Just another WordPress.com site

http://m.beritasatu.com/pendidikan/374687-ribuan-dosen-tidak-lulus-sertifikasi-karena-plagiat.html

Anda bisa melakukan banyak hal dengan meniru. Anda juga dapat memiliki banyak gelar karenanya. Namun demikian, pada akhirnya keberhasilan anda sangat bergantung pada banyaknya persiapan yang matang dengan disertai kerja keras, belajar keras dan bergiat. Dalam konteks tersebut, anda bahkan hanya membutuhkan sedikit keberuntungan.
Ingat, setiap gelar yang dimiliki adalah pertanggungjawaban rational dan ini mudah sekali untuk diuji oleh Sang Kualitas…

image

Firman Allah dihadirkan oleh Allah untuk menjadi ultimate concern dari manusia.  Malalui firman, Allah membiarkan diri-Nya dikenal; melalui firman juga Allah membagi diri-Nya pada umat.  Firman Allah menjadi satu-satunya sarana eksternal dari Allah yang memiliki nilai absolut sebagai penyataan khususnya. Oleh karenanya, firman juga dikenal dalan prinsip principium cognoscendi eksternum.
Pemazmur tulisannya pada bab pertama dari kitan Mazmur menjelaskan hal tersebut bagi audiencenya. Orang yang berbahagia adalah orang yang merenungkan firman Allah siang dan malam; mengaplikasikannya dalam kehidupan dan menjadikannya sebagai identitas pembeda dengan mereka yang menuju kebinasaan.
Namun demikian, seperti apakah sebenarnya seorang yang diberkati oleh karena firman? Bagaimanakah membangun perilaku hidup yang mengutamakan firman Allah? Pemazmur memberikan beberapa nasihat sederhana, yaitu:
1.  Tidak ikut Arus Dunia.
Firman Allah sebagai standar kebenaran menolong orang percaya untuk memahami apa yang dikehendaki Allah; apa yang berkenan kepada-Nya. Semakin orang percaya mengikatkan diri pada firman Allah, maka hatinya akan diarahkan oleh kebenaran tersebut sehingga mampu membedakan siasat dunia dan sistem kebenaran Allah.
2. Tidak Berhenti Berbuah.
Firman Allah merupakan satu-satunya nutrisi bagi spiritualitas. Iman timbul dari pendengaran akan firman Allah, kata Paulus; melalui firman, orang percaya dimungkinkan mengalami pertumbuhan ke arah Kristus sebagai kepala; melalui firman juga orang percaya memahami achivment yang benar dihadapan Allah, yaitu menghasilkan buah. Ia menjadi seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air.
3. Tidak mengabaikan Anugerah Allah.
Hidup dalam kekinian sebenarnya adalah investasi kedalam kekekalan. Orang percaya yang memahami firman Allah dan terus belajar darinya akan terus menjalankan hidupnya sesuai dengan anugerah yang diterima; namun mereka yang hidupnya tidak terintegrasi dengan firman akan semakin menuju kebinasaan.

Mari merenungkan firman Allah itu siang dan malam…

Nilai kemanusiaan merupakan essensi yang paling berharga dalam kehidupan.  Memiliki dan mengamalkannya merupakan tuntutan tertinggi selama masih ada eksistensi kehidupan.  Beberapa mengupayakan kesejahteraan, beberapa disibukkan dengan memelihara kedamaian, tidak sedikit yang berjuang bagi keadilan. 
Pada sisi yang lain, ada juga makluk yang serakah, egois dan sombong.  Merasa sebagai makluk unggul yang digdaya, manusia super yang antisosial, serta pribadi megah yang harus dijunjung tinggi.  Demikianlah kehidupan diwarnai dengan pelbagai keterbatasan.
Apakah kesejahteraan, kedamaian dan keadilan mampu bertahan dimuka bumi ini? Sebaliknya, apakah keserakahan, keegoisan dan kesombongan telah sedemikian melekat dan tidak bisa dimusnahkan?  Apakah ada harapan dimasa depan akan bangkitnya pejuang-pejuang kesejahteraan, kedamaian dan keadilan? Ataukah nurani manusia telah sedemikian dikotori oleh keserakahan, keegoisan dan kesombongan!
Dalam konteks tersebutlah seharusnya mindset nilai-nilai kemanusiaan tiba pada kesadaran untuk sepenuhnya bergantung pada Dia – Sang Khalik, yang olehnya kita disadarkan bahwa kemanusiaan memiliki keterbatasan.  Keterbatasan untuk memiliki dan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang ilahi yaitu kesejahteraan, kedamaian dan keadilan. Sejatinya nilai-nilai tersebut adalah atribut Sang Khalik dan kepada-Nya kemanusiàn itu menjadi sangat terbatas sehingga harus sepenuhnya bergantung, berserah dan tunduk. Ya, inilah keunggulan kita manusia: finitum non capax infinitum.

Religiousitas menempatkan Tuhan sebagai causa prima untuk segala sebab akibat, aksi reaksi hingga penetapan dan penentuan.  Kedaulatan-Nya begitu diabsoludkan sehingga kelembutan kasih-Nya menjadi absurd.  Sebaliknya sekularitas menjauhkan Tuhan dari seluruh eksistensi kemanusiaan. Kita sudah selesai berurusan dengan-Nya. Ia adalah bayangan dari runtuhnya bayangan teokrasi yang justru ditolak oleh yang disapa-Nya sebagai umat. Digotomi tersebut memang jarang diakui, sebab dalam eksistensi sekularisme kita masih mengenakan topeng agama; sebaliknya, dalam kehadiran sebagai makluk beragama kita menyembunyikan natur ‘keliaran pikir’.
Sederhananya, bagaimana seharusnya memahami keintiman relational antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia? Pikirkan dan renungkanlah beberapa pokok berikut:
1. Ke-manusia-an dalam naturnya dikuasai keterbatasan.
2. Ke-manusia-an dalam nalurinya dikendalikan ketidakterpuaskan.
3. Ke-manusia-an dalam nalarnya dikekang keliaran.
Dalam konteks inilah seharusnya kita melihat konsep man proposes, God disposes. Allah dalam natur kasih menginginkan manusia menjadi imago dei yang berkuasa menghadirkan damai Allah atas semesta; Allah dalam naluri kudus rindu menjadikan diri-Nya menjadi satu-satunya orientasi manusia; bahkan Allah dalam nalar omniscience-Nya ingin memastikan bahwa manusia tidak terjebak pada resiko konyol hidup ini. So it’s true that: man proposes and God disposes. He realy love’s you.

Success Begins Here

Amsal sebagai kumpulan tulisan hikmat, pengetahuan, ilmu, pengalaman dan kemampuan olah pikir. Penulis melihat, merasakan dan mendengar semua kepintaran di seantero negeri. Akhirnya ia menemukan satu rumusan kekal dari semuanya.
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
Melaluinya penulis sadar:
1. Allah adalah kebenaran tertinggi sehingga berelasi dengan Allah = memiliki pengetahuan.
2. Allah adalah pribadi tanpa kemustahilan sehingga berelasi dengan Allah = melampaui batasan.
Seperti apa memiliki kesuksesan melalui takut akan Tuhan?
1. Sukses sejati hanya diperoleh melalui kesadaran akan kehadiran Allah:
#Responst to God and respect others.
2. Sukses sejati hanya merupakan hasil dari kesadaran bertanggung jawab.
#sukses yang siperoleh oleh si malas adalah sisa-sisa yang ditinggalkan si rajin.

deus revelatusAllah secara religius umumnya dipahami oleh agama-agama dalam kesakralan deus absconditus.  Ia adalah Pencipta yang ilahi, penyelenggara dalam keteraturan serta kudus dalam kodrat-Nya.  Ia berada dalam essensinya yang tidak dapat dipahami, pikiran-Nya tidak dapat diduga dan keseluruhan karya-Nya dahsyat tak terselami.  Dengan demikian, agama-agama pun mendoktrinkan-Nya sebagai keberadaan yang  jauh dari penyingkapan nalar, kodrat dan perasaan manusia.  Namun demikian, iman Kristen melihat secara berbeda.  Melalui firman-Nya, sang deus absconditus kini membiarkan diri-Nya menjadi dapat dikenal, disapa dan menjadi karib.  Hanya dalam iman Kristenlah deus absconditus pada saat bersamaan menjadi deus revelatus.

Uniknya lagi keseluruhan penyataan diri tersebut berkenan Ia hadirkan melalui firman yang mengambil bagian melintasi sejarah, masuk ke dalam konteks peradaban dan menggunakan keseluruhan ornamen yang dapat dikenali oleh manusia bagi diri-Nya.  Allah memutuskan bagi diri-Nya secara ontologis masuk ke dalam principium cognoscendi externum, yaitu Alkitab.[1]

Secara essential, Allah (deus absconditus dan deus revelatus) menjadikan Alkitab sebagai sarana penyataan yang cukup, memadai dan mumpuni agar diri-Nya dapat dikenal, disapa dan menjadi karib.  Menjadi keniscayaan hanya oleh karena adanya anugerah iman dari Allah dalam diri umat untuk menanggapi firman-Nya.  Diyakini bahwa penyataan diri tersebut dihadirkan melalui fakta-fakta Alkitab.[2]

Alih-alih memperkenalkan diri-Nya, Allah justru mengajak penerima dan pembaca Alkitab untuk berelasi dengan-Nya dalam principium cognoscendi internum.  Penyataan diri Allah kini menjadi sangat kompleks.  Memang Allah telah menyingkapkan dirinya melalui Alkitab, namun demikian pada saat yang bersamaan Ia menuntut penerima dan pembaca Alkitab untuk juga mengenalnya dalam iman (principium cognoscendi internum) melalui penerimaan dan pembacaan Alkitab (principium cognoscendi externum).  Karenanya, Alkitab merupakan jembatan menuju pemahaman iman yang pada saat bersamaan digunakan Allah untuk mencurahkan anugerah kebenaran-Nya.  Untuk itu, umat Allah memerlukan pemahaman yang tepat mengenai Allah, penyataan diri-Nya dan kebenaran-Nya sebagai satu kesatuan utuh dari Ia yang ingin dikenal, disapa dan menjadi karib. Disanalah terletak tujuan essensial Alkitab yang melaluinya telah memberi hikmat kepada kita dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2 Tim. 3:15).

[1]  Kitab II Timotius 3:16 menggunakan istilah θεόπνευστος yang secara khusus menjelaskan bahwa Alkitab adalah produk aktif dari Allah yang hidup.  Secara filosofis memberikan pengertian bahwa a supernatural quality in all its own, therefore, inheres in scripture.  scripture is affirmed nonetheless to owe its origin not to human but to divine initiative in a series of statements whose proximate emphasis is the reliability of scripture.  Carl F.H Henry, “Inspiration” dalam Baker’s Dictionary of Theology, pen., Everett F. Harrison (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1983), 286.

[2]  Joel B. Green, Memahami Nubuatan, pen., Hans Wuysang dan James Pantou (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005), 12.

Awan Tag