Just another WordPress.com site

Hermeneutika

Silabus

Deskripsi:

Allah yang dikenal umat adalah Allah yang menyatakan diri-Nya melalui revelation.  Uniknya, penyataan diri dari yang ‘tak terbatas’ tersebut justru ada dalam ‘keterbatasan’, yang sebenarnya telah menyalahi prinsip kelogisan finitum non capax infinitum.  Selain itu, banyak hal yang sebenarnya ‘mencederai’ sifat infinitum Dei, misalnya: konteks bahasa, konteks sosial, konteks masa dan juga teks pada dirinya sendiri.  Pencederaan tersebut justru dilakukan oleh pelaku yang mengaku sebagai umat penyembah dalam roh (spirituality) dan kebenaran (theology).  Oleh karena itu, mata kuliah hermeneutik menjadi sangat penting, paling tidak guna menolong kita berhadapan dengan sifat coram Deo.  Premis utamanya dalam mata kuliah ini adalah membiarkan Alkitab menjadi terang, oleh karena Alkitab pada dirinya sendiri adalah sui ipsius interpress.

TIU     :

Mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab guna menemukan, membangun serta mengaktualisasikan makna kebenaran baik secara filosofis, telogis maupun praksis.

 

TIK     :

  1. Mahasiswa mampu melakukan pembelajaran dalam pendekatan pribadi terhadap Alkitab.
  2. Mahasiswa mampu melakukan penggalian sederhana terhadap teks dengan melibatkan setiap unsur yang terkait (teks, konteks, struktur).
  3. Mahasiswa mampu menggunakan prinsip-prinsip penafsiran (pengamatan, penyelidikan dan penerapan) baik terhadap aspek konteks, literal, historikal, gramatikal, tujuan penulis, dan teologis.
  4. Mahasiswa mampu membuat sebuah outline khotbah sederhana berdasarkan prinsip-prinsip penafsiran.

 

Penilaian:

  1. Hadir dan berpartisipasi aktif serta continue
  2. Tugas mingguan
  3. Outline khotbah

 

Literatur yang disarankan:

Braga, James., Cara Menelaah Alkitab. Malang, Penerbit Gandum Mas, 1982

Fee, Gordon D., & Stuart, Douglas, Hermeneutik; Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat! Malang, Penerbit Gandum Mas, 1989

Fisher, Don L., Pra Hermeneutik, Malang, Penerbit Gandum Mas, 1987

Gara, Nico., Menafsir Alkitab Secara Praktis, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1989

Hayes, John H. & Holladay, Carl R., Pedoman Penafsiran Alkitab, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1996

Herlianto, Manipulasi Ayat-ayat Alkitab, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1993

Indra, Ichwei G., 8 Prinsip Tafsir Alkitab, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 2000

Sagala, Mangapul, Petunjuk Praktis Menggali Alkitab, Jakarta, Perkantas Jakarta,1997

Sitompul, A.A, dan Beyer, U, Metode Penafsiran Alkitab, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1989

Sproul, R.C., Mengenali Kebenaran, Malang, Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2000

Sutanto, Hasan, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1993

Warren, Rick,Metode Pemahaman Alkitab yang Dinamis, Yogyakarta, Yayasan Andi, 1981

 

Topik Bahasan:

  • Perkenalan dan Silabus
  • Urgensi mata kuliah
  • Definisi istilah dan posisi teologis
  • Kesulitan-kesulitan
  • Alat bantu
  • Metode induktif – deduktif
  • Pengamatan: Konteks, Fakta-fakta, Struktur, Bentuk kesusastraan dan Latihan
  • Penyelidikan: Sistesis – Analisis, Kerangka teks, Original meaning dan Latihan
  • Penafsiran: Konteks, Literal, Historical, Gramatikal, Tujuan penulis, Teologis dan Latihan
  • Penerapan: Ekspository preaching dan Materi PA

 

Vera Theologia est Grammatica (Theologia Sejati adalah [dimulai dari] Tata Bahasa)

 

Urgensi Hermeneutik

Satu-satunya dokumen yang tertinggal bagi kita dalam menemukan dan memahami Allah hanya Alkitab.  Pernyataan umum memang dapat berbicara perihal Allah, tetapi hanya Alkitablah yang memberikan penyataan kuat perihal kebenaran Allah.  Memahami karya Allah melalui alam memang penting tetapi tidak dapat mengalahkan kebenaran yang disajikan-Nya melalui Alkitab.  Jelas bagi kita bahwa Alkitab adalah penyataan Allah yang paling keras perihal diri-Nya.

Membaca dan menerjemahkan Alkitab mau tidak mau akan melibatkan aspek menafsirkan.  Objektifitas nilai, arti dan makna membaca maupun menerjemahkan sangat bergantung pada bagaimana kita memposisikan dan meletakkan subjektfitas pada metode yang dipakai.  Sehingga entahkan cara membaca atau menerjemahkan dalam menemukan nilai, arti dan makna akan sangat ditentukan oleh metode yang dipakai.  Dengan demikian urgensi dari mata kuliah ini akan membawa kita pada sikap:

  1. Bagaimana cara “melihat” Alkitab
  2. Bagaimana cara  “membedah” Alkitab
  3. Bagaimana cara “memperlakukan” Alkitab

Perhatikanlah apa yang Paulus nyatakan perihal Alkitab dalam 2 Timotius 3:14-17:

Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.  Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

 

Kesalahan yang sering dilakukan dalam membaca dan menerjemahkan Alkitab:

  1. Hanya melihat Alkitab sebagai kebenaran masa lalu yang sudah tidak relevan dengan masa kini.
  2. Hanya melihat Alkitab sebagai petunjuk hidup masa kini tanpa mempertimbangkan teks menurut konteks penerima awal.
  3. Hanya melihat Alkitab sebagai ‘buku primbon’.

Misalnya: Kejadian 12:10-20

Hal yang harus dilakukan oleh pembaca masa kini adalah:

  1. Mencari pengertian teks menurut konteks awal
  2. Membangun implikasi teks terhadap konteks kita masa kini

 

Essensi Hermeneutika

Istilah hermeneutik (Yun, ‘ermeneutike) tidak berasal dari dalam kekristenan, namun dari istilah ini terjadilah reformasi kekristenan.  Secara sederhana hermeneutik berarti ilmu tafsir; tafsiran terhadap ungkapan tulisan.  Walaupun harus diakui bahwa beberapa unsur penting dengan sendirinya hilang, seperti: gaya bahasa, aksentuasi, mimik, dan suasana hati penulis.  Dengan demikian hermeneutik belumlah menjadi satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menyatakan nilai valid dari suatu data.

Hermeneutik dipakai secara luas dalam ilmu linguistic, sebab dari dalamnya paling tidak dapat ditemukan makna tersirat dari apa yang tersurat.  Termasuk juga dalam biblical study, hermeneutik memberikan sumbangan besar dalam menemukan prinsip sebenarnya yang tersembunyi dari dalam teks Alkitab.  Secara substansi, Alkitab adalah kebenaran Allah yang dalam prakteknya ditulis dengan melibatkan seluruh aspek kemanusiaan dari penulis dan konteksnya.  Tentu saja hermeneutik mencoba “membedah” kebenaran tersebut dari sudut pandang penulis awal yang coba dibahasakan kembali dalam konteks masa kini.

 

Pengertian Literal

Hermeneutik secara etimologi dipakai sebagai adjektiva (kata sifat) ketika mendefinisikan kata benda, yaitu sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan (meaning) apa yang diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan substansi hal tersebut.  Dari penelusuran ini terlihat jelas bahwa hermeneutik berarti “yang memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”.

Dalam pemahaman semantic dengan kata hermeneia memiliki pengertian sebagai pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa; juga berkaitan dengan kata techne yang berarti kemampuan atau seni tertentu.  Penelusuran ini menghasilkan pemahaman bahwa hermeneutik muncul juga dalam pengertian sebagai seni divinasi atau ramalan (mantike).[1]

Lamb, menerjemahkan hermenutik dengan “interpretasi”, yang dimaksud disini adalah “interpretasi wangsit”.  Dengan perkataan lain, Lamb lebih melihat tugas hermeneutik dalam batasan menerjemahkan sabda-sabda dewa.  Artinya ia melihat hermeneutik sebagai wujud kemampuan meramal (mantike) dari dalam agama Yunani.[2]  Hal ini beriringan dengan sikap para pendeta-pendeta Yunani dalam meramalkan masa depan sambil menjadi abdi bicara sang dewa.  Tentu saja kekhususan ini membawa dampak pada pembatasan kerja hermeneutik hanya dalam bidang keagamaan, padahal hermeneutik seharusnya dapat dipakai secara luas sebagai ilmu tafsir terhadap disiplin ilmu lainnya.

Hermeneutik dalam kaitannya dengan fungsi, berguna untuk mempertunjukan (show), menjelaskan (make clear), dan menerangkan (the meaning of).[3]  Dengan demikian, tugas dari hermeneutik adalah mempertunjukan, menjelaskan dan menerangkan makna kata tulis yang tersembunyi dari suatu sumber tulisan guna menemukan arti sebenarnya yang dimaksud oleh sumber.  Secara sederhana hermeneutik berarti seni atau ketrampilan menemukan arti kata ucap dibalik makna kata tulis, baik yang bersumber dari manusia ataupun dewa, dalam konteks masa lalu, kini maupun ramalan.

 

Pengertian Teologis

Sebagai bagian dari disiplin ilmu menuntut hermeneutik untuk bersifat netral dan umum dipakai oleh semua bidang penelitian, termasuk teologi.  Dunia teologi tidak dapat dipisahkan dari hermeneutik, sebab melalui hermeneutiklah suatu kajian terhadap kebenaran ditemukan dan diimplementasikan secara nyata dalam perjumpaan antara Tuhan dengan umat.  Mengingat tugas penting dari hermeneutik, maka sudah seharusnya ia menjadi salah satu bidang favorit dari para seminarian.

Hermeneutik menjadi jembatan antara dari Alkitab sebagai sumber kebenaran tentang Allah dengan tindakan mengaktualisasikan kebenaran.  Tidak jarang perilaku atau ajaran yang menyimpang terjadi sebagai hasil dari tafsiran atau interpretasi yang menyimpang.  Sejarah gereja telah memberikan bukti kesalahan tafsir dari tokoh-tokohnya, yang berakibat munculnya ajaran-ajaran yang keliru.  Tidak selesai disitu, tidak jarang gereja mengalami perpecahan karena adanya perbedaan cara pandang dalam melihat Alkitab.

Dalam diktat Metode Mempelajari Alkitab Permulaan (MMAP) dijelaskan bahwa, hermeneutik adalah langkah-langkah sistematis dalam menyibakkan atau membukakan kebenaran Allah melalui frame tertentu.  Frame tersebut adalah konteks, gramatikal, literal, tujuan penulis dan sistematika dari keseluruhan kitab dalam Alkitab.  Pada akhirnya sifat its sui ipsius interpress dari Alkitab akan terpelihara.

 

Pengertian Praktikal

Sudah disebutkan di atas bahwa hermeneutik  adalah “jembatan antara”.  Dua sisi yang menjadi pijakan dari hermeneutik adalah pijakan dogmatis dan pijakan praksis.  Artinya Alkitab adalah satu-satunya sumber yang diijinkan Allah sehingga menusia dapat mengenal dan mengetahui kebenaran, sekaligus dari Alkitab jugalah manusia memperoleh cara atau pola hidup yang bersesuaian dengan kebenaran Allah.  Alkitab memiliki nilai kebenaran mutlak (K) tentang Allah dan untuk menyingkapkannya haruslah dengan “membongkar” semua makna, symbol, tanda-tanda, ungkapan, istilah bahkan frase yang ada di dalamnya.

Permasalahannya adalah apa yang seharusnya dibongkar di atas telah tercatat dalam Alkitab yang kurun waktu “pengumpulannya” kurang lebih 1500 tahun dengan jumlah penulis kurang lebih 40 orang.  Jadilah Alkitab sebagai karya Allah yang memenuhi unsur-unsur budaya, konteks, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola, serta masa tertentu harus di hadirkan kembali secara sederhana baik dalam budaya, konteks, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, pola serta masa yang lain.

Demikianlah seharusnya fungsi dari hermeneutik diletakkan.  Baik dalam upaya menelaah Alkitab sebagai rancang bangun teologi maupun menggunakan Alkitab sebagai pedoman hidup praksis dihadapan Allah yang kepadanya hidup akan dipertanggung jawabkan.

Hermeneutik an sich

Lingkungan Non-Yahudi:

Istilah hermeneutik justru pada awalnya diperkenalkan secara luas di Eropa dalam kebudayaannya dengan bahasa Latin oleh Johann Dannhauer sebagai teolog kota Strasbourg.  Ia menggunakan hermeneutik dalam fungsi menemukan kevalidan dari disiplin-disiplin ilmu yang bersumber dari data teks.  Pemahamannya merupakan bagian dari semangat renaissance untuk kembali menemukan kebenaran melalui penelusuran terhadap teks-teks kuno.  Sepertinya sumber ini diilhami oleh tulisan Aristoteles dalam bukunya Peri Hermeneias.

Dipihak lain, Wilhelm Dilthey sebagai ahli hermeneutik modern, menemukan bahwa hermeneutik sudah muncul justru di abad 16 ketika Protestanisme menggemakan semangat Sola Scriptura.  Para protestanisme yang adalah pengikut Luther menggunakan hermeneutik dalam dua hal, yaitu (1) menafsirkan teks Alkitab dan (2) memberikan bantahan terhadap Katolikisme yang menggunakan otoritas gereja dalam menafsirkan Alkitab.  Semangat protestanisme adalah semangat untuk kembali pada kebenaran Alkitab, sebab protestan secara etimologi adalah pro testamentum (berpihak pada testament/perjanjian [Alkitab]).

 

Zaman Klasik[4]

Secara tradisional hermeneutik dianggap berasal dari kata Hermes, yang dalam mitologi Yunani adalah nama dari salah seorang dewa.  Tentu saja penelusuran ini tidak mendapat dukungan dari para hermeneutis berikutnya.  Mereka justru melihat hermeneutik dalam tiga kerangka penelusuran yaitu: pertama, jalan yang mengartikannya sebagai sarana untuk memberi penjelasan rasional atas mitologi homerik; kedua, menitikberatkan pada peran  interpretasi dan ramalan dalam khazanah agama Yunani kuno; serta ketiga, mencari segala sesuatu yang mirip dengan pengertian kata hermeneutik dalam teks-teks Yunani kuno.

Walaupun demikian, prinsip ketigalah yang menjadi pilihan dalam memberikan penguraian pengertian hermeneutik, seperti halnya Jean Grondin yang berpendapat bahwa kata hermeneutik ketika digunakan oleh teks-teks babon tidak pernah mendapat perhatian penelitian secara khusus, meskipun penelitian pantas dilakukan guna menemukan hubungan keterkaitan dari ketiga prinsip di atas.  Melalui cara menyusun kembali (rekonstruksi) konteks digunakannya kata hermeneutik pada saat itu, maka pengertian kata hermeneutik dapat diperoleh tanpa harus terganggu dengan penjelasan secara kontemporer.  Dasarnya adalah prinsip pengandaian terhadap penggunan kata hermeneutik bukan sebagai istilah teknis pada waktu itu, tetapi lebih kepada istilah yang banyak dijumpai dalam percakapan populer kala itu, seperti yang banyak terdapat dalam tulisan-tulisan Yunani kuno yang ditemukan dan masih bertahan sampai sekarang.

Pengertian masa kini tentang istilah hermeneutik pada awalnya ditemukan dalam tulisan-tulisan Plato,  yang selanjutnya pada masa kini istilah tersebut dikenal sebagai hermeneutik.  Istilah hermeneutik digunakan oleh Plato dalam tiga tulisannya yaitu dalam Politicus 260 d 11, Epinomis 975 c 6 dan Definitions 414 d 4.  Walaupun demikian, secara etimologi tetap tidak mendapat penjelasan keterkaitan antara istilah hermeneutik dengan istilah hermeneia dan hermeneus.

Plato sendiri ternyata memang tidak konsisten dalam menggunakan istilah hermeneutik sebagai sebuah definisi, sebab dari ketiga bukunya hanya Politicuslah yang sungguh-sungguh bersumber dari Plato, selebihnya adalah karya para Academia.  Buku Definitions menggunakan hermeneutik yang bersifat Adjektiva dalam mendefiniskan kata benda, yaitu sebagai ucapan yang utuh dan padu yang memaksudkan apa yang diatributkan kepada sesuatu hal yang eksis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan substansi hal tersebut.

Dalam hal ini jelas bahwa hermeneutik memiliki pengertian sebagai “yang memaksudkan sesuatu” atau “yang menunjuk sesuatu”.  Secara semantic, istilah hermeneutik juga memiliki keterkaitan dalam pengertian hermeneia, yaitu pemindahan atau penerjemahan pikiran ke dalam bahasa.  Selanjutnya dalam buku Epinomis dan Politicus hermeneutik juga dipakai sebagai adjektiva.  Berdasarkan contoh-contoh penggunaan di atas, dapat disimpulkan bahwa hermeneutik memiliki pengertian lain sebagai kemampuan atau seni tertentu atau techne.

Hal penting diperhatikan dalam buku Epinomis sebuah catatan yang bersifat Platonik adalah ditemukannya pembahasan mengenai pengetahuan yang membawa orang pada gerbang kearifan.  Dalam buku ini dinyatakan bahwa mantike, yang berarti ramalan (divination) dan hermeneutik bukanlah cara untuk membawa orang pada pintu gerbang pengetahuan itu.  Ternyata ramalan atau hermeneutik tidak serta merta menghasilkan kearifan, sebab pengerahuan ini hanya membawa orang untuk mengetahui dan mengenali apa yang dikatakan, bukannya untuk mengetahui apakah yang diucapkan itu adalah sebuah kearifan, dan bukan juga untuk mengenalinya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh dari sebuah ramalan.

Berdasarkan fakta-fakta yang tidak menjelaskan di atas, beberapa ahli modern kemudian melakukan usaha menyatukan pengertian dari hermeneutik dengan ramalan.  Leon Robin menjelaskannya sebagai “tafsiran atas wangsit”, dipihak lain, Lamb menjelaskannya sebagai tafsiran.  Dalam hal ini maksudnya adalah tafsiran terhadap suara-suara gaib, ilham dari langit dan sebagainya.  Permasalahan penting disini adalah tidak ditemukannya data-data pasti untuk mengetahui bahwa istilah hermeneutik memang digunakan hanya untuk menjelaskan tafsiran terhadap wangsit.

Ternyata penelusuran istilah melalui media agama-agama Yunani tidak memberikan pengertian yang mendalam terhadap penjelasan istilah hermeneutik, maka penelusuran kembali dilakukan dengan menggunakan dasar tulisan-tulisan Plato.  Dalam bukunya, Politicus  dan Epinomis, ditemukan bahwa pengertian kata hermeneutik tidak sama dengan Mantike, namun keduanya tetap memiliki hubungan.  Dari buku-bukunya yang lain, misalnya Phaedrus  dan Timaeus, Plato sepertinya menerima kenyataan tradisional pada waktu itu bahwa kemampuan meramal terkait erat dengan mania atau kondisi ekstase.  Ketika seorang peramal berkata-kata dalam keadaan ekstase, hal ini dijelaskan secara ilmiah oleh profetes.  Keterkaitan antara ramalan mantike dan profetes dalam Timeneus ternyata paralel dengan mantike dan hermeneutik.

Berdasarkan penelusuran di atas, kemampuan hermeneutik seseorang bergantung pada kemampuannya menjelaskan makna apa yang diucapkan menggunakan seni ramalan mantike, sementara sikap hermeneutis adalah sikap yang menjadi perantara peramal dengan orang lain, seperti seorang nabi diantara Tuhan dan ciptaan-Nya.  Buku Epinomis menjelaskan bahwa perantara bertugas untuk “menyambung lidah”.  Dia memang bisa menjelaskan isi ramalan atau wahyu, namun dipihak lain ia tidak dapat menjelaskan apakah itu nantinya adalah sebuah realita atau tidak.  Pada akhirnya, tugas hermeneutik adalah menjelaskan “apa makna sesuatu”, sementara untuk menemukan apakah hal itu benar atau tidak adalah tugas dari disiplin ilmu lain misalnya filsafat.

Pengertian yang ditemukan di atas sama dengan pengertian yang dianut oleh Danhauer pada abad XVII.  Dalam persepektifnya, dua disiplin ilmu yang paling dasar adalah logika dan hermeneutik.  Logika berguna untuk menentukan klaim kebenaran pengetahuan dengan cara memberikan pembuktian bagaimana pengetahuan itu diturunkan dari prinsip rasional yang paling tinggi.  Sementara hermeneutik berguna untuk menjelaskan apa sesungguhnya yang dimaksudkan oleh seseorang.  Hermeneutik akan memilah-milah pengertian yang dilekatkan kepada “tanda-tanda”  yang dipakai, tanpa harus menjelaskan apa sesungguhnya yang ada di pikirannya.  Pada akhirnya ditemukanlah dua jenis kebenaran, kebenaran hermeneutik yang diperoleh melalui apa yang dimaksud, serta kebenaran logis yang diperoleh melalui pembuktian apakah benar atau salah.

Cara ini sekaligus memisahkan hermeneutik dari sisi makna religiusnya.  Pengertian hermeneutik pada akhirnya menjadi lebih umum, karena pada saat terdapat usaha untuk memilah-milah makna maka hermeneutik akan berperan.  Tentu saja makna hanya ditemukan dalam bahasa dan kesimpulan semacam ini membuktikan betapa signifikan dan tajamnya pengertian umum istilah hermeneutik yang berarti “memaksudkan sesuatu”  di dalam masyarakat Yunani kuno.

Dari pengertian ini, sampailah pada penelusuran pengertian kata hermeneia dan hermeneusHermeneia atau kalimat yang diucapkan adalah pengalihan “apa yang dimaksud” pada level pikiran ke dalam media bahasa.  Bahasa yang diucapkan adalah pikiran yang diucapkan, sebuah penerjemahan atau sebuah penafsiran pikiran ke dalam bahasa.  Hal inilah yang menyebabkan bahasa Latin dalam fleksibilitasnya yang tinggi menerjemahkan hermeneia dengan interpretation.  Walaupun demikian hermeneia juga dapat  berarti gaya (style).  Hal ini terlihat dalam tulisan Aristoteles yang berjudul Peri Hermeneia.  Penyebab bahasa Yunani kuno menggunakan kata yang sama untuk menyatakan karakter bahasa, pernyataan dan gaya sudah cukup jelas, sebab gaya tidak lain adalah metode untuk memaksudkan dan menyampaikan mekna kepada orang lain.  Bahkan bahasa sendiri sebenarnya adalah sebuah gaya, karena bahasa menjadi sarana untuk memberikan pengertian kepada orang lain.  Pada akhirnya, hermeneia memiliki tiga fungsi sekaligus yaitu: memaksudkan sesuatu lewat bahasa, menerjemahkan pikiran ke dalam ekspresi dan membuat orang lain menjadi paham.

 

Lingkungan Yahudi

Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru karena baru dikenal sekitar tahun 1567 AD. Namun demikian prinsip-prinsip Hermenutik sebenarnya sudah dikenal sejak jaman Diaspora yaitu masa pembuangan bangsa Israel.

Hermeneutik Yahudi

  1. Pusat Ibadah Yahudi.  Sejarah Hermeneutik Yahudi sudah dimulai sejak jaman Ezra (457 SM), pada waktu orang-orang Yahudi sedang berada di tanah pembuangan. Pusat ibadah orang Yahudi dahulu adalah Yerusalem dimana mereka beribadah dengan mempersembahkan korban di Bait Suci. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak mungkin beribadah ke Yerusalem, maka mereka menciptakan pusat ibadah baru, yaitu dengan menggiatkan kembali pengajaran dari Kitab-kitab Taurat. Pengajaran Taurat itu menjadi sumber penghiburan dan kekuatan yang sangat berharga untuk mempertahankan diri dari pengaruh kafir di tanah pembuangan.

Usaha pertama yang dilakukan oleh Ezra dan kelompok para imam adalah menghilangkan gap bahasa yaitu dengan menterjemahkan Kitab-kitab Taurat itu ke dalam bahasa Aram, karena orang-orang Yahudi di pembuangan tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Usaha terjemahan ini dibarengi dengan suatu exposisi karena mereka juga harus menjelaskan isi kitab-kitab yang sudah mereka terjemahkan itu, khususnya tentang pelaksanaan hukum-hukum Taurat. Karena sumbangannya yang besar itulah Ezra disebut sebagai Bapak Hermeneutik Pertama.  (Ne 8:1-8 Ezr 8:15-20)

  1. Tempat Ibadah Sinagoge.  Untuk menunjang pemulihan kembali pengajaran kitab-kitab Taurat, didirikanlah sinagoge di tanah pembuangan untuk menggantikan tempat ibadah Bait Suci (Yerusalem). Fungsi utama sinagoge adalah sebagai tempat orang-orang Yahudi berkumpul menaikkan doa-doa, membaca Taurat dan mempelajarinya dengan teliti, juga sekaligus menjadi tempat mereka memelihara tradisi Yahudi dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

Sinagoge Agung adalah kelompok para ahli-ahli Kitab jaman itu yang terdiri dari 120 anggota, dibentuk oleh Ezra sepulangnya mereka kembali ke Palestina. Tugas utama kelompok ini adalah menafsirkan kitab-kitab Taurat. (Ne 8:9-13) Oleh karena itu bisa dikatakan inilah sekolah menafsir yang pertama didirikan.

Setelah semakin banyak orang-orang Yahudi akhirnya diijinkan pulang kembali ke tanah Palestina, tradisi mempelajari Taurat dan memelihara tradisi Yahudi ini tetap dibawa ke tanah air mereka dan sinagoge lokal pun mulai didirikan di tempat-tempat dimana mereka tinggal (meskipun Bait Suci sudah dibangun kembali). Itu sebabnya pada jaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul kita menjumpai banyak sinagoge di kota-kota di Israel, yang dipimpin oleh seorang yang disebut “kepala rumah ibadah”. (Mrk. 5:22; Luk. 13:14; Kis. 13:5-14:1)

  1. Sekolah-Sekolah Menafsir Yahudi. Melihat pentingnya mempelajari kitab-kitab, maka dalam perkembangan selanjutnya, (setelah Ezra dan Nehemia mati), bermunculanlah sekolah-sekolah menafsir formal, diantaranya:
    1. Sekolah Yahudi Palestina. Sekolah ini mengikuti tradisi yang dipakai oleh Ezra dalam menafsir kitab-kitab Taurat, yaitu menekankan metode penafsiran literal. Mereka menerima otoritas mutlak Firman Allah, dan tujuan utama mereka adalah menginterpretasikan Hukum-Hukum Taurat. Hasil penafsiran mereka ini kemudian bercampur dengan tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman itu, sehingga tulisan ini dikemudian hari dikenal dengan nama “Tradisi Lisan” (the Oral Law). Tetapi sayang sekali bahwa tradisi lisan ini akhirnya diberikan otoritas yang sejajar yang dengan tulisan Kitab-kitab Taurat.

Pada abad 2 Masehi dikumpulkanlah seluruh Tradisi Lisan yang pernah ditulis yang disebut “Mishna” yang artinya “doktrin lisan dan pengajarannya”. Dalam Mishna ini terdapat dua macam tafsiran:

      1. Halakah
        Penafsiran (eksegesis) resmi terhadap hukum-hukum dalam kitab-kitab Taurat yang bersifat sangat legalistik, dengan memperhatikan sampai ke titik dan komanya.
      2. Hagadah
        Penafsiran seluruh Alkitab PL, tetapi yang tidak berhubungan langsung dengan hukum, yang tujuannya adalah untuk kesalehan kehidupan beragama.

Perkembangan selanjutnya adalah para ahli kitab membuat buku tafsiran dari buku Mishna, yang disebut Gemara. Kedua buku Mishna dan Gemara, inilah yang akhirnya membentuk buku (kitab) Talmud.

    1. Sekolah Yahudi Aleksandria. Didirikan oleh kelompok masyarakat Yahudi yang sudah tercampur dengan budaya dan pikiran Yunani (kaum Hellenis). Kerinduan mereka yang paling utama adalah menterjemahkan kitab-kitab PL ke dalam bahasa Yunani Modern, sebagai hasilnya adalah buku (kitab) Septuaginta. Penambahan kitab-kitab Apokrifa dalam Septuaginta menunjukkan bahwa mereka menerima penafsiran Hagadah dari sekolah Yahudi Palestina.

Namun sayang sekali, karena pengaruh yang besar dari filsafat Yunani, orang Yahudi mengalami kesulitan dalam menerapkan cara hidup sesuai dengan pengajaran Taurat. Sebagai jalan keluar muncullah cara interpretasi alegoris yang dipakai untuk menjembatani kedua cara hidup yang bertentangan itu.

Aristobulus (160 SM) dikenal sebagai penulis Yahudi yang pertama menggunakan metode alegoris. Ia menyimpulkan bahwa filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kitab-kitab Taurat melalui penafsiran alegoris.

Philo (20-54 M) adalah penafsir Yahudi di Aleksandria yang paling terkenal. Menurut prinsip menafsir yang dipakai oleh Philo, penafsiran literal adalah untuk orang-orang yang belum dewasa karena hanya melihat sebatas huruf-huruf yang kelihatan (tubuh); sedangkan penafsiran alegoris adalah untuk mereka yang sudah dewasa, karena sanggup melihat arti yang tersembunyi dari jiwa yang paling dalam (jiwa).  Ia percaya bahwa pada saat penulis PL menulis, sesungguhnya mereka dalam keadaan pasif dan tidak menguasai diri.  Satu contoh penafsiran alegori darinya adalah mengenai empat sungai dalam Kejadian 2:10-14.  Keempat sungai tersebut memiliki arti tertentu: Pison, kebajikan dan kebijaksanaan; Gihon, keberanian; Tigris, penguasaan diri; dan Efrat, keadilan.  Beberapa prinsip tafsir yang mengharusan perluanya tafsir alegoris bagi Philo adalah:

–          Jika arti harfiah menyatakan sesuatu yang tidak hormat kepada Allah

–          Jika suatu pernyataan tersebut bertentangan dengan pernyataan lain dalam Alkitab

–          Jika suatu teks menyatakan dirinya secara alegori

–          Jika suatu ucapan diulang-ulang atau kata-kata digunakan secara berlebihan

–          Jika terjadi pengulangan sesuatu yang sudah diketahui

–          Jika suatu ungkapan berubah-ubah

–          Jika suatu sinonim dipakai

–          Jika terdapat kemungkinan permainan kata

–          Jika ada ketidak biasaan dalam angka atau masa dalam tata bahasa

–          Jika terdapat simbol

    1. Sekolah Kaum Karait. Kelompok dari sebuah sekte Yahudi ini menolak otoritas buku-buku tradisi lisan dan juga metode penafsiran Hagadah. Mereka lebih cenderung mengikuti metode penafsiran literal, kecuali bila sifat dari kalimatnya tidak memungkinkan. Sebagai akibatnya mereka menolak dengan tegas metode penafsiran alegoris.

Selain sekolah-sekolah di atas, ada juga sekolah-sekolah lain yang kurang dikenal, yaitu Kabalis, Yahudi Spanyol, Yahudi Perancis, Yahudi Modern.

Lingkungan Apostolik

Mencakup masa periode ketika Yesus masih hidup sampai jaman rasul-rasul. Metode yang dipakai adalah metode penafsiran literal.  Dengan inspirasi dari Roh Kudus, para penulis Perjanjian Baru telah menafsirkan Perjanjian Lama dengan tanpa salah dalam tulisan-tulisan mereka.

  1. Yesus Kristus, Penafsir Sempurna. Dalam pengajaran kepada murid-muridNya Yesus banyak memberikan penafsiran kitab-kitab PL. (Yoh 5:39; Luk 24:27,44). Dengan cara demikian Yesus telah membuka pikiran para murid untuk mengerti Firman Tuhan dengan benar. Ia sendiri adalah Firman yang menjadi Manusia (incarnasi), yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Banyak catatan tentang teguran Yesus terhadap penafsiran para ahli Taurat (mis: Mat. 15:1-9; Mrk. 7:1-7; Mat. 23:1-33; 22:29. Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus: Mat. 10:5,6; 12:1-4,15-21; 13:1-9; 18:23; 19:3-9; 21:42-44; 22:41-46; 24:36-39; Luk. 11:29,30; 21:20-24 24:27-44.
  2. Para Rasul, Penulis-Penulis Yang Mendapatkan Inspirasi Dari Allah. Mereka adalah contoh penulis-penulis Alkitab PB yang menafsirkan kitab-kitab PL dengan inspirasi yang Allah berikan kepada mereka tanpa salah. Mereka menolak prinsip-prinsip alegoris, atau tambahan-tambahan dari tradisi-tradisi dan dongeng-dongeng Yahudi dan mereka juga menolak filsafat Yunani yang mengambil alih kebenaran. Yesus dan para penulis kitab-kitab PB telah menggunakan cara interpretasi yang benar. Ini menjadi contoh yang sangat berguna bagi para penafsir untuk belajar menafsir dengan benar. Contoh prinsip penafsiran yang dilakukan oleh penulis-penulis PB: Rom. 3:1-23; 9:6-13; Gal. 3:1-29; 4:21-31; 1 Kor. 9:9-12; 10:1-11; Ibr. 6:20-7:21; 8-8-12; 10:1-14,37-11:40; 1 Pet. 2:4-10; 2 Pet 3:1-13

Lingkungan Bapak-bapak Gereja

Masa periode ini adalah sesudah para rasul mati sampai masa Abad Pertengahan (95-600 M). Pembagian masa-masanya adalah sbb.:

  1. 95 – 202 M.  Tidak ada banyak catatan mengenai perkembangan metode penafsiran Alkitab pada masa itu. Kemungkinan besar para Bapak-bapak gereja terlalu sibuk mempertahanan doktrin Kristologi dari ajaran-ajaran sesat yang banyak bermunculan saat itu sehingga tidak banyak menekankan tentang prinsip penafsiran yang sehat. Sebagai akibatnya beberapa dari mereka jatuh pada penggunaan metode alegoris dalam penafsiran mereka, seperti Barnabas dan Justin Martyr.
  2. 202 – 325 M.  Pada permulaan abad 3, penafsiran Alkitab banyak dipengaruhi oleh Sekolah Aleksandria. Aleksandria adalah sebuah kota besar tempat pertemuan antara agama Yudaisme dan filsafat Yunani. Usaha mempertemukan keduanya memaksa orang-orang Yahudi menggunakan metode interpretasi alegoris, suatu sistem penafsiran yang sudah sangat dikenal sebelumnya. Ketika kekristenan tersebar di Aleksandria, hal inipun menjadi pengaruh yang tidak mungkin dihindari. Gereja Kristen di Aleksandria lebih tertarik menggunakan penafsiran alegoris karena seakan-akan memberikan arti yang lebih dalam dari pada arti harafiah.

Bapak Gereja yang paling berpengaruh saat itu adalah Clement dari Aleksandria dan Origen. Tetapi meskipun mengakui penafsiran literal, mereka memberikan bobot yang kuat dalam penafsiran alegoris.

Origen adalah pengganti Clement dari Aleksandria. Ia bukan hanya menjadi teolog besar tapi juga ahli kritik Alkitab besar pada jamannya. Dalam memakai metode penafsirannya ia percaya bahwa Alkitab memberikan 3 arti, sama halnya manusia dibagi menjadi 3 aspek, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Maka Alkitab juga mempunyai arti literal, moral dan mistik (alegoris). Namun demikian dalam kenyataannya Origen paling sering memakai metode alegoris dari pada literal.

  1. 325 – 600 M.  Pengaruh besar dari Sekolah Antiokia ini adalah perlawanannya terhadap Sekolah Aleksandria khususnya dalam eksegesis alegorisnya. Prinsip penafsiran mereka dapat diringkaskan sebagai berikut.: ilmiah, menggunakan prinsip literal dan tinjauan sejarah, sebagai ganti alegoris mereka memakai metode tipologi.

Tokoh-tokoh Sekolah Antiokia adalah: Diodorus dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia dan Chrysostom. Mereka semua menolak prinsip alegoris dalam penafsiran Alkitab, tapi menerima prinsip literal dengan tinjauan tata bahasa dan sejarah.

Selama abad 4 Dan 5, perdebatan teologia berlanjut menjadi perpecahan gereja, menjadi Gereja Bagian Timur dan Gereja Bagian Barat.

    1. Gereja Bagian Timur
      Tokoh mereka adalah Athanasius dari Aleksandria (literal, tapi juga alegoris), Basil dari Caeserea (literal), Theodoret dan Andreas dari Capadocia (literal dan historis).
    2. Gereja Bagian Barat
      Tokoh mereka adalah Tertulian (literal, tetapi nubuatan ditafsirkan secara alegoris), Ambrose (alegoris ektrim), Jerome (sumbangannya terbesar adalah menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgate. Secara teori ia mengikuti penafsiran literal, tapi dalam praktek adalah alegoris, karena menurutnya tidak ada kontradiksi antara literal dan alegoris), Augustinus (Teolog terbesar pada jamannya. Ia tidak menolak penafsiran alegoris tetapi ia memberikan sedikit modifikasi, dan dikhususkan bagi nubuatan. Menurutnya Alkitab harus ditafsirkan secara historis, mengikuti tata bahasa, diperbandingkan dan kalau perlu memakai alegoris. Tetapi penekanan yang utama adalah bahwa untuk memahami Alkitab seseorang harus mempunyai iman Kristen yang murni dan penuh kasih. Dan dalam menafsirkan ayat/perikop harus melihat keseluruhan kebenaran yang diajarkan Alkitab. Tugas penafsir adalah menemukan kebenaran Alkitab bukan memberi arti kepada Alkitab), Vincentius (tafsiran harus disesuaikan dengan tradisi gereja).

 

Hermeneutik Abad Pertengahan

Masa periode tahun 600 – 1517 disebut sebagai Hermeneutik Abad Pertengahan, yang diakhiri sebelum masa Reformasi. Masa ini dikenal sebagai abad gelap karena tidak banyak pembaharuan yang terjadi, hanya melanjutkan tradisi yang sudah dipegang erat oleh gereja. Semua penafsiran disinkronkan dengan tradisi gereja.  Pengajaran dan hasil eksposisi Bapak-bapak Gereja menjadi otoritas gereja. Alkitab hanya dipergunakan sebagai pengesahan akan apa yang dikatakan oleh para Bapak gereja, bahkan penafsiran para Bapak gereja kadang mempunyai otoritas yang lebih tinggi daripada Alkitab.

Alkitab lama kelamaan dianggap sebagai benda misterius yang banyak berisi pengajaran-pengajaran yang tahayul. Itu sebabnya cara penafsiran alegoris menjadi paling dominan.

Dua tokoh penafsir literal yang dikenal pada masa ini adalah:

  1. Thomas Aquinas. Meskipun ia menyetujui penafsiran literal, dalam praktek ia banyak menggunakan penafsiran alegoris. Dalam masalah teologia ia percaya bahwa Alkitab memegang otoritas tertinggi.
  2. John Wycliffe. Ia sering disebut sebagai “Bintang Fajar Reformasi” karena kegigihannya menyerang pendapat bahwa otoritas gereja tidak lebih tinggi daripada otoritas Alkitab. Karena keyakinannya itulah ia terdorong untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang dikenal umum, sehingga setiap orang bisa membaca dan menyelidiki sendiri pengajaran Alkitab.

Menjelang berakhirnya Abad pertengahan terjadi kebangunan dalam minat belajar, khususnya belajar bahasa kuno. Didukung dengan ditemukannya mesin cetak kertas, dan dicetaknya Alkitab, maka kepercayaan tahayul terhadap Alkitab perlahan-lahan lenyap dan mereka mulai mempercayai bahwa otoritas Alkitab lebih tinggi dari pada otoritas gereja. Inilah yang membuka jalan untuk lahirnya Reformasi.

 

Hermeneutik Reformasi

Periode ini terjadi pada tahun 1517 – 1600 M, dimulai pada saat Martin Luther memakukan 95 tesisnya dan berakhir sampai abad 16.

  1. Perjuangan reformasi. Dengan bangkitnya periode intelektual dan pencerahan rohani, perang memperjuangkan “sola scriptura” (hanya Alkitab) merupakan fokus Reformasi. Secara umum isi perjuangan Reformasi adalah sbb.:
    1. Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah sendiri.
    2. Alkitab harus dipelajari dalam bahasa aslinya.
    3. Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tanpa salah; sedangkan gereja dapat salah.
    4. Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman Kristen.
    5. Gereja harus tunduk pada otoritas kebenaran Alkitab.
    6. Alkitab harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh Alkitab.
    7. Semua pemahaman dan ekposisi Alkitab harus tidak bertentangan dengan seluruh kebenaran Alkitab.
  2. Tokoh reformasi.
    1. Martin Luther. 95 tesisnya merupakan serangan yang dilancarkan terhadap otoritas gereja. Martin percaya penuh bahwa Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi bagi iman dan kehidupan orang percaya. Untuk itulah ia menterjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa German supaya rakyat biasa dapat membaca dan menyelidikinya.

Prinsip penafsiran Martin Luther:

      1. Untuk menafsir dengan benar harus ada penerangan dari Roh Kudus.
      2. Alkitab adalah otoritas tertinggi bukan gereja.
      3. Penafsir harus memberi perhatian pada tata bahasa dan latar belakang sejarah. Penafsiran alegoris tidak berlaku.
      4. Alkitab adalah jelas sehingga orang percaya pasti dapat menafsirkannya.
      5. Fungsi menafsir Alkitab adalah sentralitas dalam Kristus.
      6. Hukum Taurat menghukum (mengikat), tetapi Injil membebaskan.
    1. John Calvin. Diakui sebagai tokoh penafsir ilmiah pertama dalam sejarah Gereja. Ia menentang penafsiran alegoris, tetapi menerima tipologi dalam PL. Tetapi tidak seperti Luther, Calvin tidak memaksakan pada penafsiran yang berpusatkan pada Kristus.

Prinsip penafsiran John Calvin:

      1. Roh Kudus adalah vital dalam pekerjaan penafsiran.
      2. Alkitab akan menafsirkan Alkitab.
      3. Penafsiran harus literal; penafsir harus menemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab, melihat pada konteks, meneliti latar belakang sejarah, melakukan studi kata dan memeriksa tata bahasa.
      4. Menolak penafsiran alegoris.
      5. Menolak otoritas gereja dalam menginterpretasikan Alkitab.
      6. Teologia yang benar harus dihasilkan dari eksegesis yang sehat.

Setelah kematian Calvin, para teolog Protestant bergumul keras untuk merumuskan kredo doktrin iman Kristen dan mensistematiskan teologianya. Tapi perdebatan dalam masalah penafsiran terus berlangsung sampai pada masa berikutnya.

 

Hermeneutik Paska-Reformasi

Periode ini adalah antara tahun 1600 – 1800 M. Periode ini dipenuhi dengan semangat penafsiran literal Reformasi, tetapi akhir periode ini ditutup dengan penekanan pada metode penafsiran devotional.

  1. Sesudah reformasi. Terjadi banyak kontroversi dan perdebatan teologia yang akhirnya menjadi kepahitan di antara para teolog dan mulai terjadi perpecahan. Dogmatisme mulai meracuni gereja. Studi Alkitab akhirnya hanya dipakai untuk membenarkan dogma dan teologia mereka sendiri.
  2. Gerakan peitisme. Gerakan ini muncul sebagai reaksi Dogmatisme paska Reformasi, karena Alkitab telah disalah gunakan sebagai pedang yang melukai dan merusak kemurnian hidup rohani. Oleh karena itu mereka melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu mempelajari Alkitab dan menafsirkannya secara pribadi untuk tujuan memperkaya aplikasi kehidupan rohani. Meskipun motivasi ini baik, tetapi berakibat negatif karena membuat tujuan penafsiran bukan lagi untuk mengetahui apa yang Allah ingin kita ketahui, tapi hanya untuk mempererat hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai hasilnya muncullah kelompok-kelompok seperti Moravian, Puritan dan Quaker. Tokoh-tokoh gerakan Pietisme ini adalah:
    1. Philipp Jakob Spener – Bapak Pietisme. Ia percaya bahwa kemurnian hati lebih berharga daripada kemurnian doktrin. Ia mendorong setiap orang percaya untuk mempelajari sendiri Firman Allah dan mengaplikasikan kebenarannya dalam kehidupan praktis.
    2. August Hermann Francke. Sebagai murid Spener, ia juga mengikuti prinsip-prinsip Pietisme. Menurutnya hanya orang Kristen lahir baru yang dapat mengerti arti berita Alkitab. Ia juga mengkombinasikan antara eksegesis dengan pengalaman. Tetapi segi negatif dari gerakan ini muncul yaitu menjadi tindakan legalistik terhadap mereka yang bukan anggota Pietisme dan mengabaikan teologia.
    3. Kritisisme.   Melihat kelemahan Pietisme dengan metode perenungan, banyak teolog mulai melakukan pendekatan skolastis studi Alkitab. Banyak usaha dilakukan dalam bidang kritik teks. Naskah-naskah Alkitab mulai dievaluasi dan diteliti untuk pertama kalinya untuk mengetahui keabsahannya sebagai kitab Kanon. Tokoh yang terkenal adalah Johann August Ernesti.
    4. Rasionalisme. Dari Kritisisme para teolog melanjutkan lebih jauh sampai melampaui batas yang seharusnya, yaitu mereka menempatkan rasio manusia sebagai otoritas yang lebih tinggi dari Alkitab. Rasio manusia, tanpa campur tangan Allah, dianggap cukup untuk mengetahui Penyataan Allah. Apabila ada hal yang tidak dapat dimengerti oleh intelek manusia, maka harus dibuang. Sebagai akibatnya mereka berpendapat bahwa Alkitab bisa salah karena ditulis oleh manusia. Mereka memperlakukan Alkitab tidak jauh berbeda seperti buku-buku yang lain. Dua tokoh terkenal Rasionalisme adalah Hobbes, Spinoza dan Semler.  Tafsir ini mencapai puncaknya pada abad 19, sehingga Alkitab tidak lagi dipandang sebagai kitab yang berotoritas.
      1. Alkitab harus diukur dengan metode akademis modern dan moral manusia modern.  Dengan demikian ajaran tentang surga dan neraka, dan catatan tentang mujizat harus ditolak.  Bahkan, bahan-bahan tertentu yang rupanya salah disusun oleh penulis Alkitab, sebaiknya disusun kembali.
      2. Mereka memberi definisi baru bagi ilham atau wahyu.  Ilham adalah kekuatan yang menstimulir pengalaman agama; wahyu adalah penemuan manusia akan kebenaran agama.  Yang menjadi patokan dalam menafsir Alkitab adalah semangat/jiwa Yesus atau pengalaman agama.  Teologi adalah hasil dan tanda dari pengalaman agama, sedangkan pengalaman agama tidak dapat diungkapkan komplit dengan bahasa
      3. Hal supranatural diartikan sebagai sesuatu yang melampaui hal yang bersifat materiil, misalnya etika.  Ini berlainan dengan golongan orthodox yang melihat hal supranatural terjadi karena perintah Allah, atau sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia.
      4. Mempergunakan teori evolusi atas agama dan dokumen agama tersebut.  Metode Adolf van Harnack menegaskan bahwa Tuhan Yesus adalah hanya seorang baik, tetapi teologi Kristen dan pikiran Yunanilah yang melukiskan-Nya sebagai manusia – Allah.  Tugas penafsiran adalah melepaskan Alkitab dari teologi dan filsafat ini.
      5. Penulis-penulis Alkitab hanya mempergunakan konsep-konsep, cara-cara penyampaian yang terdapat pada zaman mereka.  Konsep-konsep demikian tidak berlaku untuk manusia modern.
      6. Karena begitu menitik-beratkan metode sejarah untuk menafsir Alkitab, sehingga mereka berpendapat bahwa agama terus berkembang, dan Alkitab sering ‘meminjam’ dari atau berbaur dengan konsep-konsep agama lain.  Disamping ini, karena mereka begitu menekankan makna suatu nubuat bagi pendengar zaman tersebut, sehingga nubuat tidak bersifat memberitahukan sesuatu yang belum terjadi.  Nubuat tidak lebih dari berita yang dapat dimengerti dengan penuh oleh pendengar zaman itu.
      7. Penafsiran mereka sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran filsafat.  Dari Kant, mereka mempelajari bahwa rasio tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah.  Intisari agama adalah tekad moral atau etika.  Dari Deisme, mereka mengambil ide tentang penyangkalan campur tangan Allah, teologi alamiah, penolakan mujizat.  Pengaruh filsafat George Wilhelm Friederich Hegel mengenai pandangan ide absolut dan logika dialektika juga memberikan pengaruh besar.  Idealism absolute dari Hegel telah menggantikan sifat Allah yang diluar pengertian manusia (transcendence) dengan sifat Allah yang menyatakan diri-Nya melalui ruang dan waktu.  Hegel juga mengajarkan bahwa yang nyata adalah yang rasionil dan yang rasionil adalah yang nyata.  logika dialektika mulai dengan suatu thesis yang mengarah kepada antithesis, dan kemudian melahirkan sintesis yang berada pada tingkat yang lebih baru dan lebih tinggi.

Beberapa tokoh yang penting dipelajari adalah:

  • Ferdinand Christian Baur (1792 – 1860)
  • Julius Wellhausen (1844 – 1918)
  • Friedrich Daniel Ernst Schleimacher (1768 – 1834)
  • David Friedrich Strauss (1808 – 1874)
  • J. C. K Von Hafmann (1810 – 1877)

 

Lingkungan Filsafat

Zaman Abad Pertengahan

Hermeneutik menjadi popular dan baku pada abad ke 17 sebagai sebuah disiplin ilmu untuk menafsirkan Alkitab.  Penggunaannya secara khusus dalam theologia merupakan klimaks dari penentangan terhadap Katolik sebagai pemegang status quo dengan Protestan sebagai pembawa gerbong pembaharuan (reformasi).  Sebagai pemegang status quo, Katolik tetap berpegang pada tradisi-tradisi dan otoritas sacral dalam menafsirkan Alkitab.

Dipihak lain, Luther tidak dapat menerima hal tersebut.  Baginya, “kepala memang sama berambut, namun dalam berpendapat tentang Alkitab tentu saja akan berbeda-beda”.  Manusia yang memiliki iman dan mau membaca Alkitablah yang berhak menafsirkan kandungan di dalamnya.  Inilah sola scriptura.  Walaupun Luther sendiri memang tidak pernah memberikan rumusan tentang hermeneutik.  Justru St. Agustinuslah dalam De Doctrina Christiana yang membuat paparan panjang lebar secara teoritis mengenai konsep penting hermeneutik dalam hubungannya dengan bahasa dan pikiran manusia melalui konsep inkarnasi dalam tubuh Kristen.  Konsep penting tersebut adalah actus signatus  dan actus exercitus.  Kedua konsep ini lahir dari dua macam “kata” (Ing: word dan Lat: verbum), yaitu kata yang diucapkan (verbum exterius/logos proforikos) dan kata yang ada dalam pikiran (verbum interius/logos endiathethos).

Pada saat seseorang mengucapkan sebuah kata (verbum exterius), maka pada saat itu ia bertindak memberikan tanda-tanda (actus signatus) terhadap apa yang dimaksudkan dalam pikirannya.  Buah pikiran yang ada dalam pikirannya terbentuk dari kata-kata batiniah (verbum interius).  Kata-kata batiniah ini bentuknya sangat abstrak dan hanya bisa dipahami dalam konteks yang juga bersifat batiniah, ketika ingin diungkapkan keluar melalui ucapan maka yang diplih adalah kata-kata jasmani (verbum exterius) dan tindakan ini disebut actus signatus.

Menurut Agustinus, proses memilih kata-kata bathin kemudian mengungkapkannya disebut dengan actus exercitusHermeneutik sudah terjadi ketika diri sendiri berusaha menerjemahkan kata-kata bathin ke dalam kata-kata jasmani.  Sama halnya pada saat orang lain sebagai pendengar berusaha mengerti apa sesunguhnya yang dimaksud oleh pembicara/penulis lewat verbum exterius-nya, ia harus berusaha sampai kepada verbum interius dengan melakukan actus exercitus.

Sumbangan penting dari Agustinus dalam perjalanan hermeneutik adalah menetapkan makna hanya pada pernyatan.  Ia menghubungkan konsep inkarnasi dengan teori linguistic-nya dan memberikan pembuktian bahwa yang dinyatakan dalam pernyataan adalah “lautan” makna yang tak terbatas, verbum cortis.  Artinya pemahaman tidaklah ditemukan hanya dari pernyataan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis, walaupun itu telah melewati proses penalaran yang logis. Sebab logika yang hanya berpegang pada pernyataan (logos), serta merta melupakan ada (being) dan bahasa.

 

Zaman Modern

Dari penelusuran zaman di atas, ternyata hermeneutik memiliki perbedaan dari masa ke masa sesuai dengan konteks keberadaannya.  Hal ini dinyatakan oleh Paul Ricoeur dengan sebutan hermeneutik regional.  Artinya hermeneutik yang baru berada pada satu wilayah tertentu, seperti teks keagamaan, teks pada umumnya, atau hanya persoalan dialog tatap muka dan hal-hal retorika belaka.  Hal ini menyebabkan munculnya dua gerakan dalam hermeneutik.  Pertama, gerakan yang berupaya mengangkat hermeneutik regional menjadi hermeneutik universal.  Kedua, deregionalisasi yang memberikan status epistemologis yang sama dengan ilmu-ilmu alam dan kemudian mengangkatnya ke level ontologism.  Upaya ini adalah usaha untuk mendudukan hermeneutik bukan terbatas pada cara mengetahui, akan tetapi sebagai cara mengada.  Gerakan ini disebut radikalisasi, sehingga hermeneutik tidak hanya bersifat umum tetapi juga sekaligus fundamental.  Beberapa tokoh diantaranya adalah:

 

Friedrich Schleiermacher

Ia adalah tokoh yang pertama kali memunculkan istilah deregionalisasi, yang utamanya bertujuan mengekstrak suatu persoalan umum dari aktivitas interpretasi yang berbeda-beda.  Ia hidup pada zaman yang memiliki corak interpretasi ganda, yaitu interpretasi atas teks-teks klasik (Yunani – Latin) dan tafsir atas Alkitab.

Ia berupaya memberi jalan agar interpretasi filologi dan interpretasi biblical sampai pada tingkatan seni tafsir, menjadi sebuah teknologi yang bukan hanya sekedar kumpulan tata cara dan kaidah yang tidak saling berkaitan.  Semangat yang sama juga sejalan dengan upaya Kant dalam tulisannya Critique of Pure Reason.  Didalamnya ia menganggap bahwa cara dan kapasitas mengetahui mesti dipertanyakan dahulu sebelum hakekat segala sesuatu dihadapi dan diselidiki secara metafisis.  Saperti Schleiermacher yang menekankan usahanya pada bagaimana cara dan kemampuan serta hakekat interpretasi dari pada mempersoalkan benar atau tidaknya sesuatu.

Sedari dulu dipahami bahwa dalam proses hermeneutik sangatlah memungkinkan untuk terjadi kesalahpahaman, yang oleh para teoritikus dan filologis dianggap sebagai momok, tetapi oleh Schleiermacher diangap sebagai sebuah syarat mencapai pemahaman.  Dalam hubungannya dengan peluang kesalahpahaman, Schleiermacher mengelompokkan hermeneutik menjadi hermeneutik longgar dan hermeneutik ketat.

Hermeneutik longgar adalah pengandaian dalam tindak menafsir pemahaman muncul secara otomatis; sebaliknya, hermeneutik ketat pengandaian yang muncul secara otomatis adalah kesalahpahaman.  Temuan Schleiermacher ini menyatakan bahwa kesalahpahaman bukanlah factor x yang berpeluang terjadi, namun ia adalah bagian integral dari kemungkinan interpretasi, yang oleh karenanya ia harus diawasi dan disingkirkan.

Baginya, tugas dari hermeneutik adalah mengisolasi proses pemahaman sehingga muncul metode hermenetik yang independen.  Dari prinsipnya ini, ia telah memisahkan diri dengan metode hermeneutik sebelumnya yang hanya berpijak pada penelaan bahasa asing atau teks-teks tertulis.  Jenis hermeneutik lama ini, yang juga disebut interpretasi objektif menggunakan bahasa umum/bersama dengan tidak mengindahkan pengarang.  Ketika makna dari sebuah kata sudah ditemukan – entahkan seperti maksud dari pengarang – maka selesai sudah tugas dari hermeneutik.  Disisi lain, interpretasi jenis ini juga bernilai negative, sebab penentuan maknanya hanyalah berdasarkan istilah bahasa atau kata yang digunakan.  Bagi Schleiermacher sasaran dari interpretasi adalah subjektivitas dari pembicara atau pengarang, sedangkan bahasa dapat saja diabaikan pengertiannya.

Hal inilah yang menyebabkan Schleiermacher selain memberi perhatian pada pentingnya interpretasi gramatikal juga pada interpretasi psikologisInterpretasi psikologis adalah uapaya menempatkan kepala interpreter ke dalam kepala pengarang, berusaha melacak asal usul nilai batiniah dari setiap ungkapannya.  Usaha interpretasi psikologis tentu saja tidak dapat mengabaikan aspek ramalan atau tebakan terhadap maksud sesungguhnya dari pengarang.  Inilah titik tersulitnya, sebab interpreter tentu saja sangat sulit menemukan sisi subjektivitas yang komprehensif dari pengarang jika ia tidak berusaha mengaitkannya dengan hal-hal lain disekitar pengarang.

Subjektivitas yang komprehensif dari pengarang barulah dicapai apabila ia dibandingkan (to be campared) dan diperhadapkan (to be contrasted) dengan orang-orang semasanya.  Kebuntuan di atas hanyalah bisa teratasi melalui upaya mengklarifikasi hubungan karya tersebut dengan subjektivitas pengarang dan dengan mengalihkan arah interpretasi empatik terhadap subjektivitas pengarang menuju pengertian dan rujukan dari karya itu sendiri.  Inilah sumbangan penting dari Schleiermacher terhadap dunia hermeneutik.

 

Wilhelm Dilthey

Masalah kebuntuan hermeneutik dalam pengungkapan makna secara komprehensif juga menjadi perhatian dari Dilthey.  Ia telah menjadi titik klimaks keuniversalan yang selama ini dicita-citakan oleh deregionalisasi persoalan-persoalan hermeneutik.  Beranjak dari hal ini, ia mempersiapkan jalan bagi tergantikannya epistemology oleh ontology dalam hermeneutik.  Dengan demikian dimulailah babak baru radikalisasi yang menggantikan deregionalisasi.

Ia sudah ada dalam perjuangan dengan para pemikir hermeneutik sebelum menggumuli masalah interpretasi regional ke ranah pengetahuan sejarah yang lebih besar.  Beberapa pemikir di zamannya antara lain: Schleiermacher, L. Ranke dan J.D Drosen.  Pemikir-pemikir jerman ini telah memandang hermeneutik dalam realitas tertinggi bagi teks.  Prinsip kerja mereka adalah terlebih dahulu mempertanyakan persoalan keterpaduan sejarah sebagai dokumen kemanusiaan yang besar sebelum mempersoalkan kepaduan sebuah teks.  Inilah ekspresi kehidupan fundamental bagi mereka.

Dalam hal ini Dilthey terjebak pada dua peperangan.  Pertama, dalam tugasnya sebagai ahli hermeneutik dan sejarah, ia harus menentukan minat menafsirkan teks-teks atau mengkaji keterkaitan historis yang melandasinya, antara system yang diakronis dengan yang sinkronis.  Kedua, dalam semangat positivism ia harus memikirkan kemasukakalan sejarah.  Sehingga proyek besar yang dihadapi Dilthey adalah peran penjelasan (explanation) akan alam dan pemahaman (understanding) akan sejarah.  Persoalan ini memberi dampak besar sekali lagi bagi hermeneutik, sebab melalui persoalan ini hermeneutik menjadi terbagi-bagi antara penjelasan menurut ilmu alam atau ranah intiuisi psikologisnya Schleiermacher.

Untunglah Dilthey tetap mengembalikan analisanya tentang manusia dalam kemanusiaan dan melihat manusia sebagai individu.  Tentu saja individu yang memiliki rasio dan ego transcendental.  Hal ini ia lakukan dalam keberadaannya sebagai pengikut Kant.  Dengan dasar ini dapat dilihat bahwa pijakan Dilthey dalam membangun pemahamannya adalah dengan melihat manusia dari sudut pandang psikologis.  Manusia yang bertindak dalam komunitas masyarakat dan sejarah.  Pada akhirnya ia mengetengahkan prinsip kesaling terkaitan dengan seluruh system kehidupan.

Konsep kesaling terkaitan adalah buah pikir yang dipinjam Dilthey dari Husserl pada tahun 1900 yang sebelumnya telah mengemukakan konsep intensionalitas.  Konsep intensionalitas adalah perangkat kesadaran untuk memaksudkan suatu makna yang dapat dikenali.  Sumbangan penting dari konsep ini disebabkan oleh kehidupan mental yang tidak dapat dijajaki secara langsung.  Ia hanya dapat dikenali melalui apa yang dimaksudkan, lewat kesaling terkaitan objektif dan melalui pengenalan akan wilayahnya.

Dalam study Dilthey, hermeneutik mengalami pergeseran dari persoalan bagaimana memasuki kepala pengarang atau orang lain menjadi bagaimana merekonstruksi bentuk-bentuk yang jadi wadah bagi orang lain.  Ia mereproduksi jejak psikologis ke dalam wadah yang mengandung karakteristik benda materi, misalnya teks atau monument/prasasti juga bahasa, walaupun tetap dalam semangat hermeneutik psikologisnya Schleiermacher.  Konsekuensi ini membawa Dilthey kembali pada kajian filologis, sehingga ia pun menyatakan bahwa peran utama hermeneutik adalah secara teoritis menetapkan validitas universal bagi interpretasi, demi menghindari dorongan Romantisisme dan Subjektivisme Skeptis, dimana validitas itu dapat menjadi landasan setiap kepastian sejarah.

Dari konsep-komsep inilah Dilthey melakukan generalisasi bagi prinsip hermeneutik dan lebih mendekatkannya dalam kehidupan manusia.  Makna yang diperoleh, nilai yang ada dan tujuan yang ada di masa depan merupakan alat untuk menyusun ulang dinamika kehidupan melalui tiga dimensi waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan.  Perbedaan antara hermeneutik psikologis dengan hermeneutik eksegetikal terletak pada bagaimana membangun nilai objektif dari sebuah kehidupan.  Itulah sebabnya, ia memasukan hermeneutik kedalam wilayah universal.  Baginya, hermeneutik  adalah pertemuan degan pengetahuan sejarah universal, sebagai bentuk universalisasi individu.

 

Martin Heidegger

Dengan menempuh jalan yang lain tujuan, Heidegger menjadi berbeda dengan Dilthey.  Baginya, pemahaman bukanlah bagian dari kapasitas pengetahuan manusia, tetapi lebih kepada kondisi ontologis manusia yang paling fundamental.  Di bagian pembukaan dari bukunya yang berjudul Being and Time, ia berpendapat tujuan atau apa yang dicari adalah motivasi yang kuat yang mengarahkan hermeneutis dalam mengolah pertanyaannya.  Dalam hal ini sangat kuat perbedaan antara Heidegger dengan para pengikut Kant (neo-Kantian), sebab teori pengerahuan barulah dapat dilaksanakan apabila sebelumnya telah dilakukan penelitian yang berpusatkan pada cara atau jalan yang membawa pada pertemuan dengan suatu “yang ada” (a being),  terlebih sebelum pengetahuan itu menghadapi “yang ada” sebagai sebuah objek yang dihadapi subjek.

Sebaliknya, bagi Heidegger, kendati menekankan signifikansi Dasein di dalam Being and Time dan dalam karya-karyanya yang belakangan sebagai “kita sebagai yang ada di sana,” namun Dasein itu bukanlah sebagai subjek yang menghadapi objek, akan tetapi sebagai suatu “yang ada” (a being) di dalam Ada (Being).  Dasein adalah tempat dimana pertanyaan tentang “yang ada” lahir, atau dengan kata lain, menjadi tempat terjadinya pengejawantahan.  Dasein menjadi sangat penting dalam pemikiran Heidegger, karena ia sendiri adalah suatu “yang ada” yang memahami Ada-nya sendiri.

Oleh karena itu, struktur Dasein sebagai suatu “yang ada” mesti memiliki pra-pemahaman ontologism tentang ada-nya.  Dari sisi ontologis, dampak dari analisis atas Dasein ini sangat nyata, karena aturan Dasein  tidak akan  dikenali dengan cara derivasi dari prinsip yang lebih tinggi sebagaimana nyata dalam tradisi metafisika barat sebelum Heidegger, bahwa manusia sebagai ini atau itu, hakekatnya begini dan begitu, akan tetapi lewat klarifikasi atau penjernihan atau penyingkapan.

Hal penting dalam penafsiran adalah interpretasi terhadap berbagai model “yang ada” dalam keberadaannya yang paling dasar.  Menurut Heidegger, proses fundamentalisasi ini telah berhasil dicontohkan Kant dalam Kritik atas Rasio Murni-nya, sebab pendekatan Kant disitu mencoba mengincar apa yang dimiliki oleh alam, bukannya terletak pada teori pengetahuan.  Logika transendentalnya adalah logika a priori tentang ranah “yang ada” yang disebut alam.

Bagi Heidegger, pemahaman bukanlah semata salah satu bentuk kapasitas kognitif manusia, akan tetapi kemampuan paling dasar bagi manusia untuk hidup dan menghayati dunianya.  Pemahaman primer akan diperoleh manusia ketika ia menginterpretasi dunianya menurut jalan atau cara dengan status filosofis yang berbeda dengan apa yang berlangsung setiap harinya.

Dalam usahanya untuk menemukan makna suatu kebenaran, Heidegger membaginya atas dua prinsip.  Pertama, kebenaran sebagai “kebertemuan”; kedua, kebenaran sebagai “keterasingan”.  Menurutnya, pemahaman bukanlah sekedar percakapan tentang bagaimana menemukan pengiyaan (assertion) tentang dunia, tetapi terletak pada keseluruhan penggalian terhadap cara mengada di dunia (mode in being-in-the-world).  Oleh karena itu, pemahaman tidak hanya sekedar mengerti salah satu sisi dunia dengan menemukan fakta-fakta tertentu.  Lebih dari pada itu, pemahaman adalah proses ketersingkapan segala kemungkinan-kemungkinan.

Pada akhirnya, pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman dengan cara ini ini adalah pengetahuan yang berbentuk know-how, yang lebih nyata bila dibandingkan dengan know-that.  Kemungkinan-kemungkinan dari pengetahuan semacam ini menyebabkan manusia bukan lagi sibuk dengan urusan kebebasan memilih (libertas indifferentiae), akan tetapi melibatkan sisi proyeksi.  Bagi manusia, untuk menjadi diri sendiri memerlukan interpretasi.  Hal ini paling tidak disebabkan oleh dua alasan.  Pertama, seseorang tidak akan mampu menjadi dirinya sendiri jika ia tidak menafsirkan siapa dirinya dan bagaimana agar ia terus menjadi dirinya.  Kedua, apa pun yang ia tafsirkan termasuk dirinya sendiri, pada dasarnya juga merupakan sebuah interpretasi.

 

Dalam Sistematika Teologi

Dari tinjauan sejarah di atas, pada awalnya hermeneutik adalah bagian dari disiplin ilmu.  Setiap cabang atau disiplin ilmu memiliki hermeneutiknya sendiri dalam menjelaskan dirinya.  Paling tidak hermeneutik digunakan dalam tiga aspek hidup.  Pertama, sebagai sarana untuk mengungkapkan wangsit dari dewa; Kedua, untuk merohanikan (allegorist) sabda-sabda dan tulisan klasik yang telah dihasilkan sebelumnya; dan Ketiga, menjadi sarana pembedahan ilmiah dari makna yang tersembunyi dari sebuah kata, baik itu kata verbal maupun kata tulis.

Perjalanan sejarah juga yang membawa dan menempatkan hermeneutik sebagai salah satu disiplin ilmu yang berdiri sejajar dengan bidang ilmu lain.  Tidak ada lagi istilah hermeneutik dalam politik, hermeneutik dalam medis, hermeneutik dalam religi, dll.  Pada akhirnya hermeneutik menempati posisi yang sejajar dengan bidang ilmu lain seperti politik, medis dan teologi.

Khusus dalam kajian teologi, ia berdiri sejajar dengan disiplin ilmu teologi lainnya.  Bahkan dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah bidang ilmu dasar dalam rancang bangun teologi (dogmatika) dan rancang bangun praksis (praktika).  Jelas terlihat bahwa hermeneutik memiliki kedudukan yang sama penting dengan bidang-bidang kajian teologi lainnya.  Ia tidak dapat di anak tirikan atau dianggap remeh, sekaligus tidak dapat menjadi satu-satunya bidang yang disanjung sehingga meninggalkan kajian yang lain.  Artinya hermeneutik haruslah dipelajari sama seperti kajian teologi lainnya, juga ia tidak dapat berdiri sendiri dalam usaha pembentangan atau penyingkapan kebenaran Allah.

 

Dalam Pekabaran Injil

Kekristenan bertumbuh dari pemberitaan Injil.  Dengan demikian keseluruhan kajian teologi haruslah bermuara pada upaya pemberitaan Injil.  Sama seperti kajian teologi yang lain, hermeneutik juga memiliki peranan penting dalam pekabaran Injil.  Sebagai dasar pijakan, maka hermeneutik juga memiliki peranan penting dalam memberikan arah perjalanan dan pertumbuhan kekristenan.  Selain itu, ia juga menjadi daya dorong dan daya gerak bagi rancang bangun teologi yang bermuara pada tindakan nyata di dunia.  Ia menjadi dasar bangunan dogmatika untuk nantinya dijadikan pedoman dalam membangun tingkah laku praktikal.

 

Lingkungan Perkembangan Teologi

Hermeneutik Modern

Masa periode ini adalah tahun 1800 – sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah dilakukan masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrim kepada ekstrim yang lain. Dalam era modern ini serangan yang paling tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir. Sebagai contohnya:

  1. Liberalisme.  Rasionalisme telah membuka era modern untuk lahirnya Liberalisme. Secara umum diringkaskan pendekatan mereka adalah:
    1. Hal-hal yang tidak dapat diterima oleh rasio harus ditolak.
    2. Inspirasi didefinisikan ulang, yaitu merupakan tulisan hasil pengalaman religius manusia (penulis Alkitab).
    3. Supranatural diartikan sebagai alam pikiran abstrak manusia.
    4. Sesuai dengan pikiran evolusi, maka Alkitab adalah tulisan primitif kalau dibandingkan dengan pikiran teologis modern.
    5. Menjunjung tinggi nilai etika, tapi menolak tafsiran teologianya.
    6. Alkitab harus ditafsirkan secara historis, sebagai konsep teologis dari penulis Alkitab sendiri.
    7. Neo Ortodoks.  Karl Barth tidak mau disebut sebagai penganut Liberalisme, ia tetap ingin mencari kembali inti-inti Teologia Reformasi. Dalam pendekatannya Karl Barth menolak baik inspirasi maupun ketidakbersalahan Alkitab karena menurut Barth, Penyataan/Firman Allah baru akan terjadi apabila ada pertemuan antara Allah dan manusia dalam Alkitab.  Alkitab sendiri bukanlah Firman Tuhan tetapi hanya saksi akan Firman Tuhan. Oleh karena itu penafsiran Alkitab merupakan pekerjaan sia-sia kalau bukan Allah sendiri yang bertemu dengan manusia.
    8. Konservatisme/injili. Gerakan Konservatisme merupakan reaksi untuk melawan pikiran-pikiran modern. Beberapa pendekatan mereka pada Alkitab adalah antara lain:
    9. Rasio harus ditaklukkan di bawah otoritas Alkitab, karena rasio tidak cukup untuk menginterpretasi Alkitab. Oleh karena itu Roh Kudus adalah vital untuk memberikan penerangan supaya kita mengerti.
    10. Pendekatan penafsiran literal, karena percaya pada ketidakbersalahan Alkitab.
    11. Percaya pada Penyataan yang progresif, tetapi kebenaran tidaklah dibatasi oleh waktu sehingga berlaku di sepanjang jaman.
  • Golongan Dispensasi
  • Golongan Fundamentalisme
  • Golongan Moderat
  • Golongan Alegori
  1. Hermeneutik Baru. Tokohnya adalah Rudolf Bultman. Prinsip yang dipakai untuk menafsir adalah kita harus membaca sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan, karena manusia tidak boleh mengabaikan intelektualitasnya. Otoritas Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Mereka bahkan meragukan apakah apa yang Alkitab katakan itu sama dengan apa yang dituliskan. Tujuan utama Hermeneutik Baru adalah mencoba menghindarkan diri dari kelemahan yang dimiliki Liberalisme.
  2. Penasiran Sejarah Agama
  3. Penafsiran Permulaan ‘Jiwa Universal’
  4. Penafsiran Sejarah Keselamatan
  5. Penafsiran Eskatologi
  6. Pelbagai Analisa
  7. Penafsiran Kontekstualisasi
  8. Penekanan pada tata bahasa dan latar belakang

 

Aliran-aliran Hermeneutik

Metode Alegoris

Metode Alegoris berangkat dari suatu asumsi bahwa dibalik arti harafiah yang sudah biasa dan jelas itu terdapat arti sesungguhnya (kedua) yang lebih dalam yang perlu ditemukan oleh orang Kristen yang lebih dewasa. Dalam menafsirkan perikop Alkitab mereka membandingkan masing-masing fakta/informasi yang sudah jelas untuk membuka kebenaran rohani tersembunyi dibalik pengertian literalnya.  Metode Alegoris tidak hanya populer di gereja-gereja purba, karena dalam gereja modern sekarangpun masih banyak ditemukan cara penafsiran Alkitab seperti ini. Mereka sering berpendapat bahwa apa yang Allah katakan melalui penulis-penulis Alkitab bukanlah arti yang sesungguhnya. Bahaya dari metode ini adalah tidak adanya batasan dan aturan secara Alkitabiah untuk memeriksa kebenaran beritanya. Bahkan tujuan dan maksud penulisanpun akhirnya diabaikan sama sekali.

Metode Mistis.

Banyak ahli tafsir Alkitab menggolongkan metode penafsiran Mistis sama dengan metode penafsiran Alegoris, karena memang sangat mirip.  Penganut metode ini biasanya bercaya bahwa ada arti rohani dibalik semua arti harafiah yang kelihatan.  Dan mereka memberikan botot yang lebih berat kepada hasil penafsiran mistis daripada arti yang sudah biasa.  Bahaya dari cara penafsiran ini terletak pada keragaman dan ketidak-konsistenan hasil penafsiran mereka, sehingga tidak terkontrol banyaknya ragam hasil penafsiran mereka yang sering kali justru memecah belah jemaat. Hal ni juga memberikan kesulitan dalam mempertanggung jawabkan doktrin kejelasan (clarity) Alkitab, dan justru sebaliknya mereka membuat Alkitab tidak jelas dan Allah seakan-akan bermain tebak-tabakan dengan penafsir untuk menemukan arti rohani dari setiap ayat. Dan bahaya yang paling besar adalah penafsir menjadi otoritas tertinggi dalam menentukan kebenaran penafsirannya.

 

Metode Perenungan (Devotional).

Tujuan metode penafsiran ini adalah hanya pada pengaplikasiannya saja sehingga penganut metode ini menafsirkan Alkitab dalam konteks pengalaman hidup mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa Alkitab ditulis memang untuk tujuan pengkudusan pribadi semata-mata oleh karena itu arti rohani ayat-ayat tsb. hanya akan dapat ditemukan dari terang pergumulan rohani pribadi. Oleh karena itu yang paling penting dalam mengerti Alkitab adalah apa yang Tuhan katakan kepada saya pribadi.  Bahaya dari metode penafsiran ini adalah menjadikan Firman Tuhan menjadi pusat aplikasi pribadi saja dan mengabaikan memahami karya Tuhan dan campur tangan Tuhan dalam sejarah. Kelemahan yang lain dari metode ini adalah akhirnya jatuh pada kesalahan yang sama dengan metode Alegoris dan Mistis, karena mereka akhirnya mengalegoriskan dan merohanikan Firman Tuhan untuk bisa sesuai dengan kebutuhan pribadi.

 

Metode Rasional.

Metode Rasional sangat digemari pada masa sesudah Reformasi, namun demikian dampaknya masih terasa sampai jaman modern ini dalam berbagai macam bentuk penafsiran yang pada dasarnya bersumber pada metode Rasional. Penganut metode Rasional berasumsi bahwa Alkitab bukanlah otoritas tertinggi yang harus menjadi panutan. Alkitab ditulis oleh manusia maka berarti merupakan hasil karya rasio manusia. Oleh karena itu kalau ada bagian-bagian Alkitab yang tidak dapat diterima oleh rasio manusia maka bisa dikatakan bahwa bagian Alkitab tsb. hanyalah mitos saja.  Meskipun metode ini disebut sebagai “rasional” dalam kenyataan metode penafsiran ini adalah metode yang paling tidak rasional. Jelas bahwa penganut metode ini sebenarnya tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab, sebaliknya mereka hanya memperhatikan pada apa yang mereka pikir penulis Alkitab katakan. Rasio mereka pakai menjadi standard kebenaran yang lebih tinggi dari Firman Tuhan (Alkitab). Mereka menafsirkan Alkitab hanya untuk mencari aplikasi bagi standard moral mereka saja.

 

Metode Literal (Harafiah).

Metode Literal adalah metode penafsiran Alkitab yang paling tua, karena metode inilah yang dipakai pertama kali oleh Bapak Hermeneutik Ezra. Metode ini juga yang dipakai oleh Tuhan Yesus dan pada rasul. Metode penafsiran Literal berasumsi bahwa kata-kata yang dipakai dalam Alkitab adalah kata-kata yang memiliki arti seperti yang diterima oleh manusia normal pada umumnya, yang memiliki arti yang yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan oleh akal sehat manusia. Tujuan Allah memberikan FirmanNya adalah supaya dimengerti oleh manusia oleh karena itu Allah memakai bahasa dan hukum-hukum komunikasi manusia untuk menafsirkan arti dan maksudnya. Yang dimaksud dengan “literal” (harafiah) adalah arti yang biasa yang diterima secara sosial dan adat istiadat setempat dalam konteks dimana penulis Alkitab itu hidup. Oleh karena itu apabila arti ayat-ayat Alkitab tidak jelas maka penafsir harus kembali melihat konteks bahasa dan budaya (sejarah) dimana penulis itu hidup dan penafsir harus menafsirkan ayat-ayat itu sesuai dengan terang dan pertimbangan konteks bahasa dan budaya (sejarah) itu.  Hal-hal yang perlu dipahami dalam menggunakan metode Literal:

  1. Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti figuratif dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.
  2. Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya ari rohani dari ayat-ayat tertentu dalam Alkitab.
  3. Metode Literal tidak berarti mengabaikan tujuan aplikasi pribadi dalam penafsiran.
  4. Metode Literal tidak berarti tidak mengakui adanya arti yang dalam yang harus ditemukan dalam penafsiran.

 

Beberapa kelalaian dalam menafsir Alkitab:

  1. Tidak mempercayai Otoritas Alkitab
  2. Melalaikan bahasa asli
  3. Memberi pengertian baru diluar konteks
  4. Melalaikan konteks
  5. Mengabaikan latar belakang
  6. Hanya menitik beratkan pada bagian tertentu
  7. Kurang memperhatikan bentuk/struktur
  8. Memakai Alkitab untuk mencapai tujuan
  9. Penafsiran harfiah yang kaku
  10. Imajinasi yang tidak terkontrol

General Principles of Interpretation
Asumsi awal

Pekerjaan hermeneutik diawali dengan asumsi perihal otoritatif.  Apakah otoritas kebanaran ada pada tradisi, akal budi atau kitab suci?  Bagi kelompok Katolik, tradisi adalah otoritatif; bagi kelompok rationalism (didalamnya berdiri kokoh liberalism dan modernism) akal budi adalah otoritatif; sedangkan kelompok Injili memandang kitab suci sebagai otoritatif.  Bagi kelompok ini peraturan pertama mengenai penafsiran adalah Alkitab adalah penentu terakhir.

Pokok mengenai otoritas alkitabiah sering dikaitkan dengan persoalan mengenai inspirasi dari Alkitab.  Seseorang tidak akan mempercayai Alkitab sepenuhnya sebagai otoritas apabila ia meragukan bahwa Alkitab adalah inspirasi Firman Allah.  Otoritas berkaitan dengan kemauan, ketaatan dan melakukannya.  Inspirasi berhubungan dengan intelektualitas, pengertian dan pengetahuan.  Sehingga inspirasi yang benar hanya akan lahir dari otoritas yang benar.

 

Sui Ipsius Interpress

Alkitab menyatakan bahwa penafsiran pertama kali dikerjakan oleh iblis (Kej. 3:1-5).  Perhatikanlah bahwa iblis tidak menolak bahwa Allah lah yang telah mengatakan firman-Nya, namun ia memberikan pengertian yang keliru.  Kesalahan terjadi karena penambahan dan pengurangan nilai kebenaran.

Kej. 2:16 – 17                                     vs                                 Kej. 3:2-3

Tidak boleh makan                                                                  + raba

Nama pohon disebutkan                                                         nama pohon tidak disebutkan

Makan – makan                                                                       makan saja

Mati – mati                                                                              nanti kami mati

Pengurangan adalah hanya mengutip bagian yang disenangi, dan meninggalkan yang sisa; penambahan adalah menyatakan apa yang lebih dari apa yang diungkapkan Alkitab.  Sikap yang tepat adalah membiarkan Alkitab menerangkan dirinya sendiri.  Alkkitab akan meminterpretasikan dirinya sendiri apabila kita mempelajarinya secara wajar.

 

Peranan Roh Kudus

Beberapa bagian Alkitab yang perlu disimak:

Matius 13:9

II Korintus 4:3-4

I Korintus 2:14

Yohanes 16:13

 

Objektifitas

Pengalaman pribadi – apapun pengalaman itu – harus disesuaikan dengan Alkitab dan diinterpretasikan.  Pengalaman pribadi hanya akan bernilai apabila ditafsirkan menurut terang Alkitab.  Pengalaman pribadi merupakan hal yang penting dalam perjalanan iman, namun berartinya ia hanya apabila ditempatkan pada jalan yang benar dan wajar.

 

Motivasi utama Alkitab

Pada saat Allah mewahyukan kebenaran-Nya dan Roh Kudus mengawasi penulisannya, maka semua dimaksudkan agar terjadi perjumpaan dan percakapan antara Allah dengan manusia.  Alkitab hadir untuk membentuk kehidupan manusia, namun perlu untuk memikirkan dua hal berikut ini:

  1. Beberapa ayat tidak dapat diaplikasikan dengan cara yang sama persis, seperti pada saat ditulis.  Misalnya Imamat 7:1-5, sebab Perjanjian Baru menulis Efesus 2:15.
  2. Aplikasi haruslah lahir dari interpretasi yang tepat

 

Setiap orang adalah penafsir

Prinsip ini merupakan asalah satu dari tujuan reformasi gereja pada abad 16.  Selama beberapa abad, orang percaya telah begitu bergantung pada otoritas gereja dalam menafsirkan Alkitab dan itu menjadi alat gereja untuk memeras jemaat.  Reformasi menyebabkan setiap pribadi mampu diperengkapi untuk menafsir Alkitab, sehingga ia dapat mengalami perjumpaan dan percakapan dengan Allah.  Bahkan Roh Kudus memberikan kepekaan kepada pembaca sehingga mampu memahami pesan Tuhan bagi dirinya.  Allah sendiri meminta setiap orang percaya untuk memiliki waktu khusus dalam perjumpaan dan percakapan dengan Allah.

 

Peranan sejarah gereja

Sejarah telah membuktikan bagaimana Allah menang dalam memelihara sabda-Nya, dan bakan sejarah gereja telah menjadi bukti bahwa gereja tidak lah dalam posisi menentukan apa yang Alkitab ajarkan, namun apa yang Alkitab tetapkan untuk diajarkan oleh gereja.  Penafsiran dari gereja mempunyai otoritas hanya sepanjang itu diajarkan dan diakui oleh Alkitab.  Sejarah tidak dimaksudkan menjadi penentu dalam penafsiran Alkitab, karena sejarah juga yang membuktikan bahwa ada waktu-waktu dimana gereja bersikap tidak jujur terhadap Alkitab.

 

Janji Allah yang kekal

Sebagian besar dari Alkitab berisi janji.  Ini berarti bahwa janji-janji dari Allah yang terdapat dalam Alkitab merupakan sarana Allah mengungkapkan kehendak-Nya atas manusia.

 

Grammatical Principles of Interpretation

Alkitab hanya memiliki satu pengertian dan harus ditafsirkan hurufiah

Komunikasi adalah prinsip penting dalam menyampaikan sebuah pesan.  Komunikasi sebuah pesan bermaksud pertama menyampaikan buah pikiran dan kedua bahwa bahasa adalah sarana terpenting dan dapat dipercaya dari sebuah komunikasi.  Sebagai penerima pesan penting bagi kita untuk memikirkan dua hal yaitu pertama suatu keinginan untuk tidak melaksanakan apa yang dipesankan atau kedua keinginan untuk melaksanakan apa yang dipesankan.  Dua pokok pikiran ini akan mendorong kita melihat setiap isi Alkitab.  Beberapa role yang harus dipahami:

  1. 1.      Tafsirkan perkataan-perkataan sesuai dengan pengertian perkataan-perkataan tersebut pada masa penulis
  2. 2.      Tafsirkan suatu perkataan dalam hubungannya dengan kalimat dan konteks
  3. 3.      Tafsirkanlah suatu bagian Alkitab sesuai dengan konteksnya
    1. a.      Makna figurative
    2. b.      Makna Nubuatan

 

Historical Principles of Interpretation

Bagian berbicara perihal tata-cara/susunan historical dari teks.  Pertanyaan-pertanyaan seperti kepada siapa dan oleh siapa kitab ditulis?  Apa dan bagaimana latar belakang serta kebiasaan konteks sekitar teks?  Merupakan bagian dari hal-hal yang diperhitungkan dalam bagian ini.  Beberapa aturan main yang penting untuk diperhatikan:

Alkitab hanya dapat dimengerti dalam terang sejarah Alkitabiah

Sejarah konteks seputar teks perlu untuk dipelajari, beberapa pertanyaan yang penting diajukan adalah:

  1. Kepada siapa kitab itu ditulis?
  2. Apa latar belakang dari penulis dan kepenulisan?
  3. Apakah pengalaman, kejadian atau kesempatan pengakibat pesan disampaikan?
  4. Siapakah pemeran utama dalam kitab?

Misalnya:

Apa makna yang kita dapat temukan dalam kitab Kejadian pasal 1 – 11?  Bandingkanlah itu dengan Musa sebagai penulis dan Israel sebagai penerima pesan.

Biasanya kita cenderung membacanya dengan desakan: Apa yang Allah katakan kepada saya?  Bandingkanlah dengan rumusan: Apa yang dikehendaki Allah untuk disampaikan penulis kepada pembaca/pendengar dalam original meaning?  Dengan demikian tidak terjadi ‘lompatan sejarah’ guna menemukan makna dan nilai kebenaran.  Harus diperhatikan perihal adanya kontinuitas penyataan dalam Alkitab antara OT dan NT;  OT World dan modern World sebab kesemuanya terdiri dari: same God, same world, same kind of people.  Sehingga nilai historis tetap dapat dipertahankan dan bahkan dipelihara maknanya, barulah dicari maknanya dalam konteks modern.

 

Progresifitas dan continuity penyataan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Secara sepintas terlihat adanya perbedaan penampilan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, bahkan tidak jarang kita membaginya dengan sebutan masa kutuk dan masa anugerah.  Hal ini memberikan indikasi bahwa Perjanjian Lama adanya penyataan yang keliru tentang Allah dan yang sejati hanya dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru.  Padahal sejarah telah memberi bukti yang bertolak belakang dengan asumsi kebanyakan orang tadi.

Seharusnya kita menempatkan Perjanjian Lama dalam panggung yang sama ketika melihat Perjanjian Baru, bahkan hanya dengan memahami Perjanjian Lama kita dapat memahami Perjanjian Baru.  Dalam pengertian lain, Perjanjian Baru adlah sebuah commentary terhadap Perjanjian Lama.  Ini terbukti misalnya dalam aspek penyataan Allah mengenai maksud dan rencana keselamatan manusia, yang mistery bagi Perjanjian Lama tetapi tersingkap dalam Perjanjian Baru; sebaliknya nilai mistery karya Allah melalui Yesus Kristus menjadi dapat dipahami dalam gambaran Perjanjian Lama.  Misalnya, untuk mengerti ungkapan dalam Yohanes 3:14, maka kita perlu memahami apa yang musa perbuat atas orang Israel (Bil. 21:9).

 

Fakta dan peristiwa historical sebagai symbol kebenaran rohani hanya apabila dinyatakan demikian

Symbol (Yun, Sunbolon) adalah tanda pengingat, tujuannya adalah menghadirkan suatu objek tertentu dalam wujud perlambangan agar makna yang sebenarnya dapat terus diingat.  Symbol digunakan untuk menyatakan sesuatu oleh hubungan, asosiasi, keserupaan secara kebetulan, untuk memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya tidak terlihat.  Misalnya : 1 Kor. 10:1-4:

   SIMBOL                                                                                ARTI

Melintasi laut dan awan          (Kel. 14:22)                                         Merujuk pada baptisan

Bukit batu yang mengeluarkan air (Bil. 20:11                                    Merujuk pada Kristus

Bisa saja ada orang yang menafsirkan bagian tersebut secara literal sebagai penyataan bahwa laut merah adalah symbol dari darah Kristus, yang menyediakan suatu jalan ke Kanaan Sorgawi.  Namun, tentu saja tafsiran seperti ini tidak dapat dipertanggung jawabkan.  Misalnya contoh tafsir alegoris terhadap permohonan Paulus agar Filemon memberi pengampunan kepada Onesimus, yang kemudian ditafsirkan sebagai Filemon sebagai symbol Allah, Onesimus sebagai symbol umat dan Paulus sebagai symbol Kristus.  Ini berbeda dengan penyataan bahwa apa yang diminta Paulus kepada Filemon atas nama Onesimus adalah apa yang telah Kristus lakukan kepada kita.  Aplikasi ini ditarik dari peristiwa historis dengan tanpa mengubah pengertiannya.

 

 

Theological Principles of Interpretation

Teologi secara sederhana adalah study perihal Allah dan hubungan-Nya dengan dunia.  Alkitab memiliki peranan penting sebagai sumber study teologi.  Dalam prakteknya, teologi berupaya menarik kesimpulan dari berbagai topic yang luas dan penting dalam Alkitab.  Bahkan terbukti bahwa prinsip-prinsip teologislah yang telah membentuk suatu doktrin.

 

Grammatikal sebagai pembimbing pemahaman teological

Peraturan ini membawa kita pada sebuah prinsip bahwa hanya dengan mengerti apa yang dikatakan oleh ayat, frase atau pasal kita baru dapat menemukan pengertian sejatinya.  Misalnya: Ibrani 10:26.  Kebanyakan orang menggunakan bagian ini untuk mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi orang Kristen untuk kehilangan keselamatannya.  Padahal bagian ini berbicara perihal orang-orang Yahudi yang mempercayai kurban-kurban persembahan binatang sebagai antisipasi dari Mesias yang akan datang, dengan tidak menyadari bahwa Ia telah datang.  Penulis kitab Ibrani menyatakan fakta dari pengorbanan Kristus.  Pernyataan ini mengatakan bahwa sekali orang-orang Yahudi ini mengerti sebab-sebab dari kematian Yesus dan dengan sengaja mengabaikannya, degan cara kembali pada korban-korban persembahan mereka, maka tidak ada lagi pengorbanan yang akan Allah sediakan pada masa yang akan datang.

 

Kesimpulan hanya setelah memahami

Amsal 18:3 berkata: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.”  Adalah suatu kebodohan untuk tiba pada kesimpulan tanpa mendengarkan semua argumentasi.  Demikian juga, adalah suatu kesalahan untuk menetapkan kesimpulan-kesimpulan mengenai sesuatu doktrin tertentu sebelum mempelajari segala sesuatu yang dikatakan Alkitab mengenai pokok tersebut.  Misalnya ketika kita berhadapan dengan beberapa bagian Perjanjian Baru yang seoalah-olah menyatakan bahwa kita ada diluar jangkauan hukum Taurat (Gal. 5:18), sehingga kita dapat melakukan segala sesuatu dengan sesukanya.  Seharusnya kita perlu memperhadapkan bagian tersebut dengan tulisan Paulus dalam Roma 6:1-4.

 

Tidak ada pertentangan dalam pengajaran sekalipun itu terlihat kontras

Alkitab kaya akan hal-hal yang terlihat memiliki “makna ganda” yang keduanya saling bertentangan.  Kontradiksi ini menjadi alasan bagi sebagian orang untuk melihat betapa cacatnya Alkitab itu.  Padahal kita mereka belum memikirkan secara dalam paradox tersebut, yang sebenarnya tidaklah bertentangan.  Beberapa hal yang dianggap sebagai penyesatan Alkitab adalah:

  1. Trinitas
  2. Dua sifat Kristus
  3. Sumber dan adanya kejahatan
  4. Pemilihan berdaulat dan pra pengetahuan Allah
  5. Ungkapan Allah menyesal (Kej. 6:6; Kel. 32:14; II Sam. 24:16; Yun. 3:10; band, Bil. 23:19)

 

Ajaran harus dibangun berdasarkan study Alkitabiah

Pada akhirnya tafsir biblikallah yang harus menjadi perhatian dari setiap penafsir Alkitab, sebab hanya dengan menggunakan prosedur penyelidikan biblikallah maka hasil yang didapatkan adalah Alkitabiah.  Beberapa hal yang harus dijadikan sebagai pengarah tafsir adalah asumsi:Focus in Biblical Interpretation

  1. Alkitab adalah penyataan Allah yang tidak dapat dibatasi oleh waktu
  2. Alkitab berisi tulisan dengan melibatkan unsur-unsur seputar penulisannya
  3. Allah memberikan pengilhaman dengan melibatkan seluruh keberadaan penulis
  4. Baik penulis, teks, maupun original audience merupakan hal yang sama pentingnya untuk diperhatikan guna menemukan makna kekinian.

 

Popular and academic concern in biblical studies

Biasanya kita terjebak pada dua kutub yang berbeda, yaitu: sebagai kelompok popular atau kelompok akademik.  Kedua ekstrim ini melihat Alkitab secara tidak tepat.

Kelompok Popular:

  1. Melihat bahwa Alkitab adalah buku yang tidak dapat dibatasi waktu
  2. Apa yang Allah ingin nyatakan kepada saya?

Kelompok Akademik:

  1. Alkitab adalah buku seputar sejarah masa lalu dan harus dilihat dalam konteks masa lalu
  2. Apa yang dikehendaki penulis atas pendengar/pembacanya kala itu?

 

Example of Genesis 12:10-20

Alur dramatic dari kisah Abraham:

12:10  Abraham pergi ke Mesir karena kelaparan

12:11-16  Abraham dan Sarai berencana dan Sarai diambil Firaun dan Abraham menjadi tambah kaya

12:17  Tuhan menghukum Firaun karena Sarai

12:18-19  Firaun melepaskan Sarai kembali pada Abraham

12:20  Abraham meninggalkan Mesir dengan lebih kaya

 

Pengertian Original                                       Implikasi Original

Demikianlah mereka akan ada di Mesir          Rencana Allah atas semuanya

Keturunan mereka akan ‘di jual’                     Allah sudah mengingatkan sebelumnya

Intervensi Allah atas peristiwa                        Allah berdaulat atas segala sesuatu

Dilepaskan dari Firaun                                    Percaya pada Allah adalah kunci kesuksesan

 

Definisi istilah dan posisi teologis

Arti Kata Hermeneutik

  1. Kata Hermeneutik dalam bahasa Ibrani adalah pathar, yang artinya adalah menafsir” (to interprete).  Sedangkan kata bendanya adalah pithron, artinya “tafsiran” (interpretation). Kata ini paling umum digunakan dalam konotasi menafsirkan mimpi, karena mimpi berwujud simbol yang artinya tidak jelas.  Kej 41:8,12,15.
  2. Kata Hermeneutik dalam bahasa Yunani adalah hermeneutikos, berasal dari kata hermeneuo, artinya “menafsir” (to interprete).  Kata benda yang dipakai adalah hermeneia, artinya “tafsiran” (interpretation).  Kata ini ambil dari kata Hermes, yaitu nama dewa Yunani yang tugasnya membawa berita-berita dari dewa-dewa kepada manusia.  Kis. 14:11-12.

 

Definisi Hermeneutik

  1. Non-Kristen.  Hermeneutik dimengerti sebagai ilmu umum tentang linguistik; atau peraturan-peraturan yang dipergunakan untuk mencari arti sesungguhnya atau menafsir/menjelaskan suatu pengertian yang tidak jelas artinya.
  2. Kristen.  Hermeneutikadalah bagian dari ilmu Teologia Biblika yang dalam perkembangannya memiliki tiga pengertian:
    • Ilmu yang mempelajari teori-teori, prinsip-prinsip (aturan-aturan) dan metode-metode penafsiran Alkitab.
      “Hermeneutics is the science that teaches us the principles, laws, and methods of interpretations.” (L. Berkhof)
      “Hermeneutics is the science of correct interpretation of the Bible.” (Bernard Ramm)
    • Seni yang menguji kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab.
    • Ilmu yang mempelajari keseluruhan proses penafsiran (konsep keseluruhan dari tugas penafsiran), terutama dalam dimensi spiritual bagi kepentingan pertumbuhan rohani penafsir.


Kesulitan-kesulitan

Gap Linguistik

Salah satu masalah utama yang kita temui adalah bahwa Alkitab pada mulanya ditulis dalam 2 macam bahasa yang bukan bahasa kita, bahkan adalah bahasa yang secara umum sudah tidak dipakai lagi, yaitu: Bahasa Ibrani Kuno, dan Yunani Koine. Dan memang kita ketahui bahwa Alkitab pertama ditulis bukan untuk orang-orang modern sekarang, jadi inilah gap pertama yang harus dihadapi, gap Linguistik.  Untuk kita mempelajari sendiri bahasa-bahasa kuno tersebut, sehingga bisa membaca dan memahami manuskrip-manuskrip Alkitab kuno tersebut tidaklah mungkin.  Tapi kita bersyukur bahwa ada orang-orang yang telah khusus belajar bahasa-bahasa tersebut sehingga memungkinkan kita mempelajarinya dengan cara yang jauh lebih mudah.  Telah tersedia kamus-kamus bahasa (leksikon) yang dapat menolong kita mempelajari kosa kata bahasa asli Alkitab yang kita cari, khususnya bila disertai dengan penjelasan tentang penggunaan tense yang dipakai.  Juga telah cukup tersedia (walaupun dalam bahasa Inggris) buku-buku yang menguraikan tentang arti dan makna kata-kata/frasa/kalimat atau ayat-ayat penting Alkitab yang diambil dari bahasa aslinya.  Hal ini sangat menolong karena banyak kata/istilah-istilah yang sulit kita ketahui makna/artinya jika tidak dimengerti dalam bahasa aslinya.

 

Gap Budaya

Budaya sekitar penulisan Alkitab sangat berbeda dengan konteks budaya modern para pembacanya sekarang.  Oleh karena itu gap budaya ini perlu dijembatani dengan mempelajari budaya, khususnya budaya saat para penulis Alkitab hidup.  Namun ini bukan masalah yang mudah karena ada kira-kira 40 penulis Alkitab yang hidup dalam budaya yang berbeda satu dengan yang lain.  Ada buku-buku yang dapat membantu kita mempelajari budaya Alkitab, misalnya ensiklopedia Alkitab, dan buku-buku pengantar Alkitab.  Disana kita bisa dapatkan informasi tentang cara-cara tertentu mereka melangsungkan kehidupan bermasyarakat, misalnya cara mereka bermata pencaharian, bagaimana mereka bersosialisasi, berkeluarga, melakukan penyembahan atau menjalankan hukum adat istiadat.   Juga hal-hal mengenai perumahan, makanan, pakaian, alat-alat bercocok tanam, senjata perang, alat transportasi, benda-benda seni, alat-alat penyembahan, alat-alat masak, dll.

 

Gap Geografi

Konteks geografi jaman Alkitab sangat asing bagi pembaca modern sekarang, tetapi ini penting dipelajari karena tempat dimana peristiwa-peristiwa dan penulisan-penulisan terjadi dapat memberikan gambaran yang lebih tepat tentang arti peristiwa yang terjadi.  Satu kendala besar adalah perubahan yang cukup drastis antara keadaan waktu lampau dan sekarang sehingga kadang-kadang kita sudah tidak mempunyai informasi lagi tentang tempat-tempat itu.  Buku-buku yang dapat membantu kita mengenal keadaan geografis penulisan Alkitab adalah buku-buku hasil penelitian arkeologi tentang kota-kota, negara-negara dan bangsa-bangsa, juga tentang iklim, susunan (formasi) tanah, laut-laut, sungai-sungai, tanaman dan jenis-jenis binatang pada jaman Alkitab.  Selain penemuan arkeologis, kita juga dapat dibantu dengan peta-peta kuno, foto-foto dan membandingkan dengan peta modern.

 

Gap Sejarah

Konteks sejarah penulis Alkitab adalah berkisar dari jaman Musa sampai Yohanes, yaitu kira-kira 16 abad.  Dibandingkan dengan pembaca Alkitab yang hidup pada jaman modern, maka ada gap yang sangat besar.  Untuk mempelajari tentang sejarah kita bisa dibantu dengan banyak buku-buku sejarah Alkitab (PL dan PB), dimana didalamnya dapat kita pelajari misalnya tentang peristiwa-peristiwa dan keadaan (latar belakang politik, ekonomi, agama) yang mempengaruhi jalannya sejarah atau tindakan para tokoh-tokoh Alkitab.

 

Gap Apresiasi Emosi

Membaca Alkitab sebenarnya seperti membaca sms, sering sekali membuat kita keliru dalam mengetahui apa maksud yang sebenarnya.

 

Alat bantu

Alkitab dalam berbagai versi dan bahasa

Dibutuhkan beberapa versi Alkitab yang baik untuk bisa memungkinkan hasil penafsiran yang baik. Tujuannya adalah untuk menjadi bahan perbandingan guna menemukan ketepatan arti kata atau kekayaan pengertiannya.

±  Alkitab versi Bahasa Indonesia: Terjemahan Lama, Terjemahan Baru, Bahasa Indonesia Sehari-hari, Firman Allah yang Hidup

±  Alkitab versi Bahasa Inggris  : New International Version, Revised Standard Version, New American Standard Bible, dll.

±  Alkitab Bahasa Daerah         : Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Ambon, dll.

±  Alkitab dalam bahasa aslinya.  Alkitab Bahasa Yunani & Ibrani dibutuhkan untuk mereka yang sudah mempelajari bahasa-bahasa Alkitab tersebut.

±  Alkitab dengan nomor Strong atau Alkitab Interlinier. Sangat membantu untuk mencari padanan kata bahasa aslinya dengan bahasa Inggris (karena bahasa Indonesia belum ada).

±  Alkitab dengan anotasi. Pilihlah Alkitab yang memiliki anotasi catatan-catatan tepi atau catatan-catatan kaki, karena hal itu sangat berguna untuk mencari penjelasan lebih lanjut. Alkitab dengan referensi silang. Alkitab dengan referensi silang sangat membantu untuk mendapatkan ayat-ayat paralel sebagai referensi.

 

Kamus

±  Kamus bahasa Indonesia dan Inggris. Baik kamus bahasa Indonesia-Indonesia maupun Inggris-Indonesia diperlukan untuk mencari definisi kata yang benar.

±  Kamus bahasa Ibrani/Yunani. Juga sangat diperlukan kamus kamus bahasa Alkitab (Leksikon) Ibrani/Yunani untuk mencari arti dan penjelasan dalam bahasa aslinya. Untuk itu perlu dilengkapi juga dengan Buku Tata Bahasa Yunani untuk mereka yang mempelajari Alphabet Yunani.

±  Kamus idiom Ibrani/Yunani.  Ada idiom-idiom yang sulit kita ketahui artinya sehingga perlu bantuan dari alat-alat ini.

±  Kamus Alkitab/Ensiklopedia Alkitab.  Sangat berguna untuk mendapatkan penjelasan sehubungan dengan istilah-istilah teologia, nama-nama tempat, orang dan binatang/tumbuh-tumbuhan, dll.

 

Konkordansi

Konkordansi berisi daftar kata-kata yang ada dalam Alkitab yang dilengkapi dengan alamat ayat-ayat dimana kata-kata tersebut berada dalam Alkitab.  Sangat berguna untuk mencari ayat atau padanan ayat yang tidak kita ketahui alamatnya.

 

Buku-Buku Sistem Topik

Buku yang menyusun topik-topik dalam Alkitab sedemikian rupa (sesuai dengan abjad) sehingga mempermudah pencarian ayat-ayat yang membicarakan topik yang sama.

 

Buku Pengantar Alkitab

Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang Kitab-kitab dalam Alkitab, khusus sehubungan dengan latar belakang penulisan kitab-kitab misalnya siapa penulisnya, siapa penerima kitab-kitab itu dan apa tujuan penulisan dan kapan/dimana kitab-kitab itu ditulis, dll.

 

Atlas Alkitab

Menunjukkan gambaran (peta) tempat-tempat dalam Alkitab pada jaman Alkitab. Didalamnya ditunjukkan juga perkiraan ukuran jarak tempat-tempat dan hubungan tempat-tempat itu sesuai dengan sejarah peristiwanya dalam Alkitab.

 

Buku-buku Tafsiran

Buku-buku Tafsiran Alkitab berisi hasil tafsiran oleh para ahli teologia.  Penting diingat bahwa tidak semua buku-buku Tafsiran baik.  Pilihlah buku-buku tafsiran yang baik dan sudah diterima oleh gereja-gereja secara umum.  Buku-buku tafsiran adalah alat yang penting tapi pemakaiannya adalah yang terakhir, khususnya ketika kita mengalami kesulitan menemukan pengertian isi ayat tertentu atau untuk memeriksa/ mencocokkan/ membandingkan hasil tafsiran yang kita kerjakan.

Catatan:

Alat-alat menafsir di atas sangat berguna untuk membantu pekerjaan penafsir, tetapi alat-alat tersebut tidak akan dapat menggantikan pekerjaan dan tanggung jawab penafsir.  Penafsir adalah subjek (pribadi) yang harus mengerjakannya.  Alat-alat yang lengkap dan baik belum cukup menjamin hasil penafsiran yang baik.  Kesungguhan penafsir untuk bergantung kepada Roh Kudus, sebagai Iluminator, dan kemampuan yang cukup dari penafsir sangat menentukan keberhasilan pekerjaan menafsir. Tetapi dengan adanya alat-alat yang lengkap akan memungkinkan hasil maksimal dan akurat.

 

Metode deduktif – induktif

Cara deduktif adalah penafsir Alkitab sudah mempunyai kesimpulan tertentu sebelum ia mempelajari Alkitab.  Karena itu, ia menyelidiki Alkitab dengan tujuan untuk mencari ayat-ayat yang mendukung kesimpulannya tersebut.  Cara induktif adalah penafsir terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab.  Kemudian ia menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan data yang ditemukan dalam Alkitab.

Ingatlah bahwa hermeneutik merupakan langkah pertama eksegesa dan eksposisi, sehingga cara yang tepat adalah dengan menggunakan metode induktif.  Pendekatan yang memakai metode induktif merupakan cara mempelajari Alkitab yang paling dapat dipertanggung jawabkan hasilnya karena metode ini merupakan kesimpulan dari apa yang dinyatakan Allah sendiri di dalam Alkitab.

 

Pengamatan:

Langkah pertama dalam penyelidikan Alkitab adalah berdoa, dengan tujuan Tuhan memberikan penyingkapan seperti yang Ia ingin nyatakan, tetapi juga merupakan bagian penundukan dan penyerahan diri secara total kepada hikmat-Nya.  Dalam konteks ini (metode penyelidikan Alkitab), langkah pertama dianggap sudah clear baik dari sisi urgensinya, arti dan keintiman.  Sehingga langkah pertama disini adalah pengamatan.  Beberapa hal-hal penting yang perlu untuk diamati adalah: konteks, fakta-fakta, struktur, dan bentuk kesusastraan.

 

Konteks

Kebanyakan buku membagi konteks dalam dua bagian besar yaitu konteks dekat dan konteks jauh atau bagian sebelum dan bagian sesudah yang akan dipelajari.  Sehingga pada prakteknya, apabila mau mengamati ayat maka baca paragrafnya, dan apabila mau mengamati paragraf maka baca dulu pasalnya dan seterusnya.  Ini memang benar, namun janganlah lupa bahwa konteks adalah setiap detail bagian yang terkait dengan keseluruhan bagian.  Sehingga hal-hal seperti budaya, kebiasaan, pola, aturan setempat, geografis dan sebagainya merupakan konteks yang perlu dipelajari pada saat mempelajari teks.  Dengan demikian selain dari konteks dekat dan konteks jauh, konteks dapat dikategorikan pada dua kelompok lain yaitu konteks yang ‘terlihat dari teks’ dan konteks yang ‘samar dari teks’.

Latihan 1:  Temukanlah konteks Kej. 1:1

Latihan 2:  Temukanlah konteks Kej. 6:4

 

Fakta-fakta

Hal kedua yang perlu diamati adalah fakta-fakta yang hadir di dalam teks.  Fakta-fakta yang dimaksud disini adalah keterangan nama, pernyataan, pertanyaan, perintah, keadaan atau situasi, keterangan tempat, keterangan waktu atau masa, cara-cara maupun alasan-alasan.  Realitanya tidak ada satu iota pun dari Alkitab yang muncul tanpa tujuan khusus.  Untuk menolong kita dalam pengamatan terhadap fakta-fakta, maka 6 pertanyaan umum dapat dipakai, yaitu who, what, when, where, why dan how (5 W + 1 H).  Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini maka diharapkan kita mampu mencatat setiap fakta-fakta penting yang disajikan Alkitab:

  1. Siapakah (who)?
  2. Apakah (what)?
  3. Kapan (when)?
  4. Dimanakah (where)?
  5. Mengapakah (why)?
  6. Bagaimana caranya (how)?

Latihan 3:  Temukanlah fakta-fakta dari Imamat 10:1-5

 

Struktur

Struktur adalah bagian pembangun sebuah kalimat, frase, paragraf, pasal maupun kitab.  Sama seperti sebuah bangunan yang dibangun berdasarkan strukturnya, maka demikianlah teks dibangun berdasarkan strukturnya.  Dalam hal ini struktur berkaitan dengan tata bahasa yang lazim digunakan.  Struktur kalimat dalam bahasa Indonesia biasanya dikenal dengan Subjek, Predikat dan Objek (+ keterangan).  Namun perlu diingat bahwa pola ini tentu berbeda dengan bahasa lain.  Misalnya saja bahasa Ibrani senantiasa memberikan penekanan pada kata pertama, juga seperti bahasa Yunani yang memberi penekanan pada kata kerja, dan lain sebagainya.

Mengingat bahasa Ibrani dan Yunani memerlukan waktu dan keahlian khusus, maka mata kuliah ini hanya menitik beratkan pada pengamatan struktur dari teks bahasa Indonesia.  Namun, ini tidak berarti bahwa pangamatan struktur yang dilakukan tidak dapat dipertanggung jawabkan.  Asalkan kita setia pada aturan-aturan dan memenuhi kaidah-kaidah yang mengatur maka hasil yang diharapkan pun akan tercapai.  Beberapa hukum struktur yang dapat saja muncul dari teks Alkitab adalah:

  1. Perbandingan – ada hal-hal yang saling diperbandingkan.  Kata-kata kunci:  sama seperti, demikian, sama dengan, dan lainnya.  Ex: Mazmur 1 (orang benar dengan orang fasik).
  2. Kontras – ada hal-hal yang dibedakan.  Biasanya hubungan yang saling berlawanan.  Kata-kata kunci: tetapi, melainkan, dan lainnya.  Ex: Matius 7:24-27 (orang yang bijaksana … orang yang bodoh).
  3. Sebab  Akibat – sesuatu hal yang menyebabkan hal lainnya.  Kata-kata kunci:  karena, sebab, jikalau, maka, dan lainnya.  Ex:  Roma 5:1 (sebab dibenarkan oleh iman maka hidup dalam damai sejahtera).
  4. Pengulangan – ada kata-kata, frase atau ide yang diulangi (kadang-kadang persis sama – kadang-kadang mirip).  Ex:  Matius 5:21-43 (kamu telah mendengar firman …).
  5. Peningkatan pikiran – ada fakta atau ide yang menunjukan adanya perkembangan pikiran di dalam satu paragraf, pasal atau kitab.  Ex.  Yakobus 1:14-15 (dicobai … diseret … dipikat … dibuahi melahirkan dosa … dosa sudah matang … melahirkan maut).
  6. Puncak atau klimaks – Penyusunan bahan sehingga ada fakta atau ide yang menjadi puncak dari semua fakta atau ide yang ada dalam satu paragraf, pasal, atau kitab.  Ex. Kejadian 12:10-20.

12:10  Abraham pergi ke Mesir karena kelaparan

12:11-16  Abraham dan Sarai berencana dan Sarai diambil Firaun sehigga

Abraham tambah kaya

12:17  Tuhan menghukum Firaun karena Sarai

12:18-19  Firaun melepaskan Sarai kembali kepada Abraham

12:20  Abraham meninggalkan Mesir dengan lebih kaya

  1. Titik perubahan arah – Bahan tersusun sehingga berputar pada satu factor.  Ex.  Yudas:17-23.
  2. Pertukaran – ada unsur-unsur yang diganti, sering dipakai untuk menguatkan kontras atau perbandingan.  Ex.  Matius 5:21-22. (kamu telah mendengar firman … tetapi … Aku berkata kepadamu).
  3. Kelanjutan – satu pokok dimulai, kemudian ada pemisah, kemudian dilanjutkan kembali.  Ex.  Kejadian 37, 39 (cerita tentang Yusuf yang hidup saleh dipisahkan oleh kehidupan Yehuda yang tidak saleh – 38 – untuk melanjutkan cerita tentang betapa salehnya Yusuf hidup).
  4. Umum ke tertentu – ada pernyataan umum yang disusul dengan contoh-contoh.  Ex. Efesus 4:17-31 (jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah – jangan kamu berbuat dosa, jangan beri kesempatan kepada iblis, janganlah mencuri lagi, janganlah ada perkataan kotor, janganlah mendukakan Roh Kudus Allah …
  5. Tertentu ke umum – ada contoh-contoh tertentu yang disusul dengan pernyataan umum.  Ex.  Kejadian 1 (pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi … hari pertama … hari kedua … hari ketiga … hari keempat … hari kelima … hari keenam).
  6. Persiapan atau pendahuluan – ada pemasukan latar belakang untuk peristiwa-peristiwa atau gagasan.  Ex.  Kejadian 2:15-17; 3 (perintah diberikan – perintah dilanggar).
  7. Penyingkatan atau ringkasan – ringkasan dari sebuah kisah besar yang dicatat baik pada bagian sebelum atau sesudah.  Ex.  Kejadian 2:4.
  8. Tanya jawab – pertanyaan atau persoalan yang disusul dengan jawaban.  Ex.  Roma 8:31-39.
  9. Tujuan – satu ayat atau paragraf menjelaskan tujuan penulis untuk bagian sebelum atau sesudahnya.  Ex.  Efesus 1:4,5,6.
  10. Bukti – satu bagian membuktikan pernyataan dari bagian sebelum atau sesudahnya.  Ex.  Matius 9:2 … 9:5-6.
  11. Kesejajaran – satu frase atau kalimat sejajar dengan frase atau kalimat berikut.  Ex.  Kolose 1:16.

Penyelidikan:

–          Sistesis – Analisis

Metode sintesis berusaha melihat dan menyelidiki kitab sebagai suatu satuan dan mencoba mengertinya secara keseluruhan; sedangkan Analisis adalah penyelidikan nats secara terperinci dengan melihat strukturnya secara tata bahasa, dan dengan menyusun garis besar yang terperinci yang menyatakan arti dari struktur tersebut.

Perbandingan Sintesis – Analisis

Peninjauan – Hal-hal detail

Pandangan dari pesawat – Pandangan dari sepeda

Teleskop – Mikroskop

Menggabungkan – Melepaskan

 

Langkah-langkah Analisis:

  • Baca
  • Buat kerangka
  • Catatlah pengamatan tentang fakta dan struktur pada kerangka

 

Langkah-langkah Sintesis

  • Selidiki latar belakang buku
  • Amati fakta-fakta serta berikan judul pada setiap bagian
  • Amati struktur buku

ü  Struktur biografis

ü  Struktur geografis

ü  Struktur historis/sejarah

ü  Struktur ideologis

  • Carilah pengertian pokok/tema utama buku
  • Buatlah ringkasan isi buku

–          Kerangka teks

Kerangka teks dapat berupa bagan atan struktur teks yang keduanya bertujuan untuk melihat arah dan alur serta tema besar juga tema kecil yang diusung oleh teks.

–          Original meaning

–          Latihan (Matius 1:1-17)

 

Penafsiran:

–          Konteks

Konteks adalah bagian-bagian yang berkaitan dengan teks, dapat berupa teks yang terletak berdekatan hingga berjauhan, maupun hal-hal yang melatar belakangi peristiwa/teks.

Mempelajari konteks memiliki beberapa kepentingan:

ü  Arti dari kata-kata tertentu bergantung pada kalimatnya

ü  Arti untuk kalimat-kalimat tertentu bergantung pada paragrafnya

ü  Arti dari makna tertentu tergantung dari penyebabnya

–          Literal

Biasanya dalam Alkitab, para penulis menggunakan kata-kata yang dipahami dalam konteks setempat dan dalam arti yang biasa, kecuali apabila bagian tersebut menghendaki memunculkan arti yang tidak literal.  Sehingga arti kata-kata penting sebenarnya bergantung dari konteksnya.

–          Gramatikal

Apabila ada arti yang kurang jelas, maka cobalah untuk mencari kata yang penting dalam kalimat tersebut.

Berilah petujuk apakah kata tersebut berfungsi sebagai kata kerja, anak kalimat, pokok kalimat dan sebagainya.

Amatilah hubungan kata dengan kata-kata yang lain.

Pelajari kata dalam konteks

Bandingkan dengan terjemahan lain

Temukan arti dalam bahasa aslinya

 

–          Historical

Peristiwa-peristiwa yang tertulis di dalam Alkitab terjadi pada masa tertentu dalam sejarah dan tertulis untuk orang-orang pada masa tertentu juga.  Arti yang keliru akan muncul apabila pembaca masa kini tidak terlebih dahulu melihat menurut cara pembaca mula-mula melihatnya.

Buku-buku yang dapat membantu menemukan arti historisnya adalah

ü  Isi Alkitab secara keseluruhan

ü  Referensi yang tercatat dalam Alkitab

ü  Konkordansi

ü  Peta

ü  Kamus Alkitab

ü  Buku tafsiran

Pertanyaan bantu untuk membuka aspek historis adalah:

ü  Kapan?

ü  Dimana?

ü  Siapakah?

ü  Mengapakah?

–          Tujuan penulis

Menelusuri tujuan dari penulis kitab ketika menuliskan kitabnya, kadang-kadang tujuan menjadi jelas karena dinyatakan (ex. 1 Yoh. 5:13); maupun yang tersirat.  Tujuan penulisan akan terlihat dengan mudah melalui bangunan struktur teks atau kitab.

Tujuan penulis merupakan sasaran awal dari membangun tafsiran, sehingga tujuan kita akan mengikuti tujuan dari penulis kitab.

–          Teologis

Salah satu sifat Alkitab yang harus di pelihara adalah sui ipsius interpress.  Datang dengan asumsi bahwa Alkitab itu innerant  dan infallibility mengharuskan kita untuk setia kepada apa yang disampaikan oleh Alkitab.  Dengan demikian keseluruhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki nilai kesinambungan.  Langkah-langkah praktis:

  1. Bandingkanlah hasil tafsiran dengan teks yang lain dalam kitab yang sama.
  2. Bandingkanlah hasil tafsiran dengan kitab lain oleh penulis yang sama.
  3. Bandingkanlah hasil tafsiran dengan Perjanjian yang sama.
  4. Bandingkanlah hasil tasiran dengan seluruh kitab dalam semua Perjanjian.
  5. Gunakanlah catatan referensi atau konkordansi untuk mempermudah.

–          Latihan (Yohanes 1:1-14)

 

Penerapan dalam praktek:

  1. Teks dan Terjemahan
    1. Baca berulang-ulang
    2. Bandingkanlah dengan naskah lain
    3. Buatlah terjemahan sederhana
    4. Buatlah alternative
    5. Buatlah catatan pengamatan
    6. Konteks Kesusastraan dan Sejarah
      1. Periksa latar belakang
      2. Latar sejarah dan kesusasteraan
      3. Periksa latar depan
      4. Bentuk dan Struktur
        1. Tentukan gaya dan bentuk
        2. Menyelidiki situasi
        3. Mencari pola struktur
        4. Memisahkan hal yang unik dan menilai kepentingannya
        5. Data Gramatikal dan Leksikal
          1. Memperhatikan tata bahasa
          2. Membuat daftar istilah penting
          3. Focus pada kata penting
          4. Konteks Alkitabiah dan Teologis
            1. Menganalisis penggunaan pada teks lain
            2. Menganalisis hubungan dengan teks lainnya
            3. Menganalisis penggunaannya secara teologis
          5. Penerapan
            1. Mencatat persoalan kehidupan
            2. Menjelaskan sifat dan penerapan yang mungkin
            3. Mengenali pendengar dan kategori penerapan
            4. Menetapkan focus dan batas-batas dari penerapan

Contoh Penerapan Pedoman Penguraian Teks

Mazmur 23: 1 – 6

Teks dan Terjemahan

Teks LAI @ 2001:

  1. Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
  2. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
  3. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
  4. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
  5. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
  6. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

 

Teks LAI Terjemahan Lama:

  1. Mazmur Daud. *Bahwa Tuhan itulah gembalaku, maka tiada aku akan kekurangan suatupun.
  2. Dibaringkan-Nya aku pada tempat yang banyak rumputnya, dan dihantar-Nya aku perlahan-lahan kepada air yang tenang sekali.
  3. Disegarkan-Nya jiwaku dan dihantar-Nya aku pada jalan kebenaran karena nama-Nya.
  4. Jikalau aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut sekalipun, tiada juga aku takut bahaya, karena Engkau juga menyertai aku, bahwa batang-Mu dan tongkat-Mu ada menghiburkan daku.
  5. Maka Engkau menyajikan hidangan di hadapanku tentang segala seteruku; dan Engkau menyirami kepalaku dengan minyak, dan memumbungkan pialakupun.
  6. Maka sesungguhnya kebajikan dan kemurahan akan mengikut aku pada segala hari umur hidupku, maka aku akan masuk selalu ke dalam bait Tuhan sampai selama-lamanya.

 

Teks Bahasa Indonesia Sehari-hari:

  1. Mazmur Daud. TUHAN bagaikan seorang gembala bagiku, aku tidak kekurangan.
  2. Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau. Ia membimbing aku menuju air yang tenang.
  3. Ia memberi aku kekuatan baru, dan menuntun aku di jalan yang benar, sesuai dengan janji-Nya.
  4. Meskipun aku melalui lembah yang gelap, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau menemani aku. Engkau melindungi aku seperti seorang gembala melindungi dombanya dengan tongkat dan gada.
  5. Engkau menyiapkan pesta bagiku di depan mata lawanku. Engkau menyambut aku sebagai tamu terhormat. Engkau menyuguhi aku minuman lezat berlimpah-limpah.
  6. Aku tahu Engkau baik kepadaku, dan selalu mengasihi aku. Maka aku boleh diam di Rumah-Mu, selama hidupku.

 

Teks King James Version:

  1. The LORD is my shepherd; I shall not want.
  2. He maketh me to lie down in green pastures: he leadeth me beside the still waters.
  3. He restoreth my soul: he leadeth me in the paths of righteousness for his name’s sake.
  4. Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil: for thou art with me; thy rod and thy staff they comfort me.
  5. Thou preparest a table before me in the presence of mine enemies: thou anointest my head with oil; my cup runneth over.
  6. Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life: and I will dwell in the house of the LORD for ever.

 

Terjemahan Alternatif

  1. Nyanyian dari Daud.  TUHAN itu bagiku adalah gembala, itulah sebabnya aku tak pernah mengalami kekurangan.
  2. TUHAN menempatkan aku di taman rumput hijau: dari sana TUHAN memimpin aku ke aliran air yang menyegarkan.
  3. Dari TUHAN aku memperoleh kesegaran baru, sebab TUHAN memimpin aku pada jalan kebenaran-Nya.
  4. Kalaupun aku harus melewati perjalanan melewati bayangan kematian, sungguh tidak membuatku takut, sebab TUHAN  ada bersama aku.  TUHAN sebagai gembala yang melindungi aku dengan tongkat dan gada.
  5. TUHAN mengadakan pesta pelantikan raja-raja buat aku di depan mata para seteruku.  Aku dilantiknya sebagai yang terhormat.  Bahkan piala kehormatanku dibiarkan-Nya melimpah ruah.
  6. Sudah terbukti kebaikan dan belas kasihan-Nya tidak pernah meninggalkan aku: sehingga aku tetap ada dalam naungan hadirat-Nya untuk seterusnya.

 

Catatan Pengamatan:

  1. Mazmur 23 di tulis oleh Daud.  Ia menjadikan Tuhan sebagai gembalanya, akibatnya adalah ia tidak pernah menemui kekurangan dalam hidupnya.
  2. Dalam kekuasaan Tuhan, Daud ditempatkan ditaman yang dipenuhi rumput hijau yang segar: didekatnya mengalir aliran sungai yang menyegarkan dan kesanalah Daud diarahkan oleh Tuhan.
  3. Tuhanlah satu-satunya sumber tenaga baru bagi Daud, sebab kebenaran-Nya senantiasa melingkupi Daud.
  4. Ketika melewati tempat-tempat berbahaya sekalipun, Daud tetap berani karena Tuhan tetap ada bersama-sama dengan Daud.  Tuhan sebagai gembala yang melindungi domba-domba-Nya dengan tongkat dan gada.
  5. Di depan para musuh pun tetap tersedia makanan bagi Daud, dihidangkan melimpah sebagai tamu terhormat.  Minuman dalam piala Daud juga berlimpah disediakan Tuhan.
  6. Kebajikan dan kemurahan dari Tuhan menjadi bagian Daud: sehingga ia tetap ada dalam rumah Tuhan sampai selama-lamanya.

 

  1. Konteks Kesusastraan dan Sejarah:

Mazmur 23 termasuk dalam kelompok pujian iman.  Daud membangun konsep tentang Tuhan berdasarkan pengalaman imannya.  Demikianlah mazmur 23 termasuk sebagai tulisan mazmur iman.  Mazmur iman berisi ungkapan iman dari pemazmur perihal pengenalannya secara pribadi berdasarkan pengalamannya.  Mazmur iman mengungkapkan bentuk kepercayaan (baik individual maupun komunal) dalam bentuk relasi baik antara Tuhan dengan penyembah.  Mazmur iman diawali dengan pengakuan iman atau proklamasi dilanjutkan dengan alasan terpeliharanya iman dan diakhiri dengan sebuah komitmen dari penyembah terhadap Tuhan.

 

Dalam konteks Mazmur 23 dapat ditemukan prinsip-prinsip iman yang di bangun oleh Daud.  Mazmur ini terdiri dari beberapa bagian bertingkat, yaitu:

  1. Proklamasi iman
    1. Dimulai dengan sebuah doxology bahwa “Tuhan itu bagiku adalah gembala”.
    2. Dilanjutkan dengan sebuah pernyataan keyakinan iman bahwa “aku tak pernah mengalami kekurangan”.
    3. Alasan-alasan beriman
      1. Adanya kesadaran iman bahwa Tuhan berkuasa untuk mengadakan sesuatu dalam dirinya: “TUHAN menempatkan aku di taman rumput hijau: dari sana TUHAN memimpin aku ke aliran air yang menyegarkan.  Dari TUHAN aku memperoleh kesegaran baru, sebab TUHAN memimpin aku pada jalan kebenaran-Nya”.
      2. Adanya keyakinan iman bahwa Tuhan berkuasa untuk memeliharanya: “Kalaupun aku harus melewati perjalanan melewati bayangan kematian, sungguh tidak membuatku takut, sebab TUHAN  ada bersama aku.  TUHAN sebagai gembala yang melindungi aku dengan tongkat dan gada.
      3. Adanya keyakinan iman bahwa Tuhan sanggup untuk menunjukan pemeliharaan bahkan di depan para musuh.  Jelas terlihat ketika Daud berkata: “TUHAN mengadakan pesta pelantikan raja-raja buat aku di depan mata para seteruku.  Aku dilantiknya sebagai yang terhormat.  Bahkan piala kehormatanku dibiarkan-Nya melimpah ruah.
      4. Komitmen Iman
        1. Sebuah komitmen untuk tetap setia hidup dalam rancangan Tuhan.  Daud berkata: “kebaikan dan belas kasihan-Nya tidak pernah meninggalkan aku.”
        2. Diakhiri dengan sebuah komitmen baru untuk tetap setia menjadi pengikut Tuhan dengan cara: “aku tetap ada dalam naungan hadirat-Nya untuk seterusnya”.

Mazmur iman ini tidak lahir begitu saja.  Bukanlah peristiwa pemeliharaan mistik yang turun begitu saja dari langit, tetapi berdasarkan pengalaman yang panjang dan terbukti sehingga Daud menempatkan Tuhan sebagai gembala dan dirinya sebagai domba.  Beberapa pengalaman hidup Daud yang tercermin dalam peristiwa ini misalnya:

  1. Kesadaran akan tanggung jawab gembala

Daud memiliki pengalaman masa kecil sebagai gembala.  Ketika saudara-saudaranya sudah mengambil bagian dalam tugas militer, dialah satu-satunya yang ditugaskan Isai untuk menggembalakan kambing domba keluarga (1 Sam.16:11; 17:15).  Kesadaran akan tanggung jawab gembala juga terlihat dari dialognya dengan Saul, ketika Daud berkata: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya.  Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.  Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.  Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini” (1 Sam. 17:34-36).

  1. Peristiwa fenomenal dalam hidupnya

Beberapa pengalaman hidup Daud telah menjadi sarana yang efektif menumbuhkan pengalaman hidup beriman kepada Tuhan sebagai gembala.  Tak terbilang sudah pengalaman Daud yang menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa.  Hanya saja tulisan ini akan memberikan perhatian lebih pada pengalaman pemeliharaan Tuhan di hadapan para musuh Daud.  Misalnya saja peristiwa dalam 1 Samuel 21:1-9; Tuhan memelihara Daud dengan memberinya makan dari persediaan roti kudus.  Menurut 1 Samuel 25:1-42, Tuhan memelihara kehidupan Daud melalui Abigail, sedangkan suaminya, Nabal, yang telah mengutuk Daud justru dihukum Tuhan.  Pengalaman ini bahkan berlanjut sampai Daud memasuki masa tua, dengan masalah yang semakin kompleks, antara lain kudeta yang dilaksanakan oleh Absalom.  Pemeliharaan Tuhan terus terjadi dan Tuhan terbukti tidak pernah kekurangan cara untuk memelihara Daud.  Iman Daud kepada Tuhan tidak pernah sia-sia, karena Ia Tuhan adalah gembala.

  1. Bentuk dan Struktur

Pada umumnya mazmur memiliki bentuk dan struktur yang beragam, digunakan secara silih berganti untuk memperkaya nyanyian.  Mulai dari sistesis, parallel, duplikasi, perlawanan, peningkatan pikiran dan lain sebagainya.  Bentuk-bentuk ini menjadikan mazmur membutuhkan pengamatan dan cara khusus dalam membedahnya, yang tentu saja berbeda dengan tulisan-tulisan sejarah maupun prosa.

Mazmur 23 memiliki bentuk dan struktur yang unik juga, jelas terlihat dari setiap bagiannya seperti yang nyata berikut ini:

Dimulai dengan ungkapan metafora:

TUHAN itu bagiku adalah gembala

Pengungkapan metafora ini menjadi landasan pengakuan iman:

itulah sebabnya aku tak pernah mengalami kekurangan

Beberapa bukti disajikan dengan gagasan yang sama, namun dengan pengulangan yang unik, variatif, serta pada bagian tertentu terjadi peningkatan pikiran:

                           TUHAN menempatkan aku di taman rumput hijau:

                                                 dari sana TUHAN memimpin aku ke aliran air yang  

                                                                                                                            menyegarkan

                   Dari TUHAN aku memperoleh kesegaran baru,

                                                         sebab

                                                         TUHAN memimpin aku pada jalan kebenaran-Nya

Dimunculkan ide perlawanan yang menjadi cara tersendiri Daud mengungkapkan gagasan baru perihal masalah yang ia hadapi:

Kalaupun

                          aku harus melewati perjalanan melewati bayangan kematian,

                          sungguh tidak membuatku takut,

                                                                           sebab TUHAN  ada bersama aku

Alasan pengakuan iman diulang kembali, namun tetap dalam koridor konsep yang sama dengan konflik yang diangkat sebelumnya:

TUHAN sebagai gembala yang melindungi aku dengan tongkat dan gada

Dari kondisi penuh perlawanan dan konflik, terjadi perputaran arah yang tiba-tiba dalam gaya pengungkapan Daud.  Ia menemukan pemulihan kebahagiaan dan kehormatan, sambil terus mengulang ide yang mengalami peningkatan pikiran:

TUHAN mengadakan pesta pelantikan raja-raja

                                                          buat aku di depan mata para seteruku

                                                          Aku dilantiknya sebagai yang terhormat 

                                                          Bahkan

                                                          piala kehormatanku dibiarkan-Nya melimpah ruah

Diakhiri dengan pernyataan iman yang menunjukan bahwa pengalaman masa lampau yang telah terjadi sungguh-sungguh berkesan dan mengharuskan Daud untuk membuat sebuah komitmen baru:

Sudah terbukti

              kebaikan dan belas kasihan-Nya

                             tidak pernah meninggalkan aku:

                             sehingga

                             aku tetap ada dalam naungan hadirat-Nya untuk seterusnya

  1. Data Gramatikal dan Leksikal

Disadari bahwa bahasa Indonesia tidak dapat secara sempurna memberikan interpretasi terhadap penggunaan bahasa asli oleh penulis mula-mula.  Beberapa versi dan variasi terjemahan mungkin dapat menolong tetapi juga belum dapat secara sempurna menjelaskan makna atau gagasan yang diungkapkan oleh penulis.  Demikian juga yang terjadi dengan mazmur 23 ini, namun tentu saja tidak akan secara keseluruhan melihat teks asli Ibraninya, namun paling tidak, dari beberapa kata yang dipilih dapat mewakili perasaan pemazmur (Daud), sehingga kita dapat menyelami makna sebenarnya yang ingin diungkapkan Daud.  Beberapa istilah tersebut adalah:

Ayat 1:

Tak pernah: al{å deklarasi ketidak mungkinan

Kekurangan: rs”)x.a kata kerja yang menunjukan kepemilikan berulang secara terus menerus

Ayat 2:

Memimpin:  ynIlE)h]n:y>  kata kerja memimpin dengan intensif meningkat dan berulang

  1. Konteks Alkitabiah dan Teologis

Tidak ada satu pun bagian teks yang beridiri sendiri tanpa keterkaitan dengan teks lainnya; demikian juga halnya dengan paragraf, maupun kitab, semuanya memiliki keterkaitan.  Baik secara konteks, sejarah, maupun makna.  Mazmur 23 juga memiliki keterkaitan yang sama dengan kitab lainnya.  Jelas mazmur 23 terhubung dengan kitab sejarah Perjanjian Lama yang menjadi catatan biografi Daud, misalnya Samuel.  Dalam hubungannya dengan Perjanjian Baru, pemaparan Daud perihal TUHAN sebagai gembala jelas terkait dengan pengajaran Yesus dalam Yohanes 10:1-18.  Yesus menjelaskan tentang sifat dari gembala (ay. 1-5) dalam bentuk perumpamaan.  Langsung di interpretasi oleh Yesus dalam bagian selanjutnya bahwa Ia-lah gembala tersebut (ay. 11-18).

  1. Penerapan

Beberapa penerapan yang dapat ditemukan dari mazmur 23 adalah:

  1. Temukanlah pengalaman-pengalaman hidup dan maknai itu sedemikian rupa menjadi pengalaman iman, artinya perlu bersikap positif agar setiap peristiwa dalam hidup dapat dimaknai secara baik guna pertumbuhan iman yang maksimal.
  2. Tidak ada pengalaman hidup yang terjadi begitu saja tanpa ada sisi pembelajaran dari dalamnya, jadi pikirkanlah secara positif setiap pengalaman pahit yang telah terjadi dan terus persiapkan diri melihat tanda-tanda ajaib selanjutnya yang akan Tuhan nyatakan.
  3. Ada saatnya orang percaya diizinkan Tuhan melewati perjalanan yang berat, tetapi harus dipahami secara positif agar orang percaya dapat melihat secara jelas wujud pertolongan, perlindungan bahkan disiplin yang dikerjakan Tuhan dalam hidup.  Setiap perwujudan itu akan membawa orang percaya pada sebuah kesadaran akan pertolongan, penyertaan, bahkan pemuliaan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidupnya.
  4. Di akhir dari setiap pembelajaran buatlah catatan penting dan persiapkan diri untuk masuk lebih dalam lagi guna terbangunnya interpersonal relationship dengan Tuhan.  Paling tidak orang percaya menemukan dirinya setiap hari dalam sebuah komitmen yang terus diperbaharui dengan Tuhan.

 

  1. Contoh Khotbah (keterangan audience: mahasiswa teologi)

Spiritualitas dalam Aktualitas

Mazmur 23: 1 – 6

Pendahuluan:

Dunia secara cerdas telah membuat dualism atas dirinya.  Misalnya saja kaya – miskin; rajin – malas; tua – muda; basah – kering dan lain sebagainya.  Sifat yang sama pun telah mengotori dunia teologi misalnya saja: sacral – sekuler; teologi kemiskinan – teologi kesuksesan; pemikiran barat – pemikiran timur; fundamentalismliberalism, dan lain sebagainya.  Sifat-sifat tersebut secara langsung memberikan pengaruh dalam pencapaian hidup orang percaya sehingga mereka hidup dalam digotomi berkat – kutuk; dukacita – sukacita, dan lain sebagainya.  Permasalahannya sekarang ini adalah bagaimana caranya agar kita, para teolog, mampu hidup secara berbeda, luar biasa dalam realita hidup biasa setiap harinya?  Pengalaman hidup Daud merupakan pembelajaran berharga agar kita dapat menikmati hidup secara meksimal.  Mazmur 23 ini akan membawa kita pada pencapaian maksimal setiap harinya.  Beberapa prinsip yang dilakukan Daud adalah:

  1. Resapi Eksistensi Ilahi (ay. 1)
    1. Daud memproklamasikan Tuhan  secara khusus dalam hidupnya, akibatnya ia mampu melihat kekhususan Tuhan yang bekerja dalam dirinya.  Ada begitu banyak cara Tuhan meyatakan dirinya kepada ciptaan-Nya dan itu unik.  Kita tidak dapat menuntut Tuhan untuk memperlakukan kita sama dengan orang lain, tetapi kita dapat meminta Tuhan untuk menjadikan kita ada dalam hubungan yang khusus dengan diri-Nya.
    2. Penting memang untuk memikirkan siapa kita dihadapan Tuhan, tetapi terlebih penting untuk memutuskan siapa Tuhan bagi kita, dari situ akan terbangun secara jelas dan real bagaimana kita bersikap di hadapan Tuhan.
    3. Ilustrasi: luwing dengan ibunya yang sedang make up
    4. Penerapan: buatlah keputusan pribadi tentang siapa Tuhan itu buat anda!
    5. Renungkan Dinamisnya Kehadiran Tuhan (ay. 2 – 4)
      1. Hasil dari point pertama di atas nyata dalam bagian selanjutnya dari mazmur 23, yaitu Daud mampu menangkap secara jelas bentuk-bentuk penyertaan dan kehadiran Tuhan.  Dalam berbagai keadaan, Daud senantiasa menemukan perwujudan khusus dari eksistensi Allah, dan itu secara spesifik hadir dalam pengalaman imannya.  Demikian juga seharusnya dengan kita sebagai orang percaya, penting bagi kita untuk menemukan cara-cara Tuhan dalam mewujudnyatakan kasih, kesetiaan dan pemeliharaan-Nya sehingga tidak ada peristiwa yang terlewatkan sia-sia dalam hubungan kita dengan Tuhan.
      2. Tuhan itu berkuasa, kuasa-Nya tak terbatasi, tidak dapat di kotak-kotakan, dan Ia punya cara yang unik, baru, tak terselami dalam menunjukan kuasa-Nya.  Jadi jangan sempitkan pandangan kita perihal bagaimana caranya Tuhan menolong kita, tetapi pahamilah cara-cara tak terduga yang telah Allah kerjakan dalam diri kita.
      3. Ilustrasi: pengalaman pribadi
      4. Penerapan: lepaskan kacamata kuda atas mata iman kita, tetapi luaskanlah pandangan karena Ia luar biasa.
      5. Rayakan Kemenangan bersama Tuhan (ay. 5 – 6)
        1. Daud menikmati hidup dalam hubungan dengan Tuhan sampai pada penghabisan hidup.  Ia menikmati hidupnya secara unik dan ia mendapati bahwa Tuhan sedang membawa dirinya mencapai klimaksnya.  Hidupnya mencapai klimaks justru dihadapan para lawannya.  Pengalaman iman tersebut ia rayakan dalam sebuah komitmen baru dengan Tuhan.
        2. Hidup kita adalah perjalanan perayaan.  Perayaan menuju hidup yang lebih berkualitas dalam hubungan dengan Tuhan.
        3. Ilustrasi: – Pengalaman pribadi

– Air force one

  1. Penerapan: buatlah sebuah komitmen baru dihadapan Tuhan, lakukanlah itu secara bertanggung jawab dan terus perbaharui agar hidup menjadi semakin indah.

Penutup:

Sama seperti kita, Daud adalah manusia biasa, tetapi lihatlah ia telah memaknai hidupnya secara luar biasa bersama Tuhan yang sungguh terbukti luar biasa.  Apabila Daud dapat melakukannya, itu berarti kita pun dapat melakukannya.  Terapkanlah 3 prinsip Daud tadi dalam hidup kita:

  1. Resapi Eksistensi Tuhan
  2. Renungkan Dinamisnya Kehadiran Tuhan
  3. Rayakan Kemenangan bersama Tuhan

Selanjutnya, perhatikanlah apa yang akan Tuhan perbuat atas hidup kita!  Sungguh ia telah membuat hidup biasa kita menjadi luar biasa.  Tuhan memberkati kita semua, Amin.

 

 

 

 

 

 


[1] Jean Grondin, Sejarah Hermeneutik: Dari Plato sampai Gadamer, Pen., Inyiak Ridwan Mazir (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 50.

[2] Ibid, 51.

[3] A.S Hornby, “Interpret” dalam Oxford Advanced Learns Dictionary of Current English (Oxford: Oxford University Press, 1987), 446

[4] Bahan diambil dengan beberapa penyesuaian dari Inyak Ridwan Muzir, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 61-95.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: