Just another WordPress.com site

Pendahuluan:

Jika kita membelikan sebuah mainan baru buat anak kita, dan mainan itu adalah sesuatu yang sangat ia impikan, bagaimana biasanya mainan itu akan diperlakukan?  Apakah anak kita akan merusak, mengabaikan atau membuang mainan tersebut?  Pasti jawabannya tidak mungkin.  Anak kita pasti akan memperlakukannya dengan baik, merawatnya, menjaganya, bahkan mungkin tidak akan sembarang di pinjamkan pada temannya.  Namun demikian, coba perhatikan mainan tersebut setelah beberapa waktu lamanya.  Apa yang terjadi dengan mainan itu?  Ada yang bisa menebaknya?  Jarang sekali ada anak yang bisa merawat mainannya dalam jangka waktu yang lama, sering sekali yang terjadi adalah pengabaian dan pembiaran, apalagi ketika ia sudah mendapatkan mainan baru.  Apa yang membuat anak cenderung merusak mainanya?  Prinsipnya: menyenangkan anak bukan melulu memberinya mainan, melainkan kesediaan kita untuk bermain bersamanya.  Sebenarnya prinsip yg sama bisa kita terapkan dalam hal menyenangkan hati Allah.  Pertanyaannya adalah pemberian diri seperti apa yang mampu sekaligus melayani sesama dengan tetap menyenangkan hati Allah?

Pertama:  Pemberian dan pelayanan yang lahir dari pengenalan akan Allah

Latar belakang: si lumpuh telah bisa hidup bertahun-tahun dengan cara mengemis, ia bahkan tau secara persis kapan waktu ibadah dimana jemaat akan memberi secara lebih.  Jemaat sudah terbiasa memberi sedekah kepadanya oleh karena jemaat melihat bahwa dengan cara seperti itu mereka telah menolongnya untuk hidup.  Sering sekali kita juga memiliki cara pandang yang sama dan memang seperti inilah cara pandang dunia mengenai pemberian kepada sesama: misalnya: organisasi Tzu Chi dan kelompok Prayogi pangestu, di tangerang dekat kali ciliwung.

Prinsip: Petrus melihat secara berbeda, bahwa hidup itu bukan hanya soal bagaimana agar tetap hidup, melainkan hidup yang mengalami kuasa Allah.  Bahwa hidup itu bukan soal emas dan perak tetapi mengalami kekayaan kasih karunia Allah.

Ada begitu banyak orang yang hidup di dunia dengan konsep yang salah, yang penting hidup, yang penting kaya, yang penting karier terus menanjak, yang penting tidak sakit, yang penting usaha dagangan laku.  Inilah kehidupan yang ditawarkan dunia: yang penting masih hidup, masih kaya, usaha masih lancar, dll.

Tidak demikian dengan hidup Kristen.  Hidup Kristen adalah hidup dalam pengenalan akan Allah.  Allah yang mahakuasa, sehingga kita memiliki keyakinan dalam berusaha; Allah yang mahakudus, sehingga kita memelihara keselamatan kita; Allah yang mahakasih, sehingga kita berempati terhadap sesama.  Pemberian dan pelayanan kita yang menyenangkan hati Allah adalah pemberian dan pelayanan yang lahir dari pengenalan akan Allah.

Ilustrasi:  Sung Siong Geh, Umur 18 tahun kuliah S1 Kimia di Wesleyan University di Ohio, S2 (9 bulan) dan S3 (18 bulan) di Ohio State University lulus summa cumlaude.  Masuk sekolah teologi di Union Theological Seminary, dalam 193 hari ia berhasil membuat analisa eksegesa dari Kej. 1 – Why 22 (1.189 pasal) dengan 40 sudut pandang berbeda.  Menjadi penginjil di China, Thaiwan dan Indonesia yg kemudian di kenal dgn nama sapaan: John Sung.  Kenapa John Shung mampu melakukannya?  Karena ia mengenal siapa yang Ia layani.

Kedua:  Pemberian dan pelayanan yang membuat iman bertumbuh.

Latar belakang: Petrus sering sekali melihat bagaimana Yesus membuat mujizat.  Ia juga telah melihat bagaimana caranya Allah bekerja.  Namun, permasalahannya: ini saatnya ia membiarkan dirinya di pakai Tuhan.  Tuhan memberi tantangan baru dalam pengalaman iman Petrus.

Prinsip: Petrus sebenarnya mewakili pengalaman iman kita pada umumnya.  Mengalami pasang surut dan mungkin kejatuhan.  Lihat bagaimana iman Petrus mengalami pasang surut dan kegagalan namun akhirnya kembali bertumbuh!

  • Luk. 5:8 – kesadaran spiritual
  • Mat. 16:16-17 – keyakinan spiritual
  • Mat. 16: 22-23 – kesombongan spiritual
  • Mat. 26: 70, 72, 74 – kejatuhan spiritual

Namun kini setelah Petrus mengalami pembaharuan oleh Roh Kudus, ia di ajar Tuhan untuk bertumbuh.

Demikian juga seharusnya dengan kita.  Mungkin kita akan mengalami masa-masa yang mirip dengan Petrus.  Ada kesadaran spiritual, keyakinan spiritual, kesombongan spiritual, kejatuhan spiritual.  Namun yakinlah bahwa apabila pemberian diri kita untuk melayani sepenuhnya adalah untuk menyenangkan Tuhan, maka Tuhan akan membawa kita ke dalam pengalaman-pengalaman berharga dimana melaluinya iman kita bertumbuh.

Ilustrasi:  coba simak puisi dari W. S Rendra, yang berjudul: Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan

kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,
dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku

hanyalah untuk menyenangkan Engkau…

Ketiga:  Pemberian dan pelayanan yang memperjumpakan manusia berdosa dengan Allah

Latar belakang:  Petrus adalah seorang yang diubahkan dan dipakai Tuhan secara luar biasa.  Memang ada realita kegagalan Petrus dalam mengikut Yesus, tapi lihatlah bagaimana Allah mengubah diri Petrus juga mengubah bagaimana orang lain seharusnya melihat Petrus.  Dalam Mat. 16: 17-19, ada nubuatan Yesus untuk Petrus.  Tetapi, bisa saja Petrus maupun orang lain akan berpikir: bagaimana mungkin orang  seperti Petrus akan melakukannya?  Ingat prinsip kerja Allah:  “apa yang tidka mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah”

Prinsip:  Petrus dipakai Allah untuk membuka pintu Kerajaan Sorga, oleh karena ia memiliki hati yang ingin memperjumpakan manusia dengan Allah.  Hati yang seperti ini memungkinkan Allah bekerja secara luar biasa dalam hidupnya.  Hati yang menggebu-gebu untuk membuat tetangganya, saudaranya, rekan bisnisnya, kerabatnya, dan siapa pun orang disekitarnya untuk mengenal Allah.  Kita sering menyanyikan lagu: Dia harus makin bertambah – ku harus makin berkurang, nama Yesus saja disembah, ku di tempat paling b’lakang, dst.

Ilustrasi:  Rev. Francis Chen (Francis Chan is the founding pastor of Cornerstone Church in Simi Valley, CA, starting the church in 1994. In May 2010, he left Cornerstone to work directly in mission with the poor locally and internationally).

Bagaimana kita memberi diri melayani yang menyenangkan hati Tuhan:

  1. Pemberian dan pelayanan yang lahir dari pengenalan akan Allah
  2. Pemberian dan pelayanan yang membuat iman bertumbuh
  3. Pemberian dan pelayanan yang memperjumpakan manusia berdosa dengan Allah

Tuhan kiranya memberkati dan menolong kita semua untuk semakin menyenangkan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: