Just another WordPress.com site

Matius 15:21-28

Ada beberapa hal di dalam kehidupan kita yang terjadi begitu saja tanpa bisa kita tolak.  (1) orang tua yang melahirkan kita; (2) jenis kelamin kita; (3) menjadi suku bangsa apa kita.  Ketidak mampuan kita untuk menolaknya, bukan oleh karena kelemahan kita, tetapi justru oleh karena hal-hal itulah kita menjadi unik.  Namun seringkali ketika kita mengalami masalah, gangguan, ketidak nyamanan, atau terpinggirkan, kita mulai menyalahkan keunikan kita tersebut.  Dalam perasaan kita mulai muncul penolakan atas keunikan itu.  Misalnya: kenapa sih saya tidak seperti dia, yang lahir dari orang tua yang kaya raya?; Kenapa sih saya terlahir sebagai perempuan yang perasaannya selalu tersakiti?;  Kenapa sih saya lahir sebagai suku anu, tidak seperti dia yang karena sukunya itu dia bisa untung dalam berdagang?  Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menjadi penyebab dari adanya ras yang merasa lebih unggul dari lainnya.  Misalnya: dunia telah sejak lama memandang Amerika sebagai negara Adikuasa;  orang-orang kulit hitam di Afrika telah dianggap sebagai manusia budak; kita orang-orang Asia dianggap lebih bodoh dari orang-orang Eropa;

Jelas hal-hal seperti ini bukanlah pandangan Kristiani dan bahkan sejak awal Alkitab telah menyatakan bahwa  hal-hal seperti itu adalah salah.  Satu-satunya alasan hingga kita harus menolak konsep berpikir seperti itu adalah oleh karena ‘Berkat Allah Menjangkau Semua Bangsa’.  Pada pagi hari ini, kita akan menelaah bukti-bukti Alkitabiah bahwa ‘Berkat Allah Menjangkau Semua Bangsa’.  Dengan demikian, setelah mengetahuinya kita menjadi semakin berbangga dengan keunikan diri kita masing-masing, dan tidak memandangnya sebagai kelemahan.  Apa buktinya bahwa ‘Berkat Allah Menjangkau Semua Bangsa’?

Allah memiliki kuasa yang mampu menjangkau hal-hal yang diluar nalar kita.

Konteks nubuatan nabi Yesaya adalah mengenai Israel yang akan dipulihkan.  Israel dan Yehuda yang akan mengalami kemerdekaan dan kelepasan dari bangsa Asyur dan Babel.  Nabi Yesaya bernubuat bahwa akan datang ‘hari Tuhan’, saat dimana Allah melawat umat-Nya dan melepaskannya.  Bagi kita saat ini mungkin dengan mudah untuk meng-amin-kannya, namun tidaklah demikian dengan orang saat itu.   Bukan berarti mereka tidak beriman, sebab justru oleh karena mereka memegang iman merekalah mereka berpandangan demikian.  Bagi orang Israel saat itu, bagaimana mungkin Tuhan akan melepaskan mereka dengan menggunakan tangan orang kafir?  Bagaimana mungkin kelepasan itu tiba saat dimana mereka tidak memiliki kesempatan untuk berdoa secara nasional kepada Tuhan?  Bagaimana mungkin mereka akan merdeka, apabila tidak ada lagi para imam yang membina keimanan mereka?  Bagaimana mungkin mereka akan kembali ke tanah pusaka mereka dan menjadi bangsa yang kudus, ketika mereka telah dikawinkan oleh pemerintah penguasa atau penjajah dengan bangsanya?

Segala ketidak mungkinan itu juga semakin diperkuat dengan tidak adanya kekuatan militer yang mereka miliki.  Ibarat manusia, mereka telah mengalami kelumpuhan total, kekalahan secara mental serta kelemahan kuasa spiritual.  Namun demikian, Yesaya tetap saja mengkhotbahkan isi hati Tuhan.  Yesaya tidak mau menumpulkan kuasa Tuhan dengan tumpulnya cara berpikir manusia.  Yesaya terus saja mencoba untuk menyakinkan Israel bahwa Allah adalah Allah oleh karena Ia diluar batas jangkauan pikiran manusia.  Yesaya menegaskan bahwa kuasa Allah sanggup untuk membuat orang-orang asing bergabung dengan Israel untuk melayani Allah.  Yesaya percaya sekali bahwa Allah memiliki kuasa yang mampu menjangkau hal-hal yang diluar nalar kita.

Iman seperti inilah yang juga seharusnya menjadi bagian kita.  Sebuah keyakinan iman yang melampaui realita.  Kapasitas iman yang mampu menempatkan kuasa Allah sebagi satu-satunya jalan keluar.  Bahkan sebagai suatu langkah iman yang memungkinkan perubahan terjadi atas bangsa kita.  Sebentar lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-66.  Seiring dengan itu, sering sekali kita menjadi ciut, putus harap dan galau saat memikirkan masalah demi masalah yang terus menimpa bangsa kita.  Kita sedang berhadapan dengan kejahatan terstruktur dari para pemimpin bangsa, sebut saja kasus-kasus seperti Munir, Antasari, Gayus, atau Nazarudin.  Bahkan kita tengah digilas oleh lembaga-lembaga korup dengan konsep kerja ‘asal bapak senang’.  Tak ayal kita melihat seolah masa depan bangsa kita di ulang tahun ke-66nya ini dengan ciut, putus harap dan galau.  Namun demikian, marilah kita terus berharap seperti iman nabi Yesaya bahwa Allah memiliki kuasa yang mampu menjangkau hal-hal yang diluar nalar kita.

Allah menghendaki agar Diri-Nya menjadi Satu-satunya fokus dari penyembahan dan penghormatan seluruh manusia.

Kita hidup ditengah-tengah bangsa yang majemuk, kebudayaan yang beragam, agama dan keyakinan berbeda, bahkan pola pikir masing-masing orang yang mempertajam ketidak satuan bangsa.   Aturan negara kita memang menerima perbedaan tersebut, bahkan termasuk perbedaan agama.  Para pendiri bangsa kita telah secara arif dan bijak menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik dalam wadah Indonesia.  Kita pun saat ini mengenalnya dengan NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Kenapa Negara Kesatuan? Karena kita berbeda satu dengan yang lainnya.  Kenapa berbentuk Republik? Oleh karena negara kita bukan didasarkan pada kepentingan partai, agama atau sekelompok masyarkat, tetapi untuk seluruh rakyatnya.  Kenapa Indonesia?  Sejarahnya panjang, tetapi singkatnya inilah identitas dari perjuangan kita menolak para penjajah.  Intinya ketika berbicara mengenai NKRI kita sedang berbicara tentang efektifitas dan aktifitas kita sebagai anak bangsa.

Konsep di atas juga dapat kita pahami dalam aspek yang lebih luas.  Kita hidup di tengah-tengah dunia yang majemuk, kebudayaan yang beragam, agama dan keyakinan berbeda, bahkan pola pikir masing-masing orang menurut kebiasaan bangsanya.  Namun demikian, Tuhan sebagai satu-satunya pencipta dunia dan segala isinya tersebut menuntut semua ciptaan untuk menjadi efektif dan aktif.  Efektif dan aktif dalam satu hal utama yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat dari penyembahan dan penghormatan.  Apabila kita perhatikan, maka prinsip ini sesungguhnya ada pada setiap agama.

Pemazmur dengan jelas mengatakannya kepada kita bahwa segala bangsa bersyukur kepada Tuhan, semuanya bersukacita dan bersorak-sorai.  Daud sebagai seorang raja telah memiliki sudut pandang yang benar bahwa Allah adalah Allah dari segala bangsa.  Ketika Tuhan memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya tidak sekaligus berarti Allah menolak bangsa-bangsa lain.  Daud  sadar bahwa tugas Israel sebagai umat pilihan justru adalah memperkenalkan Allah itu kepaa bangsa-bangsa lain agar seluruh bangsa, seluruh ciptaan, seantero jagad raya ini bersatu hati untuk menyembah dan meletakkan penghormatan hanya pada Tuhan saja.  Kesadaran yang sama juga telah dimiliki oleh rasul Paulus ketika ia berkata:  … supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:10-11)

Allah membenarkan suatu bangsa bukan karena tindakan baiknya, melainkan oleh imannya.

Pada akhirnya keseluruhan pembacaan Alkitab membawa kita pada sebuah kisah dalam kitab Injil mengenai percakapan antara Tuhan Yesus dengan seorang perempuan dari Kanaan.   Saat kita membaca kisah ini mungkin beberapa orang akan menilai Tuhan Yesus begitu egois, rasial dan meremehkan si perempuan ini.  Memang muncul beberapa ungkapan dari Tuhan Yesus yang membuat telinga panas, yaitu: Aku di utus hanya untuk domba-domba Israel yang hilang; dan tidak patut mengambil roti dari anak-anak dan memberikannya kepada anjing.  Namun demikian, sebenarnya ini sedang meluruskan pemahaman orang-orang pada saat itu perihal kasih Allah.  Umat saat itu beranggapan bahwa Allah hanyalah milik dari Israel dan bahwa bangsa-bangsa asing di luar Israel adalah seperti anjing haram.

Namun demikian, apakah seperti ini maksud hati Tuhan Yesus.  Jelas bahwa yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah tidak ada hukum yang menyatakan bahwa apabila seseorang menjadi warga Israel maka ia secara otomatis memperoleh kasih Allah, sebab orang-orang asing pun saat mereka memiliki iman kepada Bapa, maka kasih Allah pun akan tercurah padanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: