Just another WordPress.com site

Teori Mengajar

Deskripsi

Dunia Pendidikan terus menerus mereformasi dirinya.  Kurikulum, system, pendekatan, metode, evaluasi, situasi lingkungan belajar serta setiap aspek yang terkait dengan dunia mengajar terus menerus berubah.  Dari pola otoriter, menuju democratic yang tidak jarang kebablasan.  Pendekatan yang terfokus pada system menuju pendekatan yang humanistic.  Tidak jarang seorang pengajar mengalami depresi dengan pekerjaannya, sehingga melakukan pembiaran dan pengabaian tujuan dilaksanakannya pendidikan.  Bagaimana pendidik seharusnya bersikap?

 

TIU     :

Mahasiswa mampu menerapkan prinsip mengajar dalam khazanah Pendidikan Kristen, baik secara filosofis, teologis dan praktis.

 

TIK     :

  1. Mahasiswa memahami prinsip filosofical mengajar dalam konteks pendidikan Kristiani.
  2. Mahasiswa mampu menjabarkan prinsip-prinsip teologis dalam konteks pendidikan Kristiani.
  3. Mahasiswa mampu mempraktekkan prinsip-prinsip mengajar sederhana pertemuan kecil di keluarga, gereja maupun lembaga pendidikan lainnya.

 

Penilaian:

  1. Hadir secara aktif dan continue selama proses perkuliahan                   10 %
  2. Simulasi mengajar                                                                                                     45 %
  3. Kuis                                                                                                                                 15 %
  4. Ujian tengah semester                                                                                            30 %

 

Buku Pegangan:

Boehlke, Robert R., Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius hingga Perkembangan PAK di Indonesia.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Ismail, Andar, peny.,  Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen.  Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1999.

Ismail, Andar., Selamat Menabur: 33 Renungan tentang Didik – Mendidik.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

O’Neil, William F., Ideologi-ideologi Pendidikan.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Riemer, G.,  Ajarlah Mereka: Pedoman Ilmu Katekese.  Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, t.t.

Sidjabat, B. Samuel., Strategi Pendidikan Kristen: Suatu Tinjauan Teologis – Filosofis.  Yogyakarta:  Yayasan Andi, 2000.

Knowles, Malcom S., The Modern Prcatice of Adult Education: From Pedagogy to Andragogy. N.Y.: Cambridge, The Adult Education Company, 1980.

 

Filosofi:
Secara umum mengajar dibedakan dalam dua kelompok yaitu pedagogi dan andragogi. Pada tahun 1970 Knowles membedakan cara mengajar kepada anak yang disebut pedagogi dengan cara mengajar kepada orang dewasa yang dinamakan andragogi. Knowles berkeyakinan bahwa cara orang dewasa belajar sangat berbeda dengan cara anak belajar. Menurut Knowles, pedagogi berasal dari istilah Yunani paid (anak) dan agogus (membimbing); sementara andragogi dari istilah Yunani aner, andr (orang dewasa) dan agogus( pembimbing). Dalam pemahaman Knowles, untuk membina peserta didik dewasa cara mengajar untuk anak tidak berlaku lagi, atau haruslah ditinggalkan.
Walaupun kemudian, di tahun 1980 Knowles mengubah pemahamannya bahwa pedagogi dan andragogi tidak harus dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam pendidikan orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa menurut Knowles bahkan dapat bertolak dari pedagogi kepada andragogi. Tentang cara belajar orang dewasa, Knowles memiliki asumsi sebagai berikut:
1. Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.
2. Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.
3. Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya.
4. Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.
5. Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.

ASUMSI DASAR
Tentang Pedagogis Andragogis
Konsep diri peserta didik Pribadi yang bergantung kepada gurunya Semakin mengarahkan diri (self-directing)
Pengalaman peserta didik Masih harus dibentuk daripada digunakan sebagai sumber belajar Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain
Kesiapan belajar peserta didik Seragam (uniform) sesuai tingkat usia dan kurikulum Berkembang dari tugas hidup & masalah
Oriensi dalam Belajar Orientasi bahan ajar (subject-centered) Orientasi tugas dan masalah (task or problem centered)
Motivasi Belajar Dengan pujian, hadiah, dan hukuman Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)

Knowles juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.

UNSUR-UNSUR PROSES
Suasana Tegang, rendah dalam mempercayai, formal, dingin, kaku, lambat, orientasi otoritas guru, kompetitif dan sarat penilaian. Santai, mempercayai, saling menghargai, informal, hangat, kerjasama, mendukung.
Perencanaan Utamanya oleh guru Kerjasama peserta didik dengan fasilitator
Diagnosa kebutuhan Utamanya oleh guru Bersama-sama: pengajar dan peserta didik.
Penetapan tujuan Utamanya oleh guru Dengan kerjasama dan perundingan
Desain rencana belajar Rencana bahan ajar oleh guru, Penuntun belajar dibuat guru, Sekuens logis pembelajaran oleh guru. Perjanjian belajar, Proyek belajar, Urutan belajar atas dasar kesiapan

Kegiatan belajar Tehnik penyajian, Tugas bacaan Proyek untuk penelitian, Projek untuk dipelajari, Tehnik pengalaman.
Evaluasi belajar Oleh guru, berpedoman pada norma pemberian angka Oleh peserta didik berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasiltator, ahli; Referensinya berdasarkan criteria
Berikut dua belas prinsip penting di dalam mengelola kegiatan belajar bersama:
1. Agar pengajar melakukan analisis kebutuhan (need assesment) peserta didik sebagai langkah awal untuk berdialog dengan mereka. Pengajar dapat memilih sejumlah wakil dari kelompok besar untuk memberikan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, selain memberikan questionnaire kepada semua anggota.
2. Agar pengajar menciptakan suasana nyaman (safety) ketika berinteraksi dengan peserta didik; dengan jalan tetap hargai pendapat mereka dan melakukan koreksi; juga mendengarkan isi hati mereka, kebingungan, kegelisahan dan sejenisnya. Istilah safety lebih terkait kepada aspek psikologis.
3. Agar pengajar terus membina hubungan akrab dengan peserta didik di dalam ruangan atau di luarnya dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya mereka. Hubungan yang bersahabat antara pengajar dengan peserta didik harus mendapat tempat utama dalam kegiatan pembelajaran. Pengajar harus sadar bahwa ia tidak saja mengajarkan sesuatu kepada peserta didiknya, tetapi ia melakukan tugas pembelajaran diantara dan bersama mereka.
4. Agar pengajar membawa peserta didik bertolak dari hal-hal sederhana kepada yang lebih kompleks; tingkatan pembelajaran harus jelas dari yang paling mudah kepada yang lebih bahkan sangat sukar. Ketika berhasil menguasai sebuah langkah ataupun konsep, pengajar patut menyatakan penghargaan bagi peserta didiknya, untuk menyiapkan atau tepatnya memotivasi mereka ke tugas berikutnya.
5. Agar pengajar benyak melakukan aktivitas refleksi atas tindakan, atas kasus, atas simulasi sosial, atau atas tayangan yang disaksikan. Dapat mengajukan empat pertanyaan untuk dipertimbangkan:
a. Apa yang Anda lihat terjadi (deskripsi)?
b. Mengapa hal itu terjadi (analisis)?
c. Jika hal itu terjadi dalam situasi Anda, apa penyebabnya (aplikasi)?
d. Apa yang dapat kita lakukan terhadap hal itu (implementasi)?
6. Agar pengajar memandang peserta didik sebagai subjek dalam kegiatan belajar. Mereka bukan sebagai objek kosong yang harus dipenuhi informasi. Jika mereka diperlakukan sebagai subjek, maka pandangan, perasaan, sikap, opini mengenai bagaimana cara belajarnya yang tepat untuk mencapai hasil harus didengarkan dan difasilitasi. Peran pengajar bersama orang dewasa lebih berupa fasilitator pembelajaran.
7. Agar pengajar senantiasa melibatkan dan menyentuh pikiran, perasaan dan sikap serta perbuatan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak datang ke dalam perjumpaan bersama guru dengan membawa tubuh dan pikiran belaka, tetapi juga menghadirkan perasaan dan sikap.
8. Agar apa yang dipelajari oleh peserta didik harus memiliki manfaat, relevan dengan hidup atau tugas sehari-hari. Walaupun yang dipelajari peserta didik hal-hal bersifat abstrak dan konseptual, namun pengajar dapat mengkaitkannya dengan situasi praktis atau dengan tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Kalau orang dewasa melihat apa yang tengah dipelajari membawa manfaat, motivasi mereka berkembang.
9. Agar pengajar mengembangkan dialog dalam pembelajaran, jika tidak demikian maka peran guru sebagai pengajar segera lenyap. Dialog menghendaki relasi kesahabatan juga kesediaan pengajar untuk menjadi satu level dengan peserta didiknya memperbincangkan masalah yang mereka hadapi.
10. Agar pengajar membangun kerjasama diantara peserta didik dalam kelompok kecil (team work). Peran guru memfasilitasi dan memotivasi agar kelompok bekerja dengan optimal. Cara ini cocok dengan pola hidup orang di Indonesia, lebih termotivasi belajar bersama rekan-rekan yang mengenal, memahami, menerima, membangunnya.
11. Keterlibatan (engagement) pengajar dalam kegiatan belajar bersama peserta didik membangun semangat belajar mereka. Belajar sebagai sebuah tindakan aktif dan keterlibatan. Kalau pengajar menugaskan sebuah kasus kepada kelompok kecil, ia juga harus terlibat bersama salah satu kelompok itu.
12. Prinsip akuntabilitas merupakan kunci sukses belajar dan mengajar. Design pembelajaran seperti silabus harus terbuka kepada peserta didik, dapat distruktur ulang untuk mencapai tujuan. Apa yang disepakati untuk dilakukan mestilah dilaksanakan. Kegagalan maupun keberhasilan belajar dinyatakan secara terus terang namun bijaksana.

Dalam konteks pendidikan teologi, banyak mahasiswa yang belajar sudah mempunyai pengalaman melayani di dalam atau bersama dengan gereja. Seharusnyalah pengalaman mereka itu dapat dijadikan sumber dan sarana di dalam kegiatan belajar, sehingga apa yang dipelajari menjadi menyenangkan dan bermakna. Memperlakukan mereka ibarat “botol kosong” yang harus diisi dengan informasi yang diketahui oleh pengajar, belum tentu relevan dengan kebutuhan individual dan kebutuhan pendidikan mereka. Mungkin mereka conformed saja kepada nilai-nilai dan pengetahuan pengajarnya supaya lulus dan memperoleh gelar, tetapi tidak mengalami transformasi.

Memang, cukup banyak peserta didik yang “masih hijau” dengan disiplin ilmu teologi. Karena itu, pendekatan pedagogi tetap berguna dalam membimbing mereka hingga mampu mengembangkan diri untuk mendalami studi yang ditempuhnya. Keterampilan pengajar di dalam memotivasi peserta didik, dalam menjelaskan, menyingkapkan, menelusuri buku sumber bersama-sama, semuanya dibutuhkan. Pemahaman dan keterampilan dasar mestilah dikuasai olejh peserta didik. Akan tetapi, pendidik teologi harus selalu ingat bahwa tugas mereka yang utama ialah membuka jalan supaya peserta didik aktif di dalam kegiatan belajarnya.
Pendidikan dalam konteks sekolah tinggi teologi, sudah seharusnya bertolak dari mengajar kepada belajar (from teaching to learning). Mungkin sekali pengajar merasa sudah mengajar dengan segala usaha, namun melihat peserta didiknya tetap “bodoh” dalam arti tidak mampu mengikuti gaya berpikir sang pengajar karena tidak mampu menjawab kuis atau pertanyaan kognitif yang diajukan. Pengajar demikian merasa sudah mengajar dari pihaknya, tetapi belum memfasilitasi terjadinya kegiatan belajar dalam diri peserta didik. Mungkin saja ketika guru mengajar, mereka merasa tidak nyaman, dan berusaha sekuat tenaga menjadi tertib supaya tidak dicap pemberontak atau pembangkang. Padahal, mereka belum belajar, sebab gaya belajar dan pengalaman serta pemahaman mereka tidak ikut serta di dalam perbuatan atau proses itu. Interaksi dialogis yang tidak bertumbuh dan berkembang membuat kegiatan mengajar kurang kreatif dan konstruktif. Mengajar haruslah dimaknai sebagai perbuatan dan memotivasi membantu, memfasilitasi peserta didik untuk belajar. Dialog dan diskusi mewarnai aktivitas belajar yang penuh makna dan menyenangkan.
Jika menyimak keterangan kitab Injil, Tuhan Yesus mengajar dan melatih para murid-Nya dengan pendekatan andragogi sebagaimana dikemukakan di atas. Pengalaman mereka dijadikan sarana dan bahan pembelajaran. Seringkali ajaran Yesus bertolak dari pertanyaan, masalah yang diajukan dan dialami para murid. Khotbah di Bukit misalnya, diucapkan Tuhan Yesus setelah menyimak, melihat orang banyak yang datang kepada-Nya. Tuhan Yesus mendengarkan mereka, kemudian menjawab apa yang diungkapkan. Lebih dari itu Dia mengetahui isi hati mereka. Tuhan Yesus juga menekankan kebersamaan dengan murid-murid-Nya. Kehadiran-Nya dalam rumah, dalam ruang, dalam tugas, juga dalam persoalan yang dihadapi para murid, membawa perubahan besar. Yesus Guru Agung berkuasa di dalam mengajar tetapi tidak menjadi otoriter (bd. Mat 7:27-28). Prinsip inkarnasi selalu tampak di dalam melaksanakan tugas-Nya, Dia “mengosongkan diri” dan “menjadi serupa” dengan mereka yang dibina-Nya.
Mengajar adalah proses komunikasi dan interaksi. Mengkomunikasikan dan berinteraksi dengan ‘kebenaran’. Kebenaran barulah berupa Kebenaran apabila sudah dikomunikasikan kepada orang lain dan mereka ‘bersedia’ berinteraksi dengannya. Dengan demikian hasil adalah terbentuknya pribadi atau komunitas yang telah ‘dirasuk’ oleh ‘roh kebenaran’
Mengajar adalah memberi stimulus. Stimulus diberikan agar mereka yang di ajar memahami pinsip belajar:
1. Learning to know
2. Learning to be
3. Learning to do
4. Learning how to live together
Mengajar adalah ‘mempengaruhi perspektif’. Masing-masing manusia memiliki perspektif (nilai, pendapat dan ide) tertentu. Apabila ia terbuka dengan perubahan dan menerima kebenaran baru, maka kebenaran tersebut akan dengan mudah mengubah perspektifnya.
Mengajar adalah seni. Seni mentransfer; menguasai/mengendalikan; mengarahkan; dan memberi contoh. Mentransfer ilmu; mengendalikan ratio, emotion dan afektio; mengarahkan pada ‘kebenaran’ dan memberi contoh sebagai aplikasi hidup.
Sering pula digunakan istilah didaktik untuk konteks bahasan ini. Didaktik adalah ilmu tentang masalah mengajar dan belajar secara efektif; ilmu mendidik. Secara ilmiah didaktik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang meneliti organisasi proses-proses mengajar dan belajar, sedemikian rupa, sehingga mereka yang belajar mampu mengolah pengetahuan atau keterampilan baru melalui bahan ajar tertentu, sampai tujuan ajar tercapai.

 

Teologi

Kegiatan belajar-mengajar merupakan dasar bangunan yang Allah sudah nyatakan sejak dalam Perjanjian Lama melalui bangsa Israel. Beberapa istilah yang dipakai dalam Perjanjian Lama adalah: lamath, be-en, alaph, yada, yara, zahar, hakam, sakal dan ra-ah. Beberapa istilah yang dipakai dalam rancang bangun belajar – mengajar dalam Perjanjian Baru yaitu noutheteo, oikodomeo, ektithemi, diermeneuo, dianoigo, katekhein, didaskein, ginooskein, manthanein, paideuein. Masing-masing istilah memiliki keunikan masing-masing dalam memberikan penjelasan perihal pentingnya pengajaran dalam ruang lingkup, keluarga, sekolah, gereja maupun masyarakat.

Lamath, merupakan istilah yang paling umum bagi kegiatan belajar mengajar. Pengertian literal dari istilah ini adalah memukul dengan tongkat, memberikan dorongan bagi peniruan atau perbuatan. Dalam konteks belajar, istilah ini membawa pengertian mengenai menjadi terbiasa dengan pengalaman baru. Focus utamanya adalah mendisiplin, mendorong, membimbing, dan melatih orang untuk takut kepada Tuhan, sebab pemahaman menganai hukum taurat Tuhan adalah sentral kehidupan. Istilah lamath dalam Alkitab:

Katekhein, dari ungkapan inilah berasal istilah katekese, kateketik, dan katekisasi. Makna utama adalah memberi tekanan pada otoritas dalam hal pendidikan, karena katekhein berarti mengajar dari atas ke bawah. Pengajar adalah pihak yang berwenang sedangkan pelajar adalah pihak yang takluk. Kata ini juga memiliki unsur aksi – reaksi; aksi dari pengahar dan reaksi dari yang belajar. Jadi walaupun mengandung makna otoritatif, juga tidak dilupakan aspek dialogis.
Istilah katekhein dalam Alkitab:
Kis. 21:21-24 Istilah katekhein bermakna membawa kabar. Ada orang yang
memberitahu bahwa Paulus mengajar orang Yahudi untuk melepaskan
hukum Musa.
Kis. 18:25 Apolos telah menerima pengajaran tentang jalan Tuhan. Apolos fasih
berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal kitab suci. Ketika ia datang ke Efesus, ada orang yang memberi tahu (katekhemenos) jalan Tuhan kepadanya.
Luk. 1:4 “…supaya engkau (yaitu Teofilus) dapat mengetahui, bahwa segala
sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” Jadi Teofilus sudah sering mendengar berita mengenai Kristus sehingga ia tahu satu dua hal mengenai Dia.
Rm. 2:18 “…dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar
(katekhoumenos) dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak.”
1 Kor. 14:19 “Dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang
dapat dimengerti untuk mengajar (katekhesoo) orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”
Gal. 6:6 “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran (ho katekhoumenos)
dalam Firman, berbagi segala sesuatu yang baik dengan orang yang memberikan pengajaran (ho katekhountos) itu.”
Kesimpulan:
1. Biasanya kata ini mengandung makna yang agak umum atau netral, yaitu menceritakan, memberitahukan, membawa kabar dan mengajar.
2. Hanya dalam Galatia 6:6 dan 1 Korintus 14:19 istilah ini mengandung makna yang lebih spesifik mengacu kepada tugas khusus dalam jemaat mula-mula. Makna khusus inilah yang lazim dipakai dalam sejarah gereja seterusnya.

Didaskein, ungkapan ini menekankan segi otoritas (wewenang pengajar kepada yang diajar) dan intelektualitas (penekanan kepada akal budi manusia) dalam aktivitas mengajar, dan selalu mengacu kepada praktek mengajar (cara mendidik, metodik).
Istilah Didaskein dalam Alkitab:
Ul. 4:1 “Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan
yang kuajarkan (didaskein) kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu.”
Mzm. 119:33 “Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk ketetapan-ketetapan-
Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir”, bandingkan dengan 1 Samuel 12:23; Mzm. 25:4, 8; 27:11; Ams. 4:11.
Mat. 4:23 “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea , Ia mengajar (didaskoon)
dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka”, bandingkan dengan Matius 9:35; 11:1.
Mat. 26:55 “…padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar (didaskoon) di Bait
Allah …”. Cara mengajar ini sesuai dengan cara mengajar rabi Yahudi yang lazim pada waktu itu. Titik berat pengajaran bukan hanya sekedar menafsirkan kitab-kitab suci (hukum Taurat) tapi juga pemberian contoh-contih penerapan dan ajakan untuk hidup sesuai dengan firman itu.
Mat. 7:28 “Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu
mendengar pengajaran (didakhe)-Nya, sebab Ia mengajar (didaskoon) mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Mat. 28:19 “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka (didaskontes autous) melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Mrk. 6:30 “Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan
memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
Kis. 2:42 “Mereka bertekun dalam pengajaran (didakhe) rasul-rasul dan dalam
persekutuan.”
Yoh. 3:2 Kata Nikodemus, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru
yang diutus Allah.” Yesus disebut guru (didaskalos). Ia bahkan lebih berwibawa daripada Musa (Yoh. 5:45).
Ef. 4:11 “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul, maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar (didaskalos).”
Kesimpulan:
1. Ajaran harus terarah kepada umat manusia sebagai pribadi yang utuh, bukan hanya kepada akal, tetapi juga kepada hati dan emosi.
2. Ajaran harus praktis sehingga manusia mampu menikmati kebaikan Allah dalam kehidupan dan berjalan pada jalan keselamatan setiap saat.
3. Yesus dan rasul-rasul menjadikan ajaran sebagai hal yang penting.
4. Ajaran merupakan salah satu cara yang dipakai Allah untuk mengantar manusia menuju keselamatan.

Ginooskein, ungkapan ini berarti mengetahui atau mengenal sesuatu karena sudah menikmatinya atau melihatnya. Pengetahuan adalah hasil pertimbangan dan pemikiran akal budi manusia. Istilah ini mendapat arti yang lebih khusus lagi dari filsafat Yunani yang berpengaruh pada masa Perjanjian Baru, yakni pengetahuan yang sangat dalam, gnosis. Pengetahuan ini menuntun manusia menyelami misteri-misteri kehidupan beragama.

Istilah Ginooskein dalam Alkitab:
Ginooskein dalam Perjanjian Lama berarti mengetahui atau mengenal sesuatu karena telah bertemu atau mengalaminya. Jadi artinya hampir sama dengan mengaku. Ungkapan ini juga memberikan penekanan pada hubungan satu orang dengan yang lainnya. Sehingga istilah ini juga berarti mempedulikan, memelihara karena sudah mengenal, sudah mengetahui, dan sudah mengasihi.
Yeremia 31:34:
“Tak perlu lagi seorang pun dari mereka mengajar sesamanya untuk mengenal TUHAN. Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Kesalahan-kesalahan mereka akan Kulupakan, dosa-dosa mereka akan Kuampuni. Aku, TUHAN, telah berbicara.”

Dalam Perjanjian Baru, kata Ginooskein juga berarti mengenal Allah. Artinya, mengetahui kehendak-Nya yang wajib dilaksanakan. Pengenalan ini dimungkinkan dalam berkat pergaulan dengan Allah; juga sekaligus pengenalan yang membawa pada keintiman dengan-Nya. Sehingga muncul kesadaran bahwa Ia senantiasa dekat untuk menjaga, menolong dan menasehati.
Ibrani 3:10-11:
Itulah sebabnya Aku murka terhadap mereka dan Aku berkata, ‘Mereka selalu tidak setia, dan enggan mentaati perintah-perintah-Ku. Aku marah dan bersumpah, “’Mereka tak akan masuk ke negeri itu untuk mendapat istirahat bersama Aku”.
Pergaulan yang diungkapkan dalam istilah mengenal Allah adalah intisari perjanjian Allah dengan manusia. Perjanjian yang mengandung dua inti pokok, yakni janji dan tuntutan. Pergaulan antara dua orang juga mengandung janji dan tuntutan. Relasi itu mengikat kedua pihak yang bergaul itu.

Manthanein, dalam Septuaginta dipakai untuk menggambarkan sikap manusia dalam upayanya mengetahui dan melakukan kehendak Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, istilah ini jarang dipakai bila dibandingkan dengan kata didaskein. Tetapi artinya tetap sama seperti dalam Perjanjian Lama, yakni murid senang menjadi pengikut guru.
Efesus 4:20-24:
“Tetapi Kristus Yesus yang kalian kenal bukan demikian! Kalian sudah mendengar tentang Dia! Dan sebagai pengikut-pengikut-Nya, kalian sudah diajar juga tentang sifat-sifat Allah yang ada pada-Nya! Sebab itu tanggalkanlah manusia lama dengan pola kehidupan lama yang sedang dirusakkan oleh keinginan-keinginannya yang menyesatkan. Hendaklah hati dan pikiranmu dibaharui seluruhnya. Hendaklah kalian hidup sebagai manusia baru yang diciptakan menurut pola Allah; yaitu dengan tabiat yang benar, lurus dan suci.”
Mengenal Kristus (manthanein) berarti manusia dituntun ke dalam kehidupan baru. Relasi dengan guru menyebabkan perubahan besar.
Murid (mathetes), sepenuhnya menuruti kehendak gurunya. Hal itu dipelajari melalui pergaulan sehari-hari dengan sang guru. Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya secara khusus, kemudian mereka menjadi rasul-rasul-Nya. Tapi bukan mereka saja yang menjadi mathetos; semua orang yang melalui karya Roh Kudus menerima firman Tuhan sebagai kebenaran,juga disebut sebagai murid Yesus Kristus, karena telah belajar mengikut Dia, melayani Dia dan kehendak-Nya. Ia selalu siap melaksanakan tugas yang diperintahkan guru.

Paideuein, istilah ini di Indonesiakan menjadi pedagogi, sebagai ilmu pendidikan atau pengajaran. Seorang pedagog adalah ahli mendidik, sedangkan pedagogis dipakai untuk menyifatkan suatu kelakuan atau tindakan yang baik dan bijak terhadap anak-anak dalam rangka pendidikan. Dalam kebudayaan Yunani, istilah ini dipakai untuk menggambarkan segala sesuatu yang dilakukan dalam upaya mendidik kaum muda agar menjadi warga negara yang baik. Demikianlah hal pedagogis menyangkut negara dan politik juga.
Istilah Paideuein dalam Alkitab:
Perjanjian Lama menggunakan istilah ini dalam pengertian yang berbeda, misalnya dalam Imamat 20:26,
Kamu Kupisahkan dari bangsa-bangsa lain supaya menjadi milik-Ku. Kamu harus suci karena Akulah TUHAN, dan Aku suci.
Dalam nats ini, pendidikan adalah hal pengudusan. Pendidikan disini merupakan pelajaran untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai pemilik umat-Nya. Tujuan Taurat adalah mengajar, menuntun dan menjaga manusia dalam hidupnya sebagai umat Tuhan. Hal yang sama juga ditekankan dalam seluruh kitab Amsal yang menegaskan bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” (Amsal 1:7).
Dalam Perjanjian Baru, Paulus menyebut hukum Taurat sebagai pedagogos menuju Kristus (Gal. 3:24). Hukum itu menjadi penuntun kepada juruselamat Yesus Kristus, karena hukum Taurat selalu memberi peringatan akan dosa-dosa dan kelemahan. Hukum Taurat berfungi sebagai pedagog yang selalu mengajar dan mengantar kita kepada kasih karunia yang terdapat dalam Yesus Kristus.
2 Timotius 3:16-17:
Semua yang tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah. Dengan Alkitab itu orang yang melayani Allah dapat dilengkapi dengan sempurna untuk segala macam pekerjaan yang baik.
Kesimpulan
Dialog merupakan unsur penting dalam metode belajar – mengajar, agar ajaran diterima secara mendalam dan ketepatan pengertiannya selalu terjaga. Ajaran mebuat murid mengenal Allah, mengenal Kristus. Ajaran membuat murid memeluk Juruselamat Yesus Kristus. Ajaran menciptakan hubungan yang erat antara guru dan murid. Ajaran mencari keselamatan dan damai sejahtera untuk murid.

Hasil penyelidikan istilah-istilah:
Katekhein, memberitahukan ajaran dengan wibawa dan dengan cara dialogis.
Didaskein, Mengajar dengan kuasa (otoritas) keterkaitan ajaran dengan praktek: mengajar untuk melakukan, akal budi membentuk emosi dan kepercayaan, tahu sesuatu dan berbuat sesuai dengan itu, belajar mengikuti jalan Tuhan.
Ginooskein, Tekanan ajaran kepada akal budi. Mengetahui sesuatu karena telah melihat, bertemu, terbukti, menikmati, mengenal, merasa dan memeluk secara rohani.
Manthanein, Tekanan kepada sikap manusia yang belajar: menjadi murid, mengikut guru dan taat sepenuhnya kepada guru.
Paideuein, mendidik secara bertanggung jawab agar jangan binasa, agar hidup lebih baik.

Praksis

A. Pendidikan Tanpa Kekerasan
Definisi Kekerasan:
Merujuk pada tindakan agresif, merusak dan pelanggaran yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. Dapat diartikan sebagai suatu “perlakuan dengan cara paksa”
Kekerasan Fisik: Kontak fisik yang diberikan pada seseorang yang menyakiti dan bersifat pengrusakan fisik
Kekerasan Verbal: Kata-kata yang bermakna melecehkan kemampuan, menganggap sebagai sumber kesialan, mengecilkan arti diri, memberikan julukan negatif, dan memberikan kesan bahwa ia tidak diharapkan. Tindakan ini memberikan dampak jangka panjang terhadap perasaan dan dapat mempengaruhi citra diri.
Kekerasan secara verbal disampaikan melalui dua gaya. Pertama, menyerang secara langsung, terbuka dan merendahkan; kedua dengan cara tidak langsung seperti dengan bercanda tetapi sangat menghinakan dan melecehkan.
Dampak Kekerasan:
Citra diri yang negatif menyebabkan tidak tumbuhnya kepercayaan diri yang kuat. Sehingga yang ada tinggalah rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu dan lebih suka menarik diri dari pergaulan. Bentuk yang lebih ekstrim adalah terciptanya citra diri yang negatif sehingga ia menjadi pribadi yang pemberontak, kasar, jorok, lamban, pengacau dan lain sebagainya.

5 Kebiasaan keliru dalam mendidik:
1. Menyuap (vs perhatian dan penghargaan)
2. Mengancam (vs rasa tanggung jawab dan sikap kooperatif)
3. Menghukum (vs belajar dari kesalahan)
4. Membandingkan (vs setiap manusia unik: kelemahan – kelebihan)
5. Memberi label (vs penerimaan tanpa syarat)

4 Bentuk Kekerasan dalam Pendidikan
1. Kekerasan terbuka: dapat dilihat/diamati secara langsung
2. Kekerasan tertutup: ancaman dan intimidasi
3. Kekerasan agresif: kekerasan yang dilakukan untuk mendapat sesuatu
4. Kekerasan defensive: kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan

5 Pemikiran keliru tentang mengajar:
1. Transfer ilmu
Pemindahan ilmu pengetahuan dan informasi, hasilnya adalah daya nalar, kekritisan, kreativitas rendah dan kecerdasan emosi yang rapuh
2. Kompetitif – Egosentris
Hanya yang unggullah yang berhasil, sebab hanya asepk kognitif yang menjadi prioritas dengan mengabaikan aspek afektif
3. Penyeragaman
4. Belajar untuk TES
5. Mencetak generasi

B. Metode Penguasaan Kelas
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. (Yak. 3:1)
Dalam perspektif Yakobus, tanggung jawab guru membimbing merupakan tugas yang teramat berat, sebab tujuan dari semuanya adalah menolong seseorang mencari dan menemukan kebenaran. Dengan demikian, mengajar mesti dilakukan sebagai wujud pelayanan yang responsive – artinya, memberikan kebebasan untuk memahami suatu konsep sesuai dengan kemampuannya dan memberikan respon atas apa yang dimengertinya tersebut. Itu berarti naradidik haruslah percaya terhadap apa yang ia temukan, menghargainya dan memperoleh makna terhadap apa yang dapat mengubah hidupnya.
Iman yang menjadi dasar bagi kehidupan Kristen tidak hanya terdiri dari pengetian belaka, akan tetapi dengan bantuan pengajaran yang diberikan, maka kebenaran yang dimengerti akan dapat diterima dalam keseluruhan aspek hidupnya dan diwujudkan melalui perbuatan. Jelas bahwa pengajaran Kristen haruslah bertolak dari kesaksian persekutuan tentang perbuatan besar yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada manusia. Dari sinilah proses pengajaran dimulai, yang akan terus didorong guna menghasilkan perubahan dalam hidup.
Dalam proses tersebut, pengajar dituntut melakukan pembimbingan dengan harapan naradidik akan memberikan tanggapannya secara aktif atas apa yang sedang ia pelajari. Ketika naradidik memberikan tanggapannya, itulah saat yang penting dalam proses mengajar oleh karena berbagai pertanyaan dan masalah dapat muncul, yang semuanya membutuhkan percakapan. Sebuah percakapan yang saling memperkaya hingga menemukan nilai kebenaran yang sedang digumuli. Dalam proses inilah pembimbingan terjadi.
Hal praktis dari mengajar adalah merancang sebuah rencana belajar yang memungkinkan naradidik secara bertahap tertarik pada pokok bahasan lalu mendorong dirinya untuk memahami dan menemukan korelasi arti yang ia temukan ke dalam hdiupnya sendiri. Hal ini tentu saja hanya dapat tercapai apabila guru menggunakan pendekatan yang tepat dan efektif. Pendekatan tersebut diyakini akan melibatkan naradidik secara aktif dalam proses menemukan makna yang dicari. Disini metode mengajar diperlukan seorang guru untuk menghantarkan pelajaran agar dapat disampaikan melalui sebuah proses belajar – mengajar.
Masalah penting dalam memahami metode adalah bukan semata-mata memilih suatu metode yang menarik dan teknik mengajar yang menarik, akan tetapi penting bagi pengajar untuk terlebih dahulu mengenali kebutuhan naradidik dan kelompoknya: usia, kebiasaan serta dinamika kelompok. Metode dalam mengajar tidak hanya sekedar menghantarkan pokok bahasan dengan baik akan tetapi lebih mengupayakan terciptanya relasi dalam kelompok untuk menjadi dasar dan pengalaman berharga guna membangun keterampilan, perilaku dan mengembangkan kualitas relasi dengan sesamanya dan dengan Tuhan.
Metode haruslah dipilih dan ditentukan oleh guru dan bukan naradidik. Metode yang dipilih pun harusnya memenuhi kriteria:
1. Sesuai dengan kemampuan guru yang mengajar
Seorang guru haruslah cukup mengenal kekuatan dirinya dalam mengajar dan merasa mampu melakukannya. Tidak berarti ia tidak boleh mencoba metode lain yang baru baginya, namun ia harus terus mengembangkan dirinya lebih dari apa yang sudah ia lakukan. Metode ibarat baju yang digunakan, haruslah tepat dengan pemakainya.
2. Sesuai dengan kemampuan naradidik
Baik secara verbal maupun kemampuan psikomotoris. Artinya, guru tidak mengharapkan naradidik melakukan sesuatu yang mereka tidak mampu melakukannya.
3. Sesuai dengan tujuan pelajaran
Tujuan pelajaran tidak hanya menolong naradidik mengerti pokok bahasan, tetapi tujuan yang juga menolong naradidik mendapatkan kesempatan mengekspresikan pengalamannya dan juga mendapat kesempatan untuk mengekspresikan kemampuannya melalui berbagai kegiatan.
4. Sesuai dengan waktu dan kondisi tempat yang tersedia
Oleh karena dalam proses belajar mengajar diharapkan partisipasi dan tanggapan dari naradidik, maka metode yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kondisi tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan. Artinya, sebaiknya tidak memilih satu metode yang membuthkan waktu 2 jam sementara ketersediaan waktu hanyalah 90 menit.
5. Sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan
Setiap pokok bahasan dapat disampaikan dengan menggunakan metode-metode yang berbeda. Ada sejumlah pokok bahasan yang mememang memerlukan diskusi kelompok, sementara yang lain memerlukan metode bercerita atau ceramah.
6. Sesuai dengan jumlah naradidik dalam kelompoknya
Sesuaikan metode yang dipilih dengan banyaknya naradidik dalam kelompok. Misalnya, sulit sekali memakai metode kelompok melingkar dalam ruangan kecil sementara peserta lebih dari 100 orang.
7. Sesuai dengan minat dan pengalaman naradidik
Memakai metode yang bervariasi, agar terjadi keseimbangan antara informasi yang diterima oleh naradidik untuk memahami pokok bahasan dan kesempatan untuk mengambangkan pemahaman tersebut.
8. Sesuai dengan kedekatan relasi naradidik dengan pokok bahasan
Langkah awal dalam memulai belajar pokok bahasan yang baru adalah dengan memakai metode yang dikenal baik oleh naradidik
9. Sesuai dengan kedekatan relasi guru dengan naradidik
Karena guru akan terlibat dalam proses belajar mengajar, maka metode yang dipilih hendaknya mempererat relasi saling percaya di antara keduanya.

Ketika diperhadapkan pada metode juntuk mengajar, ada banyak sekali metode yang menarik. Masing-masing metode memiliki karakteristiknya masing-masing. Sejumlah metode membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaannya, sementara yang lain membutuhkan waktu yang tidak lama. Dengan demikian pekerjaan memilih metode bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan harus dilaksanakan dengan selektif. Berbagai ragam mengejar tersebut bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang tumbuh kembangnya berlangsung secara utuh. Oleh karena itu, sebelum pelbagai metode dibicarakan untuk kemudian dipilih, maka perlu memperhatikan lima ragam metode mengajar. Setiap ragam akan melahirkan metode-metode yang dapat dipilih untuk mengajar. Masing-masing ragam tersebut adalah:
a. Ragam pemrosesan informasi
Manusia membutuhkan berbagai cara dalam mengolah fakta-fakta agar ia dapat menentukan kerangka pemahaman, menafsirkan pengalaman, dan membantu suatu cara pandang terhadap kenyataan hidup.
Cirinya: segala macam kegiatan berpikir seperti mengingat, mengelompokkan, menamakan, menganalisis, menafsirkan dan lain-lain, merupakan cara-cara untuk memperoleh informasi dan menyimpannya sehingga ia dapat dipergunakan kembali dan dihubung-hubungkan. Hal ini terjadi misalnya ketika mendengarkan suatu ceramah atau mengkaji suatu masalah.
Metode-metode dibagian ini: ceramah, symposium, bacaan terarah, tanya-jawab, seminar.
b. Ragam interaksi kelompok
Manusia dapat saling belajar dan bersama-sama membangun suatu pemahaman melalui proses interaksi (saling mempengaruhi); isi pemahamn yang diperoleh bersama mencakup baik konsep-konsep maupun hal-hal yang non-verbal/relasional. Kelompok ikut serta mempengaruhi pembentukan ‘keyakinan’ dan ‘pribadi’ naradidik.
Cirinya: menjelaskan pokok-pokok pikiran, mendiskusikan, mengevaluasi, menguji kesan orang lain.
Metode-metode dibagian ini: diskusi, kelompok berbincang, forum, wawancara , kelompok melingkar, PA secara induktif.
c. Ragam komunikasi tidak langsung
Di bagian ini karya seni mempunyai kemampuan untuk menjembatani keterbatasan komunikasi verbal, mampu melibatkan seseorang dengan seutuhnya dalam berbagai tahap pemahaman diri dan tahap konfrontasi. Melalui ungkapan seni kita memperoleh kemungkinan untuk mengalami arti dari keyakinan kita dengan suatu cara yang dapat mengubah diri sendiri maupun orang lain.
Cirinya: cerita-cerita, perumpamaan, musik, film, media massa, semua hal itu membuka pintu untuk keterlibatan melalui menanggapi, memikirkan, merasakan dengan cara terlibat dan menanggapi.
Metode-metode dibagian ini: kunjungan lapangan, demonstrasi, lokakarya.

d. Ragam pengembangan pribadi
Jika seseorang memiliki rasa sadar diri dan sadar lingkungkan dengan baik, akibatnya ia merasa diterima dan dapat berperan sebagai pribadi yang mampu menyumbangkan sesuatu. Melalui proses ini seseorang dapat mengenal kemampuan-kemampuan yang tersimpan dalam dirinya.
Cirinya: mengembangkan prakarsa naradidik, saling berbagi, dan mengungkapkan gagasan
Metode-metode dibagian ini: peragaan peran, sumbang saran, debat.
e. Ragam aksi – refleksi
Orang sering tidak memahami suatu gagasan sebelum gagasan tersebut diwujudkan dalam tindakan, dialami, direfleksikan dan ditafsirkan. Disini aspek teori dan praktek disatukan. Sambil mempraktekan suatu gagasan orang mengingat atau menguji praktek tersebut dengan gagasan yang dianutnya. Atau dapat pula praktek tersebut merevisi gagasan yang dianut.
Cirinya: analisis situasi, latihan pemecahan masalah, mengubungkan tindakan dengan pikiran, menghubungkan tradisi/ajaran dengan ilmu-ilmu masa kini.
Metode-metode dibagian ini: study kasus, kemah kerja.

9 petunjuk dasar dalam memilih metode yang tepat (contoh-contoh nyata dari metode dapat dilihat pada lampiran 2)
1. Pahami tujuan pelajaran yang hendak disampaikan.
Metode yang tepat dipilih berdasarkan tujuan dan isi pelajaran yang hendak disampaikan. Misalnya, metode ceramah baik dipilih bila isi dari pelajaran dimaksudkan menyampaikan banyak informasi, dan kurang mengharapkan partisipasi dari peserta. Akan tetapi, metode forum baik dipilih bila gagasan dan partisipasi dari peserta diharapkan.
2. Keterlibatan naradidik.
Arti belajar akan menjadi semakin efektif apabila ada keterlibatan langsung dari naradidik dalam proses pembelajaran. Karenanya, metode dipilih agar memungkinkan naradidik terlibat secara langsung dalam proses mempelajari pelajaran yang disampaikan.
3. Faktor usia dan latar belakang naradidik
Pendidikan, kebudayaan, pekerjaan serta lingkungan naradidik adalah factor penting untuk dipertimbangkan dalam memilih metode. Pada kelompok yang memiliki sedikit pengetahuan, maka metode diskusi kurang tepat digunakan. Atau bagi kelompok remaja aktif, maka metode ceramah seringkali membosankan.
4. Faktor besarnya kelas/kelompok
Beberapa metode akan lebih berhasil bila dipakai dalam kelas yang jumlah anggotanya banyak (misalnya ceramah, seminar, forum , symposium dan lain-lain), dan ada metode-metode yang hanya efektif bila digunakan dikelompok yang anggotanya sedikit (misalnya metode kelompok melingkar, atau diskusi kelompok). Perlu dipelajari ada begitu banyak metode yang diciptakan untuk digunakan pada kelompok besar dan kelompok kecil.

5. Faktor waktu yang tersedia

Yang terlebih dahulu harus diketahui sebelum memilih metode adalah berapa lama waktu yang tersedia untuk menyampaikan pelajaran. Sejumlah metode membutuhkan waktu yang singkat (misalnya metode kelompok berbincang, kelompok melingkar, role play) dan sejumlah lagi membutuhkan waktu yang lama (misalnya ceramah, seminar, symposium, debat, demonstrasi). Waktu yang dibutuhkan dalam metode sangat bervariasi, dari 10 menit hingga 3 jam atau lebih.
6. Faktor sumber/bahan yang tersedia
Yang dimaksudkan dengan bahan dan sumber yang dibutuhkan adalah buku-buku tentang poko yang ingin disampaikan, alat peraga yang dibutuhkan, juga nara sumber yang mampu membahas pokok pelajaran tertentu dengan memakai metode yang dipilihnya. Bagian ini tidak akan sulit pelaksanaannya bila sebuah kegiatan dipersiapkan dengan matang dan tidak tergesa-gesa.
7. Kepemimpinan
Beberapa metode memang memerlukan keterampilan khusus dari pemimpinnya (keterampilan menggunakan metode dapat diperoleh dengan cara melatih diri dengan tekun). Cara yang efektif dalam mengembangkan keterampilan mengajar dengan menggunakan berbagai metode ialah dalam bentuk mengajar beregu (team teaching), artinya 2-3 orang pembina melakukan persiapan dan mengajar bersama. Setiap orang mendapat bagian dalam mengajar sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga saling melengkapi dan mendukung.
8. Memakai metode yang bervariasi
Dalam pelaksanaannya, satu kegiatan dapat dilakukan dengan memakai beberapa metode sekaligus. Biasanya sangat sulit bila hanya memakai satu metode saja. Semakin banyak metode yang dipakai dalam menyampaikan satu pelajaran, semakin besar kemungkinan bagi naradidik untuk berpartisipasi dan pelajaran menjadi semakin jelas dipahami.
9. Susunan ruangan/formasi
Dibawah ini adalah contoh formasi dari yang kurang efektif hingga formasi yang paling efektif.

C. Pengajar Menghadapi Dunia
Dunia pendidikan yang dihadapi semakin hari menjadi kian kompleks, beragam tuntutan dan perubahan masuk secara cepat. Penyesuaian diri (adaptasi) menjadi sesuatu yang bersifat sulit, malahan perubahanlah yang dituntut. Belum lagi dengan kemajuan teknologi informasi. Peran globalisasi dan internet yang memberikan informasi yang kian cepat dan komprehensif bahkan murah, menyebabkan bahkan seorang pengajar menjadi tidak dibutuhkan.
Para pengamat menyebut masa ini sebagai era pasca modernism. Pada masa ini cyber-space memegang kendali penuh atas dunia. Komunikasi yang diciptakan oleh jaringan internet memungkinkan semua yang bagi masa sebelumnya adalah kemustahilan menjadi ke-mungkinan. Dengan mudah percakapan terjadi antara kita dengan mereka yang berada di benua yang lain secara murah dan cepat melalui chat. Kita dapat mengirimkan pesan panjang bahkan melebihi kecepatan mesin fax sebagai kebanggaan abad sebelumnya, yang ternyata hanya mampu menembus waktu 5-10 menit, sedangkan ¬e-mail hanya membutuhkan waktu 1 menit bahkan kurang dari itu.
Misalnya saja untuk mahir berbahasa Inggris maupun Mandarin, telah tersedia sejumlah modul pembelajaran baik lewat buku, software maupun fasilitas internet dengan akses cepat, murah dan komprehensif. Seakan-akan dunia sedang diarahkan untuk tidak memerlukan lagi jasa pengajar. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi apabila melihat pendidikan hanya sebagai bagian dari transfer knowledge, sehingga tidak perlu human approach.
Pendidikan Kritiani juga sudah merambah dunia cyber ini. Situs-situs dan diskusi bahkan penyelidikan terbaru Alkitab dengan mudah di search di google.com. Bahkan Vatikan yang terkenal dengan sikap konservatif memelihara nilai-nilai tradisi memiliki website yang beroperasi 24 jam dengan menggunakan 3 server besar yang diberi nama Raphael, Michael, dan Gabriel. Website ini berisi program audensi, jadwal perkunjungan luar negeri Sri Paus, dan ensiklik-ensiklik bahkan dalam 6 bahasa. Paus sendiri menilai internet sebagai sesuatu yang penting sebagai inovasi terbaru yang efektif di bidang pekabaran Injil.
Tugas belajar – mengajar sudah merupakan hal yang penting sejak Perjanjian Lama. Ulangan 6:6-7 yang dikenal sebagai syema Yahweh merupakan bangunan teologisnya. Tentu saja peran belajar – mengajar menjadi terdistorsi ketika ini sepenuhnya dikuasai oleh mesin. Alkitab perlu dipercakapkan (dalam arti yang sesungguhnya), dalam percakapan tersebut tidak saja melibatkan kita yang sedang berdialog, tetapi bahkan Allah hadir dalam Roh-Nya (Mat. 18:20).
Sama seperti belajar – mengajar merupakan sesuatu yang penting dalam Perjanjian Lama, demikianlah juga belajar – mengajar menjadi hal tang penting dalam Perjanjian Baru. Istilah belajar dan mengajar haruslah dibangun dalam sebuah persekutuan (Yun, koitus) sehingga dari dalamnya akan tercipta pengalaman yang bermakna, saling menguatkan, melepaskan penghiburan, menjadi bijaksana atau diperkaya secara spiritual.
Dengan demikian jelas bukan hanya metode yang perlu untuk dikuasai oleh pengajar, melainkan pengajar perlu memahami perihal human approach. Model pendidikan tanpa kekerasan merupakan suatu keharusan agar tidak lagi tercipta ‘generasi akar pahit’, namun lebih dari itu pengajar perlu memahami salah satu hal yang crucial dalam proses pembelajaran yaitu komunikasi. Secara sederhana komunikasi berkaitan erat dengan proses meneruskan pesan.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa, baik bahasa verbal maupun non verbal, syarat pentingnya yang harus dipenuhi adalah haruslah dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Bahasa non verbal misalnya gerakan tubuh. Namun, komunikasi dalam konteks ini memiliki arti yang dalam, spesifik dan sekaligus membantu pengajar dalam human approach. Sebelum melihat jenis komunikasi seperti ini, maka perhatikanlah 7 gaya komunikasi yang tidak sehat.
1. Si penganggap
2. Si sepenggal
3. Si peremeh
4. Si penyenang
5. Si pelupa
6. Si pendebat
7. Si talenan
Komunikasi menjadi kian sulit apalagi ketika diperhadapkan dengan beragamnya sikap yang ditunjukkan lawan bicara yang bisa saja tidak peduli, cuek, menganggap remeh atau bahkan sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal dalam komunikasi perlu mengaktualisasikan respect, emphaty, audible, clarity, dan humble. Hal-hal penting tersebut diejawantahkan dalam bentuk:
1. Penghargaan terhadap keunikan individu, bahwa setiap individu ingin dihargai dan dianggap penting.
2. Kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Syarat utama disini adalah kemampuan untuk mendengarkan dan mengerti kekhasan orang lain.
3. Pesan atau informasi yang disampaikan dengan cara dan sikap yang “manusiawi” dapat dimengerti dan didengarkan dengan baik oleh orang lain.
4. Pesan yang diberikan sebaiknya tidak menimbulkan multi interpretasi dan persepsi yang berbeda. Perlu mengembangkan sikap terbuka dan transparansi sehingga menimbulkan rasa percaya pada diri orang lain.
5. Sikap rendah hati yang penuh dengan kesadaran untuk melayani, sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Komunikasi yang berdasar pada human approach adalah komunikasi yang melibatkan keseluruhan rasa. Komunikasi tersebut dalam konteks ini kemudian akan disebut dengan komunikasi berbela rasa. Komunikasi berbela rasa secara prinsip sama dengan pengertian komunikasi pada umumnya. Pada prakteknya, komunikasi yang berdasar human approach akan memperkuat kita meraih inspirasi bela rasa dari orang lain dan merespon secara bela rasa kepada orang lain dan kepada diri kita sendiri.
Komunikasi seperti ini akan memupuk penghormatan, perhatian dan empati serta memunculkan keinginan bersama (mutual desire) untuk memberi dari hati. Beberapa hal penting harus dilibatkan dalam komunikasi tersebut, yaitu:
1. Hati
2. Empati
3. Respek
4. Memanusiakan manusia
5. Pengungkapan diri secara jujur
Tahap-tahap yang memungkinkan ini terjadi adalah:
 Mengamati apa yang terjadi dalam sebuah situasi tanpa evaluasi atau penilaian.
 Mengungkapkan apa yang kita rasakan saat mengamati sebuah situasi.
 Menyatakan kebutuhan kita berdasarkan perasaan yang muncul.
 Mengutarakan permintaan berdasarkan kebutuhan yang muncul.
Sebagai studi kasus, bandingkanlah bentuk teguran dibawah ini, dengan settting peristiwa terjadi ketika seorang kepala sekolah melihat seorang guru yang terlambat mengajar di dalam kelas. Pilihlah ungkapan mana yang seharusnya digunakan oleh kepala sekolah:
Ibu Dewi, ketika saya melihat ibu sering terlambat masuk kelas, saya menjadi tidak suka dengan hal itu, sebab proses belajar mengajar di sekolah ini harus berjalan lancar dan para siswa sudah membayar ibu jadi mereka pantas mendapatkan hak mereka. Saya harap ibu tidak terlambat lagi.
Ibu Dewi, ketika saya melihat ibu beberapa kali tidak tepat waktu masuk kelas, saya merasa terganggu karena saya menginginkan proses belajar mengajar di sekolah kita ini berjalan lancar dan para siswa kita mendapatkan hak mereka. Saya mohon kepada ibu agar masuk kelas tepat waktu.

Berikan beberapa alasan sikap anda:
1. ……………………………………………………………………………….
2. ……………………………………………………………………………….
3. ……………………………………………………………………………….
4. ………………………………………………………………………………..
5. ……………………………………………………………………………….
Beberapa petunjuk penting yang harus diperhatikan dalam mengembangkan komunikasi dengan human approach adalah:
Persepsi
Beberapa definisi para ahli mengenai persepsi:
- Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan disekitarnya (Bimo Walgito)
- Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap sejumlah stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff)
- Persepsi adalah interpretasi tentang apa yang dinderakan atau dirasakan oleh individu (Bower)
- Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson)
- Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi sosial merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasikan, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifanya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orng yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera yang dimilikinya. Semakin tinggi derajad kesamaan persepsi individu, maka semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi.
Pemilihan Kata-kata
Alkitab berkata: Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi (Yak.3:5-10)TB-LAI.
 Kata-kata dapat mengubah hidup:
- Kata-kata positif: pandai, cakap, rajin, cerdas dan lainnya
- Kata-kata negatif: malas, idiot, buruk rupa dan lainnya
 Kata-kata positif dapat memberikan energy positif, membangun, memotivasi, menciptakan suasana kondusif, mengubah cara berpikir secara positif dan menyemangati.
 Berbicara secara singular (bukan jamak): saya – kami, beberapa – semua, dia – mereka, beberapa kali – selalu, dan lain sebagainya.
 Kata-kata tidak dapat mengekspresikan secara tepat perasaan dalam diri seseorang dan tidak dapat secara tepat mendeskripsikan secara tepat kenyataan yang sedang terjadi, maka gunakanlah kata-kata yang sedekat mungkin dengan maksud yang ingin disampaikan.
Pada bagian awal dijelaskan bahwa komunikasi dapat menggunakan bahasa verbal maupun bahasa non verbal. Setelah memahami bahasa verbal secara baik, maka perlu untuk memperhatikan hal-hal penting lainnya dari bahasa non verbal:
a. Kontak mata
b. Ekspresi wajah
c. Gesture
d. Postur dan orientasi tubuh
e. Kedekatan/jarak
f. Gumaman
Pada akhirnya, dunia akan tetap membutuhkan profil pengajar yang bukan saja mampu menggunakan metode yang tepat guna, mendidik tanpa kekerasan tetapi juga berkomunikasi dengan human approach. Gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun dapat pula merupakan gaya yang dipelajari. Kita dapat megubah dan menyehatkan gaya komunikasi kita dengan cara meminta koreksi dan tanggapan dari orang lain atau lawan bicara kita. Kunci dalam komunikasi adalah hati yang tulus menerima kehadiran sesama dalam hidup.
Interpersonal Relationship
Masih segar dalam ingatan cuplikan video yang menghebohkan seputar tindakan kekerasan yang terjadi dikalangan pelajar. Tidak hanya kaum laki-laki bahkan bermunculan juga para perempuan. Para siswa kemudian melegalkan tindakan kekerasan demi sebuah tujuan mulia ‘pembinaan’. Kekerasan menjadi dilegalkan sekalipun nyawa adalah taruhannya. Nyawa tidak lagi menjadi sesuatu yang mulia dibandingkan dengan ‘pembinaan’.
Permasalahan bukan hanya terletak pada tingkat emosi kejiwaan anak yang labil atau permasalahan pengaruh perkembangan zaman bahkan wataknya yang kasar, tetapi juga tidak terlepas dari bagaimana pengajar memainkan perannya sebagai yang digugu dan ditiru. Sebut saja beberapa tayangan yang menghebohkan soal tindak kekerasan yang dilakukan mulai dari oknum guru SD hingga dosen yang juga ikut-ikutan tawuran melawan mahasiswanya.
Memang pembinaan bukanlah melulu tugas dari pengajar, sebab pembinaan yang hakiki terjadi dalam rumah tangga, namun bukan berarti pengajar dapat dengan mudah melepaskan tanggung jawab dari tugas pembinaan. Lihatlah bagaimana sejak awal Tuhan telah menunjukkan akibat dari kealpaan tugas pembinaan orang tua, hingga akhirnya Kain membunuh Habel saudaranya dan tanpa harus bertanggung jawab apapun terhadap orang tuanya. Anehnya, yang dapat dilakukan oleh Adam dan Hawa adalah melahirkan Set. Sama seperti kealpaan Adam untuk memperingatkan Hawa ketika ia melihat bagaimana ular mencobai Hawa. Lebih jauh Alkitab menceritakan perihal pertikaian dalam hubungan saudara ketika Yakub ternyata memilih untuk lebih mencintai Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.
Dari keseluruhan uraian di atas, hal utama yang hilang baik dari relasi antara orang tua dengan anak, pengajar dengan nara didik, siswa dengan siswa lainnya adalah relasi itu sendiri. Dunia telah maju begitu cepat sedangkan relasi berjalan begitu lambatnya. Manusia terlalu sibuk dengan memikirkan apa yang patut ia dapatkan sedangkan ia sendiri kehilangan kemanusiaannya. Inti dari kemanusiaan adalah relasi, dan manusia barulah seutuhnya manusia ketika ia mampu membangun interpersonal relationship.
Membangun relasi yang sehat bukanlah pekerjaan mudah, walaupun ditemui betapa mudahnya membangun relasi atas dasar kesamaan, misalnya sama-sama suka bola, sama-sama suka masak, sama-sama suka mancing, dan lain sebagainya; namun disisi lain ketidak samaan juga dapat menghasilkan relasi. Misalnya ketidak samaan status antara majikan dan buruh, polisi dengan penjahat, terdakwa dengan pembela, dan lain sebagainya. Permasalahannya adalah dampak yang dihasilkan oleh relasi seperti ini hanya bersifat jangka pendek dan sementara, ketika kebutuhan masih ada maka relasi pun masih aka nada.
Dalam kekristenan membangun relasi bukan atas dasar kesamaan atau ketidak samaan. Kekristenan membangun relasi atas dua hal utama yaitu:
1. Pola Allah
Dalam banyak hal, Allah memberikan suatu pola perihal bagaimana Ia sendiri membangun relasi. Sebelum penciptaan dan hingga menciptakan manusia pola relasi Allah jelas terlihat. Relasi yang dibangun atas dasar kerja sama, kesatuan hekekat walaupun beda pribadi, kesatuan tujuan walaupun beda aktualisasi. Bahkan dalam hubungan-Nya dengan ciptaan, Allah terlebih dahulu berinisiatif untuk mengutamakan relasi dari pada mendominasi.

2. Perintah Allah
Torah secara jelas menjadi gambaran dalam Perjanjian Lama perihal relasi yang Allah inginkan dari manusia. Bagaimana manusia berelasi dengan diri-Nya maupun dengan sesamanya. Perjanjian Baru memberikan penekanan yang lebih lagi ketika Tuhan Yesus berkata: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:12-14. Perkataan ini merupakan sebuah penekanan pikiran dari apa yang menjadi inti dari Torah dan Perjanjian Lama yaitu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22:37-40).
Point pentingnya disini adalah bagaimana seharusnya membangun relasi dalam dunia pendidikan ketika dunia itu sendiri sudah dipenuhi oleh pribadi-pribadi yang kurang terdidik dan cenderung menjadi penuntut dari sebuah relasi. Beberapa contoh dari tipe penuntut dalam sebuah relasi adalah:
a. Pengkritik – Selalu mengeluh dan memberikan nasehat yang tidak diharapkan.
b. Martir – Selalu menjadi korban dan menderita karena mengasihani diri sendiri
c. Perusak kegembiraan – Pesimis dan merasa negatif dengan sendirinya
d. Pengganggu – Sama sekali tidak peka terhadap orang lain
e. Penggosip – Menyebarkan gosip dan membocorkan rahasia
f. Pengendali – Tidak dapat memberi kebebasan dan berhenti mengkhawatirkan
g. Musuh dalam selimut – Benar-benar bermuka dua
h. Si Cuek – Menjauh dan menghindari kontak
i. Pendengki – Penuh dengan kedengkian
j. Gunung berapi – Menghasilkan uap dan siap meledak
k. Bunga karang – Selalu membutuhkan, tetapi tidak pernah membalas
l. Pesaing – Mengingat setiap detail
m. Pekerja keras – Selalu mendesak dan tidak pernah merasa puas
n. Si Penggoda – Sindiran yang melecehkan
o. Si Bunglon – Sangat ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana membangun relasi pendidikan dengan nara didik yang kompleks sifat dan keinginannya, sehingga masing-masing anak datang dengan gaya belajar masing-masing. Perhatikanlah sebuah kisah berikut ini:
Tulisan Ozu rapih dan enak dibaca. Di dalam buku catatan sekolahnya banyak sekali simbol atau gambar daripada kata-kata. Kalau mencari buku bacaan, Ozu akan membolak-batik gambarnya atau penggambaran suasana cerita. Jika membaca atau mendengar kata bunga, dia mencatatnya dengan gambar bunga, atau kata “meningkat” akan ditulisnya berupa tanda panah ke atas. Di kelas dia lebih suka kalau guru menerangkan sesuatu dengan gambar. Bagi Ozu segala sesuatu yang ia dengar, harus ditulis kembali dalam satu daftar. Tak jarang dia membuat titian keledai dengan nama yang mudah diingat untuk mengingat pelajaran.
Sedangkan, buku tulis Gladys lebih banyak halaman kosong dan tulisannya tak cukup rapih. Gladys selalu bilang sudah memahami pelajaran dengan baik, jadi tidak perlu ada catatan. Di dalam kelas Gladys selalu aktif bertanya, ia juga dianggap cermat mendengarkan pelajaran. Di rumah Gladys lebih asyik bermain PS dan selalu membaca ulang komik-komik yang dibeli, sampai hafal dialognya la selalu ingat kata-kata yang didengarnya. Jangan coba-coba berjanji dengan Gladys, pasti akan dikejarnya.
Lain lagi dengan Fani yang selalu mempraktikkan perkataan guru di kelas. Dia paling suka melakukan percobaan. Semua tugas praktik dalam buku pelajaran dengan antusias dikerjakannya sendiri. Fani semangat bertanya hal apa saja yang ingin diketahuinya untuk bisa dilakukan. Dia paling sering membantu bibi memasak. Ibunya mengaku jarang melihat Fani duduk membaca dan menulis terus menerus dengan tertib di dalam kamar.
Dalam hal ini, orangtua dan pengajar harus menyadari bahwa anak memiliki gaya belajar berbeda untuk mengembangkan potensinya. Mari kita bayangkan bahwa potensi anak berada di dalam satu kotak tertutup. Untuk membuka kotak tersebut, diperlukan kunci. Kunci yang dimaksud adalah bagaimana Orangtua dan pengajar dapat memahami gaya belajar anak, sehingga tidak perlu merasa cemas kalau melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik.
Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik.
Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Belajar berawal dari rumah! Anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan sentuh. Satu dari tiga saluran inderawi – visual, auditori dan kinestetik – adalah salah satu cara untuk belajar dengan baik.
Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar anak adalah persepsi, yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali lima indera: mendengar, melihat, mengecap, mencium,dan merasa. Didunia pendidikan, istilah modalitas mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Modalitas visual menyangkut penglihatan dan bayangan mental. Modalitas pendengaran merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Modalitas kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil.
Salah satu tanda mengenali gaya belajar seseorang melalui kalimat yang ia gunakan. Tipe visual akan bicara misalnya, “Mama, lihat muka Indri dong jika mau bicara sesuatu”. “Bu Guru bisa melihat apa yang aku maksudkan barusan?” Sedangkan, tipe auditori mengatakan, “Mama, dengerin, aku mau cerita. Tipe kinestetik cenderung berbicara sangat singkat, bahkan tanpa komentar apapun. Tanpa disadari gaya belajar mempengaruhi seseorang memilih tempat duduk. Tipe visual lebih memilih duduk di baris depan. Tipe auditori cenderung duduk di tengah-tengah. Tipe kinestetik, lebih memilih duduk di sebelah kanan pintu. Mereka akan segera melarikan diri jika merasa tidak perlu mendengarkan.
Apa yang dapat dilakukan Orangtua dan pengajar? Dengan memahami gaya belajar anak berarti akan membuat anak lebih bahagia. Karena respons Orangtua dan pengajar terhadap kebutuhan dirinya tepat. Bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka Orangtua dan pengajar diharap pula aktif bersikap fisik.Anak tak mau buang waktu untuk bicara dan cenderung langsung pada apa yang harus dikerjakan. Anak sangat energik dan selalu nomor satu berdiri di depan barisan. Jika mendengarkan musik, dia bergoyang sesuai irama. Jika diajak jalan-jalan, tangannya mencoba menyentuh apa saja. Pilih mainan roda dua, tali lompat, bola, cat air. Anak juga suka main drama. Penegakkan disiplin tak cukup hanya verbal, karena tak berpengaruh.
Anak tipe auditori terlihat gemar bicara. Di kelas sering mengganggu anak lain dengan teriakan dan cerita-ceritanya. Anak ini pencinta musik apa saja. Pilih berbagai macam CD dan alat musik mainan. Beri kesempatan sebanyak mungkin untuk bicara, menyanyi, mendengarkan, dan berteriak. Penegakan disiplin cukup dengan kata-kata. Gunakan dialog dan tatap muka untuk menjelaskan masalah yang perlu menjadi perhatiannya.
Anak tipe visual tampak terpaku dalam mengamati sesuatu. Dia penuh rasa ingin tahu terhadap hal baru. Orangtua dan pengajar dapat memberikan kesempatan melalui gambar-gambar. Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, krayon, cat air, spidol, gunting lem bisa disiapkan untuknya. Termasuk mainan boneka-boneka yang dapat diganti pakaiannya atau robot yang dapat berganti bentuk. Disiplin ditegakkan dengan mengacu pada Orangtua dan pengajar. Mereka tidak membutuhkan perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh perbuatan Orangtua dan pengajar. Hadiah cukup dengan senyum lebar, dan ekspresi orangtua terhadap kegiatan mereka. Peraturan bagi Orangtua dan pengajar:
1. Sadari tipe gaya belajar anak. Tipe kinestetik, visual, auditori atau kombinasi.
Sadari tipe gaya belajar diri. Orangtua dan pengajar bisa saja memiliki gaya belajar berbeda dengan anak.
2. Penuhi anak dengan kesempatan agar dia berhasil dalam modalitas yang dimilikinya.
3. Disiplin dan beri hadiah sesuai dengan gaya belajarnya.
4. Selalu melihat posisi terbaik yang dimiliki anak untuk dikembangkan.
5. Bantulah anak menggunakan strategi modalitas untuk menguasai berbagai keterampilan dan konsep lainnya.
Karakteristik Gaya Belajar
Visual
Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.
Auditori
Gaya, belajar melalui instruksi dari orang lain
Membaca, Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja, Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis, Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka, ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.
Kinestetik
Gaya, Belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.
Alkitab memberikan jalan keluar perihal bagaimana seharusnya membangun relasi dalam konteks interpersonal relationship. Sikap-sikap praktis ini akan sangat bermanfaat bagi upaya membangun diri sebagai pengajar ditengah-tengah tuntutan dan bayangan buruk yang telah menjadi stigma masyarakat. Hal-hal penting yang harus dibangun dan dimiliki tersebut adalah:
 Membangun Self Esteem melalui Penyangkalan Diri
Paulus menjelaskan penyebab kemenangan dan kemuliaan yang diterima oleh Tuhan Yesus. “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:5-8). Secara spesifik Tuhan Yesus telah berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus” (Mrk. 8:34-38). Beberapa prinsip yang sering kali menjadi kekeliruan perihal topic ini berkembang dengan luas, oleh karena itu perlu diluruskan makna yang sebenarnya dari penyangkalan diri:
- Menyangkal diri bukanlah membenci diri
- Menyangkal diri bukan berarti kehilangan identitas diri
- Menyangkal diri bukan berarti menghina diri
- Menyangkal diri bukanlah mengasihani diri
Rasul Paulus memberi jawaban perihal kebutuhan akan self esteem ketika ia berkata: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:19). Jelas kebutuhan akan self esteem merupakan salah satu hal yang sudah dijaminkan pemenuhannya oleh Allah. Tuhan tentunya tahu bahwa self esteem dibutuhkan sebagai dasar hidup produktif.
 Membangun hubungan dengan terlebih dahulu mengenal diri sendiri
Cara dunia melihat kematangan dan kedewasaan diri berbeda dengan cara Tuhan melihatnya. Manusia melihat menggunakan kacamata: penampilan, pendidikan, kedudukan atau jabatan, materi dan lain sebagainya. Namun Allah melihat dari bagaimana seseorang mengintegrasikan dirinya dengan kebenaran Allah. Dengan demikian, cara yang paling tepat untuk dapat mengenal diri sendiri serta kematangan dan kedewasaannya adalah dengan menjadikan Alkitab (kebenaran Allah yang tertulis) yang dari dalamnya pengenalan akan Kristus dibangun sebagai cermin. “hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol. 2:6-7). Allah telah memberikan semua yang kita perlukan untuk membangun pengenalan yang baik akan diri sendiri. Itu semua akan didapat dalam Alkitab, melalui Roh Kudus, hati nurani yang telah dibaharui, kepekaan akan suara orang lain serta doa.
 Membangun diri melalui kuatnya kritikan
Perlu kiat khusus agar diri ini iklas menerima kritikan sebagai sarana membangun diri. Beberapa hal yang perlu dipikirkan:
- Memiliki pengertian yang luas mengenai kritikan
- Melihat kritikan sebagai cara Tuhan
- Melihat kritikan sebagai alat introspeksi diri
- Membangun suasana damai dengan kritikan
- Merelakan diri untuk dibentuk oleh kritikan
 Melihat kekecewaan dan ketersingungan sebagai hal positif
Banyak hal terjadi silih berganti dan terkadang hasilnya mengecewakan termasuk dalam relasi. Jadi perlu paradigm yang benar dalam melihat kekecewaan:
- Mengalami kekecewaan bukan sebagai indicator lemahnya iman
- Allah bekerja dengan cara yang unik bahkan di dalam kekecewaan, sehingga ukuran hasil akan berbeda antara satu dengan yang lain
- Melihat secara berbeda hasil yang mengecewakan sebagai akibat tidak matangnya rencana dengan kekecewaan karena diluar kehendak Tuhan
Pada akhirnya jadilah seperti Paulus yang dengan yakin melihat hal-hal yang mengecewakan secara positif hingga mampu berkata: “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (II Kor. 4:16-18).
Hal kedua yang dibicarakan dibagian ini adalah perasaan tersinggung. Kebutuhan mendasar manusia adalah harga diri. Dalam usaha menunjukan harga dirinya sekaligus berbarengan dengan usaha melindungi harga dirinya, dan perasaan tersinggung mudah sekali muncul ketika harga diri seseorang terancam. Pikirkanlah bagaimana Paulus memberikan jalan keluar terhadap perasaan tersinggung ketika ia menulis: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:14-21). Tuliskanlah beberapa pokok yang dapat memberkati anda dalam mengatasi perasaan tersinggung:
1. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
 Membangun keberhasilan dari kegagalan
Thomas Alfa Edison ditanya oleh pegawainya: “kenapa anda tidak putus asa dan tidak berhenti untuk mencoba setelah 99 kali kegagalan dalam percobaan?” ia pun memberi jawab: “kita bukannya gagal namun telah menemukan 99 langkah yang keliru”. Kagagalan dalam konteks ini bukan berarti bahwa tidak ada pencapaian namun justru pembelajaran berharga. Sebuah buku menulis bagian judul covernya: Seorang pemenang bukanlah seorang yang tidak pernah gagal, namun seorang yang tidak pernah menyerah. Dalam hal ini kegagalan adalah pengalaman untuk merangsang daya cipta dan mengembangkan kreatifitas. Bahkan kegagalan tidak dapat dilihat sebagai keadaan ditinggalkan oleh Tuhan, melainkan karena Ia memiliki rencana tertentu. Tuhan Yesus menjadi teladan soal kegagalan dan kehilangan:
 Kehilangan kepercayaan Yohanes Pembaptis (Mat. 11:3)
 Kehilangan banyak murid (Yoh. 6:66)
 Kehilangan kehormatan, kewibawaan dan pakaian (Mat. 27:29)
 Bahkan kehilangan nyawa-Nya di kayu salib
Mungkin pada awalnya kita bahkan tidak berpikir soal ini ketika berkeputusan menjadi seorang pengajar, namun inilah realita yang menunggu. Sama seperti Paulus harus merelakan diri untuk melepaskan segalanya (Fil. 3:8), hingga ia mampu menjadi seorang pengajar yang baik. Mari berkontemplasi secara kuat terhadap bagian ini sampai akhirnya kita siap untuk menyatakan bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang layak dipertahankan, karena panggilan ini adalah panggilan untuk menjadi hamba dan tidak mendapatkan apa-apa seperti yang selama ini dibayangkan orang untuk menjadi seorang pengajar.

D. Pengajar pada Akhirnya
Focus dari pengajaran adalah manusia. Usaha dari pengajaran tidak saja meliputi ratio, tetapi juga emotio dan efectio. Perlu adanya penyadaran terhadap semua aspek yang terkait bukan saja hanya pengajar dan nara didik, tetapi juga system, lembaga, orang tua, masyarakat serta seluruh piranti stekhokders yang ada. Penyadaran ini harus dimulai dari konsep penting diselenggarakannya pendidikan di Indonesia.

 

Budaya secara tidak langsung memberi bentuk terhadap pendidikan, entahkan bentuk positif maupun negatif. Namun, pada prinsipnya, pendidikan tidak boleh kehilangan arah dan tujuan. Pendidikan tidak dapat dibatasi oleh batas atau sekat pemisah, bahkan oleh usia sekalipun (long life education). Dalam proyeksi human approach pendidikan harus melihat manusia sebagai subjek dan bukan lagi objek, sehingga terciptalah manusia-manusia yang kreatif. Human approach tentunya harus melihat lingkungan sosial (populi) sebagai sesuatu yang penting. Sehingga manusia terdidik pada akhirnya akan menjadi manusia yang seutuhnya.

Dasar Hukum
Salah satu cita-cita perjuangan yang diusung oleh founding fathers adalah turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita tersebut dirumuskan secara jelas dalam UUD’45 pasal 31:1 “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran”, dan pemerintahan selanjutnya mendapatkan mandate untuk (pasal 31:2) “mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang”. Penjabarannya termaktub dalam beberapa rumusan, yaitu:
1. UU No. 4 tahun 1950
Tujuan Pendidikan dan Pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

2. UU No. 2 tahun 1989
Mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

3. PP No. 27 tahun 1990 (tentang Pendidikan Pra Sekolah)
Membantu meletakan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

4. PP No. 28 tahun 1990 (tentang Pendidikan Dasar)
Memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti Pendidikan Menengah.

5. PP No. 29 tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah)
5.1. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
5.2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbale balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya.

6. PP No. 30 tahun 1990 (tentang Pendidikan Tinggi)
6.1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan yang professional yang dapat menerapkan, mengembangkan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi atau seni.
6.2. Mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya budaya nasional.
Seluruh indicator pencapaian selanjutnya diimplementasikan melalui kurikulum, yang hingga saat ini sudah terus berubah nama hingga menjadi kurikulum pendidikan berbasis kompetensi sebagai suatu pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, akhlak, ketakwaan, dan kewarganegaraan.
Paradigm pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, pedagogi dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi atau metode mengajar. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar, yang mencakup ujian, tugas-tugas dan pengamatan.

Hasilnya
Sekelompok peneliti memasukan enam ekor kera ke dalam sebuah ruang percobaan. Dilangit-langit ruang itu tergantung setandan pisang. Sebuah tangga lipat didirikan dan memungkinkan para kera memanjatnya sehingga data meraih pisang tadi. Namun, dilangit-langit itu dipasang 20 keran yang dapat memancurkan air dingin ke ruang tadi. Setelah memasuki ruangan, seekor kera melihat suasana yang ada dan segera menunjukan perhatiannya pada pisang yang tergantung. Otaknya bekerja dan ia pun mengenali adanya tangga yang memungkinkan ia mencapai pisang tadi. Segera si kera beringsut mendekati tangga. Setelah anak tangga kedua diinjaknya, ke-20 keran memancurkan air hingga seluruh ruangan basah. Memang secara otomatis para ilmuan yang merancang percobaan itu membuat sebuah pegas tersembunyi di anak tangga kedua membuat air mancur bila anak tangga tadi diinjak.
Bagaimana respon para kera? Mereka berlari kian kemari karena memang pada dasarnya kera tidak menyukai air dingin. Namun, sesaat kemudian seekor kera lainnya mencoba kembali menaiki tangga tadi. Peristiwa yang sama terjadi. Setengah jam berlalu, lmabat laun para kera belajar setelah mereka diguyur air dan menjadi basah kuyup, bahwa menginjak anak tangga akan menimbulkan air mancur. Maka kera mana pun yang mendekati tangga akan disergap bersama, digigit dan diseret pergi. Dalam waktu satu jam, suasana stabil tercapai. Tidak ada seekor kera pun berani mendekati tangga yang ada. Pisang tetap tergantung di atas, namun tidak ada seekor kera pun yang menemukan jalan mengatasi masalah mereka. Tidak ada seekor kera pun yang mencari jalan terobosan. Mereka menuruti intuisi bersama dengan peraturan tidak tertulisnya: “yang mencoba mendekati tangga akan kita sergap dan gigit.”
Tak lama kemudian salah satu kera yang basah tadi diambil, dan digantikan oleh seekor kera yang baru. Si kera baru segera mendekati tangga dan mulai memanjatnya. Ia terkejut ketika tiba-tiba kera-kera yang lain menjerit, menyergap dan menggigitnya. Berulang kali ia mencoba dan berulang kali pula ia mengalami keadaan yang tidak enak tadi. Dalam waktu singkat ia belajar untuk mengikuti peraturan: “jangan dekat-dekat tangga”.
Sejam kemudian, seekor kera baru dimasukan ke ruangan untuk menggantikan seekor kera basah, maka peristiwa kekerasan antar kera akan berlangsung lagi ketika ia mencoba mendekati tangga. Akhirnya seterusnya telah menjadi¬ stigma bahwa tidak ada seekor kera pun yang boleh mendekati anak tangga. Walaupun seisi ruangan telah digantikan seluruhnya oleh kera baru yang tidak pernah melihat dan merasakan ada air mancur yang keluar dari ke-20 keran di langit-langit ruangan tersebut.
Tujuan pendidikan secara sederhana adalah menciptakan manusia mandiri. Mandiri berarti memiliki kebebasan batin di dalam mengenali pilihan-pilihan, mengambil pilihan-pilihan yang ada dan menanggung akibatnya, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mandiri berarti berani, siap dan mampu menentukan pilihan-pilihan. Tanpa kemandirian hanya akan tercipta pribadi-pribadi yang patuh pada pilihan orang lain. Disisi lain, tanpa kemandirian manusia hanya akan memilih apa yang secara intuitif dirasa menguntungkan tanpa memperhatikan nilai-ilai yang lebih luhur.
Seorang yang mandiri bukanlah seorang yang memberontak, anarkis atau anti sosial. Justru karena kemandirian, ia dapat memilih secara sadar dan sengaja untuk menjalani hidup dengan displin tinggi, mengalah, hidup sederhana, mengabdikan diri dengan ketulusan dan kepatuhan serta menjadi bagian dari komunitas. Seorang yang mandiri, dapat memilih mengabdikan diri kepada Tuhan, tanpa disibukan dengan berbagai macam tuntutan dan keinginan lainnya selain pengabdian. Tanpa kemandirian, manusia tidak dapat memilih hal ini dan menjalaninya dengan penuh komitmen.
Seorang yang mandiri dapat mempertahankan komitmennya, karena ia telah menyadari pilihan-pilihan yang ada dan menentukan pilihannya sendiri secara bebas, serta keberanian untuk memikul tanggung jawab sebagai akibat dari keputusan pilihannya. Terkadang keputusannya salah dan keliru tetapi ia segera belajar dan bangkit kembali. Menjadi mandiri berarti membuka peluang seluas-luasnya agar ia mengalami pengenalan yang lengkap dan utuh atas aspek-aspek dirinya dan konteks dimana ia berada.
Sehingga, hal yang menjadi ciri utama seorang yang mandiri adalah ia berbeda dengan orang lain yang bergantung pada system, kebiasaan, tingkat kenyamanan. Jadi pendidikan modern memerlukan suatu falsafah dan desain proses yang mungkin sangat berbeda dari sebelumnya agar menghasilkan orang-orang yang berani memilih dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: