Just another WordPress.com site

Menguasai adalah naluri dasar manusia.  Seorang yang kuat akan menguasai yang lemah; sedangkan orang lemah tersebut akan menguasai orang yang lebih lemah dari dia.  Begitu seterusnya naluri menguasai tersebut dipraktekan dari generasi ke generasi.  Naluri untuk menguasai tersebut ada oleh karena manusia bersama-sama bergerak pada sebuah sistem ‘hukum rimba’ dimana yang kuat pastilah keluar sebagai pemenang.  Misalnya saja: untuk menjadi seorang kepala daerah dulunya mengikuti sistem karier, siapa yang kariernya lebih tinggi/kuat maka dialah yang akan menjadi kepala daerah;  namun sekarang ini, tidak cukup jenjang karier, dibutuhkan hal-hal yang lebih dari itu misalnya saja: relasi, pengaruh, dan yang paling penting adalah uang.  Dengan demikian, zaman telah menempatkan kita pada persepsi bahwa nilai kuatnya seseorang terletak pada hal kuasa, relasi dengan pejabar dan harta seseorang.

Dengan perkataan lain, orang-orang yang tidak memiliki kuasa, relasi dengan pejabat dan harta akan menjadi terpinggirkan dan semakin dilemahkan oleh sistem.  Bagian pembacaan Alkitab hari ini menghadirkan sosok Daniel dalam konteks masayarakat yang tidak jauh berbeda dengan kita sekarang.  Daniel yang muda dikontraskan dengan sosok Darius, seorang yang berkesempatan menjadi raja dalam usia yang ke 62 tahun.  Daniel yang tidak berkuasa mengangkat seorang pun menjadi penguasa yang kontras dengan Darius yang memiliki kuasa penuh bahkan untuk mengangkat 120 orang wakil raja.  Namun demikian, Daniel justru ditampilkan sebagai seorang yang memiliki kuasa lebih dari Darius, yang sekaligus mematahkan persepsi kita kebyakan mengenai seorang yang berkuasa.

Alkitab menghadirkan secara berbeda, perihal bagaimana menjadi seorang dengan kepribadian kuat.  Rupanya hal-hal itulah yang dihidupkan Daniel, justru disaat sistem nilai kehidupan masyarakat bergerak ke arah sebaliknya, dan hasilnya, Daniel adalah seorang yang tidak terkalahkan, baik oleh para musuh, binatang buas (singa), sistem hukum yang korup (dihukum untuk dibakar) bahkan terhadap raja sendiri (ia berhasil melewati 3 generasi raja yang memerintah).  Hal-hal inilah yang akan coba kita lihat dan renungkan di persekutuan ibadah pagi ini.  Hal-hal yang menguatkan kepribadian seseorang dihadapan Allah.

Pertama, kepribadian yang kuat dimulai dari kesadaran untuk melihat hidup sebagai sebuah pertanggung jawaban.  Kehidupan bukanlah hanya sebuah siklus lahir, tumbuh, dewasa, tua dan mati; kehidupan juga bukan hanya soal bagaimana mengisi, mencapai atau memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan hidup.  Hal yang penting untuk dipahami dari kehidupan adalah melihatnya sebagai sebuah pertanggung jawaban.  Apabila kita perhatikan awal mula kehidupan dan bagaimana Alkitab memberi penjelasan perihal kehidupan maka kita akan menjadi begitu terheran-heran.  Ketika suami istri dipersekutukan menjadi satu daging, maka Allah secara bersamaan (tanpa diketahui, direncanakan atau bahkan dibatalkan oleh manusia) menghembuskan roh kehidupan, yaitu Roh Kudus, seperti yang dulu pernah Allah lakukan pada Adam dan Hawa (hanya saja bukan dalam bentuk zigot atau embrio atau janin, pilih saja istilah yang lebih mudah dimengerti).  Alkitab menjelaskan bahwa roh itu kekal (tidak pernah menjadi tua, rapuh dan mati), non gender (ia tidak kawin dan dikawinkan), ia merupakan benih ilahi (oleh karena memiliki kepekaan terhadap Allah) dan bahkan ia tidak pernah menjadi bergantung mutlak pada tubuh jasmani.  Roh yang bersifat ilahi tersebut, dalam kemahakuasaan Allah, menjadi terselubung di dalam tubuh yang sifatnya materi duniawi, bahkan ia bisa menjadi terjerat oleh dosa yang muncul oleh karena kerapuhan dan nafsu dari jiwa manusia.  Disinilah maksudnya ketika Tuhan Yesus berbicara tentang mendukakan Roh Kudus Allah.

Kepribadian yang lemah adalah kepribadian yang ‘mematikan’ potensi roh di dalam tubuh yang seharusnya mentaati Allah oleh karena jiwa yang seharusnya merindukan Allah.  Sebaliknya keperibadian yang kuat adalah kepribadian yang terus menerus menghidupkan potensi ilahi di dalam tubuh yang mengerjakan kehendak Allah oleh karena rohnya yang terus menerus mengalami kepenuhan (bandingkan dengan Efesus 5:18b).  Hal inilah yang diperbuat oleh Daniel, ditengah-tengah semarak dunia yang hanya berorientasi untuk menyenangkan sang raja saja, maka Daniel tampil sebagai seorang dengan roh yang luar biasa (ay. 4).  Daniel sadar betul bahwa roh yang luar biasa itu bukanlah untuk disembunyikan di balik altar kekudusan atau pakaian peribadahan; sebaliknya Daniel mempertontonkan roh yang luar biasa tersebut dalam manifestasi pertanggung jawaban hidup.  Tentu saja pertama-tama pertanggung jawaban dihadapan raja sebagai makluk yang terlihat.

Dalam konteks yang berbeda, hal ini juga yang dipertegas oleh rasul Yohanes ketika berkata: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yoh. 4:20); dengan perkataan lain: jika seseorang yang berani merugikan raja yang keliatan, bukanlah ia terlebih berani lagi untuk merugikan raja yang tidak kelihatan?  Seorang dengan kepribadian kuat adalah seorang yang sadar untuk melihat hidup sebagai sebuah pertanggung jawaban, pertama-tama dihadapan sesama yang kelihatan tetapi juga terus berlanjut hingga ke hadapan Tuhan yang tidak kelihatan.

Kedua, kepribadian yang kuat seharusnya membuat seseorang meyakini bahwa orientasi hidupnya adalah untuk menyenangkan Tuhan.  Tubuh dan jiwa Daniel bersinergis dengan rohnya yang luar biasa.  Tidak ada seorang pun yang dapat menemukan kelalaian atau bahkan keteledoran dalam diri Daniel; ia bahkan lebih berhikmat dari siapa pun.  Namun haruslah diingat bahwa ia sedang berada dalam sebuah sistem yang rusak, dan itu memang disengaja oleh Allah.  Allah menempatkan Daniel begitu rupa dalam tatanan dunia yang korup, mentalitas para pemimpin dan negarawan yang berprinsip asal raja senang, serta masyarakat yang kafir oleh karena tidak mengenal kebenaran.  Daniel sendirian diantara banyak orang yang hanya mampu melihat satu-satunya cara untuk menyingkirkan daniel: yaitu dalam hal ibadahnya kepada Allahnya (ay. 6)  namun Daniel tidak pernah beranjak dari keyakinan pribadinya, bahwa orientasi hidupnya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan.

Bukankah ada kemiripan antara dunia kita dengan dunia Daniel?  Tantangannya mungkin saja mirip, namun apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadi berbeda.  Berbeda oleh karena orientasi kita adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan.  Apakah kita memiliki kepribadian yang kuat seperti ini?  Tuhan kiranya menolong kita semua sehingga memiliki kepribadian yang kuat dalam komitmen untuk menyenangkan Tuhan.

 

Comments on: "Jadilah Pribadi yang Kuat" (1)

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: