Just another WordPress.com site

Mazmur 119:1-6

 

Secara tradisional diyakini bahwa mazmur ini ditulis oleh Daud.  Ditulis sebagai hasil dari pergumulan iman.  Pergumulan dalam tahun-tahun panjang dengan lika-liku realita hidup.  Pergumulan hidup yang melahirkan keyakinan iman.  Keyakinan iman yang membuatnya belajar menjalani hidup yang lebih baik.  Inilah yang dimaksud dengan kebahagiaan hidup dalam firman Tuhan.  Disebut pergumulan iman oleh karena, dalam anugerah Tuhan, Daud di posisikan sebagai penyembah dihadapan Tuhan dimana pilihannya hanya satu yaitu memuliakan Tuhan.  Melalui iman yang bergumullah Daud dimampukan untuk menjalani kehidupan dalam keyakinan iman bahwa Allah sendiri yang akan memelihara hidupnya dan tentu saja Daud menjadi lebih bertanggung jawab dengan kehidupannya.  Hasil akhirnya adalah kebahagiaan hidup oleh karena hidupnya dikendalikan oleh firman Allah.

Saya percaya bahwa kebanyakan orang mencari kebahagiaan dalam hidupnya, walaupun terkadang kebahagiaan itu dipahami dalam beragam perspektif.  Namun demikian, sebagai komunitas yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus, kita tentunya sepakat bahwa kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan dalam terang firman Tuhan.  Namun pertanyaannya adalah apa indikator bahwa kita telah berada dalam terang firman Tuhan.  Melalui Daud kita belajar hal penting dalam mencapai kebahagiaan hidup, yaitu

Memiliki hidup yang diubahkan oleh Firman Tuhan.  Daud beberapa kali menggunakan ungkapan: hidup menurut Taurat Tuhan (ay. 1), yang sesungguhnya memiliki pengertian yang sama dengan ungkapan memegang perintah-Nya (ay. 2); hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukan-Nya (ay. 3); titah-titah-Mu di pegang dengan sungguh-sungguh (ay. 4); berpegang pada ketetapan-Mu (ay. 5) dan mengamat-amati segala perintah-Mu (ay. 6).  Pengulangan ini tentu saja menunjukan suatu penekanan dari Daud bahwa ini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan.  Dalam pembukaan Mazmur ini saja (ay. 1-8) Daud tekah 8 kali mengulangi frase hidup menurut Taurat Tuhan dengan 8 ungkapan yang senada dengan itu.  Daud sungguh memahami bahwa hanya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan yang sesungguhnya diberi ‘peluang’ untuk diubahkan hidupnya menjadi semakin seturut firman Tuhan.

Kenapa demikian: kehidupan Daud adalah contoh nyata bagi kita semua.  Kita tentu mengetahui seperti apa Daud itu hidup:  Ia menjalani masa kecil sebagai pribadi yang diabaikan (saat Samuel diminta untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja pengganti Saul – Isai justru hanya memperlihatkan saudara-saudara Daud.  Bahkan ketika ia sudah diurapi, orang tua maupun saudara-saudaranya tidak menghendaki kehadiran Daud saat terjadi perang melawan Goliat); ia bertumbuh dalam realita hidup yang sulit (diusir oleh mertuanya sendiri – Saul – dipisahkan secara paksa dengan istrinya dan terpaksa harus hidup dengan para bandit agar tetap bisa makan, bahkan kerasnya hidup  membuatnya menjadi ‘mesin pembunuh’ yang siap menghabisi Nabal demi makanan);  ia menjalani masa keemasan dalam kesulitan (anak perempuannya diperkosa oleh saudara tirinya – anaknya memberontak dan memperkosa istri-istri Daud – anaknya dibunuh oleh panglima perangnya sendiri – Daud sendiri harus terusir dari istananya dan hidup sebagai pelarian).

Pertanyaannya sederhana: adakah orang yang mampu hidup dan menyebut dirinya berbahagia setelah pengalaman-pengalaman sulit tadi?  Mungkin ada tetapi sangat sedikit dan Daud salah satunya.  Ia justru menyebut dirinya berbahagia oleh karena hidupnya menurut taurat Tuhan.  Ia tau bahwa hidup seturut taurat Tuhan tidak hanya terbatas pada kebiasaan membaca dan merenungkan taurat Tuhan tetapi harus juga menjadi pelaku dari taurat Tuhan tersebut.  Ia tau bahwa walaupun masa kecilnya diabaikan tetapi Tuhan justru memilihnya.  Ia tau bahwa walaupun ia bertumbuh dalam realita hidup yang sulit tetapi Tuhan justru mengokohkan kerajaannya.  Ia tau bahwa walaupun ia menjalani masa keemasan dalam kesulitan tetapi Tuhan sendiri yang mengembalikannya pada kerajaannya dan meneguhkan tahtanya hingga anak-anaknya.  Ia tau bahwa Tuhan mengubahkan hidupnya melalui penundukan diri Daud atas taurat Tuhan.

Apa buktinya Daud telah memiliki hidup yang diubahkan oleh firman Tuhan.  Pada bagian akhir dari bagian pembacaan hari ini, Daud berkata: ‘maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu’.  Mampu mengevaluasi diri adalah bukti dari kedewasaan.  Daud bukan hanya mampu mengevaluasi dirinya, bahkan mampu melakukannya di bawah terang firman Tuhan.  Inilah kebahagiaan sejati, dimana seseorang mampu mengenal dirinya sendiri, mengevaluasinya dan menempatkan dirinya secara terbuka dihadapan Tuhan.  Kiranya Tuhan juga akan menolong kita belajar untuk menemukan kebahagiaan dalam terang firman Tuhan dan membiarkan kuasa Tuhan bekerja atas kita hingga hidup kita sungguh-sungguh diubahkan oleh firman-Nya, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: