya oleh berbagai pihak.  Dua sisi relevansi yangt harus dipenuhi adalah: relevan dari sisi penulis dan relevan juga dari sisi pembaca.

–          Sempit:

Bagi penulis pemula, bagian ini sering menjadi jebakan yang ampuh.  Maksudnya disini adalah pokok bahasan yaang dibahas harus bersifat spesifik, yaitu hanya mencakup salah satu bagian khusus dari suatu bidang yang luas.  Semakin spesifik suatu tulisan akan membuat semakin mudahnya penuntasan tulisan tersebut.  Beberapa langkah praktis yang akan mempermudah penyempitan topik, yaitu:

  • Tentukan bidang umum
  • Pikirkan aspek-aspek yang terkait:

#  Prinsip Logika

#  Prinsip Tokoh

#  Prinsip Waktu

#  Prinsip Geografis

#  Prinsip Umum ↣ Khusus

  • Pilih yang sesuai dengan kebutuhan

 

Penyiapan Bibliografi awal

Bibliografi yang dimaksudkan adalah adanya daftar kumpulan buku yang secara spesifik menjadi buku sumber.  Tidak semua buku dapat masuk dalam daftar bibliografi, hanya yang benar-benar diperlukan dalam risetlah yang layak dimasukan sebagai daftar bibliografi.  Penentuan bibliografi menjadi tulang punggung suksesnya penggarapan suatu karya tulis.  Kecerobohan dalam menentukan bibliografi akan berpengaruh pada mutu karya yang dihasilkan.  Seiring dengan selesainya proses pemilihan pokok bahasan (judul), maka proyek selanjutnya yang harus segera dikerjakan adalah mempersiapkan bibliografi (walaupun kadang-kadang dalam prakteknya masih bersifat awal).  Beberapa pedoman yang dapat dijadikan penuntun dalam mengumpulkan sejumlah buku yang layak masuk dalam bibliografi adalah:

–          Sumber primer:

Maksudnya adalah dikumpulkannya buku-buku yang berkaitan langsung dengan topik yang dibahas.  Dari bahan-bahan inilah penulis nantinya akan diperkaya dalam riset untuk pengamatan, penafsiran dan pemanfaatan.  Tentu saja sumber primer sangat ditentukan pada pokok bahasan.  Sebagai contoh, apabila penulis bermaksud menggarap soal eksegesis maka sumber primernya adalah teks asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) dan buku tafsir jenis eksegetis.

–          Kewenangan:

Kadang-kadang mahasiswa terjebak dengan mempergunakan bahanbakuprimer dari penulis buku yang sebenarnya tidak kompeten dengan tulisan yang ia kerjakan.  Penulis pemula harus jeli melihat kepakaran serta dedikasi yang sudah disumbangkan oleh penulis ahli.  Dalam hal ini reputasi dari penulis, sangat memberikan sumbangan pengaruh dan kelayakan sumber untuk menjadi sumber primer.

–          Keobjektifan:

Karya ilmiah yang layak menjadi sumber primer adalah suatu karya ilmiah yang dibahas secara objektif, bukan berisi suatu polemik, propaganda atau karangan populer.  Artinya suatu karya yang bersifat objektif adalah karya yang lahir dari riset mendalam serta terbuka dengan pandangan yang tidak sejenis

–          Mutakhir:

Harus dipahami bahwa tidak ada bidang ilmu yang bersifat statis, selalu ada perkembangan seiring dengan kemutakhiran riset.  Oleh karena itu akan lebih baik memilih sumber primer juga berdasarkan tahun terbit.  Bukan berarti “buku-buku tua” ketinggalan jaman, sebab masih banyak jenis buku tersebut yang layak untuk terus dihargai

 

Pencatatan Bibliografi Awal

Beberapa hal yang menjadi alasan pentingnya pencatatan bibliografi adalah: (1) menyusun bibliografi untuk lampiran makalah;  (2) mengumpulkan keterangan yang dibutuhkan dalam catatan akhir/kaki;  dan (3) menemukan data untuk dimanfaatkan dalam argumentasi makalah.  Dengan demikian diharuskan adanya lahan untuk menjadi catatan bibliografi.  Kegunaan dari catatan-catatan kecil ini adalah:

–          Mempermudah pengaturan urutan nama pengarang berdasarkan abjad

–          Mempermudah penggunaan dalam proses pembubuhan catatan kaki

–          Mempermudah pencantuman informasi yang relevan bagi karya tulis yang sedang dikerjakan.

Beberapa informasi yang penting ada dalam pencatatan bibliografi adalah: nama pengarang, judul buku/karangan, penerbit, nomor perpustakaan, tempat penyimpanan, nomor urut dan informasi penting di dalamnya.  Pada bagian-bagian selanjutnya akan lebih kelihatan manfaat dari mengerjakan aturan-aturan ini dengan teratur.  Sangat penting untuk mencoba mengerjakannya dengan tidak berputus asa walaupun harus diakui bahwa model seperti ini pada awal pengerjaan masih bersifat sulit bagi mahasiswa

 

 

BAB III

PERENCANAAN DAN PENETAPAN ARAH

 

Dalam perencanaan dan penetapan arah sebuah karya tulis (makalah, skripsi, tesis maupun disertasi), diperlukan 4 tahapan kerja yang sekaligus menjadi siklus pengerjaan.  Keempat tahapan tersebut adalah: (1) penulisan tujuan kendali;  (2) penulisan garis besar kasar;  (3) pencarian dan pengumpulan data;  (4)  pengaturan data serta penyempurnaan garis besar.

 

Tujuan Kendali

Langkah penting selanjutnya setelah menemukan pokok bahasan dan menyusun bibliografinya adalah menuangkan sasaran secara tepat kedalam satu kalimat yang jelas.  Kalimat sasaran tersebut secara tepat mengungkapkan mengenai isi, cara penyuguhan, jangkauan dan hasil yang akan diharapkan, selanjutnya disebut sebagai tujuan kendali.  Disebut tujuan kendali karena bagian ini secara khusus memiliki peran utama untuk menetapkan arah penulisan dan sekaligus membatasi cara, serta jenis bahan yang boleh dimasukan.  Ia membimbing dan memagari seluruh usaha penggarapannya, sehingga mencegah penulis keluar dari pokok yang sedang dibahas.

Sebagai contoh, misalnya penulis akan membahas pokok “Ajaran paulus Mengenai Hukum Taurat.”  Lebih khusus lagi, pusat perhatian diarahkan kepada hubungan antara Hukum Taurat dan Pembenaran.  SebelumnyaGalatiapasal 3 telah ditetapkan sebagai paragraf kunci.  Pengamatan sementara menunjukan bahwa dalam pandangan Paulus Allah mengaruniakan Hukum Taurat untuk tujuan ilahi tertentu, tetapi bukan untuk jalan keselamatan.  Setelah selesai dengan urusan bibliografi, maka selanjutnya penulis harus menyusun sebuah tujuan kendali.

Berdasarkan keputusan diatas, maka tujuan kendali yang dibuat adalah:  untuk menguraikan hubungan antara Hukum Taurat dan Pembenaran dalam ajaran rasul Paulus berdasarkanGalatiapasal 3: Hukum Taurat dikaruniakan untuk tujuan ilahi tertentu, tetapi bukan untuk tujuan keselamatan.

Pada awalnya memang tujuan kendali sepertinya tidak penting, tetapi seiring dengan riset yang mendalam, serta tambahan informasi lainnya maka tidak jarang penulis kehilangan arah dan bahkan sudah keluar dari sasaran yang hendak dicapai, ini  berarti pekerjaan yang dikerjakan akan segera amburadul.

 

Garis Besar Kasar

Peranan garis besar kasar sama pentingnya dengan tujuan kendali, sebab secara prinsip garis besar berfungsi untuk mengendalikan isi karya tulis.  Dalam hal ini garis besar akan menjadi rincian lebih lanjut dari tujuan kendali.  Tidak perlu risau ketika sedang mencoba mengerjakan tahapan-tahapan ini, sebab seiring dengan riset maka tahapan-tahapan tadi masih dapat diperbaiki.

Beberapa prinsip yang dapat membantu penyusunan garis besar kasar adalah: (1) prinsip kronologis, titik acuan menggunakan metode ini berdasarkan perbedaan waktu, misalnya:  karya Roh Kudus pra penciptaan, masa penciptaan dan sesudah penciptaan;  (2) prinsip urutan logis, unsur logis akan tercapai apabila setiap gagasan disusun secara wajar dan masuk akal;  (3) prinsip geografis, contoh sederhana dapat ditemukan dalam Kisah Para Rasul 1:8;  (4) prinsip urutan umum ke khusus [atau sebaliknya].[3]  Masih ada cara lain yang juga sangat baik digunakan untuk membantu penyusunan garis besar isi, yang penting adalah sedapat mungkin garis besar isi mampu berperan sebagai pagar agar sasaran bisa tercapai.

Secara sederhana notasi yang biasa dipakai, dapat dilihat dari berbagai contoh, misalnya:

  1. Gagasan besar
    1. Gagasan agak besar
      1. Gagasan kecil
        1. Gagasan lebih kecil
        2. Gagasan lebih kecil
        3. Gagasan kecil
        4. Gagasan agak besar
  2. Gagasan besar (dst)

Masih ada bentuk-bentuk notasi yang lazim dipakai di perguruan tinggi, biasanya masing-masing perguruan tinggi pada akhirnya akan membuat semacam notasi yangbakubagi kampusnya.  Mahasiswa dapat menentukan sendiri bentuk notasi yang dirasa dapat mempermudah dalam penyusunan garuis besar kasar, tetapi harus diingat bahwa ini masih bersifat sementara dan masih belum bentuk notasi yang akan dipakai dalam bentuk jadi karya tulisnya.

 

Pencarian dan Pengumpulan data

Pencarian data dapat dipermudah apabila tahap-tahap sebelumnya telah dikerjakan dengan serius, baik dan benar.  Dalam hal ini mahasiswa tidak akan disibukkan dengan mencari buku-buku yang akan memakan waktu penyelesaian karya tulis.  Pencarian data dapat dilakukan dengan kembali ke bibliografi, serta mengamati catatan kaki.

Data dapat dikumpulkan dengan menggunakan metode teknik perekaman dengan penggunaan kartu yang didalamnya berisi pencatatan data.  Mahasiswa secara pribadi dapat membuat kartu seukuran post card, yang didalamnya dapat berisi informasi:  (1) judul atau tanda pengenal;  (2) sumber informasi, yaitu tempat asal diperolehnya data;  (3) isi data.  Contoh teknik perekaman dengan penggunaan kartu:

Pembentukan Tradisi

 

B. Ramin berpendapat bahwa tradisi gereja berkembang ke dua bentuk: (1) tradisi tulisan (Alkitab);  (2) tradisi lisan atau yang lebih dikenal dengan nama tradisi gereja

Evangelical Heritage, 25

 

Catatan penting disini adalah: pemanfaatan informasi yang diperoleh dari suatu sumber harus “diakui” dengan jujur.  Mahasiswa terkadang tidak menyadari jika dirinya sesungguhnya sedang melanggar hukum.  Oleh karena itu sangat perlu untuk mengakui semua informasi secara jujur dengan mencantumkannya dalam catatan kaki.  Data-data dapat direkam di dalam kartu dengan beberapa teknik, yaitu:

 

Parafrase.

Dalam parafrase jumlah kata yang digunakan kira-kira hampir sama dengan yang dipakai dalam paragraf asli.  Namun kata dan peristilahan yang digunakan berasal dari pengolahan pikiran penulis karya tulis (mahasiswa).  Cara seperti ini bukan termasuk kecurangan, sebab lazim dipakai dalam sebuah tulisan.  Sekali lagi harus diingat bahwa paragraf atau tulisan (sekecil apapun), harus diakui secara jujur sebagai bentuk penghormatan kepada penulis awal yang sudah mencetuskan buah pikirannya.

 

Kutipan Langsung

Kutipan langsung berarti mahasiswa mengangkat kalimat atau sekelompok kalimat secara langsung sebagaimana adanya dari dalam buku sumber.  Sebagaimana sebutannya sebagai kutipan langsung,  maka dalam hal ini mahasiswa harus mencantumkan semua informasi sebagaimana adanya aslinya, termasuk didalamnya jika terdapat kesalahan pengetikan.  Mengantisipasi hal ini, mahasiswa dapat memberikan tanda [ … ] terhadap bagian yang telah diubah oleh mahasiswa dari keadaan aslinya.

 

Gabungan

Teknik terakhir ini merupakan teknik yang disarankan digunakan bagi para pemula, sebab didalam pengerjaan teknik gabungan mahasiswa dilatih untuk mengerjakan parafrase sekaligus mengutip langsung dari bahan sumber.  Teknik pengerjaan model gabungan adalah dengan memparafrase bahan sumber asli, tetapi pada bagian-bagian tertentu tetap dipertahankan bentuk aslinya.

Selain dengan mempergunakan kartu, data juga dapat direkam di notebook.  Perekaman dengan menggunakan notebook harus diakui sebagai sesuatu yang mahal, tetapi kemudahannya akan terasa apabila kita sedang berada di perpustakaan dimana buku-buku yang sedang kita teliti termasuk dalam buku referensi.  Sebagai pengganti teknik ini, memfotocopy bahan merupakan alternatif yang dapat digunakan, selama tersedia fasilitas untuk itu.

Teknik perekaman selanjutnya dapat menggunakan anotasi.  Anotasi adalah catatan singkat namun padat untuk menyarikan sumber tersebut.  Sebagai contoh perhatikanlah anotasi berikut ini:

Armstrong Karen. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4000 tahun. Bandung: Penerbit Mizan, 2002.

Tuhan yang satu, tak terjangkau oleh pikiran manusia, namun Dia dipersepsi secara berbeda-beda oleh berbagai kelompok manusia sepanjang sejarah.  Buku ini dengan sangat cerdas dan lugas, merekam empat milenium sejarah persepsi manusia tentang Realitas Tertinggi ini.  Berawal dari masa Abraham sekitar abad ke 20 sM, ketika monoteisme untuk pertama kali di tengah agama kesukuan kaum pagan, pengarangnya kemudian melacak bagaimana ide tentang Tuhan bertumbuh, berubah dan saling mempengaruhi dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, melintasi berbagai fase sejarahnya hingga akhir abad ke dua puluh.

 

Penyempurnaan Garis Besar

Hasil perolehan riset perlu diatur secara sistematik sehingga mudah difungsikan dalam makalah.  Karena itu kartu-kartu yang berisi hasil riset perlu dikelompokan sesuai dengan peranannya dalam garis besar yang akan digunakan untuk menguraikan suatu  pokok besar, kumpulkan dalam satu kelompok yang berfungsi sebagai penjelas pokok kecil di bawah pokok besar tertentu.

Seiring dengan kematangan riset yang membawa pada pemahaman yang lebih dalam terhadap pokok masalah, bukan tidak mungkin garis besar kasar yang telah dikerjakan masih perlu perbaikan dibanyak tempat.  Beberapa pertanyaan dapat diajukan sebagai batu uji atas garis besar yang telah dibuat:

  1. Apakah garis besar itu dari pendahuluan sampai kesimpulan mengalir secara wajar?
  2. Apakah pokok besarnya menyatakan gagasan penting?
  3. Apakah pokok kecilnya berkaitan langsung dengan pokok besarnya?
  4. Adakah perulangan pokok besar atau pokok kecil?
  5. Apakah semua pokok besarnya jelas-jelas berhubungan dengan judul dan tujuan makalah?
  6. Apakah “peralihan”  dari satu bagian ke bagian lain mengalir secara wajar/lancar?
  7. Apakah kesimpulan selaras dengan tujuan makalah?
  8. Adakah bagian dalam garis besar itu yang mengganggu atau merusak keseimbangan makalah?
  9. Apakah untuk menguraikan setiap bagian dalam garis besar tersedia cukup bahan/data?

BAB IV

PENULISAN BENTUK KASAR

 

Sebelum siap masuk kedalam tahapan “menulis yang sebenarnya,” penting diperhatikan untuk terlebih dahulu membuat tulisan dalam bentuk yang kasar.  Sampai ditahapan ini janganlah lupa untuk tetap mengacu pada garis besar yang sudah dibuat sebelumnya.  Sambil memperhatikan garis besar itu mulailah untuk menyusun kalimat-kalimat dalam paragraf.

Dari segi lain, paragraf adalah pengembangan pokok garis besar.  Ia menguraikan dengan rinci gagasan inti yang terdapat dalam garis besar.  Tidak ada ketentuanbakuberapa paragraf yang dibutuhkan untuk mengembangkan satu pokok dalam garis besar.  Panjang pendeknya isi paragraf lebih bergantung pada rumit tidaknya suatu pokok dalam garis besar.  Beberapa penuntun dalam mengerjakan paragraf yang baik adalah:

 

Keutuhan

Keutuhan suatu paragraf ditandai dengan adanya satu gagasan utama atau pokok pikiran dalam pembahasan.  Gagasan utama berperan sebagai pusat pembicaraan;  Kearahnyalah semua unsur lain dalam paragraf menyumbangkan dukungannya.  Gagasan utama dapat dihadirkan dengan beberapa pendekatan.  Sejumlah pengarang memperkenalkan gagasan utama pada awal paragraf.  Yang lain lebih menyukai menampilkannya pada akhir. Adajuga yang menyisipkannya di tengah, tetapi tak kurang pula yang hanya menyatakannya secara tidak langsung.

Bagi penulis pemula disarankan agar ia memperkenalkan gagasan utama pada awal paragraf. Tentu saja kebebasan untuk membuat keragaman, dari paragraf ke paragraf, masih tetap terbuka.  Untuk menampilkannya ia dapat menggunakan kalimat, frase atau klausa.  Apapun caranya, yang penting pembaca harus dapat mengenali kehadiran gagasan pokok itu dengan mudah.  Gagasan yang terlalu luas merusak keutuhan. Karena itu ia seyogyanya dipecah menjadi beberapa yang cukup sempit.  Pembagian itu juga mempermudah penggarapannya.  Satu gagasan sempit memberi peluang lebih baik untuk digarap tuntas dalam satu paragraf pendek.  Beberapa paragraf pendek akan lebih berdaya guna dibandingkan dengan satu paragraf  yang terlalu panjang.

Cara lain untuk menciptakan keutuhan adalah melalui pemilihan kata sambung yang tepat.  Hubungan antara satu kalimat dengan yang lain harus mengalir secara wajar.  Demikian juga, peralihan penyuguhan sub-gagasan ke yang berikutnya, harus terasa lancar.  Kata “sebab,” ungkapan atau istilah sejenis, cocok sekali untuk menciptakan suasana ini.  Dengan menempatkan kata itu pada awal kalimat “pendukung,” keterkaitan unsur penjelas dengan kalimat utamanya akan terlihat.  Bila yang dikehendaki adalah mempertentangkan dua gagasan, kata sambung yang cocok adalah “tetapi, namun” dan sebagainya.  Untuk menunjukan gagasan “bersyarat,” pakailah kata “meskipun, walaupun,” dan lainnya.  Begitu selanjutnya.  Dengan mengingat bahwa tugas kalimat pendukung adalah memperjelas, melukiskan, atau mengembangkan gagasan yang diperkenalkan dalam kalimat utama, maka menyatunya unsur ini dengan kalimat utama harus diperjuangkan, yaitu dengan pemilihan kata perangkai yang tepat  Perhatikan contoh berikut ini:

Diskusi teologia dalam bahasa Inggris menghadapi pergumulan dengan istilah “nature” (sifat), sebab “tidak banyak istilah yang sedemikian gawat mendua-artinya seperti halnya ‘sifat’.”  Kesulitan itu muncul, karena dalam Alkitab paling tidak ada satu kata Ibrani dan tiga kata Yunani yang diterjemahkan dengan “sifat.”  Padahal kata Ibrani atau Yunani yang sama, dapat digunakan dengan beberapa makna yang berbeda.  Kurang jelas definisi kata “sifat” telah menyebabkan munculnya sedemikian banyak perdebatan teologia berkenaan dengan perubahan yang terjadi dalam kelahiran baru.  Anehnya, banyak penulis yang mulai mendiskusikan pokok ini tanpa membahas keragaman maknanya dalam bahasa Inggris atau istilah padanannya dalam bahasa aslinya.  Banyak teolog  menghindari penggunaan “sifat” dan mencoba mencari kata yang lain yang dapat menampilkan gagasan berkenaan dengan soal pendiaman dosa.[4]

Penulis makalah diatas memulai pembicaraannya dengan memperkenalkan gagasan utama, yaitu munculnya kesulitan dalam diskusi teologia yang disebabkan oleh keragaman arti kata “sifat.”  Dalam kalimat kedua ia menjelaskan alasan terjadinya kesulitan tersebut (sebab’): kata “sifat” digunakan untuk menerjemahkan beberapa istilah bahasa asli Alkitab.  Untuk memperluas penyebab kesulitan yang baru disebut, fakta lain ditambahkan dalam kalimat berikutnya, yaitu dengan “Padahal ….”  Rumitnya kesulitan diskusi teologia itu dipertegas lagi dengan alasan lain, yaitu pengarang teologia umumnya cenderung mengabaikan pembahasan istilah dengan secukupnya (diungkap dengan kalimat yang dimulai dengan “Anehnya …”).

Segera terlihat bahwa setiap unsur dalam paragraf di atas mendukung gagasan utama yang diperkenalkan pada awal pembicaraan.  Hal itu terjadi karena pengarang telah menempatkan setiap unsur pendukung dengan cerdik dan memilih kata perangkainya secara tepat.

 

Keterkaitan

Berhasil tidaknya seorang pembaca untuk dapat mengikuti suatu pembahsan sangat dipengaruhi oleh prinsip kemasukakalan.  Maksudnya, bila penyampaian pembicaraan  dan peangajuan berbagai kelengkapannya nampak wajar dan tidak dipaksakan, ia akan lebih mudah menerima dan memahami argumentasi anda.

Untuk menjawab sasaran di atas ada beberapa hal yang dapat dilakukan.  Pertama, pakailah prinsip-prinsip berikut ini: urutan angka, urutan kronologis, urutan wajar, situasi ruang, klimaks, umum – khusus, atau khusus – umum.  Cara lain ialah dengan pengulangan kata kunci, pemilihan kata perangkai atau konjungsi yang tepat, sehingga saling hubung antar kalimat tidak terputus-putus atau terasa dipaksakan.  Penggunaan konstruksi sejenis untuk menyuguhkan gagasan yang sejajar bermanfaat juga untuk menyadarkan pembaca akan adanya keterkaitan di antara berbagai unsur dalam pembahasan.

Pokok bahasan seringkali sudah mengandung unsur yang menyatakan urutan yang dimaksudkan.  Proses pelaksanaan suatu tindakan – misalnya, tatacara pelaksanaan upacara Perjamuan Kudus – menyarankan perlunya pengaturan bahan pembicaraan berdasarkan urutan satu – dua – tiga.  Uraian berkenaan dengan suatu peristiwa sejarah, pengalaman hidup, atau perkembangan suatu gerakan , sangat menyarankan digunakannya urutan kronologis.  Kehadiran unsur itu sangat patut dimanfaatkan  sebesar-besarnya.  Pemanfaatan unsur semacam itu akan membantu pembaca untuk menyadari adanya saling kaitan di antara satu unsur pembicaraan dengan yang lainnya.

 

Penekanan

Penyuguhan uraian harus mampu menunjukan adanya kadar perbedaan pentingnya di antara berbagai gagasan yang disuguhkan.  Pembaca harus dapat melihat bahwa sampai derajad tertentu gagasan yang satu lebih penting dari yang lainnya.  Penekanan adalah alat yang baik untuk menciptakan kesan itu.  Penekanan dapat diwujudkan melalui beberapa kemungkinan berikut ini:  (1) pilihan jenis kalimat;  (2) pengaturan unsur kalimat;  (3) pilihan kata; atau  (4) pengulangan kata atau frase.

Sejumlah kalimat mampu mengungkapkan gagasan lebih efektif dibandingkan dengan janis lainnya.  Dengan kata lain, ada kalimat kuat, ada juga kalimat lemah.  Kalimat disebut kuat, bila ia berhasil menyuguhkan gagasan secara jelas dan sekaligus mampu melekatkan gagasan tersebut dalam daya pikir pembaca.  Penulisan makalah seharusnya dikerjakan dengan memanfaatkan kalimat jenis ini saja.  Kehadiran faktor ini jugalah yang pada akhirnya akan memikat dan meyakinkan pembaca terhadap gagasan yang dibentangkan di dalamnya.  Untuk menghasilkan kalimat kuat, pertimbangkanlah contoh berikut ini:

 

Kalimat Periodik

Dalam model ini klausa pokok menempati posisi akhir atau menjelang akhir kalimat.  Penyampaian semacam ini memperkuat rasa ingin tahu, sehingga membantu meningkatkan kedayagunaan pembicaraan.

Contoh: Sejumlah anggota telah menyaksikan sendiri baik penyalahgunaan dana maupun ketakmampuannya dalam menangani tugas, karena itu tuntutan penghentian dari jabatannya mustahil dibendung.

Bandingkan: Ia dituntut untuk berhenti dari jabatannya, sebab beberapa anggota telah melihat sendiri penyalahgunaan dana maupun ketakmampuannya menangani tugas.

 

Kalimat Seimbang

Konstruksi gramatika yang sama digunakan untuk menyuguhkan gagasan sejajar.  Kata perangkai “dan,” “baik – maupun,” dan yang sejenisnya tepat digunakan.

BAB V

PENYEMPURNAAN BENTUK KASAR

 

Sampai dititik ini anda harus pahami bahwa karya tulis belum selesai, kita belum tiba pada kondisi yang memungkinkan untuk bernafas lega.  Sebaliknya karya tulis yang baru saja anda buat masih menyimpan sejumlah kesalahan dan sangat belum sempurna.  Oleh karena itu, setelah anda selesai dengan bentuk kasar bersiaplah untuk mengerjakan ulang karya tulis tersbut dengan jalan meneliti ulang dan mengadakan perbaikan.

Tujuan penting penulisan bentuk kasar adalah untuk menyuguhkan hasil riset yang dikerjakan sejauh ini ke dalam kalimat dan paragraf.  Harapannya, data-data yang diperoleh dalam riset segera memiliki peran dan menunjukan maknanya di dalam karangan.  Karena pertimbangan itu, pada tahap ini faktor-faktor lain yang semestinya hadir dalam makalah yang baik, dengan sengaja diabaikan dahulu.  Bila setiap faktor semacam itu diperhatikan dengan teliti pada saat ini, ia hanya akan memperlambat lajunya pekerjaan.  Bentuk kasar dikerjakan “asal jadi,” sebab ia sama sekali tidak dimaksudkan menjadi “suguhan siap saji.”

Mengingat kenyataan di atas, langkah penyempurnaan dan pembetulan pentingnya tak terkatakan.  Langkah ini memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperhatikan faktor-faktor yang diabaikan dalam penulisan kasar tadi.  Misalnya, untuk menemukan dan memperbaiki berbagai kekeliruan, entah berkenaan dengan data, penyajian, atau pembahasaan.  Kedua, untuk memastikan tercapainya keutuhan pembahasan.  Dalam hal ini tujuan kendali dan garis besar akan bertindak sebagai penguji.  Ketiga, untuk menyempurnakan cara pengungkapan dan penyajian bahan.  Akan diperhatikan, adakah semua unsur penting pembahasan telah disampaikan dengan cara terbaik.  Kemudian, adakah cara penyajian sudah juga yang terbaik sehingga menghasilkan penyajian yang terjelas, paling masuk akal dan menarik.  Mungkin saja ada unsur yang lebih baik dibuang atau perlu ditambahkan, sehingga mutu pembahasan semakin ditingkatkan.  Berikut ini beberapa faktor yang dapat membantu guna menyempurnakan bentuk kasar, yaitu:

 

Faktor waktu

Pembetulan dan penyempurnaan sebaiknya dikerjakan paling tidak beberapa hari setelah terselesaikannya penulisan bentuk kasar.  Melakukan langkah ini tanpa tenggang waktu yang cukup, sangat merugikan.  Jarak waktu yang terlalu pendek menghalangi kecermatan pengamatan.  Bahan masih terlalu segar, pikiran masih terlalu terlibat dengannya, sehingga kita belum mampu mengadakan penilaian objektif.  Semua nampak jelas, segalanya terasa masuk akal, nampaknya tak ada bagian yang perlu diperbaiki.

Masalahnya akan menjadi lain jika makalah itu telah dijauhkan selama beberapa hari.  Bahan sudah mengendap, pikiran anda juga sudah dipenuhi dengan masalah lain.  Anda sudah lupa dengan semua yang ada disitu, berhadapan dengannya seolah sebagai sesuatu yang asing dan baru.  Kini secara tidak sadar anda sedang menempatkan diri sebagai seorang pembaca lain.  Akibatnya pandangan menjadi lebih objektif, sehingga anda akan siap untuk mengadakan penilaian kritis.  Berbagai kekurangan segera terlihat: yang kabur, yang janggal, yang tidak masuk akal, yang harus dibuang atau ditambahkan, yang perlu dirombak dan lain sebagainya serta merta muncul ke permukaan.  Bila hal itu terjadi, datangnya peningkatan mutu makalah bakal dapat diharapkan.

 

Faktor Pendekatan

Proses pembetulan dan penyempurnaan bentuk kasar sebaiknya dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut: pertama, baca seluruh karangan sekaligus.  Tujuannya adalah untuk mengamati keutuhan karangan.  Rasakan, adakah seluruh bagian, dari awal hingga akhir pembahasan, semuanya telah memainkan peranannya dengan tepat.  Perhatikan juga, sudahkah alur pembahasan mengalir lancar dan wajar?  Jelaskah pokok bahasan yang akan dipermasalahkan?  Tuntaskah pembahasannya dalam inti karangan?  Adakah penyelesaian dan kesimpulannya cukup memuaskan?  Bagaimana dengan bukti-bukti yang disuguhkan?  Lengkap dan cocokkah?   Itulah sejumlah pertanyaan yang patut diajukan pada saat anda sedang dalam upaya untuk menyempurnakan bentuk kasar.

Kedua, perhatikan bagian-bagian kecilnya.  Setelah gambaran utuh diperoleh, sekarang perhatikan bagian-bagian kecil.  Hal ini dapat dimulai dengan memperhatikan pendahuluan sampai akhirnya tiba pada kesimpulan.  Berbeda dengan pendekatan pertama, kini konsentrasi dipusatkan pada keutuhan  dan kelengkapan bagian-bagian khusus.  Mula-mula harus diperhatikan keutuhan dan kemasukakalan setiap unit gagasan, yaitu pasal dan paragraf.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk meneliti seluruh karangan, kini terapkan terhadap setiap unit.

Ketiga, erat kaitannya dengan langkah kedua kini perhatikan dengan seksama setiap kalimat, frase bahkan pilihan kata atau istilah yang dipakai di dalamnya.  Kalimat demi kalimat, baris demi baris selidiki dengan teliti.  Adakah setiap kalimat dalam karangan sudah dipilih yang terkuat.  Artinya, adakah baik kejelasan dan ketepatan pemilihan kata telah dicapai.

Pekerjaan ini mungkin akan meningkatkan kebosanan mahasiswa dan terdorong untuk segera membiarkan makalah yang sedang dikerjakan untuk nantinya dikumpulkan.  Ingatlah bahwa dosen bukan bertugas sebagai editor dari makalah mahasiswa.  Anda sendiri sebagai penulis yang harus mengerjakan sekaligus pekerjaan editorial.  Oleh karena itu tetaplah kerjakan bagian ini dengan semangat demi diri anda sendiri.  Beberapa cara pengerjaan perbaikan dibawah ini mungkin akan membantu apalagi bagi pemula, yang mungkin akan menemukan banyak sekali kekurangan dalam makalahnya.

 

Potong dan Tempel

Salah satu cara penyuntingan yang lazim digunakan adalah pemanfaatan gunting dan lem.  Hal ini ditempuh khususnya bila kedudukan paragraf dalam karangan perlu dipindah-pindah.  Misalnya, paragraf yang semula ditempatkan pada awal bab, setelah ditinjau lebih teliti terasa lebih cocok ditempatkan pada bagian penutup.  Jika demikian, dari pada menulis ulang kalimat-kalimat itu, gunting saja paragraf itu dan tempelkan pada lokasi baru yang dikehendaki.  Tindakan ini lebih menghemat waktu dan tenaga

Langkah yang baru disebut itu akan mempercepat proses revisi.  Jangan segan-segan menggunakan cara ini, kalaupun masih untuk coba-coba.  Kalau ternyata paragraf yang terlanjut dipotong ternyata harus dikembalikan ke tempat semula, atau di geser ke tempat yang lain, semua itu hampir dapat dilakukan dengan mudahnya.  Tentu saja agak makan tenaga, tetapi dengan sedikit perhitungan dan kejelian, keuntungan yang diperoleh darinya seringkali jauh lebih besar dari kerepotannya.

 

Perbaikan kalimat

Sesudah dirasa cukup dengan menggunakan gunting dan lem, kini beralihlah untuk memperhatikan kalimat demi kalimat.  Langkah ini biasanya lebih berat dan menguras tenaga, mungkin anda akan tergoda untuk tidak menggunakan cara ini, tetapi sekali lagi lihatlah manfaatnya nanti.

 

Soal Gramatika

Anda bertanggung jawab untuk menggunakan gramatika yang benar.  Dalam hal ini  buku gramatikabakuharus dijadikan pedoman.  Hindarkan kebiasaan membuat aturan sendiri atau sikap masa bodoh.  Mula-mula perhatikan struktur kalimat-kalimat anda.  Perhatikan adakah anda telah mengikuti ketentuan dalam penulisan berbagai jenis kalimat yang anda gunakan (aktif, pasif, bersyarat, pengandaian, dan sebagainya).  Apakah subjek kalimat telah sesuai dengan predikatnya?  Jika kalimat itu majemuk (kompleks) apakah pemilihan kata hubungnya telah sesuai dengan jenis kalimat yang dimaksudkan?

Hal lainnya yang cukup penting adalah soal pilihan kata ganti orang.  Waspadalah agar subjek dan kata gantinya selaras.[5]  Selidiki juga soal pembentukan dan ejaan kata.  Penggunaan sejumlah kata harus sangat diperhatikan, misalnya penggunaan kata depan – di, ke, dari – juga cara penggunaan kata bilangan, angka ordinal dan kardinal, tak kalah pentingnya soal pemenggalan kata.

Perlu ditegaskan bahwa makalah tidak dimaksudkan sebagai karya sastra.  Namun hal ini bukan berarti anda punya kebebasan untuk menulis asal kena.  Hormatilah kaidah bahasaIndonesiayangbaku.  Hindarkan diri dari melakukan pelanggaran secara terang-terangan, khususnya bila menyangkut ke soal-soal yang begitu nyata terlihat.  Prinsipnya, bila anda ragu-ragu jangan segan untuk menyelidiki buku pedoman gramatika.

 

Soal Pengungkapan

Banyak orang beranggapan, banyaknya kalimat rumit menandai bobot makalah.  Salah sangka semacam itu memang bukan tanpa dasar; masih banyak mahasiswa, bahkan sarjana yang membuat kesalahan seperti ini.  Meski demikian, kejelasan pengungkapan masih dianggap sebagai ciri utama karangan yang bermutu.  Kekaburan pembahasan dan keruwetan pola ujaran bukan pertanda keilmiahan.  Gejala semacam itu seringkali hanya menjadi cerminan “kesemrawutan” dan “kekaburan” jalan pikiran penulisnya.

Ingatlah, penulisan makalah selain berfungsi untuk menuangkan hasil riset, juga menjadi sarana berkomunikasi.  Sebab itu, kejelasan penyampaian harus dianggap sebagai kebajikan.  Tulislah karya anda dengan tujuan menerangi akal budi pembaca dan bukan untuk membingungkannya.  Sebagai penulis, anda dituntut untuk menolong pembaca menemukan sesuatu yang berharga dari karya tulis anda, dengan demikian anda telah turut serta menjadi alat Tuhan yang efektif untuk menyampaikan kebenaran.

Anda dapat mencapai sasaran ini dengan beberapa cara.  Pertama, usahakanlah untuk selalu menggunakan kalimat aktif.  Kalimat aktif memiliki daya komunikasi yang sangat kuat.  Ia lebih kaya dengan gerak, karena itu lebih sanggup membangkitkan imajinasi, sehingga lebih mudah tertoreh dalam pikiran pembaca.  Kalimat pasif sebaliknya cenderung memberi kesan ketakpastian, karena itu melemahkan usaha untuk meyakinkan pembaca.

 

Soal Ketepatan

Ketepatan pemilihan dan penggunaan kata sangat penting artinya.  Hendaknya disadari bahwa setiap kata selalu mengandung nuansa tertentu.  Sejumlah kata bersinonim, tetapi itu tidak menghilangkan makna khas yang terkandung pada masing-masing kata.  Hal ini  mengingatkan pentingnya kecermatan pemilihah kata.  Penuangan gagasan yang dibarengi dengan pemilihan kata yang tepat, akan menimbulkan kesan mendalam dan kuat.

Bertekadlah untuk selalu berusaha mengembangkan jumlah kosakata, sehingga karangan ditunjang oleh kekayaan bahasa.  Bekal semacam ini menjadi penting untuk mempertajam penyajian pokok bahasan.  Berkenaan dengan pemilihan dan penggunaan kata, beberapa saran berikut baik diperhatikan.  Pertama, hindarilah penggunaan istilah asing secara berlebihan.  Jika sudah ada dalam bahasaIndonesia, pakailah itu.  Kedua, jauhkan diri dari godaan untuk memakai istilah yang terlalu “menyolok” atau bersifat sensasional.  Pikatlah perhatian pembaca kepada pokok bahasan dan bukan menariknya untuk mengagumi istilah yang dipakai.  Ketiga, hindari penggunaan kata-kata klise atau yang terlalu dogmatis.  Pengulangan ungkapan dan kalimat klise sangat mematikan minat baca.

 

Soal Kesederhanaan

Barangkali pentingnya soal kesederhanaan perlu ditekankan berulang-ulang.  Penulis makalah selalu digoda untuk menyampaikan gagasannya secara berbelit-belit.  Orang cenderung salah sangka.  Pikirnya, keilmiahan karangan harus ditunjukan dengan pembahasan yang ruwet atau yang hampir mustahil dicerna.  Banyak orang tidak percaya bahwa kekuatan dan daya gigit suatu pembahasan justru terletak pada kesederhanaan penyajiannya.

Berjuanglah untuk mengalimatkan gagasan anda sesederhana mungkin.  Kedalaman dan kehebatan karya anda seharusnya dinyatakan bukan oleh pelik dan berbelitnya kalimat atau istilah yang dipakai, melainkan oleh gagasan yang disuguhkan.  Hal ini semakin mendesak pentingnya, teristimewa bila pokok masalah yang anda bahas termasuk barang “kelas berat” atau sangat bersifat falsafi.  Pokok bahasan semacam ini, kalaupun anda bahasakan secara sederhana, masih juga tidak mudah dicerna.  Penggunaannya istilah pelik dan pembahasan berbelit sama sekali tidak mendatangkan untung.  Usahakan dan wujudkan kesederhanaan.

 

Soal Kejernihan

Sejalan dengan yang baru disebutkan, berjagalah dari godaan untuk memakai teknik pembahasaan yang terlalu “emosional.”  Pernyataan yang bernada “mutlak” atau sangat ekstrim, lebih baik dijauhkan dari makalah.  Teknik begini memberi kesan bahwa anda telah menemukan kebenaran seutuhnya, padahal yang anda temukan tidak lebih dari sekedar “satu kemungkinan” dan dari satu pendekatan saja.  Pendekatan ini menggodai pembaca yang jeli untuk segera berawas-awas.

Begitu juga, penyisipan ungkapan dan tanggapan subjektif yang memiliki arti negasi tidak perlu dimasukan dalam makalah.  Hendaknya penulis pandai-pandai untuk membedakan bahasa makalah dengan bahasa khotbah.  Demikian juga kata-kata keras yang bersifat menyerang pribadi (lat., ad hominem) harus dihindari.  Serang dan tanggapilah gagasannya, tetapi hargailah pribadi pemiliknya, sekalipun anda seratus persen beda pendapat dengan dia.

 

Soal Keaslian

Harus diakui, sebagian besar kecakapan yang kita miliki berupa tiruan dari orang lain.  Prinsip ini juga berlaku dalam dunia karya tulis.  Tak seorang pun yang luput dari masalah ini dan semakin terlihat bagi penulis pemula.  Namun hendaknya disadari, pembaca pada dasarnya sangat menghargai keaslian.  Orang tidak terlalu menghargai barang imitasi.  Mereka juga kurang tertarik dengan barang duplikat.  Dengan menjaga keaslian sama artinya anda sedang berusaha memperkenalkan kepada orang lain kekhasan yang anda miliki.  Kembangkanlah kekhasangayatulis sedini mungkin.

Gayatulis tidak lain adalah ketrampilan untuk mengolah kata dan merakit kata ke dalam kalimat.  Ketrampilan inilah yang akan membuat pembaca seolah-olah mendengar dan merasakan kehadiran pribadi anda yang khas itu.  Dialah yang menghadirkan jiwa dan kepribadian anda dalam suatu karya tulis.  Ia menjadi unsur pembeda karya anda dari milik orang lain.  Faktor itulah yang menjadi perhatian dari pembaca yang jeli terhadap karya baru.

Bukan rahasia, penulis pemula seringkali bergumul untuk menemukangayatulis khasnya.  Kecendrungan menirugayaorang lain terlalu kuat.  Namun anda sepatutnya berjuang keras untuk mengembangkangayatulis pribadi secepatnya.  Untuk mencapai hal itu, banyak yang dapat dikerjakan.  Kuasailah teknik menulis sebaik-baiknya.  Kembangkanlah kosakata dan pahami baik-baik nuansa khas setiap kata.  pelajari baik-baik berbagai struktur kalimat dan hal-hal penting yang terkait dengannya.  Dan yang paling penting, berlatihlah dengan tekun.  Terapkan kecermatan dalam segala hal.  Kembangkan disiplin diri dan jangan jemu untuk selalu mencoba yang baru.  Bila hal ini anda perbuat, cepat atau lambat pengembangangayakhas pasti akan terjadi.  Jangan pernah dilupakan, orang jauh menghargai hadirnyagayatulis asli, daripada menyaksikan membanjirnya jiplakangayaorang lain dalam karangan anda.

 

Soal Penampilan diri

Dalam membahasakan makalah seharusnya penulis menempatkan diri sebagai “orang ketiga.”  Sudah selayaknya begitu, karena sasaran utama makalah adalah pencapaian keobjektifan.  Hal ini sudah diawali dengan cara pokok bahasan, penilaian terhadapnya, pengajuan data penunjang atau penyangkal, yang semuanya dilaksanakan sebagaimana adanya.  Dengan demikiaan penyembunyian diri penulis di latar belakang memang sangat sejalan dengan sasaran penulisan makalah.

Pembahasaan dari sudut pandang orang ketiga juga menciptakan suasana resmi dalam pembicaraan.  Itulah sebabnya kata ganti orang pertama (saya, kami dan kita) tidak terlalu cocok digunakan.  Sama halnya dengan itu adalah penggunaan pernyataan-pernyataan seperti misalnya “saya yakin,” atau “menurut pendapat saya,” dan sejenisnya.  Tanpa diingatkan pembaca sudah tahu bahwa semua pernyataan dan penilaian yang terdapat dalam makalah ini memang berasal dari anda.  Kehadiran ungkapan seperti di atas hanya menggangu pembahasaan.

Selanjutnya, penyembunyian unsur “pernyataan pribadi” pada layaknya akan mempercepat proses memperhadapkan pembaca kepada inti gagasan dan data yang relevan terhadapnya.  Kiranya mereka akan segera terlibat untuk mengadakan penilaian.  Entah mereka setuju atau beda pendapat, kiranya penilaian tersebut didasarkan atas pengamatan objektif terhadap segala yang terkait dalam pokok bahasan.  Dengan demikian, mudah-mudahan mereka terlindung dari godaan untuk menanggapi secara subjektif atau mengadakan penilaian yang bersifat ad hominem.


 

BAB VI

PENULISAN BENTUK AKHIR

 

Setelah tiba disini barulah mahasiswa bernafas lega, sebab ibarat sedang mendaki gunung anda sudah melewati titik puncaknya, dan sekarang nikmatilah makalah yang telah tersusun.  Perkara penting disini adalah janganlah terlena setelah sampai dipuncak, tetapi berpikirlah untuk turun mengakhiri pendakian yang melelahkan tersebut.  Bersiaplah untuk turun gunung, tetapi jangan terlena sampai tergelincir karena kurang hati-hati.  Artinya adalah akhirilah tulisan anda dengan sempurna, kenakan semua aksesori sesuai dengan tempatnya.  Sebab anda akan meninggalkan kesan langsung bagi pembaca.

Dalam tahap ini yang tersisa hanyalah masalah yang bersifat teknis, tetapi bukan berarti tidak penting untuk diperhatikan:  periksa semua perkakas sebelum karya tulis anda dicetak permanen (kertas, print, semua yang berkaitan dengan komputer, dll).  Berikut ini perhatikan formatbakuyang seterusnya akan dipakai di kampus ini.  Format ini berlaku untuk semua bentuk penulisan karya ilmiah dan menjadibakukarena secara umum dipakai oleh kebanyakan perguruan tinggi.

 

Format Bahan Awal

Bagian ini akan membahas format, isi dan berbagai ketentuan lain yang terkait dengan pengerjaan bagian skripsi/tesis, yang biasanya dijuluki dengan “bahan awal.”  Yang termasuk disini adalah halaman judul, penerimaan, pembaktian, daftar isi, daftar  ilustrasi/bagan, prakata dan daftar singkatan.

Halaman Judul

Halaman judul skripsi/tesis diperhitungkan dalam penomoran halaman tetapi nomor halaman tidak dicantumkan pada lembar itu.  Keterangan-keterangan yang harus tertera pada halaman judul skripsi/tesis:

  1. Judul skripsi/tesis
  2. Nama mahasiswa penulis
  3. Pengajuan skrisp/tesis diserahkan
  4. Tempat, bulan dan tahun penulisan

Penyajian setiap butir informasi yang disebutkan di atas harus dilakukan dengan mengikuti format dan aturan berikut ini:

  1. Jarak dari pinggir atas adalah 2 inchi
  2. Batas daerah ketikan (margin) halaman ini mengikuti yang diberlakukan untuk halaman-halaman lain.  Artinya, jarak dari pinggir kiri 1,5 inchi;  sedangkan untuk tiga sisi lainnya (kanan, atas dan bawah) adalah 1 inchi
  3. Jarak antara judul dan garis pemisah pertama adalah 5 baris kosong spasi tunggal, ketikan jatuh pada baris ke enam
  4. Jarak antara garis pemisah pertama dengan kata “skripsi/tesis ini” adalah 4 baris kosong spasi tunggal, ketika jatuh pada baris kelima
  5. Panjang garis pemisah (pertama dan kedua) adalah 2 inchi
  6. Jarak antara gelar (Sarjana Theologia, Master of Arts, Magister Theologia, dll) dengan garis pemisah kedua adalah 7 baris kosong spasi tunggal, ketikan jatuh pada baris ke delapan.
  7. Jarak antara baris pemisah kedua dengan kata “oleh” adalah 2 baris kosong, ketikan jatuh pada baris ketiga
  8. Bulan dan tahun yang tertera pada halaman ini mengacu pada saat pelaksanaan wisuda, bukan kepada waktu penyelesaian penulisan skripsi/tesis.

Untuk jelasnya lihat contoh berikut ini.

 

 

MISTERI GEREJA SEBAGAI “TUNAS LIAR”

DALAM KORELASI DENGAN PENYELAMATANISRAEL

DAN SEBAGAI PENGGENAPAN JANJI ALLAH KEPADA DUNIA

(Study Deskriptif terhadap Roma 11:11-36)

________________________

Skripsi ini

Diajukan kepada Dewan Dosen

Sekolah Tinggi Theologia InjiliIndonesia

Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Penerimaan gelar

Sarjana Theologia

________________________

Oleh:

Arrhenius Petwien Gunde

NIM:  991666. Th

Juni 2003

 

Halaman Pembaktian

  1. Halaman ini bersifat manasuka.
  2. Pembaktian berupa kalimat singkat dan padat; terdiri dari tiga atau empat baris saja dan tidak lebih dari itu.
  3. Halaman pembaktian digunakan untuk menyatakan penghargaan kepada pribadi atau pihak yang memiliki hubungan khusus atau telah memberikan sumbangan istimewa dalam proses penulisan skripsi/tesis.
  4. Jika dianggap sesuai, kalimat pembaktian dapat diganti dengan moto atau semboyan.
  5. Halaman pembaktian diberi nomor halaman, berupa angka Romawi kecil (contoh: ii, iii dan sejenisnya)
  6. Kalimat pembaktian ditempatkan di bagian bawah  pojok kanan halaman
    1. Disarankan agar kalimat pembaktian diketik dengan format rata kanan
    2. Kalimat pembaktian harus ditempatkan sekitar satu inchi dari batas pinggir (daerah ketikan) bawah.

Perhatikan cara pengetikan kalimat pembaktian dalam contoh yang terlampir pada halaman berikut.

 

Halaman Persetujuan

  1. Halaman persetujuan adalah tempat yang disediakan bagi dosen pembimbing untuk membubuhkan tanda tangannya, sebagai bukti persetujuan/penerimaan terhadap karya anda.
  2. Pengetikan halaman persetujuan diatur sebagai berikut:
    1. Jarak antara batas daerah ketikan atas dengan kalimat-kalimat persetujuan adalah 1 inchi
    2. Kalimat-kalimat persetujuan diatur dengan sistem rata kiri
    3. Jarak antara kalimat-kalimat persetujuan adalah 2 baris kosong spasi tunggal
    4. Jarak antara frase “Sekolah Tinggi …” dengan frase “Disetujui pada tanggal” adalah 20 baris kosong
    5. Jarak antara tanggal persetujuan dengan “Dosen Pembimbing” adalah 7 baris kosong
    6. Ruang yang disediakan untuk tempat tanda tangan dosen pembimbing adalah 4 spasi tunggal

Untuk jelasnya, perhatikan contoh terlampir pada halaman berikut ini:

 

 

And will the great eternal God on earth establish his abode?

And will he from his radiant throne avow our temples for his own?

These walls we  to thy honor raise, long may they echo with thy praise

and thou descending fill the place with choicest tokens of thy grace

 

 

 

Dosen Pembimbing telah menerima dan menyetujui Skripsi berjudul “Misteri Gereja sebagai “Tunas Liar” dalam Korelasi dengan penyelamatanIsraeldan sebagai Penggenapan Janji Allah kepada Dunia (Study Deskriptif terhadap Roma 11:11 – 36),” yang ditulis oleh Arrhenius Petwien Gunde, untuk memenuhi sebagian dari persyaratan penerimaan gelar Sarjana Theologia dari Sekolah tinggi Theologia InjiliIndonesia–Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disetujui pada tanggal:

15 April 2003

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pembimbing I                          Dosen Pembimbing II

 

 

 

 

Pdt. Karna Merasabesi, Th.D              Pdt. Hatihalus, Ph.D

 Halaman Pengesahan

  1. Halaman pengesahan adalah tempat yang disediakan bagi pimpinan lembaga untuk menyatakan bahwa karya anda telah diterima untuk memenuhi sebagian dari persyaratan penerimaan gelar yang anda tempuh
  2. Kalimat-kalimat dan butir-butir dalam halaman pengesahan diketik dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Kalimat pertama diketik dengan jarak 1 inchi dari batas daerah ketikan atas
    2. Kalimat-kalimat pengesahan diketik dengan spasi ganda
    3. Jarak antara kalimat baris terakhir dengan “Diterima dan disahkan …” adalah  15 spasi kosong tunggal
    4. Ruang yang disediakan untuk tempat tanda tangan pengesahan adalah 4 spasi tunggal

 

 

 

Setelah membaca dan memeriksa secara teliti, serta memperhatikan proses penelitian serta penyusunan skripsi yang ditulis dan diajukan oleh Arrhenius Petwien Gunde dengan judul: “Misteri Gereja sebagai “Tunas Liar” dalam Korelasi dengan penyelamatan Israel dan sebagai Penggenapan Janji Allah kepada Dunia (Study Deskriptif terhadap Roma 11:11 – 36),” maka dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini dapat diterima dan disahkan sebagai bagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Theologia dari Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia – Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diterima dan disahkan pada tanggak

16 Juni 2003

Ketua Sekolah Tinggi Theologia InjiliIndonesia

Pdt. Parlaungan Gultom, Ph.D

 

Halaman Daftar Isi

Daftar isi harus dicantumkan jika makalah dibagi kedalam sejumlah bab atau pasal.  Penggunaannya hanya disarankan apabila makalh tidak dibagi kedalam sejumlah bab atau pasal, bagian dan sub-bagian.  Beberapa ketentuan khusus berkenaan dengan daftar isi adalah;

  1. Tempatkan frase DAFTAR ISI di tengah halaman, dengan jarak 1 inchi dari batas ketik atas
  2. Jarak DAFTAR ISI ke PASAL adalah 3 baris spasi tunggal
  3. Gunakan huruf KAPITAL untuk JUDUL PASAL.  Demikian juga untuk judul bagian persiapan dan bahan acuan
  4. Untuk judul bagian dalam pasal hanya huruf pertama setiap kata yang menggunakan huruf kapital, sedangkan sisanya diketik dengan huruf kecil
  5. Huruf pertama judul bagian diketik jatuh pada ketukan keempat
  6. Jarak antara JUDUL PASAL dengan PASAL dengan bagian adalah dua spasi, sedangkan jarak antar bagian adalah satu spasi
  7. Nomor halaman hanya dibubuhkan di samping JUDUL PASAL.  Sebagai pembimbing ke nomor halaman harus digunakan titik-titik yang berjarak 1 ketuk (contoh:  . . . . . . . . . . . . . .  dst)

Perhatikan contoh berikut ini

 

 

 

DAFTAR ISI

 

PEMBAKTIAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .     iii

DAFTAR ILUSTRASI . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      iv

PRAKATA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      v

DAFTAR SINGKATAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .     vi

BAB

  1. PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .        1

Latar Belakang Masalah

Akar Permasalahan

Tujuan Penelitian

Pentingnya Penelitian

Metode dan Prosedur Penelitian

Definisi Istilah

Hipotesis

Sistematika Penulisan

 

  1. MISTERI GEREJA SEBAGAI TUNAS LIAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . .    20

Paradigma Teologi tentang Posisi Gereja

Pemahaman Dasar Teks “Tunas Liar”

Pengertian Gereja sebagai “Tunas Liar”

Implementasi Eskatologi

 

III. KARYA PENYELAMATAN ALLAH BAGIISRAEL  . . . . . . . . . . . . . . . . . .  55

Keselamatan pada Masa Lampau

Keselamatan pada Masa Kini

Keselamatan pada Masa Mendatang

 

IV. IMPLIKASI POSISI GEREJA SEBAGAI TUNAS LIAR . . . . . . . . . .    85

Implikasi Teologis

Implikasi Etis

V.  KESIMPULAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 115

BIBLIOGRAFI . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 119

 

 

Halaman Daftar Ilustrasi/Bagan

Bila di dalam karangan terdapat sejumlah ilustrasi, grafik, peta, potret atau bagan, maka daftar ilustrasi/bagan harus disertakan dalam skripsi/tesis.  Cara pencantuman daftar ilustrasi/bagan diatur sebagai berikut:

  1. Tempatkan DAFTAR ILUSTRASI/BAGAN di tengah baris.  Semua huruf harus diketik dengan huruf KAPITAL
  2. Jarak dari batas ketikan atas adalah 1 inchi
  3. Judul ilustrasi/bagan ditulis dengan huruf kapital hanya huruf pertama pada setiap kata
  4. Bubuhkan nomor halaman untuk setiap ilustrasi/bagan; gunakan titik-titik berjarak satu ketuk sebagai pembimbingnya
  5. Jarak ketikan dari pinggir kiri 1.5 cm, sedangkan pinggir kanan 1 inchi
  6. Jarak dari pinggir atas 2 inchi dan jarak dari pinggir kanan 1 inchi
  7. Jika isi daftar ilustrasi itu hanya beberapa butir saja (daftarnya pendek), maka tempatkan daftar tersebut ditengah-tengah halaman

Untuk lebih jelasnya, lihat contoh pada halaman yang selanjutnya

 

Halaman Prakata

  1. Halaman prakata bersifat manasuka
  2. Bila penulis bermaksud mencantumkan hal-hal yang bersifat pribadi, prakata adalah tempat yang tepat untuk menyatakan hal itu:
    1. Untuk menunjukan alasan khusus pemilihan judul karyanya
    2. Untuk menyatakan kesulitan yang dihadapi dalam pengerjaan tugas, ataupun pengakuan terhadap bantuan istimewa yang diberikan oleh seseorang/lembaga tertentu dalaman penanganan kasya ilmiah itu
    3. Prakata baik/boleh digunakan dalam skripsi/tesis
    4. Batasi panjang prakata.  Jika dapat dituangkan dalam satu lembar, baik sekali.  Bila tidak, satu setengah halaman adalah batas maksimal
    5. Tentang cara pengetikannya, perhatikan contoh terlampir

 

 

 

 

DAFTAR ILUSTRASI

 

1.  Early bible Chairs . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      6

2.  National Convention of Kappa Beta, 1948 . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . .      9

3.  Lura Aspinwall Hunt, national Director Student Work . . . . . . . . . . . . . . . .     28

4.  Meeting of the Heads of the Disciples Bible Chairs . . . .  . . . . . . . . . . . .      30

5.  The First student Workers Association Conference . . . . . . . . . . . . . . . . .      47

6.  The First National Excutive Committee of the Disciple Student

Fellowship . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .      99

 

 

 

 

 

PRAKATA

 

Sejumlah pihak telah sangat berjasa dalam penulisan Tesis ini.  Ruang tidak mengijinkan untuk menyebut nama pribadi-pribadi itu satu-per-satu, tetapi besar dan pentingnya keterlibatan mereka, hanya perlu diakui.  Namun ada beberapa pihak, yang dalam kesempatan  ini harus disebut secara khusus.  Tidak lain, oleh karena partisipasi mereka sedemikian krusial, yang tanpa itu, mungkin saja Tesis ini tidak akan pernah hadir di atas kertas

Pertama, Gereja Tuhan Pengasih di Jalan Dermawan,kotaMentari.  Di jemaat inilah awal dari munculnya gagasan, yang kemudian berkembang menjadi topik dan judul Tesis ini.  Secara khusus, terima kasih sebesar-besarnya untuk semua warga persekutuan pendalaman Alkitab “Pelangi,” sebagai kelompok yang pertama menyadarkan kebutuhan untuk menggali pokok ini secara mendalam dan sistematis.  Bukan itu saja, mereka juga tidak jemu-jemunya memberi dukungan moral, bahkan bantuan finansial dari mula hingga penyelesaian proyek ini.

Kedua, terima kasih kepada Sekolah Tinggi Teologi Skriptura, yang telah rela melepaskan penulis dari tugas-tugas selama tiga tahun belakangan, agar dapat konsentrasi untuk riset dan penyelesaian Tesis ini.  Ketika proses penulisan tidak dapat diselesaikan pada waktu yang telah disepakati, pihak STT masih juga terus mendukung dan memberi semangat, sehingga semakin menyadarkan, betapa dalamnya kasih dan perhatian lembaga ini terhadap perjuangan berat itu.

Selanjutnya, …….

Halaman Daftar Singkatan

Kadangkala praktis sekali untuk menyingkat ungkapan, kata, istilah/frase teknis atau identitas (misalnya nama jurnal, majalah, buku berseri, lembaga/badan, dan sejenisnya), yang bila ditulis lengkap menjadi cukup panjang.  Semakin berguna saja penggunaan singkatannya, bila pemunculannya dalam makalah begitu berkesinambungan (rutin)

Bila singkatan akan digunakan di sepanjang makalah/skripsi/tesis, perhatikan ketentuan-ketentuan berikut:

  1. Bila skripsi/tesis itu mengandung cukup banyak singkatan , maka pencantuman daftra Singkatan adalah sebuah keharusan
  2. Untuk menyingkat nama jurnal, nama seri (misalnya: buku tafsir, kumpulan hasil study, dan lainnya), usahakan untuk menggunakan singkatanbaku(yang digunakan secara luas di kalangan penggunanya) maupun cara penulisan yang benar untuknya
  3. Hindari penggunaan (untuk membuat) singkatan yang tidak perlu.  Singkatan yang hanya digunakan satu dua kali sepanjang skripsi/tesis, semestinya tidak perlu dipakai.  Kehadiran singkatan semacam ini tidak menguntungkan, hanya akan membingungkan pembaca.
  4. Cara pengetikan Daftar Singkatan adalah sebagai berikut:
    1. Pedoman umum mengenai batas daerah ketikan (margin) berlaku juga untuk Halaman daftar Singkatan
    2. Ungkapan DAFTAR SINGKATAN ditempatkan di tengah baris

–          Semua huruf diketik dengan huruf kapital

–          Jarak ungkapan ini dengan batas daerah ketik atas adalah 1 inchi

  1. Singkatan diketik dengan huruf kapital, kecuali jika bentuk resmi (yang digunakan secara luas) berbeda dengan ketentuan itu
  2. Kepanjangan singkatan diketik dengan huruf kecil; hanya huruf pertama pada setiap kata yang diketik dengan huruf kapital, kecuali jika kaidah dalam bahasa aslinya mengatur secara berbeda
  3. Jarak antar singkatan adalah satu spasi, kecuali jika jumlahnya hanya beberapa, boleh diketik dengan spasi ganda
  4. Jarak singkatan dengan kepanjangannya adalah 0.5 inchi dan ditentukan berdasarkan singkatan terpanjang dalam  daftar
  5. Singkatan didaftarkan sesuai dengan urutan alfabet
  6. Bila jumlah daftar singkatan cukup pendek, ketik dan tempatkan daftar itu ditengah halaman kertas
  7. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.

 

DAFTAR SINGKATAN

 

AB                  Anchor Bible

AJ                    ATA Journal
ANQ               AndoverNewtonQuarterly

ACNT            AugsburgCommentary on the New Testament

ASNU             Acta Seminari Neotestamentici Upsaliensis

BAGD            W. Bauer, F.W. Arndt, W.F. Gingrich, dan F.W. Denker, A Greek English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature

BECNT           Baker Exegeticak Commentary on the New Testament

BSac                Bibliotheca Sacra

BZ                   Biblische Zeitchrift

CBQMS          Catholic Biblical Quarterly Monograph Series

ETL                 Ephemerides theologicae lovanienses

ExpTim            Expository Times

GBS                Guides to Biblical Scholarship

GTA                Göttinger theologische Arbeiten

HSM               Harvard Semitic Monograph

JSOT               Journal for the Study of the Old Testament

LAI                 Lembaga AlkitabIndonesia

NIBC              New International Biblical Commentary

NovT               Novum Testamentum

TDNT              G. Kittel dan G. Friedrich, peny. Theological Dictionary of the New Testament

TynBul             Tindale Bulletin

ZNW                Zeitschrift für die neutestamentliche Wissenchaft

 

 

 

 

Perhatikan:

  1. Nama jurnal (baik singkatan maupun kepanjangannya) diketik dengan huruf cetak miring
  2. Pada karya berbahasa perancis, dalam kepanjangan hanya huruf pertama yang diketik dengan huruf kapital.  Sedangkan dalam bahasa Jerman, hanya nomina yang huruf pertamanya diketik dengan huruf kapital

 

 Format Isi

Pedoman umum tentang batas daerah ketikan (margin) berlaku untuk penyajian/pengetikan materi dalam tubuh skripsi/tesis, yaitu batas kiri 1.5 inchi; atas, kanan dan bawah 1 inchi.  Semua butir yang tertera pada setiap halaman harus berada di dalam daerah ketikan.  Yang termasuk disini adalah butir-butir berikut: teks karanagn, catatan kaki dan nomor halaman

 

Halaman Bab

  1. Kata BAB harus diketik dengan jarak 1 inchi dari batas daerah ketikan  atas
    1. Ruang kosong itu adalah 2 inchi, bila diukur dari pinggir kertas bagian atas
    2. Ketentuan ini berlaku juga untuk pemulaian bagian pokok lainnya, misalnya: PRAKATA, DAFTAR ISI, DAFTAR ILUSTRASI/BAGAN, PENDAHULUAN, BAB, LAMPIRAN dan BIBLIOGRAFI
    3. Jarak antara BAB dengan judul BAB adalah 2 spasi baris tunggal
    4. BAB dan JUDUL BAB diketik ditengah baris
      1. Posisi tangah yang dimaksudkan ditentukan berdasarkan lebar daerah ketikan, bukan lebarnya kertas yang dipakai
      2. Nomor BAB dinyatakan dengan angka Romawi
      3. BAB dan JUDUL BAB diketik dengan menggunakan haruf kapital seluruhnya
      4. Pemisah/jarak antara JUDUL BAB dengan teks karangan yang mengikutinya adalah 3 spasi baris tunggal

 

Nomor Halaman

  1. Nomor halaman ditempatkan di sudut kanan atas
    1. Nomor halaman harus berada di daerah ketikan; ditempatkan dengan jarak 1 inchi, dari pinggir kertas
    2. Posisi nomor halaman diatur berbeda dari ketentuan ini untuk halaman BAB dan bagian pokok lainnya (lihat ketentuan di bawah)
    3. Nomor halaman diketika dengan menggunakan angka Romawi, dengan jenis huruf yang sama dengan teks (Times New Roman)
    4. Nomor halaman dipisahkan dengan teks dibawahnya oleh 1 spasi tunggal
    5. Untuk memberi nomor halaman kepada lembar-lembar sebelum BAB harus dilakukan dengan memakai angka Romawi kecil (i, ii, iii, dst), aturan yang sama berlaku dengan nomor halaman yang lain
    6. Halaman Judul, Penerimaan, Prakata dan pembaktian tidak diberikan nomor halaman (tetapi tetap diperhitungkan).  Nomor halaman muncul pertama kali mulai dari lembar daftar isi
    7. Perhatikan contoh berikut

 

Spasi Antar baris

  1. Seluruh teks dalam skripsi/tesis menggunakan jarak spasi ganda
  2. Perkecualian berlaku untuk bitor-butir berikut.  Bahan-bahan yang didaftarkan di bawah ini harus diketik dengan spasi tunggal
    1. Kutipan blok
    2. Catatan kaki
    3. Bibliografi
    4. Daftar Statistik

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kemampuan gereja untuk tetap ada dan sanggup bertahan atas segala macam kesulitan telah menjadi tautologi mutlak terhadap bentuk pemeliharaan Allah.  Keberadaan gereja di dunia telah memberikan banyak sumbangan ekosistem.  Dilihat dari eksistensinya, gereja dapat ditinjau dari dua perspektif.  Gereja sebagai organisme dan juga gereja sebagai organisasi.  Gereja disebut sebagai organisme karena berkenaan dengan kelahiran kembali oleh Roh Allah, dan oleh Roh yang sama telah membaptiskan menjadi anggota Tubuh Kristus.

Gereja sebagai organisasi berkenaan dengan rujukan kepada sekelompok orang-orang percaya, yang terkumpul di satu tempat dan harus menjadi replika dari gereja sebagai organisme.

Dilihat dari sisi etimologi, maka gereja dapat dijelaskan sebagai “milik Tuhan”, karena merupakan terjemahan dari bahasa Gerika kuriakon. Kata ini kemudian mulai biasa digunakan untuk menunjukkan hal-hal lainnya, seperti tempat atau orang-orang atau denominasi atau tanah air yang bertalian dengan kelompok orang, yang menjadi milik Tuhan.

Spasi Antar Kata

  1. Spasi antar kata di dalam kalimat harus mengikuti ketentuan ini:
    1. Pemisah antar kata di dalam kalimat adalah satu ketuk kosong.
    2. Setelah tanda baca, yaitu titik (.), koma (,), titik dua (:), tanda seru (!), dan tanda tanya (?), tanda petik (“ dan “), harus diikuti satu ketuk kosong, sebelum pengetikan kata yang berikutnya.
    3. Tanda-tanda baca yang disebutkan tadi, dibubuhkan langsung (tanpa spasi) pada kata yang mendahuluinya.

Contoh:     [Benar] “Mengapa mesti begini?”

[Salah] “Mengapa mesti begini ?”

[Benar] “Ayo, pergi!”

[Salah] “Ayo, pergi !”

  1. Untuk pembuatan catatan ayat Kitab Suci, ketentuannya adalah sebagai berikut:
    1. Sesudah nomor pasal, gunakan titik dua (:), kemudian langsung diikuti nomor ayat, tanpa spasi. Contoh: Roma 8:26-27.
    2. Meskipun nama buku Alkitab harus didingkat (misalnya, acuan ayat yang ditempatkan di dalam kurung), ketentuan tersebut masih berlaku. Contoh: (Rm. 3:12).
    3. Jika acuan melibat lebih dari satu pasal, gunakan “m-dash” sebagai tanda sambungnya. Contoh: 1 Korintus 1:27-2:5. Ketentuan ini berlaku juga, kalaupun acuan itu ditempatkan dalam tanda kurung/disingkat. Contoh: (Ibr. 5:11-6:8).
    4. Bila menyingkat nama buku Alkitab, gunakan singkatan yang terdapat/disertakan dalam Alkitab terbitan LAI, edisi terbaru.
  2. Ketentuan yang diuraikan di atas berlaku (harus diterapkan) juga dalam penulisan Bibliografi dan Catataan Kaki.

 

Penggunaan dan Pilihan Huruf

Penulisan skripsi/tesis harus dikerjakan dengan memakai komputer. Uraian berikut disertakan, dengan tujuan mempermudah dan memberi pedoman berkenaan dengan pilihan dan bentuk huruf yang harus digunakan dalam penulisan skripsi/tesis.

Kecanggihan komputer (dan program pengolah data) modern membuku peluang terhadap tersedianya, dan sekaligus kemudahan, pilihan jenis dan bentuk huruf.  Uraian yang akan disajikan di bawah ini bertujuan praktis. Yaitu, untuk memastikan terciptanya kekonsistenan dan keseragaman bentuk karya-karya ilmiah yang diserahkan kepada lembaga ini.

  1. Untuk segala tulisan (teks) yang disajikan dengan menggunakan huruf Indonesia/Latin, gunakan yang berikut:

a. jenis huruf aadalah Times New Roman.

b.Mengenai ukuran huruf , pakai yang berikut:

(1)   Ukuran 12 pt, untuk semua teks, termasuk teks dalam kutipan blok.

(2)   Ukuran 10 pt, untuk teks dalam Catatan Kaki.

  1. Bila mengutip dari sumber bahasa asing (Jerman, Perancis, Swedia, dan lainnya), tanda aksen yang terdapat dalam sumber asli harus dibubuhkan. Contoh: Tübingen, Deselée.
  2. Untuk kutipan yang berasal dari teks asli Kitab Suci (Ibrani dan Yunani), gunakan huruf aslinya.
    1. Penulisan huruf asli harus dilengkapi dengan mencantumkan tanda aksen, tanda hembus (nafas), atau tanda baca lainnya.
    2. Transliterasi hanya diijinkan dipakai dalam tanda kurung, disamping kata yang untuk membaca teks asli, untuk menolong pembaca yang tidak memiliki kemampuan untuk membaca teks asli. Contoh: “Perhatikan penggunaan kata    (logos) dalam konteks ini.”
    3. Bila transliterasi dipakai, Anda harus memakai sistem yang digunakan secara luas dalam diktat-diktat pelajaran bahasa asli yang bersangkutan.
    4. variasi bentuk huruf yang diijinkan utntuk penulisan makalah/skripsi/tesis hanyalah yang berikut ini: cetak tebal, cetak miring dan garis bawah.

 

Pengeturan Sub-Judul

Pengaturan dan penggunaan sub-judul merupakan salah satu bagian penting dalam sistem penulisan makalah yang diajarkan dalam pedoman ini.  oleh karena itu, penjelasan singkat tentang hal itu, khususnya yang menyangkut prinsip-prinsip yang paling dasar, perlu disajikan

 

Makna Sub Judul:

  1. Sub judul (dalam berbagai tataran/jenjangnya) merupakan refleksi jenjang gagasan yang diwakili.  Teteran sub judul merupakan penuangan gagasan yang terdapat dalam garis besar.
  2. Bila sebuah sub judul dirinci lebih lanjut, paling tidak harus ada dua tataran gagasan lebih rendah dibawahnya.
    1. Misalnya, sebuah sub judul  cetak tebal ditengah baris, harus punya minimal satu pasangan satu sub judul di tengah baris
    2. Bila tidak, penggunaannya tidak sah, sebab gagasan yang ditampilkan dalam satu sub judul sesungguhnya memiliki jenjang yang sama atau setara dengan gagasan yang berada di atasnya
    3. Gunakan dan sajikan sub judul dalam makalah sesuai dengan tatarannya.  Uraian yang akan terlihat dalam bagian berikut akan menjelaskan prinsip yang harus ditaati dalam penulisan makalah

 

Format Sub Judul

Untuk memudahkan pemahaman, aturan/ketentuan mengenai penggunaan dan pengaturan sub judul dalam makalah, maka prinsip-prinsip yang akan dijelaskan dalam bagian ini akan disajikan langsung dalam uraian.  Format (penempatan dan pilihan bentuk huruf) yang terlihat dibawah ini merupakan semua kaidah yang harus diikuti dalam penulisan makalah yang sesungguhnya.  Perlu dijelaskan bahwa di dalam contoh yang terlampir dibawah ini, formatnya hanya benar sejauh menyangkut penggunaan dan pengaturan sub judul saja.

 

 

BAB II

JUDUL BAB

 

Sub-Judul Tataran I

Sub-Judul I diletakan di tengah baris (centered).  Huruf pertama setiap nomina (katra benda), pronomina (kata ganti), adjectiva (kata sifat), adverbia (kata keterangan) dan verba (kata kerja), diketik dengan huruf kapital.  Semua kata di dalam frase diketik dengan huruf cetak tebal

 

Sub Judul tataran II

Sub Judul II diletakkan di tengah.  Huruf pertama setiap nomina, pronomina, adjectiva, adverbia dan verba, diketik dengan haruf kapital.  Frase harus ditempatkan di tengah baris (centered), tanpa garis bawah

 

Sub-Judul Tataran III

Sub judul III diletakan di sisi kiri.  Huruf pertama setiap nomina, pronomina, adjectiva, adverbia dan verba, diketik dengan haruf kapital.  Pengetikan frase dimulai dari pinggir (sisi) kiri dan dijadikan satu baris mandiri. Tantatitik (.) tidak digunakan untuk mengakhiri frase.

 

Sub Tataran IV

Sub judul IV diletakan di sisi kiri.  Huruf pertama setiap nomina, pronomina, adjectiva, adverbia dan verba, diketik dengan haruf kapital.  Semua kata tidak digaris bawahi; frase diketik mulai dari sisi kiri dan dijadikan satu baris mandiri. Tantatitik (.) tidak digunakan untuk mengakhiri frase.

 

 

 

Spasi antara Sub Judul dengan Teks

Pengaturan sub judul dengan teks di sekitarnya di atur sebagai berikut:

  1. Jarak antara sub judul dengan teks yang mendahului adalah 3 baris spasi tunggal.
  2. Jarak antara sub judul dengan teks yang mengikutinya adalah 2 baris spasi tunggal
  3. Sub judul yang panjang boleh dipenggal.  Potongan kedua ditempatkan di bawah potongan pertama.  Keduanya dipisahkan oleh 1 baris spasi tunggal.

 

Indentasi dan Kutipan Blok

Penggunaan bahan-bahan yang dikutip langsung dari sumber informasi, pengetikannya diatur sebagai berikut:

  1. Kutipan terdiri dari tiga baris atau kurang:
    1. Kutipan disatukan dengan teks karangan
    2. Kalimat kutipan ditempatkan dalam tanda kutip
    3. Kutipan yang terdiri dari empat baris atau lebih, dan lebih dari satu kalimat:
      1. Bahan itu dijadikan kutipan blok dan diketik dengan spasi tunggal
      2. Jarak masuk (indentasi) kutipan blok adalah 0.5 inchi dari pinggir kiri
      3. Batas pinggir kanan kutipan blok sama dengan teks
      4. Bila kutipan blok dalam bahan sumber mengawali paragraf baru:
        1. Kalimat pertama dalam kutipan harus diberi indentasi
        2. Besarnya indentasi sama seperti yang diterapkan pada teks
      5. Kalimat atau bagian yang dilewati dalam kutipan blok:
        1. Bagian yang dilewati dinyatakan dengan 3 titik yang berjarak 1 spasi
        2. Bila penghilangan diikuti dengan kalimat baru, tambahkan titik keempat dan ikuti dengan 2 spasi kosng sebelummengetik kalimat selanjutnya
      6. Bila bahan yang dilewati di dalam kutipan itu lebih dari satu paragraf, maka penghilangan tersebut harus dinyatakan dengan menggunakan titik-titik berjarak satu spasi  kosong sepanjang satu baris dalam kutipan blok.
      7. Bahan kutipan blok tidak disajikan dengan memakai tanda petik.  Tanda petik hanya dipakai jika ada kalimat, frase atau sitilah yang dalam sumber aslinya memang bertanda petik

 

Kekeliruan dalam Sumber Asli

  1. Bahan kutipan harus sesuai dengan aslinya, baik ejaan gramatika, bahkan jika terjadi kesalahan salah cetak
  2. Jika anda mengamati adanya kekeliruan atau kejanggalan dalam kutipan, inilah yang dapat anda lakukan:
    1. Cantumkan tanda [sic] disebelah kata atau kalimat itu.  Jangan menggunakan tanda ini dengan berlebihan
    2. Bubuhkan pembetulannya di dalam tanda kurunh dan sertakan kata-kata “semestinya,” “yang benar” dan sejenusnya
    3. Biarkan seperti apa adanya, kemudian beri tanggapan terhadap unsur atau kekelituan atau kejanggalan yang ditemukan dalam sumber tersebut melalui uraian dalam teks

 

Kutipan Tidak langsung dan Parafrase

  1. Kutipan tidak langsung (penyarian, parafrase, acuan) tidak perlu diberi tanda petik
    1. Dahului kutipan tidak langsung ini dengan kalimat pendahuluan, yang menyadarkan pembaca bahwa anda sedang memperkenalkan konsep atau pendapat orang lain atau yang diambil dari sesuatu sumber.  Hal ini perlu dilakukan dengan cermat; jika tidak, pembaca akan menduga bahwa gagasan yang anda ajukan adalah milik anda
    2. Pada akhir kalimat terakhir dalam kutipan tidak langsung ini, bubuhkan angka acuan
    3. Penggunaan kutipan model ini (i.e., tidak langsung), seharusnya lebih banyak dilakukan
    4. Batasi penggunaan kutipan langsung:
      1. Gunakan, jika kutipan langsung itu mengandung bahan sangat khas
      2. Gunakan, jika pangalimatan dalam kutipan langsung itu sangat istimewa
      3. Gunkan, jika kutipan langsung itu mengandung informasi lain yang sangat bernilai dalam meningkatkan pemahaman pembaca terhadap kebenaran yang sedang dibahas
      4. Pastikan bahwa kehadiran ketipan langsung akan memperkaya pemahaman pembaca terhadap masalah yang sedang dibahas, oleh karena adanya faktor-faktor yang disinggung dalam butir 2 diatas.

 

Pencatatan Sumber Kutipan

  1. Setiap pengunaan kutipan (langsung atau tidak) harus diertai bukti pengakuan sumbernya secara cermat, yaitu berupa nonor acuan yang diikuti dengan data bibliografi
  2. Tempatkanlah nomor acuan pada akhir kutipan.  Jangan menempatkan nomor acuan di sebelah nama pemilik gagasan, kecuali jika nama itu mengakhiri kalimat

 

Pemakaian Singkatan

  1. Bila ada singkatan yang akan digunakan, selidiki kamus Besar Bahasa Indonesia.  Untuk menemukan singkatan umum yang digunakan, perhatikan daftar yang disertakan di bagian belakang diktat ini.
  2. Hindari penggunaan singkatan yang tidak perlu
    1. Bila suatu singkatan hanya muncul/digunakan satu atau dua kali sepanjang pembahasan dalam makalh (skripsi/tesis), lebih baik dipakai saja kepanjangannya
    2. Bila suatu singkatan akan digunakan, berikan kepanjangannya pada pemunculan pertama dan bubuhkan singkatan yang akan dipakai disebelahnya ( di dalam tanda kurung)

 

Singkatan Buku Alkitab

Untuk nama buku Alkitab, gunakan dan ikuti pedoman yang dikeluarkan LAI edisi terbaru.  Jangan gunakan siingkatan nama buku Alkitab yang anda temui dalam buku tafsir atau buku karangan lainnya.

  1. Pengunaan dalam teks karangan:
    1. Bila nama buku Alkitab itu menjadi bagian dari teks karangan, nama buku harus ditulis lengkap
    2. Bila teks itu diambil dari Alkitab bahasaIndonesia, nama dan penulisan buku Alkitab harus mengikuti persis seperti yang terdapat di dalam Alkitab LAI terbitan terbaru
    3. Jika nama buku Alkitab itu diambil dari Alkitab berbahasa asing, iktui dengan cermat cara/sistem penulisan yang diberlakukan di dalam teks aslinya.
    4. Penggunaan Singkatan:
      1. Bila nama buku itu dipakai di luar teks, gunakan singkatannya saja
      2. Singkatan nama buku Alkitab digunakan dalam tanda kurung, catatan acuan atau yang sejenis
      3. Untuk daftar lengkap singkatan nama buku dalam Alkitab bahasa Indonesia, selidiki halaman depan Alkitab terbitan LAI

 

Singkatan Bahasa Latin

  1. Singkatan-singkatan bahas latin (dan beberapa bahasa Inggris) berikut ini akan banyak ditemukan di dalam karya ilmiah, khususnya di dalam catatan acuan
  2. Untuk penulis pemula, dinasehatkan agar tidak menggunakan singkatan-singkatan ini secara berlebihan.  Jika padanannya dalam bahasa Indonesia sudah tersedia, sebaiknya penggunaan singkatan asing dihindari saja
  3. Daftar di bawah ini disertakan dengan tujuan untuk membekali mahasiswa dalam menggali karya tulis asing, sehingga pada waktu menemukan singkatan tersebut tidak perlu menduga-duga maknanya

c., circa, sekitar, kira-kira (digunakan untuk menyatakan perkiraan tahun terjadinya suatu peristiwa)

cf., confer, bandingkan: hendaknya tidak digunakan bila bermaksud menyatakan lihat

d., died (Inggris), meninggal (ditempatkan di depan tahun kematian seseorang, karena informasi lain tidak diketahui)

c.g., exempli gratia, misalnya

et al., et alii, dan lainnya

et seq., et sequens, dan seterusnya

etc., et cetera, dan seterusnya

fl., flourit, dikenal luas (dipakai untuk menjelaskan orang yang tahun kelahirannya/kematiannya tidak diketahui)

ibid., ibidem, di tempat yang sama

id., idem, sama (digunakan untuk mengacu orang, kecuali dalam kutipan dunia hukum; jangan kacaukan dengan ibid)

i.e., id est, yaitu

infra, di bawah (banyak digunakan di bidang hukum)

in loco, di tempat yang sama

op.cit., opere citato, sudah dikutip sebelumnya

passim, disana sini

q.v., quod vide, silahkan melihat (dipakai untuk membuat acu silang)

[sic], begitu/demikian adanya

supra, di atas (banyak digunakan dalam bidang hukum; pemakaiannya dalam karya tulis non hukum tidak disarankan)

s.v., sub verbum, sub voce, di bawah kata (digunakan untuk mengacu kepada artikel dalam ensiklopedia/kamus)

vol., volume (Inggris jamaknya vols), jilid

 

Format Kepustakaan

Kepustakaan adalah daftar sumber-sumber yang diselidiki dalam mempersiapkan makalah atau karya tulis.  Pencantumannya di dalam makalah adalah suatu keharusan, karena dianggap sebagai kelengkapan wajib bagi suatu karya tulis ilmiah.

  1. Kepustakaan harus diketik pada lembar baru
  2. Kata KEPUSTAKAAN/BIBLIOGRAFI harus diketik ditengah, ditempatkan 2 inchi dari pinggir atas kertas, 1.5 inchi dari pinggir kiri dan 1 inchi dari pinggir kanan kertas
  3. Buku didaftarkan berdasarkan nama pengaranganya yang disusun berdasarkan urutan abjad:
    1. Nama marga (keluarga) ditempatkan di depan, baru diikuti nama diri.  Kedua unsur ini dipisahkan dengan koma
    2. Bila pengarang lebih dari satu orang, yang namanya dibalik hanya yang pertama; lainnya ditulis sesuai dengan urutan biasa
    3. Buku yang pengarangnya tidak diketahui, judul buku di daftarkan sebagai pengganti nama pengarang.  Pendaftarannya sesuai dengan urutan abjad
    4. Seorang pengarang yang karyanya lebih dari satu buku:
      1. Sesudah pemunculan pertama, pada tempat nama pengarang diganti dengan garis bawah 8 ketuk
      2. Tetapi jika karena suatu sistem pangaturan Daftar Kepustakaan sehingga namanya diantarai oleh nama pengarang lain, maka untuk mendaftarkan karya berikutnya, nama lengkap harus ditulis lagi
      3. Format Kepustakaan dibandingkan dengan format Catatan (Kaki):
        1. Kepustakaan diketik dengan spasi tunggal, tetapi spasi ganda antar daftar buku
        2. Jarak ketikan masuk (indentasi) bukannya 0.75 inchi (seperti hanya dalam catatan acuan dan paragraf), melainkan 0.5 inchi
        3. Nama pengarang dicantumkan mulai dengan nama marga, diikuti koma, baru dibubuhkan nama diri
        4. Nama pengarang disusun berdasarkan urutan abjad, bukannya menggunakan nomor urut
        5. Setiap butir dalam Kepustakaan (nama pengarang, karyanya,kotapenerbit dan tahun) tidak ditempatkan di dalam tanda kurung, melainkan satu dengan lainnya dipisah oleh titik
        6. Jumlah halaman buku yang didaftarkan, tidak perlu dibubuhkan

 

Penggolongan sumber

Bila Kepustakaan hanya berisi sejumlah buku, daftarkan sesuai dengan urutan abjad penulisnya.  Jika bibliografi itu mencapai beberapa halaman, khususnya bila melibatkan puluhan sumber, gunakan sistem penggolongan sumbernya.  Penggolongan yang dimaksudkan dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Golongkan berdasar jenis sumber yang digunakan; misalnya kategori buku, Artikel, Skripsi/Tesis, Rekaman Kaset, Program komputer (CD-ROM), Hasil wawancara dan lainnya
  2. Golongkan sumber-sumber yang didaftarkan berdasarkan pandangan teologi penulisnya: Calvinis, Arminian, Injili, Non-Injili dan lainnya
  3. Golongkan berdasarkan kronologi penulisan sumber itu: Klasik, Abad pertengahan, Masa Reformasi, Abad Modern dan lainnya

Sistem penggolongan manapun yang anda terapkan, pastikan bahwa anda mengikuti katentuan umum mengenai penulisan bibliografi, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.  Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh penulisan berikut ini:

 

 

Contoh Format Catatan Kaki dan Bibliografi dari masing-masing Sumber

 

Baker, D.L dan yang lainnya., Pengantar Bahasa Ibrani.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Baker, D.L dan A.A Sitompul., Kamus Singkat: Ibrani – Indonesia.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Boeker, T.G.R., Bahasa Ibrani I.  Malang: Institut Injil Indonesia, 1986.

Gesenius, William, dan yang lainnya., A Hebrew and English Old Testament: with an Appendix Containing the biblical Aramic.  Diterjemahkan oleh Edward Robinson.  New York: Oxford Claredon Press, 1979.

Kautzsch, E (ed)., Gesenius’ Hebrew Grammar.  London: Oxford University Press, 1978.

Stuart, Douglas., Eksegese Perjanjian Lama: Pelajaran untuk Mahasiswa Seminary dan Pendeta.  Malang: Gandum Mas, 1997.

William, Ronald J., Hebrew Syntax an Outline. Toronto: University of Toronto Press, 1980.

Yates, Kyle M., The Essential of Biblical Hebrew.  New York: Harper and Row Publishers, t,t.

Brown, Francis., The Brown Driver Briggs Hebrew and English Lexicon: with an appendix containing the Biblical Aramic.  Massachusetts: Hendrickson Publishers, Inc, 1996. (2)

Owens, John Joseph., Analitical Key to the Old Testament. Vol. 1: Genesis – Joshua.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1995.

Owens, John Joseph., Analitical Key to the Old Testament. Vol. 2: Judges – Chronicles.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1995.

Owens, John Joseph., Analitical Key to the Old Testament. Vol. 3: Ezra – Song of Solomon.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1995.

Owens, John Joseph., Analitical Key to the Old Testament. Vol. 4: Isaiah – Malachi.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1995.

Vine, W.E, Merrill F. Unger and William White, Jr., Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words.  Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1996.  (2).

Metzger, Bruce M and Michael D. Coogan., The Oxford Companion to the Bible.  New York: Oxford University Press, 1993.

Harris, R. Laird (ed)., Theological Wordbook of the Old Testament, vol. 1.  Chicago: Moody Press, 1981.

Harris, R. Laird (ed)., Theological Wordbook of the Old Testament, vol. 2.  Chicago: Moody Press, 1981.

World’s Greatest Bible Scholars, The System Bible Study.  Chicago, Illinois: The System Bible Company, 1936.

Rhodes, Ron., Find it Fast in the Bible: Your Complete Topical Reference.  Eugene, Oregon: Harvest House Publishers, t.t.

Farrar, John., People and Place in the Bible.  Uhrichsville, Ohio: Barbour and Company, t.t.

Hoey, Ong Hian., Pembimbing ke Junani – Koine Perdjandjian Baru: Tatabahasa dan Latihan.  t.k: t.p, t.t.

Rogers Jr, Cleon L and Cleon L. Rogers III., The New Linguistic and Exegetical key to the Greek New Testament.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982.

Berry, George Ricker., The Interlinear Literal Translation of the Greek New Testament with the Authorized Version.  Chicago: Wilcox and Follett Company, 1956.

Marshall, Alfred.  The R.S.V Interlinear Greek – English New Testament: The Nestle Greek Text with a Literal English Translation.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1978.

Kubo, Sakae., A Reader’s Greek – English Lixicon of the New Testament and a Beginner’s Guide for the Translation of New Testament Greek.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1981.

Friberg, Barbara and Timothy Friberg (ed)., Analitical Greek New Testament.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1981.

Balz, Horst and Gerhard Schneider (ed)., Exegetical Dictionary of the New Testament. Vol. 1.  Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1994.

Balz, Horst and Gerhard Schneider (ed)., Exegetical Dictionary of the New Testament. Vol. 2.  Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1994.

Balz, Horst and Gerhard Schneider (ed)., Exegetical Dictionary of the New Testament. Vol. 3.  Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1994.

Arndt, William F., A Greek – English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature.  Chicago: University of Chicago Press, 1979. (2)

Brown, Colin (ed)., The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 1.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1993.

Brown, Colin (ed)., The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 2.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1993.

Brown, Colin (ed)., The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 3.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1993.

Brown, Colin (ed)., The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 4.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1993.

 

BAB VII

PENUTUP

 

Pedoman format yang disajikan disini akan terasa sulit pada awal pembuatan, tetapi akan segera terasa manfaatnya apabila ditekuni dengan baik.  Bahan format ini tentu saja masih jauh dari sempurna, tetapi masih dapat dipergunakan sebagai bahan acuan awal sembari diadakan perbaikan.  Beberapa hal sangat penting didiskusikan lebih lanjut di dalam kelas.  Oleh karena itu diharapkan peran aktif dari mahasiswa untuk bersama-sama mengerjakan proyek ini.

Sebagai pedoman format, diktat ini telah menyajikan beberapa hal yang berkaitan dengan teknis pembuatan beserta dengan contohnya.  Kalaupun contoh yang diberikan masih terasa kurang, maka study lebih lanjut terhadap pedoman yang telah diberikan akan memampukan mahasiswa mengerjakannya secara mandiri.  Beberapa contoh diangkat dari berbagai skripsi, dengan maksud memberikan cakrawala baru bagi mahasiswa.

Dengan syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya diktat ini dapat diselesaikan, tentu saja ada banyak pihak yang membantu baik secara teknis maupun secara prinsip.  Pada dasarnya ucapan trima kasih tidak akan cukup sebagai bentuk penghargaan.  Klimaks dari semuanya adalah, semoga diktat ini akan bermanfaat bagi mahasiswa dalam mengerjakan makalah, skripsi dan karya tulis lainnya.  Ingatlah bahwa semua kemudahan ini dibangun di atas jerih lelah banyak orang, dengan demikian perhatikanlah pedoman ini secara detail dan tekunlah untuk menggunakannya.  Tuhan menolong anda sekalian, Amin

Jakarta, Januari 2007

Arrhenius P. Gunde

 


[1] Bahan sebagian besar diambil dari: Petrus Maryono, Diktat Kuliah: Metode Menulis Makalah, sem. 3, 2000. Untuk pembahasan format diambil dari: Petrus Maryono, Pedoman Format: Ketentuan Format untuk Makalah, Skripsi, Tesis dan Disertasi, sem. 1, 2005. Sedangkan  contoh penggunaan format sebagian besar dilihat dari skripsi penulis: Arrhenius P. Gunde, “Misteri Gereja Sebagai ‘Tunas Liar’ dalam Korelasi dengan PenyelamatanIsrael dan sebagai penggenapan Janji Allah kepada Dunia [Study Deskriptif terhadap Roma 11:11-36]” (Skripsi S1, Sekolah Tinggi Teologia InjiliIndonesia,Yogyakarta: 2003.

[2] Petrus Maryono, Diktat Kuliah: Metode Menulis Makalah, sem. 3, 2000, 1.

[3] Praktis penulis harus berterima kasih atas beberapa skripsi yang dapat dijadikan contoh kongkrit atas prinsip-prinsip di atas

[4] John F. Walvoord, “The Agustinian-Dispensational Perspective” dalam Five Views on Sanctification (Grand Rapids: Zondervan Publishing Haouse, Academic Books, 1987), 199-200

[5] Kesalahan yang sering terjadi: subjek orang ketiga tunggal tetapi kata gantinya orang ketiga jamak.  Seringkali penggunaan “kami” dan “kita” juga dikacaukan;  kedua kata itu memang memiliki kesamaan, tetapi keduanya juga mengandung perbedaan makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: