Just another WordPress.com site

R.I.P

Kematian adalah realitas yang tak terhindarkan. Seluruh semesta tunduk dan tak berdaya terhadap fakta tersebut. Tidak hanya ketiadaan daya mengelak, kematian senantiasa membawa fakta dukha yang pedih dan menyengsarakan. Hati yang teguh menjadi getir, jika yang kuat menjadi berkeping-keping bahkan fisik yang tegar serta merta rapuh, bergetar dan layu kisut. Pengetahuan yang berkembang, teknologi yang bertumbuh bahkan modernitas yang mempesona hanya menjadi sebuah topeng kesenangan sesaat yang untuk sejenak membuat manusia lupa akan takdir kematian hingga ia menjemput dengan tiba-tiba dalam keheningan yang gelap pekat.

Ada kalanya manusi terlihat tegar, siap bahkan seolah-olah menanti datangnya kematian, bahkan ada yang memiliki keberanian ekstra untuk mendahului ajal yang menjemput. Faktanya, walaupun sesaat, dukha tetaplah merupakan momok yang memilukan, menakutkan dan menggetarkan. Bilakah kematian mendatangkan kepuasaan? Adakah dukha yang memberikan ketenangan dan kelepasan? Mungkinkah manusia menghadapi ajal menjemput dengan pekik kemenangan? Mampukah kemanusiaan berdamai dengan kesunyian alam maut dan bercanda dengan angkernya kuburan?

Kebudayaan dan kearifan lokal hanya mampu melihat kematian dengan pandangan yang berlinangan air mata. Filsafat pun tak kuasa menjelaskan dan memberi pengharapan yang menghiburkan. Agama seringkali hanya memberi saputangan untuk mengusap dukha yang terlanjur membanjiri realitas air mata kepedihan. Bahasa penghiburan sesama manusia hanya menjadi kata-kata miskin makna yang sesekali terdengar seolah-olah mau berkata: “sudahlah, engkau tidak sendiri”. Bahkan khotbah pun kadang kala hanya menjadi untaian kata-kata copy-paste yang pastinya akan berulang berganti dihadapan jenis-jenis keranda. Pada akhirnya engkau pun akan mengalami kesendirian, keterasingan dan kesepian. Entahkan engkau yang ditinggalkan maupun jika engkau yang meninggalkan. Dititik inilah jiwamu akan terkejut dengan realitas: “aku sendiri”.

Setelah lelah memohon agar sang waktu berputar mundur memberi sedikir ruang pengulangan, polosnya jiwa manusia kemudian akan mulai menyalahkan, mengukur terbatasnya kesempatan, dan mengutuki waktu yang telah dilewatkan sia-sia. Lagi-lagi, saat kematian menghampiri, tidak ada seorang pun yang mampu beralibi dan menghindarinya. Adakah kebahagiaan yang dimiliki iman saat kematian menjemputnya? Tersediakah pengharapan saat ajal menghampiri? Jika yang tersisa adalah kasih, maka dalam keengganan untuk mengerti biasanya orang akan berkata: “kita memang mengasihi, tetapi Tuhan lebih mengasihi”. Sejujurnya kita enggan berterus terang bahkan dalam gelapnya dukha yang menyelimuti. Bahasa sorga pun seketika menjadi rapalan mantra ampuh untuk menyembunyikan ketidak berdayaan manusia beragama yang enggan menyapa Sang Khalam dengan kejujuran hati yang hancur.

Dengan demikian, bagaimana kita memaknai kematian? Bagaimana kita bersikap menanggapi kematian? Bagaimana kita memahami kematian sebagai peristirahatan damai?

Raja Daud menulis: “Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan (Mzm. 16:10)”.

Kematian adalah konsekuensi eksistensi. Segala sesuatu yang dicipta, yang adalah materi pastilah akan berakhir. Setiap keberadaan yang merupakan konsekuensi dari penciptaan pastilah mengalami kematian, sebab materi tidak dapat mengambil bagian di dalam kekekalan. Materi senantiasa membutuhkan dimenuahsi ruang dan waktu sebagai wadahnya. Alkitab menjelaskan bahwa form material manusia adalah berasal dari debu tanah dan menjadi wadah dari ruah Ilahi. Ruah ilahi inilah yang menjadikan manusi memiliki hidup dan saatnya akan tiba dimana form materi akan kembali ke asalnya dan roh akan kembali kepada Allah. Debu akan kembali kepada debu; roh akan kembali kepada Roh. Debu tanah tidak dapat menampung secara permanent apa yang menjadi milik Allah. Apa yang dicipta tidak dapat menampung apa yang sumber asalinya adalah dari sang pencipta. Prinsipnya adalah finitum non capax infinitum.

Kematian adalah ekspresi unik dari kasih kekal Allah. Apakah saat Allah menciptakan manusia, Ia telah merencanakan mengenai keterbatasan waktu manusia? Tidak ada yang mengerti jawaban pastinya. Namun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa kematian atau maut adalah hasil akhir yang diperoleh manusia ketika mereka tidak taat pada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban tertinggi terhadap kasih berlimpah-Nya, dan di dalam konteks tersebutlah kematian hadir sebagai konsekuensi logis dari ketidak taatan. Kematian adalah buah dari ketidaktaatan. Kematian adalah cara Allah untuk menunjukan cara-Nya yang unik dalam mengasihi. Disebut unik adalah karena di dalam Ia mengasihi, tidak mungkin Ia tidak menghukum; sebaliknya di dalam penghukuman-Nya tidak mungkin Ia tidak mengasihi. Semua manusia akan mati sebab kematian adalah fakta hukuman kekal Allah; tetapi di dalam kematian jugalah justru Allah memperlihatkan kasih kekal-Nya. Jadi kematian adalah cara unik Allah dalam menghadirkan kasih-Nya. Di dalam kematian kita dikenang, di dalam kematian kita dirindukan, di dalam kematian kita dihargai dan bahkan di dalam kematian kita dimuliakan. Selamat menanti kematian…

Iklan

Titik Akhir

Kehidupan adalah rangkaian titik-titik perjalanan melewati rentang masa di dalam ruang terbatas yang bernama kehadiran. Setiap detail dari titik-titik perjalanan tersebut akan saling bersentuhan, bergesekan kadang bertautan namun tidak jarang juga saling memutus ikatan dan akhirnya kehilangan kehadiran. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana pemaknaan dari rangkaian titik-titik kehadiran tersebut menjadi suatu pembelajaran yang semakin mendewasakan, menjadikan bijak dan berhikmat serta semakin bermakna agar semua menjadi indah pada waktunya?

  1. Perjelaslah arah kehidupan. Kehidupan adalah suatu misteri; tidak ada kecerdasan yang dapat menyingkapkannya selain daripada kebergantungan pada hikmat kebenaran. Justru karena ia adalah suatu misteri maka kehidupan menjadi lebih bermakna. Manusia menjadi seorang musafir yang terus berjalan menuju perhentian. Musafir yang berkelana menuju satu arah yang pasti yaitu perhentian. Kesadaran akan arah yang jelas inilah yang menuntut manusia untuk berjalan dalam kewaspadaan, berkelana dalam pertanggungjawaban, bermain dalam aturan hidup. Setiap musafir pasti akan berhenti langkahnya; dan jika perhentian itu adalah suatu kepastian, maka langkahpun harus diperjelas. Perjelas setiap jejak yang ditinggalkan; perjelas setiap warna kebergunaan; perjelas setiap detail fungsi kehadiran. Tujuannya sederhana agar ketika langkah pengembaraan terhenti, ia tidak berhenti pada kata terlambat
  2. Pertajamlah kepekaan atas karunia. Penyesalan selalu ada di akhir. Ia terkadang tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan apalagi permisi. Ketika penyesalan sudah tiba maka segera runtuhlah setiap hal yang telah dibangun. Tidak ada yang dapat menghentikan penyesalan. Ia bukanlah takdir, tetapi ia ada oleh karena kitalah yang terbatas di dalam ruang dan waktu. Sang Khalam sebagai empunya seri panjang kisah kehidupan memahami betul kerapuhan dan ketidak berdayaan para musafirnya. Penyertaan adalah janji dari kebesaran dan kedaulatan-Nya. Karunia adalah bukti dari penyertaan tersebut dan kepada setiap musafir akan mendapat pena dan kertas yang unik dari Sang Khalam. Disinilah dibutuhkan kepekaan. Barangsiapa peka, ia akan mendapatkan hidayah dan pencerahan; siapapun yang peka, maka dialah kawan karib dari Sang Khalam. Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar agar mampu meneruskan tulisan mengenai kawan sejati kehidupan yaitu Sang Khalik, agar saat kematian menjemput ia tahu bahwa ada kawan sejati yang mendampinginya.
  3. Perluaslah kehadiran menjadi kebermaknaan. Bagian ketiga ini tidak penting maka ia tidak perlu berisi. Hanya saja bagian ketiga ini menyediakan pertanyaan yang mendasar: apakah anda telah memberikan kehadiran yang bermakna? Pentingkah perjalanan kehidupanmu untuk dikenang dan dirayakan?

Sesaat lagi semua kita akan berakhir dalam titik-titik 2017. Sudahkah kita menjadikan titik-titik tersebut sebagai garis kehidupan yang bermakna? Semoga kita semua akan menyatu dalam titik-titik semesta kehidupan menuju kebersamaan yang bermakna ditahun 2018. Selamat menjelang tahun 2018. Selamat merayakan titik akhir ditahun 2017.

Jakarta, 31 Desember 2017

Arrhenius Petwien Gunde dan keluarga mengucapkan selamat tahun baru 2018.

Remisi Natal

Remisi adalah pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana dan anak pidana yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Jika remisi yang dimaksud diberikan dalam rangka hari raya keagamaan, maka setiap narapidana atau anak pidana yang telah menjalani masa konsekuensi hukum 0,5 hingga 1 tahun berhak mendapatkan pemotongan masa tahanan 15 hari. Jika narapidana atau anak pidana telah menjalani masa konsekuensi hukum 2-3 tahun maka ia berhak mendapatkan pemotongan masa tahanan 30 hari, dan seterusnya.

Kenapa perlu remisi? Dari aspek tuntutan hukum, remisi merupakan reward atau konsekuensi logis terhadap setiap narapidana atau anak pidana yang telah menjalani prasyarat masa tahanan, berkelakuan baik selama masa penahanan serta telah mengikuti pembinaan dengan predikat baik; dari aspek filosofis, remisi merupakan akibat langsung dari keadilan dan kedaulatan hukum. Jika semua manusia harus tunduk kepada hukum maka hukum juga harus memberikan rasa keadilan, keamanan dan keberhargaan atas eksistensi kemanusiaan; dari aspek sosiologis, remisi merupakan kesempatan terciptanya suatu keberpihakan yang real atas sifat dasar manusia sebagai homo socius. Remisi merupakan harapan bagi terciptanya relasi baru yang memberikan kesempatan untuk keberadaban dan kedekatan relasi; dari aspek ekonomis, remisi tentu saja dapat mengurangi beban lapas (walaupun aspek ini sebetulnya tidak signifikan), namun demikian seorang narapidana atau anak pidana yang telah menjalani masa pembinaan di lapas tentunya dapat memanfaatkan pelatihan dan pembinaan tersebut dengan menciptakan lapangan kerja baru di luar lapas (ini pun kadang-kadang tidak berjalan maksimal, tetapi bukan berarti tidak efektif); secara politis, ah sudahlah politik itu tergantung kepentingan. Tidak ada kawan atau lawan yang ada hanyalah kepentingan.

Hubungan natal dan remisi.

Natal sebagai perayaan khusus bagi umat kristiani tentu saja telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah sehingga setiap umat Kristen berhak merayakan natal dalam kemerdekaan, dalam penghayatan dan dalam keberhargaan dirinya sebagai pengikut Kristus. Pada masa raya natal ini setiap umat Kristen berhak merayakannya, entahkan ada yang hanya fokus pads semarak perayaannya atau mereka yang secara serius mencari Allah dalam penghayatan spiritualitas. Natal adalah hak asasi umat Kristen. Natal adalah hak keadilan dan kebenaran, karena melalui natal “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini” (Yesaya 9:5-6). Natal adalah ekspresi dari kedaulatan Allah atas semesta ciptaan. Natal adalah intervensi Allah atas sejarah, peradaban dan kebernilaian kemanusiaan.

Selamat natal kepada saudara-saudaraku yang sedang menjalani masa penahanan. Semua kita pernah bersalah, namun keberhargaan kita ditentukan oleh anugerah Allah yang memanusiakan kita semua. Tuhan mengasihi kita semua, sehingga Ia rela berinkarnasi menjadi manusia, kecuali dalam dosa, dan mencari kita serta menebus justru disaat kita masih berdosa.

Selamat merayakan natal dan menikmati remisi.

Natal dan Monas

Tahun 2017 ini merupakan tahun dengan cita rasa berbeda. Ormas yang tadinya enggan mengucapkan selamat natal, kini ikut mendukung bahkan mungkin bisa jadi merupakan panitianya. Ormas yang sokogurunya lantang berteriak kafir, kini mengiklaskan dan bahkan akan mengawal pelaksanaan natal bersama di Monas. Ormas yang dibeberapa daerah tertentu semangat menutup dan memberangus ibadah dalam gereja, kini malah mempropaganda natal bersama umat Kristen di Monas. Ada apa dengan natal di Monas?

Sejak tahun 2017 ini, Monas telah bertambah fungsinya. Menjadi tempat yang efektif menyuarakan perlawanan terhadap penista agama. Monas berguna untuk mengumpulkan jutaan masa yang bersama-sama menunjukan cintanya pada agama melebihi apapun, ya melebihi apapun. Tak perlu logika, tak perlu keadilan, tak perlu pemahaman, ya karena cinta agama seharusnya melebihi apapun.

Bagaimana dengan natal di Monas dengan tambahan catatan akan dibiayai APBD?

Tahun 2017 seharusnya juga menjadi saksi bagaimana kekristenan itu mencintai orthodoksinya, mencintai liturginya, mencintai persekutuannya, mencintai kehadiran Tuhan dalam rumah kudusnya, mencintai kesederhanaan, mencintai Sang Ilahi yang berbela rasa, mencintai Sang Maha Kuasa yang mendemonstrasikan kasih kekalnya.

Natal bukanlah perayaan, apalagi celebrasi kemenangan dan kekuasaan, juga bukanlah ajang unjuk kekuatan dan propaganda jumlah. Natal adalah kemenangan kasih, natal adalah perihal kemanusiaan, natal adalah persekutuan orang percaya yang mengabdi dan menyembah.

Selamat menyongsong hari Natal. Jika hendak mampir Monas silahkan, masih banyak sejarah bangsa ini yang harus dipelajari dan semuanya tersedia di Monas. Biarkan bangsa ini kuat seteguh Monumen Nasional.

Kaisar Agustus bukan dengan tidak bertujuan mengeluarkan dekrit agar semua orang dalam kuasanya segera mendaftarkan diri ke daerah asalnya. Ekspresi dari kuasa besar dan tak terbendung sebagai penguasa dunia saat itu. Tidak ada yang dapat menolak bahkan membatalkan. Kesewenangan dari sang penguasa lebih dari separuh wilayah dunia. Jauh dari surga, Sang Allah hanya melihat dalam hening dan hampa.

Orang-orang berduyun-duyun serempak bergerak ke daerah asal masing-masing. Membawa semua yang mereka miliki, semua yang dapat mereka klaim, semua yang selama ini menjadi identitas status sosialnya. Kota kecil Betlehem tiba-tiba menjadi penuh sesak. Dipenuhi oleh semua yang berpunya. Berjejal para empunya harta. Berkumpul para sosialita. Kota kecil Betlehem seketika menjadi kehilangan daya tampung. Jauh dari surga, Sang Allah hanya melihat dalam hening dan hampa.

Kekuasaan begitu menggoda, menyebabkan manusia sejenak lupa siapa dirinya, darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia dimiliki. Kekuasaan pastinya membutakan mereka yang sejak awal telah picek mata hatinya, lumpuh mata bathinnya dan miskin mata rohaninya. Kekuasaan telah membuat mereka berdiri kokoh dalam impotensi kesombongannya. Kekuasaan juga turut menyumbang kemerosotan akaliah, terdistorsinya perasaan kemanusiaan serta matinya kepekaan untuk melihat mereka yang lain sebagai manusia seutuhnya. Jauh dari surga, inilah yang Allah lihat dalam hening dan hampa.

Kemanusiaan tiba-tiba berubah hanya oleh karena label apa miliku, apa milikmu. Tidak ada lagi empati ketika kemanusaan tidak dilihat sebagai sesama imago Dei. Tidak ada lagi toleransi dan bela rasa saat kemanusiaan tidak dicintai dalam kodratnya sebagai ciptaan pemelihara kehidupan. Tidak ada lagi kasih sayang sebagai pemersatu saat kemanusiaan tidak dihormati dalam naturnya sebagai sempurnanya maha karya firman. Jauh dari surga, inilah yang Allah lihat dalam hening dan hampa.

Allah bertindak.

Dipakainya kuasa yang Ia pinjamkan untuk membuat dua insan Yusuf dan Maria berjalan menembus hari, siang dan malam untuk bersama bergandengan tangan, sebagai sesama imago Dei; berangkul erat sebagai pemelihara kehidupan; berjuang bersama sebagai alat menyempurnakan kehadiran Sang Firman. Dari mereka kita harus belajar melihat bahwa kehidupan akan terus berjalan. Teruslah berjalan sambil membuka mata lebar-lebar untuk melihat apa yang Allah lihat jauh dari surga. Apa yang anda lihat? Apa yang kalian lihat? Pastinya saya sedang melihat bagian akhir dari tulisan ini, yaitu jawaban anda. Terima kasih.

http://m.beritasatu.com/pendidikan/374687-ribuan-dosen-tidak-lulus-sertifikasi-karena-plagiat.html

Anda bisa melakukan banyak hal dengan meniru. Anda juga dapat memiliki banyak gelar karenanya. Namun demikian, pada akhirnya keberhasilan anda sangat bergantung pada banyaknya persiapan yang matang dengan disertai kerja keras, belajar keras dan bergiat. Dalam konteks tersebut, anda bahkan hanya membutuhkan sedikit keberuntungan.
Ingat, setiap gelar yang dimiliki adalah pertanggungjawaban rational dan ini mudah sekali untuk diuji oleh Sang Kualitas…

image

Firman Allah dihadirkan oleh Allah untuk menjadi ultimate concern dari manusia.  Malalui firman, Allah membiarkan diri-Nya dikenal; melalui firman juga Allah membagi diri-Nya pada umat.  Firman Allah menjadi satu-satunya sarana eksternal dari Allah yang memiliki nilai absolut sebagai penyataan khususnya. Oleh karenanya, firman juga dikenal dalan prinsip principium cognoscendi eksternum.
Pemazmur tulisannya pada bab pertama dari kitan Mazmur menjelaskan hal tersebut bagi audiencenya. Orang yang berbahagia adalah orang yang merenungkan firman Allah siang dan malam; mengaplikasikannya dalam kehidupan dan menjadikannya sebagai identitas pembeda dengan mereka yang menuju kebinasaan.
Namun demikian, seperti apakah sebenarnya seorang yang diberkati oleh karena firman? Bagaimanakah membangun perilaku hidup yang mengutamakan firman Allah? Pemazmur memberikan beberapa nasihat sederhana, yaitu:
1.  Tidak ikut Arus Dunia.
Firman Allah sebagai standar kebenaran menolong orang percaya untuk memahami apa yang dikehendaki Allah; apa yang berkenan kepada-Nya. Semakin orang percaya mengikatkan diri pada firman Allah, maka hatinya akan diarahkan oleh kebenaran tersebut sehingga mampu membedakan siasat dunia dan sistem kebenaran Allah.
2. Tidak Berhenti Berbuah.
Firman Allah merupakan satu-satunya nutrisi bagi spiritualitas. Iman timbul dari pendengaran akan firman Allah, kata Paulus; melalui firman, orang percaya dimungkinkan mengalami pertumbuhan ke arah Kristus sebagai kepala; melalui firman juga orang percaya memahami achivment yang benar dihadapan Allah, yaitu menghasilkan buah. Ia menjadi seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air.
3. Tidak mengabaikan Anugerah Allah.
Hidup dalam kekinian sebenarnya adalah investasi kedalam kekekalan. Orang percaya yang memahami firman Allah dan terus belajar darinya akan terus menjalankan hidupnya sesuai dengan anugerah yang diterima; namun mereka yang hidupnya tidak terintegrasi dengan firman akan semakin menuju kebinasaan.

Mari merenungkan firman Allah itu siang dan malam…

Awan Tag