Just another WordPress.com site

Yesaya 46: 8 – 13

8 Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak!

9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,

10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,

11 yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.

12 Dengarkanlah Aku hai orang-orang yang congkak, orang-orang yang jauh dari kebenaran:

13 Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku kepada Israel.”

(Isa 46:8-13 ITB)

Kata kunci dari keseluruhan kitab nabi-nabi (baik nabi besar maupun nabi kecil[1]) adalah pada hari itu.  Walaupun memang dengan tekanan yang berbeda-beda; misalnya kata ‘pada hari itu’ dalam kitab nabi Amos merujuk pada penghakiman/penghukuman dari Allah, senada dengan Hosea; lain halnya dengan kitab Yesaya dimana ungkapan pada hari itu merujuk pada ‘hari penyelamatan dari Tuhan’.  Dengan demikian, kitab Yesaya harus dipahami dalam konteks ‘hari penyelamatan dari Tuhan’.  Melalui tema sentral tersebut, Yesaya ingin menegaskan bahwa Tuhan tidak menunda-nunda lagi penyelamatan yang hendak ia laksanakan.  Masalah utama yang dihadapi oleh Israel (khususnya suku Yehuda) adalah mereka diperhadapkan untuk mempercayai janji kelepasan yang Tuhan berikan melalui hamba-Nya yang menderita dalam Yesaya 53:4-6, yang sekaligus juga menjadi bahasan kunci dari kitab Yesaya.  Dipihak lain, mereka begitu tergoda akan kuasa bangsa-bangsa sekitar: Mesir, Babel dan Asyur.  Godaan itu begitu kuat apabila dikontraskan dengan apa yang dijanjikan Tuhan melalui nabi Yesaya (hamba yang menderita), Israel pun memilih mempercayai bangsa-bangsa tersebut.

Penting bagi kita untuk bergumul dengan iman kita: apakah kita senantiasa ada dalam percaya yang penuh/prima kepada Tuhan?  Apakah kita tidak terpengaruh dengan tawaran-tawaran diluar Tuhan/’tarikan samping’ yang disodorkan pada kita?  Bukankah sering sekali kita membuat ‘plan B’ dalam realita iman tatkala jawaban Tuhan terasa lambat?  Bahkan sesungguhnya, apabila kita mencoba terbuka dengan Tuhan, maka bukankah sering sekali kita menuntut Tuhan untuk mengikuti ‘jalan dan rancangan’ kita dari pada kita yang mengikuti jalan dan rancangan Tuhan?  Disinilah letak pergumulan iman kita dihadapan Tuhan, sebagai suami/ayah kita diperhadapkan dengan tanggung jawab pada keluarga, sedangkan di pihak lain kita diperhadapkan dengan iman yang terus bergumul mencari jalan keluar.  Iman yang sejati adalah iman yang terus menerus secara jujur bergumul dengan apa yang ia imani.  Realita seperti apa yang perlu kita gumuli dalam melatih diri terus menerus ada dalam keadaan penuh/prima untuk mempercayai rencana Tuhan terlaksana dalam hidup kita?

        I.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya dan bukan pada ‘sekedar tindakan’-Nya.

Prasangka Israel adalah ketika mereka berhadapan dengan kuasa dari bangsa-bangsa sekitar, maka seharusnya Tuhan tampil sebagai pembebas dengan kuasa yang lebih besar dari apa yang mereka lihat.  Anehnya, Tuhan justru tampil sebagai ‘hamba yang menderita’.  Sering sekali kita membuat premis yang kurang lebih sama dengan Israel.  Ketika kita mengimani Tuhan sebagai yang maha hadir, maka kita menuntut Tuhan untuk tidak boleh absen dari penglihatan kita; seolah-olah ketidak mampuan dan ketidak pekaan inderawi kita untuk menangkap kehadiran Tuhan membuktikan bahwa Ia tidaklah maha hadir.  Hal yang sama sering juga kita terapkan untuk natur-Nya yang lain misalnya: Maha kuasa, Maha kudus, Maha adil, Maha kasih dan lain sebagainya.  Intinya sering sekali kita menyederhanakan Tuhan hanya dalam keterbatasan persepsi inderawi kita untuk menangkap Tuhan.  Kita menyederhanakan Tuhan hanya dalam keterbatasan ‘tuntutan’ kita yang sebenarnya hanya menginginkan Ia bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

      II.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sekalipun jalan-Nya unlogical.

Israel melihat bahwa dibutuhkan kekuatan bala tentara yang super besar yang melebihi heroiknya pahlawan-pahlawan Mesir, Babel dan Asyur untuk melepaskan mereka.  Logikanya sederhana, untuk menghadapi 1000 kereta perang musuh maka paling tidak dibutuhkan 1001 kereta perang untuk mengalahkannya.  Intinya adalah Tuhan harus terlihat lebih besar agar Ia sanggup mengatasi masalah-masalah besar.  Jalan Tuhan haruslah sebuah jalan lurus, lebar dan mulus agar bisa dilalui Israel menuju kelepasan dan kemerdekaan.  Bukankah hal seperti ini juga yang menjadi presuposisi kita terhadap Tuhan.  Ketika kita membutuhkan uang 10 juta untuk operasi kanker, maka Tuhan yang baik adalah Tuhan yang menyediakan minimal 10 juta agar operasi berjalan sukses.  Tuhan itu kita anggap baik ketika Ia menjadi logicaly, sering sekali ini yang sesungguhnya menjadi pengakuan iman kita, walaupun yang sering kita ucapkan adalah Aku percaya …(dst) – dari pengakuan ini seharusnya tindakan Aku percaya adalah tindakan tanpa syarat apapun yang harus dipenuhi Tuhan agar ia tetap menjadi Tuhan bagi kita..  Apakah Tuhan harus logicaly agar Ia tetap menjadi Tuhan?  Ternyata tidak, sebab Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sendiri sekalipun jalan-Nya tidak bisa diprediksi.

    III.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sehingga ketetapan-Nya tidak bisa dipengaruhi apapun.

Secara pasti kita semua akan mengamini bahwa Allah adalah satu-satunya pribadi yang tidak membutuhkan penasehat.  Hikmat-Nya tidak pernah meleset; penilaian-Nya tidak pernah keliru; rancangan-Nya tidak pernah kurang; hingga akhirnya apa yang telah Ia tetapkan tidak mungkin berubah.  Hal ini merupakan kebenaran umum yang dilaporkan Alkitab pada kita dan kita pun mengamini bahwa Allah adalah pribadi yang ketetapan-Nya tidak mungkin berubah, Ia adalah Allah yang selalu benar pada dirinya sendiri.  Namun demikian, bagaiman ketika kita diperhadapkan dengan realita: Allah mengasihi Israel, dan berjanji untuk memelihara Israel; namun bukankah pada kenyataannya Israel selalu berpaling dari Allah kepada Baal? Dan bukankah Tuhan pun tak henti-hentinya murka dan menghukum mereka?  Jadi, apakah Allah dalam hal ini tidak berubah?  Atau misalnya teks-teks Alkitab yang secara terbuka berkata: “menyesallah Allah” (Kej. 6:6; Kel. 32:14; 2 Sam. 24:16; Yer. 18:8, 10; Amos 7:3, 6; Yunus 3:6), bukankah telah mengindikasikan bahwa Allah pun sering tidak konsisten dengan diri-Nya sendiri.  Hal ini pun sering sekali membuat kita akhirnya berkompromi dengan dosa, karena merasa bahwa tidak mungkin Tuhan menghukum saya hanya oleh karena 1 kali perbuatan dosa.  Dan bukankah realitany: setelah berulang kali kita tidak setia dan mengingkari ketetapan-Nya, bahkan sampai sekarang pun kita tidak pernah dihukum Tuhan; dan tidak jarang orang yang telah jelas-jelas menentang Tuhan, malah terlihat hidupnya lebih makmur.

Apakah Tuhan berubah?  Inilah konsep yang diluruskan oleh Paulus atas apa yang dipahami jemaat Korintus.  Ia berkata: “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan (2 Kor. 2:15-16a).  Sesungguhnya ketetapan Allah tidak berubah, ketika ia berelasi dengan manusia berdosa, maka relasi itu adalah relasi dalam ‘bau kematian’, sedangkan bagi yang memelihara relasi dalam ketaatan kepada-Nya, maka relasinya ada dalam ‘bau yang menghidupkan’.  Allah tidak pernah berubah, namun dalam ketidak berubahan-Nya itu, Ia menuntut kita untuk senantiasa mengubah relasi kita dengan-Nya yang semakin hari semakin hangat, intim, dekat, setia serta taat.  Intinya:  saat kita tidak sedang berelasi dengan ‘bau yang menghidupkan’ dari Allah, maka kita sesungguhnya sedang berelasi dengan ‘bau kematian’-Nya.

Dalam ketiga konteks inilah Allah sedang melaksanakan rencana-Nya dalam kehidupan kita, dan kepada kita diperhadapkan pilihan untuk mau berada di sisi mana?


[1] Sebutan besar maupun kecil bukan merujuk pada pengaruh atau otoritas, melainkan pada rentang waktu atau masa pelayanan/hidup dari nabi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: