Just another WordPress.com site

Archive for the ‘Paper’ Category

YESUS, WAJAH TUHAN YANG MENDERITA

Ibarat dua sisi mata uang, kehidupan manusia beriring sejalan di antara dua kutub.  Ada saat senang, juga ada susah; ada saat gembira, ada juga menangis, ada saat bersama, ada juga waktunya berpisah; ada waktunya bahagia, tetapi juga tidak jarang manusia menderita.  Dua sisi kehidupan yang terintegrasi dalam realita hidup, seharusnya membawa manusia pada kesadaran untuk menghargai setiap moment yang terjadi dalam dirinya.  Dan bukannya hanya menerima sisi yang “enak,” oleh karena alasan Allah, tetapi juga menerima sisi yang “tidak enak,” karena Allah juga hadir dikondisi yang sama.

Teologi berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain, menurut zamannya[1]; Teologi Purbakala digantikan dengan Teologi Abad Pertengahan, dilengkapi dengan Teologi Kontemporer dan Teologi Modern.  Sekarang ini yang coba dikembangkan adalah Locus Theology atau model berteologi dalam konteks; Sebagai upaya mengerti iman Kristen dalam istilah-istilah (term-term) suatu konteks khusus.[2]  Berbicara tentang Locus Theology, sudah banyak contoh yang

dikembangkan, misalnya saja Teologi Pembebasan[3] di gereja-gereja Amerika latin juga beberapa gereja Afrika.  Selain itu ada juga Waterbuffalo Theology[4], yang berasal dari semangat yang sama terhadap masalah sosio-ekonomi.

Beberapa waktu yang lalu (bahkan sampai sekarang), berkembang teologi kemakmuran di sebagian gereja-gereja neo-pentakosta di Indonesia.  Seolah-olah kemiskinan, kebangkrutan, kegagalan, penderitaan, sakit-penyakit, dll; semata-mata terjadi karena kegagalan dari orang percaya untuk mengikut Yesus.  Sedangkan mereka yang menjadi sukses, kaya, tidak sakit, tidak menderita adalah kelompok “penurut” Kristus.

Sampai di tataran manakah pemahaman di atas dapat dipertahankan?  Padahal nyata-nyatanya keadaan kebanyakan masyarakat Indonesia tidak jauh dari penderitaan.  Bukan juga berarti penulis secara sepenuhnya menerima teologi penderitaan, tetapi dari makalah ini dapat dilihat wajah Allah yang tertuju kepada semua orang entahkan dalam penderitaan atau pun dalam kebahagiaan.  Sesungguhnya Allah adalah milik semua umat dalam suka dan duka, karena Allah tidak dapat dibatasi oleh kondisi, tetapi juga Allah sekaligus menunjukan “wajah-Nya” dalam segala kondisi.  Secara khusus makalah ini akan menyingkapkan wajah Allah yang solider terhadap umat-Nya yang menderita.

 

BUKTI PENDERITAAN YESUS

Judul di atas hampir kedengaran klise bagi orang Kristen, sebab Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa di atas kayu salib.  Tetapi pembuktian ini dirasa perlu sebagai langkah kongkrit untuk menunjukan solidaritas Allah terhadap penderitaan umat-Nya; Pembuktian dimaksud berasal dari aspek teologis juga medis, sehingga dirasa dapat memenuhi target yang hendak dicapai dari riset ini.

Persepektif Teologis

Ibrani 2:9 menjadi salah satu bagian Alkitab yang memberikan pemaparan tentang penderitaan Yesus.  Penyengsaraan terhadap diri Yesus yang dilaksanakan secara terbuka merupakan salah satu keuntungan, sebab kesaksian dari banyak pihak justru merupakan bukti akurat.  Keuntungan selanjutnya adalah banyaknya tulisan (entah dari sumber tertulis atau hasil informasi lisan) yang menjelaskan kepada khalayak ramai bahwa Yesus sungguh menderita, tetapi juga mengalami kemenangan yang luar biasa.  Ada banyak upaya dari pihak lawan yang berupaya membungkam, tetapi tidak cukup jitu untuk menghilangkan ingatan banyak pihak.[5]  Pada bagian berikut ini akan diberikan pemaparan dari sumber kitab Ibrani 2:9, yang sekaligus menjadi pembuktian dari persepektif teologis terhadap bukti-bukti penderitaan yang diderakan kepada Yesus.

 

Yesus Seketika Lebih Rendah Dari Malaikat

Keunikan dari kitab Ibrani adalah upaya yang serius untuk membuktikan superioritas Kristus ditinjau dari perspektif berpikir masyarakat Ibrani.  Keseriusan terlihat dari metode yang sistematis sekaligus kena-mengena dengan in locus hidup masyarakat Ibrani.  Selain itu penulis[6] surat sudah sangat mengenal kebutuhan dari masyarakat.  Dalam pemaparan awalnya, penulis kitab Ibrani menjelaskan bahwa penderitaan Yesus nyata dari aspek diturunkannya status seketika lamanya sehingga menjadi lebih rendah dari malaikat.

Maksud dari penulis kitab Ibrani adalah dalam melewati rangkaian penderitaan – termasuk maut – Yesus diperlakukan tidak adil.  Yesus seharusnya dihormati karena keberadaan-Nya sebagai Allah, tetapi penderitaan yang harus Ia pikul, membuat Ia harus ber-kenosis; Bahkan untuk seketika waktu Yesus berada lebih rendah dari malaikat.  Ungkapan ini muncul karena dalam pemahaman orang Ibrani tentang malaikat yang adalah pelayan khusus Allah, sehingga dalam situasi tertentu malaikat juga dihormati.

Menarik diperhatikan pasal 1 memberikan penekanan bahwa Yesus berada jauh lebih tinggi dari para malaikat, tetapi ada alasan khusus sehingga penulis kitab Ibrani menegaskan bahwa untuk seketika waktu Yesus lebih rendah dari malaikat.  Istilah hlattwmenon (elattomenon) yang dipergunakan disini adalah bentuk kata kerja partisip perfect pasif akusatif dari kata elattow.  Secara etimologi berarti kecil dalam ukuran, derajad, arti, kurang dalam waktu atau seperti umur yang lebih muda.[7]  Secara teologis memiliki makna yang mendalam, sebab kejinya dosa yang harus ditanggung oleh Yesus membawa konsekuensi “terbuang” dari kekudusan Allah.  Pergumulan yang terberat adalah saat-saat jauh dari Allah.

Peristiwa tragis dirasakan oleh Yesus, sehingga dari salib Ia berteriak: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat. 27:46).  Pada bagian yang lain pemazmur (Maz. 22) – seperti dikutip Yesus – menjelaskan perasaannya yang hancur (ay., 16-21) ketika dosa menjadi alasan keterpisahan dengan Allah.  Dengan demikian saat-saat terbuang dari Allah yang dialami Yesus, bukanlah sebuah simbolisasi dari kontrasnya terang dengan gelap; tetapi suatu keadaan real yang dialami oleh Yesus.  Sedetik saja pun terpisah dari Allah, sudah merupakan penderitaan dan keterbuangan yang fatal, sampai-sampai harus direndahkan jauh di bawah malaikat.  Pemahaman yang benar terhadap situasi ini mengakibatkan orang percaya “mempertahankan” kedekatan dengan Allah.

Yesus Mengalami Maut.

Dasar pemikiran perikop ini tentu saja bukan lahir dari pemahaman yang dibuat oleh Hegel maupun Karen Armstrong tentang God is dead,[8] sebab dasar rancang bangun teologi saja sudah membuatnya berbeda.  Pengalaman dalam maut yang dialami Yesus juga tidak sama dengan teologi kematian semu atau pura-pura, sebab Yesus sungguh-sungguh mati.  Realita ini diakui oleh banyak bukti Alkitab, salah satunya kitab Ibrani 2:9.  Menarik diperhatikan pemaparan penulis kitab Ibrani yang menghubungkan maut dengan penderitaan.  Jadi maut yang dialami oleh Yesus bukan sekedar realita tetapi sebagai bentuk penderitaan.  Ungkapan to paqhma tou qanatou (to pathema tou thanatou) merupakan dua rangkaian kata benda yang kait-mengkait dengan kata kerja estejanwmenon (estepshanomenon).

Penting untuk diperhatikan bahwa proses penderitaan dalam maut justru menyebabkan Yesus telah dimahkotai (having been crowned).  Secara teologis dapat dilihat bahwa Yesus memang mati – selangkah lebih jauh dari keterpisahan dengan Allah – dan ada dalam kondisi terburuk dalam pengalaman hidup.  Dalam pemikiran Yudaism, Yunani atau budaya banyak agama paganisme termasuk agama suku di Indonesia, kematian dipandang sebagai berhentinya atau akhir dari segala aktivitas kehidupan, kehancuran eksistensi manusia, dimana kematian menjadi garis akhir dari kehidupan manusia,[9] is the end.

Peristiwa penderitaan dalam kematian yang dialami Yesus, semakin dilengkapi dengan prosesi menuju kematian. Mulai dari fitnahan, diludahi, dicambuk, dipukul, dipaku, ditusuk, sampai akhirnya mati, semakin menggenapi penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Nubuatan dalam Yesaya 50:6; 53:2-10 menjadi bukti akurat tentang penderitaan Yesus, sehingga segala bentuk penderitaan tadi disebut dengan “kesusahan jiwa.”[10] Pada bagian berikut ini, akan diberikan penyarian dari sudut pandang medis, sebagai pembuktian pelengkap terhadap penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Dengan demikian semua prosesi penderitaan yang dihadapi oleh Yesus, lebih lagi dapat dipahami sebagai peristiwa faktual.  Dimana Ia sungguh-sungguh menderita, tidak ada rekayasa dari pihak manapun, termasuk dari pihak Allah.

Perspektif Medis[11]

Penyaliban merupakan hukuman mati perlahan-lahan yang biasa dilakukan pemerintah Romawi bagi mereka yang dianggap penjahat besar.  Penyaliban ini dirancang agar terhukum mengalami penderitaan yang luar biasa sambil menantikan kematiannya.  Melalui pengetahuan secara anatomi maupun dari penelitian terhadap praktek-praktek kuno mengenai penyaliban, maka sangat mungkin untuk menemukan data akurat terhadap proses penyaliban di masa Romawi.  Hasil survei menjelaskan bahwa setiap luka-luka yang terjadi sudah dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan rasa sakit yang luar biasa sehingga menyebabkan kematian.

Penderaan hukuman cambuk sebelum penyaliban, dilakukan dengan tujuan untuk melemahkan fisik terhukum.  Pengeluaran darah yang sangat banyak bisa menyebabkan orthostatic hypotension (penurunan tekanan darah akibat berbagai gerakan perubahan posisi tubuh), bahkan menyebabkan pula hypovolemic shock (kejang akibat kekurangan cairan tubuh).  Ketika korban direbahkan di tanah dalam persiapan memaku kedua tangannya, luka-luka bekas cambukan dipunggungnya akan terkoyak kembali dan tercemar oleh debu tanah.

Hal ini bisa menyebabkan infeksi dan demam tinggi, sehingga terhukum bisa saja mengigau di atas kayu salib.  Dengan tangan terentang tetapi tidak tegang, pergelangan tangan dipaku ke palang salib.  Terbukti bahwa persendian dan tulang pergelangan tangan dapat menahan berat seluruh tubuh yang tergantung disalib.  Karena itu, paku-paku besi sangat mungkin ditancapkan di antara kedua jajaran tulang pergelangan tangan

Walaupun paku yang menembus pergelangan tangan bisa lewat di antara unsur-unsur tulang tanpa mengakibatkan keretakan, namun paku yang tertancap akan memutuskan syaraf motorik (penggerak) bagian tengah.  Sedangkan bagian-bagian syaraf lain yang terangsang akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa di kedua tangan.  Pengaruh parthophysiologic (penjalaran rasa sakit) yang terutama sebagai akibat penyaliban, selain kesakitan yang mengerikan, adalah gangguan nyata pada pernapasan normal, khususnya pernapasan keluar.

Berat badan yang tertarik ke bawah dan tergantung pada kedua lengan yang terpaku, akan menyulitkan otot-otot di antara tulang iga untuk berkontraksi dalam posisi menarik nafas.  Proses ini akan mengakibatkan proses pernapasan yang pasif dan sangat lemah.  Pernapasan menjadi pendek dan sesak.  Cara pernapasan menjadi sangat tidak memadai dan akan mengakibatkan hypercarbia (napas cepat, banyak gas CO² keluar).  Untuk mencapai pernapasan yang memadai memerlukan upaya mengangkat tubuh dengan mendorong kaki dan melenturkan siku dan bahu.

Gerakan ini akan membuat seluruh berat badan tertumpu pada tulang mata kaki dan akan menimbulkan kesakitan yang amat sangat pada kaki yang terpaku.  Melenturkan siku juga dapat mengakibatkan pula pergeseran luka dipergelangan tangan yang terpaku dan mengakibatkan rasa sakit yang hebat di sekitar syaraf tangan yang rusak.  Mengangkat tubuh juga akan memarut bilur-bilur luka dipunggung.  Kejang pada otot-otot dan kesemutan disekujur tangan yang terentang akan menambah penderitaan.  Jadi setiap gerakan yang dibuat akan justru memperhebat sengsara jiwa dan raga.

Kitab injil Matius memberikan deskripsi yang unik sekaligus sempurna terhadap tahapan-tahapan pergumulan Yesus dalam prosesi penderitaan-Nya.  Pada bagian-bagian ini akan mengikuti sistem kronologis yang dibuat oleh penulis injil Matius.  Dengan demikian pembaca akan menemukan setiap lekuk demi lekuk penderitaan yang dialami oleh Yesus.  Bukan hanya sekedar penderitaan rohani sebagai konsekuensi teologis terhadap dosa yang dipikulnya, tetapi realnya hukuman yang harus Ia pikul bagi kita.

 

Tahap Pertama (Matius 26:37)

Semua penderitaan rohani dan jasmani yang dialami oleh Kristus bermula di taman Getsemani.  “Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44).  Di bawah tekanan yang hebat, pembuluh darah halus dalam kelenjar-kelenjar keringat dapat pecah sehingga keringat bercampur dengan darah.

Tahap Kedua (Matius 26:67)

Setelah ditangkap diwaktu malam dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, Yesus dibawa kepada Kayafas dan Majelis Yahudi.  Ketika itu mereka menutup matanya dan berulang-ulang memperolokkan Dia, meludahi dan manampar Dia.

 

Tahap Ketiga (Matius 27:2)

Pada pagi hari Yesus sudah dipukul berulang-ulang dan penat, dibawa ke bagian lain kota Yerusalem untuk diperiksa oleh Pilatus.  Barabas dilepaskan dan Yesus disesah dan kemudian diserahkan untuk disalibkan.

 

Tahap Keempat (Matius 27:26)

Penyesahan cara Romawi dilakukan dengan melucuti pakaian korban serta merentangkan tubuhnya pada sebuah tiang atau membungkukkan tubuhnya pada sebuah tiang yang pendek dengan tangan diikat.  Alat penyesahnya adalah sebuah kayu pendek dengan beberapa tali kulit di ujungnya.  Pada ujung tali kulit itu telah diikatkan potongan-potongan kecil besi atau tulang.  Dua orang yang berdiri sebelah-menyebelah korban itu akan memukuli punggungnya – sebagai akibatnya – daging punggung korban akan tersayat-sayat sedemikian rupa sehingga pembuluh-pembuluh darah dan urat nadi, bahkan tidak jarang organ-organ di dalam tubuh dapat dilihat dari luar.  Sering korban sudah mati sementara penyesahan dijalankan.  Penyesahan merupakan penyiksaan yang sangat mengerikan, dibuktikan dengan ketidakmampuan Yesus untuk berdiri sendiri sambil memikul salibnya yang merupakan akibat langsung dari peyesahan yang mengerikan ini.

 

Tahap Kelima (Matius 27:28-29)

Tali yang mengikat Yesus dilepaskan dan Ia ditempatkan di tengah-tengah sekelompk tentara Romawi, mereka mengenakan kepada-Nya jubah berwarna ungu dengan sebatang tongkat ditangan-Nya.  Mereka kemudian memasangkan mahkota dari ranting-ranting yang berduri di kepala-Nya.  Para prajurit kemudian mengejek, menampar dan memukul kepalanya sehingga duri-suri makin terbenam di tengkorak kepala-Nya.

 

Tahap Keenam (Matius 27:31)

Balok salib yang berat itu diikatkan pada pundak Yesus.  Mulailah Ia berjalan dengan perlahan-lahan menuju bukit Golgota.  Beratnya balok salib tersebut ditambah lagi kepenatan jasmani yang hebat, membuat Dia terjatuh.  Yesus mencoba untuk berdiri, namun tidak sanggup lagi.  Simon orang Kirene kemudian dipaksa untuk memanggul salib tersebut.

 

Tahap Ketujuh (Matius 27:35)

Di bukit Golgota balok salib yang melintang diletakkan di tanah dan Yesus dibaringkan di atasnya.  Kedua tangannya direntangkan di atas balok salib dan paku besi persegi dipakukan melalui pergelangan tangan sampai tembus ke kayu.  Setelah itu Yesus diikat dengan bantuan tali balok salib yang melintang diikatkan dan dipakukan pada tiang salib.  Dan sebuah penyangga untuk tubuh-Nya dipasang pada salib itu.  Akhirnya kakinya direntangkan dan dipakukan pada salib itu dengan paku yang lebih besar.

Tahap Kedelapan (Matius 27:39)

Kini Yesus tergantung dalam keadaan yang menyedihkan berlumuran darah, penuh dengan luka-luka dan ditonton banyak orang.  Berjam-jam lamanya seluruh tubuh-Nya terasa sakit luar biasa, lengan-Nya terasa lelah, otot-otot-Nya kejang dan kulit-Nya tercabik-cabik dari pungung yang nyeri.  Kemudian muncul penderitaan baru yaitu rasa sakit yang hebat terasa dalam dada-Nya ketika cairan mulai menekan jantung-Nya.  Ia merasa sangat haus dan sadar akan perkataan makian dan cemoohan orang-orang di bawah salib.

 

Tahap Kesembilan (Matius 27:46)

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku.”  Kata-kata ini merupakan puncak dari segala penderitaan-Nya bagi dunia yang terhilang.  Seruan-Nya dalam bahasa Aram “Allahku-Allahku mengapa Kau tinggalkan Aku,” menunjukan bahwa Yesus sedang mengalami pemisahan dari Allah, sebagai pengganti orang berdosa.  Pada tahap ini semua kesedihan, penderitaan dan rasa sakit mencapai puncaknya.  Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita (Yes. 53:5) dan Ia telah memberikan diri-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (II Tim. 2:6).  Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:1).  Dia mati sebagai yang ditinggalkan Bapa, agar kita tidak akan pernah ditinggalkan oleh-Nya.

 

Tahap Kesepuluh (Matius 27:50)

Dengan nyaring ia mengucapkan kata-kata-Nya yang terakhir, “sudah selesai” (Yoh. 19:30).  Seruan ini menandakan akhir dari segala penderitaan-Nya serta penyelesaian karya penebusan, hutang dosa manusia telah dilunasi dan rencana keselamatan kekal sudah dianugerahkan.

RELEVANSI  PENDERITAAN YESUS

Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa tujuan utama Yesus dengan rela mengerjakan semua penderitaan-Nya adalah untuk menyelesaikan karya penebusan, hutang dosa manusia telah dilunasi dan rencana keselamatan kekal sudah dianugerahkan.  Secara teologis semua hal diatas tidak dapat diragukan, tetapi apabila diperhatikan dari sudut pandang yang lain, Yesus telah memberikan penggambaran yang jelas bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia …”[12]

Tentu saja Allah hadir dan menyertai umat-Nya dalam segala keadaan.  Turut bekerja bukan saja berarti bahwa Allah pernah mengalami penderitaan tetapi juga turut merasakan setiap pergumulan yang dihadapi umat.  Begitu dekatnya ungkapan ini, sampai-sampai nuansa yang timbul disana adalah berada dalam keadaan sukacita.  Bahkan Rasul Paulus dengan tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa oleh karena Allah, ia ikut ambil bagian dari apa yang kurang dalam penderitaan Kristus.[13]  Beberapa hal yang dapat menjadi acuan atas kebenaran ini akan dijabarkan pada bagian berikut ini.

 

Solidaritas Allah dalam Penderitaan Manusia

Bagaimana mungkin memberikan penggambaran yang tepat bahwa Allah solider atas pergumulan manusia?  Solider dalam bentuk yang paling dalam berarti bahwa Allah hadir dan ikut mengalami penderitaan bersama-sama dengan pelaku utama yaitu manusia.  Dengan demikian pemahaman tentang Allah akan sama dengan pandangan agama suku tentang allah yang tidak mampu bahkan untuk membela dirinya sendiri, sehingga harus ada sekelompok orang yang menjadi pembelanya.  Tetapi dengan melepaskan Allah dari realitas tersebut akan sama saja dengan pengakuan filsafat bahwa Allah sudah terlalu menikmati “dunianya” sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk memperhatikan ciptaan-Nya.

Epikuros salah satunya yang memberikan pemaparan tentang perihal 4 jenis Allah.  Pertama, Ia mampu dan mau melaksanakan kehendak-Nya.  Kedua, Ia mampu tetapi tidak mau melaksanakan kehendak-Nya.  Ketiga, Ia tidak mampu tetapi mau melaksanakan kehendak-Nya, serta keempat, Ia tidak mampu sekaligus tidak mau melaksanakan kehendak-Nya.  Konsep Allah yang dimiliki dalam ke-Kristenan tentu saja berbeda dengan semua bentukan di atas.

Allah yang dipahami adalah Allah yang secara teologis, etis dan estetik hadir dalam realita hidup umat-Nya, tetapi bukan juga Ia terlalu lemah sehingga harus “mengalami”, atau terlalu kuat dan jauh sehingga “pura-pura” mengalami penderitaan.  Sehingga solidaritas Allah disini harus dipahami dengan bijaksana dimana Allah dalam Yesus Kristus secara real pernah mengalami tekanan yang paling berat dan paling buruk dalam sepanjang sejarah. Tetapi juga Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh apapun, sehingga Allah dalam Yesus adalah Allah yang menang.

Dengan demikian solidaritas Allah harus dipahami bahwa Allah tetap ada dalam posisi yang kuat dan tak terjangkau oleh penderitaan tetapi Ia secara aktif merangkul manusia menderita dan memberikan  penghiburan dan kemenangan.  Inilah yang mengakibatkan manusia menderita bisa bertekun dalam penderitaan, karena penderitaan yang dialaminya adalah penderitaan biasa yang tidak melampaui kekuatannya.  Penderitaan Kristus di atas kayu salib, sudah terlalu cukup menjadi alasan sehingga Allah membenarkan manusia berdosa demi kasih karunia-Nya.

 

Menjadi Sesama Bagi Manusia lainnya

Lukas menceritakan bahwa suatu ketika seorang ahli Taurat datang untuk mencobai Yesus.[14]  Pertanyaan pamungkas yang coba ditanyakan ahli Taurat tersebut adalah: “Siapakah sesamaku manusia?”  Pertanyaan ini mungkin pernah terjadi dalam realita hidup manusia normal, tetapi penekanan yang ingin ditunjukan disini adalah untuk menjadi sesamaku, maka orang tersebut harus ada dalam posisi sejajar dengan aku.  Sejajar dalam segala aspek, misalnya: politik, status, budaya, nilai-nilai etis, ekonomi, kepercayaan, dan lain sebagainya.

Kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tak kunjung keluar dari penderitaan, akan menjadi pemicu terhadap dampak sosio-ekonomi yang semakin memperparah hubungan horisontal Indonesia.  Dimana pertanyaan “siapakah sesamaku?” tidak patut untuk dipertahankan dalam konteks kehidupan bermasyarakat dalam semangat persatuan menuju keadilan sosial.  Untunglah Yesus telah memberikan solusi yang tepat lewat perumpamaan orang Samaria yang baik hati.  Teladan ini, harus menjadi terapan praktis dalam hidup dalam semangat “bersama kita bisa.”

Jawaban atas pertanyaan yang diajukan sendiri oleh ahli Taurat tadi adalah: “Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”  Artinya persepsi siapakah sesamaku harus diubah; bukan lagi dari sudut pandang aku, tetapi diubah dari sudut pandang ia/dia.  Dengan demikian semua pihak akan berusaha menjadi “orang yang menunjukan belas kasihan.”  Sikap seperti ini merupakan pengejawantahan semangat solidaritas Allah atas penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.

Seharusnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diajukan lagi, sebab Yesus telah terlebih dahulu menjadi sesama bagi manusia.  Rangkaian peristiwa di kayu salib, mempertemukan Yesus dengan seorang terhukum yang secara sadar bahwa ia layak untuk dihukum.  Kesadaran ini membuat Yesus menjadi sesama yang baik baginya dan berkata kepadanya:  “…sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.”[15] Penderitaan yang dialami oleh Yesus tidak serta merta mewajibkan-Nya untuk tutup mata dan memikirkan penderitaan sendiri.  Dengan demikian teladan yang diberikan oleh Yesus, seharusnya membuat orang percaya bersama-sama dengan Allah turut ambil bagian dan solider terhadap penderitaan, serta menjadi sesama yang baik dari sesamanya yang sedang menderita; walaupun orang percaya itu sendiri sedang menderita.

Usulan teologis di atas dapat dijadikan wacana untuk mengembangkan metode berteologi dalam penderitaan.  Bukan pula untuk melupakan kondisi bahwa Allah senantiasa mencurahkan berkat bagi umat-Nya, sehingga dekat dengan Allah membawa konsekuensi diberkati. Tetapi juga tidak melupakan realita yang lain dimana Allah juga “menghajar” orang-orang yang dikasihi-Nya.  Metode berteologi seperti ini kena-mengena dengan upaya memberdayakan masyarakat teologi dalam semangat in loco (konteks kebudayaaan lokal), dengan tidak melupakan keberadaannya yang in globo (konteks universal).

 

KESIMPULAN

Setelah melalui riset terhadap pembahasan tematis terhadap perihal pemeliharaan Allah yang mencakup seluruh umat manusia, maka beberapa hal yang dapat digumuli berkaitan dengan upaya berteologi dalam konteks Indonesia, yaitu: Pertama:  jelas bahwa Allah yang dipahami dalam konsep iman Kristen berbeda dengan konsep Allah dari agama suku maupun desain filsafat.  Allah dalam Yesus Kristus adalah pribadi yang solider dengan pergumulan dan penderitaan yang dialami oleh umat-Nya.

Sikap solider Allah merupakan kondisi yang real dan aktif, dimana Allah mengambil inisiatif untuk memberikan penghiburan dan pertolongan yang tanggap serta tepat waktu.  Selain itu, Allah sendiri dalam Yesus Kristus, telah menunjukan teladan kemenangan atas penderitaan, sehingga dapat menjadi jaminan bagi orang percaya untuk turut serta bersama-sama dengan kemenangan Allah itu.

Kedua, kehadiran orang percaya dimanapun konteks hidupnya (in loco maupun in globo) harus menjadi sesama yang baik bagi sesamanya, seperti wajah Allah yang nyata dalam pergumulan Yesus Kristus di atas kayu salib.  Dengan demikian, Yesus sebagai wajah Tuhan yang menderita merupakan semangat hidup solider dan menjadi sesama bagi sesamanya, entah dalam konteks penderitaan maupun tidak dalam penderitaan.

 

BIBLIOGRAFI

Alkitab

Alkitab.  Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2005

New International Version.  Michigan: Grand Rapids, 1984.

Perjanjian Baru: Yunani – Indonesia.  Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1994.

Biblia Hebraica Stuttgartensia.  Germany: Gesamtherstellung Biblia – Druck Stuttgard, 1990

 

Buku

Armstrong, Karen.  Sejarah Tuhan: Kisah Pendarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, peny., Yuliani Liputo, pen., Zaimul Am. Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2002.

Enns, Paul. The Moody Handbook of Theology.  Chicago: Moody Press, 1995.

House, H. Wayne. Chronological and Background Charts of the New Testament. Michigan, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, t.t.

Hegel, Georg Wilhelm Friedrich.  Filsafat Sejarah, pen., Cuk Ananta Wijaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

 

Artikel

Bromiley, Geoffrey. W. “Elatton” dalam Theological Dictionary of the New Testament, ed., Gerhard Kittel dan Gerhard friedrich, pen., Geoffrey W. Bromiley.  Michigan, Grand Rapids: William B Eerddemans Publishing Company, 1992.

Saruan, Josef Manuel.  “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater, peny. um., A.A Yewangoe dan lainnya.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Diktat

Gunde,  Arrhenius P. Catatan kuliah, Eksposisi Kitab 1-2 Tesalonika dan Wahyu, sem. IV.   Depok: Sekolah Tinggi Teologi Skriptura, 2007.


[1] Studi lebih lanjut dari topik ini dapat dilihat dalam buku: Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Chicago: Moody Press, 1995).  Dalam tulisannya Enns sudah membagi perkembangan dan keberadaan Teologi dari berbagai jenis hubungan, antara lain: Individu, Pandangan, Isi, Metode, dan Zaman.  Buku ini sangat baik apabila secara khusus ingin melakukan Pemelajaran terhadap Teologi Sistematika.

[2] Josef Manuel Saruan, “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater, peny. um., A.A Yewangoe dan lainnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 30.  Dalam karyanya ini, banyak membahas perkembangan teologi (sedikit memiliki kesamaan dengan buku dari Paul Enns, tetapi lebih menitik beratkan pada upaya membangun teologi in locus (dalam konteks) di Indonesia.  Seharusnya bentuk/model berteologi sudah harus menjadi pemikiran kita untuk lebih memasyarakatkan teologi Injili.  Dengan perkataan lain kita perlu melakukan model pendekatan baru kepada umat dalam membahasakan teologi dalam tataran yang “dimengerti” oleh umat.

 [3] Teologi ini berkembang sebagai hasil pergumulan socio-economy dari masyarakat setempat yang berusaha secara etis dan moral untuk memperjuangkan kesamaan hak antara tuan dan hamba, sebagai orang merdeka.

 [4] Teologi ini diperkenalkan oleh Kosuke Koyama yang dipengaruhi oleh hermeneutik yang dikembangkan di Thailand.  Kosuke Koyama memulai penyelidikannya dengan memperhatikan kehidupan petani miskin yang mengerjakan sawahnya dengan menggunakan kerbau.  Kerja keras dari para petani – termasuk kerbaunya – tidak serta merta membuat mereka lepas dari kemiskinan.

[5] Salah satu upaya yang dilakukan dari pihak Mahkamah Agama Yahudi yaitu dengan memberi sejumlah uang kepada para tentara untuk memberikan saksi palsu atas kebangkitan Yesus (Matius 28:11-15)

[6] Penelusuran perihal siapa penulis kitab Ibrani, salah satunya dapat dilihat dalam buku: H. Wayne House, Chronological and Background Charts of the New Testament (Michigan, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, t.t), 140-144.

 [7] Geoffrey. W. Bromiley, “Elatton” dalam Theological Dictionary of the New Testament, ed., Gerhard Kittel dan Gerhard friedrich, pen., Geoffrey W. Bromiley (Michigan, Grand Rapids: William B Eerddemans Publishing Company, 1992), 593.

[8] Beberapa tokoh filsafat yang lain juga memiliki dasar berpikir yang sama, tetapi buku-buku seperti: Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Filsafat Sejarah, pen., Cuk Ananta Wijaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar); Juga dapat dilihat dalam karya Karen Armstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pendarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, peny., Yuliani Liputo, pen., Zaimul Am (Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2002), merupakan contoh klasik bagaimana Allah dihadirkan sebagai “yang tak berdaya.”

[9] Arrhenius P. Gunde, Catatan kuliah, Eksposisi Kitab 1-2 Tesalonika dan Wahyu, sem. IV, (Depok: Sekolah Tinggi Teologi Skriptura, 2007), 20.

[10] Yesaya 53:11.

 [11] Informasi yang didapat kebanyakan diunggah dari Internet, sehingga tidak dapat disajikan secara aktual catatan kaki dari buku refrensi.  Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilihat di: http://www.bible.org/foreign/indonesian/myth-in.htm.

[12] Roma 8:28

[13] Kolose 1:24

[14] Kisah lengkapnya dapat ditemukan Lukas 10:25-37.

[15] Lukas 23:43

Mengenal Nama Allah dan Relevansi Teologisnya

Pernah dikisahkan tentang seorang pencuri yang memasuki sebuah toko pakaian, namun tidak mencuri satu pun pakaian.  Aneh memang, namun yang ia lakukan justru menimbulkan kekacauan dan kerugian besar dari toko pakaian tersebut.  Si pencuri ini ternyata menukar kacaukan label harga dari semua pakaian yang ada dalam toko tersebut, hingga keesokan paginya seseorang harus membayar $ 250 untuk sebuah sapu tangan dan seorang yang lainnya harus bertengkar dengan kasir karena ia membayar stelan jas bermerk hanya dengan harga $ 2.5.

Apa yang terjadi jika perbuatan pencuri tersebut ia lakukan dalam pendataan penduduk.  Sehingga seharusnya si A yang berprofesi sebagai pendeta tiba-tiba dalam data base bekerja sebagai pengurus pondok pesantren.  Kekacauan dan kerugian bakal terjadi diseantero negeri.  Ilustrasi sederhana di atas membawa pada pemahaman pentingnya sebuah nama.  Melalui nama kita dapat menggambarkan atau menyatakan sesuatu.  Dalam hal ini nama berarti keterangan atas objek.  Nama juga dapat digunakan untuk merumuskan sesuatu, misalnya nama kereta api “sapu jagad” dengan segera membawa kita pada suasana penumpukan penumpang di stasion kereta saat lebaran dan kereta ini merupakan kereta pamungkas yang disediakan pemerintah guna mengangkut semua penumpang.  Tidak ada kelas VIP atau bisnis, semuanya ekonomi; tidak ada beda antara barang dan penunpang, namanya juga kereta “sapu jagad”.

Nama merupakan kata yang digunakan untuk menyebut atau memanggil orang, tempat, barang, binatang dan lain sebagainya.  Nama juga digunakan untuk menunjukan gelar atau kemasyuran yang menyertai penyebutannya.  Bagi manusia, nama digunakan untuk menjelaskan:

nama yang diberikan oleh orang tua sejak lahir (nama daging); bisa juga untuk sebuah ungkapan ejekan (nama ejekan); untuk ditambahkan pada nama semula yang biasanya menjelaskan ciri tubuh atau tabiat dan lain sebagainya (nama julukan, misalnya abi-si hitam); sebutan yang digunakan untuk menyamarkan nama semula (nama samaran); atau sapaan untuk menunjukan rasa sayang atau cinta (nama timangan, misalnya si cabi).[1]

Nama-nama dalam Alkitab pun biasanya dikaitkan dengan harapan atau situasi.  Misalnya nama Ishak artinya tertawa, karena bagi ibunya, kelahiran anak tersebut adalah bukti bahwa Allah telah membuatnya tertawa.[2]  Bagi masyarakat Indonesia, nama bukan hanya meliputi unsur-unsur pengertian di atas, namun juga mengandung arti sebagai harapan dari keluarga.  Misalnya masyarakat Jawa memberi nama: Slamet, Rahayu, dll.

Mudah apabila pembahasan perihal nama ditujukan kepada manusia, namun kesulitan besar muncul apabila ditujukan kepada Allah.  Kesulitan ini telah dipahami dan dialami Bavinck hingga ia menulis: Meskipun Ia pada diri-Nya adalah Allah yang tidak punya nama, Ia dalam penyingkapan diri-Nya adalah Allah yang mempunyai banyak nama.[3]  Allah bahkan merelakan nama-Nya dipahami dalam bahasa yang diterima dan dikenal secara anthropomorphic.

Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai nama Allah, maka perlu melihatnya dalam dua konteks bahasan yaitu:

  1. Nama Allah related dengan perbuatan-Nya.
  2. Nama Allah related dengan personal relationship dengan-Nya.

Nama Allah Related dengan Perbuatan-Nya

Alkitab menyatakan sesuatu yang menarik tentang Allah, bahwa nama-Nya senantiasa terkait dengan karya-Nya.  Alkitab ketika memunculkan pribadi Allah berkenaan dengan nama-Nya, maka hal itu senantiasa berbarengan dengan karya-Nya.  Misalnya, kejadian pasal 1 dibuka dengan “pada mulanya Allah menciptakan” (Gen 1:1 ITB), dimana Allah dikaitkan dengan kata kerja menciptakan, berfirmanlah Allah, Allah mengingat.  Lebih jelas lagi tatkala Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa, ketika Ia berkata: “Aku adalah Aku’.  Perkenalan Allah ini memberi arti:

Ia adalah Allah yang “self-sufficient dan self-existent” yang hanya dapat dikenali melalui karya atau tindakan-Nya.  Aku adalah Allah yang hidup, dan Musa tidak seharusnya mencoba membandingkan atau menemukan nama yang dapat memberikan identitas kepada-Nya, karena tak ada suatupun dibawah kolong langit ini yang dapat dipakai untuk menamai Dia.[4]

Dengan demikian, nama Allah bukanlah nama yang sekedar diungkapkan Alkitab, bahkan nama-Nya pun bukan sekedar sebuah itiked, label atau sebutan.  Sebab nama Allah selalu berkaitan dengan apa yang Ia kerjakan dalam keberadaan-Nya.  Berkhof memberikan penjelasan perihal keterkaitan antara nama dan tindakan Allah ketika ia menulis:

… nama bukanlah sekedar sebutan saja, tetapi merupakan satu ekspresi dari natur yang kepadanya nama itu menunjuk … dalam pengertian umum, nama Allah adalah wahyu-Nya sendiri.  Nama itu adalah penunjukan atas diri Allah, bukan sebagaimana Ia ada dalam kedalaman Jatidiri Ilahi-Nya, tetapi sebagimana Ia menyatakan diri-Nya terutama dalam hubungan-Nya dengan manusia … nama-nama Allah bukanlah merupakan penemuan manusia, tetapi asli dari Allah, walaupun nama-nama itu dipinjam dari bahasa manusia, dan diturunkan dari hubungan-hubungan manusiawi.  Nama-nama itu antropomorfis dan menandai tindakan Allah yang merendahkan diri untuk menemui manusia.[5]

Dengan perkataan lain pernyataan diri Allah selalu terkait dengan penyataan diri-Nya, dalam seluruh atribut ke-Allahan-Nya.  Ia aktif, dinamis dan terus menerus berkarya, hingga umat pun mengalami karya-Nya dan [seharusnya] menyapa sesuai dengan karya tersebut.   Oleh karena itu umat dalam berelasi dengan Allah harus meresponinya melalui satu-satunya cara yaitu mengintegrasikan karya Allah dalam hidupnya setiap waktu.

Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya pada orang-orang Yahudi yang bersoal jawab dengan-Nya dengan mengatakan: “ … sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”.  Penggunaan kata ‘ego eimi‘ merujuk pada eksistensinya dalam kekekalan masa lampau.  Sehingga Yesus Kristus merupakan penyataan diri Allah yang memperkenalkan diri-Nya dalam “pengosongan”  seorang hamba  dan menjadi sama dengan manusia.[6]  Hingga umat menyapa-Nya sebagai Allah Anak, bukan karena Ia telah diperanakan atau melalui sebuah mekanisme reproduksi, namun oleh karena Ia adalah penyataan sekaligus pernyataan diri Allah bagi manusia, dalam eksistensi diri-Nya yang berbanding lurus dengan keseluruhan karya Allah.  Seperti yang dijelaskan oleh Yakub Susabda ketika menulis:

Keunikan kesaksian Alkitab tentang nama-Nya disempurnakan didalam Perjanjian Baru, dimana seluruh pengertian dalam Perjanjian Lama tentang nama-Nya menemukan kesatuan titik dan puncaknya dalam “nama diatas segala nama” yaitu Yesus Kristus (Fil. 2:9).  Hanya satu nama yang Allah berikan supaya orang diselamatkan (Kis. 4:12).  Nama “Yahweh,” nama “Allah” dan segala nama yang pernah dipakai untuk menyingkapkan diri Allah hanya menunjuk kepada nama Yesus Kristus karena didalam nama yang indah ini seluruh kehendak dan rencana Allah untuk manusia tersingkapkan dan terpenuhi.[7]

Melalui nama Allah yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus, Allah beranugerah dalam garansi yang luas dan tak berhingga yaitu keselamatan dan pemeliharaan-Nya atas orang percaya.  Lebih kompleks dinyatakan oleh Yakub Susabda sebagai:

… ia memiliki dan mengenal Bapa (I Yoh. 2:23).  Siapa yang telah melihat Dia, telah melihat Bapa-Nya yang disurga (Yoh. 14:9).  Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Dia (Yoh. 14:6).  Didalam nama-Nyalah doa akan didengarkan (Yoh. 14:13), dan hanya orang-orang percaya yang berhimpun didalam nama-Nya akan mengalami kehadiran-Nya (Mat. 18:20).  Nama-Nya bahkan disebutkan sebagai tanda yang akan tertulis didahi  orang-orang saleh dalam kerajaan surga (Wahyu. 22:4).  Suatu bahasa anthropomorphisme yang menolong orang untuk percaya memahami akan jaminan keselamatan yang mereka miliki dalam nama yang ajaib itu.[8]

Penelurusan ini membawa pada pemahaman awal bahwa nama Allah senantiasa terkait dengan karya-Nya.  Ia ada sebagaimana Ia ada.  Bagian selanjutnya dari paper ini adalah melakukan penelusuran perihal hubungan yang lebih intim yang Allah buka bagi diri-Nya terhadap umat, sehingga umat mendapatkan Allah dalam kerelaan Allah untuk mencari dan menyelamatkannya.

Nama Allah Related dengan Personal Relationship dengan-Nya

Eksistensi diri Allah dalam hubungannya dengan manusia membawa pada persepsi-persepsi beragam dari manusia.  Persepsi-persepsi tersebut nyata dalam beberapa premis seperti misalnya: bahwa adanya Allah  merupakan ide universal dari manusia karena menyadari bagian lemah dalam dirinya; Allah kemudian dipersonifikasikan sebagai pribadi yang terbatas – sama seperti manusia – karena Allah hadir dalam setiap pengalaman manusia; Allah bahkan hanya dipahami sebagai simbol-simbol dari sebuah perjalanan kosmos yang tak terpahami dan tak terpecahkan.  Apabila dulu manusia diciptakan Allah menurut peta dan teladan-Nya, maka sekarang manusia menciptakan Allah bagi dirinya dalam peta dan gambarnya sendiri.[9]

Allah hadir dan berkarya dalam pengalaman hidup manusia.  Memang tidak mungkin memasukan Allah secara keseluruhan dalam kronos-nya manusia[10], namun Allah memberi anugerah dan kemampuan kepada manusia untuk berinteraksi secara pribadi dalam kairos-nya Allah.  Pengalaman-pengalaman inilah yang dimaksudkan sebagai personal relationship ketika bersentuhan dengan Allah dan menghasilkan sapaan pribadi terhadap Allah.  Pengalaman personal relationship ini melahirkan pengenalan pribadi dan aktif tentang Allah, yang selanjutnya memunculkan sapaan pribadi terhadap-Nya yang telah berinteraksi langsung dengan umat.

Perjanjian Lama misalnya mengisahkan beberapa pengalaman tersebut.  Misalnya, Abraham pada saat Allah mengujinya untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran.  Abraham kemudian menyapa Allah sebagai “Allah yang akan menyediakan”  ketika ia menangkap momentum prima dalam kairos-nya Allah.  Musa pada saat Israel mengalami kemenangan atas Amalek, ia menyapa Allah sebagai “Tuhan adalah panji-panjiku”.  Beberapa nama sapaan lain terhadap Allah yang lahir dalam pengalaman seperti itu dijabarkan oleh Yakub Susabda berikut ini:

Dalam konteks pengalaman iman nama-nama Allah disebutkan.  Baik itu “Yahweh Shabaoth” yang artinya The Lord Almighty (Mzm. 69:6, 84:1, Hag. 2:7-9; Amos 9:5); “Yahweh Shalom” yang dipakai Gideon untuk memanggil Allah sebagai “the Lord of peace” (Hak. 6:24); “Yahweh tsidkenu” yang artinya “the Lord is our righteousness” (Yer. 23:6); “Yahweh shammah” yang artinya “the Lord is there” (Yeh. 48:35); “Yahweh Elohe Yizrael” yang disebut-sebut Debora dengan arti “the Lord God of Israel” (Hak. 5:3, Yes. 17:6, Zep. 2:9);  “Qedos Yizrael” yang artinya “the Holy One of Israel” (Yes. 1:4); “Abir Yisrael” yang artinya “the mighty One of Israel” (Yes. 1:24); “Nesah Yisrael” yang artinya “the Strength of Israel” (I Sam. 15:29); “El Olam” yang dipakai Abraham untuk memanggil Allah sebagai “God of Eternity” (Kej. 21:23); “El Elohe Israel” dimana Yakub memanggil nama-Nya sebagai Allah yang adalah “God is the God of Israel” (Kej. 33:20); “Elyon” atau nama yang Melkisedek, Balhum dan Raja Babel sebut untuk Allah yang artinya “God as the High and Exalted One” (Kej. 14:18; Bil. 24:16; Yes. 14:14); dan lain sebagainya.[11]

Berkenaan dengan nama-Nya, Allah memberikan salah satu petunjuk melalui hukum Taurat, yaitu: “Jangan menyebut, nama Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (Kel. 20:7).  Menyebut nama Tuhan dengan tidak sembarangan, bukan saja hanya berarti tidak menyebut nama-Nya dengan sia-sia, namun haruslah juga menggunakan nama-Nya secara benar dalam konteks pergaulan dan hubungan yang benar dengan-Nya.  Sehingga penggunaan nama-Nya berkenaan dengan pengalaman pribadi dalam momentum prima ketika orang percaya ada dalam kairos-Nya.  Seperti yang nyata dalam penjelasan Yakub Susabda bahwa:

Hanya oleh karena anugerah-Nyalah orang-orang percaya dapat menyebut nama-Nya  dan itu pun harus dalam konteks pergaulan dan komunikasi yang benar dengan Dia.  Karena hanya ditengah momentum kelaparanlah (kelaparan akan makanan rohani, jiwani maupun jasmani) kita seharusnya memanggil-Nya sebagai “Bread of Life,” ditengah kehausanlah kita memanggil Dia “Air kehidupan,” dan ditengah kegelapan hidup ini kita mencari yang adalah “Terang dunia.”  Diluar konteks pengalaman pribadi “dalam momentum prima” tersebut, manusia bisa berada dalam kemunafikan dan kepalsuan imannya.  Ia bisa memanggil nama Tuhan tetapi hatinya jauh dari pada-Nya (Mat. 7:21-23).[12]

Personal relationship ini berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Richard Swinburne dalam bukunya the Existence of God yang juga dikutip oleh Peter Vardy tentang pengalaman keagamaan.  Baginya, pengalaman keagamaan dapat dilihat dalam 5 wujud yaitu:[13]

  1. Dimana individu “melihat” Allah atau perbuatan-perbuatan Allah dalam suatu objek umum atau keadaan yang umum.  Misalnya, seseorang yang percaya mungkin “melihat” tangan Allah ketika memandang langit pada malam hari atau pada suatu pemandangan pedesaan.
  2. Pengalaman-pengalaman tentang objek-objek umum yang sangat luar biasa, yang dapat melibatkan pelanggaran atas hukum alam yang tampak.  Seperti: berjalan di atas air, penampakan-penampakan kebangkitan, sosok yang muncul ke dalam ruang terkunci dan lain sebagainya.
  3. Pengalaman-pengalaman yang seseorang dapat jelaskan dengan memakai istilah-istilah yang biasa.  Jadi penjelasan Yakub tentang mimpinya dan tentang adanya tangga yang naik ke dan turun dari sorga adalah suatu pengalaman pribadi, sekalipun dijelaskan dalam pengertian-pengertian yang dapat diakui dan diterima oleh setiap orang.
  4. Pengalaman-pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dalam bahasa biasa, sekalipun demikian merupakan pengalaman khusus.  Contoh: perasaan tenteram  atau kepuasan, keprihatinan tentang keutuhan yang fundamental dan “kesatuan” dari segala sesuatu atau perasaan kagum.
  5. Individu merasa bahwa Allah sedang berbuat sesuatu dengan cara cara tertentu dalam kehidupannya atau dengan suatu cara mempengaruhi individu itu.  Jadi individu yang bersangkutan menengok ke belakang dalam kehidupannya dan dapat mengklaim bahwa Allah sudah bertindak untuk mewujudkan hal-hal tertentu atau menjadi sedemikian dekat dengan individu itu pada saat-saat yang gawat.

Lihatlah bahwa keseluruhan pengalaman dengan Allah di atas memiliki kemiripan bahkan kesamaan dengan semua agama sehingga disebut sebagai pengalaman keagamaan.  Allah dapat ditemukan dalam keseluruhan bentuk agama, dan bahwa penyataan diri-Nya akan sama dengan pengalaman agama lain termasuk agama-agama primitive.  Jelas ini menunjukan bahwa sesungguhnya baik Richard Swinburne maupun Peter Vardy, melihat eksistensi Allah hanya dari sudut Allah yang terpahami melalui kronos-nya pengalaman beragama manusia.  Itu berarti tidak ada unsur dari pengalaman beragama tersebut yang sebenarnya sedang bersinggungan dengan kairos-Nya yang sesungguhnya “I will be that I will be”.

Jadi apakah pengalaman beragama ini membawa umat pada Allah?  Tidak, sebab Tuhan Yesus berkata: “… penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”.  Yakub Susabda secara tepat menjelaskannya sebagai berikut:

Rupanya Allah memang menempatkan orang percaya diantara dua kutub ini, yaitu diantara kronos dan kairos.  Dengan demikian nyatalah bahwa iman Kristen merupakan iman yang terus bergerak hidup diantara dua kutub ini.  Kalau pengalaman iman bergerak kearah kronos, Allah dan penyingkapan diri-Nya menjadi semakin praktis dan menyatu dengan realita kehidupan dengan perasaan dan pikiran yang predictable sesuai dengan hukum alam.  Tetapi kalau pengalaman iman bergerak kearah kairos, semakin lama orang beriman merasakan Allah menjadi semakin unpredictable, incomprehensible dan unknowable.[14]

Menjembatani realita tersebut Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh. 15:16).  Pada akhirnya, Pentingnya Nama Allah sebagai Nama di atas Segala Nama: Berkenalan, Mengenal dan Bergaul dengan Allah dari Nama-Nya Sendiri, membawa kita pada keputusan untuk setiap saat menjadi Kristen (pengikut Kristus) yang otentik, melalui petunjuk-petunjuk pengenalan akan Dia.  Seperti yang dinyatakan oleh Bill Hybels:

“Allah telah memberi kita petunjuk-petunjuk menuju keotentikan, petunjuk-petunjuk yang dapat memberikan kekuatan padanya, dan kekuatan supranatural ini diperlukan untuk menghasilkannya dalam kehidupan kita.  Terserah kepada kita untuk menentukan langkah pertama dalam suatu perjalanan yang menjadi tempat kita tidak akan pernah ingin kembali.”[15]

Beberapa petunjuk tersebut adalah Ordo Salutis, permulaan perjalanan iman diawali dengan born again in spirit (Yoh. 3), sebagai realita bahwa Roh Kudus masuk dalam hidup yang menolong roh kita (Roma 8) untuk dapat berkomunikasi (mengenal dan percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus).  Setelah mengalami born again, maka dengan sendirinya ia dibenarkan oleh Allah (justification), artinya kita dianggap benar karena kita sudah lahir baru. ‘Dianggap benar’ bukan masalah realita praktis, tetapi masalah status dihadapan Tuhan, sehingga Tuhan melihat kita dengan cara yang baru sebagai pribadi yang telah ditudungi oleh Yesus Kristus (I Yoh. 3:6,9; II Kor. 5:17).

Padahal realitanya kita masih jatuh dalam dosa.  Sehingga seharusnya dosa merupakan realita yang tidak disengaja dan kita menjadi orang yang membenci dosa.  Sebab kita sudah disebut sebagai anak Tuhan (adopted), sehingga kemudian mengalami convertion (pertobatan).  Sejak itu orang percaya berjalan dalam perjalanan iman yang disebut sanctification (Gal. 5:16) artinya berjalan dalam Roh sehingga keinginan daging makin berkurang.  Proses ini berjalan terus hingga Allah membawa kita pada glorification.  Langkah-langkah praktisnya adalah:

  1. Lapar dan haus akan firman Allah. (plan, strategi, making notes, how to apply)
  2. Focus.
  3. Broken (ers).  Allah yg ada di tempat tinggi mau hadir di dalam hati manusia yang hancur.
  4. Child likeness: Anak kecil biasanya: (gampang percaya, ignorant to evil, tidak pernah bosan [never bore to routinity]

Dengan demikian, pengenalan akan nama Allah membawa kita pada keyakinan bahwa Ia telah, sementara dan akan terus berkarya.  Juga terhadap tuntutan-Nya kepada kita untuk terus menerus mengalami-Nya dalam personal relationship, sehingga kita terus bertumbuh secara benar dalam pergaulan dan pengenalan akan Allah.

Kepustakaan

Bavinck, Herman.,  Reformed Dogmatic.  Vol, 2: God and Creation.  Grand Rapids, Michigan: Baker Akademic, 2008.

Berkhof, Louis.,  Teologi Sistematika. Vol, 1: Doktrin Allah.  Surabaya: Momentum, 2007.

Hybels, Bill., Jujur terhadap Allah: Satunya Kata dan Perbuatan.  Diterjemahkan oleh Suryadi.  Yogyakarta: Yayasan Andi, 1999.

Susabda, Yakub.,  Mengenal dan Bergaul dengan Allah.  Batam: Gospel Press, 2002.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.,  Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Jakarta, Balai Pustaka2001.

Vardy, Peter.,  Allah para Pendahulu kita: Tahukah kita apa yang kita Percayai?  Diterjemahkan oleh  Liem Sien Kie.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2001)., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka),  773.

[2] Yakub Susabda, Mengenal dan Bergaul dengan Allah (Batam: Gospel Press, 2002), 193.

[3] Herman Bavinck, Reformed Dogmatic.  Vol, 2: God and Creation.  Grand Rapids, Michigan: Baker Akademic, 2008), 95.

[4] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 195.

[5] Louis Berkhof, Teologi Sistematika. Vol, 1: Doktrin Allah (Surabaya: Momentum, 2007), 67-68.

[6] Filipi 4:6-8.

[7] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 194.

[8] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 195.

[9] Berkhof, Teologi Sistematika, 19.

[10] Kecuali Allah dengan sengaja membiarkan diri-Nya hadir dalam  rentang kronos tertentu.  Misalnya dalam wujud Malaikat TUHAN (hw”±hy> %a:ôl.m;), dan panglima bala tentara Allah (hw”ßhy>-ab’(c.-rf;) dalam Perjanjian Lama, juga ketika Logos yang adalah Allah sendiri hadir dalam wujud pribadi Yesus Kristus selama kurang lebih 33 tahun pelayanan di bumi.

[11] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 196-97.

[12] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 196.

[13] Peter Vardy, Allah para Pendahulu kita: Tahukah kita apa yang kita Percayai?  Pen., Liem Sien Kie (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 106-08.

[14] Susabda, Mengenal dan Bergaul, 247.

[15] Bill Hybels, Jujur terhadap Allah: Satunya Kata dan Perbuatan, pen., Suryadi  (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1999), 330.

Yesus, Wajah Penderitaan Allah dan Korelasinya bagi Konsep Pelayanan Ke-Mesias-an yang Menderita demi Umat Pilihan-Nya (Tinjauan Kritis atas Konsep Transposisi Messianic dari Choan-Seng Song)

Proposal Paper

The State of debate and Thesis Statement:

Choan-Seng Song dalam bukunya yang bertajuk: “Allah yang turut menderita” menjelaskan bahwa Allah dalam Kristus telah mendirikan inti iman di dalam pengertian yang konyol bagi orang Yunani dan menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi.[1]  Namun rupanya dalam paradigma inilah Yesus sedang bertransposisi dan menjadi prototipe dari ‘mesias-mesias kecil yang menderita’.[2]  Dengan demikian, Yesus adalah Mesias yang menderita, oleh karena Allah harus bertransposisi agar dapat mengisap ‘rakyat kecil’ yang tidak berdaya,[3] setelah sebelumnya Allah telah menempatkan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai yang tabu[4] oleh karena Ia an sich  adalah Allah yang bertegangan tinggi, Allah yang berbahaya.  Perjumpaan Allah dengan Israel di Sinai merupakan petunjuknya.  Contoh lainnya adalah saat Uza terbunuh ketika ia mencoba mengulurkan tangannya untuk menahan tabut itu.[5]  Dan dalam penderitaan-nya, Yesus an sich sedang menantang Allah yang bertegangan tinggi ini dan akhirnya Ia pun tersengat olehnya.[6]

Transposisi[7] merupakan tindakan utama yang harus dilakukan oleh Allah dalam Yesus Kristus oleh karena (menurut Choan-Seng Song): pertama, iman Perjanjian Baru sebagai warisan dari Perjanjian Lama menyebabkan kekristenan telah tampil dengan wajah serupa yang akhirnya hanya menyibukkan dirinya dengan praktek anathema dan eks-komunikasi, yang memberikan garis batas yang tegas antara keselamatan dan penghukuman.[8]  Kedua, Yesus dalam ke-Mesiasan-Nya, telah menaklukan segala kekuatan politik melalui keputusannya menolak jabatan raja yang jaya dalam kemenangan politik.[9]  Dari penelusuran tersebut, Choan-Seng Song, telah menggiring pembaca untuk sampai pada  klimaks tesisnya, yaitu:

… di dalam Yesus Kristus Ia (Allah) menjadi Mesias yang menderita … hanya Mesias yang menderitalah yang mempertahankan agar cahaya kebenaran, kasih dan keadilan tetap bersinar dalam kegelapan dunia (yang) penuh dusta, pemerasan dan kebencian.  Hanya Mesias yang menderitalah yang menanggung penderitaan dunia dan membawakan  keberanian, kekuatan dan harapan (sebab) bagi mereka Yesus hidup dalam ketakutan akan gelap dan bayang-bayang maut.  Dan Mesias yang menderita inilah yang menciptakan ruang dan peluang di dalam hati manusia, bagi Allah dan bagi sesamanya.[10]

Dari paparan tersebut, terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk ‘diluruskan’, terutama konsep Yesus sebagai mediator yang dalam praxisnya menjalankan messianic mandate.  Premis-premis dari Choan-Seng Song tersebut adalah benar oleh karena beberapa bukti: Yesus secara langsung menyadari tugas Mesias yang menderita seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya 53[11]; Yesus menghardik Petrus yang telah menjadi batu sandungan bagi-Nya mengenai pemahaman messianic mandate-Nya[12]; Yesus meluruskan pemahaman Yakobus dan Yohanes yang mengharapkan kedudukan terhormat dan kuasa dalam kerajaan-Nya.[13]  Pada akhirnya, konsep Mesias yang menderita telah menang dan diwarisi oleh para murid dalam pemahaman yang baru.[14]  Sampai akhirnya, Choan-Seng Song, mengulangi kembali pentingnya konsep transposisi Messianic, ketika ia menulis: “dalam Yesus, Allah secara tegas berpaling kepada orang-orang berdosa”.[15] Namun demikian, kajian ulang perlu dilakukan terhadap konsep transposisi Messianic yang diajukan Choan-Seng Song.  Apakah ketika Yesus menjadi mediator antara Allah dan manusia, Ia merupakan korban dari drama politk persinggungan antara yang tabu dengan yang berdosa?  Apakah tindakan Allah dalam diri Yesus merupakan aspek ketidak berdayaan Allah dalam menangani carut marut dan ­chaos­-nya dosa manusia?  Apakah penderitaan Yesus hanya merupakan cara Allah meniru realita dukha yang dialami manusia, sehingga Yesus pun harus mengalaminya?   Dalam pemahaman baru nanti (new orientation) mengenai konsep messianic, apakah yang harus menjadi ­the ultimate concern dari gereja yang berpusat pada Kristus sebagai ‘Sang Mesias’?

Melalui paper ini, penulis akan memberikan bukti bahwa tidak ada konspirasi dalam diri Allah ketika menyerahkan Putra Tunggalnya mengambil bagian dalam karya the suffering Messiah.  Selanjutnya penulis juga akan menunjukan bukti-bukti mengenai kesinambungan yang dinamis dalam diri the suffering Messiah mulai dari nubuatan hingga penggenapannya.  Pada bagian akhir, penulis akan memberikan korelasi konsep the suffering Messiah dalam diri Yesus dengan umat yang menderita.  Adapun sistematika pembahasan yang akan menuntun penulis mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

Bab I    Pendahuluan

Bab II  The Transposition Messianic Concept

            Transposisi Mandat Sorgawi kedalam Realita Dunia

Transposisi Natur Allah kedalam Dukha Dunia

Transposisi Diri Allah kedalam Gambar Manusia

Bab III  The True Messianic Concept

            Yesus sebagai Mediator

Yesus sebagai Allah-Manusia

Yesus sebagai Hamba yang Menderita

Bab IV Korelasi antara  the Suffering of Messiah with the Pain of Christianity

Bab V  Kesimpulan

Bibliography:

Bavinck, Herman.  Reformed Dogmatics, vol 3.  Grand Rapids, Michigan:  Baker Academic, 2006.

Best, W.E.  God’s Longsuffering is Salvation.  Houston, Texas: W.E. Best Book Missionary Trust, t.t.

Eckardt, A. Roy.  Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masa Kini.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

France, R.T.  Yesus Sang Radikal: Potret Manusia yang Disalibkan.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Fretheim, Terence.  The Suffering of God: an Old Testament Perspective.  Philadelphia: Fortress Press, 1984.

Guthrie, Donald.  Jesus the Messiah: An Illustrated Life of Christ.  Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1972.

Hall, Douglas John.  God and Human Suffering: an Exercise in the Theology of the Cross.  Minneapolis, USA: Augsburg Publishing House, 1986.

Martin, Raymond.  The Elusive Messiah: A Philosophical Overview of the Quest for the Historical Jesus.  Colorado: Westview Press, 1999.

Piper, John dan Justin Taylor, ed.  Suffering and the Sovereignty of God.  Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2006.

Song, Choan-Seng.  Allah yang Turut Menderita.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Turrettin, Francis.  The Atonement Of Christ.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1978.

Varner, William.  The Messiah: Revealed, Rejected, Received.  Bloomington, Indiana: Author House, 2004.

Weinandy, Thomas G.  Does God Suffer?  Notre Dame, Indiana: University of Noter Dame Press, 2000.

Wessels, Anton.  Memandang Yesus: Gambar Yesus dalam Berbagai Budaya.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.


[1]  Choan-Seng Song,  Allah yang Turut Menderita  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 153.

[2]  Ibid, 154.

[3]  Ibid.

[4]  Istilah yang digunakan oleh Song ketika menjalaskan kata Ibrani (qds) yang berarti kekudusan.  Kata tabu dipilih oleh karena adanya unsur peringatan: ‘Bahaya!  Tegangan tinggi!’ Oleh karena kondisi yang ditentukan penuh dengan kuasa, dan reaksi manusia terhadap hal ini haruslah didasarkan pada pengakuan yang jelas akan keadaan penuh kuasa ini, harus mempertahankan jarak yang seharusnya dan perlindungan yang aman.  Ibid, 154-55nn1-2.

[5]  Ibid, 155.

[6]  Ibid, 156.

[7]  Transposisi, seperti yang ia kutip dari Webster’s Third International Dictionary, 7n10 memiliki beberapa pengertian seperti: perubahan dari suatu tempat atau periode waktu ke tempat atau periode waktu yang lain; bisa juga berarti (bagi Choan) penerjemahan ke dalam bahasa, gaya atau cara pengungkapan yang lain.  Pada akhirnya baginya, transposisi adalah inkarnasi.  Ibid, 11-17.

[8]  Ibid, 157.

[9]  Ibid, 160.

[10]  Ibid, 161.

[11] Ibid, 162-63.

[12] Ibid, 161.

[13] Ibid, 162.

[14] Perubahan paradigma dari para murid ini oleh karena melihat peran messianic yang dimainkan Yesus, yang ternyata telah ‘menggoncangkan’ pemahaman mereka yang lama untuk selanjutnya di giring pada pemahaman baru (old orientation — disorientation — new orientation).  Beberapa bukti di sampaikan oleh Choan-Seng Song, misalnya: tema utama dalam khotbah Petrus — Kis. 2:14-36; percakapan Petrus di serambi Salomo — Kis. 3:13-26; kesaksian syahid dari Stefanus — Kis. 7:52; pemikiran persekutuan iman yang mula-mula  terhadap Yesus yaitu: “karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”; logika teologi Paulus bahwa tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua satu di dalam Kristus Yesus — Gal.3:28.  Ibid, 161- 64.

[15] Ibid, 181.

��`��

Bab  I

Pendahuluan

Choan-Seng Song adalah salah satu teolog Asia yang secara konsisten telah berteologi menurut konteksnya.  Beberapa karya telah ia hasilkan sebagai sumbangan teologinya bagi Asia dan bahkan ia adalah seorang yang concern terhadap upaya untuk mempertahankan ‘ke-Asiaannya’.  Hal yang sangat kental didalam setiap karyanya tersebut.  Salah satunya adalah melalui buku Allah yang turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), yang melalui risalah tersebut, ia memperkenalkan wajah baru dari Yesus sebagai berhidung pesek, bermata sipit, yang berkulit kuning langsat atau hitam atau sawo matang.  Yesus bukanlah juruselamat yang berhidung mancung, bermata coklat, agak pirang dengan aksen Eropa yang kental, yang selama 19 abad telah digambarkan oleh para missionaris.  Yesus yang ‘berwajah’ Asia ini merupakan Allah yang mencoba hadir dalam dukha dari orang-orang Asia yang tertindas.

Pemikiran Choan-Seng Song secara ‘tidak sengaja’ bermula dari Chuang Tzu (l.k 399-295 seb. M) yang adalah pemikir kebudayaan Cina.  Chuang Tzu sendiri terilhami dari kebijaksanaan Lao Tzu dan bahkan telah sampai pada pengembangan mistik alamiah ‘yang melebihi’ gurunya tersebut.  Ada percakapan menarik antara Chuang Tzu dengan Hui Tzu (l.k 380-305 seb.M) yang adalah seorang ahli logika, saat mereka melintasi bendungan sungai Han:

Chuang Tzu berkata, “Ikan putih itu berenang dengan tenang.  Itulah kebahagiaan ikan itu.”  “Engkau bukan ikan,” kata Hui Tzu.  “Bagaimana kau tahu bahwa itulah kebahagiaannya?”  “Engkau bukan aku,” kata Chuang Tzu.  “Bagaimana engkau tahu bahwa aku tidak mengenal kebahagiaan ikan itu?”  Huang Tzu berkata, “Jelas aku tidak mengetahuinya, karena aku bukanlah engkau.  Tetapi engkau bukanlah ikan itu, danjelas sekali bahwa engkau tidak mengetahui kebahagiaan ikan itu.”  “Marilah kita membahas akar permasalahannya, “ kata Chuang Tzu.  “Ketika engkau bertanya bagaimana aku mengetahui keberadaan ikan itu, engkau sudah tahu bahwa aku mengetahui kebahagiaan ikan itu, tetapi malah bertanya bagaimana.  Aku mengetahuinya di sepanjang sungai ini.”[1]

Essensi pertanyaannya adalah bagaimana engkau tahu tentang kebahagiaannya, jika engkau bukan aku dan aku bukan dia.  Chung Tzu memenangkan percakapan itu oleh karena beberapa aspek: (1) ia membawa pemahamannya yang mendalam mengenai sifat-sifat alam untuk mempengaruhi perjumpaannya dengan realitas; (2) ia memiliki rasa menyatu yang hidup dengan alam yang hidup di sekitarnya; (3) ia mampu menempatkan sudut pandangnya pada sudut pandang makluk lain; (4) ia sadar bahwa ada kesamaan tujuan antara dirinya dengan keseluruhan alam.[2]  Inilah akar dari konsep teologi transposisi yang diusung oleh Choan-Seng Song.  Sama seperti sebuah jalan sia-sia untuk menemukan kesamaan antara manusia dan ikan – bagi Hui Tzu – maka demikian pula makna itu bagi kekristenan secara budaya maupun rohani, sebab agama Kristen bukan agama Hindu dan bukan agama Budha.  Inilah teologi non-transposisi yang dikritik oleh pikiran Chuang Tzu dan pribadi Choan-Seng Song.  Bagi Choan-Seng Song, teologi haruslah ber­transposisi agar ia dapat melintasi batas-batas kebudayaan, agama dan sejarah sehingga dapat memperoleh hubungan yang lebih dalam dengan cara-cara dan pemikiran asing dan misterius tentang Allah dalam ciptaan ini.  Tidakkah teologi pun harus siap mentransformasi dirinya ke dalam situasi-situasi yang asing untuk diperhadapkan dengan cara-cara yang membingungkan namun indah dari Allah dengan seluruh ciptaan?[3]

Dari pengalaman dan uraian Choan-Seng Song, ditemukan paling tidak dua pendekatan yang umum dipakai guna ‘menangkap’ Yesus dalam realita core belief: pertama pendekatan tradisional dan kedua pendekatan modern.  Bagi kelompok pertama, Yesus dipahami sepenuhnya sebagai apa yang di singkapkan oleh Alkitab; sedangkan bagi kelompok yang kedua, Yesus haruslah dipahami dalam apa yang dialami oleh manusia yang berinteraksi dengan Alkitab.  Dalam konteks yang kedua inilah, Yesus, dipahami oleh Choan-Seng Song sebagai hasil dari Allah yang bertransposisi sebagai wujud pemaknaan baru bagi inkarnasi-Nya.  Dalam pengertian ini, Allah kemudian hadir dalam gambar budaya Asia, sebagai yang ‘berhidung pesek’, yang berkulit hitam, yang setara dengan Krisna dan Budha, yang menjiwai semangat kepemimpinan para Kaisar Cina, serta yang memahami segala bentuk dukha yang dialami oleh para ‘mesias-mesias kecil’ di seantero jagad.  Yesus menjadi sedemikian ‘membumi’ sebab hanya oleh cara inilah Ia menjadi Allah menjadi yang terpahami, terilhami dan terambil manfaatnya bagi kehidupan manusia.   Kebanyakan orang akan setuju dengan penampilan baru dari Allah yang lebih moderat ini, sebab dengannya, Allah bukan lagi pribadi yang tabu dan yang terpisahkan dari umat ciptaan-Nya.

Yesus Kristus telah dikenali dan direkonstruksi dalam beragam pilihan,  bahkan segala macam metode pendekatan kritis telah menjadi ‘pisau  bedah’ bagi diri-Nya, baik dalam konteks iman ataupun keingintahuan mengenai kebenaran historisitas-Nya.  Ia telah dipaksa hadir dalam gambar budaya dunia, berkata-kata dan bertindak dalam ‘kewajaran’ manusiawi, dan memiliki iman yang sama seperti yang dapat ditangkap manusia berdosa.  Tidak jarang kuasa dan otoritas ‘nama-Nya’ di manipulasi untuk mendatangkan keuntungan bagi orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya; atau dipihak lain, Ia ‘di mejahijaukan’ dalam perdebatan-perdebatan teoritis-ilmiah sebagai alih-alih semangat fides quares intelectum.  Terkadang kehadiran-Nya di catut untuk embel-embel religiosity atau sekedar mencari securitas dari manusia beragama.  Yesus Kristus memang telah datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, namun yang terjadi selanjutnya adalah Ia telah ‘dihilangkan’ oleh mereka yang dicari-Nya, oleh karena Ia memang the elusive Messiah.

Namun demikian, sebagai orang Kristen yang meletakkan imannya pada Yesus Kristus Tuhan, sangat perlu menilik kembali pada dasar imannya.  Apakah iman itu efektif hanya dalam wajah yang terpahami seperti yang ditawarkan Choan-Seng Song?  Apakah iman Kristen itu haruslah sama dengan apa yang telah disajikan oleh budaya dunia agar ia mendapat tempat baik oleh mereka yang beriman kepada-Nya, atau juga sekaligus mereka yang beriman pada Krisna dan Budha?  Apakah kesaksian-kesaksian Alkitab tentang Allah yang berinkarnasi sebenarnya masih dalam realita deus absconditus, sehingga perlu menggantinya dengan Allah yang bertransposisi, yang oleh transposisi ini Allah sungguh-sungguh menjadi deus revelatus?

Yesus Kristus yang tetap sama itu telah menjadi berbeda oleh beragamnya persepsi.  Melalui paper ini akan diberikan evaluasi kritis terhadap konsep transposition Messianic yang diusung oleh Choan-Seng Song dalam bukunya Allah yang turut menderita, mengkontraskannya dengan konsep teologi reformed khususnya dari pemikiran Herman Bavinck dan Francis Turrettin sebagai pembuktikan ulang beberapa kebenaran crucial dalam konteks iman Kristen bahwa tidak ada konspirasi dalam diri Allah ketika menyerahkan Putra Tunggalnya untuk mengambil bagian dalam karya the suffering Messiah.  Selanjutnya penulis juga akan menunjukan bukti-bukti mengenai kesinambungan yang dinamis dalam diri the suffering Messiah mulai dari nubuatan hingga penggenapannya.  Pada bagian akhir, penulis akan memberikan korelasi konsep the suffering Messiah dalam diri Yesus dengan umat yang menderita.  Melalui keseluruhan pembuktian ini, Yesus akan coba didudukan kembali dalam persepsi yang orthodoks namun dengan aksen modern sebab Ia adalah Allah-Manusia yang menderita oleh karena rancangan kekal Allah bagi diri-Nya terhadap umat-Nya pada segala zaman dan di segala tempat.


[1] Choan-Seng Song, Allah yang Turut Menderita  (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997), xiii.

[2] Ibid.

[3] Ibid, xv.

Bab  II

Konsep Transposition Messianic

Transposisi adalah perubahan dari suatu tempat atau periode waktu ke tempat atau periode waktu yang lain; bisa juga berarti penerjemahan ke dalam bahasa, gaya atau cara pengungkapan yang lain.[1]  Didefinisikan secara pribadi oleh Choan-Seng Song, transposisi adalah inkarnasi.  Pentingnya transposisi oleh karena Kristus sendiri telah ‘menyatakan’ dirinya secara baru dalam pengalaman Sri Ramakrishna (1836-1886), seorang pendeta Hindu di kuil Kali.  Sri Ramakrishna tiba-tiba mengalami trans saat melihat lukisan dari bunda Maria dan putranya.  Dalam keadaan trans selama tiga hari tersebut ia menjadi lebih memiliki sikap hormat yang mendalam terhadap Kristus dan gereja Kristen.  Hingga pada hari keempat ia melihat seseorang dengan wajah yang sangat teduh namun dengan sorot mata yang tajam kepadanya, dengan mata yang besar namun indah meskipun hidungnya pesek.  Sri Ramakrishna begitu terpesona dan terus saja memandangi orang asing tersebut, hingga melalui kedalaman batiniahnya ia mengenali pria tersebut sebagai Sang Kristus yang menumpahkan darah dari hatinya demi penebusan umat manusia dan menderita sengsara demi mereka.  Ia tidak lain dari pada Yesus, sang Guru Yogi, penjelmaan dari Kasih.[2]

Memang Sri Ramakrishna tidak mengalami ‘pertobatan’, namun Kristus yang berhidung pesek, yang menjumpainya telah mulai merasuki hatinya.  Kristus itu telah ditempatkan Sri Ramakrishna dalam kedudukan avatara diantara avatara lainnya seperti Krisna dan Budha.  Inilah Kristus yang bertransposisi, Kristus berhidung pesek yang telah melintasi batas-batas ras, agama dan budaya.[3]  Yesus seperti inilah yang sebenarnya telah “… menjadi segala-galanya untuk semua orang” (1 Kor. 9:22).[4]  Ketika Yesus telah bertransposisi, maka seharusnya teologi pun ikut bertransposisi dari kampung halamannya di Barat menuju belahan dunia lain, yaitu Asia.  Untuk itu beberapa langkah penting harus dilakukan oleh teologi Asia yaitu: (1) melokalisasi kekuatan-kekuatan dalam Perjanjian Lama yang menarik Israel keluar dari sentrismenya dan menempatkannya dalam hubungan dengan bangsa lain; (2) melihat bagaimana Yesus berjuang membebaskan umat-Nya sendiri dari sentrisme etno-religius; (3) melihat perjalanan dan gerakan orang-orang Asia dalam perjumpaan dengan jalan-jalan Allah di bagian dunia yang begitu luas di luar tradisi Yahudi – Kristen.[5]  Nilai dan semangat transposisi yang dikerjakan Yesus telah mengubah segala-galanya, bukan hanya cara dunia melihat Allah, namun juga cara Allah melihat dunia.

Transposisi Mandat Sorgawi ke dalam Realita Dunia

Raja Wu dari Chou (1100-722 sM) mengumpulkan pasukannya untuk menyerang raja terakhir dari Shang (1500-1100 sM), dengan alasan: “Raja Shang dengan kekuatan melakukan caranya yang tidak mengenal hukum, sewenang-wenang, berperangai buruk, sembrono, menindas, menyebarkan permusuhan, bahkan memusnahkan.  Orang-orang tidak bersalah telah berseru kepada sorga dan kebusukan pemerintahannya telah tercium di sorga”.[6]  Dengan tegas raja Wu berkata lagi, “Sorga mengasihi rakyat dan penguasa harus menghormati pikiran sorga”.[7]  Sebab bagi raja Wu, “Sorga melihat sebagaimana rakyat melihat; Sorga mendengar sebagaimana rakyat mendengar”.[8]  Jelas raja Wu tidak bermaksud mengidentikan rakyat dengan Allah, namun ia justru sedang menyadari bahwa Allah sendirilah yang sedang mengidentifikasikan diri dengan rakyat, sebab Allah hidup dalam pribadi-pribadi manusia.  Bagi Choan-Seng Song, bila kita ingin mengetahui bagaimana Allah bekerja di dalam dunia, maka kita harus melihat bagaimana manusia bekerja.  Bila kita ingin mengetahui apakah Allah sedang berbahagia atau marah, maka lihatlah dengan cara apakah manusia itu berbahagia atau marah.[9]

Choan-Seng Song mencoba bertemu dengan Allah melalui luapan hati Rendra yang berdoa dalam puisinya[10]:

Kelaparan adalah iblis.

Kelaparan adalah iblis yang memainkan kediktatoran.

O Allah!

Kelaparan adalah tangan-tangan hitam

yang memasukkan segenggam tawas

ke dalam perut para miskin.

O Allah!

Kami berlutut.

Mata kami adalah matamu.

Ini juga mulut-Mu.

Dan ini juga perut-Mu.

Perut-Mu lapar, ya Allah…

Betapa indahnya sepiring nasi,

semangkok sop dan segelas kopi hitam.

O Allah.

Melalui doa ini Rendra sedang mewakili doa dari orang-orang yang kelaparan, miskin dan tertindas.  Melalui doa ini umat bertemu dengan Allah yang mata-Nya berkaca-kaca, hati-Nya yang pedih dan bahwa Allah telah telah direndahkan karena kobodohan, kekerasan hati dan egoisme manusia.  Inilah sebabnya Anak Allah yang bertransposisi itu berkata, “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang Asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat. 25:35-37).[11]

Sebagai Anak Sorgawi, Yesus telah menerima mandat memiliki hak istimewa menjadi raja-imam.  Namun, Ia haruslah seorang yang bergerak dalam dua arah sekaligus yaitu taat kepada Allah dan menjadi berkat bagi rakyatnya.[12]  Ia harus taat kepada Allah karena mandatnya itu sebab apabila tidak kekuasaan itu bisa diambil kembali dari padanya.[13]  Mandat sorgawi dideskripsikan sebagai seorang raja taklukan yang menerima tanda jabatan di kuil nenek moyangnya.  Inilah mandat sorgawi yang sangat khas Asia yang sedang dijalankan oleh Yesus.  Bahwa Yesus – dalam bahasa Asia – telah menerima mandat (ming) dari pigtogram, dimana mandat ini bukanlah didapat sebagai suatu usaha melakukan sesuatu melainkan oleh karena diberikan oleh Allah.  Setelah menerima mandat, Yesus memiliki kuasa sepenuhnya atas dunia di bawah sorga (t’ien hsia),[14] namun Ia juga harus bertanggung jawab penuh untuk menjadi berkat bagi dunia.

Dalam Perjanjian Lama figur yang sama yang mendapatkan mandat ilahi dapat ditemukan dalam diri Salomo, oleh karena ia dalam doanya berkata: ‘… berikanlah kepada hambaMu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umatMu …’ (1 Raj. 3:7-9).  Tujuannya adalah agar ia dapat memerintah rakyat dengan baik.  Ke arah inilah seharusnya teologi itu bergerak, oleh karena dalam Perjanjian Lama ditemukan bahwa Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar-Nya, dalam Perjanjian Baru ditemukan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia untuk memberitakan pemerintahan Allah dalam kasih dan keadilan menjadikan manusia sebagai ciptaan baru.[15]  Dan dari teladan mereka yang telah menerima mandat sorgawi, ditemukan bahwa perjuangan mandat itu adalah perjuangan atas kemerdekaan dan demokrasi: perjuangan atas lapar dan haus akan hak-hak asasi manusia.  Dengan demikian, perjuangan Kristen adalah perjuangan kemanusiaan, kesaksian Kristen adalah kesaksian atas sesama manusia, pergumulan Kristen adalah pergumulaan kemanusiaan, yang itu semua seharusnya terfokus pada kemerdekaan, demokrasi, dan hak asasi manusia.[16]  Inilah yang telah dikerjakan oleh penerima mandat sorga, sebab hanya dengan menghormati dan  memuliakan jalan sorga adalah satu-satunya cara untuk terus bertahan di kenan oleh sorga.[17]  Yesus telah menjadi penerima mandat sorgawi untuk masuk dalam realita dunia, menjadi satu dengan gerak langkah menjadi berkat bagi ‘rakyat-Nya’ dan terus taat pada Allah “Sang Pemberi Mandat”.  Seperti Yesus, maka sekarang kita pun adalah penerima mandat sorgawi menjadi ‘messias’, sama seperti ketika Allah memakai para nabi, pelihat, dan orang-orang bijaksana (te)[18], demikianlah Allah melanjutkan misi penebusan sampai akhir zaman melalui messias-messias kecil yang menderita.

Transposisi Natur Allah ke dalam Dukha Dunia

Dalam perjalanan panjang menuju pencerahan, mengikuti tapa yang ekstrem, penyangkalan diri selama bertahun-tahun, meditasi yang amat khusyuk, sampai akhirnya pada saat bulan purnama Waisak, Siddharta Gautama (563-483) mengalami pencerahan.  Saat itu ia berusia 35 tahun dan mulai berjalan berkeliling mengkhotbahkan “menggerakan roda dharmma[19] yang sebagiannya berisi sebagai berikut:

… inilah kebenaran yang agung tentang penderitaan.  Kelahiran adalah penderitaan, usia lanjut adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan … hal-hal yang tidak menyenangkan adalah penderitaan, perpisahan dengan hal-hal yang menyenangkan adalah penderitaan, setiap keinginan yang tidak menyenangkan adalah penderitaan .. penderitaan muncul dari keinginan, yang membawa ke kelahiran kembali, yang menghasilkan kesukaan dan nafsu,dan mencari pemuasannya disana sini – keinginan yang berhubungan dengan nafsu, keinginan akan kehidupan yang berlanjut, keinginan akan kekuasaan … menghentikan penderitaan adalah menghilangkan sama sekali keinginan sehingga nafsu tidak lagi tersisa, meninggalkannya, dibebaskan darinya, dilepaskan daripadanya, tidak memberikan tempat kepadanya .. dan delapan jalan agung untuk menghentikannya adalah sebagai berikut: pandangan yang benar, tekad yang benar, bicara yang benar,tingkah laku yang benar, cara hidup yang benar, usaha yang benar, pikiran yang benar dan pemusatan perhatian yang benar.[20]

Pada akhirnya, Buddhisme telah mengirimkan murid-muridnya ke dalam dunia dengan perintah ‘penginjilannya’, yaitu:

Pergilah engkau, rahib-rahib, demi kesejahteraan banyak orang, demi kebaikan banyak orang, karena belas kasih kepada dunia, demi keuntungan, demi kebaikan, demi kesejahteraan dewata dan manusia … Uraikanlah, pengajaran yang baik pada permulaannya, baik ditengahnya dan baik pada akhirnya, di dalam jiwa [seperti juga] di dalam tulisannya.  Perlihatkanlah kehidupan yang sempurna, penuh dengan kebajikan.[21]

Dukkha[22], adalah realita yang dialami oleh orang-orang Asia.  Ia tidak perlu dicari atau diundang, karena ia merupakan bagian dari keberadaan itu sendiri.  Eka Dharmaputera, seperti yang dikutip oleh Choan-Seng Song berkata:

Orang Asia memahami penderitaan lebih sebagai bagian yang tak terpisahkan  dari keberadaanya sebagai manusia … tidak pernah menggenggamnya sebagai suatu pengalaman yang aneh yang berasal dari luar kehidupan.  Kita harus bergumul melawannya, benar, tetapi pertama-tama kita harus menerimanya sebagai bagian dari diri kita sendiri.  Pergumulan melawan penderitaan toh merupakan suatu pergumulan bathin melawan diri kita sendiri.[23]

Penderitaan dalam konteks Asia, pada akhirnya dipahami sebagai pengalaman keagamaan.  Terbukti ketika mereka menjumpai penderitaan dalam ekspresi-ekspresi tertentu misalnya bencana alam ataupun  kekejaman manusia secara naluri akan diresponi dengan usaha mencari keselamatan dari Allah.  Melalui penderitaan, manusia mendekatkan dirinya pada Allah.  Berjumpa muka dengan muka, dari hati ke hati, dan mempersatukan air mata dalam cawan penderitaan, sehingga melalui penderitaan manusia menjadi lebih berpengharapan untuk terbuka dihadapan Allah yang juga ikut menderita.[24]  Dalam penderitaan, manusia seolah-olah sedang memberontak terhadap Allah (misalnya Ayub), namun sesungguhnya yang terjadi adalah ia sedang dalam proses untuk menemukan dirinya, menemukan dunia di sekitarnya dan bahkan menemukan Allah.  Sebab Allah tidak dapat ditemukan dalam realitas hipotesa metafisik, atau kebenaran teologis-filosofis, namun Ia dapat dijumpai dalam keprihatinan, kegelisahan, dukacita, marabahaya.  Sama seperti orang Israel menemukan Yahweh, Allah mereka, demikian pula orang-orang Asia menemukan realita Allah yang menderita.[25]

Allah dalam Kristus telah mendirikan inti iman di dalam pengertian yang konyol bagi orang Yunani dan menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi.[26]  Namun rupanya dalam paradigma inilah Yesus sedang bertransposisi dan menjadi prototipe dari ‘mesias-mesias kecil yang menderita’.[27]  Dengan demikian, Yesus adalah Mesias yang menderita, oleh karena Allah harus bertransposisi agar dapat mengisap ‘rakyat kecil’ yang tidak berdaya,[28] setelah sebelumnya Allah telah menempatkan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai yang tabu[29] oleh karena Ia an sich  adalah Allah yang bertegangan tinggi, Allah yang berbahaya.  Perjumpaan Allah dengan Israel di Sinai merupakan petunjuknya.  Contoh lainnya adalah saat Uza terbunuh ketika ia mencoba mengulurkan tangannya untuk menahan tabut itu.[30]  Dan dalam penderitaan-nya, Yesus an sich sedang menantang Allah yang bertegangan tinggi ini dan akhirnya Ia pun tersengat olehnya.[31]

Transposisi[32] merupakan tindakan utama yang harus dilakukan oleh Allah dalam Yesus Kristus oleh karena (menurut Choan-Seng Song): pertama, iman Perjanjian Baru sebagai warisan dari Perjanjian Lama menyebabkan kekristenan telah tampil dengan wajah serupa yang akhirnya hanya menyibukkan dirinya dengan praktek anathema dan eks-komunikasi, yang memberikan garis batas yang tegas antara keselamatan dan penghukuman.[33]  Kedua, Yesus dalam ke-Mesiasan-Nya, telah menaklukan segala kekuatan politik melalui keputusannya menolak jabatan raja yang jaya dalam kemenangan politik.[34]  Dari penelusuran tersebut, Choan-Seng Song, telah menggiring pembaca untuk sampai pada  klimaks tesisnya, yaitu:

… di dalam Yesus Kristus Ia (Allah) menjadi Mesias yang menderita … hanya Mesias yang menderitalah yang mempertahankan agar cahaya kebenaran, kasih dan keadilan tetap bersinar dalam kegelapan dunia (yang) penuh dusta, pemerasan dan kebencian.  Hanya Mesias yang menderitalah yang menanggung penderitaan dunia dan membawakan  keberanian, kekuatan dan harapan (sebab) bagi mereka Yesus hidup dalam ketakutan akan gelap dan bayang-bayang maut.  Dan Mesias yang menderita inilah yang menciptakan ruang dan peluang di dalam hati manusia, bagi Allah dan bagi sesamanya.[35]

Persekutuan dengan Allah yang menderita telah terjadi oleh karena Allah telah bertransposisi dalam diri Yesus “dalam Yesus, Allah secara tegas berpaling kepada orang-orang berdosa”,[36]  yang dalam natur-Nya telah mengalami realita penderitaan sebagai sebuah keberadaan.

Transposisi Pada Akhirnya

Realita transposisi merupakan bagian misteri yang tak terpahami dalam diri Allah, namun akhirnya dengan sengaja Ia singkapkan, karena hanya dengan bertransposisilah Ia dapat dikenal, bahkan oleh Sri Ramakrishna (1836-1886), seorang pendeta Hindu di kuil Kali.  Dengan bertransposisi, Allah sebenarnya sedang mengambil bagian dalam realita pengalaman dukkha dari Siddharta Gautama (563-483) yang akhirnya mengalami pencerahan, seperti Yesus yang pada akhirnya dipermuliakan setelah Ia ber­kenosis (Flp. 2:6-11).  Allah telah bertransposisi dalam diri Yesus, sebab Yesus adalah ‘yang terkemuka di dunia dan akhirat dan menjadi salah seorang yang didekatkan kepada Allah’ (Surah 3:45).[37]  Bahkan secara terang-terangan A. Roy Eckardt berkata:

Kepada perempuan-perempuan dan laki-laki, Yesus mewujudkan kemampuan Allah untuk menyentuh dan menyembuhkan dan memarahi serta menghibur manusia.  Kepada Allah, Yesus mewujudkan kemampuan manusia untuk bekerja sama di dalam menyentuh dan menyembuhkan serta mengajar dan memarahi dan menghibur manusia – dan mungkin Allah juga … tahap permulaan ini menandakan suatu pergeseran kritis … suatu pergeseran dari tanggung jawab umat untuk menciptakan perdamaian pada kasih karunia Allah yang berupa suatu keadilan ‘alamiah’;  suatu pergeseran dari cinta kepada sesama manusia dalam dunia kepada cinta kepada Allah seseorang yang ada di atas dunia.[38]

Realitas Allah yang bertransposisi dalam diri Yesus pada akhirnya membawa misi Kristen pada sikap yang lebih mulia dalam sepanjang sejarah misi,[39] yang mengubah wajah Kristen dari wajah tradisional yang menyibukkan dirinya dengan praktek anathema dan eks-komunikasi menjadi wajah Kristus (Ibr. Messias – yang diurapi) dari Allah yang bertransposisi. Sebab, nilai dan semangat transposisi yang dikerjakan Yesus telah mengubah segala-galanya, bukan hanya cara dunia melihat Allah, namun juga cara Allah melihat dunia.


[1]   Seperti yang kutip Choan-Seng Song dari Webster’s Third International Dictionary, 7n10.

[2]   Choan-Seng Song, Allah yang Turut Menderita  (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997), 1n1.

[3]   Ibid, 4.

[4]   Ibid.

[5]  Song, Allah yang Turut Menderita, 24.

[6]  Ibid, 209n2.

[7]  Ibid, n5.

[8]  Ibid, 210n6

[9]  Ibid, 210.

[10] Ibid, 211n7.

[11] Song, Allah yang Turut Menderita, 211.

[12] Ibid, 214.

[13] Ibid, 214n11.

[14] Ibid.

[15] Ibid, 216.

[16] Song, Allah yang Turut Menderita, 216.

[17] Ibid, 217n13.

[18] Bijaksana adalah ‘kuasa ilahi’ yang bekerja dalam diri manusia guna mempertahankan dunia, yang teaktualisasi menjadi prinsip-prinsip etis, perilaku politik dan hubungan manusia.  Seorang bijak bukan saja seorang yang melakukan kebajikan, tetapi juga orang yang sadar akan te, yaitu kuasa ilahi, yang telah dimandatkan Allah dalam diri penerima mandatnya yang melaluinya orang percaya menjadi saksi bagi Allah.  Ibid, 229.

[19] Ibid, 231-32nn1-3.

[20] Ibid, 233n4.

[21] Ibid, 233n5.

[22] Dukkha dalam bahasa Pali biasanya diterjemahkan sebagai penderitaan.  Pada awalnya ia merupakan lawan dari kata sukha yang berarti ketenangan dan kesejahteraan, ia merujuk pada ketidaktenangan dalam konteks ketidaknyamanan, frustasi atau ketidakselarasan dengan lingkungan.  Lebih dari itu, ia adalah salah satu dari tiga fungsi keberadaan, yaitu Anicca (ketidakkekalan), Anatta (ketidaknyataan diri), dan Dukkha sendiri.  Pada umumnya dukkha dipahami sebagai respon manusia atas Anicca (ketidakkekalan) dan Anatta (ketidaknyataan diri).  Dengan demikian, keberadaan tidak dapat sepenuhnya terpisah dari dukkha  dan bahwa keterlepasan mutlak daripadanya hanyalah  mungkin dengan kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian.  Ibid, 234n6.

[23] Ibid, 234n7.

[24] Ibid, 236.  Namun demikian, haruslah dipahami apa yang dibicarakan oleh Choan-Seng Song adalah dalam konteks Allah yang bertransposisi dalam diri Yesus Kristus.  Transposisi dalam pengertian Allah yang mencoba memahami dukkha dalam realitas yang dipahami manusia, yaitu Allah yang dalam keberadaan-Nya tanpa dosa telah bertransposisi agar mengalami keberadaan dalam realitas dukkha.

[25] Ibid, 238.

[26] Ibid, 153.

[27] Ibid, 154.

[28] Ibid.

[29] Istilah yang digunakan oleh Song ketika menjalaskan kata Ibrani (qds) yang berarti kekudusan.  Kata tabu dipilih oleh karena adanya unsur peringatan: ‘Bahaya!  Tegangan tinggi!’ Oleh karena kondisi yang ditentukan penuh dengan kuasa, dan reaksi manusia terhadap hal ini haruslah didasarkan pada pengakuan yang jelas akan keadaan penuh kuasa ini, harus mempertahankan jarak yang seharusnya dan perlindungan yang aman.  Ibid, 154-55nn1-2.

[30] Ibid, 155.

[31] Ibid, 156.

[32] Transposisi, seperti yang ia kutip dari Webster’s Third International Dictionary, 7n10 memiliki beberapa pengertian seperti: perubahan dari suatu tempat atau periode waktu ke tempat atau periode waktu yang lain; bisa juga berarti (bagi Choan) penerjemahan ke dalam bahasa, gaya atau cara pengungkapan yang lain.  Pada akhirnya baginya, transposisi adalah inkarnasi.  Ibid, 11-17.

[33] Ibid, 157.

[34] Ibid, 160.

[35] Ibid, 161.

[36] Ibid, 181.

[37] Anton Wessels, Memandang Yesus: Gambar Yesus dalam berbagai Budaya, pen., Evie J. Item (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 36.  Memang Wessels tidak pernah menggunakan istilah tranposisi dalam bukunya, namun dari cara penelusuran yang sama seperti yang dilakukan oleh Choan-Seng Song, maka penulis yakin bahwa sebenarnya ia pun mengakui konsep transposisi dari Choan-Seng Song.  Ia berkata misalnya: dalam tradisi mistik Islam telah dikembangkan gambaran tersendiri yang berbeda baik dengan tradisi quran maupun dengan tradisi Perjanjian Baru, walaupun masih sangat berkaitan.  Ia bahkan mengutip cerita dari Naguib Mahfuz perihal ‘peralihan’ (definisi yang sama dengan tranposisi) Adam, Musa, Yesus dan Muhammad.  Untuk study lebih lanjut dapat ditemukan dalam Wessels, Memandang Yesus, 35-53.

[38]  A. Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masa Kini, pen., Ioanes Rahmat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 231n45.

[39]  Yang misalnya nyata dalam pandangan W. E Hocking yang kemudian dijadikan maklumat bersama: Kami mengakui sebagai bagian dari satu Kebenaran yang merasakan Kemuliaan Allah, dan penghormatan yang berikutnya di dalam ibadah, yang demikian mencolok dalam Islam, simpati yang mendalam terhadap penderitaan dunia dan pencarian jalan keluarnya yang tidak mementingkan diri, yang merupakan pusat dari Buddhisme; keinginan mencari hubungan dengan realitas tertinggi yang dipahami sebagai rohani, yang menonjol dalam Hinduisme; keyakinan akan suatu tatanan moral di dalam alam ini dan penegasan perilaku moral yang konsekuen, yang ditanamkan oleh Konfusianisme.  Study lebih lanjut dapat dilakukan melalui tulisan David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, pen., Stephen Suleeman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 736n25.

Bab  III

Konsep Reformed mengenai Mesias

Melalui pemaparan terhadap konsep transpositional Messianic yang telah dibahas pada bab sebelumnya, terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk ‘diluruskan’, terutama konsep Yesus sebagai mediator yang dalam praxisnya menjalankan messianic mandate.  Premis-premis dari Choan-Seng Song tersebut adalah benar oleh karena beberapa bukti: Yesus secara langsung menyadari tugas Mesias yang menderita seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya 53;[1] Yesus menghardik Petrus yang telah menjadi batu sandungan bagi-Nya mengenai pemahaman messianic mandate-Nya[2]; Yesus meluruskan pemahaman Yakobus dan Yohanes yang mengharapkan kedudukan terhormat dan kuasa dalam kerajaan-Nya.[3]  Pada akhirnya, konsep Mesias yang menderita telah menang dan diwarisi oleh para murid dalam pemahaman yang baru.[4]  Sampai akhirnya, Choan-Seng Song, mengulangi kembali pentingnya konsep transposisi Messianic, ketika ia menulis: “dalam Yesus, Allah secara tegas berpaling kepada orang-orang berdosa”.[5]

Namun demikian, kajian ulang perlu dilakukan terhadap konsep transposisi Messianic yang diajukan Choan-Seng Song.  Beberapa pertanyaan penting yang harus dipikirkan dan diuji ulang terhadap konsep yang diajukan Choan-Seng Song antara lain: Apakah ketika Yesus menjadi mediator antara Allah dan manusia, Ia merupakan korban dari drama politk persinggungan antara yang tabu dengan yang berdosa?  Apakah tindakan Allah dalam diri Yesus merupakan aspek ketidak berdayaan Allah dalam menangani carut marut dan ­chaos­-nya dosa manusia?  Apakah penderitaan Yesus hanya merupakan cara Allah meniru realita dukha yang dialami manusia, sehingga Yesus pun harus mengalaminya?   Dalam pemahaman baru nanti (new orientation) mengenai konsep messianic, apakah yang harus menjadi ­the ultimate concern dari gereja yang berpusat pada Kristus sebagai ‘Sang Mesias’ dalam menjalankan missio dei?

Jalan keluarnya adalah dengan mengembalikan Yesus pada apa yang diajarkan oleh para saksi langsung, juga apa yang dipahami oleh orang percaya mula-mula, serta apa yang terus menerus dipertahankan oleh para reformator dalam semangat mereka untuk teguh berpegang pada apa yang disingkapkan Allah melalui kitab suci.  Paper ini akan langsung membahas sikap dan prinsip kebenaran yang dipegang oleh para reformed, oleh karena hal tersebut merupakan continuity dari apa yang diajarkan para saksi langsung dan apa yang dipahami oleh gereja mula-mula.  Untuk itu, paper ini akan menyingkapkan Yesus hanya dalam tiga terminologi penting saja yaitu Yesus sebagai Mediator, Yesus sebagai Allah-Manusia dan Yesus sebagai Hamba yang Menderita.  Ketiga aspek tersebut dipilih karena secara khusus tiga aspek itulah yang telah dikonsepkan secara berbeda oleh Choan-Seng Song dalam konsep Transposition Messianic.  Tujuan utama dari digunakannya tiga terminologi tersebut adalah sebagai apologi terhadap apa yang diserang oleh Choan-Seng Song melalui konsep Transposition Messianic, dan bukan sebagai penjabarn doktrinal-teologis.

Yesus sebagai Mediator

 Apa yang dilihat oleh Choan-Seng Song dalam pengalamannya sebagai teolog Asia, yang bergumul dalam konteks pergumulan Asia, yang juga melihat realita pergumulannya dalam konteks Asia misalnya teladan Siddharta Gautama, kisah kesusastraan para raja Cina, pengalaman trans dari Sri Ramakrishna, dan puisi kegelisahan Rendra merupakan kebutuhan umum akan perlunya mediators between humanity and the deity.[6]  Memang Agustinus pernah berkata bahwa: “dalam diri manusia bakat-bakat yang kodrati hanya dirusak karena dosa, sedangkan bakat-bakat yang luarbiasa dilucuti”.[7]  Namun demikian, sesungguhnya isu utama yang merangkum semua kebutuhan akan Allah, baik dalam persekutuan dan juga realita kebutuhan akan mediator, terjadi oleh karena adanya kehadiran Allah yang tidak terhindari oleh manusia.[8]  Keberadaan manusia sebagai makluk ciptaan tentu saja sangat bergantung pada realita Sang Pencipta, sehingga konteks pergumulan Choan-Seng Song sungguhlah beralasan, walaupun dengan pendekatan yang berbeda.  Oleh karena itu, usaha untuk menempatkan Yesus dalam peran mediators between humanity and the deity merupakan kebutuhan yang tak terelakkan lagi dalam pencarian akan jawaban pergumulan iman dalam konteks apa saja, termasuk Asia.

Yesus telah menjadi mediators between humanity and the deity oleh karena beberapa alasan essensi: Kristus bukan diclaim manusia tetapi oleh Allah,[9] Kristus bukan manusia biasa oleh karena Ia mendemostrasikan kuasa-Nya dalam mengampuni dosa,[10] Kristus dinubuatkan dari kitab-kitab yang hadir ratusan bahkan ribuan tahun sebalum kelahiran-Nya, Manusia mengangkat dirinya sendiri, tetapi Kristus berbeda sebab Allah sendiri yang menempatkan diri-Nya menjadi mediator, Kristus tidak berdosa oleh karena itu Ia bukan manusia biasa, serta Kristus bangkit dan membangkitkan orang mati.  Secara sederhana, kebutuhan akan peran Yesus sebagai mediators between humanity and the deity nampak jelas oleh karena dua realita yang sama-sama tak terhindarkan, yaitu pertama, kehadiran Allah yang tidak terhindari oleh manusia dan kedua, dosa merupakan realitas yang tak terhindarkan sehingga tidak ada seorang pun yang berlayak berdiri atas dirinya sendiri dihadapan Allah.

Yesus sebagai Allah-Manusia

Dalam risalahnya, Choan-Seng Song, telah sampai pada natur Kristus sebagai Allah dan manusia sejati.  Namun demikian, oleh karena konsep transpositional messianic yang diusungnya, menyebabkan ia justru terjebak pada melepaskan salah satu (atau bahkan keduanya) dari natur yang dimiliki oleh Yesus.  Bagi Choan-Seng Song, Yesus an sich sedang menantang Allah yang bertegangan tinggi ini dan akhirnya Ia pun tersengat olehnya.[11]  Seharusnya, dua natur dari Yesus harus dilihat dalam hubungan yang saling terintegrasi.  Memisahkan salah satunya hanya akan menyebabkan perjumpaan dengan Yesus yang lain, yang berbeda dan bukan Yesus seperti yang menyatakan diri-Nya di dalam Alkitab.

Berbicara mengenai dua natur dalam satu pribadi Yesus,[12] merupakan hal yang unik dan essensi dalam iman Kristen.  Realita inilah yang justru harus dipertahankan bukan hanya oleh karena keunikannya, namun dari sinilah konsep transpositional messianic dipatahkan.  Dua natur dalam satu pribadi Yesus tidak bisa dipahami hanya dalam bahasa teknis, namun terlebih harus dilihat dalam kerangka penyataan diri Allah kepada manusia, yang dalam rancangan kekal penuh kebijaksanaan itu, Ia telah memutuskan untuk menggunakan gambar diri-Nya pada ciptaan pertama (Adam) dan mengasosiasikan gambar-Nya yang sempurna kepada ciptaan baru melalui Yesus Kristus.  Kekeliruan Choan-Seng Song adalah ketika ia hanya membatas hakekat dua natur, satu pribadi dari Yesus Kristus hanya pada bahasa teknis yang umum dan terpahami dalam bahasa empiris manusia.  Sesungguhnya relasi dengan Allah adalah relasi dalam aspek spiritual (Yoh. 4:21-24).

Yesus sebagai Hamba yang Menderita

Kesalahan berikutnya dalam konsep transpositional messianic ala Choan-Seng Song adalah pada sisi bagaimana ia merumuskan Kristus sebagai hamba yang menderita.  Melalui tulisannya, Choan-Seng Song menjelaskan bahwa Yesus dijadikan tumbal oleh Allah agar penderitaan (ia menggunakan istilah dukkha) menjadi realita yang terpahami.[13]  Bagi Choan-Seng Song, penderitaan bukanlah bahasa Allah, namun ketika melihat ketidak mungkinan tersebut terjadi oleh karena Allah terpisah dari realita penderitaan sehingga perlu belajar bahasa penderitaan melalui Yesus yang menderita, maka sesungguhnya Allah yang dipahami oleh Choan-Seng Song bukanlah Allah seperti yang disaksikan Alkitab.[14]

Pentingnya kehadiran Yesus sebagai hamba yang menderita dalam konteks menjadi mediators between humanity and the deity, oleh karena dua sebab utama yang hanya bisa dijembatani dan dibereskan oleh Yesus sendiri.  Pertama, kehadiran Allah yang tidak terhindari oleh manusia dan kedua, dosa merupakan realitas yang tak terhindarkan sehingga tidak ada seorang pun yang berlayak berdiri atas dirinya sendiri dihadapan Allah. Inkarnasi (dan bukan transposisi) merupakan tujuan hadirnya Yesus ke tengah dunia,[15] yaitu sebagai realita bahwa Allah sendiri sangat memahami apa yang menjadi kebutuhan utama manusia yaitu persekutuan dengan Allah dan pemberesan dosa.  Dalam dua hal inilah salib telah menjadi jawaban atas kebutuhan umat.  Melalui Mesias yang menderita, Allah mewujudkan secara nyata persekutuan antara humanity and the deity.


[1]  Choan-Seng Song, Allah yang Turut Menderita  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 162-63.

[2]  Ibid, 161.

[3]  Ibid, 162.

[4]  Perubahan paradigma dari para murid ini oleh karena melihat peran messianic yang dimainkan Yesus, yang ternyata telah ‘menggoncangkan’ pemahaman mereka yang lama untuk selanjutnya di giring pada pemahaman baru (old orientation — disorientation — new orientation).  Beberapa bukti di sampaikan oleh Choan-Seng Song, misalnya: tema utama dalam khotbah Petrus — Kis. 2:14-36; percakapan Petrus di serambi Salomo — Kis. 3:13-26; kesaksian syahid dari Stefanus — Kis. 7:52; pemikiran persekutuan iman yang mula-mula  terhadap Yesus yaitu: “karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”; logika teologi Paulus bahwa tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan karena kamu semua satu di dalam Kristus Yesus — Gal.3:28.  Ibid, 161- 64.

[5]  Ibid, 181.

[6]  Herman Bavinck, Reformed Dogmatic, vol. 3: Sin and Salvation in Christ, pen., John Vriend, ed. John Bolt (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2003), 233, 238-240.  Dalam uraiannya Bavinck menegaskan bahwa: “fenomena ini bukan kebetulan terjadi tetapi berakar dalam kodrat manusia dan agama itu sendiri. Dimana ide tentang inkarnasi dan pendewaan dari manusia tertentu terjadi di hampir semua agama”.  Walaupun memang pendekatan pembuktian yang berbeda dilakukan oleh Bavinck yang melihat seolah-olah isu tentang inkarnasi merupakan pinjaman dari bangsa-bangsa sekitar Israel.  Namun demikian, ide utama yang dipaparkan oleh Bavinck sebenarnya secara teknis telah menjawab usaha yang coba dilakukan Choan-Seng Song dalam pendekatannya saat menguraikan konsep transpositional messianic.

[7]  Dikutip oleh John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed., John T. McNeill,  pen., Ford Lewis Battles  (Philadelphia: Westminster Press, 1960), II. ii, 12.  Calvin menjelaskan penyataan tersebut sebagai Akal, yang membuat orang sanggup membeda-bedakan yang baik dengan yang jahat, sanggup mengerti dan menilai, merupakan pemberian yang kodrati … didalam kodrat manusia yang betapapun bejadnya masih juga ada beberapa percik api yang menunjukan ia sebagai makluk yang berakal, … naluri alamiah yang mendorongnya untuk mengasuh dan memelihara persekutuan, lihat Calvin, Institutes II. ii, 13.

[8]  Luther menyebutnya coram deo; sedangkan Calvin mengistilahkannya sebagai negitium cum deo.  Study lebih lanjut dapat ditemukan dalam Yakub B. Susabda, Pengantar ke dalam Teologi Reformed: Sebuah Penolong untuk Memahami Kedalaman, Keunikan dan Perkembangan Teologi Reformed dari masa John Calvin sampai Akhir Abad XX (Surabaya: Momentum, 2001), 8-9.

[9]  Bavinck memberikan beberapa contoh perihal usaha manusia yang coba mengklaim dirinya dalam tugas mediators between humanity and the deity, lihat Bavinck, Reformed Dogmatic, 238-240.  Sama halnya juga dengan yang terjadi dalam berbagai kebudayaan, dimana beberapa tokoh tertentu telah diklam atau bahkan mengklaim dirinya sebagai mediators between humanity and the deity, misalnya: Sultan, Kaisar Jepang, atau bahkan Lia Eden (untuk keterangan lebih lanjut mengenai aktivitas kelompok Lia Eden dan bagaimana ia mengklaim dirinya sebagai malaikat Jibril Rohul Kudus dapat diunduh pada http://www.liaeden.info).  Namun demikian, klaim-klaim seperti ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

[10]  Dosa merupakan realitas yang tak terhindarkan – sama seperti kehadiran Allah yang tak terhindarkan – baik dosa itu dibahasakan melalui pikiran sosial, politik, psikologi maupun teologis, ia tetap merupakan kenyataan yangtelah berurat akar dalam kehidupan manusia.  Ioanes Rahmat mencoba menghubungkan realitas ini dalam kaitannya dengan mekanisme kerja otak, ia menulis: Amygdala dan sistim limbik secara keseluruhan adalah suatu bagian otak paling tua dalam sejarah evolusi biologis otak manusia, terbentuk sekitar 450 juta tahun lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu.  Jika aktivitas amygdala meningkat, maka gelombang ketakutan dan kecemasan menyerbu anda, karena zat-zat neuro-kimiawi yang destruktif mengalir deras masuk ke dalam otak. Jika orang berpikir negatif tentang dirinya sendiri, atau memandang kehidupan ini dengan negatif, aktivitas di dalam amygdala makin meningkat. Ketika dirangsang secara berlebihan, amygdala dalam sistim limbik otak menciptakan suatu impresi emosional tentang suatu Allah yang menakutkan, otoritatif, egoistik, agresif, pemaksa, pendendam, pemarah dan penghukum, dan menekan serta mematikan kemampuan frontal lobes untuk berpikir logis mengenai Allah.  Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada (http://www.facebook.com/home.php#!/notes/ioanes-rakhmat/relasi-otak-manusia-dan-perilaku-keagamaan).  Namun demikian, apapun rationalisasi yang coba dibuat manusia untuk membenarkan dirinya justru semakin membuktikan sifat dosa yang universal dan faktual.  Study lebih lanjut dapat dilakukan terhadap tulisan Bavinck, Reformed Dogmatic,75-82.  Calvin menulis: apabila manusia dikatakan sama sekali tidak mempunyai kebenaran, maka hal itu segera menjadi alasan baginya untuk merasa puas dengan dirinya sendiri … dipihak lain, kalau sesuatu, betapa pun sedikitnya, diasalkan kepada manusia, maka Allah dirampas kehormatan-Nya dan manusia runtuh oleh karena nekad mengandalkan dirinya sendiri.  Calvin, Institutio, II. ii, 1.  Melalui penelusuran ini, jelas bahwa peran Yesus sebagai mediators between humanity and the deity adalah peran yang tidak tergantikan oleh siapapun, apapun atau kapanpun.

[11]  Song, Allah yang Turut, 156.  Ketersengatan ini disebabkan oleh adanya konsep yang keliru terhadap kekudusan Allah.  Hal kekudusan Allah hanya dilihat sebagai ekspresi teknis belaka yaitu sebagai sesuatu yang tabu untuk di dekati.   Kata tabu dipilih oleh karena adanya unsur peringatan: ‘Bahaya!  Tegangan tinggi!’ Oleh karena kondisi yang ditentukan penuh dengan kuasa, dan reaksi manusia terhadap hal ini haruslah didasarkan pada pengakuan yang jelas akan keadaan penuh kuasa ini, harus mempertahankan jarak yang seharusnya dan perlindungan yang aman.  Ibid, 154-55nn1-2.  Dukungan teks yang digunakan oleh Song adalah peristiwa Perjumpaan Allah dengan Israel di Sinai merupakan petunjuknya.  Contoh lainnya adalah saat Uza terbunuh ketika ia mencoba mengulurkan tangannya untuk menahan tabut itu.  Ibid, 155.

[12]  Gereja purbakala telah sedemikian rupa kuat berjuang melawan penolakan terhadap dua natur dalam satu pribadi Yesus ini.  Beberapa pandangan, misalnya docetism yang melihat Yesus berpura-pura menjadi manusia padahal bukan manusia, Ia hanya terlihat sebagai bayang-bayang dari manusia, tidak sungguh manusia. Roma Katolik melihat Ke Allahan dan kemanusiaan Yesus bersatu begitu rupa dan ada komunikasi dalam properties.  Teori ini kemudian lebih dikenal sebagai communicable property.  Dengan keyakinan bahwa karakter atau sifat adalah sesuatu yang membuat sesuatu menjadi sesuatu.  Sedangkan Lutheran melihat penyatuan ilahi dan kemanusiaan bisa dibedakan dan munculnya terserah kehendak sang pribadi.  Sehingga dalam waktu-waktu tertentu Yesus adalah manusia namun pada waktu yang lain Ia adalah Allah.  Catatan lepas kuliah Kristologi dan Pneumatologi di STTRII tahun 2011 semester 4 dengan dosen pengampu Yuzo Adhinarta, Ph. D.  Calvin menjelaskannya sebagai: Dia yang tadinya Anak Allah telah menjadi anak manusia, tidak karena percampuran zat, melainkan karena kesatuan pribadi.  Calvin, Institutes, II. xiv, 1.  Bavinck memberikan pengulasan panjang lebar tentang topik ini dengan menggunakan istilah Finitum non capax in finitum artinya yang terbatas tidak mungkin membatasi yang tidak terbatas atau menampung yang terbatas, tapi yang terbatas bisa mengambil rupa yang terbatas. Yesus memiliki satu kesadaran dalam dua natur. Yang menjadi manusia bukan substansi  atau esensi Allah, tetapi person, dimana pribadi ke dua dari Allah mengambil rupa seorang manusia. Substansi tetap satu hakekat Allah namun dengan dua natur.  Untuk study lebih lanjut dapat dilihat dalam Bavinck, Reformed Dogmatic, 256-258.

[13]  Perhatikan kembali bahwa konsepnya tentang Allah sebagai yang tabu, yang hadir dalam realita yang menakutkan saat perjumpaan di gunung Sinai, hingga umat harus berdiri jauh-jauh dan mentahirkan diri, juga realita Uza yang terbunuh oleh panasnya murka Allah saat menyentuh tabut perjanjian, serta ungkapannya yang fenomenal bahwa dalam penderitaan-nya, Yesus an sich sedang menantang Allah yang bertegangan tinggi ini dan akhirnya Ia pun tersengat olehnya, Song,  Allah yang Turut Menderita, 156.  Merupakan penyebab dibutuhkannya konsep transpositional messianic dari Allah.

[14] Stephen Tong dalam ulasannya mengenai tujuh syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam diri juruselamat beberapa diantaranya adalah Ia haruslah pengganti yang tunggal, penakluk maut maut yang tunggal, dan pemuas keadilan yang tunggal.  Tuntutan tersebut terpenuhi karena di dalam ketidak berdosaan-Nya, Yesus telah die in sin, die for sin dan die to sin.  Study lebih lanjut dapat dilakukan dalam bukunya, Stephen Tong, Yesus Kristus Juruselamat Dunia (Surabaya, Momentum, 2004), 115-125.  Secara tepat penebusan dijelaskan oleh Berkhof sebagai Allah yang diperdamaikan mengadili orang berdosa yang menerima pendamaian, dan dengan demikian bekerja dalam hatinya oleh Roh Kudus, dan bahwa orang berdosa juga menyingkirkan keterasingan yang jahat dari Allah, dan kemudian memasuki buah penebusan yang sempurna dari Kristus.  Dalam mendukung penjelasannya, Berkhof secara khusus melakukan study terhadap beberapa kata penting berkenaan dengan konsep penebusan, misalnya kata kipper, katalaso, dan lutron.  Louis Berkhof, Teologi Sistematika, vol. 3: Doktrin Kristus, pen., Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996), 162-166.

[15]  Donald G. Bloesch mengutip beberapa pengertian penting yang sangat menolong misalnya saja Luther yang berkata: “Christ make us so secure in relationship to God and gives peace to our conscience that God is no longer against us, or we ourselves.  This is a far greater act than making [the powers] harmless for us; for guilt and sin are far greater than pain and death”. Donald G. Bloesch, Jesus Christ: Savior and Lord  (Downers Grove, Illinois: Inter Varsity Press, 2006), 146n7.  G.C Berkouwer yang juga menambahkan: “the purpose of the incarnation was not the deification of man but this propitiatory restoration into the service of God”.  Ibid, 146-147n8.  Secara spesifik Barth menjelaskannya sebagai: “the Incarnation, tha taking of the forma servi, means not only God’s becoming a creature, becoming a man .. but it means His giving Himself up to the contradiction of man against Him, His placing Himself under the judgment under which man has fallen in this contradiction, under the curse of death which rest upon Him”.  Ibid, 147n9.

Bab  IV

Korelasi antara The Suffering of Messiah with the Pain of Christianity

Konsep transposisi messianic yang diusung oleh Choan-Seng Song merupakan realita yang tak terhindari dalam konteks keputusasaan melihat penderitaan yang dialami oleh umat manusia, terutama dalam konteks Asia.  Penderitaan atau dukha menjadi bagian yang tak terhindari, demikian pendapat Choan-Seng Song dan juga Eka Dharmaputera serta banyak teolog yang concern dengan konteks Asia.  Sekarang ini yang coba dikembangkan adalah Locus Theology atau model berteologi dalam konteks; Sebagai upaya mengerti iman Kristen dalam istilah-istilah (term-term) untuk konteks khusus.[1]  Dalam semangat itulah konsep transposisi messianic berkembang secara pesat.  Bertentangan dengan itu, berkembang teologi kemakmuran di sebagian gereja-gereja neo-pentakosta (lebih dikenal dengan istilah karismatik) di Indonesia.  Seolah-olah kemiskinan, kebangkrutan, kegagalan, penderitaan, sakit-penyakit, dll; semata-mata terjadi karena kegagalan dari orang percaya untuk mengikut Yesus.  Sedangkan mereka yang menjadi sukses, kaya, tidak sakit, tidak menderita adalah kelompok “penurut” Kristus.

Dengan demikian pertentangan antara Hui Tzu dan Chuang Tzu seperti yang digambarkan oleh Choan-Seng Song, merupakan pertentangan hingga masa kini, antara kelompok ‘penganut’ inkarnation  dan transposition, yang orthodoks dan yang modern, yang reformed dan yang liberal.  Pertentangan yang terjadi di dalam titik singgung pembalik yang bernama mesias, seperti yang dapat digambarkan berikut ini:

Incarnation                  M                     Transposition

E

S

I

A

Persekutuan dengan Allah           S                      Allah hadir dalam konteks

Dimana konsep Mesias yang berinkarnasi menitik beratkan pada persekutuan dengan Allah, sedangkan konsep Mesias yang bertransposisi lebih menekankan pada perjumpaan dengan Allah dalam konteks manusia, sedangkan garis penyinggungnya adalah realita penderitaan yang dialami umat.

Baik konsep inkarnasi maupun transposition, keduanya secara langsung bersentuhan dengan penderitaan umat dalam realita Mesias yang menderita.  Mesias yang menderita merupakan penyatuan, penggenapan sekaligus penyempurnaan dari simbol-simbol kurban , seperti yang dinyatakan oleh Turrrettin:

That the propitiatory sacrifices did not all prefigure the sacrifice of christ; but the annual sacrifice only, which was offered upon the great day of expiation, and which contained no satisfaction; as a satisfaction could flow neither from the victims offered up nor from the person of the chief priest … An expiation is nothing else than an entire deliverance from the dominion of sin, which deliverance cannot be in the way of merit attributed to the death of christ, but only in the way of example and declaratively … Sacrifices were offered up only for smaller offences, such as were committed throught ignorance or error; while for more aggravated, wilful transgressions, there were no sacrifices instituted; but that christ died for all sins without distinction.[2]

Sekaligus memberikan jawaban atas kegelisahan umat oleh karena realita kehadiran Allah yang tidak terhindari oleh manusia dan kedua, dosa sebagai realitas yang tak terhindarkan.  Memang penderitaan bukan selalu ada dalam kaitan dengan dosa atau sebagai metaphysical problem,[3] namun terkadang penderitaan terjadi as part of the socio-economic network.[4]  Walaupun memang ada juga orang percaya yang secara sengaja membawa dirinya ke dalam realita penderitaan sebagai alih-alih mengalami penderitaan Kristus.

Berkenaan dengan konsep inkarnasi atau transposisi, maka terdapat perbedaan yang jelas antar keduanya.  Transposisi merupakan cara Allah menjembatani diri agar penderitaan merupakan realita yang terpahami; sedangkan inkarnasi adalah Allah yang berkenosis dalam humility agar mengalami penderitaan yang melalui ketaatan Ia dipulihkan ke dalam glorification.

Perbedaan tersebut sekaligus memberikan petunjuk sekaligus jawaban, bahwa Allah sebenarnya bergerak dalam diri-Nya yang berinkarnasi oleh karena fokus utamanya adalah agar umat dapat mempermuliakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, yang walaupun untuk sementara waktu mengalami realita penderitaan dalam humility, namun sesungguhnya Ia sedang bergerak pada arah glorification.[5]

Melalui penderitaan umat sebenarnya sedang ada dalam tahapan perendahan oleh karena dosa tidak lah yang telah menyebabkan Allah menjadi jauh dari umat, namun perjumpaan dengan Kristus – Sang Mesias – yang telah menderita telah menjadi tebusan agar umat menjadi ciptaan baru di dalam-Nya dan mengalami hidup yang berkemenangan oleh karena pemuliaan yang sedang dikerjakan oleh Allah dalam dirinya.


[1] Josef Manuel Saruan, “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater, peny. um., A.A Yewangoe dan lainnya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 30.  Dalam karyanya ini, banyak membahas perkembangan teologi.  Seharusnya bentuk/model berteologi sudah harus menjadi pemikiran kita untuk lebih memasyarakatkan teologi Injili.  Dengan perkataan lain kita perlu melakukan model pendekatan baru kepada umat dalam membahasakan teologi dalam tataran yang “dimengerti” oleh umat.

[2]  Francis Turrettin, The Atonement of Christ, pen., James R. Willson (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1978), 46-49.

[3]  Dorothee Soelle, Suffering, pen., Everett R. Kalin (Philadelphia: Fortress Press,1984), 5.

[4]  Ibid.

[5]  Bandingkan dengan Filipi 2:6-10.  Dengan cerdas Douglas John Hall menjelaskannya sebagai God suffers because God would be with us, and suffering is our condition.  Study lebih lanjut lihat dalam Douglas John Hall , God and Human Suffering: An Exercise in the Theology of the Cross (Minneapolis, USA: Augsburg Publishing House, 1986), 107-119.

Bab  V

Kesimpulan

Iman kepada Allah yang berinkarnasi merupakan jawaban atas pergumulan manusia.  Menempatkan iman kepada pribadi kedua Allah yang berinkarnasi merupakan sauh yang kuat, oleh karena melalui inkarnasi sesungguhnya Allah telah menjadi sama seperti manusia kecuali dalam dosa, mengambil rupa hamba yang dalam ketaatan terus memikul salib-Nya dan menjadi tebusan bagi umat-Nya.  Iman kepada-Nya menjadi efektif oleh karena umat meresponi dalam persekutuan Allah yang berinkarnasi (Inkarnal: di dalam daging, menjadi daging, memikul dalam diri-Nya itu segala keterbatasan manusia), yang tidak terbatas pada realita Allah yang datang mencoba memahami apa yang dialami manusia, hingga Ia dalam diri Yesus harus mengalami trans dan merasakan apa yang telah dialami oleh manusia.  Sulit memikirkan kebenaran dari Allah yang menyatakan diri-Nya dalam keadaan trans.

Iman yang efektif adalah iman yang tak terpahami oleh karena ia terus bergumul dalam pencarian, pengenalan dan persekutuan dengan Allah.  Yesus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan tetap merupakan misteri yang ditemukan dalam perjumpaan dengan Allah (encountering with God) dalam momentum prima yang dianugerahkan Allah kepada umat-Nya.  Seperti Paulus yang terus menerus berusaha agar ia bisa mengenal Allah dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, sehingga keserupaan dengan-Nya merupakan suatu keniscayaan.  Walaupun memang Allah yang berinkarnasi itu adalah deus revelatus yang sekaligus deus absconditus.

Iman kepada Yesus tidak dapat digantikan oleh gambaran apapun yang diberikan oleh budaya, karena terbukti bahkan simbol-simbol ritual kurban dalam Perjanjian Lama tidak sanggup menggantikan darah anak domba yang tercurah atas Golgota.  Sebab hanya melalui iman kepada Yesuslah Kristologi bukan saja menjadi objek empiris, namun bagian dari experience; Kristologi yang bukan saja dogmatis namun praxis; kristologi yang inkarnal dan bukan transposition; Kristologi yang tidak hanya berhenti pada hadir dan mengalami penderitaan umat, namun Kristologi yang secara serius mengerjakan bagi umat jalan keluar yang essensial atas penderitaannya; Kristologi yang kehadirannya memberi makna bukan hanya tampil dengan wajah yang sangat teduh namun dengan sorot mata yang tajam kepadanya, dengan mata yang besar namun indah meskipun hidungnya pesek (seperti yang diusahakan dalam perspektif kontekstualisasi), namun Kristologi yang menjadi daging.

 

 

Bibliography

Bavinck, Herman.  Reformed Dogmatic, vol. 3: Sin and Salvation in Christ.  Diterjemahkan oleh John Vriend.  Diedit oleh John Bolt.  Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2003.

Berkhof, Louis.  Teologi Sistematika, vol. 3: Doktrin Kristus.  Diterjemahkan oleh Yudha Thianto.  Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1996.

Bloesch, Donald G. Jesus Christ: Savior and Lord.  Downers Grove, Illinois: Inter Varsity Press, 2006.

Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah.  Diterjemahkan oleh Stephen Suleeman.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Eckardt, A. Roy.  Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masa Kini.  Diterjemahkan oleh Ioanes Rahmat.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Hall, Douglas John.  God and Human Suffering: An Exercise in the Theology of the Cross.  Minneapolis, USA: Augsburg Publishing House, 1986.

http://www.facebook.com/home.php#!/notes/ioanes-rakhmat/relasi-otak-manusia-dan-perilaku-keagamaan.

http://www.liaeden.info.

Calvin, John.  Institutes of the Christian Religion.  Disunting oleh John T. McNeill.  Diterjemahkan oleh Ford Lewis Battles.  Philadelphia: Westminster Press, 1960.

Saruan, Josef Manuel.  “Model-model Teologi: Kontekstual – Fungsional – Imperaatif” dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia: Buku Penghormatan 70 Tahun Prof. Dr. Sularso Sopater.  Disunting oleh A.A Yewangoe dan lainnya.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Soelle, Dorothee.  Suffering.  Diterjemahkan olehEverett R. Kalin.  Philadelphia: Fortress Press,1984.

Song, Choan-Seng.  Allah yang Turut Menderita.  Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997.

Susabda, Yakub B.  Pengantar ke dalam Teologi Reformed: Sebuah Penolong untuk Memahami Kedalaman, Keunikan dan Perkembangan Teologi Reformed dari masa John Calvin sampai Akhir Abad XX .  Surabaya: Momentum, 2001.

Tong, Stephen.  Yesus Kristus Juruselamat Dunia.  Surabaya: Momentum, 2004.

Turrettin, Francis.  The Atonement of Christ.  Diterjemahkan oleh James R. Willson.  Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1978.

Wessels, Anton.  Memandang Yesus: Gambar Yesus dalam berbagai Budaya.  Diterjemahkan oleh Evie J. Item.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

:foo�(�>[�

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.