Just another WordPress.com site

Kamu adalah Sahabatku

1 Sam. 18:1-5

weManusia adalah makluk sosial. Artinya, memiliki pola hidup yang berbagi, berbarengan juga bergantung satu dengan lainnya. Namun demikian, ada hal-hal yang dibatasi oleh hubungan sosial tersebut, yaitu hak privacy. Jadi dalam prinsip hubungan sosial tersebut ada yang di-share-kan dan ada yang dibatasi. Inilah hal yang unik dalam hubungan sosial kita, sebab kita pun melakukan hal yang serupa. Tidak ada diantara kita yang mau dibatasi hak privacynya, atau rela untuk berbagi semua yang kita miliki dalam tanggung jawab hubungan sosial. Anehnya, Daud dan Yonathan memperagakan sesuatu hubungan yang berbeda. Mereka mampu menjalin relasi sejati yang melampaui apa yang bisa kita pikirkan dan kerjakan. Walaupun sulit namun inilah relasi sejati yang dikehendaki oleh Kristus dalam persekutuan kita. Suatu relasi yang mampu mengabaikan ke-aku-an (‘i’ ) dan menggantinya dengan (‘we’). Hal penting untuk kita pelajari adalah mengapa antara Daud dan Yonathan bisa saling berkata ‘kamu adalah sahabatku’ dalam persahabatan sejati?
Pertama, menilai persahabatan bukan dari apa yang akan diterima tetapi dari apa yang dapat diberikan. Rumusan ini sederhana tapi sulit untuk kita praktekkan, karena lebih mudah bagi kita untuk menerima kasih dari seorang sahabat dari pada mengasihi sahabat dengan memberikan semua wujud kasih yang kita miliki. Inilah yang dilakukan oleh Yonathan: menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya. (1Sa 18:4 ITB). Ia bahkan memberikannya dalam konteks peperangan yang tengah terjadi dan berkecamuk pada bangsanya. Apakah kita mampu melakukannya? Tuhan Yesus telah melakukannya bagi kita, ketika Ia membiarkan diri-Nya tergantung pada kayu salib dan berkata “sudah selesai”.
Kedua, membangun persahabatan dalam kejujuran dan ketulusan jiwa. Rumusan ini lebih sulit lagi untuk kita lakukan, karena kita cenderung melihat persahabatan dari sisi materi, pekerjaan yang sama, hoby yang sama, kesamaan keluarga dan lain sebagainya. Namun demikian, apakah kita mampu mengasihi dari dalam jiwa yang tulus dan jujur, tanpa perlu memperhitungkan keharusan hal-hal yang sama? Sulit bagi kita, tapi bukan berarti tidak mungkin. Inilah yang terjadi pada Daud dan Yonathan, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri (1Sa 18:1 ITB), bahkan ungkapan mengasihi seperti jiwa sendiri diulang hingga 2 kali. Ini prinsip yang penting. Bahkan lebih lagi, Tuhan Yesus telah melakukannya bagi kita dimana Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Fil. 2:7-8 ITB).
Bagaimana kita melakukannya? Pertama, kita harus sudah mengalami dan menikmati kasih Allah. Kasih Allah yang sempurna itu haruslah menjadi pengalaman pribadi kita, tanpa itu, kasih kita kepada orang lain, sehebat apa pun yang kita lakukan, hanya berakhir pada kesia-siaan. Rasul Paulus berkata: sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Kor. 13:3 ITB).
Kedua, kita harus rela melepaskan diri dari nilai-nilai materi dan menggantinya dengan nilai spiritual. Bukan pada berapa banyak hal yang bisa kita berikan, tetapi seberapa ‘sungguh-sungguh kita melakukannya. Ketidak mampuan inilah yang Tuhan Yesus tegur dari jemaat Efesus. Tuhan Yesus berkata: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula (Why. 2:2-4 ITB)”.
Ketiga, kita harus siap untuk tidak mendapatkan apa-apa bahkan cenderung diabaikan sebagai balasannya. Sering sekali satu perbuatan baik yang kita lakukan harapannya akan dibalas dengan dua tindakan baiknya, inilah prinsip yang harus kita lupakan agar bisa mengalami hubungan yang sejati. Tuhan Yesus menegur kita dengan berkata: Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. (Luk 6:32-33 ITB).
Kiranya Tuhan menolong kita melakukannya, Amin.

Iklan

Sastra Perjanjian Lama memberikan penghargaan tinggi pada sikap diam.  Dalam konteks penguasaan atas amarah, maka orang yang diam/berdiam diri[1] sesungguhnya telah terluput dari jerat dosa (Mzm. 4:5); bahkan seorang yang memilih berdiam diri (חרשׁ)[2] adalah ekspresi dari hikmat atau berpengetahuan (Ams. 11:12; 17:28).  Anak Allah bahkan dalam Perjanjian Baru, menggunakan terminologi tersebut sebagai klaim identitas personal bagi diri-Nya menjadi penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Ia hadir: “seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya” (Kis. 8:32 band. Mzm. 39:10; Yes. 53:7).

Terjadi peningkatan maknawi ketika penulis Perjanjian Baru mengadopsi makna kata berdiam diri dari terminologi Perjanjian Lama, terutama ketika itu disandangkan pada Kristus sebagai Anak Domba Allah.  Berdiam diri seperti anak domba yang kelu di bawah ke pembantaian.  Penulis Lukas sengaja menggunakan kata ἄφωνος[3], sebagai suatu pilihan sikap untuk mengabaikan kemampuan yang dimiliki.  Memang istilah anak domba merujuk pada aspek ketiadaan kemampuan untuk melawan, tetapi penggunaan kata ἄφωνος lebih merujuk pada sikap ketaatan dan pengabaian kemampuan demi tercapainya suatu tujuan.

Pembahasan terfokus pada pertanyaan: apakah keputusan Yesus untuk berdiam diri menurut kedua terminologi di atas dapat diaplikasikan pada teks Lukas 22:63-71?  Jika memang demikian, apakah hal tersebut dapat juga menjadi landasan sikap kristiani terutama bagi teologi komunikasi? Penelitian dan pembahasan selanjutnya akan fokus pada hal tersebut.

Narasi Lukas 22:63-71 dimulai dengan petunjuk penting pada ayat 63-64.  Bukan saja hadir sebagai pembukaan narasi tetapi jika jeli diperhatikan maka tersembunyi rahasia besar yang tersusun secara apik melalui struktur diagram berikut ini:

Secara literal dapat diterjemahkan: “tetapi orang-orang yang menindas-Nya, terus menerus mengejek untuk mengalahkan-Nya dan terus menerus menanyai-Nya untuk menutup muka-Nya, sambil berkata: ‘engkau adalah nabi’ sambil terus menyerang-Nya.”

Yesus berdiam diri rupanya untuk alasan yang berbeda.  Pertama, Ia telah mengetahui bahwa orang-orang ini telah dengan sengaja menutup diri mereka bagi fakta kebenaran.  Lukas sangat jeli mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi.  Lukas menangkap suatu pesan khusus yang menjadi alasan Yesus berdiam diri dan membahasakannya dalam bentuk pengulangan dua kata kerja indicative imperfect aktif, yaitu kata ἐνέπαιζον dan ἐπηρώτων. Diikuti oleh penekanan maksud dengan menggunakan dua buah kata kerja modus participle yaitu kata δέροντες dan περικαλύψαντες.  Secara literal tindakan ini kemudian diterjemahkan sebagai “terus menerus mengejek untuk mengalahkan-Nya dan terus menerus menanyai-Nya untuk menutup muka-Nya.”[4]

Babak selanjutnya dalam narasi Lukas adalah dialog drama pengadilan. Catatannya secara lengkap disajikan dalam ayat 66-68. Dengan sebuah setting berisi alur dan catatan percakapan persidangan yang menjadi inti narasi:

… dan ketika hari itu menjadi pagi, telah berkumpullah (συνήχθη) pemimpin-pemimpin Yahudi, imam-imam kepala dan guru-guru agama dan telah dibawahnyalah (ἀπήγαγον) Yesus ke dalam persidangan itu untuk mengatakan (λέγοντες) perkataan (εἰπὸν) tentang diri-Nya sendiri yang adalah Kristus.  Tetapi Berkatalah Yesus: “kalian tidak pernah menaruh percaya (πιστεύσητε) pada kesaksian-Ku juga kalian tidak pernah memberi respon (ἀποκριθῆτε) pada pengajaran-Ku”.

Para pemimpin-pemimpin Yahudi, imam-imam kepala dan guru-guru agama berbuat seolah-olah mereka ingin mengetahui perihal diri Yesus, namun Yesus dengan tegas memperlihatkan essensi dari persidangan tersebut. Yesus berdiam diri oleh karena kedua, Ia tidak memberi ruang kompromi atas fakta kebenaran. Tidak ada lagi kesempatan pada mereka untuk mengenal kebenaran oleh karena sejak awal pelayanan Yesus mereka tidak pernah menaruh percaya (πιστεύσητε) pada kesaksian-Nya juga mereka tidak pernah memberi respon (ἀποκριθῆτε) penerimaan pada pengajaran-Nya.[5] Pemikiran teologis Luther, seperti yang dipaparkan oleh Althaus, dengan akurat menanggapi konsep tersebut saat berkata:

Christ’s work was done at a perticular time in history.  But in God’s sight it has existed from all eternity.  It is in this sense that, according to revelation 13:8, Christ was crucified for the sins of all mankind ‘before the foundation of the world.”  For the gospel and the promise are there from the beginning and these include Christ and his work.  Thus all men of all times who believe the promise, and thereby are blessed, live from the work of Christ – even thought this actually first took place on Golgotha.  The work of salvation is, however, based on God’s eternal will to save; and its significance therefore transcends time.[6]

Drama dialogis kemudian diakhiri dengan pesan penetrasi dari Yesus:

“…tetapi Anak Manusia dari sekarang telah ditetapkan bertahta disebelah kanan Allah yang Maha Kuasa.”

Kebenaran tidak pernah berkompromi; selalu bekerja dalam peran ganda.  Menyatakan nilai standar sekaligus memperlihatkan kebobrokan.  Sehingga keberpihakan pada kebenaran selalu mengakibatkan pelucutan ketidak benaran.  Penerimaan pada fakta kebenaran Yesus merupakan satu-satunya jalan masuk pada pengakuan atas keilahian-Nya.  Tidak ada ruang untuk hanya menerima salah-satunya.

Pengakuan fakta kebenaran yang tidak kompromistis dari Yesus Kristus perihal kesatuan essential diri-Nya dengan Allah yang Maha Kuasa, merupakan core believe dari iman Kristen.  Seperti yang dijabarkan oleh Warfield dalam tulisan exegesa atas pikiran Paulus mengenai kesatuan keilahian Yesus dan Bapa.  Ia menyimpulkan:

Paul obviously includes both “God the Father” and “The Lord Jesus Christ” within this one only God whom alone he and his readers alike recognize as existing. it would void his whole argument if Jesus Christ were conceived af as a second and inferior object of worship outside the limits of the one only God. the thing which above all others passages says plainly, is that the acknowledgment by Christians of “one God the Father and one Lord Jesus Christ” accords with the fundamental postulate that “there is no God but one”.”  and that can mean nothing else than that God the Father and the Lord Jesus Christ together make but one God.[7]

Kekristenan modern dituntut untuk mampu mempresentasikan kebenaran secara tepat dan jelas.  Dalam konteks ini, clausa diam adalah emas tidak lagi berbanding lurus dengan fakta dan tuntutan zaman.  Yesus telah memulai dan memperlihatkan kesejatian nilai kebenaran.  Para rasul telah meneruskan mandat kebenaran dan sekarang kita semua adalah pewarisnya.  Perlu kematangan berteologi dan kedewasaan pengkomunikasian fakta kebenaran.  Keduanya berada pada kesatuan tuntutan bahwa generasi ini masih menjadi generasi yang terbuka bagi kebenaran, sehingga berhentilah untuk diam atas fakta kebenaran.  Namun demikian, kepada kita juga dituntut untuk tidak mengkompromikan kebenaran.  Sikap berdiam diri sesungguhnya adalah pilihan kompromistis pada ketidak benaran.  Sikap pengikut Kristus sejati adalah menyuarakan kebenaran dalam kerja sama yang aktif.  Gerakan reformasi telah sejak lama melakukannya melalui spirit cooperation without compromise.  Ingatlah bahwa diam tak selamanya adalah emas.

Kepustakaan:

Althaus, Paul. The Theology of Marthin Luther.  Philadelphia: Fortress Press, 1966.

Balz Horst dan Gerhard Schneider (ed).  Exegetical Dictionary of The New Testament, vol. 1.  Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1990.

Brown, Francis. The Brown Driver Briggs Hebrew and English Lexicon.  Boston: Hendrickson Publishers, 1996.

Wallace, Daniel B. Greek Grammar Beyond the Basic: an Exegetical Syntax of the New Testament.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1995.

Warfield, Benjamin B.  Biblical Doctrines. Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 2002.

Wood, Leon J. “חרשׁ” dalam Theological Wordbook of the Old Testament.  Disunting oleh R. Laird Haris dan yang lainnya.  Chicago: Moody Press, 1981.

Zerwick, Maximilian. Biblical Greek:Illustrated By Examples. Roma: Editrice Pontificio Istituto Biblico, 1963.

[1] Pemazmur menjadikan sikap berdiam diri sebagai suatu keputusan yang bukan saja rasional, arif dan bijaksana tetapi malahan sebagai suatu kesadaran spiritual.  Istilah yang digunakan adalah  וְדֹ֣מּוּyang merupakan bentuk Qal Imperative orang ke dua masculine jamak dari kata dasar דמם.  Pemazmur sering sekali menggunakan bentuk ini terutama untuk pengalaman-pengalaman penderitaan.  Pemazmur dengan kesadaran spiritual memilih berdiam diri atas cemoohan dari orang lain kepadanya ketika sedang mengalami penderitaan agar is justru tidak terjebak pada tindakan berdosa.  Study lebih lanjut dapat dilakukan pada Francis Brown, The Brown Driver Briggs Hebrew and English Lexicon (Boston: Hendrickson Publishers, 1996), 198-99.

[2] Penulis kitab Amsal dalam nasehatnya mendesak orang berhikmat untuk berdiam diri secara aktif.  Ia menggunakan kata יַחֲרִֽישׁ  yang merupakan bentuk Hifil Imperfek orang ke-tiga masculin tunggal dari akar kata חרשׁ.  Akar kata חרשׁ merujuk pada ide dasar seorang pengrajin yang mampu memotong sesuatu ke dalam beberapa bagian.  Dengan demikian seorang yang berhikmat dibuktikan dengan kemampuannya berdiam diri sehingga permasalahan tidak menjadi lebih besar tetapi justru menjadi teredam.  Lihat Leon J. Wood, “חרשׁ” dalam Theological Wordbook of the Old Testament, peny., R. Laird Haris dkk (Chicago: Moody Press), 327-28.

[3] Merupakan bentuk adjective normal nominative, digunakan sebagai bentuk sikap ketaatan akan tujuan tertentu yang hendak dicapai yaitu memberi diri untuk di bantai.  Study selanjutnya dapat dilakukan antara lain pada Horst Balz dan Gerhard Schneider (ed), Exegetical Dictionary of The New Testament, vol. 1 (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1990), 185.

[4] Perhatikanlah bahwa penulis Lukas dengan sengaja menggunakan bentuk struktur pengulangan pada kata kerja untuk memperlihatkan kondisi berbanding lurus antara tindakan fisik dan keputusan mental.  Mereka dengan sengaja terus menerus mengejeknya dengan maksud untuk mengintimidasi serta terus menerus bertanya: coba tebak, siapa yang memukul Engkau? Sambil menutup wajah Yesus.  Hal ini dilakukan disepanjang malam menjadi sebuah guyonan yang begitu lucu sembari merasakan suatu perarakan kemenangan oleh karena telah berhasil mempermalukannya, oleh karena kebenaran itu sekarang telah ‘berhasil’ ditutupi.  Lebih dari itu, penggunaan modus participle berguna untuk memberi penekanan kekuatan niat yang dikerjakan oleh kata kerja utama.  Untuk study lebih lanjut dapat menggunakan buku Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basic: an Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1995), 637-38.

[5] Penting untuk diperhatikan bahwa untuk setiap kata kerja baik menaruh percaya (πιστεύσητε) dan memberi respon (ἀποκριθῆτε) yang dipakai oleh Lukas selalu diikuti oleh partikel negasi οὐ μὴ.  Penggunaan partikel negasi οὐ μὴ menunjukan pada aspek penolakan yang tegas.  Study lebih lanjut dapat dilakukan pada Maximilian Zerwick, Biblical Greek:Illustrated By Examples (Roma: Editrice Pontificio Istituto Biblico, 1963), 149.

[6] Luther menyadari bahwa  bukti-bukti kemesiasan Yesus telah cukup, memadai dan akurat di sepanjang kisah kehidupan dan pengajaran Yesus.  Namun kedegilan hati  manusia dalam sinful nature-nya telah merusak semuanya.  Panjang lebar penjelasannya dapat dilihat pada Paul Althaus, The Theology of Marthin Luther (Philadelphia: Fortress Press, 1966), 211.

[7] Benjamin B. Warfield,  Biblical Doctrines (Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 2002), 230.

R.I.P

Kematian adalah realitas yang tak terhindarkan. Seluruh semesta tunduk dan tak berdaya terhadap fakta tersebut. Tidak hanya ketiadaan daya mengelak, kematian senantiasa membawa fakta dukha yang pedih dan menyengsarakan. Hati yang teguh menjadi getir, jika yang kuat menjadi berkeping-keping bahkan fisik yang tegar serta merta rapuh, bergetar dan layu kisut. Pengetahuan yang berkembang, teknologi yang bertumbuh bahkan modernitas yang mempesona hanya menjadi sebuah topeng kesenangan sesaat yang untuk sejenak membuat manusia lupa akan takdir kematian hingga ia menjemput dengan tiba-tiba dalam keheningan yang gelap pekat.

Ada kalanya manusi terlihat tegar, siap bahkan seolah-olah menanti datangnya kematian, bahkan ada yang memiliki keberanian ekstra untuk mendahului ajal yang menjemput. Faktanya, walaupun sesaat, dukha tetaplah merupakan momok yang memilukan, menakutkan dan menggetarkan. Bilakah kematian mendatangkan kepuasaan? Adakah dukha yang memberikan ketenangan dan kelepasan? Mungkinkah manusia menghadapi ajal menjemput dengan pekik kemenangan? Mampukah kemanusiaan berdamai dengan kesunyian alam maut dan bercanda dengan angkernya kuburan?

Kebudayaan dan kearifan lokal hanya mampu melihat kematian dengan pandangan yang berlinangan air mata. Filsafat pun tak kuasa menjelaskan dan memberi pengharapan yang menghiburkan. Agama seringkali hanya memberi saputangan untuk mengusap dukha yang terlanjur membanjiri realitas air mata kepedihan. Bahasa penghiburan sesama manusia hanya menjadi kata-kata miskin makna yang sesekali terdengar seolah-olah mau berkata: “sudahlah, engkau tidak sendiri”. Bahkan khotbah pun kadang kala hanya menjadi untaian kata-kata copy-paste yang pastinya akan berulang berganti dihadapan jenis-jenis keranda. Pada akhirnya engkau pun akan mengalami kesendirian, keterasingan dan kesepian. Entahkan engkau yang ditinggalkan maupun jika engkau yang meninggalkan. Dititik inilah jiwamu akan terkejut dengan realitas: “aku sendiri”.

Setelah lelah memohon agar sang waktu berputar mundur memberi sedikir ruang pengulangan, polosnya jiwa manusia kemudian akan mulai menyalahkan, mengukur terbatasnya kesempatan, dan mengutuki waktu yang telah dilewatkan sia-sia. Lagi-lagi, saat kematian menghampiri, tidak ada seorang pun yang mampu beralibi dan menghindarinya. Adakah kebahagiaan yang dimiliki iman saat kematian menjemputnya? Tersediakah pengharapan saat ajal menghampiri? Jika yang tersisa adalah kasih, maka dalam keengganan untuk mengerti biasanya orang akan berkata: “kita memang mengasihi, tetapi Tuhan lebih mengasihi”. Sejujurnya kita enggan berterus terang bahkan dalam gelapnya dukha yang menyelimuti. Bahasa sorga pun seketika menjadi rapalan mantra ampuh untuk menyembunyikan ketidak berdayaan manusia beragama yang enggan menyapa Sang Khalam dengan kejujuran hati yang hancur.

Dengan demikian, bagaimana kita memaknai kematian? Bagaimana kita bersikap menanggapi kematian? Bagaimana kita memahami kematian sebagai peristirahatan damai?

Raja Daud menulis: “Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan (Mzm. 16:10)”.

Kematian adalah konsekuensi eksistensi. Segala sesuatu yang dicipta, yang adalah materi pastilah akan berakhir. Setiap keberadaan yang merupakan konsekuensi dari penciptaan pastilah mengalami kematian, sebab materi tidak dapat mengambil bagian di dalam kekekalan. Materi senantiasa membutuhkan dimenuahsi ruang dan waktu sebagai wadahnya. Alkitab menjelaskan bahwa form material manusia adalah berasal dari debu tanah dan menjadi wadah dari ruah Ilahi. Ruah ilahi inilah yang menjadikan manusi memiliki hidup dan saatnya akan tiba dimana form materi akan kembali ke asalnya dan roh akan kembali kepada Allah. Debu akan kembali kepada debu; roh akan kembali kepada Roh. Debu tanah tidak dapat menampung secara permanent apa yang menjadi milik Allah. Apa yang dicipta tidak dapat menampung apa yang sumber asalinya adalah dari sang pencipta. Prinsipnya adalah finitum non capax infinitum.

Kematian adalah ekspresi unik dari kasih kekal Allah. Apakah saat Allah menciptakan manusia, Ia telah merencanakan mengenai keterbatasan waktu manusia? Tidak ada yang mengerti jawaban pastinya. Namun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa kematian atau maut adalah hasil akhir yang diperoleh manusia ketika mereka tidak taat pada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban tertinggi terhadap kasih berlimpah-Nya, dan di dalam konteks tersebutlah kematian hadir sebagai konsekuensi logis dari ketidak taatan. Kematian adalah buah dari ketidaktaatan. Kematian adalah cara Allah untuk menunjukan cara-Nya yang unik dalam mengasihi. Disebut unik adalah karena di dalam Ia mengasihi, tidak mungkin Ia tidak menghukum; sebaliknya di dalam penghukuman-Nya tidak mungkin Ia tidak mengasihi. Semua manusia akan mati sebab kematian adalah fakta hukuman kekal Allah; tetapi di dalam kematian jugalah justru Allah memperlihatkan kasih kekal-Nya. Jadi kematian adalah cara unik Allah dalam menghadirkan kasih-Nya. Di dalam kematian kita dikenang, di dalam kematian kita dirindukan, di dalam kematian kita dihargai dan bahkan di dalam kematian kita dimuliakan. Selamat menanti kematian…

Titik Akhir

Kehidupan adalah rangkaian titik-titik perjalanan melewati rentang masa di dalam ruang terbatas yang bernama kehadiran. Setiap detail dari titik-titik perjalanan tersebut akan saling bersentuhan, bergesekan kadang bertautan namun tidak jarang juga saling memutus ikatan dan akhirnya kehilangan kehadiran. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana pemaknaan dari rangkaian titik-titik kehadiran tersebut menjadi suatu pembelajaran yang semakin mendewasakan, menjadikan bijak dan berhikmat serta semakin bermakna agar semua menjadi indah pada waktunya?

  1. Perjelaslah arah kehidupan. Kehidupan adalah suatu misteri; tidak ada kecerdasan yang dapat menyingkapkannya selain daripada kebergantungan pada hikmat kebenaran. Justru karena ia adalah suatu misteri maka kehidupan menjadi lebih bermakna. Manusia menjadi seorang musafir yang terus berjalan menuju perhentian. Musafir yang berkelana menuju satu arah yang pasti yaitu perhentian. Kesadaran akan arah yang jelas inilah yang menuntut manusia untuk berjalan dalam kewaspadaan, berkelana dalam pertanggungjawaban, bermain dalam aturan hidup. Setiap musafir pasti akan berhenti langkahnya; dan jika perhentian itu adalah suatu kepastian, maka langkahpun harus diperjelas. Perjelas setiap jejak yang ditinggalkan; perjelas setiap warna kebergunaan; perjelas setiap detail fungsi kehadiran. Tujuannya sederhana agar ketika langkah pengembaraan terhenti, ia tidak berhenti pada kata terlambat
  2. Pertajamlah kepekaan atas karunia. Penyesalan selalu ada di akhir. Ia terkadang tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan apalagi permisi. Ketika penyesalan sudah tiba maka segera runtuhlah setiap hal yang telah dibangun. Tidak ada yang dapat menghentikan penyesalan. Ia bukanlah takdir, tetapi ia ada oleh karena kitalah yang terbatas di dalam ruang dan waktu. Sang Khalam sebagai empunya seri panjang kisah kehidupan memahami betul kerapuhan dan ketidak berdayaan para musafirnya. Penyertaan adalah janji dari kebesaran dan kedaulatan-Nya. Karunia adalah bukti dari penyertaan tersebut dan kepada setiap musafir akan mendapat pena dan kertas yang unik dari Sang Khalam. Disinilah dibutuhkan kepekaan. Barangsiapa peka, ia akan mendapatkan hidayah dan pencerahan; siapapun yang peka, maka dialah kawan karib dari Sang Khalam. Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar agar mampu meneruskan tulisan mengenai kawan sejati kehidupan yaitu Sang Khalik, agar saat kematian menjemput ia tahu bahwa ada kawan sejati yang mendampinginya.
  3. Perluaslah kehadiran menjadi kebermaknaan. Bagian ketiga ini tidak penting maka ia tidak perlu berisi. Hanya saja bagian ketiga ini menyediakan pertanyaan yang mendasar: apakah anda telah memberikan kehadiran yang bermakna? Pentingkah perjalanan kehidupanmu untuk dikenang dan dirayakan?

Sesaat lagi semua kita akan berakhir dalam titik-titik 2017. Sudahkah kita menjadikan titik-titik tersebut sebagai garis kehidupan yang bermakna? Semoga kita semua akan menyatu dalam titik-titik semesta kehidupan menuju kebersamaan yang bermakna ditahun 2018. Selamat menjelang tahun 2018. Selamat merayakan titik akhir ditahun 2017.

Jakarta, 31 Desember 2017

Arrhenius Petwien Gunde dan keluarga mengucapkan selamat tahun baru 2018.

Remisi Natal

Remisi adalah pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Jika remisi yang dimaksud diberikan dalam rangka hari raya keagamaan, maka setiap narapidana atau anak pidana yang telah menjalani masa konsekuensi hukum 0,5 hingga 1 tahun berhak mendapatkan pemotongan masa tahanan 15 hari. Jika narapidana atau anak pidana telah menjalani masa konsekuensi hukum 2-3 tahun maka ia berhak mendapatkan pemotongan masa tahanan 30 hari, dan seterusnya.

Kenapa perlu remisi? Dari aspek tuntutan hukum, remisi merupakan reward atau konsekuensi logis terhadap setiap narapidana atau anak pidana yang telah menjalani prasyarat masa tahanan, berkelakuan baik selama masa penahanan serta telah mengikuti pembinaan dengan predikat baik; dari aspek filosofis, remisi merupakan akibat langsung dari keadilan dan kedaulatan hukum. Jika semua manusia harus tunduk kepada hukum maka hukum juga harus memberikan rasa keadilan, keamanan dan keberhargaan atas eksistensi kemanusiaan; dari aspek sosiologis, remisi merupakan kesempatan terciptanya suatu keberpihakan yang real atas sifat dasar manusia sebagai homo socius. Remisi merupakan harapan bagi terciptanya relasi baru yang memberikan kesempatan untuk keberadaban dan kedekatan relasi; dari aspek ekonomis, remisi tentu saja dapat mengurangi beban lapas (walaupun aspek ini sebetulnya tidak signifikan), namun demikian seorang narapidana atau anak pidana yang telah menjalani masa pembinaan di lapas tentunya dapat memanfaatkan pelatihan dan pembinaan tersebut dengan menciptakan lapangan kerja baru di luar lapas (ini pun kadang-kadang tidak berjalan maksimal, tetapi bukan berarti tidak efektif); secara politis, ah sudahlah politik itu tergantung kepentingan. Tidak ada kawan atau lawan yang ada hanyalah kepentingan.

Hubungan natal dan remisi.

Natal sebagai perayaan khusus bagi umat kristiani tentu saja telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah sehingga setiap umat Kristen berhak merayakan natal dalam kemerdekaan, dalam penghayatan dan dalam keberhargaan dirinya sebagai pengikut Kristus. Pada masa raya natal ini setiap umat Kristen berhak merayakannya, entahkan ada yang hanya fokus pads semarak perayaannya atau mereka yang secara serius mencari Allah dalam penghayatan spiritualitas. Natal adalah hak asasi umat Kristen. Natal adalah hak keadilan dan kebenaran, karena melalui natal “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini” (Yesaya 9:5-6). Natal adalah ekspresi dari kedaulatan Allah atas semesta ciptaan. Natal adalah intervensi Allah atas sejarah, peradaban dan kebernilaian kemanusiaan.

Selamat natal kepada saudara-saudaraku yang sedang menjalani masa penahanan. Semua kita pernah bersalah, namun keberhargaan kita ditentukan oleh anugerah Allah yang memanusiakan kita semua. Tuhan mengasihi kita semua, sehingga Ia rela berinkarnasi menjadi manusia, kecuali dalam dosa, dan mencari kita serta menebus justru disaat kita masih berdosa.

Selamat merayakan natal dan menikmati remisi.

Natal dan Monas

Tahun 2017 ini merupakan tahun dengan cita rasa berbeda. Ormas yang tadinya enggan mengucapkan selamat natal, kini ikut mendukung bahkan mungkin bisa jadi merupakan panitianya. Ormas yang sokogurunya lantang berteriak kafir, kini mengiklaskan dan bahkan akan mengawal pelaksanaan natal bersama di Monas. Ormas yang dibeberapa daerah tertentu semangat menutup dan memberangus ibadah dalam gereja, kini malah mempropaganda natal bersama umat Kristen di Monas. Ada apa dengan natal di Monas?

Sejak tahun 2017 ini, Monas telah bertambah fungsinya. Menjadi tempat yang efektif menyuarakan perlawanan terhadap penista agama. Monas berguna untuk mengumpulkan jutaan masa yang bersama-sama menunjukan cintanya pada agama melebihi apapun, ya melebihi apapun. Tak perlu logika, tak perlu keadilan, tak perlu pemahaman, ya karena cinta agama seharusnya melebihi apapun.

Bagaimana dengan natal di Monas dengan tambahan catatan akan dibiayai APBD?

Tahun 2017 seharusnya juga menjadi saksi bagaimana kekristenan itu mencintai orthodoksinya, mencintai liturginya, mencintai persekutuannya, mencintai kehadiran Tuhan dalam rumah kudusnya, mencintai kesederhanaan, mencintai Sang Ilahi yang berbela rasa, mencintai Sang Maha Kuasa yang mendemonstrasikan kasih kekalnya.

Natal bukanlah perayaan, apalagi celebrasi kemenangan dan kekuasaan, juga bukanlah ajang unjuk kekuatan dan propaganda jumlah. Natal adalah kemenangan kasih, natal adalah perihal kemanusiaan, natal adalah persekutuan orang percaya yang mengabdi dan menyembah.

Selamat menyongsong hari Natal. Jika hendak mampir Monas silahkan, masih banyak sejarah bangsa ini yang harus dipelajari dan semuanya tersedia di Monas. Biarkan bangsa ini kuat seteguh Monumen Nasional.

Kaisar Agustus bukan dengan tidak bertujuan mengeluarkan dekrit agar semua orang dalam kuasanya segera mendaftarkan diri ke daerah asalnya. Ekspresi dari kuasa besar dan tak terbendung sebagai penguasa dunia saat itu. Tidak ada yang dapat menolak bahkan membatalkan. Kesewenangan dari sang penguasa lebih dari separuh wilayah dunia. Jauh dari surga, Sang Allah hanya melihat dalam hening dan hampa.

Orang-orang berduyun-duyun serempak bergerak ke daerah asal masing-masing. Membawa semua yang mereka miliki, semua yang dapat mereka klaim, semua yang selama ini menjadi identitas status sosialnya. Kota kecil Betlehem tiba-tiba menjadi penuh sesak. Dipenuhi oleh semua yang berpunya. Berjejal para empunya harta. Berkumpul para sosialita. Kota kecil Betlehem seketika menjadi kehilangan daya tampung. Jauh dari surga, Sang Allah hanya melihat dalam hening dan hampa.

Kekuasaan begitu menggoda, menyebabkan manusia sejenak lupa siapa dirinya, darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia dimiliki. Kekuasaan pastinya membutakan mereka yang sejak awal telah picek mata hatinya, lumpuh mata bathinnya dan miskin mata rohaninya. Kekuasaan telah membuat mereka berdiri kokoh dalam impotensi kesombongannya. Kekuasaan juga turut menyumbang kemerosotan akaliah, terdistorsinya perasaan kemanusiaan serta matinya kepekaan untuk melihat mereka yang lain sebagai manusia seutuhnya. Jauh dari surga, inilah yang Allah lihat dalam hening dan hampa.

Kemanusiaan tiba-tiba berubah hanya oleh karena label apa miliku, apa milikmu. Tidak ada lagi empati ketika kemanusaan tidak dilihat sebagai sesama imago Dei. Tidak ada lagi toleransi dan bela rasa saat kemanusiaan tidak dicintai dalam kodratnya sebagai ciptaan pemelihara kehidupan. Tidak ada lagi kasih sayang sebagai pemersatu saat kemanusiaan tidak dihormati dalam naturnya sebagai sempurnanya maha karya firman. Jauh dari surga, inilah yang Allah lihat dalam hening dan hampa.

Allah bertindak.

Dipakainya kuasa yang Ia pinjamkan untuk membuat dua insan Yusuf dan Maria berjalan menembus hari, siang dan malam untuk bersama bergandengan tangan, sebagai sesama imago Dei; berangkul erat sebagai pemelihara kehidupan; berjuang bersama sebagai alat menyempurnakan kehadiran Sang Firman. Dari mereka kita harus belajar melihat bahwa kehidupan akan terus berjalan. Teruslah berjalan sambil membuka mata lebar-lebar untuk melihat apa yang Allah lihat jauh dari surga. Apa yang anda lihat? Apa yang kalian lihat? Pastinya saya sedang melihat bagian akhir dari tulisan ini, yaitu jawaban anda. Terima kasih.

Awan Tag