Just another WordPress.com site

Teologi Perjanjian Baru

SILABUS

DESKRIPSI MATAKULIAH :
Fokus dari Teologi Perjanjian Baru adalah study terhadap teologi yang dibangun oleh tulisan-tulisan ke-27 kitab dalam Perjanjian Baru. Study ini menjadi penting untuk beberapa hal yang sifatnya essential: tuntutan akademis, tuntutan ‘pasar’, serta tuntutan spiritualite. Oleh karena itu, melalui mata kuliah ini diharapkan mahasiswa dapat memenuhi tuntutan dibawah ini:

TUJUAN MATAKULIAH :

  1. Mahasiswa mampu memiliki pemahaman yang benar dan komprehensif akan Teologi yang muncul dalam konteks Perjanjian Baru.
  2. Mahasiswa mampu menghadirkan apa yang dipahami tersebut dalam bentuk pelayanan aktual sesuai dengan konteks pelayanan masing-masing.
  3. Mahasiswa mampu mengalami pertumbuhan dalam keyakinan yang benar sehingga mampu berelasi secara pribadi dengan apa yang ia terima sebagai kebenaran.

 

MATERI MATAKULIAH:
Silabus
Teologi Perjanjian Baru Dan Masalahnya
Latar Belakang Yang Mempengaruhi Teologia Perjanjian Baru
Otentisitas Perjanjian Baru Bagi Teologi Perjanjian Baru
Metodologi Pendekatan Dari Teologi Perjanjian Baru
Beberapa Pemikir Teologi Perjanjian Baru
Garis Besar Kitab-kitab Perjanjian Baru
Teologi Masing-Masing Kitab
Pengantar dan Pembahasan Teologia Sinoptik
Pengantar dan Pembahasan Teologi Kisah Para Rasul
Pengantar dan Pembahasan Teologi Yakobus
Pengantar dan Pembahasan Teologi Ibrani
Pengantar dan Pembahasan Teologi Paulus
Pengantar dan Pembahasan Teologi Petrus
Pengantar dan Pembahasan Teologia Yudas
Pengantar dan Pembahasan Teologi Yohanes

PROSENTASE PENILAIAN :

  1. Membaca keseluruhan kitab Perjanjian Baru (10 %)
  2. Membuat book report dari salah satu buku yang akan direfferensikan (30 %)
  3. Membuat spiritual digest terhadap apa yang dipelajari (20 %)
  4. Membuat paper dari salah satu tema yang muncul dalam Perjanjian Baru (40 %)

DESKRIPSI & KETENTUAN TUGAS :

  1. Membaca keseluruhan kitab Perjanjian Baru: Mahasiswa membaca setiap kitab dalam Perjanjian Baru sebelum kelas dimulai (Matius – Wahyu) dengan mengikuti jadwal perkuliahan.
  2. Membuat book report dari salah satu buku yang akan direfferensikan: Mahasiswa membuat tanggapan ilmiah terhadap argumentasi, isu, materi dan hal-hal yang manarik perhatian mahasiswa dari buku tersebut dengan melibatkan kemampuannya untuk mengintegrasikannya dengan pemahaman teologi terutama dengan mata kuliah lain yang telah diterima.
  3. Membuat spiritual digest terhadap apa yang dipelajari: Mahasiswa membuat respon terhadap materi yang disajikan dan dikumpulkan pada awal pertemuan kelas di minggu berikutnya. Isi respon dapat berupa tanggapan, kritik, atau refleksi pribadi terhadap materi yangdisajikan. Dengan demikian, mahasiswa akan dilatih melakukan interaksi pribadi dari materi yang disajikan. Akan diberikan waktu dimana bahan spiritual digest akan didiskusikan dalam kelas (sesuai jadwal), dimana masing-masing peserta kelas dapat memberikan kontribusi aktif.
  4. Membuat paper dari salah satu tema yang muncul dalam Perjanjian Baru:  Mahasiswa membuat sebuah karya ilmiah dalam bentuk paper (minimal 10 halaman – maksimal 13 halaman, dengan format yang telah diajarkan dalam matakuliah Metode Riset Literatur) terhadap isu yang sedang popular di pelayanannya dimana isu tersebut memiliki keterkaitan dengan teologia Perjanjian Baru dengan runtut pembahasan: latar belakang masalah, tinjauan Perjanjian Baru serta usulan solusi atas isu tersebut.

JADWAL PERKULIAHAN:
Rabu, 1 Februari Silabus; Teologi Perjanjian Baru Dan Masalahnya
Rabu, 8 Februari Garis Besar Kitab-kitab Perjanjian Baru
Rabu, 15 Februari Pengantar dan Pembahasan Teologia Sinoptik
Rabu, 7 Maret Pengantar dan Pembahasan Teologi Kisah Para Rasul
Rabu 14 Maret Diskusi
Rabu, 21 Maret Pengantar dan Pembahasan Teologi Yakobus
Rabu, 28 Maret Pengantar dan Pembahasan Teologi Ibrani
Rabu, 4 April Diskusi
Rabu, 11 April Pengantar dan Pembahasan Teologi Paulus
Rabu, 18 April Pengantar dan Pembahasan Teologi Petrus
Rabu, 25 April Diskusi
Rabu, 2 Mei Pengantar dan Pembahasan Teologia Yudas
Rabu, 9 Mei Pengantar dan Pembahasan Teologi Yohanes
Rabu, 23 Mei Diskusi; batas akhir pengumpulan paper

KEPUSTAKAAN:

  1. Moris, Leon. Teologi Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 1996.
  2. Avis, Paul. Ambang Pintu Teologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
  3. Bruce, F.F. Dokumen-dokumen Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
  4. Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru, vol 1-3. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
  5. Baker, David L. Satu Alkitab Dua Perjanjian: suatu Study tentang Hubungan Teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
  6. Tenney, Merrill C. Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 1996.
  7. Packer, J.I., dan yang lainnya. Dunia Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 1995.

 

PENDAHULUAN

Beberapa pertanyaan penting telah menjadi diskusi panjang dalam telaah Teologi Perjanjian Baru. Intinya adalah sungguh-sungguhkah ia layak dipercayai? Tentu saja bukan hanya dalam konteks penyataan atau penyingkapan diri Allah, tetapi juga dalam konteks berlangsungnya peristiwa baik narasi, nubuatan, rangkaian peristiwa serta nilai otentisitasnya . Sejarah yang berproses telah menjadi alat bukti dengan sendirinya bahwa ia dapat dipercayai. Bahkan dengan munculnya temuan-temuan mengenai gulungan-gulungan kitab di sekitar daerah laut mati (dead sea scroll) dan Nag-Hamadi serta friksi yang dibuat oleh kelompok liberal justru semakin mempertegas nilai unggul dapat dipercayainya keseluruhan kitab Perjanjian Baru (tentunya membawa dampak yang sama pada Perjanjian Lama). Permasalahannya kembali kepada umat Kristus, apakah telah menjadikannya sebagai Perjanjian yang dipercayai? Paling tidak, untuk itulah paper ini hadir.
Perjanjian Baru , paling tidak itulah istilah yang sering digunakan walaupun dengan pengertian yang tidak tepat, dari sisi peristilahannya dirunut praduga/asumsi terhadapnya: secara etimologi , merujuk pada suatu ketetapan/kontrak guna memenuhi apa yang belum dinyatakan pada ketetapan/kontrak sebelumnya; secara histori, berperan sebagai kelanjutan suatu masa dari masa sebelumnya; secara teologi, merujuk pada penyingkapan yang lain sama sekali dari sebelumnya; secara praksis , merujuk pada suatu kondisi tuntutan kehidupan yang berbeda dari
sebelumnya. Namun apakah sebenarnya makna Perjanjian Baru? Penelusuran terhadapnya dimulai dari latar belakang munculnya suatu “Perjanjian baru”.
Istilah Perjanjian Baru sendiri muncul hanya 6 kali dalam Alkitab, masing-masing: Yer. 31:31; Luk. 22:20; I Kor. 11:25; II Kor. 3:6; Ibr. 8:8; 12:24. Mula pertama digunakan dalam konteks janji nubuatan dan pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya. Sebagai sebuah bentuk perjanjian yang dinyatakan bukan lagi dalam tanda-tanda atau simbol-simbol lahiriah melainkan suatu hubungan baru antara Allah dan umat. Bentuk baru ini berakibat pada pembaharuan perjanjian yang gagal terpelihara oleh umat. Kesadaran yang muncul dalam diri umat dipengaruhi oleh tekanan-tekanan yang mereka alami terutama pada masa-masa pembuangan dan pengasingan.

 

TEOLOGI PERJANJIAN BARU DAN MASALAHNYA

Latar Belakang yang mempengaruhi Teologia Perjanjian Baru

(1). Allah menghadirkan gereja ditengah-tengah situasi yang (selalu) tidak kondusif:

(2). Perkembangan Hermeneutik yang menjadi (lebih) tidak kondusif:

(3). Teologi yang terus menerus mengalami pergeseran makna:

 

Otentisitas Perjanjian Baru bagi Teologi Perjanjian Baru 

Berdasarkan segala ‘keruwetan’ di atas masihkah teks Perjanjian Baru dipertahankan guna membangun Teologi Perjanjian Baru? Padahal Perjanjian Baru sendiri mengalami penolakan oleh karena beberapa alasan:

  1. Naskah asli Perjanjian Baru tidak pernah ditemukan.
  2. Ditemukan tulisan-tulisan ‘asli’ lainnya yang sangat berbeda dengan isi Perjanjian Baru.
  3. Bapa-bapa gereja sendiri (ex, Marthin Luther) meragukan beberapa kitab dalam Perjanjian Baru.
  4. Kanon Perjanjian Baru sendiri justru terbentuk oleh karena konsili bapa-bapa gereja (seperti Perjanjian Lama).
  5. Beberapa bagian dalam Perjanjian baru justu ‘keliru’:
  • Mat. 1:1-17 vs Luk. 3:23-38
  • Mat. 4:1-11 vs Luk. 4:1-13
  • Mrk. 6:8-10 vs Luk. 9:3; Mat. 10:9-10
  • Mat. 27:9-10 vs Zak. 11:12-13
  • Yak. 1:13 vs 1 Sam. 18:10

Bagaimana seharusnya melihat inerrancy dan infallibility Alkitab Perjanjian Baru?

Metodologi Pendekatan dari Teologi Perjanjian Baru

  • Tematis
  • Eksistensialis
  • Historical
  • Sejarah Keselamatan

Kira-kira manakah pendekatan ‘yang paling tepat’, yang dapat menolong kelas ini?

  • Keyakinan terhadap inerrancy dan infallibility PL dan PB
  • Kesinambungan revelation of God dari PL hingga PB
  • Keseimbangan sikap yang pro of teks dan pro of konteks.
  • Kecerdasan dalam menjawab tantangan masa kini berkenaan dengan kebenaran dari keseluruhan teks Perjanjian Baru
  • Kemampuan bersikap adil sekaligus waspada terhadap setiap fenomena yang muncul dalam pengalaman iman Kristen dari seluruh warga percaya.

Beberapa Pemikir Teologi Perjanjian Baru
Teologi Perjanjian Baru mulai diminati sekitar dua abad terakhir ini. Sebelumnya teologi yang diminati adalah dogmatic, formulasi doktrin dari gereja dan sistematika, yang seringkali merupakan hasil spekulasi filosofis. Dalam suatu ceramah pada tahun 1787, J.P. Gabler mengimbangi dan menyerang metodologi teologi dogmatic, dengan mengkritik pendekatan filosofisnya. Pendekatan rasionalistik dipakai untuk mengerti Perjanjian Baru. Alkitab dipandang sebagai buku hasil karya manusia, baik dalam proses penulisannya dan apa yang ditekankan oleh masing-masing penulis.
Pada dasarnya mereka menolak inspirasi Alkitab dan memandang Perjanjian Baru sebagai karya literature yang tidak berbeda dengan karya literature lainnya, oleh sebab itu pendekatan yang mereka lakukan untuk studi Perjanjian Baru adalah sudut pandang kritikal. Hasilnya adalah keragaman opini. Sebagian melihat adanya pertentangan antara penulis yang satu dengan yang lain dalam Perjanjian Baru, baik dari segi sejarah, latar belakang, sintesa atau kehidupan Kristus yang dibumbui oleh para penulisnya. Namun demikian, kalangan konservatif, dalam mempelajari Perjanjian Baru, biasanya memakai pendekatan dengan cara menyusun suatu materi sesuai dengan pembagian teologi sistematik atau memakai pendekatan teologis dari para penulis Perjanjian Baru.
Pelopor mula-mula dalam studi teologi Perjanjian Baru adalah F.C. Baur dari Tubingen (1792-1860) ia adalah pemimpin dari kaum rasionalis. Ia menerapkan filsafat Hegel, yaitu tesis-antitesis-sintesis pada tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Jadi baur menemukan pertentangan antara penekanan Yahudi dari tulisan Petrus dan penekanan non-Yahudi dari Tulisan Paulus.
H.J. Holtzman (1832-1910) melanjutkan pemikiran itu, dimana ia menyangkal ide apapun yang berkaitan dengan inspirasi dan menyodorkan teologi konflik dalam Perjanjian Baru.
Wilhelm Wrede (1859-1906) memberi mempengaruhi yang cukup besar pada teologi Perjanjian Baru dengan memberi penekanan pada pendekatan sejarah agama. Ia menolak Perjanjian Baru sebagai satu dokumen teologi; tetapi berpendapat bahwa Perjanjian Baru harus dilihat sebagai suatu sejarah dari abad pertama. Teologi seharusnya tidak boleh dipertimbangkan sebagai istilah yang tepat; agama merupakan istilah yang lebih baik untuk mengidentifikasikan tulisan-tulisan Perjanjian Baru karena mengekspresikan “kepercayaan, pengharapan, dan kecintaan” para penulis daripada hanya merupakan “suatu catatan refleksi teologis yang abstrak.”
Rudolf Bultman (1884-1976) menekankan pendekatan kritik bentuk pada Perjanjian Baru dan berusaha mengungkapkan apa yang ada dibalik materi itu. Bultman mengajarkan bahwa Perjanjian Baru telah dicampuri oleh opini-opini dan penafsiran ulang dari para penulis. Tugas sekarang adalah melakukan “demitologisasi” dari Perjanjian Baru, yaitu untuk melucuti pengaruh pemikiran penulis Perjanjian Baru dan mencari kata-kata sebenarnya yang diucapkan oleh Yesus. Bultman tidak melihat adanya koneksitas antara Yesus sejarah dan Yesus iman.
Oscar Cullman (1902) menekankan tindakan Allah dalam sejarah dalam mencapai keselamatan manusia. Hal ini diberi istilah Heilsgeschichte atau “sejarah keselamatan.” Culman banyak menolak gambaran radikal dari kritik bentuk sebaliknya ia mengikuti eksegesis Perjanjian Baru dengan penekanan pada Kristologi Perjanjian Baru.

GARIS BESAR KITAB PERJANJIAN BARU
Garis besar kitab-kitab dalam Perjanjian Baru :

  • Menurut waktu penulisan
  • Menurut penamaan
  • Menurut klasifikasi doctrinal
  • Menurut keunikan masing-masing kitab

Garis besar Teologi dalam Perjanjian Baru:
Sudut pandang teologi
Dalam hal sudut pandang teologi, terbagi atas 2 kelompok besar yaitu:
Kelompok Liberal dan neo Orthodoks
Kelompok Liberal menempatkan Perjanjian baru sebagai literature biasa sehingga saat dilakukan study terhadapnya harus melepaskannya dari otoritas ilahi hingga sangat memungkinkan untuk dikritisi, alhasil Perjanjian baru ditolak sebagai wahyu Allah. 5 ciri khas dari kelompok ini adalah:

  • Menekankan konflik antar penulis.
  • Menekankan bahwa Perjanjian Baru hanya terbatas pada nilai sejarah penyelamatan.
  • Menekankan Perjanjian baru sebagai sintesis dari agama-agam purbakala.
  • Menekankan Perjanjian baru sebagai berita pengalaman pribadi orang berimana dalam konteks ia ditulis.
  • Menekankan Perjanjian baru sebagai bagian kisah-kisah emosional tentang Yesus.

Kelompok Injili/Konservatif/Orthodoks
Kelompok ini percaya bahwa Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) diwahyukan Allah, sehingga kalaupun dilakukan penelitian data-data empiris tetap dengan ketaatan dan percaya bahwa penulis dikuasai seluruhnya oleh Allah dan Allah bersedia menggunakan seluruh kemampuan penulis, sehingga keharmonisan dan kesatuan isi seluruh kitab tetap terpelihara.

 

TEOLOGI MASING-MASING KITAB

Pengantar Teologi Sinoptik
Dalam memahami teologi Injil Sinoptik, adalah penting untuk mengerti sudut pandang para penulis. Kepada siapa Matius, Markus, Lukas menulis? Apa tema-tema yang mereka tekankan? Apa penekanan khusus dari para penulis? Ini merupakan pertanyaan yang penting dalam nature teologi biblika, yang menentukan apa penekanan teologis dan keprihatinan yang dikembangkan oleh masing-masing penulis. Nature dari teologi biblika itu terletak secara khusus pada keprihatinan dari penulis manusia (tanpa mengabaikan atau mengesampingkan fakta inspirasi ilahi). Hal-hal pendahuluan seperti penulis, waktu penulisan, pembaca dan tujuan dilibatkan dalam mendirikan penekanan dari masing-masing penulis.

Problem Sinoptik
Diantara keempat kitab Injil yang ditulis dalam Perjanjian Baru: Injil Matius, Markus, dan Lukas hampir memiliki pola yang sama, sehingga ketiga Injil ini hampir nampak sama. Perbedaan yang terlihat hanyalah bahwa kitab Markus ditulis dengan ringkas, padat dan jelas, sedangkan Injil Matius ditulis dengan agak panjang dan mengelompokkan pokok-pokok yang sama, sementara Lukas menulis dengan agak panjang dan sangat berurutan. Adanya satu pola dalam ketiga Injil tersebut terlihat dalam kesamaan urutan cerita tentang Yesus, mulai dari kelahiran hingga kematian-Nya, oleh sebab itu ketiga Injil ini sering disebut sebagai Injil Sinoptik. Istilah Sinoptik berasal dari kata Yunani sunoptikos, “melihat sesuatu bersama-sama”, dan itu merupakan karakteristik dari ketiga Injil ini.

Teori Kritik Awal terhadap Injil Sinoptik
Kesamaan yang terdapat dalam ketiga Injil tersebut akhirnya membuat banyak sarjana liberal bertanya: apakah diantara penulis ketiga Injil itu terjadi saling mengutip antara yang satu dengan yang lain. Mereka akhirnya memulai suatu penyelidikan terhadap ketiga Injil ini dengan asumsi dasar bahwa ketiga Injil ini juga sama dengan buku-buku yang lain dan lebih mementingkan rasio manusia. Ini terjadi oleh karena mereka dipengaruhi oleh filsafat modern. Akhirnya mereka melahirkan beberapa teori tentang problem Injil sinoptik:

Teori Tradisi Lisan
Teori ini berpendapat bahwa sebelum kitab-kitab Injil ditulis, sumber untuk berkotbah dan mengajar, dan meneguhkan orang dalam gereja ialah tradisi tentang Yesus yang dipertahankan secara lisan, atau dalam kumpulan kecil yang dapat dikembangkan. Ketika kitab-kitab Injil sudah beredar, maka gereja tidak lagi perlu berpegang pada tradisi yang berubah-ubah ini, melainkan pada bentuk-bentuk tulisan yang berbentuk kitab yang merupakan catatan materi yang tua. Tradisi lisan ini tetap terpelihara bukan karena upaya yang sistematis dengan maksud yang berhubungan dengan jaman kuno itu, melainkan karena tuntutan atau kepentingan jaman dari komunitas itu. Dalam layanan seperti itu, maka fungsinya sebagai tradisi lisan akan tetap bertahan selama kepentingan praktis itu tetap aktif.

Teori Injil Saling Bergantung
Teori ini mengajarkan bahwa penulis pertama mengambil bahan dari tradisi lisan, kemudian penulis kedua menggunakan materi yang telah ditulis oleh penulis pertama, dan ketiga mengambil bahan dari kedua penulis sebelumnya. Mengingat bahwa dahulu orang tidak terikat pada undang-undang hak cipta maka orang secara bebas memanfaatkan dokumen yang tertulis sesuka hati mereka. Teori ini dicetuskan oleh Griesbach pada tahun 1789.

Teori Injil Primitif
Teori ini mencetuskan bahwa sebelumnya ada Injil primitif yang disebut Urevangeliumyang sudah tidak ada lagi dan penulis-penulis Injil meminjam bahan dari Injil tersebut.

Teori Fragmen
Teori ini mengajarkan bahwa penulis-penulis Injil menyusun catatan mereka dari tulisan-tulisan di fragmen tentang kehidupan Kristus. Wellhausen, seperti dikutip oleh Bultman, menambahkan bahwa “tradisi yang paling tua hampir seluruhnya terdiri dari fragmen-fragmen kecil (ucapan maupun perkataan Yesus), dan tidak menyajikan cerita yang bekesinambungan mengenai perbuatan Yesus atau kumpulan lengkap berisi ucapan-ucapan-Nya. Ketika disatukan, fragmen-fragmen tersebut dihubung-hubungkan sehingga membentuk satu kisah yang berkesinambungan.”

Teori Dua Dokumen
Teori ini mengajarakan bahwa Kitab Matius dan Lukas mengambil bahan yang sama dari Markus, dan kitab Markus merupakan Injil yang ditulis paling awal. Disimpulkan bahwa kitab Matius menggunakan 90% kitab Markus dan Lukas menggunakan 50%. Namun karena Matius dan Lukas memiliki cukup materi yang sama tetapi tidak terdapat dalam Markus maka mereka pasti memiliki satu sumber lain yang sama. Bahan yang dimiliki bersama oleh Lukas dan Matius tetapi bukan dari Markus ini lazimnya disebut bahan “Q”. Sebagai bahasa sandi untuk kata Jerman Reden Quelle yang berarti “sumber sabda-sabda”. Q dipercayai sebagai sebuah koleksi sabda Yesus yang sudah tersedia secara tertulis dalam bahasa Yunani. Sumber Q ini tidak memiliki kisah masa kanak-kanak dan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Mereka juga berpendapat bahwa sumber Q tersebut tidak ada salinannya tetapi hanya merupakan sebuah hipotesis belaka.

Teori Empat Dokumen
Teori ini menyebutkan bahwa Markus merupakan Injil pertama yang ditulis dan bahwa Matius dan Lukas menggunakan baik Markus dan Q secara independen, lazimnya disebut “hipotesis dua sumber”. Namun disamping itu mereka juga memberi tempat bahwa ada sumber-sumber khusus yang lain yang digunakan oleh Matius dan Lukas, yaitu bahan-bahan tradisi yang hanya dikenal dan dipakai oleh salah satu dari mereka. Bahan-bahan khas ini lazimnya diberi tanda “L” dan “M”. “M” merupakan “kata-kata” pribadi sumber dari Matius yang ditulis sekitar tahun 65 Masehi dan “L” sumber pribadi Lukas ditulis di Kaisarea sekitar tahun 60 Masehi, sedangkan “Q” ditulis di Antiokhia sekitar tahun 50 Masehi dan Markus ditulis di Roma sekitar tahun 60 Masehi.
Perkembangan Kritik Modern
Kritik tehadap Alkitab terus mengalami perkembangan. Sarjana-sarjana Liberal terus berusaha menggali dan mengembangkan pemahaman mereka dalam mengkritik Alkitab. Seiring dengan itu mereka akhirnya memunculkan kritik-kritik yang terus diperbaharui dengan konsep rasio mereka dan mengabaikan Alkitab sebagai firman Allah. Dalam masalah Injil sinoptik mereka juga menggulirkan berbagai teori kritik yang lebih modern.

Kritik Historis
Kritik ini mengalami kejayaan sekitar tahun 1950-an. Para teolog kritik historis berusaha menyelidiki latar belakang kitab-kitab Injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus. Perbedaan-perbedaan didalamnya dipulikasi sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tulisan Injil merupakan tafsir ulang penulis Injil, bahkan lebih jauh mereka menyimpulkan bahwa Injil itu bukan hanya sekedar tafsir ulang tetapi juga merupakan ungkapan iman penulis dan bukan peristiwa historis. Pendekatan yang mereka lakukan dikenal dengan teori Linguistik Modern, suatu displin ilmu dengan prinsip-prinsip:
mengutamakan pendekatan terhadap teks secara “sinkronik” dan bukan secara “diakronik”.
Menekankan unsur-unsur ujaran daripada bentuk tertulis suatu bahasa.
pemahaman terhadap bahasa sebagai suatu sistem yang terstruktur.
Pendekatan ini akhirnya membuat Alkitab sama dengan buku-buku lain. Mereka mencatat dalam keragaman catatan yang pararel, meneliti materi sejarah yang sekuler, dan mencatat peristiwa sejarah yang terjadi serta berusaha menjelaskan kejadian supranatural dengan penjelasan peristiwa secara alamiah dan cerita-cerita yang dibuat oleh gereja mula-mula. Dampak negatif yang terlihat jelas dari kritik ini adalah laitannya dengan masalah Kristologi. Mereka menyatakan bahwa Yesus yang ada dalam Alkitab bukanlah Yesus yang hadir dalam sejarah, tetapi Yesus sebagai kepercayaan dari para penulis Injil dan orang Kristen zaman tersebut.

Kritik Sumber
Kritik sumber berusaha untuk mengidentifikasi sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan Injil Sinoptik dan mengidentifikasi hubungannya dengan Injil-Injil itu. Didalam penentuan sumber-sumber itu setidaknya mereka mempunyai beberapa pertanyaan dasar:
Apakah dokumen yang sedang dipelajari itu menunjukkan adanya sumber?
Apa yang dikatakan sumber tersebut?
Apa yang dilakukan pengarang dengan sumber tersebut? (menyalin? Mengubah? Atau salah paham?).
Yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan adanya sebuah sumber, menetapkan isi dan makna sumber itu, dan bagaimana sumber itu dipakai, merupakan tiga pokok penelitian sumber.
Adanya sumber-sumber yang ditentukan juga bila mereka melihat ayat tertentu membuat alur pemikiran atau gaya bahasa yang berbeda dari konteksnya, walaupun tidak ada petunjuk eksplisit. Kesepakatan perkataan juga mengusulkan adanya suatu sumber yang sama, yang mendasarinya. Penganut Kritik sumber mengusulkan penulis-penulis menggunakan suatu sumber yang sama, yang mereka ikuti tetapi mereka merasa, mereka memiliki kebebasan untuk menambah rincian dan “tidak khawatir akan ketepatan dalam rincian historis”. Problem dari kritik sumber ini ada dua segi: kritik ini cendrung mengabaikan unsur ilahi dalam inspirasi dan mengakui adanya salah; kritik ini dibangun atas hubungan tanpa adanya bukti yang bisa diperlihatkan dari sumber-sumber yang mendasari semua itu.

Kritik Bentuk
Kritik bentuk tidak terlepas dari kritik Wellhausen terhadap Perjanjian Baru, ia mengemukakan:
Sumber asli dari bahan-bahan yang ada didalam Injil adalah tradisi lisan yang beredar dalam unit-unit terkecil
Bahan-bahan asli tersebut sudah digabung dan diedit dalam berbagai cara, langkah atau tingkatan (hanya satu bagian saja yang dilakukan oleh penulis Injil PB itu sendiri
Bahan-bahan yang ada di dalam tradisi itumemberikan informasi kepada kita tentang kepercayaan dan situasi gereja mula-mula dan pelayanan Yesus.
Kritik ini dikembangkan kembali oleh Bultman, yang menganggap Injil sinoptik sebagai “literatur rakyat”. Kelompok ini menyimpulkan bahwa Injil-injil sekarang ini bukanlah karya yang utuh sejak semula, melainkan kumpulan materi atau bahan yang akhirnya dipilih atau disusun kembali oleh para penulis Injil Perjanjian Baru. Mereka umumnya meyakini bahwa buku Injil yang tertua adalah Markus. Markus menulis satu karya tulis berbentuk “Injil”, dikemudian hari Matius dan Lukas mengikuti dan menggunakan bahan yang ada didalam Injil Markus.
Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa bahan-bahan yang kita miliki sekarang didalam kitab-kitab Injil, sebenarnya mempunyai sejarah penggunaannya dalam gereja, yang dipelihara dan diwariskan dalam bentuk tradisi lisan. Bahan-bahan itu digunakan didalam gereja secara sendiri-sendiri atau terpisah-pisah, sesuai dengan fungsi atau penggunaannya masing-masing dalam kehidupan dan ibadah gereja. Masing-masing tradisi dapat dianalisa secara sendiri-sendiri. Setiap bentuk digunakan untuk tujuan tertentu pula sesuai dengan situasi konkrit dalam kehidupan gereja mula-mula. Oleh sebab itu maka disimpulkan bahwa kebanyakan Injil-Injil itu tidak berisi data historis tetapi bumbu gereja mula-mula. Sebab jika dianalisa maka ternyata bentuk dan bahan-bahan yang ada dan dipelihara dalam gereja mula-mula itu sudah dipengaruhi oleh iman teologia gereja sesuai dengan situasi dan keadaan kehidupan gereja waktu itu.
Dalam sebuah wawancara tidak resmi, Robert Mounce meringkas prosedur penelitian bentuk sastra sebagai berikut:
“Pertama, peneliti bentuk sastra mencatat berbagai jenis bentuk sastra, yang dipakai untuk mengelompokkan cerita-cerita Alkitab. Kemudian dia berusaha untuk memastikan Sitz im Leben (situasi dalam kehidupan) dari gereja mula-mula yang biasa menjelaskan perkembangan masing-masing perikop yang termasuk dalam ketegori-kategori di atas. Apakah itu rasa takut terhadap penganiayaan? Apakah itu gerakan dari gereja orang-orang bukan-Yahudi yang berlatar belakang Yahudi? Apakah itu ajaran sesat? Dan sebagainya. Setelah menentukan Sitz im Leben, orang dapat menjelasakan perubahan-perubahan yang terjadi dan mengelupas lapisan-lapisan yang telah ditambahkan pada ucapan-ucapan Yesus. Hasilnya adalah ucapan-ucapan dalam kitab-kitab Injil, kembali kepada keadaan mereka yang asli atau murni.”
Penelitian bentuk ini terutama berasal dari Jerman pada tahun-tahun berakhirnya perang dunia pertama. Penelitian dari bentuk sastra Injil-injil Sinoptik ini tampak sebagai metode yang jelas dalam karya-karay L. Schmidt (1919), M. Dibbelius (1919), dan R. Bultmann (1921).

Kritik Redaksi
Kritik Redaksi berkembang setelah dan berdasarkan kritik bentuk. Selain itu kritik redaksi, yang memberi perhatian kepada seluruh Alkitab, juga menyiapkan sarana bagi lahirnya kritik naratif. Josh McDowel menjelaskan:
“Metode Kritik Redaksi ini menambahkan sebuah dimensi baru terhadap penelitian Perjanjian Baru, yaitu mengenai Sitz im leben (kedudukan dalam kehidupan) dari sang pengarang. Para penulis kitab-kitab Injil tidak hanya dianggap sebagai orang yang menghimpun bentuk-bentuk yang berbeda, melainkan mereka sendiri adalah pengarang. Mereka adalah orang-orang yang secara cermat telah menggubah simfoni sastra dengan memakai “bentuk” Injil yang dipelopori oleh penulis Injil Markus. Para penulis Injil dianggap sebagai para penggubah atau redaktor yang terutama menyatukan (menghimpun) karya teologis dan karya sastra, bukan karya sejarah. Penelitian redaksi berusaha menetapkan sudut pandang teologis dari sang penulis Injil. Para peneliti ingin mengetahui sumber-sumber atau catatan mana yang dipilih oleh penulis Injil, apa alasannya, serta dimana bagian tersebut cocok dengan catatannya secara khusus (dikenal sebagai ‘kelim-kelim’). Para peneliti ingin menemukan “perekat” teologis yang digunakan para pengarang untuk menyusun kitab-kitab Injil mereka.”
Terlihat jelas bahwa kritik redaksi menempatkan penulis Injil bukan hanya sejarahwan menurut mereka tetapi juga menjadi seorang teolog dalam memodifikasi dan membumbui tradisi historis. Penulis dapat kreatif, menambah dan membumbui tradisi historis bahkan dapat keluar dari peristiwa historis. Penganut Kritik redaksi menyebutkan beberapa cara kerja penulis Injil sebagai redaktur yaitu:
Mengaitkan bahan-bahan tertentu satu dengan yang lain
Menambahkan catatannya sendiri pada bahan tradisional
Menyusun ceritanya dalam urutan tertentu
Menanggapi atau menafsir bahan tradisional.
Didalam penelitian redaksi ini, para peneliti seringkali memberi perhatian besar pada kekhususan kitab-kitab tersebut, seakan-akan tidak ada kesamaan sama sekali dalam hal isi dan amanatnya.

Introduksi Injil Sinoptik
Matius

Penulis Injil Matius
Bukti External
Judul kitab ‘kata maqqaion’ atau ‘According to Matthew’ (menurut Matius) terdapat dalam MSS (manuskrip) mula-mula (kira-kira 125 A.D.)
Papias: “Matius menjelaskan ‘Logia’ dalam bahasa Ibrani dan setiap orang menafsirkannya sama seperti yang dapat ia (Matius) lakukan. “Kemungkinan besar Matius menulis dalam bahasa Aramik dan Yunani (tulisan asli yang diinspirasikan).
Irenaeus: “Sekarang Matius juga menerbitkan Kitab Injil diantara orang Ibrani dalam bahasa dialect mereka sendiri, yang mana petrus dan Paulus mengkotbahkan Injil itu di Roma dan jemaat yang didirikan.
Bukti Internal

  1. Penulis tidak mengidentifikasi dirinya sendiri secara langsung.
  2. Markus dan Lukas menyebutnya Matius dan Lewi (Markus 2:14); Matius menghapus nama Lewi, mengindikasikan bahwa Matius adalah penulisnya.
  3. Dalam perjamuan makan di rumah Matius, Markus menyebutnya ‘rumah orang itu’ (Markus 2:15) dan Lukas menyebutnya ‘di rumahnya sendiri’ (Lukas 5:29), sedangkan Matius menyebutnya ‘rumah Matius’ (Matius 9:10).
  4. Ia menunjukan pikiran dan karakteristik dari seseorang pemungut cukai dalam Injilnya:
  5. Ia adalah satu-satunya penulis Injil yng mencatat tentang pembayaran pajak Bait Suci (17:24-27).
  6. Ia menggunakan ‘hapax legomenon’ sebanyak tiga kali untuk termonologi moneter untuk uang upeti.
  7. Ia menunjukan tingkah laku dan karakteristik seseorang yang berprofesi sebagai pemungut cukai secara sistematis dalam Injilnya.
  8. Ia tertarik dengan jumlah (3:5).

Tradisi Gereja mula-mula.
Secara tradisi dari bukti-bukti ini Matius lebih cocok dari pada penulis lain. Matius ditekankan dalam Kis. 1:13, walaupun secara tradisi diakui bahwa ia menjadi misionari ke Etiopia dan Persia.
Tanggal penulisan
Bukti External – pertama ditemukan dikutip oleh Ignatius (kira-kira 115 A.D.)
Bukti Internal
Penekanannya yang sangat besar pada Eskatologi mungkin mengindikasikan masih hangatnya kedatangan Tuhan yang pertama dan janji kedatangan kedua kali (band. I dan II Tesalonika).
Tidak menyinggung kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 70 A.D.
Menubuatkan secara tidak langsung kehancuran Yerusalem dan Bait Suci (22:7)

Alamat pengirim dan tujuan
Kemungkinan besar ditulis di Antiokhia di Syria
Ditujukan kepada orang Kristen Yahudi yang tinggal Syria dan Palestina (Yerusalem dan sekitarnya).

Maksud penulisan:
Untuk memberitakan Injil dan menginstrusikan atau mengajar baik orang Yahudi dan non Yahudi tentang kebenaran bahwa Kristus adalah Mesias sesuai dengan garis keturunan Raja Daud dengan penggenapan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama.

Tema Injil Matius : “Yesus adalah Raja.”

Karakteristik Injil Matius

  1. Sangat bermotif ke-Yahudian: 33 kali menyebut ‘Kerajaan Sorga’ (hanya di Matius); 5 kali menyebut ‘Kerajaan Allah’; 9 kali menyebut ‘ Anak Daud’.
  2. Bentuk angka khusus — 3 kelompok silsilah, 3 pencobaan, 3 perintah (6:1-7:20), 3 oknum dalam Amanat Agung (28:19-20), dst.
  3. Stuktur (5 hal penting)
  4. Khotbah di atas bukit (5:1-7:29)
  5. Pengutusan misi (9:35-10:42)
  6. Perumpamaan tentang Kerajaan (13:1 dst)
  7. Ucapan-ucapan Yesus (18:1-35)
  8. Peristiwa di bukit Zaitun (23:1-25:46)

 

Tujuan Teologis.
Matius menangkap pengharapan Mesianik dan ekspektasi orang Yahudi. Ia memberikan petunjuk kepada pembacanya bahwa manusia sejati, Anak Daud, benar telah datang. Sementara penulis lain meyajikan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, maka Matius yang menyajikan Dia untuk orang Yahudi. Tujuan Injil Matius ada dua segi.

  1. Membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.
  2. Menyajikan kerajaan sesuai dengan rencana Allah

Injil Markus
Penulis Injil Markus
Bukti External:

  1. Papias mengatakan bahwa Markus menulis dari perkamen Petrus tetapi tidak selalu sama dengan susunan kronologinya.
  2. Irenaeus mengatakan bahwa ‘setelah kematian Petrus dan Paulus, Markus meyediakan bagi kita khotbah-khotbah Petrus dalam bentuk tulisan.
  3. Clement dari Alexandria, Origen dan Jerome juga menyatakan bahwa Injil Markus dihasilkan dalam hubungannya dengan Petrus.
  4. Judul kitab ‘kata markon’/According to Mark (menurut Markus) ditemukan dalam MSS kuno.

Bukti Internal:

  1. Banyak teolog percaya bahwa orang muda yang lari telanjang yang hanya dicatat dalam Injil Markus adalah Markus sendiri (Markus 14:51,52).
  2. Kelihatannya penulis hadir sebagai saksi mata dalam beberapa peristiwa (14:12-16). Sangat mungkin rumah yang dipakai adalah rumah mereka.
  3. Percakapan Malaikat dengan Petrus yang bersifat pribadi hanya dicatat dalam Injil Markus (16:7).
  4. Tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan pengakuan secara tradisi bahwa Markus anak Maria, kemenakan Barnabas adalah penulis Injil Markus.

Waktu Penulisan
Dalam tulisannya Paulus memuji pelayanan Markus (II Tim. 4:6-8), sulit dipercaya bahwa Markus dapat berbuat banyak sebelum jemaat dipuaskan dengan pelayanannya.
Markus menyinggung nama seseorang yaitu Rufus yang kemungkinan besar adalah nama yang sama disinggung Paulus dalam Roma 16:3.
Pandangn kaum Liberal yang memprioritaskan Injil Markus sebagai Injil pertama harus ditolak, karena asumsi mereka penulis Injil lain memakai sumber Markus untuk menulis Injil mereka. Dan jika demikian Alkitab hanyalah sebuah karya sastra belaka dan bukan Firman Tuhan.
O’Callahan menunjukkan bahwa sebagian fragmen dari Dead Sea Scroll mengandung Injil Markus di dalamnya dan akhirnya hal ini diperdebatkan apakah Dead Sea Scroll ditulis sebelum atau sesudah 50 A.D.

Alamat Pengirim dan Tujuan
Kelihatannya Markus menunjukkan tulisanya kepada pembaca Romawi karena ia berusaha menterjemahkan kata-kata Aramic dan ia menjelaskan adat istiadat Yahudi yang tidak perlu dilakukan kepada orang Yahudi. Dalam tulisannya ia lebih sering menggunakan ekspresi latin dari penulis-penulis lain.
Kemungkinan besar Rufus adalah orang Roma yang disinggung oleh Markus dan bisa jadi ia berada di Roma dan kemungkinan ia adalah penerima Injil Markus.
Diperkirakan Injil Markus ditulis ketika ia sedang bersama Perus (I Pet. 5:13) A.D.

Tujuan Injil Markus:
Tujuan Umum:
Memberitakan ‘kabar baik’ bahwa penebusan Tuhan Yesus Kristus untuk semua orang bahkan juga untuk orang non Yahudi. Penekanan utamanya adalah gambaran Kristus sebagai hamba yang datang untuk melayani dan memberikan hidupNya sebagai tebusan bagi banyak orang.

Tujuan Teologis:
Oleh karena orang Romawi adalah orang yang bekerja bukan orang yang berpikir, maka Markus menyajikan Kristus sebagai “Pekerja yang hebat daripada pemikir yang dalam, manusia yang menang melalui tindakan”. Gaya Markus, demikian pula isinya mencerminkan isi teologianya.
Tema Injil Markus: “Yesus adalah hamba yang menderita (Markus 10:45)”.
Karakteristisk Injil Markus
Kata ‘euquj’ (segera) dipakai sebanyak 42 kali
Kuasa: penekanan pada mujizat dan kontradiksi kebangkitan Kristus dengan kemunduran pemerintahan Roma.
Tertarik pada orang non Yahudi: hanya mengutip secara langsung kitab Perjanjian Lama sekali saja (11:17), dan sedikit sekali mencatat penggenapan nubuatan Perjanjian Lama dalam Injilnya.
Keterusterangan: ia menunjukkan sejumlah realitas tentang kegagalan murid-murid dan reaksi masyarakat terhadap Kristus, ini cocok sekali jika mewakili Petrus dan diketahui orang Roma.
Isu Pengakhiran Injil Markus (Mark. 16:9-20)
Menurut Critical text:
Kaum Liberal menyatakan bahwa Injil Markus mengakhiri “ Kabar Baik” – nya dengan kata “karena mereka takut” (16:8)
Yang lain berpendapat bahwa Markus meninggal sebelum menyelesaikan tulisan Injilnya.
Menurut Textus Receptus
Markus 16:9-20 tidak ditemukan hanya dalam codex ‘Aleph’ dan ‘B’ yang merupakan salinan Alkitab yang telah dirusak oleh para bidat gnostik dan tangan-tangan kotor.
Dikebanyakan MSS mayority ditemukan pada Markus, 16:9-20.
Ada isi theology yang penting adalah Mar. 16:9-20.
John Burgon mempertahankan keontentikan Markus 16:9-20, dan Markus 16:8 itu adalah akhir dari pembacaan dalam lectionary, bukan akhir dari Injil-nya.
Secara logika dari kisah yang dituliskan akan lebih dapat diterima Injil ini berakhir pada ayat 20 dari pada ayat 8.

Injil Lukas
Penulis Injil Lukas
Bukti Eksternal :
Bapa-bapa Gereja seperti Justinus Martyr, Irenaeus, Tertulian dan Origen menyatakan Lukas sebagai Injil Lukas (mereka adalah orang-orang yang hidup pada abad II, yang kemungkinan masih sangat jelas dengan berita Lukas).
‘Kanon Moratorian’ (+ 180) melaporkan Lukas sebagai penulis Injil Lukas.
Sangat tidak masuk akal Lukas yang kemungkinan besar orang non-Yahudi disebut penulis oleh jemaat mula-mula kalau bukan mereka tahu bahwa Lukas adalah penulisnya.
Bukti Internal:
Penulis bukan saksi mata, tetapi ia menggunakan metode ilmiah dalam riset sejarahnya untuk menulis Injil-Nya (1:1-3).
Penulis dapat dipastikan bukan orang Yahudi (kata ‘mereka’ berarti tidak termasuk dia (Kis. 1:19).
Kesatuan Injil Lukas dengan Kisah Para Rasul adalah sangat penting: terbukti ada banyak kesamaan diantara keduanya, misalnya: kesamaan gaya bahasa kata-kata yang dipakai, kelanjutan Injil Lukas (band. Lukas 1:1-3 & Kis. 1:1).
Kata ‘Kami’ dalam penekanan Kisah Para Rasul berarti didalamnya termasuk Lukas.
Dalam perjalanan Paulus: setiap Lukas bersama dia selalu memakai kata ganti orang kedua jamak ‘Kami’ (Kis. 16:6-11), dan memakai kata ganti ketiga jamak ‘Mereka’ kalau ia tidak bersama Paulus (Kis.20:1-6), sehingga kepenulisan Lukas terhadap Injil Lukas dan Kisah Para Rasul tidak diragukan lagi.
Waktu Penulisan
Sudah pasti sebelum Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul Diakhiri dengan pemenjaraan Paulus di Roma yang pertama, atau kira-kira tahun 60 A.D., sesuai dengan tanggal surat-surat penjara.
Oleh sebab itu Injil Lukas seharusnya ditulis sebelum Kisah Para Rasul Kira-kira pertengahan atau akhir tahun 50-an A.D.

Alamat pengirim dan tujuan
Beberapa kemungkinan telah ditawarkan ditulis di daerah Yunani, Kaisarea, atau Roma. Tetapi kemungkinan yang lebih dapat diterima di tulis di Yunani, atau setidaknya pengumpulan data dilakukan di Palestina.
Kelihatannya Lukas mengirim tulisannya kepada Teofilus yang tertarik pada kekristenan yang juga pejabat Roma.

Maksud dan tujuan penulisan
Memberikan pengetahuan rohani atau kemungkinan penginjilan lewat literature tentang kehidupan dan karya keselamatan Yesus Kristus.

Tema: “Yesus adalah sang Juruselamat yang datang sebagai Anak Manusia”.

Karakteristik Injil Lukas:
Lukas menekankan pekerjaan Roh Kudus dan nilai doa dalam hidup kita sebagaimana dalam kehidupan Kristus.
Injil Lukas sangat komprehensif atau menyeluruh sehingga menyebabkan Injil Lukas menjadi Injil yang terpanjang (jumlah kata dalam keseluruhan kitab Lukas)
Lukas menekankan kehidupan individu dari pada kelompok dan menaruh perhatian yang lebih besar terhadap wanita.
Karakteristik yang istimewa dari Injil ini adalah mulus dan indah dalam hal sejarah maupun sastra.

Tujuan teologis:
Lukas memiliki penekanan kosmopolitan, menekankan universalitas Injil dan bahwa Yesus adalah penebus dunia. Hal ini ditekankan melalui kaitan garis keturunan Yesus dengan Adam, nenek moyang manusia seluruhnya. Penekanan ini secara khusus juga dapat dilihat dalam penggunaan perumpamaan Lukas.

Pembahasan Teologi Sinoptik
Doktrin Allah
Sama seperti kitab-kitab yang lain dalam Alkitab, mereka memiliki keyakinan yang besar dan mendasar tentang Allah, yakni bahwa Allah ada, penuh dengan kemuliaan dan manusia harus terus-menerus bergantung pada-Nya. Injil Sinoptik juga memiliki bagian tentang semua ini. Para penulis Perjanjian Baru juga memiliki pandangan yang sama sebagaiman yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Injil Sinoptik juga secara jelas mencatat tentang atribut Allah.
Providensia Allah. (Mat.6:26, 10:29)
Ke-Bapa-an Allah (Mat.6:32)
Anugrah Universal dan personal (Mat. 5:45)
Penekanan Kerajaan Allah (Mat. 5: 34; 23:22)
Penghakiman Allah bagi semua orang (Mat. 3:7; 7:1; Luk. 3:7)
Kemuliaan Allah dinyatakan (Mat. 17:1-8)
Kebaikan Allah (19:17)
Kuasa Allah (Mrk.12:24-27)
Ketritunggalan Allah (Mrk. 1:9-11)

Doktrin Kristus
Dari tinjauan mengenai Kristus, Sinoptik secara jelas memberi gambaran tentang pribadi Kristus.
Kelahiran dari anak dara.
Matius dan Lukas menekankan bahwa kemanusiaan Yesus dikandung oleh Roh Kudus (Mat. 1:18; Luk. 1:13)
Matius memberikan penekanan yang cukup jelas tentang Maria yang tidak bersetubuh dengan seorang laki-laki sebelum kelahiran Yesus (Mat. 1:18-25)
Markus menekankan bahwa Yesus adalah “anak Maria” dari pada mengatakan anak Yusuf (kebiasaan Yahudi biasanya menggunakan nama ayah)
Kemanusiaan Kristus.
Ketiga Injil menekankan kemanusiaan Yesus.
Matius menekankan garis keturunan manusia-Nya (1:1-17), kelahiran-Nya sebagai manusia (1:25), dan masa kanak-kanak-Nya (2:1-23)
Lukas menekankan kelahiran-Nya dan status-Nya yang rendah (2:1-20), Ia menyesuaikan diri tentang tradisi Yahudi (2:21-24), dan mengalami pertumbuhan sebagai anak laki-laki muda (2:41-52).
Markus menekankan kemanusiaan Yesus lebih dari Matius dan Lukas melalui penekanannya pada karya, kehidupan dan aktivitas Yesus.
Ketiganya juga menekankan kemanusiaan-Nya dalam pencobaan.
Ketidakberdosaan Kristus.
Meskipun Sinoptik menyajikan Yesus sebagai manusia, mereka juga mengindikasikan Ia bukan manusia biasa, Ia lahir dari seorang anak dara dan tidak berdosa.
Karena lahir dari seorang perawan, ia tidak memiliki nature dan kecendrungan pada dosa.
Yesus memanggil manusia untuk bertobat tetapi tidak ada catatan bahwa Ia pernah mengaku dosa atau bertobat.
Baptisan-Nya adalah untuk “menggenapi seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15), bukan untuk pengakuan dosa (Mat.3:6).
Pencobaan-Nya juga untuk menekankan bahwa meskipun Ia diuji dengan semua ujian seperti dalam area kita, namun Ia tidak berdosa (Mat.4-1-11)
Pada waktu Ia menegur Petrus, Ia menyatakan bahwa Ia sama sekali tidak ada hubungan dengan dosa (Mat.16:23)
Keilahian Kristus
Matius menekankan Yesus sebagai anak Daud (Mat. 9:27), sangat jelas bahwa anak Daud merupakan Mesias yang dijanjikan dan melakukan pekerjaan Allah.
Matius secara terus menerus menyajikan Yesus sebagai Mesias demikian pula sebagai yang menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Mesias.
Asal mula Anak Manusia bermula dari Daniel 7:13 dimana Ia digambarkan sebagai yang penuh dengan kemenangan, membawa kerajaan kepada bapa. Posisi anak manusia disebelah kanan Bapa menghubungkan pada Mazmur 110:1 dimana Ia adalah Tuhan.
Yesus adalah Anak dalam pengertian unik yang absolut.
Karya penebusan
Kebangkitan Kristus.

Doktrin Roh Kudus
Sinoptik juga menggambarkan peranan Roh Kudus yang cukup signifikan terutama dalam hubungannya dengan Kristus.
Berkaitan dengan kelahiran Kristus dari anak dara: Matius dan Lukas menghubungkan konsepsi Yesus di kandungan Maria dengan Roh Kudus yang datang atasnya (Mat.1:18; Luk. 1:35).
Berkaitan dengan baptisan Kristus: Pada saat pembaptisan Yesus, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan mencurahkan kuasa untuk pelayanan kepada publik.
Berkaitan dengan pencobaan Kristus.
Berkaitan dengan pelayanan Kristus
Berkaitan dengan inspirasi kitab suci.

Doktrin Gereja
Sinoptik tidak mencatat perkembangan doktrin gereja. Kata gereja (ekklesia) digunakan hanya tiga kali dalam Matius dan tidak sama sekali dalam Lukas dan Markus. Sekalipun demikian, hal itu mengindikasikan bahwa cikal bakal gereja sudah muncul sejak awal.

Doktrin Akhir Zaman
Injil Sinoptik menyediakan materi yang cukup banyak berkaitan dengan akhir zaman.
Kata kerajaan (Yun. basileia) menonjol di Injil sinoptik, muncul 56 kali di Matius, 21 kali di Markus, 46 kali di Lukas. Matius juga menggunakan istilah raja lebih banyak dari kitab lain yang ada di Perjanjian Baru.
Injil sinoptik menekankan bahwa Yesus datang untuk mendirikan kerajaan millenial
Pengantar Teologi Kisah Para Rasul
Pendahuluan
Kisah Para Rasul bukanlah suatu unit tersendiri karena jelas bahwa ia ditulis sebagai kelanjutan dari Injil Lukas, dimana penulis berbicara tentang “bukunya yang pertama” (Kis. 1:1) dan menujukan tulisannya pada Teofilus. Ikthisar dari buku yang pertama, seperti yang termuat dalam Kisah Para Rasul 1:1-2, sangat sesuai dengan isi Injil Lukas dan cerita dimulai tepat pada titik dimana Injil Lukas berakhir.
Kisah Para Rasul disusun secara logis diseputar ikhtisar perkembangan geografi seperti yang dinyatakan dalam 1:8: “Kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, diseluruh Yudea, dan Samaria, dan sampai keujung bumi”. Bagian pertama setelah pembukaan menceritakan awal perkembangan di Yerusalem. Bagian yang kedua, menguraikan secara singkat pelayanan di Samaria, daerah pesisir dan Kaisera.
Ikhtisar Kisah Para Rasul juga dapat dibuat berdasarkan catatan perkembangannya dalam 2:47; 5:14; 6:7; 9:31; 12:24; 16:5; dan 19:20 tercatat pertumbuhan jumlah serta peningkatan mutu kehidupan rohani umat Kristen, yang menunjukkan bahwa Kisah Para Rasul menaruh perhatian pada perkembangan yang progresif dari Kekristenan.
Ikhtisar Kisah Para Rasul dapat pula dibuat berdasarkan pribadi-pribadi yang dimunculkan didalamnya. Pasal 1 sampai 5 dipusatkan pada Petrus; pasal 6 dan 7, pada Stefanus; pasal 8 hingga 12 memperkenalkan beberapa pribadi, yang paling menonjol diantaranya adalah Barnabas, Filipus, dan Saulus dari Tarsus; dan pasal 13 sampai selesai Paulus adalah tokoh yang paling dominan. Suatu perbandingan antara Petrus dan Paulus dapat dilihat dari pelbagai sudut: keduanya adalah pemimpin, yang satu dikalangan Yahudi, yang lain dikalangan orang bukan Yahudi. Petrus lebih banyak bekerja di Yerusalem; Paulus didunia luar Yahudi.
Kebenaran Kisah Para Rasul sudah sering dipertanyakan, namun belum pernah berhasil dipatahkan. Banyak kesulitan yang ditemui dalam menyelaraskan urutan waktunya dengan surat-surat kiriman, dan tidak semua penyebutan sejarah didalam Kisah Para Rasul dapat dipastikan karena seringkali data yang dibutuhkan tidak ada. Jalur cerita utama didalam Kisah Para Rasul menyangkut misi pemberitaan Injil ke utara melalui Antiokhia ke Asia kecil dan dari sana ke Makedonia, akhirnya ke Roma.
Ada dua alasan yang mungkin mendasari keterbatasan cerita ini. Yang pertama, penulis sendiri sangat memahami dampak penyebarluasan agama Kristen dan dengan demikian dapat memanfaatkannya dengan lebih berhasil-guna sebagai sarana untuk menjelaskan tema utamanya. Yang kedua, tujuan utama penulis adalah untuk mengajar pembacanya tentang kepastian Injil. Kelangsungan Injil sejak dinyatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya hingga saat ia menulis kitab harus ditujukan dengan jelas, karena Paulus adalah pemimpin dari misi kepada orang bukan Yahudi. Ia patut mendapatkan perhatian utama dan penjelasan tentang peralihan bangsa Yahudi kepada bangsa-bangsa lain, dari hukum Taurat menjadi karunia, dan dari Palestina kedunia luar tidak harus didukung oleh suatu pengamatan yang menyeluruh terhadap semua kejadian yang berlangsung dalam rangka pertumbuhan misi gereja Kristus.

Introduksi Kisah Para Rasul
Penulis Kisah Para Rasul
Bukti Eksternal
Hampir semua bapa gereja menyatakan Kitab ini ditulis oleh Lukas: Kanon Muratorian, Irenaeus, Yusebius, dll.
Secara tradisional kepenulisan Lukas terhadap kitab ini sangat dapat dipercaya.
Bukti Internal
Semua bukti tentang kepenulisan Injil Lukas adalah bukti bahwa Lukas menulis Kisah Rasul, karena surat ini adalah sambungannya.
Sangat jelas bahwa Lukas menulis dua buah buku, ungkapan “Dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diajarkan Yesus” (Kis. 1:1), menunujukan bahwa ia melanjutkan pekerjaannya melalui Roh Kudus (Band. Juga Gal. 4:4,6,. . . Allah mengutus AnakNya, . . . Allah telah menyuruh Roh AnakNya . . .”
Waktu Penulisan
Kisah Para Rasul mengakhiri catatannya dengan pemenjaraan Paulus yang pertama di Roma (+ 60 A.D).
Tidak menyinggung kematian Paulus dan kejatuhan Yerusalem berarti ditulis sebelum tahun 70 A.D.
Kira-kira ditulis antara tahun 59-61 A.D.
Maksud Dan Tujuan Penulisan:
Untuk menunjukan perkembangan sejarah institusi gereja lokal sebagai praktek Amanat Agung (Kis. 1:8). Catatan Lukas tentang pergerakan gereja juga dapat dilihat sebagai suatu apologetik bagi kekristenan.
Alamat Pengirim Dan Tujuan
Kemungkinan besar Lukas menulis di Roma ditujukan kepada Theofilus.
Tema Kisah Para Rasul: “Pergi melaksanakan Amanat Agung”.
Karakteristik Kisah Para Rasul
Kisah Rasul menekankan ‘home and foreign missions’, sebagai kunci ayat dan outline kitab ini (Kis. 1:8) : Yerusalem (1-7), Yudea dan Samaria (8), dan ujung bumi (9-28).
Walaupun banyak mujizat dicatat dalam kitab ini, namun sangat jelas sifatnya menurun, atau makin jarang (begitu juga dalam sejarah gereja).

Pembahasan Teologi Kisah Para Rasul
Doktrin Allah.
Kedaulatan Allah.
Lukas menjelaskan kematian Kristus sebagai hasil dari ketetapan Allah dan kemahatahuan Allah (Kis. 2:23).
Ketetapan Allah berarti “kehendak-Nya telah ditetapkan sebelumnya dan tidak fleksibel. Kedua frasa itu menekankan keteguhan dan ketidakbisaan diganggu gugatnya ketetapan itu.”
Kedaulatan Allah juga dilihat dalam pemilihan (Kis. 13:48).
Ketepatan jumlah dari orang-orang pilihan untuk hidup yang kekal.
Eksistensi Allah dan anugrah umum.
Di Listra, Paulus mendeklarasikan “Allah yang hidup” kepada para pendengarnya, mengingatkan mereka bahwa Ia adalah adalah pencipta. (Kis. 14:15-18). Juga kepada orang Atena bahwa Allah telah memberi mereka kehidupan (Kis. 17:22-31).

Doktrin Kristus
Penekanan Lukas sehubungan dengan Kristus di Kisah Para Rasul ada beberapa segi: penyaliban dan kematian-Nya, serta kebangkitan-Nya.
Penyaliban dan kematian Kristus.
Banyak pernyataan berkaitan dengan kematian Kristus merefleksikan tuduhan para rasul pada orang Yahudi dan penyaliban Kristus.
Kristus telah dipaku di atas kayu salib oleh orang fasik (2:23);
Kristus telah dipermalukan sampai mati, dengan penyaliban.
Ia yang benar telah dibunuh. (&:52).
Kebangkitan Kristus.
Beberapa tema berkaitan dengan kebangkitan ditekankan:
Kebangkitan Kristus telah dinubuatkan di Mazmur 16:8-11 dan digenapi di Mazmur 2:7 (Kis. 2:22-32; 13:33-37)
Kebangkitan Kristus diproklamasikan dengan kuasa yang besar (Kis. 4:2, 10, 33)
Allah tidak hanya membangkitkan Kristus tetapi juga meninggikan Dia pada posisi yang berotoritas (Kis. 5:31)
Kebangkitan Kristus juga dihadiri oleh para saksi (Kis. 10:40-41)
Kebangkitan Kristus menandai penghakiman masa yang akan datang (17:31)
Kebangkitan Kristus diproklamasikan pada orang Yahudi dan non- Yahudi untuk penggenapan dan nubuat itu (Kis. 26:23)
Kembalinya Kristus.
Pada saat kenaikan Kristus, para malaikat berjanji bahwa Kristus akan datang kembali dengan cara yang sama (Kis. 1:9-11).
Petrus mengumumkan zaman millennial pada waktu ia berbicara tentang “periode restorasi dari segala sesuatu” (Kis.3:21).

Doktrin Roh Kudus
Keilahian-Nya. Kis. 5:3-5 mencatat pernyataan utama berkaitan dengan keilahian Roh Kudus.
Pekerjaan-Nya. Melalui karyanya dalam pembaptisan orang percaya, Roh Kudus mendirikan gereja (1;5; 11:15-16). Roh Kudus aktif memenuhi orang percaya untuk bersaksi (1:8; 2:4; 4:31). Roh Kudus memimpin dalam pelayanan (8:26-30; 10:19; 20:23; 21:4,11).

Doktrin Keselamatan.
Keselamatan melalui beriman kepada Kristus (10:43)
Percaya mencakup pertobatan (20:21)
Keselamatan adalah melalui anugrah Allah (Kis. 16:14; 18:27).
Keselamatan terlepas dari jasa bentuk apapun (Kis. 15).

Doktrin Gereja.
Sebagaimana yang diharapkan, Kisah Para Rasul memberikan cukup banyak materi tentang doktrin gereja karena kitab ini merupakan catatan tentang lahir dan tumbuhnya gereja.
Formasi gereja. Gereja dibentuk melalui baptisan dari karya Roh Kudus.
Organisasi gereja. Para rasul merupakan fondasi gereja (Kis. 2:42), tetapi para penatua dipilih untuk memimpin gereja-gereja lokal (Kis. 14:23; 15:4). Penatua adalah pluralitas gereja. Diaken juga disebutkan dalam Kisah Para Rasul 6
Fungsi-fungsi di gereja. Kisah Para Rasul memberikan pandangan yang bernilai berkaitan dengan gereja:
Petunjuk adalah penting di gereja mula-mula (Kis. 2:24; 4:2 dst), yang melibatkan pengajaran dari kebenaran proporsional dan doktrin-doktrin.
Persekutuan yang melibatkan hal-hal materi (4:32-35; 6:1-3; 16:15, 34), perjamuan Tuhan, penderitaan.
Ibadah direfleksikan dalam penghormatan orang percaya kepada Tuhan (4:23-31)
Pelayanan yang paling dilibatkan adalah penginjilan.

 

Pengantar Teologi Yakobus

Introduksi Teologi Yakobus
Penulis Surat Yakobus
Bukti Eksternal:
Bapa-bapa gereja bagian Timur (Origen, Eusebius) menunjuk kepada Yakobus sebagai penulis, walaupun pengakuan bapa-bapa gereja bagian Barat sebagai bagian dari kanon lebih belakangan.
Bukti Internal:
Penulis menyebut dirinya hamba Yesus Kristus.
Ini adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (Matius 13:55), yang tadinya tidak percaya kepada Tuhan Yesus sampai hari kebangkitan-Nya (1 Kor. 15:7), karena Yakobus (saudara Yohanes) murid Tuhan Yesus telah menjadi martir (Kis. 12:2).
Adanya kesamaan bahasa dalam surat Yakobus dengan perkataan Yakobus di Kisah Para Rasul 15
Adanya kesamaan antara surat ini dengan pengajaran Yesus.
Waktu Penulisan:
Diperkirakan ini adalah literature Kristen yang pertama, bahkan lebih awal dari Injil Matius. Alasannya adalah karena teologi-nya masih sangat sederhana, terutama masalah ekklesiology-nya dan juga penekanannya pada hal-hal praktis yang diperlukan untuk mengendalikan jemaat baru dan membedakan mereka dari kelompok Yudaistic Gnostic (45 A.D).
Alamat Penulis dan yang Dituju:
Ditulis di Yerusalem dan di tunjukan kepada orang-orang Kristen Yahudi diaspora diseluruh wilayah pemerintahan Roma.
Tujuan Surat Yakobus:
Menguatkan iman dan memberi nasehat praktis dimasa mengahadapi pencobaan dan penganiayaan.
Tujuan Teologis:
Orang percaya Ibrani menghadapi pengadilan-pengadilan, penganiayaan-penganiayaan dari orang Yahudi yang tidak percaya. Oleh karena orang percaya tidak mengetahui bagaimana mengerti atau menghadapi penganiayaan, maka Yakobus menulis untuk memberikan pandangan kepada mereka. Tujuannya adalah memberikan pengoreksian pada semangat kedagingan yang ada, memperlihatkan iman sebagai penawar masalah tersebut.
Tema Surat Yakobus: “Semakin dewasa didalam Kristus”.
Karakteristik Surat Yakobus:
Lebih dari 100 kali menunjuk kepada kitab Perjanjian Lama.
Banyak referensi untuk karakteristik Perjanjian Lama.
Ia menekankan manusia sempurna adalah yang tidak berdosa dengan mulutnya

Pembahasan Teologia Yakobus
Doktrin Kitab Suci.
Sehubungan dengan kitab suci maka ada beberapa poin yang dapat dilihat dalam kitab Yakobus.
Ada penekanan yang kuat atas Perjanjian Lama di kitab Yakobus. Dalam lima pasal Yakobus menunjuk pada penjelasan kedua puluh kitab Perjanjian Lama.
Ada penekanan pada pengajaran Yesus. Yakobus berisi lima belas kiasan dari khotbah di Bukit (Mat. 5:22; 3:12; Mat. 7:16; 4:11; 7:1)
Ada penekanan atas otoritas kitab suci
Ada penekanan atas karya Kitab Suci

Doktrin Allah
Pandangan Yakobus tentang Allah merefleksikan konsep dari relasi bersyarat antara orang Israel dengan Allah di bawah hukum Musa: ketaatan membawa berkat, ketidaktaatan membawa hukuman (Ul.28). Jadi Yakobus menyajikan orang berdosa sebagai musuh Allah; pertemanan dengan dunia akan membuat seseorang menjadi musuh Allah (4:4-5)

Doktrin Manusia dan Dosa
Yakobus menghubungkan doktrin dan aplikasi pada waktu ia menasehati pendengarnya untuk mengontrol lidah, karena lidah manusia digunakan untuk melawan sesama manusia yang diciptakan menurut Allah. Meskipun manusia dibuat berdasarkan gambar Allah tetapi karena kejatuhan manusia ia menjadi berdosa, memiliki nature dosa seperti yang dijelaskan Yakobus sebagai hawa nafsu (1:14). Hawa nafsu inilah yang merupakan respon dari dalam ke luar sebagai keinginan dan menghasilkan dosa (1:15). Pembahasan Yakobus dalam isu ini penting, karena ia memberikan pengertian yang lebih jelas tentang bagaimana dosa itu terjadi dibandingkan dengan bagian lain kitab suci. Yakobus menunjuk pada dosa (Yunani; hamartia,”meleset dari sasaran”) enam kali, dosa berasal dari hawa nafsu yang ada di dalam diri manusia (1:15); akibat dosa adalah dalam hal rohani dan kematian yang kekal (1:15); dosa memperlihatkan kasih yang pilih-pilih dan tidak mengasihi (2:8-9); dosa gagal untuk berbuat baik (4:17); dosa dapat diampuni (5:15, 20). Yakobus juga menyebut dosa (Yunani: parabates) sebagai suatu pelanggaran pada standar Allah (2:9,11).

Doktrin Keselamatan
Yakobus berbicara banyak tentang iman. Iman adalah cara manusia untuk dapat mendekati Allah (1:6; 5:15); iman harus dalam Yesus (2:1); dan perbuatan manusia akan mendemostrasikan realitas dari iman (2:18). Perbedaan antara Paulus dan Yakobus adalah bukan iman versus perbuatan, melainkan perbedaan dari relasi. Yakobus menekankan perbuatan dari orang percaya dalam relasi dengan iman dan Paulus perbuatan Kristus dalam relasi dengan iman.

 

Pengantar Teologi Ibrani
Introduksi Kitab Ibrani
Kitab Ibrani merupakan salah satu surat yang cukup istimewa dalam kanon PB. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan pendahuluan berkaitan dengan pembaca, waktu dan tujuan penulisan memiliki kepentingan yang khusus dalam membahas teologi Ibrani. Pandangan yang diambil berkaitan dengan isu-isu ini akan menentukan penafsiran dari teologi Ibrani.
Penulis Ibrani
Bukti Eksternal:
Eusebius mengatakan bahwa, “Siapapun yang menulis surat ini, Allah tahu ini adalah kebenaran.”
Bapa-bapa gereja Timur, tradisional dan konservatif, menerima kepenulisan Paulus terhadap surat Ibrani (Clement dari Alexandria, Origen).
Bapa-bapa gereja Barat menolak kepenulisan Paulus terhadap surat Ibrani (Hippolytus dan Irenaeus).
Bukti Internal:
Ini adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Baru yang tidak menyebutkan nama penulisnya, namun bukti internalnya bisa menolong.
Penulisnya adalah seorang jenius dalam hal intelektual dan rohani dari abad I yang sangat dikenal oleh penerima surat.
Penulisnya adalah seseorang yang sangat faham tentang perbedaan doktrin kekristenan dan segala perkembangannya atas Yudaisme.
Penulis alternatif: Apollos, Barnabas, Lukas, Priskilla, Sillas dsb.
Argumentasi yang dikemukakan untuk menentang kepenulisan Paulus – berdasarkan pandangan tradisional):
Tidak ada namanya dan dalam 2 Tes. 3:17, Paulus mengatakan ia adalah rasul untuk orang non-Yahudi, sehingga membuat janji-janji itu untuk jemaat-jemaat non-Yahudi;–Ia tidak mendasarkan argumentasinya untuk menjelaskan Yudaisme dengan kekristenan di atas otoritas kerasulannya, tetapi di atas otoritas Perjanjian Lama.
Style tulisan dan vocabulary ada banyak yang tidak ada dalam surat Paulus Argumentasi ini sangat lemah mengingat isi surat khusus mengandung banyak istilah Perjanjian Lama yang tentu tidak dipakai kalau menulis surat kepada orang non-Yahudi.
Penulis adalah generasi pertama diantara orang-orang percaya (2:3) – bagian ini generasi pertama, bukan diterima oleh mereka; Wahyu hanya dapat dikuatkan oleh wahyu.
Perbedaan doctrinal – perbedaan audience membuat perbedaan subyek dan sekaligus perbedaan penkanan theological.
Cronology situasi – ini mungkin ditulis pada permulaan pemenjaraan Paulus kedua di Roma ketika Paulus masih optimis untuk mengunjungi penerima surat (13:23).
Pandangan Tradisional:
Petrus menunjukan bahwa Paulus menulis sebuah surat kepada orang Yahudi yang sulit dipahami (2 Petrus 3:15,16 band. 1 Pet. 1:1). Tidak ada bukti internal yang menyisihkan Paulus sebagai penulis; pada kenyataannya, ada banyak bukti yang menerima Paulus sebagai penulis sama dengan menerima Matius sebagai penulis Injil Matius. Tak seorangpun dapat membuktikan bahwa Paulus bukan penulis.
Waktu Penulisan
Jika Paulus diakui sebagai penulis, maka waktu penulisannya sekitar tahun 64-67 A.D.; dan pengungkapan aktivitas penyembahan di Bait Suci ia memakai present tense (masih berlangsung) berarti sebelum tahun 70 A.D., karena tahun 70 A.D Bait Suci dihancurkan.
Alamat Penulis dan yang Dituju: tempat penulisan tidak diketahui tapi isinya untuk sekelompok orang Yahudi
Tujuan Penulisan
Menunjukan keutamaan Kristus atas semua system Perjanjian Lama dan menunjukan bahwa orang yang mengundurkan diri tidak memiliki keyakinan iman.
Maksud Teologis
Maksud teologis dari kitab ini adalah untuk mendemostrasikan superioritas dari Kristus dan kekristenan terhadap Yudaisme. Orang Kristen Ibrani ini menderita dan putus asa, dan Paulus membicarakan keadaan ini serta mendorong mereka menuju kedewasaan.
Tema Surat Ibrani: “Yakin di dalam Kristus”
Karakteristik Surat Ibrani:
Orang benar akan hidup oleh iman sangat ditekankan disini (11), memiliki kemiripan dengan tulisan Paulus (Roma 1:17)
Banyak berisikan peringatan
Paling kurang ada 13 kali ajakan yang berbunyi ‘baiklah kita’/ ‘marilah kita’.
Pembahasan Teologi Ibrani
Doktrin Allah
Penulis Ibrani menekankan baik Pribadi dari Allah yang mulia dan cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia.
Pribadi-Nya:
Penulis menggambarkan Bapa sebagai yang ditinggikan di surga, bertakhta di tempat yang tinggi (1:3). Frasa itu adalah suatu sebutan bagi Allah yang dinyatakam di Mazmur 110:1. Gambaran yang sama ditulis di 8:1 dimana istilah “yang mulia” kembali digunakan. Karena kitab ini ditulis bagi orang Yahudi, tidak diragukan hal itu menunjuk pada “kemuliaan yang bertakhta di Kursi Kemurahan di Tempat Yang Maha Kudus.”
Penulis juga membahas bagaimana menghampiri Allah dengan menunjuk pada Takhta-Nya.
Orang percaya Yahudi diingatkan bahwa Allah mereka adalah Allah yang hidup, berbeda dengan ilah-ilah yang mati. Penulis mendorong mereka untuk tidak kembali ke sistem yang mati tetapi melayani Allah yang hidup. (Ibr. 9:14; 10:31; 12:22).
Penggunaan api sebagai figure Allah melambangkan penghakiman Allan (12:19). Hal ini berhubungan dengan tema Ibrani dalam memperingatkan mereka untuk tidak meninggalkan Allah yang hidup.
Kitab ini ditutup dengan menyebut Allah sebagai damai (13:20). Ia dapat memberikan damai kepada orang Yahudi di tengah penganiayaan.
Wahyu-Nya
Pernyataan tentang wahyu Allah adalah melalui Putra-Nya (1:1-2). Di Perjanjian Lama, Allah berbicara setahap demi setahap dan dengan berbagai cara, tetapi klimaks dari wahyu-Nya adalah dalam Pribadi Putra-Nya.
Sebagai saksi dari wahyu di dalam Kristus, Allah mempertunjukkan mujizat-mujizat melalui tangan-tangan para saksi-Nya, para rasul, yang menyaksikan keselamatan akbar di dalam Kristus (2:4).
Kebesaran anugrah Allah terlihat, karena melaluinya, Kristus mati bagi semua orang.

Doktrin Kristus
Kristologi terlihat jelas merupakan tema utama Ibrani. Dalam perkembangan kitab ini, penulis memperlihatkan superioritas Kristus terhadap nabi (1:1-3), malaikat (1:4-2:18), Musa (3:1-4:13), dan Harun (4:14-10:39). Penekanan Kristologis adalah penting pada saat mempertimbangkan siapa pembacanya. Dan penulis Ibrani memperlihatkan berbagai segi dari Kristus untuk mendemontrasikan keunggulan-Nya.
Sebutan. Sebutan Kristus (Yang Diurapi) digunakan di seluruh surat-surat (3:6,14; 5:5; 6:1; 9:11, 11, 14, 24, 28; 11:26). Hal itu merupakan suatu peringatan bahwa Yang Diurapi, Mesias sebagai seorang Raja, telah datang.
Nama kemanusiaan-Nya, Yesus, menekankan bahwa dalam kemanusiaan-Nya sebagai imam besar manusia, ia telah mencapai apa yang tidak dapat dilakukan oleh imam besar Lewi.
Istilah Putra digunakan untuk menekankan relasi yang lebih besar yang dimiliki Yesus dengan Bapa (1:2,5,8: 3:6; 5:5, 8;7:28).
Kristus juga ditunjuk sebagai Imam Besar yang permanen, yang telah menjadi korban pendamaian bagi dosa (2:17)
Keilahian. Keilahian Yesus diteguhkan melalui nama yang diberikan kepada-Nya. (1:8-10). Melalui nature intrinsic-Nya dan keberadaan-Nya sebagai “cahaya dari kemulian-Nya.” Juga melalui karya-Nya. Ia merupakan pencipta masa, penerima dari segala yang ada (1:2) dan pemelihara.
Manusia tak berdosa. Penulis Ibrani menekankan kesejatian, ketidakbercelaan dari kemanusiaan Yesus, sehingga Ia dapat menjadi korban yang sempurna bagi dosa.
Keimaman. Kristus adalah paling tinggi karena Ia adalah imam menurut aturan Melkisedek, tidak menurut keimaman Harun. Keimaman Kristus yang menurut Melkisedek adalah superior.

Doktrin Roh Kudus
Meskipun doktrin Roh Kudus tidak dibahas secara panjang lebar, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kitab Ibrani:
Tanda karunia diperlihatkan melalui kedaulatan kehendak Roh Kudus (2:4)
Roh Kudus merupakan penulis dari kitab suci (3:7; 9:8; 10:5)
Keselamatan menjadikan seseorang mendapatkan bagian dalam Roh Kudus (6:4)
Menolak keselamatan melalui Kristus adalah melawan Roh Kudus (10:29).

 

Doktrin Dosa

Doktrin dosa dalam Ibrani merupakan hal yang paling fundamental, karena tema Ibrani adalah peringatan bagi orang Ibrani Kristen untuk tidak berbalik kembali kepada Yudaisme. Oleh karena itu berarti berdosa kepada Kristus.

Doktrin Keselamatan
Dalam mengkontraskan Kristus dengan malaikat, penulis menjelaskan bahwa fungsi dari malaikat adalah untuk menjadi penolong bagi mereka yang telah mewarisi keselamatan. Ibrani juga menegaskan bahwa Keselamtan Kristus merupakan puncak dari semua. Implikasinya Kristus menjadi jauh lebih utama dari persembahan korban Perjanjian Lama.
Superioritas Kristus dalam keselamatan terlihat dalam Ia mengalami kematian bagi semua orang (2:9), dan melalui kematian-Nya Ia membawa “banyak anak-anak pada kemuliaan” (2:10). Fakta bahwa keselamatan dari Yesus dapat membawa banyak anak pada kemuliaan menekankan finalitas dan jaminan hal itu. Penulis kemudian menekankan ketaatan dan ketundukan penuh dari Kristus pada kehendak Bapa; melalui ketaatan yang sempurna Kristus telah menjadi sumber keselamatan yang kekal (5:9). Orang percaya Ibrani butuh untuk mengetahui kebenaran-kebenaran yang signifikan ini, tetapi mereka bodoh dan perlu diajar doktrin-doktrin dasar iman.

 

Pengantar Teologi Paulus
Latar Belakang dan Pendidikan
Paulus lahir sekitar 3 AD dari keluarga terpandang. Ia berkewarganegaraan Romawi (Kis. 22:28) dan berdomisili di kota Tarsus. Paulus dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang ketat, disunat pada hari kedelapan, dan dari suku Benyamin (Flp.3:5). Paulus kemudian dilatih di Yerusalem di bawah Gamaliel, seorang Farisi dan anggota terhormat dari Sanhedrin (Kis.5:34). Gamaliel adalah satu-satunya dari tujuh sarjana dalam sejarah bangsanya yang menerima sebutan “Raban” (tuan kami). Gamaliel adalah cucu Hillel, pendiri sekolah penafsiran yang memakai namanya. Paulus sendiri menjadi Farisi, pengikut ketat pada hukum tradisi Yahudi. Oleh karena ketaatan yang ketat pada Yudaisme dan tradisi penatua menyebabkan dia menganiaya gereja.
Garis Besar Perjalanan dan Pelayanan
Setelah pertobatannya pada akhir tahun 33 atau awal 34 AD, Paulus menghabiskan beberapa bulan di Damaskus (Kis.9:23; Gal.1:17); pada waktu lawannya berusaha untuk membunuhnya ia berusaha kembali ke Yerusalem (Kis.9:26). Tidak lama setelah itu, ia pergi ke kampung halamanya di Tarsus (Kis.9:30). Ia menghabiskan 3 tahun di Arabia, bisa jadi dalam suatu bentuk pelayanan yang ia mulai langsung setelah pertobatannya. Setelah itu ia kembali ke Yerusalem (kis.11:30; 12:25; Gal.2:1-21). Disitulah gereja mengkhususkan Paulus dan Barnabas untuk melakukan perjalanan misi yang pertama. Selama perjalanan itu mereka mengabarkan Injil di Asia Kecil dan pulau Siprus. Pada waktu orang Yahudi menolak Injil, di Asia Kecil inilah Paulus memulai pelayanannya kepada orang non-Yahudi. Pola khas dari pelayanan Paulus adalah sebagai berikut: ”diawali dengan pemberitaan kepada orang yahudi dan non-Yahudi pengikut Yudaisme, baik yang porselit sepenuhnya atau yang asosiasinya lebih bebas, kemudian setelah ditolak oleh para pendengar di sinagoge, maka dilanjutkan secara pelayanan secara langsung kepada orang non-Yahudi.” Sidang di Yerusalem terjadi pada tahun 49 AD (Kis.15) dan menyelesaikan suatu keputusan untuk isu yang penting, dimana keputusan itu memungkinkan Paulus dan yang lain untuk terus memberitakan Injil pada orang non-yahudi tanpa harus menyahudikan mereka; orang non-Yahudi tidak dituntut untuk disunat. Keputusan itu penting untuk menjaga kemurnian Injil dan memisahkan hukum dan anugrah. Perjalanan misi yang kedua (49-52 AD, Kis.15:36-18:22) dilakukan oleh Paulus dan Silas melintasi Asia Kecil, dimana mereka kembali mengunjungi gereja-gereja, dan kemudian melanjutkan ke Eropa (Kis.16:11 dst). Perjalanan misi ketiga (53-57 AD; Kis.18:23-21:16) dilakukan Paulus ke Efesus, dimana ia menghabiskan waktu hampir 3 tahun, dan kemudian dilanjutkan ke Makedonia dan Akhaya. Ia di tahan di Yerusalem dalam perjalanan kembali dan di penjarakan di Kaisarea (58 AD; Kis.24:1-26:32). Paulus mengajukan banding ke Kaisar dan ia menghabiskan waktu dua tahun di penjara. Paulus dibebaskan dari pemenjaraan pertama di Roma, kemudian dia melayani dari tahun 63-66, kemungkinan ia melakukan perjalanan ke Spanyol, dan kembali ditahan dan diekskusi di Roma pada tahun 67 AD (2Tim.4:6-8).
Kronologi Kehidupan Paulus
Tanggal: AD Peristiwa
3(?) Kelahiran Paulus
18-30 Pelatihan di Yerusalem
33/34 Pertobatan
34-36 Di Arab
46 Di Yerusalem
46-48 Perjalanan Misi yang Pertama: Asia Kecil
48-49 Sidang Yerusalem
49-52 Perjalanan Misi yang Kedua: Asia Kecil dan Eropa
53-57 Perjalanan Misi yang Ketiga: Asia Kecil dan Eropa
58-60 Pemenjaraan di Kaisarea
60-61 Perjalanan ke Roma
61-63 Pemenjaraan di Roma
63-66 Pelayanan sampai ke Spanyol
66-67 Pemenjaraan di Roma dan ekskusi

Pembahasan Teologia Paulus
Doktrin Allah
Teologi Paulus merepresentasikan sebuah gambaran yang tinggi berkaitan dengan Allah. Paulus memgambarkan Allah sebagai yang berdaulat, dan yang menyatakan diri-Nya sendiri melalui anugrah di dalam Yesus Kristus (Rm. 1:16-17; 3:21; 1 Kor. 2:10; 2 Kor. 12:7). Di mana melalui anugrah itu, tujuan Allah dari sejak kekekalan telah dinyatakan dalam waktu pada saat sekarang.
Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri melalui penghakiman atas orang tidak percaya (Rm. 1:18; 2:5; 2 Tes.1:7).
Murka (orge) mengekspresikan, “kedalaman murka Allah terhadap dosa. Kemarahan ini berasal dari kekudusan dan kebenaran-Nya. Karena kekudusan-Nya, maka Allah tidak dapat mengabaikan dosa.”
Pernyataan Diri Allah dalam berkat-Nya.
Allah menyatakan Diri-Nya sendiri dalam berkat-berkat-Nya yang mulia kepada orang percaya (Rm. 8:18-19; 1 Kor. 1:7; 3:13; 4:5; 2 Kor.5:10).
Kedaulatan.
Konsep kedaulatan Allah mendominasi penulisan Paulus. Ia memberikan sejumlah istilah untuk menekankan konsep ini.
Predestinasi (Yunani; proorizo) berarti “menandai dengan batasan sebelumnya”. Predestinasi digunakan 6 kali dalam PB, dan 5 kali muncul dalam tulisan Paulus.
Kemahatahuan (Yunani; proginosko) berarti “mengetahui sebelumnya, mengambil catatan dari, menetapkan atas dasar” (Rm.8:29; 11:2). Kemahatahuan “menekankan bukan hanya pengetahuan sebelumnya tetapi suatu relasi aktif antara yang mengetahu sebelumnya dengan yang diketahui sebelumnya”
Pilihan (Yunani:ekklegomai) berarti “dipanggil keluar” (Ef.1:4; 1 Tes.1:4). Berkat-berkat Efesus 1:3 disadari oleh orang percaya karena Allah memilih orang percaya dari sejak kekekalan (Ef. 1:4). Pilihan Allah menekankan pada Ia memilih orang percaya bagi Diri-Nya sendiri.
Adopsi. (Yunani: huiothesia) berarti “menjadikan anak” (Ef.1:5), kata ini menekankan upacara Romawi bagi seorang anak yang telah diadopsi kepada status dewasa dengan segala hak yang berkaitan dengan itu. Adopsi adalah hasil predestinasi Allah pada orang percaya sejak kekekalan.
Dipanggil (Yunani; kletos) menunjuk pada panggilan Allah yang efektif untuk keselamatan (Rom.1:1,7;8:28). Ini merupakan panggilan Allah yang memampukan seseorang untuk percaya. Istilah ini berhubungan dengan pilihan yang tidak bersyarat (Allah memilih kita tanpa berdasarkan jasa kita).
Tujuan (Yunani; Protithemi) berarti “menempatkan sebelum” dan mengusulkan tujuan Allah dalam diri-Nya sendiri untuk meringkaskan semua dalam Kristus (Ef. 1:9-10).
Kehendak (Yunani: boule) menunjuk pada hikmat kedaulatan Allah pada waktu Ia bertindak berdasarkan kedaulatan dalam hal menjamin keselamatan orang percaya, tetapi juga tentang pekerjaan Allah dalam segala sesuatu, yaitu di mana semua sejarah berjalan sesuai kehendak Allah yang berdaulat.
Konklusi penting berkaitan dengan pengajaran Paulus tentang kedaulatan harus dicermati:
Sumber utama dari predestinasi adalah kemutlakan kedaulatan Allah.
Tujuan predestinasi adalah keselamtan, dan isunya adalah pelayanan.
Predestinasi tidak mengesampingkan tanggung-jawab manusia.

Doktrin Kristus
Kemanusiaan.
Paulus bukan hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang paling kuat tentang keilahian Kristus, ia juga menekankan isu tentang kemanusiaan Kristus. Krsitus dilahirkan dari seorang perempuan (Gal. 4:4). Ia memiliki kemanusiaan dari ibu duniawi-Nya dan memiliki keturunan fisik dari Daud (Rm. 1:3; 2 Tim.2:8). Kristus juga sama sekali tidak berdosa (2 Kor.5:21)
Keilahian
Suatu teologia yang telah berkembang penuh tentang keilahian Kristus dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Paulus. Penekanan Paulus bahwa Kristus adalah “dari surga” (1 Kor.15:47; 2 Kor.8:9) mengusulkan praeksistensi-Nya dan kekekalan-Nya. Paulus menyatakan bahwa kepenuhan keilahian ada pada Kristus (Kol. 2:9). Keilahian (Yunani: theotes) “menekankan natur keilahian atau esensi…Ia dulu dan seterusnya adalah Allah yang mutlak dan sempurna”. Kristus eksis dalam rupa Allah (Yunani: morphe) mengusulkan warisan karakter atau substansi esensial dari pribadi itu. Kristus dalam nature esensial eksis sebagai Allah.
Ketuhanan
Yesus disebut Tuhan adalah suatu studi yang penting karena sebutan Tuhan muncul paling sedikit 144 tambah 95 kali lagi dalam hubungan dengan nama Yesus Kristus.
Tuhan menunjuk pada keilahian-Nya (Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3; Flp. 2:9).
Tuhan menunjuk pada kuasa (Flp. 2:9). Ketuhanan diberikan kepada Kristus “ yang sekarang setara dengan Allah dimanifestasikan secara khusus dalam fakta bahwa semua kuasa yang tidak kelihatan dari ciptaan tunduk kepada-Nya”
Tuhan menunjuk pada kedaulatan (2 Kor.4:5; Rm.14:5-9)
Tuhan menunjuk pada kerajaan Yesus dan pemerintahan-Nya (1 Tim. 6:15; 1 Kor.15:25).

Doktrin Roh Kudus
Teologi Paulus memberikan pembahasan yang panjang lebar, baik tentang Pribadi maupun karya Roh Kudus.
Pribadinya. Atribut-atribut Pribadi Roh Kudus berikut ini dibahas dalam surat-surat Paulus.
Intelektualitas. Roh Kudus menyelidiki hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor.2:10) dan kemudian mengajarkannya kepada orang percaya (1 Kor.2:13).
Kehendak. Roh Kudus memiliki kehendak dimana di dalamnya Ia mendistribusikan pemberian-pemberian “sesuai dengan kehendak-Nya” (1 Kor.12:11). Roh Kudus memberi bukan berdasarkan kehendak manusia, tetapi berdasarkan kehendak-Nya sendiri.
Emosi. Roh Kudus dapat didukakan (Ef. 4:30)
Keilahian-Nya. Keilahian Roh Kudus terbukti dalam Ia menjadi pengantara seperti Kristus (Rm. 8:26-27,34) dan Ia mendiami orang percaya bersama dengan Bapa dan Putra (Rm. 8:9-11).
Kuasanya. Tulisan Paulus juga meneguhkan banyak karya penting yang dilakukan Roh Kudus sebagai salah satu anggota penting Tritunggal.
Ia meregenerasikan. Roh Kudus membawa hidup baru kepada orang percaya (Tit. 3:5).
Ia membaptis. Roh Kudus mempersatukan orang percaya dengan Tuhan mereka dengan menempatkan mereka ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13).
Ia mendiami. Roh Kudus mendiami setiap orang percaya.
Ia memeteraikan. Roh Kudus memberi tanda identitas Allah dan kepemilikan atas orang percaya; Ia adalah materai itu sendiri dan memverifikasi keselamatan mereka (Ef.1:13; 4:30).
Ia memberikan karunia.
Ia memenuhi. Roh Kudus mengontrol orang percaya pada waktu kondisi mereka dipenuhi (Ef. 5:18)
Ia memberi kuasa. Roh Kudus memampukan orang percaya untuk hidup berdasarkan kuasa-Nya (Gal. 5:16).
Doktrin Dosa
Paulus menggunakan sejumlah kata-kata Yunani yang berbeda untuk menjelaskan nature dosa.
Hamartia adalah kata umum yang digunakan untuk menjelaskan tindakan berdosa (Rm. 4:7; 11:27). Hamartia mengaitkan kematian Kristus dengan dosa manusia (1 Kor.15:3). Dalam bentuk jamak, kata itu menunjuk pada akumulasi dosa (Gal.1:4), sedangkan dalam bentuk tunggal kata itu menunjuk pada keadaan berdosa (Rm.3:9, 20; 5:20; 6:16, 23).
Paraptoma menunjuk pada langkah yang salah, dikontraskan dengan yang benar (Rm. 4:25, Gal. 6:1; Ef. 2:1).
Parabasis berarti melangkah keluar, suatu penyimpangan dari iman yang benar (Rm. 2:23; 4:15; Gal. 3:19).
Anomia berarti tanpa hukum atau pelanggaran (2 Kor.6:14; 2 Tes. 2:3)
Dosa adalah sebuah hutang, mengusulkan obligasi manusia dan ketidakmampuan manusia untuk membayar hutang itu (Ef. 1:7; Kol. 1:14). Hal itu merupakan bentuk penyimpangan dari jalan yang lurus. Dosa tanpa pengenalan akan hukum dan menjadi pemberontakan (Rm. 11:30; Ef.2:2; 5:6; Kol. 3:6), yang menyangkut tindakan eksternal maupun internal.

Doktrin Keselamatan
Paulus memberikan beberapa tema-tema besar sampai pada pengembangan yang penuh. Doktrin Paulus tentang soteriologi berpusat pada anugrah Allah; Allah yang berinisiatif dalam menyelamatkan manusia berdasarkan anugrah-Nya semata-mata. Karya penebusan Kristus memuaskan keadilan Allah dan membebaskan manusia dari ikatan dosa dan menyatakan pembenaran yang legal bagi orang percaya.
Pengampunan.
Pada waktu Allah mengampuni pelanggaran-pelanggaran kita, Ia melakukannya berdasarkan anugrah (Kol. 2:13). Diampuni (Yunani; charizomai) berarti “menganugrahkan berdasarkan kemurahan, memberikan dengan murah hati, mengampuni berdasarkan anugrah”. Kata itu erat kaitannya dengan kata anugrah. Kata lain dari Paulus untuk pengampunan (Yunani: aphesis) memiliki suatu arti dasar “membebaskan” atau “menyuruh pergi” tetapi secara teologi berarti “mengampuni” atau “membatalkan suatu obligasi atau hukuman” (Ef. 1:7: Kol.1:14). Anugrah Allah mencapai puncaknya dalam teologi Paulus pada waktu ia meninggikan kemuliannya, dimana Allah dengan murah hati telah membatalkan hutang dosa yang tidak dapat dibayar oleh manusia.
Penebusan.
Kata penebusan (Yunani: apulotrosis) adalah istilah yang secara khusus dipakai oleh Paulus; kata ini digunakan 10 kali dalam Perjanjian Baru, tujuh diantaranya ada dalam tulisan Paulus. Penebusan berarti membebaskan dengan cara pembayaran dengan suatu harga tertentu.
Pendamaian.
Kata pendamaian muncul hanya empat kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini (Yunani: hilasterion) berarti mengalihkan, memindahkan atau mendamaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Kristus sepenuhnya memenuhi dan memuaskan tuntutan dari kebenaran dan kekudusan Allah. Melalui penumpahan darah Kristus, kekudusan Allah telah dipuaskan dan murka Allah telah dialihkan.
Justifikasi.
Justifikasi secara khusus merupakan istilah Paulus. Kata kerjanya digunakan empat puluh kali di Perjanjian Baru, tetapi Paulus menggunakan kata itu dua puluh sembilan kali. Justifikasi mertupakan tindakan legal, dimana Allah menyatakan bahwa orang berdosa yang percaya dibenarkan berdasarkan darah Kristus. Arti dasar dari justifikasi adalah “mendeklarasikan benar”. Beberapa hal lain dapat dipelajari tentang penggunaan justifikasi oleh Paulus:
Justifikasi merupakan pemberian anugrah Allah (Rm. 3:24)
hal itu dapat terjadi melaui iman (Rm. 5:1: Gal. 3:24)
hal itu dimungkinkan melalui darah Kristus (Rm. 5:9)
hal itu terpisah dari hukum Taurat (Rm. 3:20; Gal. 2:16; 3:11).

Doktrin Gereja
Kata gereja (Yunani: ekklesia) berari “memanggil keluar dari suatu kelompok.” Kata ini seringkali digunakan dalam pengertian teknis bagi orang percaya yang Allah panggil keluar dari dunia dan menjadi suatu kelompok khusus dari miliknya. Namun demikian, kata itu sewaktu-waktu digunakan dalam pengertian non teknis untuk menunjuk, misalnya, suatu kelompok (diterjemahkan “jemaat”), seperti di Kisah Para Rasul 19:32. Gereja digunakan dalam dua cara utama di Perjanjian Baru. Gereja universal dan gereja lokal. Paulus menggunakan istilah ini menunjuk pada tubuh Kristus, maka yang dimaksud adalah pengertian universal. Gereja menunjuk pada gereja lokal, yang dimaksudkan adalah suatu jemaat orang percaya tertentu dalam suatu lokasi dan suatu waktu tertentu.
Paulus menetapkan gereja sebagai suatu organisasi yang terdiri dari “struktur kompleks tubuh Kristus yang menjalankan aktivitas sehari-hari, hal itu dijalankan oleh masing-masing orang percaya, yang memiliki fungsi masing-masing tetapi saling bergantung dan diatur melalui relasi mereka dengan Kristus, sebagai Kepala gereja”
Gereja adalah organisme yang hidup, namun gereja juga adalah suatu organisasi, yang melibatkan jabatan-jabatan dan fungsi. Ada beberapa jabatan yang ditunjuk dalam Perjanjian Baru. Jabatan penatua (Yunani: presbuteros) yang menekankan kedewasaan dan kewibawaan dan biasanya menunjuk pada pribadi yang sudah lanjut usia. Penatua ditunjuk sebagai pemimpin gereja-gereja lokal (1 Tim. 5:17; Tit. 1:5). Istilah penilik (Yunani: episkopos) menunjuk pada pekerjaan pengembalaan yang dilakukan oleh penatua (1 Tim. 3:1). Istilah itu pada dasarnya memiliki arti yang sama, namun demikian penatua lebih menekankan pada jabatan sedangkan penilik kepada fungsi. Dan kedua istilah identik dengan gembala. Jabatan lain di gereja adalah diaken (Yunani: diakonos), yang artinya”pelayan”, dimana mereka juga terlibat pelayanan rohani, yang berada di bawah otoritas penatua. Kemudian jabatan lain yang disinggung sedikit dalam surat Paulus adalah penginjil dan guru.
Meskipun topik baptisan merupakan hal utama dalam Perjanjian Baru, namun hal itu bukan penekanan yang utama dalam teologi Paulus. Kata kerja baptizo digunakan sebanyak delapan puluh kali dalam Perjanjian Baru, tetapi Paulus hanya menggunakannya sebanyak enam belas kali dan hanya sebelas diantaranya menunjuk pada baptisan air. Sementara mengenai perjamuan, Paulus memberikan penjelasan yang rinci tentang Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:23-34), dimana dia secara langsung menerima wahyu dari Tuhan. Paulus menyatakan bahwa Perjamuan Tuhan sebagai suatau peringatan dan kutuk bagi orang yang melakukannya secara sembarangan (1 Kor.11:25).

Doktrin Hal-Hal Terakhir
Berkaitan dengan Gereja.
Sejak Paulus menyediakan pengajaran baru yang signifikan tentang nature gereja, maka adalah tepat jika paulus memberikan pengajaran tentang konsumasi dari gereja, yaitu penjabaran tentang masa depan gereja. Paulus menunjuk pada penerjemahan gereja, dimana sebagian orang percaya yang masih hidup tidak akan mati, tetapi ditransformasikan lebih cepat dari sekejab mata (1 Kor. 15:51-57). Paulus juga menjelaskan tentang rapture, kebangkitan, tubuh kebangkitan, dan kursi pengadilan Kristus.
Berkaitan dengan Israel
Paulus membahas tentang pemilihan Israel di Roma 9-11, menangisi penolakan Israel terhadap Mesias. Israel telah menerima hak besar tetapi mereka telah menolaknya, oleh karena kedaulatan Allah dalam memilih Israel, Ia tidak akan gagal dalam tujuan-Nya bagi bangsa Itu. Fakta bahwa Allah tidak akan meninggalkan umatnya adalah terbukti dengan fakta bahwa ada sisa orang Yahudi yang percaya, dimana salah satunya adalah Paulus. Namun demikian, waktu Israel dibutakan adalah sementara. Paulus memperlihatkan masa depan pada waktu kebutaan Israel akan diangkat dan semua Israel akan diselamatkan (Rm. 11:1, 5).
Berkaitan dengan dunia
Pada saat Paulus berbicara tentang pengharapan masa yang akan datang bagi gereja dan pertobatan Israel di masa yang akan datang, ia berbicara secara panjang lebar tentang penghakiman Allah di masa yang akan datang atas dunia yang tidak percaya. Paulus menggunakan istilah murka (Yunani: orge) untuk menjabarkan penghakiman Allah yang akan turun atas dunia. Ia menggunakan istilah ini sebanyak dua puluh satu kali di tulisannya dan lima belas kali dalam bagian lain Perjanjian Baru. Paulus sering menggunakan kata ini untuk menjabarkan suatu masa depan “hari kemurkaan.” Ia juga mengidentifikasikan periode tersebut sebagai waktu dari manusia “murtad” dan juga “anak kehancuran”, yang akan muncul dan meninggikan dirinya sendiri sebagai Allah, yaitu antikristus. Akan tetapi ia akan dihancurkan pada saat kedatangan Kristus.

 

Pengantar Teologi Petrus
Studi teologi biblika ini akan difokuskan pada pengajaran doktrinal oleh Petrus dari kedua suratnya dan kotbahnya di Kisah Para Rasul.
1 Petrus
Penulis:
Bukti Eksternal: Polycarpus, Irenaeus, dan Tertullianus mengakui Petrus sebagai penulis, bahkan Eusebius menambahkan kata ‘yang tak terbantahkan’.
Bukti Internal: Penulis menyebut dirinya Petrus (1:1) dan saksi mata penderitaan Kristus (5:1).
Waktu Penulisan:
Bentuk penganiayaan yang ditunjukan dalam 1 Petrus adalah penganiayaan sebelum Nero (+ 62 A.D.)
Alamat Pengirim dan yang Dituju:
Petrus menulis dari Babilon (5:13), ada yang mengira bahwa yang dimaksud Babilon adalah (Roma), karena belum ada jemaat lokal didirikan di Babilon, dan ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora di Asia Kecil. Ada kemungkinan Markus bersamanya di Roma pada waktu itu.
Tujuan:
Mendorong orang percaya ditengah penganiayaan politik dan sosial. Petrus mengistilahkan penderitaan mereka sebagai “nyala api siksaan” (4:12). Tesis surat ini adalah nasihat dan dorongan dan dinyatakan di 5:12—orang percaya harus tetap teguh dalam anugrah Allah di tengah penderitaan mereka.
Tema: “Pengharapan didalam Kristus”
Karakteristik:
Petrus menggunakan istilah ‘penganiayaan’ 16 kali.
Sekurangnya ada 34 kali bentuk imperative (perintah) dalam surat ini.
Hanya ada dalam surat ini bahwa Kristus tinggal dalam masa nabi-nabi Perjanjian Lama yang umumnya dikenal dengan Roh Allah atau Roh Kristus (1:11) (setidaknya ini bersifat temporer) dan ia berbicara melalui Nuh kepada orang-orang berdosa pada zaman ante-diluivian (1:11;3:18).
II Petrus
Penulis
Bukti Eksternal: Diterima setelah agak kemudian oleh Jerome, Athanasius, Augustinus, dsb dan oleh Konsili Kartago sebagai bagian dari Kanon Perjanjian Baru.
Bukti Internal: Penulisnya adalah Simon (1:1) band. Mat. 16:17); 1:1 dan 3:1 menunjukan ini adalah surat Petrus kedua yang ditujukan kepada orang-orang yang sama; 1:17-18 penulis pernah melihat Yesus dimuliakan.
Waktu Penulisan:
Diperkirakan pada selang waktu yang tidak terlalu lama dengan surat yang pertama (+ 63 A.D.), menurut 3:1
Alamat Pengirim dan yang Dituju:
Paulus menulis di Roma dan ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sama dalam I Petrus.
Tujuan Penulisan:
Tujuan Petrus menulis surat ini dapat dikatakan ada dua segi; (1) secara negatif, ia memperingatkan orang percaya berkaitan dengan akan munculnya orang yang hidup tanpa hukum (secara terang-terangan mengabaikan perintah Allah) dan pengajar-pengajar ajaran sesat yang menyusup di tengah jemaat. (2) Secara positif, Petrus mendorong orang percaya untuk “bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Tema: “Melawan ajaran sesat dengan Firman Allah”.
Karakteristik:
Buah iman 7 lipatan itu (1:4-8)
Surat ini adalah yang paling banyak menyingkap pengajaran sesat dan pengumpan.
Adanya ungkapan yang terselip yang kemungkinannya sangat besar menunjuk Paulus sebagai penulis surat Ibrani (2 Petrus 3:15-16).
Latar Belakang Petrus
Rasul Petrus adalah putra dari Yunus (Mat. 16:17) atau Yohanes (Yoh. 1:42), dan saudara dari Andreas (Yoh.1:40). Ia berasal dari Betsaida (Yoh.1:44) tetapi kemudian pindah ke Kapernaum (Mrk. 1:21,29). Petrus tadinya bekerja sebagai seorang nelayan (Luk.5:1-11).
Pada awal pelayanannya, Yesus memanggil Petrus untuk diselamatkan (Yoh.1:42), dan sekitar setahun kemudian Ia memanggilnya untuk menjadi seorang rasul (Mat. 10:1-2). Sebagai salah seorang dari Kedua Belas Rasul, Petrus diberikan otoritas kerasulan untuk melakukan berbagai mujijat, untuk meneguhkan berita Mesianik. Petrus juga merupakan salah satu dari tiga orang pilihan, bersama Yakobus dan Yohanes (Mat.17:1). Petrus adalah “soko guru Jemaat” (Gal.2:9) dan kemudian menjadi pemimpin gereja. Petrus juga merupakan Rasul bagi orang Yahudi yang juga tercermin dari pembicaraannya dan dalam suratnya yang pertama (1Pet.1:1). Salah satu tradisi mengusulkan bahwa Petrus pada akhirnya pergi ke Roma, tetapi hal itu tidak pasti.

Pembahasan Teologia Petrus
Teologi Petrus jelas sekali berpusat pada Kristus dan dalam penekanannya, ia membahas secara mendalam doktrin-doktrin penting yang berkaitan dengan Pribadi Kristus. Ia menyatakan ketidakberdosaan Kristus, korban perdamaian Kristus sebagai substitusi, kebangkitan-Nya dan kemulian-Nya. Petrus banyak sekali berbicara tentang penderitaan, Kristus yang direndahkan dan penolakan akan Kristus.

Doktrin Kristologi.
Suatu studi tentang penggunakan nama Kristus oleh Petrus merupakan hal yang mencerahkan. Dalam kotbahnya di Kisah Para Rasul, Petrus menunjuk Kristus sebagai Yesus dari Nazareth. Perkataan ini sangat mungkin untuk mengingatkan akan pendengarnya akan Yesus sebagai yang ditolak, karena istilah Nasareth memiliki konotasi yang negatif. Akan tetapi lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Yesus itu bukan manusia yang biasa akan tetapi Allah telah membuat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Di Kisah Para Rasul 3:13-15 Petrus juga berbicara tentang kemuliaan Yesus yang dihubungkan dengan sebutan “Hamba”, “Yang Kudus”, “Yang Benar” dan ”Pemimpin kepada hidup.” Oleh karena itu bersamaan dengan itu, Petrus juga menyebutkan Yesus di 3:16, dan menekankan otoritas dan kuasa yang berkaitan dengan nama itu.
Dalam suratnya ini Petrus memilih menggunakan nama Kristus dan paling sering menggunakan sebuatan Mesias untuk menjabarkan penderitaan-Nya. Petrus menulis bahwa Kristus mencurahkan darah-Nya yang berharga (1 Pet.1:19), menderita sebagai substitusi (1 Pet.2:21), menderita dalam daging (1 Pet.4:1), menderita di depan banyak saksi (1 Pet.5:1), dan mati satu kali (penekanan) bagi semua (1 Pet.3:18). Berdasarkan hal-hal itu Petrus mendorong orang percaya untuk menguduskan Kristus dan meraih kemuliaan di dalam semuanya itu.
Petrus juga menggunakan nama Tuhan Yesus Kristus. Ia menggunakannya bukan untuk menekankan penderitaan Kristus, tetapi kebangkitan, glorifikasi dan kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. Melalui Tuhan Yesus Kristus, orang percaya yang dilahirbarukan memiliki pengharapan hidup yang baru.

DoktrinKeselamatan
Sebagaimana yang telah dicatat pada pembahasan sebelumnya, Petrus menekankan karya keselamatan Kristus: Ia adalah korban yang sempurna, seperti domba yang tak bercacat dan bercela (1 Pet.1:19); Ia tidak berdosa(1 Pet.1:22); Ia mati sebagai pengganti sekali untuk kita semua, yang tanpa salah bagi orang yang bersalah (1 Pet.3:18). Petrus menekankan tindakan, bahwa ia dibunuh untuk kita.
Kata ganti menekankan bahwa Kristus mati bagi orang berdosa (1 Pet.2:24). Ia menebus mereka dari perbudakan dosa (1 Pet.1:18). Keselamatan Kristus direncanakan sejak kekekalan (1 Pet.1:20), tetapi dinyatakan dalam sejarah. Ia menyelesaikan keselamatam melalui kebangkitan-Nya, memberikan orang percaya suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Pet.1:3).

Doktrin Kitab Suci
Sehubungan dengan kitab suci, Petrus memberikan pandangan yang signifikan tentang pelayanan Roh Kudus dalam inspirasi sekaligus menegaskan inspirasi dalam tulisan rasul yang lain terutama Paulus. Ia memberikan salah satu studi yang lengkap tentang Kitab suci. Kitab suci adalah hasil dari Roh Kudus yang menghasilkan regenerasi dan pertumbuhan rohani. Berikut ini adalah hal yang perlu dicatat dari doktrin Kitab Suci yang ditulis oleh Petrus:
Kitab suci diistilahkan sebagai “nubuat” (2 Pet.1:19), menunjuk pada seluruh Perjanjian Lama. Petrus mengindikasikan Kitab Suci Perjanjian Lama menjadi pasti melalui pemunculan Yesus Kristus.
Kitab suci adalah hidup dan tidak berubah selama-lamanya (1 Pet.1:23).
Kitab Suci tidak terkontaminasi dan menyehatkan, memampukan orang percaya untuk bertumbuh secara rohani (1 Pet. 2:2).
Kitab Suci secara murni berasal dari manusia (2 Pet.10:20)
Kitab Suci adalah produk dari manusia yang berbicara atas pimpinan Roh Kudus, sehingga menjamin keakuratan dari Kitab Suci (2 Pet.1:21).
Kitab Suci Perjanjian Baru juga diinspirasikan setara dengan Kitab Suci Perjanjian Lama (2 Pet.3:16).
Kitab Suci merupakan dasar kebenaran teologis (1 Pet.2:6).

Doktrin Kehidupan Orang Kristen
Petrus menulis untuk menguatkan orang percaya dan menjelaskan bagaimana orang percaya harus menyikapi penderitaan, khususnya pada waktu mereka harus mengalami penderitaan yang tidak sepatutnya (1 Pet.1:6). Petrus menulis kata-kata peringatan dan dorongan berkaitan dengan penderitaan:
orang percaya harus mengantisipasi pencobaan dan penderitaan dan mempersiapkan pemikiran mereka untuk menghadapinya, karena Kristus juga telah menderita (1 Pet.1:11; 4:12; 5:9).
Orang percaya harus bersukacita ditengah penderitaan karena antisipasi akan kedatangan kembali Kristus (1 Pet. 3:14; 4:13).
Orang percaya dapat menderita karena ketidakadilan (1 Pet. 2:19, 20, 21, 23; 3:17).
Orang percaya bisa menderita karena kehendak Allah (1 Pet. 3:17; 4:19), tetapi di tengah penderitaan, mereka akan dikuatkan oleh Dia (1 Pet. 5:10).

Doktrin Gereja
Meskipun kata gereja tidak muncul dalam tulisan Petrus, namun ia membahas doktrin gereja sampai tahap tertentu:
Gereja universal. Petrus mengakui kesatuan dari orang Yahudi dan non-Yahudi dalam satu kesatuan tubuh (Kis.10:34-43). Pada saat deklarasi, Petrus mengumumkan bahwa orang non-Yahudi diterima oleh Allah tanpa harus menjadi orang Yahudi proselit (Kis.10:35).
Gereja Lokal. Di 1 Petrus 5:1-4, Petrus menunjuk pada tanggungjawab penatua di gereja lokal. Tanggungjawab mereka adalah menggembalakan domba Allah.
Petrus juga menyebut baptisan, dengan menggunakan analogi antara baptisan dan Nuh. Sebagaimana air pada masa Nuh melambangkan pemutusan dengan kehidupan yang lama, demikian juga baptisan melambangkan pemutusan dengan kehidupan yang lama yang penuh dosa.
Doktrin Akhir Zaman
Sehubungan dengan akhir zaman, Petrus menuliskan beberapa hal tentang akhir zaman.
Kondisi, di 2 Petrus, rasul Petrus menunjuk pada kondisi yang akan mendahului kedatangan Tuhan
Kedatangan Kristus. Dalam kedua suratnya, Petrus kelihatannya membedakan antara pengangkatan gereja dan kedatangan Kristus yang keduakalinya untuk menghakimi orang fasik.
Hidup yang kekal. Petrus menjabarkan kedatangan hari Tuhan yang tiba-tiba (2 Pet. 3:10). Hari Tuhan digunakan dalam beberapa cara di kitab Suci, tetapi sebagai istilah umum, hal itu memandang pada keseluruhan periode permulaan dengan pengangkatan dan berhentinya millennium. Jadi, Hari Tuhan meliputi penghakiman atas orang tidak percaya dan berkat bagi orang percaya.

 

Pengantar Teologia Yudas
Penulis
Bukti Eksternal: Athenagoras, Clement dari Alexandria dan kanon Muratorian menunjuk Yudas saudara Tuhan Yesus (Mat.13:55) sebagai penulis.
Bukti Internal: Penulis menunjukan dirinya Yudas saudara Tuhan Yesus dan Yakobus (1:1), tentu ini bukan Yakobus Rasul karena saudara Yakobus Rasul adalah Yohanes.
Waktu Penulisan:
Dari nadanya yang terihat bahwa penganiayaan bukan future tense terutama masalah pengajaran sesat yang dalam 2 Petrus dikatakan akan datang, kelihatannya ketika surat Yudas ditulis malah sedang datang. Berarti ditulis tahun 63 A.D atau diatas itu. Terutama penekanannya terhadap dosa seksual yang mencapai puncak pada tahun 64-65 A.D.
Alamat Pengirim dan yang Dituju: Ditulis di Yerusalem dan mungkin ditujukan kepada orang Kristen Yahudi.
Tujuan Surat Yudas: Meneguhkan iman.
Tema Surat Yudas: “Berjuang untuk mempertahankan iman”.
Karakteristik Surat Yudas:
Banyak mengutip Perjanjian Lama juga mengutip sumber luar Perjanjian Lama.
Mengandung banyak peringatan terhadap ajaran sesat.
Menulis doxology yang terbaik dalam Alkitab (24, 25).

Pembahasan Teologi Yudas
Doktrin Kristus.
Dengan tema yang serupa dengan 2 Petrus, Yudas memperingatkan akan adanya guru-guru palsu yang menyangkali “satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita” (ayat 4). Sebutan penguasaan dan Tuhan, keduanya menunjuk kepada Kristus. Ini merupakan pernyataan Kristologi yang besar. Penguasa (Yunani: despoten) berarti Kristus adalah penguasa yang absolut.

Doktrin Keselamatan
Yudas menujukan suratnya pada “mereka yang dipanggil.” Dalam pernyataan ini Yudas menunjuk pada doktrin pemilihan. Kata “dipanggil” adalah bagi mereka yang telah dipanggil secara efektual pada keselamatan berdasarkan anugrah Allah yang efektif. Anugrah Allah itulah yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Yudas lebih lanjut menekankan sekuritas dari keselamatan dengan menegaskan bahwa Allah akan memampukan orang percaya untuk berdiri dihadapan kemuliaan hadirat-Nya (ay. 24).

Doktrin Malaikat
Yudas menunjuk pada malaikat yang “meninggalkan tempat tinggal mereka yang sebenarnya”, kemungkinan besar menunjuk pada kejatuhan Lucifer dari posisi yang tinggi, dimana ia menarik satu pasukan malaikat bersama dengan dia (Yes. 14:12-17; Yeh. 28:12-19). Kelihatannya sebagaian dari mereka yang jatuh telah diikat, sedangkan yang lain tetap bebas dan menjadi iblis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Pengantar Teologi Yohanes
Identitas Yohanes
Yohanes, saudara Yakobus dan anak dari Zebedeus, tadinya adalah seorang nelayan di Galilea (Mrk.1:19-20). Ia pasti memiliki usaha yang cukup menguntungkan sehingga ia mempekerjakan pelayan-pelayan dalam usaha nelayannya (Mrk.1:20). Ibunya Salome adalah saudara perempuan Maria, ibu Yesus. Hal itu berarti ia adalah saudara sepupu Yesus (Yoh. 19:25; Mat. 27:56; Mrk. 15:40, 47). Ibunya adalah salah seorang yang mengikut Yesus dan memberi dukungan kepada Yesus (Luk. 8:3; Mat. 27:55-56; Mrk. 15:40-41). Yohanes tidak diragukan sebagai salah satu dari dua murid yang mengikuti Yesus pada awal pelayanan-Nya (Yoh. 1:35-37). Kira-kira setahun setelah itu, Yohanes disebut sebagai salah satu dari keduabelas rasul (Mat. 10:2). Yohanes bersama Petrus dan Yakobus adalah salah satu dari dekat Yesus yang menyaksikan transfigurasi (Mat. 17:1-8), kebangkitan anak perempuan Yairus (Mrk. 5:37-43), dan pada waktu Yesus bergumul di Getsemani (Mat. 26:37-38). Pada Perjamuan Terakhir, Yohanes, yang dikenal sebagai murid “yang dikasihi Yesus” memiliki posisi khusus di samping Yesus (Yoh. 13:23). Yesus juga menyerahkan Maria pada pemeliharaan Yohanes (Yoh. 19:26-27). Yohanes menyaksikan kebangkitan Yesus paling sedikit dua kali sebelum kenaikan, di ruang atas (Yoh. 20:19-20) dan di Galilea (Yoh. 21:2), dan paling sedikit tiga kali setelah kenaikan, yaitu sebagai Tuhan dari gereja (Why. 1:12-18), hakim orang berdosa (Why. 5:4-7), dan Raja segala raja (Why. 19:11-16). Di kitab Kisah Para Rasul, ia muncul dalam posisi utama bersama Petrus. Yohanes dikenal sebagai salah satu soko guru gereja. Menurut Irenaeus, Yohanes suatu waktu pindah ke Efesus dan tinggal sampai usia lanjut, hidup sampai pemerintahan Tjajan (98-117 AD).

Teologi Yohanes
Sumber untuk studi teologi Yohanes, adalah Injil Yohanes, ketiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Meskipun ada pendekatan lain sebagai alternatif untuk mempelajari teologi Yohanes, namun studi ini akan digabungkan dengan pengajaran Yesus yang dicatat di Injil Yohanes demikian pula tulisan Yohanes sendiri secara khusus. Diasumsikan bahwa pengajaran Tuhan yang dicatat oleh Yohanes dapat dipertimbangkan sebagai teologi
Yohanes karena ia mencatat pernyataan Yesus, dengan anggapan semua itu bagian dari suatu penekanan yang penting dari Yohanes.
Teologi Yohanes berpusat pada Pribadi Kristus dan wahyu Allah yang diberikan melalui kedatangan Yesus Kristus. Pribadi yang bersama Allah sejak kekekalan sekarang menjadi manusia, dan Yohanes memberitakan kemuliaan-Nya. Wahyu tentang terang inilah yang dijabarkan Yohanes dalam Injilnya, surat-suratnya dan kitab Wahyu. Yohanes memberikan sebuah ringkasan dari teologinya di pendahuluan injilnya (Yoh. 1:1-18), dimana didalamnya ia menjabarkan wahyu tentang hidup dan terang melaui Sang Putra dan juga menjabarkan dosa yang menggelapi dunia dan menolak terang itu.

KitabYohanes
Penulis
Bukti Eksternal: Irenaeus, Tertullianus, Origen menunjuk rasul Yohanes sebagai penulis.
Bukti Internal:
Tradisi mendukung rasul Yohanmes sebagai penulis, karena penulis adalah seorang Yahudi, saksi mata Tuhan Yesus, dan ia menyebut dirinya sendiri murid “yang dikasihi Yesus”.
Penulisan:
Sangat mungkin bahwa peristiwa tahun 70 A.D. sudah lewat bahkan agak lama, oleh sebab itu tidak disinggung lagi dalam sejarah Yahudi dalam tulisannya.
Manuscript P-52, sebuah fragmen yang berisi Injil Yohanes diberi penanggalan 125 A.D.; tetapi ini buku autographa tetapi apografa.
Kemungkinan Injil ini ditulis pada akhir abad 1 dan tentunya sebelum pembuangan ke pulau Patmos, berarti antar tahun 90-95 A.D.
Alamat Pengirim dan yang Dituju:
Ia menulis kepada orang-orang Kristen secara umum di Asia kecil dari Efesus
Tujuan Injil Yohanes:
Untuk menginjili memulai menunjukan bahwa Kristus adalah Anak Allah, dan bahwa melalui Dia kita memperoleh hidup kekal (20:31;3:36).
Tema Injil Yohanes
“Krisus adalah Anak Allah dan Firman Allah yang Menjadi Manusia”.
Karakteristik Injil Yohanes:
Yohanes banyak mencatat tanda-tanda mujizat (2:11)
Ia mencatat banyak pasangan kata Perjanjian Lama ‘Aku Adalah Aku’ (eyeh asyer eyeh) dalam bentuk Yunani ‘ego eimi’; Terang dunia; pintu; gembala yang baik; kebangkitan dan hidup; jalan dan kebenaran dan hidup; pokok anggur yang benar.
Banyak berisikan detail-detail thological khususnya tentang pribadi dan karia inkarnasi allah dalam Kreistus.

I Yohanes
Penulis
Bukti Eksternal:
Policarpus, Papias, Origen menyatakan Yohanes adalah penulisnya.
Bukti Internal:
Ada banyak istilah theology maupun kata-kata yang sama dengan Injil Yohanes (1:1 band. Yoh. 1). Penulis saksi mata Kristus (1:1)
Waktu Penulisan :
Surat ini dan ulisan-tulisan Yohanes yang lain berkisar antara tahun 85-98 A.D.; yaitu pada akhir pelayanannya menjadi gembala di Efesus
Alamat Pengirim dan yang Dituju:
Dikirim dari Efesus dan ditujukan kepada jemaat Asia kecil.
Tujuan Penulis:
Menasehati orang percaya agar hidup atau berjalan sesuai dengan Injil Keselamatan dan menentang ajaran sesat yaiu, ‘gnostik’.
Tema: “Nyata di dalam Kristus”.
Karakteristik:
Memberikan gambaran ajaran sesat abad 1.
Johannine Comma (5:7-8) adalah otentik karena argumentasi grammatical & theological-nya sesuai dengan Injil Yohanes.

II Yohanes
Penulis
Bukti Eksternal: Yohanes diakui sebagai penulis oleh Irenaeus, Origen, dan Cyprianus.
Bukti Internal: “Seorang penatua” (1:1), bukan rasul lain, berarti Yohanes.
Waktu Penulisan: Diperkirakan antara tahun 85-98 A.D.
Alamat Pengirim dan yang Dituju: Dari Efesus kepada ‘Ibu Terpilih’ – kemungkinan jemaat lokal.
Tujuan: Memberikan petunjuk theologis untuk menilai ajaran sesat yang mulai berkembang.
Tema: “Berjalan dalam kebenaran.”
Karakteristik:
Menekankan kasih persaudaraan
Kepercayaan dalam inkarnasi Kristus adalah dasar untuk Kekristenan fundamental.

III Yohanes:
Penulis
Bukti Eksternal: Irenaeus, Dionysius, Cypryanus menunjukan kepada Yohanes.
Bukti Internal: Sama dengan I & II Yohanes
Waktu Penulisan: Kurang lebih sama dengan 1&2 Yohanes
Alamat Pengirim dan yang Dituju: Ditulis dari Efesus dan ditujukan kepada Gayus
Tujuan: Menghadapi Diotrefes (1:9) yang mau menguasai jemaat.
Karakteristik III Yohanes:
Pembuat kejahatan dalam jemaat-jemaat lokal ‘tidak pernah melihat Allah’ (1:1).
‘Aku telah menulis’ (1:9) bisa jadi surat II Yohanes atau surat lain yang hilang.

Wahyu:
Penulisan
Bukti Eksternal: Old Latin Version, kanon Muratorian, Tertullianus, Origen mengakui Yohanes sebagai penulis.
Bukti Internal: Penulis adalah Yohanes (1:1,4,9;21:2;22:8).
Waktu penulisan: Kitab terakhir dalam kanon Alkitab, ditulis kira-kira tahun 95-98 (Why.22:18,19).
Alamat Pengirim dan yang Dituju: Yohanes menulis dari pulau Patmos kepada tujuh jemaat di Asia Kecil.
Tujuan Penulisan: Menunjukkan hal-hal yang akan terjadi berhubungan dengan Israel, jemaat dan dunia.
Tema Wahyu: “Penyingkapan Masa Lalu, Sekarang dan Yang Akan Datang” (1:19).
Karakteristik Wahyu:
Terlihat sekali hal yang dilihat Yohanes itu sulit dilukiskan dengan bahasa manusia.
Sering memakai bilangan tujuh.
Outline kitab ini ada pada 1:19, yaitu yang terjadi sekarang (tauta) dengan 4:1 ‘sesudah sekarang’ (meta tauta).
Pendekatan-pendekatan yang berbeda terhadap interpretasi adalah pandangan preterist, idealist, historicist, dan futurist

Pembahasan Teologia Yohanes
Doktrin tentang Pewahyuan
Yohanes menjabarkan wahyu dengan dua cara: wahyu melalui Kitab Suci dan melalui Putra Allah:
Kitab Suci
Yesus mengingatkan orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Kitab Suci memberikan kesaksian tentang diri-Nya (Yoh. 5:39). Yesus meneguhkan bahwa Kitab Suci adalah kebenaran yang proporsional, yang menyatakan terang Allah melalui diri-Nya. Tensis yang menunjukkan pada waktu sekarang, menunjukkan bahwa wahyu Kitab Suci sedang berlangsung. Yesus kemudian mengingatkan pendengar-Nya bahwa Musa menulis tentang Dia dan mereka harus percaya kepada tulisan Musa yang berbicara tentang Kristus (Yoh. 5:45-47). Lebih lanjut Kristus menyatakan bahwa “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan”. Dalam perdebatan-Nya, Yesus menumpukan kasusnya pada integritas dan otoritas dari wahyu yang tertulis yaitu Kitab Suci.
Putra Allah
Pada pendahuluan Injilnya, Yohanes menyatakan bahwa wahyu Allah dimanifestasikan melalui anak-Nya. Pribadi yang bersama Bapa sejak kekekalan (Yoh. 1:1), sekarang tinggal dengan manusia, dan Yohanes bersukacita karena melihat kemulian-Nya. Yohanes pasti menunjuk pada transfigurasi dari Kristus (Mat. 17:1-8) demikian pula mujizat-mujizat Kristus (Yoh.2:11). Wahyu Yesus juga merupakan wahyu anugrah (Yoh. 1:16-17).

Doktrin tentang Dunia
Yohanes menggunakan kata dunia banyak sekali; di Injil Sinoptik hanya digunakan lima belas kali, sedang Yohanes menggunakannya sebanyak 78 kali di Injilnya dan 27 kali di tulisannya yang lain. Yohanes menggunakan kata dunia untuk menjelaskan dunia yang berada dalam dosa, kegelapan dan di bawah kuasa setan.
Dunia dalam kegelapan
Yohanes menggambarkan dunia yang berada dalam kegelapan dan melawan Kristus; dunia tidak ramah pada Kristus dan semua yang dipercayai-Nya. Hal itu disebabkan karena dunia telah menjadi buta. Dunia tidak mengenal Mesias pada waktu Ia datang ke dalam Dunia. Yohanes menjabarkan dua kelompok manusia; mereka yang datang pada terang dan mereka yang membenci terang itu (Yoh. 1:12; 3:19-21). Orang-orang dunia membenci terang, karena terang itu mengekspos mereka; Yesus mengatakan bahwa inilah alasan kenapa dunia membenci-Nya. Sistem dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup telah memimpin manusia kepada dosa.
Dunia di bawah Setan
Yesus menjelaskan kenapa orang yang tidak percaya melakukan dosa; hal itu karena mereka adalah keturunan dari si jahat (Yoh. 8:44). Karena mereka adalah anak-anak dari bapak mereka yaitu si jahat, jadi wajarlah apabila mereka melakukan keinginan bapaknya. Karena si jahat adalah pembohong dari awalnya, maka wajarlah apabila keturunan rohani dari si jahat menolak Kristus yang adalah kebenaran.

Doktrin Inkarnasi
Terang
Terang adalah istilah popular Yohanes. Dalam kaitan dengan inkarnasi, Yohanes menunjuk pada Yesus sebagai terang yang telah datang ke dunia gelap karena dosa. Karena Yesus telah datang sebagai terang, maka adalah imperatif bahwa manusia harus percaya kepada-Nya (Yoh. 12:35-36). Yesus, sebagai terang dunia, dapat memberikan terang fisik (Yoh. 9:7) dan terang spiritual (Yoh. 8:12).
Hidup
Hidup juga merupakan istilah popular di Yohanes; ia menggunakannya 36 kali di Injil, 13 kali di 1 Yohanes, dan 15 kali di kitab Wahyu. Mujizat inkarnasi ialah bahwa Yesus hidup, dimana Ia juga memiliki sumber kehidupan sama seperti Bapa, yaitu Ia memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri, oleh sebab itu segala sesuatu bergantung pada Yesus untuk hidup dan eksistensinya.

Anak Allah
Yohanes menjabarkan inkarnasi Kristus dengan menunjuk Yesus sebagai “Putra Allah” atau “Putra”. Yesus menggunakan istilah-istilah itu untuk diri-Nya sendiri dan relasinya dengan Bapa. Dan Yohanes sangat tegas dalam menekankan kesetaraan Yesus dengan Allah.
Anak Manusia
Yesus pada umumnya menggunakan sebutan “Anak Manusia” untuk menunjukkan misi-Nya. Asal mula istilah itu berasal dari Daniel 7:13 dan menunjuk pada keberadaan surgawi yang menerima kerajaan dunia ini. Istilah “Anak Manusia” menunjuk pada konsep Kristus akan diri-Nya sebagai yang berasal mula dari Surga dan sebagai pemilik kemuliaan surga. Pada saat yang sama hal itu menunjukkan kepada kita tentang kerendahan-Nya dan penderitaan-Nya bagi manusia. Keduanya adalah sama.
Pendamaian.
Dalam nubuat. Kata bahasa Inggris atonement (pendamaian) berasal dari dua kata “at” dan “onement”, yang berarti rekonsiliasi. Meskipun kata pendamaian bukan merupakan kata di Perjanjian Baru, hal itu menunjuk pada apa yang telah diselesaikan oleh Kristus diatas kayu salib melalui penderitaan dan kematiaan-Nya. Pada waktu Yohanes Pembabtis menyerukan “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”. Yohanes berbicara tentang penggenapan dari persembahan korban di Perjanjian Lama diawali dengan provisi Allah, akan seekor domba yang menggantikan Ishak di gunung Muria (Kej 22:8), kemudian provisi domba paskah di Keluaran 12 sampai nubuat Yesaaya 53:7, dimana nabi Yesaya mengindikasikan Mesias akan mati, seperti anak domba yang akan disembelih. Persembahan korban di Perjanjian Lama menunjuk pada kematian Mesias untuk pendamaian. Tidak diragukan lagi, penggenapan dari tema itulah yang dijabarkan oleh Yohanes Pembaptis di Yohanes 1:29. Yesus menekankan kebenaran yang sama dalam Yohanes 6:52-59. Ia berbicara tentang diri-Nya yang datang dari surga dan memberikan hidup-Nya bagi dunia (Yoh. 6:33,51). Penebusan yang bersifat substitusi dapat dilihat dari preposisi “atas” (Yunani “huper”). Dalam bagian ini, Yesus mengajarkan tentang kematian-Nya sebagai wakil (6:51), yang memberikan hidup kekal (6:53-55,58), dan persekutuan dengan Kristus (6:56,57) dan hasilnya kebangkitan (6:54).
Dalam sejarah. Karya Kristus, sesuai dengan tujuan-Nya datang kedunia, digenapkan dalam Yohanes 19:30. Setelah enam jam diatas kayu salib Yesus berseru, “Sudah selesai” (Yunani: tetelesthai). Yesus tidak mengatakan, “saya telah selesai”, tetapi “telah selesai”. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepadan-Nya; karya keselamatan telah diselesaikan. Tensis bentuk lampau dari kata kerja tetelestai dapat diterjemahkan, “hal akan tetap selesai”, artinya pekerjaan itu untuk selamanya selesai dan akibat dari selesainya pekerjaan itu terus berlaku.
Di 1 Yohanes 2:1-2, Yohanes menjelaskan provisi yang dibuat oleh Kristus untuk dosa. Kristus adalah “pembela” (Yunani; parakletos) bagi mereka yang berdosa. Dalam konteks ini pembela berarti pengancara dalam kasus hukum. Orang percaya memiliki Kristus sebagai pengacara pembela mereka dalam pengadilan ilahi. Lebih lanjut Yohanes berkata bahwa Kristus adalah “korban pendamaian” (Yunani: hilasmos) bagi dosa-dosa dunia. Kata itu hanya digunakan di Roma 3:25, dan 1 Yohanes 4:10. Korban pendamaian artinya Kristus menjadi korban pendamaian bagi dosa dengan cara membayar harga dengan demikian mengalihkan murka Allah. Korban pendamaian berpusat pada Allah, yang menyatakan bahwa dosa telah melanggar kekudusan Allah, dan melalui kematian Kristus Allah Bapa di puaskan dan sekarang Ia bebas untuk menyatakan kemurahan dan pengampunan-Nya kepada orang berdosa yang percaya. Yohanes mengindikasikan korban pendamaian adalah “untuk segala dosa kita, dan bukan hanya untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2). Kematian Kristus adalah kematian substitusi yang memberikan provisi bagi orang percaya, namun Yohanes menekankan juga kecukupannya yaitu “bagi seluruh dunia”. Meskipun seluruh dunia tidak diselamatkan, karena Kristus adalah Allah maka kematian-Nya adalah cukup untuk seluruh dunia, namun demikian hanya efektif bagi mereka yang percaya.
Kebangkitan. Yohanes menjabarkan kisah kebangkitan di Yohanes 20 untuk memperlihatkan penebusan Kristus telah sampai pada puncaknya di kebangkitan. Penebusan Kristus tidak berakhir pada kematian-Nya tetapi pada kebangkitan-Nya; Kebangkitan itu harus terjadi untuk meneguhkan Anak Allah (Roma1:4). Yohanes sangat jelas menjabarkan bagaimana Petrus berlari menuju kuburan, Yohanes tiba lebih dahulu, melihat ke dalam kubur, dan tidak melihat apapun. Petrus masuk dan berteori tentang apa yang terjadi, kemudian Yohanes memperhatikan dan mengerti. Mereka melihat kain kafan yang tergeletak di kuburan dan tetap berbentuk tubuh, seakan-akan masih ada tubuh di dalamnya. Kain untuk muka masih tergulung melingkar (20:7), tetapi tubuhnya telah tidak ada. Yohanes “melihat dan percaya” karena ia mengerti hanya satu hal yang mungkin telah terjadi, tubuh itu telah melewati kain kafan yang membalutnya. Yesus telah bangkit. Yohanes memberikan penjabaran yang lebih jelas, lebih rinci mendeskripsikannya, dibandingkan dengan Injil sinoptik tentang bagaimana menjelaskan secara tepat apa yang telah terjadi pada waktu kebangkitan. Yohanes kemudian menjelaskan bagaimana Kristus melewati pintu yang tertutup dalam tubuh fisiknya dan muncul di tengah para rasul dalam tubuh kebangkitan-Nya (Yoh. 20:19,26). Yohanes memverifikasi realitas dan tubuh kebangkitan Kristus, memperlihatkan bahwa Kristus dalam karya terakhir-Nya telah mengalahkan maut dan karena itu memberikan pengharapan dan hidup kepada yang percaya (Yoh. 11:25-26).

Doktrin Roh Kudus
Percakapan di Ruang atas (Yoh. 14-16), Yohanes mencatat pengajaran Yesus berkaitan dengan Roh Kudus. Ketiga fasal itu memberikan informasi yang paling rinci tentang pribadi dan karya Roh Kudus:
Pribadi-Nya. Kepribadian dari Roh Kudus dilihat dalam kata ganti yang digunakan untuk menjabarkan tentang Dia. Meskipun kata Roh (yunani: pneuma) adalah netral. Yesus mengatakan “Ia (maskulin) akan mengajarkan kamu segala sesuatu” (Yoh 14:26). “Ia” (Yunani: ekeinos) adalah kata ganti maskulin. Meskipun ada orang berpikir tentang kata ganti netral (Inggris: it) supaya cocok dengan kata benda netral (Roh), namun pemikiran yang demikian adalah salah, karena itu berarti kita menunjuk Roh Kudus sebagai “it”, sedangkan Ia adalah pribadi, seperti halnya dengan Bapa dan Anak. Referensi Yesus pada Roh Kudus sebagai “Ia (maskulin)” mengkomfirmasikan personalitas dari Roh Kudus (lihat Yoh. 15:56; 16:13, 14)
Karya-Nya. Ia menyakinkan (Yoh. 16:8-11). Karya meyakinkan (yunani: elegxei) adalah pekerjaan seseorang pengacara penuntut yang mana Ia berusaha untuk meyakinkan seseorang akan sesuatu. Roh Kudus bertindak sebagai pengacara ilahi, menyakinkan dunia akan dosa, yaitu penolakan untuk percaya kepada Yesus; Ia juga meyakinkan dunia akan kebenaran Kristus, karena kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya; dan Ia meyakinkan dunia akan penghakiman karena setan telah dihukum diatas kayu salib.
Ia melahir barukan (Yoh. 3:6). Dalam menjelaskan kelahiran baru pada Nikodemus, Yesus mengindikasikanya sebagai kelahiran baru oleh Roh.
Ia mengajar kepada murid-murid-Nya (Yoh. 14:26). Pada waktu murid-murid-Nya tidak dapat secara rohani mengasimilasikan semua pengajaran Yesus, Yesus berjanji Roh Kudus akan mengingatkan mereka akan pengajaran Yesus. Pernyataan ini merupakan jaminan akan catatan akurat dari tulisan Perjanjian Baru, karena Roh Kudus akan memberikan keakuratan untuk mengingat kembali, dan sesuai dengan itu mereka akan menulis Injil.
Ia tinggal (Yoh. 14:16-17). Yesus menunjuk pada pekerjaan baru dari Roh Kudus setelah Pentakosta, dimana kehadiran Roh Kudus ditengah orang percaya tidak lagi bersifat sementara seperti di Perjanjian Lama, tetapi Ia akan tinggal secara permanen. Yesus menekankan bahwa setelah Pentakosta Roh Kudus akan tinggal “di dalam mereka” (Yoh. 14:17) dan Ia tinggal untuk “selama-lamanya” (Yoh. 14:16).

Doktrin Hal-hal terakhir.
Pengangkatan. Meskipun Yohanes tidak memberikan pernyataan seeksplisit Paulus tentang pengangkatan, tanpa diragukan Yohanes juga menunjuk pada pengangkatan dalam Yohanes 14:1-3. Pengangkatan berkaitan dengan gereja, dan Yesus berbicara pada kedua belas murid-Nya yang akan memulai jemaat mula-mula di Kisah Para Rasul 2. Oleh karena para murid sedang berduka akan kepergian Yesus di Yohanes 14, Ia menguatkan mereka dengan mengingatkan mereka (sebagai gereja yang masih kecil) bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat tinggal bagi mereka di Rumah Bapa-Nya. Ia berjanji untuk kembali dan membawa mereka kepada-Nya (Yoh. 14:3). Hal itu harus dimengerti sebagai parallel dengan pernyataan Paulus di 1 Tesalonika 4:13-18.
Kesengsaraan. Yohanes memberikan liputan yang luas tentang masa kesengsaraan, serta merinci apa yang akan terjadi di Wahyu 6-19. Ketujuh meterai ini akan dibukakan di dunia pada awal kesengsaraan (Wah. 6:1 – 8:1). Yang akan membawa kemenangan bagi binatang buas itu (6:1-2), perang (6:3-4), kelaparan (6:5-6), kematian (6:7-8), mati syahid (6:9-11), dan ledakan di langit dan di bumi (6:12-17). Materai-materai itu kelihatannya akan berlanjut sampai akhir masa kesengsaraan. Materai ketujuh mengawali sangkakala ketujuh (8:2 – 11:19). Pada waktu bunyi sangkakala itu, maka persediaan makanan dan oksigen di bumi akan hilang (8:2-6), sepertiga dari kehidupan di laut akan mati (8:7), sumber air akan terkena polusi (8:10-11), benda-benda di langit akan menjadi gelap (8:12-13), manusia akan sangat menderita dan ketakutan (9:1-12), dan sepertiga dari manusia akan terbunuh (9:13-21). Sangkakala yang ketujuh akan mengawali cawan penghakiman (11:15-19;15:1-16:21), mengakibatkan luka-luka yang menyakitkan (16:1-2), kematian dari kehidupan di laut (16:3), sungai menjadi darah (16:4-7). Manusia mati karena kepanasan (16:8-9), kegelapan (16:10-11), dilepaskannya tentara dari timur yang kuat untuk mengakhiri peperangan (16:12-16), dan gempa bumi yang dahsyat, menghancurkan kota-kota dan bangsa-bangsa (16:17-21). Baik agama Babel (17:1-8), maupun ekonomi Babel (18:1-24) akan dihancurkan. Masa kesengsaraan berpuncak pada kembalinya Kristus, dimana Ia akan menaklukkan semua bangsa di dunia (19:11-21).
Anti Kristus. Yohanes menggunakan istilah anti kristus untuk menjabarkan mereka yang pada zamanya menyebarkan doktrin yang salah tentang Kristus (1 Yoh. 2:18, 22; 4:3; 2 Yoh. 7). Nature dari bidat ini adalah menyangkali kemanusiaan Kristus Yesus (2 Yoh. 7); Kristus hanya tampil seperti hantu; Ia tidak benar-benar mengambil rupa manusia. Yohanes mendeklarasikan bahwa mereka, penyangkal Yesus yang datang dalam daging adalah anti Kristus. Jadi Yohanes menggunakan istilah itu untuk menunjuk pada mereka yang menyangkali doktrin yang benar tentang Kristus.
Yohanes menyebut pribadi yang menyangkali Kristus sebagai binatang buas (Why. 11:7; 13:1, 12, 14, 15). Yohanes menjabarkan binatang buas ini sebagai “binatang pertama” (berlawanan dengan nabi palsu yang mendukung binatang buas pertama ini tetapi dikenal sebagai binatang kedua {“binatang yang lain” 13:11}). Binatang pertama adalah penguasa politik (13:1-10) yang muncul dalam bentuk akhir sebagai penguasa kafir dan kuasanya berasal dari setan (13:2), ia menerima sembah dan menghujat Allah selama tiga setengah tahun (13:4-6), ia menganiaya orang percaya (13:7), dan menguasai dunia (13:8). Binatang pertama di dukung oleh binatang kedua yang adalah nabi palsu dan memaksa manusia untuk menyembah binatang pertama (13:11-12); ia menipu manusia melalui kemampuanya untuk mempertunjukkan tanda-tanda (13:14); ia membatasi perdagangan hanya bagi mereka yang telah menerima tandanya (13:16-17).
Pada kedatangan Yesus Kristus yang kedua, baik binatang pertama dan binatang kedua akan dilemparkan kedalam lautan api (19:20)
Kedatangan Kristus yang Kedua. Pada akhir dari masa kesengsaraan, Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus dengan kemenangan bersama pengantin perempuan-Nya, yaitu gereja (Why. 19:6-8). Pernikahan Kristus dengan gereja terjadi di surga pada waktu periode kesengsaraan. Kristus kembali dengan pengantin perempuan-Nya untuk memulai pesta pernikahan, yaitu di kerajaan millennial yang terjadi diatas bumi (19:9-10). Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus sebagai seorang Raja yang menang – Ia memiliki banyak mahkota diatas kepala-Nya (19:12) – Ia menyatakan perang adengan setan, binatang dan tentara yang tidak percaya kepada-Nya (19:11,19). Senjata-Nya adalah otoritas Firman-Nya (19:13) dengan mana Ia mengalahkan dan menaklukkan bangsa-bangsa (19:15). Ia menghancurkan penguasa bangsa-bangsa dan melemparkan binatang, nabi palsu (binatang kedua), dan setan ke laut api selama millennial (19:19 – 20:3). Dengan kemenangan atas musuh-Nya, Kristus mendirikan kerajaan millennial di atas bumi.
Kerajaan millennial dan kekekalan. Yohanes menjabarkan kebangkitan dari masa kesengsaraan dan orang-orang kudus Perjanjian Lama pada akhir masa kesengsaraan (Why. 20:4-5); mereka adalah bagian dari “kebangkitan pertama”. Istilah kebangkitan tidak menjabarkan kebangkitan secara umum dari orang percaya, tetapi suatu kebangkitan kepada kehidupan (20:6). Paling tidak ada beberapa tahap dalam kebangkitan yang pertama yaitu zaman orang-orang kudus dibangkitkan sebelum masa kesengsaraan (1 Tes. 4:13-18), dimana orang-orang kudus di Perjanjian Lama dan dimasa kesengsaraan (Why. 20:4). Orang tidak percaya dibangkitkan pada akhir masa millennium, dimana mereka akan dilemparkan kedalam lautan api (Why. 20:11-15).
Di Wahyu 21:1 – 22:21 Yohanes menjabarkan tentang kekekalan. Yerusalem baru yang Yohanes lihat akan datang dari surga (Why. 21:1-8) adalah gereja yang tetap tinggal, yaitu pengantin perempuan (21:9), tidak diragukan lagi mereka adalah orang-orang yang telah ditebus di segala zaman dalam kekekalan. Yerusalem baru kemungkinan besar berhubungan dengan millennium dan hidup kekal. Tempat itu adalah tempat tinggal, dimana Kristus telah pergi untuk menyediakan tempat (Yoh. 14:2). “kedua periode itu kekal, bukan sementara, kondisinya adalah seperti itu, baik dikota dan bagi penghuninya. Oleh karena itu, Yerusalem baru adalah millennial dan kekal, baik dari segi waktu dan posisi, dan hal itu kondisinya adalah selalu kekal. Yohanes menjelaskan bagaimana Yerusalem baru itu akan memberikan persekutuan dengan Allah (22:4), istirahat (14:13), kepenuhan berkat (22:2), sukacita (21:4), pelayanan (22:3) dan ibadah (7:9-12; 19:1).

 

KESINAMBUNGAN PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU
Perjanjian
Perjanjian adalah kontrak atau kesepakatan (akad) antara dua pihak. Perjanjian pada dasarnya dapat bersifat bersyarat (conditional) dan atau tanpa syarat (unconditional). Perjanjian bersyarat adalah perjanjian yang pemenuhan terhadap kesepakatannya bergantung kepada kesetiaan kedua belah pihak melaksanakan syarat dalam kontrak yang diadakan. Perjanjian demikian biasanya dicirikan oleh kata jika — jika pihak yang merupakan pihak kedua (manusia) melaksanakan aturannya, Pihak yang merupakan Pihak Pertama (Allah) akan mengaruniakan berkat. Perjanjian Musa adalah contoh perjanjian jenis ini. Perjanjian tersebut didahului dengan jika dalam Keluaran 19:5 “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa.”
Perjanjian tanpa syarat adalah perjanjian yang pemenuhannya hanya bergantung kepada kesetiaan Allah saja. Perjanjian Baru berlangsung dengan cara ini. Perbedaan kedua jenis perjanjian tersebut dapat dilihat dalam Yeremia 31:31, 32: “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir.” Perjanjian ini dicirikan oleh kata-kata, Aku akan, yang menunjuk kepada pemenuhan Allah akan janji dan maksud-Nya— Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam hati mereka, Aku akan menjadi Allah mereka, Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.

Perjanjian-perjanjian dalam Alkitab:
Perjanjian Penebusan
Didasarkan pada fakta bahwa Allah sudah menjanjikan kehidupan kekal sebelum dunia dijadikan (Titus 1:2), dan dengan demikian sebelum manusia diciptakan, para ahli teologi telah menduga bahwa Pribadi-pribadi dalam ke-Allahan telah mengadakan perjanjian untuk menyediakan keselamatan bagi umat manusia sebelum manusia diciptakan atau sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Barangkali ini yang ada dalam pikiran penulis surat Ibrani ketika ia berbicara tentang darah perjanjian kekal (Ibrani 13:20). Alkitab mengaitkan fakta bahwa Bapa mengutus Anak, dan Anak datang untuk melaksanakan kehendak Bapa, dan bahwa Bapa dan Anak mengirimkan Roh Kudus, yang semuanya kelihatan menunjukkan adanya persetujuan atau kesepakatan di antara Pribadi-pribadi dalam ke-Tritunggalan.

Perjanjian Kerja (Perbuatan)
Ini yang dianggap sebagai perjanjian yang dibuat Allah dengan Adam sebelum kejatuhan, yang menjanjikan Adam kehidupan kekal sebagai ganjaran terhadap perbuatan baiknya. Walaupun ketaatan tentu saja perlu bagi Adam untuk memelihara kedudukannya terhadap Allah, tidak ada satu pun dikatakan dalam Alkitab bahwa Adam diciptakan dalam keadaan terhilang atau kondisi yang di dalamnya ia perlu mengusahakan kehidupan kekal. Satu-satunya ayat yang dapat diarahkan untuk menopang perjanjian demikian adalah Hosea 6:7 yang di dalamnya kata yang diterjemahkan men (manusia) dalam KJV merupakan istilah umum untuk umat manusia (adam). Jika adam menggantikan kata men kalimat itu akan berbunyi: “Tetapi mereka seperti Adam telah melanggar perjanjian.”

Perjanjian Anugerah
Sebutan ini, bersama dengan yang baru disebutkan di atas, membentuk dasar Teologi Perjanjian. Yang dimaksud dengan Perjanjian Anugerah adalah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat pilihan untuk menyediakan dan mengaplikasikan kepada mereka keselamatan kekal atas dasar anugerah. Walaupun benar bahwa Allah adalah Allah yang penuh anugerah dan bahwa Ia telah membuat banyak rancangan rahmat terhadap umat manusia, kita keliru apabila menggabungkan perjanjian-perjanjian itu menjadi satu saja, Perjanjian Anugerah. Pengklasifikasian demikian mengaburkan perbedaan-perbedaan yang ada di antara berbagai perjanjian yang telah dibuat oleh Allah, yang mengakibatkan terjadinya kebingungan memahami rencana-rencana dispensasional Allah.

Perjanjian Eden
Teolog Scofield dan Chafer menandai pengaturan Allah dengan Adam sebelum kejatuhan, sebagai Perjanjian Eden. Perjanjian tersebut dapat dinamakan sebagai aturan hidup bagi manusia di bawah dispensasi Kesucian. Scofield membuat garis besarnya dalam tujuh pokok: (1) Memenuhi bumi dengan suatu tataan baru—manusia; (2) menaklukkan bumi bagi keperluan manusia; (3) menguasai hewan ciptaan; (4) makan dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan; (5) mengolah dan memelihara taman tersebut; (6) menghindari makan dari pohon pengetahuan baik dan jahat; (7) hukumannya—kematian.
Perjanjian Adam
Kembali, perjanjian ini tidak disebut sebagai perjanjian tetapi ditandai demikian oleh Scofield dan Chafer. Perjanjian ini merupakan pengaturan Ilahi yang menjadi syarat bagi kehidupan manusia setelah jatuh ke dalam dosa dan selama berada dalam dispensasi Hati Nurani, seperti dikemukakan dalam Kejadian 3:14-19. Di dalamnya terdapat kutukan terhadap si ular, janji mengenai Penebus, perubahan status perempuan, kutukan terhadap bumi, pahitnya kehidupan, beratnya pekerjaan, dan kematian jasmani.

Perjanjian Nuh
Di sini, tepatnya dalam Kejadian 9:9 kata perjanjian pertama kali digunakan dalam Alkitab: “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” Walaupun perjanjian tersebut terutama merupakan janji untuk tidak pernah lagi membinasakan bumi dengan air bah, di dalamnya juga tercakup syarat tertentu yang baru bagi kehidupan manusia di bumi. Ketakutan terhadap manusia ditaruh pada binatang, manusia diizinkan makan daging binatang, tetapi dilarang makan darah; dan manusia diberi wewenang melaksanakan hukuman mati. Sebelum ini Allah melarang menjatuhkan hukuman mati bagi pembunuh (Kejadian 4:15). Pemberian hak dasar bagi manusia untuk memerintah bumi bagi Allah, merupakan alasan utama untuk menyebut pengaturan ini sebagai dispensasi pemerintahan atau wewenang manusia.

Perjanjian Abraham
Abraham tampaknya hidup segera sesudah pengacauan bahasa di menara Babel. Meninjau ke belakang, manusia telah ingkar dari Allah dalam tiga dispensasi yang mendahului, yakni Dispensasi Kesucian, Dispensasi Hati Nurani, dan Dispensasi Pemerintahan Manusia. Manusia telah tiba pada keadaan yang digambarkan dalam Roma 1:21-32 yang di dalamnya tiga kali dikatakan bahwa Allah telah membiarkan (bandingkan KJV; TB: menyerahkan) manusia. Pada titik ini Allah dapat saja meninggalkan manusia dalam keadaan terhilang secara keseluruhan, atau Ia dapat saja memusnahkan manusia dari muka bumi. Namun, Ia justru mengumumkan maksudnya memilih seorang pria bernama Abram, yang tinggal di kota penyembah berhala Ur-Kasdim, dan membuatnya menjadi bangsa yang besar; melalui bangsa tersebut semua bangsa lain akhirnya akan diberkati. Pemanggilan Abram dan berkat yang dijanjikan tersebut dicatat dalam Kejadian 12.
Dalam Kejadian 13:14-18 Allah lebih lanjut menjanjikan untuk memberikan tanah Kanaan kepada Abram dan keturunannya sebagai milik pusaka selamanya. Lalu dalam Kejadian 15:6 muncul pernyataan yang oleh Paulus dijadikan dasar semua argumennya mengenai pembenaran oleh iman tanpa pekerjaan: “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Roma 4:3). Segera setelah Abraham dinyatakan benar karena imannya, Allah masuk ke dalam perjanjian dengan Abraham: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat” (Kejadian 15:18). Walaupun Allah telah terlebih dahulu mengomunikasikan rencana-Nya memberkati Abram, baru setelah ia dinyatakan benar karena imannyalah Allah secara aktual mengadakan perjanjian dengannya. Dan harus diperhatikan bahwa menurut Alkitab, perjanjian tersebut hanya menyangkut tanah yang digambarkan di atas.
Janji berkat atas bangsa-bangsa tampaknya berlainan dengan perjanjian dalam Kejadian 15:18. Karena Allah menjamin tanah ini bagi keturunan Abram sebagai pusaka untuk selamanya, haruslah terbukti bahwa jika orang Kristen sekarang ini merupakan anak-anak perjanjian, mereka semestinya mempunyai hak untuk mengklaim milik tetap tersebut. Ini adalah masalah yang harus de ngan jujur dihadapi para ahli teologi Perjanjian, karena mereka mengklaim diri sebagai anak-anak perjanjian. Paulus tidak pernah mengatakan di mana pun bahwa orang percaya dispensasi sekarang adalah anak-anak perjanjian, tetapi yang ia katakan adalah bahwa mereka anak-anak Abraham (Galatia 3:7), dan bahwa mereka adalah keturunan Abraham (Galatia 3:29). Namun sangat penting memahami dalam arti bagaimana ia mengatakan orang percaya sebagai anak dan keturunan. Galatia 3:8, “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’” O’Hair menafsirkan ayat ini, Apa yang dilihat orang ketika Injil diberitakan kepada Abram 24 tahun sebelum ia disunat, dan 430 tahun sebelum Taurat ditambahkan pada Injil itu (Galatia 3:19)? Para penyembah berhala (orang bukan Yahudi) pada zaman Paulus. Apa yang terlihat? Bahwa para penyembah berhala tidak bersunat itu akan dinyatakan sebagai orang benar tanpa sunat, tanpa Taurat, tanpa upacara keagamaan; tepat seperti Abram, oleh iman tanpa perbuatan.
Orang-orang percaya disebut anak-anak Abraham hanya karena mengikuti iman Abraham dan dibenarkan dengan cara yang sama seperti Abraham, tanpa perbuatan. Mereka bukan anak-anaknya dalam pengertian menjadi pewaris berkat perjanjian khusus yang dijanjikan kepada Abraham, yang seperti telah kita lihat, hanya menyangkut tanah perjanjian. Selanjutnya, Rasul Paulus mengetengahkan dengan jelas bahwa kita sekarang ini merupakan keturunan Abraham atas dasar bahwa kita telah dibaptiskan ke dalam Kristus, yang adalah Benih atau Keturunan Abraham. Karena tanah Kanaan telah tanpa syarat dijamin sebagai milik keturunan jasmani Abraham, kita tentu harus percaya bahwa Allah akan menggenapi janji tersebut dalam kerajaan milenial mendatang.

Perjanjian Sunat
Ketika Abram berusia sembilan puluh sembilan tahun, setidaknya lima belas tahun setelah Allah mengadakan perjanjian dengannya, Allah kembali menyatakan diri kepadanya dan memberikan kepadanya Perjanjian Sunat. Di dalam perjanjian ini nama Abram diubah menjadi Abraham, karena ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Janji tanah Kanaan diteguhkan dan upacara sunat dikenakan kepada semua pria keturunannya, dengan ketentuan bahwa pria yang tidak disunat akan dilenyapkan dari umat Allah, karena orang itu telah mengingkari perjanjian tersebut (Kejadian 17:14).
Dalam Roma 4 Paulus membedakan antara Abram yang dalam keadaan tidak bersunat dan Abraham yang dalam keadaan bersunat. Dalam hubungan rangkap dua ini Abraham menjadi bapa atau pemimpin dua kelompok umat Tuhan yang berbeda. Ia pertama-tama adalah bapa orang-orang tidak bersunat, yakni, orang-orang bukan Yahudi yang di selamatkan atau dibenarkan melalui iman semata-mata tanpa penyunatan dan hukum Taurat. Karena alasan ini Paulus menyebut Injilnya sebagai Injil untuk orang-orang tak bersunat (Galatia 2:7). Abraham kemudian menjadi bapa orang-orang bersunat, yakni, keturunan lahiriah Abraham yang akan mewarisi berkat khusus perjanjian. Karena alasan ini berita Petrus disebut Injil bagi orang-orang bersunat.
Kata Injil tidak sekadar berarti keselamatan dari dosa: di dalamnya tercakup selamat kepada sesuatu. Injil Paulus kepada orang-orang tidak bersunat adalah, keselamatan ke dalam keanggotaan di dalam Tubuh Kristus. Injil Petrus kepada orang-orang bersunat adalah, keselamatan ke dalam janji berkat-berkat rohani dan jasmani dalam Kerajaan Mesianis. Semua kabar baik dari Allah didasarkan pada iman terhadap karya Kristus, jadi dalam hal ini tidak ada perbedaan antara kedua Injil tersebut, tetapi ada perbedaan antara keduanya menyangkut kebangsaan, upacara-upacara, program dispensasional, dan tujuan akhirnya.

Perjanjian Musa
Perjanjian ini bersifat temporer dan bersyarat. Sekarang perjanjian ini disebut Perjanjian Lama karena sudah ‘dibaharui’ oleh Perjanjian Baru. Pada waktu itu belum ada kaum imam di Israel. Musa, yang menjadi pengantara perjanjian, bukan Harun, menyuruh orang-orang muda menyembelih binatang korban lalu ia memercikkan darah binatang korban itu kepada umat Israel setelah membacakan perjanjian tersebut kepada mereka, dengan berkata, “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”
Semua hal tersebut benar-benar merupakan pelambangan terhadap Pribadi dan karya Kristus, seperti yang digambarkan dalam kitab Ibrani. Kristus, sebagai Pengantara Perjanjian Baru, bukan sebagai Imam Besar, mempersembahkan diri-Nya tanpa cela kepada Allah. Aspek ini dari pekerjaan-Nya membuat keselamatan tersedia bagi semua umat manusia. Sampai darah tersebut dipercikkan mereka yang kelak menjadi imam harus menyembah dari jauh, dan hanya Musa, yang melambangkan Kristus, yang datang mendekat kepada Allah. Setelah itu baru para imam tersebut diizinkan mendekat. Ini mengajarkan kepada kita dalam bentuk pelambangan bahwa Kristus harus mencurahkan darah-Nya sebelum pelayanan keimaman-Nya dimulai. Ia bukanlah seorang imam ketika berada di bumi (Ibrani 8:4), walaupun tidak diragukan bahwa doa-Nya pada malam sebelum kematian-Nya telah berperan mendahului pekerjaan keimaman-Nya. Pelayanan keimaman hanyalah ditujukan bagi umat yang telah dibawa ke dalam kehidupan yang berhubungan dengan Allah. Itulah sebabnya mengapa Yesus berdoa dalam Yohanes 17:9, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu.”
Jadi korban-korban dan pelayanan keimaman orang Lewi, walaupun merupakan lambang pekerjaan penebusan Kristus, hanya bersifat melambangkan aspek tersebut, yakni kepada mereka yang telah dibawa ke dalam hubungan yang menyelamatkan dengan Allah.

Isi Rangkap Tiga Perjanjian Musa.
Sepuluh Hukum, Keluaran 20:1-17, mengatur kehidupan moral Israel berkaitan dengan kehendak Allah yang benar.
Hukuman, Keluaran 21:1-24:11, mengatur kehidupan sosial umat tersebut.
Ordonansi (peraturan), Keluaran 24:12-31:18, mengatur kehidupan keagamaan umat tersebut.

Maksud Kemah Suci dengan Keimamannya.
Maksud kemah suci diutarakan dalam Keluaran 25:8: “Supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Dosa melibatkan hukuman dan pencemaran. Dalam pekerjaan penyelamatan terdapat pengampunan sekali untuk selamanya dari hukuman dosa saat iman diarahkan kepada Penyelamat. Dalam pelambangannya Israel telah dibawa ke dalam posisi tersebut dengan dipercikkannya darah Perjanjian ke atas mereka. Dosa yang dilakukan setelah itu mendatangkan kecemaran, karena itu jika Allah akan diam di tengah umat demikian haruslah diadakan pembersihan. Pekerjaan Kristus sebagai Imam Besar melalui manfaat darah-Nya yang telah dicurahkan itulah yang membersihkan orang percaya dari dosa, membuat hubungan dengan Bapa dan Anak menjadi mungkin (1 Yohanes 1:7).
Dalam pelambangannya, umat Israel perlu dibersihkan terus-menerus sehingga Allah dapat tinggal di tengah mereka. Untuk maksud inilah kemah suci dengan keimamannya dibuat. Pada lambang (type) nya, korban yang bermacam-macam dan diulang-ulang itu perlu (Ibrani 10:11), tetapi pada yang dilambangkan (antitype), korban sekali untuk selamanya memiliki nilai yang bersifat tetap sehingga korban tersebut meliputi semua aspek yang beragam dalam korban-korban keimaman Lewi itu. Kecuali kebenaran di atas dipahami, akan terlihat seakan-akan Israel di bawah Perjanjian Taurat mengusahakan keselamatan melalui perbuatan berdasarkan hukum, bukan karena adanya iman.
Sistem korban dalam perjanjian tersebut adalah sarana anugerah. Taurat adalah ungkapan sifat kudus Allah, dan pelanggaran terhadapnya mendatangkan kutukan (Galatia 3:10). Atas dasar hukum murni, pelanggar hukum tidak memiliki harapan lain kecuali hukuman. Korban-korban persembahan dalam keimaman Lewi menyediakan jalan keluar dari kutukan tersebut. Sama seperti itu, dalam dispensasi sekarang, korban Kristus yang cukup untuk semua dan sekali untuk selamanya itu adalah sarana yang melaluinya hubungan kita dengan Allah dijaga tidak retak sekali pun ada dosa dan kegagalan yang dapat saja terjadi dalam kehidupan Kristen.

Maksud Hukum Taurat.
Memunculkan pengetahuan akan dosa: “Justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Roma 7:7).
Membuat dosa semakin nyata sebagai dosa: “Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa” (Roma 7:13); “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak” (Roma 5:20).
Untuk menyumbat semua mulut dan membuat seluruh dunia bersalah di hadapan Allah (Roma 3:19). Nyata dari ayat seperti Roma 3:20 dan Galatia 2:16 bahwa Hukum Taurat diberikan bukan untuk menyelamatkan manusia atau melepaskannya dari kuasa dosa.

Dengan demikian nyata bahwa dalam maksud penebusan Allah, Allah menempatkan umat-Nya di bawah Hukum Taurat sebelum Ia mengirimkan Anak-Nya ke dalam dunia untuk mati karena dosa, supaya pertama-tama dapat ditunjukkan sepenuhnya keberdosaan dosa, sehingga kebutuhan akan keselamatan dapat sepenuhnya disadari agar kebesaran nilai pengorbanan Kristus dapat dengan lebih baik dipahami dan dihargai.

Hal yang Tidak Dapat Dilakukan Hukum Taurat.
Hukum Taurat tidak dapat membenarkan orang berdosa: “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat” (Roma 3:20).
Hukum Taurat tidak dapat melepaskan manusia dari kuasa dosa: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Roma 6:14).
Hukum Taurat sama sekali tidak dapat membawa kesempurnaan: “Sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan” (Ibrani 7:19).
Alasan mengapa hukum Taurat tidak dapat memenuhi semua hal di atas adalah karena kelemahan dan berdosanya kedagingan menusia (Roma 8:2), dan sama sekali bukan karena ketidaksempurnaan hukum itu (Roma 7:12).

Keselamatan di bawah Dispensasi Hukum Taurat.
Jelas diajarkan Perjanjian Baru bahwa setiap orang yang tidak secara terus-menerus melaksanakan semua hal yang tertulis dalam kitab hukum berada di bawah kutuk, dan sama jelasnya bahwa tidak ada seorang Israel pun yang telah secara terus-menerus melaksanakan semua yang dituntut hukum itu. Kesimpulannya, tidak terhindarkan bahwa semua pastilah telah berada di bawah kutuk hukum. Apakah ini berarti, dengan demikian, bahwa semua orang telah terhilang? Tidak mungkin, karena juga sama jelasnya bahwa ada banyak kudus Perjanjian Lama yang diselamatkan. Jadi, apa yang dimaksud dengan kutuk hukum itu?
Hukum Taurat memiliki sistem penghukuman, yang paling ekstrem adalah hukuman mati. Paulus mengajarkan bahwa hukum berkuasa atas diri se seorang selama orang itu masih hidup, tetapi kematian fisik membebaskan seseorang dari hukum itu (Roma 7:1-6). Kita telah melihat bahwa orang Israel, melalui manfaat Perjanjian Abraham, Korban Paskah dan Korban Perjanjian, telah berada di atas dasar penebusan dan diakui sebagai bangsa pilihan Allah serta umat Allah bahkan sebelum Taurat dibebankan kepada mereka. Kembali, Paulus dengan jelas mengetengahkan bahwa hukum Taurat, yang diberikan 430 tahun sesudah janji terhadap Abraham, tidak dapat membatalkan perjanjian itu (Galatia 3:17). Jadi jelas bahwa keselamatan dalam Dispensasi Hukum Taurat didasarkan pada janji tersebut, dan walaupun pelanggaran terhadap hukum Taurat dapat mendatangkan kematian fisik, seperti terjadi dalam banyak kasus, hal itu tidak berakibat pada pembatalan terhadap janji tersebut. Kematian fisik tidak harus berarti kematian rohani, walau kematian fisik datang sebagai suatu hukuman.
Mengamati keselamatan dalam Perjanjian Lama haruslah diingat bahwa Perjanjian-perjanjian tersebut berkenaan dengan orang-orang atas dasar kolektif atau nasional, dan tidak ada pernyataan mengenai hal yang harus dilakukan seseorang agar diselamatkan. Tentu saja ada individu yang secara jasmani merupakan keturunan Abraham namun kenyataannya bukan anak Allah, seperti yang dikatakan Paulus: “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Roma 9:6). Tetapi mereka yang memang anak-anak perjanjian, seperti Musa dan Daud, pasti selamat, bukan karena pekerjaan hukum Taurat, tetapi karena Janji tersebut, walaupun mereka mengalami ganjaran karena melanggar hukum Taurat. Daud melanggar hukum, tetapi ia mengetahui kebahagiaan orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya (Roma 4:6-8).

Akhir hukum Taurat.
Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya (Roma 10:4).
Akhir bukan berarti peniadaan tetapi penggenapan hukum Taurat. Kehidupan Kristus secara sempurna memenuhi aturan-aturannya dan kematian-Nya secara sempurna memenuhi tuntutan keadilannya.
Kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia atau anugerah (Roma 6:14).
Perjanjian Lama, yang disebut sebagai pelayanan yang menuntun kepada penghukuman dan kematian itu telah pudar dan diakhiri sebagai suatu sistem dispensasi (2 Korintus 3:6-14, band. KJV).
Mengapa dan bagaimana sehingga orang percaya tidak lagi berada di bawah hukum Taurat tetapi berada di bawah Anugerah? Kristus mati di bawah kutuk hukum Taurat (Galatia 3:13). Dengan memenuhi semua tuntutan kebenarannya melalui kematian Ia menjadi bebas dari hukum Taurat. Tetapi Kristus tidak tinggal dalam kematian: Ia bangkit pada hari ketiga, dan kepada kita dikatakan bahwa orang-orang percaya bangkit bersama Dia. Semua ini secara tidak langsung atau dari segi kedudukan terjadi kepada orang percaya; karena itu orang percaya diingatkan, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Roma 6:11).

Dengan demikian kehidupan baru orang percaya merupakan pengambilan bagian dalam kehidupan Kristus setelah kebangkitan-Nya, dan dengan begitu kehidupan orang percaya berada di bawah anugerah. Adalah suatu malapetaka jika menempatkan kedagingan yang penuh dosa itu di bawah anugerah. Sebaliknya, Allah menaruh kedagingan ke dalam kematian melalui Kristus sehingga kita dapat berjalan dalam kehidupan baru di bawah anugerah.

Perjanjian Palestina
Perjanjian Palestina pada kenyataannya merupakan peneguhan dan penegasan terhadap janji tanah yang diberikan dalam Perjanjian Abraham. Perjanjian tersebut dinyatakan dalam Ulangan 30:1-10. Dwight Pentecost berkata begini mengenai perjanjian ini: Suatu analisis terhadap pasal ini akan menunjukkan ada tujuh hal utama dalam program yang diungkapkan di sana: (1) Bangsa itu akan dicabut dari tanah tersebut karena ketidaksetiaan mereka (Ulangan 28:63-68; 30:1-3); (2) akan ada pertobatan pada masa mendatang Israel (Ulangan 28:63-68; 30:1-3); (3) Mesias mereka akan kembali (Ulangan 30:3-6); (4) Israel akan dikembalikan lagi ke tanah tersebut (Ulangan 30:5); (5) Israel akan bertobat sebagai suatu bangsa (Ulangan 30:4-8; Roma 11:26, 27); (6) Musuh-musuh Israel akan dihakimi (Ulangan 30:7); (7) Bangsa itu pun akan menerima berkatnya sepenuhnya (Ulangan 30:9).

Perjanjian Daud
Perjanjian Daud dicatat dalam 2 Samuel 7:12-16: Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.
Perjanjian Daud diteguhkan dalam sejumlah bagian Perjanjian Lama, misalnya dalam Mazmur 89:4, 5, 35-37 Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun … Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah. Sekali Aku bersumpah demi kekudusan-Ku, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud: Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan takhtanya seperti matahari di depan mata-Ku. Kata-kata di atas menunjukkan sifat sepenuhnya tanpa syarat pada perjanjian tersebut, yang jika ada artinya, artinya adalah bahwa sumpah Allah suatu waktu kelak akan terlaksana dalam pembangunan takhta dan kerajaan Daud secara harfiah. Perjanjian dengan Daud menyangkut empat hal: keturunan Daud, rumah Daud, takhta Daud, dan kerajaan Daud. Penting bahwa Injil Matius, yang menekankan aspek Raja dan Kerajaan Mesias, dimulai dengan, “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud.” Dan juga penting bahwa pada pemberitahuan tentang Kelahiran Kristus malaikat berkata kepada Maria, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:32, 33).
Petrus mengonfirmasikan fakta bahwa Kristus, keturunan Daud secara daging, dibangkitkan dari kematian untuk duduk di takhta Daud (Kisah Para Rasul 2:30). Kita telah merujuk kepada kata-kata Yakobus dalam Kisah Para Rasul 15:16, yang di dalamnya ia berbicara mengenai kemah atau rumah Daud, yang kini sedang dalam bentuk reruntuhan, yang akan dibangun setelah Kristus datang lagi. Jadi Perjanjian Baru menegaskan penggenapan sepenuhnya secara harfiah terhadap Perjanjian Daud melalui Tuhan Yesus Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua kali ke bumi.

Perjanjian Baru
Perjanjian Baru dirujuk sekali dengan nama demikian dalam kitab Perjanjian Lama (Yeremia 31:31) dan sembilan kali dalam kitab Perjanjian Baru: empat kali dalam kaitan dengan darah Perjanjian Baru (Matius 26:28; Markus 14:24; Lukas 22:20; dan 1 Korintus 11:25), sekali dalam kaitan dengan pelayanan Paulus (2 Korintus 3:6), dan empat kali dalam surat Ibrani (8:8, 13; 9:15; 12:24). Seperti telah kita lihat, Perjanjian Baru merupakan perjanjian yang secara khusus dibuat dengan kaum Israel dan kaum Yehuda. Dikatakan Baru karena perjanjian ini memenuhi, menyudahi, dan menggantikan Perjanjian Musa yang dalam proses tersebut telah menjadi lama.

Sifat dan Penyediaannya.
Tanpa syarat,
kekal,
menjanjikan hati dan pikiran baru,
menyediakan pengampunan dosa,
memberikan Roh Kudus untuk hadir dan berdiam di dalam umat-Nya,
memberi jaminan bahwa keturunan Israel tidak akan lenyap sebagai bangsa di hadapan Allah sampai selamanya,
menyediakan pemulihan Yerusalem dan tanah yang dijanjikan itu kepada Israel.

 

ASPEK-ASPEK DALAM PERJANJIAN BARU

Aspek Kerajaan
Pokok ini memberikan soroton khusus pada tema Kerajaan Allah, dengan asumsi awal bahwa keseluruhan pokok-pokok teologi dalam Perjanjian Baru (Injil-injil, kisah para rasul, tulisan-tulisan Paulus dan tulisan umum lainnya) secara kuat terintegrasi dalam tema utama tersebut. Pembuktiannya seiring dengan penyelidikan terhadap teologi masing-masing kitab. Berbicara tentang Kerajaan Allah, maka 3 konsep awal dapat diajukan, yaitu:
Kerajaan Allah pada masa Gereja
Kerajan Allah pada masa kerajaan 1000 tahun
Kerajaan Allah yang berlangsung secara total
(Ciri dari masing-masing konsep di atas dapat dilihat pada lampiran)

Kerajaan Allah dalam Kitab Injil Matius
Sejak awal pelayanannya, Yesus senantiasa konsisten dengan khotbahnya yaitu tentang Kerajaan Allah, bahkan sebagai pendahulunya, Yohanes Pembaptis juga mengkhotbahkan tema yang sama. Dengan demikian tema Kerajaan Allah dapat dilihat dan diangkat misalnya dari kitab Injil Matius. Pendapat umum pada abad 1-3 menempatkan Matius – murid Yesus, seorang pemungut cukai – sebagai penulis dalam bahasa Aram. Kebutuhan penting orang-orang Yahudi di Yerusalem sebagai pengikut Kristus memahami identitas Kristus adalah alasan kehadiran kitab ini. Tradisi gereja yakin bahwa kitab ini ditulis selitar tahun 50 M.
Injil Matius adalah uraian tentang apa yang dikerjakan oleh Yesus dan disajikan dalam bentuk tulisan oleh Matius – murid-Nya – yang dulunya adalah seorang pemungut cukai. Kitab Matius menjadi penting sebab pada masa awal lahirnya Gereja, kurang lebih 200.000 orang Yahudi menjadi Kristen, jadi dibutuhkan literature tentang Yesus dalam konteks berpikir Yahudi dan secara tepat Matius memberi pemaparan tentang Yesus yang adalah Raja. Selain itu pertanyaan penting yang dijawab oleh kitab ini adalah: bagaimana nasib Kerajaan Allah yang belum terealisasi walaupun Mesias sudah datang.
Paparan yang disajikan oleh Matius merupakan pembuktian kemesiasan Yesus, dimana semua unsur-unsur nubuatan tentang Mesias terpenuhi dalam diri Yesus. Perjanjian antara manusia dengan Allah dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam diri Yesus yang adalah Imam, Raja dan Nabi. Memang program Allah untuk menghadirkan Kerajaan Allah sepertinya tertunda, tetapi sebenarnya ada maksud besar dari aspek masa kini dan masa depan Kerajaan Allah.
Injil Matius dibuka dengan silsilah Yesus dari empat belas generasi dari Abraham sampai Daud, empat belas generasi dari Daud sampai pembuangan di Babel dan empat belas generasi dari masa pembuangan di Babel sampai Kristus. Dimulai dari Abraham, sebagai penunjuk atas Perjanjian dengan Abraham tentang janji Allah untuk memberkati segala bangsa, kaum dan bahasa. Perjanjian dengan Daud sebagai bagian dari janji terhadap tunas Israel atau perjanjian kerajaan. Perjanjian dengan mereka yang dipulihkan dari pembuangan sebagai bagian dari dipulihkannya suatu Perjanjian yang menjadi “Perjanjian Baru” antara Allah dengan manusia. Dari aspek inilah Yesus hadir sebagai penggenapan segala perjanjian anugerah keselamatan yang diwujudnyatakan dalam kehadiran Kerajan Allah ditengah-tengah manusia.
Pasal 2 menceritakan tentang para majus yang datang dari Timur membawa penghormatan mewakili dunia non Yahudi atas kelahiran pribadi yang membawa “dunia baru”. Persembahan mereka – emas, kemenyan dan mur – sekaligus menjadi penegasan keberadaan Yesus sebagai Raja, Imam dan Nabi. Dijelaskan juga tentang intervensi Allah secara langsung untuk menyelenggarakan pemeliharaan atas bayi Yesus. Dunia berusaha untuk menghalangi maksud Allah, tetapi intervensi Allah membuktikan bahwa rencana-Nya tidak pernah gagal.
Kemunculan Yohanes Pembaptis di pasal 3 menjadi “jalan masuk” bagi Yesus. Khotbahnya tentang: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”, menjadi sebuah seruan ditengah kegersangan padang gurun, dan bengkoknya hati generasi yang seharusnya mewarisi Kerajaan Allah. Teguran yang keras bagi Israel sebagai turunan ular beludak, menjadi isyarat bahwa Allah sudah menyiapkan kapak untuk menebang “pohon “ yang tidak menghasilkan buah. Bahkan mereka akan dibersihkan dan Israel yang tetap menjadi debu jerami akan dibakar dalam api yang tak terpadamkan.
Setelah disahkannya pelayanan Yesus atas Israel melalui pembaptisan Yohanes dan pencobaan di padang gurun, khotbahnya semakin dipertegas: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”. Yesus pun memilih murid dan memulai pelayanan-Nya. Pasal 4:23-25 menjadi paparan pelayanan-Nya.
Khotbah yang Yesus sampaikan kepada orang banyak (psl. 5 – 7) merupakan syarat-syarat hidup sebagai warga Kerajaan Sorga, yang membuat orang-orang takjub (psl. 7:28-29). Pasal-pasal berikutnya (8 – 11) berisi tentang aspek pelayanan yang Ia kerjakan dalam mewujudnyatakan Kerajaan Sorga di dunia, yang diakhiri dengan tawaran keselamatan yang Yesus sampaikan pada audience, yaitu: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (11:28-30).
Ternyata tawaran baik yang diajukan oleh Yesus tidak mendapat respon yang baik dari segenap jemaah Israel. Para Farisi justru menyamakan kuasa Yesus dengan kuasa Beelzebul (raja lalat). Penolakan ini memberi dampak fatal, sebab mereka telah menyamakan Yesus sang Raja dari Kerajaan Allah dengan Beelzebul yang adalah raja dari segala kenajisan. Dampaknya mereka ditolak/dibuang dari jalur perjanjian antara Allah dengan Abraham, Daud dan Perjanjian Baru. Selanjutnya jalur anugrah keselamatan tidak lagi melalui Israel, tetapi langsung disampaikan kepada orang yang melakukan kehendak Bapa (psl. 12:50). Yesus tetap memberikan pengajaran kepada orang banyak tetapi dalam bentuk perumpamaan dan kepada para murid, Ia memberikan penjelasannya (psl 13 – 15).
Pelayanan dan pengajaran Yesus yang sudah berlangsung beberapa waktu lamanya kepada para murid, tiba waktunya untuk dievaluasi. Pada pasal 16, Ia memberikan pertanyaan: “Kata orang, Siapakah Anak Manusia itu?” Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak suatu konsep dan pemahaman baru yang selama ini masih menjadi rahasia seputar eksistensi Kerajaan Allah. Jawaban Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” menjadi acuan untuk menyingkapkan tabir misteri itu, sebab dari dalamnya Yesus memproklamasikan sebuah institusi baru yang akan mewujudnyatakan Kerajaan Allah bagi dunia, yaitu Gereja.
Pasal-pasal berikutnya (17 – 22), Yesus memberikan pengajaran khusus kepada para murid dalam bentuk perumpamaan sekaligus memberikan penjelasannya. Kelompok Yahudi tetap mengeraskan hati mereka dan terus mencobai, menentang dan bahkan menolak Yesus dan tawaran-Nya. Pada akhirnya, kepada mereka, Yesus memberikan kesimpulan: “kamu sesat” (22:29) dan mengucapkan kutukan atas mereka (23:13-36). Keluhan Yesus disampaikan kepada mereka (23:37-39).
Nasib selanjutnya Israel disampaikan pada pasal 24 – 25, dimana penderitaan dalam 7 tahun masa sengsara (tribulation) akan menjadi ganjaran sekaligus turning point bangsa itu untuk bertobat dan menerima Mesias. Siksaan berat yang dialami tentu saja kontras dengan hak waris Israel, tetapi dampak dari penolakan mereka akan menjadi jawaban atas kemustahilan ini. Disisi lain gereja akan menerima suatu “Perjanjian Baru” yang diikat Allah dalam hati mereka yang percaya dan merespon tawaran Kerajaan Allah oleh Anak-Nya.
Pasal 26 – 28 adalah harga yang dibayar dari sebuah prosesi guna mendatangkan keselamatan dan menghadirkan Kerajaan Allah secara rahasia di dunia melalui gereja-Nya. Diakhiri dengan perintah kepada para murid untuk melanjutkan karya Kristus guna menangkap sebanyak mungkin jiwa masuk ke dalam realita Kerajaan Allah. Dengan demikian Injil Matius menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada bagian awal bahasan tulisan ini.

Kerajaan Allah
dalam Surat-Surat Rasul Paulus

Kebanyakan teolog Perjanjian Baru menyatakan bahwa konsep Kerajaan Allah tidak mendapat penekanan yang lebih oleh Paulus dalam surat-suratnya. Pandangan tersebut muncul akibat jarangnya ditemukan istilah Kerajaan Allah dalam tulisan Paulus (± hanya 15 kali dalam seluruh suratnya).
Dari sudut pandang yang lain seharusnya masalah ini dilihat, sebab hal-hal seperti kualitas hidup, manusia baru, kuasa Allah, penebusan, pengudusan, keselamatan sampai hal-hal yang bersifat praktis – makan minum, cara berpakaian – merupakan penjabaran teologis – etis dari sifat Kerajaan Allah. Dari sudut pandang inilah dapat dilihat tentang penekanan Paulus terhadap konsep Kerajaan Allah. Paling tidak ada tiga penekanan yang dapat digunakan untuk mengangkat konsep Kerajaan Allah dalam tulisan Paulus, yaitu:

Aspek Teologis
Paulus melihat manusia hidup dari 2 terminologi Kerajaan, yaitu: (1). Kerajaan Angkasa (Ef. 2:2), yaitu roh yang menguasai dan bekerja di antara orang-orang durhaka, ciri-cirinya adalah tunduk pada hawa nafsu daging, kedagingan dan pikiran jahat, yang berujung pada murka Allah; dan (2). Kerajaan Allah (Ef. 5:5).
K.Angkasa ———–> Murka Allah

K.Allah ————> Anugrah Allah

Syarat-syarat masuk Kerajaan Allah:
Anugrah (Ef. 2:4,8)
Harga untuk masuk dalam Kerajan Allah adalah anugrah. Tidak perlu sepeser pun uang atau setetes pun keringat yang dicurahkan untuk mendapatkannya, tetapi bukan berarti Kerajaan Allah murahan. Darah raja-Nya sendiri telah ditumpahkan sebagai harga yang paling pantas dan paling berharga agar Kerajaan Allah dapat terealisasi atas dunia ini. Ada beberapa contoh usaha Penguasa Kerajaan Angkasa untuk merebut Yesus dari jalan salib, misalnya:
Pencobaan dipadang gurun (Mat. 4:9-10)
Memakai Petrus (Mat. 16:22-23)
Orang-orang Farisi (Luk. 19:39-40)
Percaya (Roma 10:9)
Iman menjadi jalan masuk kepada Kerajaan Allah (Rm. 3:25), dengan iman maka umat mengambil sikap mempercayai dan mempercayakan hidupnya dalam realita Kerajaan Allah. Iman yang dibangun/lahir atas dasar kematian dan kebangkitan Yesus, dimana orang percaya dipersekutukan dengan realita salib dan kemenangan Kristus atas Kerajaan Angkasa. Kematian dan kebangkitan adalah proklamasi kemenangan Yesus, sedangkan percaya adalah proklamasi kemenangan umat (Rm. 6:5-11). Iman merupakan titik tumpu yang membawa hasil yang terlihat dalam realita hidup (Rm. 1:17). Dengan demikian dimensi percaya bukan saja pada aspek rohani, tetapi sampai pada dimensi akal, sebab akal memiliki pengertian sendiri dalam memahami iman.

 

Hasil masuk Kerajaan Allah
Dibebaskan dari kutuk dosa (Rm. 6:2, 6, 7, 11, 14, 17, 18, 20, 22)
Sejak awal kejatuhan, manusia sudah berada dibawah kutuk dosa. Menjadi kekuatan yang mengikat manusia dalam perjanjian pemberontakan kepada Allah. Manusia terus menerus hidup dalam pilihan pemberontakan, kecendrungan hatinya adalah jauh dari Allah. Menjadi sebuah kekuatan yang terus membayang-bayangi manusia, walaupun diusahakan sekuat apapun, manusia tetap jatuh dalam keputusan tunduk pada kutuk dosa. Ex: Kain, Lamekh, manusia pada zaman Nuh (termasuk Nuh sendiri setelah luput dari bencana air bah). Kerajaan Allah menjadi jalan sempurna mengalami pembebasan dari kutuk dosa.
Dibebaskan dari Hukum Taurat (Rm. 7:4, 6; 10:4; Gal. 4:5)
Guna membebaskan menusia dari ketergantungan tunduk pada kuasa dosa, perlu ada disiplin/hukum/aturan/frame of life/role of control’s. Untuk itulah dihadirkan hukum Taurat, yang berfungsi mengatur interaksi antara manusia dengan Allah, sesama, dirinya sendiri dan ciptaan lainnya. Justru kegagalan manusia semakin terlihat dan menjadi-jadi. Bahkan Hukum Taurat menjadi sistem legalisasi untuk kamuflase diri. Dengan demikian diperlukan sebuah formula baru agar manusia dapat mengalami hidup yangs sesungguhnya dihadapan Allah, dan hukum Kerajaan Allah menjadi jawabannya.
Dibebaskan dari kematian (1 Kor. 15; Rm. 5:17; 6:9; 8:37; Kol. 3:1)
Arti dasar dari kematian (Yun, θανατος; Ibr, maivet) adalah pemisahan (separation), yaitu berhentinya segala aktivitas secara permanen. Kematian rohani berarti kehilangan atau ketiadaan hubungan manusia dari Allah sumber hidup. Dalam konsep Yunani kematian berarti akhir dari segala aktivitas kehidupan, kehancuran eksistensi manusia dan menjadi konsekuensi dari hidup. Sedangkan dalam konsep Ibrani tentang kematian adalah suasana yang diliputi kekelaman dan keseraman. Pada keadaan pertama berlaku hukum sebab-akibat, sedangkan yang kedua memberikan gambaran yang mengerikan. Teologi Kerajaan Allah memberi arti dan pemahaman baru atas kematian sebagai keadaan tidur atau istirahat/dipersiapkan untuk sesuatu.

Dibebaskan dari murka Allah (Rm. 3:25; 5:9; 1 Tes. 5:9)
Konsekuensi logis dari dosa adalah dimurkai Allah. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa maka murka Allah secara otomatis ada atas mereka, demikian juga dengan keturunannya. Sebaliknya dampak langsung dari menjadi warga Kerajaan Allah adalah mendapat kasih karunia Allah dan tentu saja berimplikasi dipindahkan dari murka Allah.
Dibebaskan dari kuasa dunia (Kol. 2:15; Gal. 4:3)
Dunia sejak kejatuhan dalam dosa telah terseret dalam keinginan untuk menentang Allah. Segala keinginan dan kecendrungannya mengarah pada pemberontakan terhadap Tuhan. Ketetapan dan kebijakan dunia merupakan bentuk permusuhan dengan Allah. Manusia semakin terjerat di dalamnya dan dihisap oleh “lumpur hidup” kuasa dunia, tetapi dengan kedatangan Manusia Kristus melalui Kerajaan-Nya ada harapan bagi orang percaya untuk dilepaskan dari kuasa dunia.
Dibenarkan (Rm. 3:24; 5:9; Tit. 3:7; 1 Kor. 6:11)
Berada di dalam dunia tentu saja menyebabkan manusia berada dalam segala konsekuensi keduniawian dan berujung pada murka Allah yang memandang dengan adil kepada seluruh manusia. Artinya tidak ada seorang pun yang layak dan benar dihadapan Allah ketika identitas dunia masih melekat kepadanya. Kehadiran Kerajaan Allah menjadi tawaran baru untuk keluar dari kemelut tersebut dan memberikan kesempatan untuk dibenarkan dihadapan Allah.
Mengalami Penebusan (Rm. 3:24; 1 Kor. 1:30; 6:20; 7:23; Gal. 3:13; 4:5; 5:1; Ef. 1:7; Kol. 1:14)
Keterikatan manusia atas dunia – ibarat gaya grafitasi – menjadikannya sangat membutuhkan segala bentuk aspek atau tawaran “keduniawian”. Selain itu, keterikatan tersebut menjadikan manusia sebagai musuh Allah dan layak untuk mendapat hukuman. Kerajaan Allah merupakan tawaran dan kesempatan kepada manusia untuk memperbaharui hubungan dengan Allah, sebab didalamnya Allah menyatakan penebusannya atas permusuhan dengan diri-Nya.
Diperdamaikan (Ef. 2:16; Kol. 1:20; Rm. 3:25)
Kesediaan Allah untuk nenyediakan jalan keluar/penubusan atas keterikatan yang dialami manusia memiliki konsekuensi terciptanya hubungan damai. Rekonsilisasi yang dikerjakan oleh Yesus Kristus bertujuan agar harga pendamaian dipenuhi secara tuntas, sehingga tidak ada ganjalan lagi dalam hubungan antara Allah dengan manusia. Kerajaan Allah memenuhi semua tuntutan hukum atas manusia berdosa untuk menjadi layak dihadapan Allah.
Mengalami pengampunan (Kol. 2:13; 3:13; Ef. 1:7; 4:32; Rm. 4:7)
Pada bagian awal dijelaskan tentang dua kutub kerajaan dengan konsekuensinya. Kerajaan Angkasa berujung pada murka Allah dan Kerajaan Allah dengan anugerah-Nya. Dua kutub tadi membawa pada pengertian sebab-akibat. Menjadi bagian kerajaan Angkasa berarti hukuman, sedangkan Kerajaan Allah membawa pada keadaan diampuni.
Diangkat sebagai anak (Rm. 8:15; Gal. 4:5; Ef. 1:5)
Berbicara tentang kerajaan berarti membahas perihal kewarganegaraan. Menjadi warga Kerajaan Allah sekaligus menjadi jalan masuk untuk diterima oleh Allah dalam kemuliaan-Nya dan menikmati segala fasilitas sebagai anak Allah.

Selain aspek-aspek tersebut, realita hadirnya Kerajaan Allah dalam diri orang percaya harus dipahami menurut pemahaman yang holistic:
Aspek Kesempurnaan (1 Kor. 15:24-25; 50; Ef. 5:5; Kol. 1:12)
Aspek Kepemilikan (Kol. 1:13; 1 Tes. 2:12)
Aspek Kerja Keras (2 Tes. 1:5; 1 Tim. 4:15-16)
Aspek Kebenaran (Rm. 14:17; 1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:21)
Aspek Kuasa (1 Kor. 4:20)
Aspek Kekinian (Kol. 4:11)
Aspek Keakanan (2 Tes. 1:10)
Aspek Karunia (Rm. 8:39)

 

Aspek Etis

Bentuk paparan teologis – etis adalah gaya tulisa dalam surat-surat Paulus. Bentuk yang konsisten ini sekaligus menjadi petunjuk tentang pentingnya teori – praktek; Tidak hanya menekankan pada aspek doktrinal tetapi juga memberi porsi yang tepat pada tataran aplikatif. Hasil dari bergabungnya seseorang dalam Kerajaan Allah tidak hanya dapat dilihat pada aspek teologis (apa yang telah Allah kerjakan), tetapi juga aspek etis (apa yang harus manusia lakukan). 5 hal yang menonjol dari aspek etis Paulus adalah:
Karunia dalam Pelayanan
Konsekrasi dalam dinamika hidup.
Kasih pada keluarga.
Kepedulian pada sesama.
Kepekaan terhadap ciptaan.

Aspek Kronologis
Sangat jelas dalam seluruh tulisan Paulus, Kerajaan Allah terealisasi pada masa kini dan masa akan datang. Pada masa kinilah orang percaya diselamatkan (dengan segala konsekuensinya) dan hidup dalam Kerajaan Allah (sifat-sifatnya dapat dilihat pada chart), tetapi pada masa depan akan berlangsung juga Kerajaan Allah secara penuh atas dunia. Konsekuensi logis dari kehadiran Kerajaan Allah atas hidup orang percaya sudah berlangsung, dan akan mencapai klimaksnya ketika Kerajaan Allah direalisasikan secara penuh.

Aspek Sejarah Penyelamatan
Tuhan Yesus secara pribadi menyatakan bahwa kehadiran-Nya sudah dinubuatkan dan dibicarakn oleh Perjanjian Lama. Antara lain terdapat dalam: Yohanes 5:32-47. Pernyataan-pernyataan tersebut tentu cukup sebagai bukti bagi klaim khas Kristus bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama menulis tentang diri-Nya. Sebagai tambahan terhadap klaim-klaim langsung ini, para penulis kitab Injil mengemukakan sejumlah nubuat yang digenapi menyangkut kedatangan Mesias ke dunia. Tidak diragukan ada begitu banyak rujukan terhadap Kristus dalam Perjanjian Lama yang tidak secara khusus diungkapkan dalam Perjanjian Baru. Pastilah maksud utama diutarakannya nubuat-nubuat tersebut adalah untuk memberi nilai bukti, baik bagi Kitab Suci itu sendiri maupun bagi Kristus.
Nubuat yang digenapi, khususnya apabila mengandung banyak perincian, seperti nubuat yang berkenaan dengan Kristus, akan menjadi salah satu bukti penyataan ilahi yang sangat kuat, karena kemungkinannya untuk dipenuhi secara nyata menjadi hampir mustahil. Dan bagi kita, nubuat-nubuat tersebut telah menjadi hal yang menguatkan kepercayaan kita terhadap-Nya. Karena itu merupakan maksud kami untuk mengemukakan nubuat yang dapat dilihat dengan mudah menyangkut kedatangan-Nya yang pertama ke dunia, tanpa memasukkan nubuat menyangkut kedatangan kedua kali yang masih akan terjadi pada masa mendatang.
Nubuat Mesianis dalam Pentateukh
Kejadian 3:15—Protevangelium
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Nubuat ini, yang dikemukakan segera setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, telah hampir secara universal diakui sebagai nubuat pertama tentang Penyelamat. Ada tiga hal yang terdapat di dalamnya. Penyelamat adalah keturunan perempuan, dengan demikian seorang manusia, dan tanpa terlalu dipaksakan dalam soal penggunaan kata-kata pada kalimat itu kelihatan bahwa kelahiran Sang Penyelamat dari seorang perawan telah disiratkan. Penyelamat tersebut akan mengalahkan Si Ular, tetapi dengan melakukan hal tersebut Penyelamat itu sendiri harus mengalami penderitaan.

Kejadian 12:3; 17:19; 24:60; 28:14—Keturunan Abraham
Walaupun benar berkat terbesar bagi dunia akan disalurkan melalui pelipatgandaan keturunan Abraham, Rasul Paulus berkata bahwa janji-janji tersebut secara khusus berkaitan dengan satu keturunan itu, yakni Kristus; Galatia 3:16. Janji-janji ini membatasi bahwa Mesias, Keturunan si perempuan, adalah keturunan Abraham.

Kejadian 49:10—Shiloh
“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya (KJV: until Shiloh come, sampai Shiloh datang), maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” Nubuat ini, diutarakan oleh Yakub di ranjang kematiannya, lebih lanjut membatasi Mesias sebagai berasal dari suku Yehuda. Para rabi zaman dahulu hampir tanpa kecuali mengajarkan bahwa Shiloh adalah gelar Mesias yang akan datang, walaupun tidak ada rujukan dalam Perjanjian Baru terhadap nubuat ini. Barangkali karena lebih menunjuk kepada kedatangan-Nya yang kedua kali, saat Ia akan menduduki jabatan-Nya sebagai Pemerintah dan Raja, sehingga para rasul dalam menulis tentang kedatangan-Nya yang pertama tidak merujuk nubuat ini.

Ulangan 18:15—Nabi
“Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Bahwa nubuat Musa ini menunjuk kepada Mesias, telah diperkuat Perjanjian Baru. Pada waktu Yesus secara ajaib memberi makan kepada lima ribu orang, orang-orang berkata, “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yohanes 6:14). Ini menjadi bukti bahwa orang Yahudi telah diajarkan untuk mengharapkan Nabi yang akan datang itu. Mungkin saja orang-orang itu mengharapkan kedatangan baik Mesias maupun Nabi yang dijanjikan, karena dalam Yohanes 7:40, 41 dicatat mereka mengatakan, “ ‘Dia ini benar-benar nabi yang akan datang’. Yang lain berkata, ‘Ia ini Mesias’.” Ketika Yohanes pembaptis memulai pelayanannya orang Yahudi bertanya, “Engkaukah nabi yang akan datang?” (Yohanes 1:21). Apa pun pengertian orang Yahudi tentang identitas Sang Nabi, Petrus maupun Stefanus dalam Kisah Para Rasul 3:22 dan 7:37 memperjelas bahwa Nabi itu adalah Mesias, Tuhan Yesus Kristus.

Bilangan 24:17-19
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set …. dan dari Yakub akan timbul seorang penguasa, yang akan membinasakan orang-orang yang melarikan diri dari kota.” Nubuat ini tidak dikutip dalam Perjanjian Baru, tentu karena menubuatkan kedatangan Mesias yang kedua kali, dan hal tersebut belumlah digenapi. Namun ada rujukan-rujukan bagi Mesias melalui pelambangan sebuah bintang. Orang Majus mengikuti bintang untuk menemukan bayi Yesus (Matius 2:2), dan Mesias berbicara dalam Wahyu 22:16, “Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.” Petrus menunjuk kepada Mesias sebagai “bintang timur” (2 Petrus 1:19). Ada usaha yang dilakukan untuk membuat nubuat ini menunjuk kepada salah satu raja Israel dalam Perjanjian Lama, tetapi sejarah tidak menyediakan informasi apa pun yang dapat memberi pertimbangan bagi klaim ini. A. J. Kligerman menyatakan nubuat ini dipandang sebagai nubuat Mesianis oleh Targum-targum Yahudi Onkelos dan Yonatan serta oleh Mammonides dan Rashi. Juga diakui demikian oleh kebanyakan penafsir konservatif. Kembali di sini dikatakan bahwa Mesias akan muncul dari Yakub. Tongkat kerajaan, tentu saja menunjuk kepada pemerintahan Mesias sebagai Raja dalam Kerajaan Milenial, sama seperti yang terdapat dalam nubuat yang diucapkan Yakub dalam Kejadian 49:10. Tidak ada hal dalam nubuat ini yang menunjuk kepada kedatangan pertama Mesias ke dunia.

Nubuat Mesianis dalam Kitab-Kitab Sejarah
2 Samuel 7:12, 13
“Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.” Kata-kata ini adalah bagian dari Perjanjian Daud yang agung itu dan menyangkut sesuatu yang jauh melebihi Salomo, anak Daud, yakni menyangkut Mesias, anak Daud yang lebih agung lagi. Gabriel, dalam pemberitahuannya kepada Maria, berkata, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:32, 33).
Yesus Kristus bukan hanya lahir untuk duduk di atas takhta Daud, tetapi Ia juga bangkit dari kematian untuk maksud yang sama, sesuai dengan yang dikatakan Petrus, “Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan” (Kisah Para Rasul 2:30, 31). Lebih penting lagi bahwa Petrus mengutip nubuat ini pada hari Pentakosta,karena hal tersebut akan menjadi petunjuk yang lain lagi bahwa tekanan berita pada hari itu bukanlah pada pembentukan Tubuh Kristus yang tidak dinubuatkan sebelumnya, tetapi penawaran akan Mesias, Sang Raja, kepada Israel, sebagai pemenuhan terhadap Perjanjian Daud.

Nubuat Mesianis dalam Mazmur
Kitab Mazmur secara istimewa kaya dengan nubuat kedatangan dan pekerjaan Mesias. Ruang terbatas ini hanya memungkinkan untuk mengemukakan segi-segi utama dari yang Ia lakukan.

Maksud Kedatangan-Nya yang Pertama
Mazmur 40:8-9: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku.” Mazmur ini dirujuk kepada Mesias dalam Ibrani 10:5-9.

Mazmur 69:8-10: “Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.” Murid-murid Yesus mengingatkan kembali bahwa Mazmur ini menulis tentang Kristus ketika Ia menghalau para penukar uang dari bait Allah (Yohanes 2:17). Paulus juga mengaplikasikan Mazmur ini kepada Kristus dalam Roma 15:3.

Mazmur 2:7: “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’.” Mesias di sini dinyatakan sebagai Anak Allah. Tampaknya Kayafas, Imam Besar itu, mengerti Mesias Anak Allah, karena ia bertanya, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63). Begitu juga dengan Natanael, ketika mengenali Yesus sebagai Mesias, berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yohanes 1:49). Rasul Paulus mengutip Mazmur pasal dua ini, mengaplikasikannya kepada Tuhan Yesus Kristus dalam Kisah Para Rasul 13:33. Dari konteksnya tidak jelas apa yang dimaksudkan dengan ungkapan, “Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Para ahli teologi telah berbicara tentang generasi kekal Sang Anak, yakni Ia tidak memiliki permulaan, tetapi diperanakkan secara kekal. Mengenai diperanakkan beberapa ayat menunjuk kepada inkarnasi, saat kemanusiaannya diperanakkan melalui pekerjaan Roh Kudus, sementara ayat-ayat yang lain berbicara tentang kebangkitan-Nya dari antara orang mati (Kolose 1:18; Wahyu 1:5). Penulis kitab Ibrani juga merujuk Mazmur di atas kepada Mesias (Ibrani 1:5; 5:5).

Ke-Ilahian-Nya
Mazmur 45:7: “Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” (KJV: “Thy throne, O God, is for ever and ever,” Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk selama-lamanya). Kembali penulis surat Ibrani merujuk kutipan tersebut kepada Mesias, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya’.” (Ibrani 1:8). Tampak begitu jelas bahwa penulis yang diilhami ini, di sini mengakui Mesias sebagai Allah.
Mazmur 110:1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu’.” Pernyataan ini dikutip dalam Matius 22:41-45; Markus 12:35-37; Lukas 20:41-44; Kisah Para Rasul 2:34, 35; Ibrani 1:13; 10:12, 13. Yang secara khusus menarik adalah rujukan dalam kitab-kitab Injil, karena di sana Tuhan Yesus Kristus sendiri mengaplikasikan ayat-ayat tersebut terhadap diri-Nya dan menggunakan ayat-ayat itu untuk membungkam orang Farisi. Ketika Ia bertanya kepada mereka anak siapa Mesias itu, mereka berkata, Anak Daud. Yesus pun mengajukan pertanyaan yang tidak mungkin mereka jawab tanpa mengakui ke-Ilahian-Nya, “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: ‘Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu’. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Dengan jelas Daud menyebut Anaknya, Mesias, Tuannya.
Keimaman-Nya
Mazmur 110:4: “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek’.” Tokoh misterius yang bertemu dengan Abraham seribu tahun sebelum Daud menulis kata-kata tersebut, tidak pernah dikutip lagi dalam Alkitab selama seribu tahun berikutnya sampai penulis surat Ibrani mengenakan gelar itu kepada Mesias (Ibrani 7:1-28). Pribadi yang tanpa catatan me ngenai permulaan dan akhir kehidupannya ini, dengan demikian menjadi lambang yang sesuai bagi keimaman kekal Yesus Kristus.

Pengkhianatan dan Penyaliban yang Ia alami
Mazmur 41:10: “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” Yesus sendiri mengutip nubuat ini menunjuk kepada pengkhianatan terhadap-Nya oleh Yudas (Yohanes 13:18, 19).
Mazmur 22: Keseluruhan Mazmur ini, dimulai dengan seruan dari Salib, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” adalah penggambaran sangat jelas tentang penyaliban Mesias. Rujukan-rujukan dalam Matius 27:46-50 dan Yohanes 19:23, 24 mengindikasikan bahwa para penulis kitab-kitab Injil memandang Mazmur ini sebagai nubuat penyaliban.

Kebangkitan-Nya
Mazmur 16:9, 10: “Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” Baik Paulus maupun Petrus dalam khotbah-khotbah mereka yang dicatat dalam Kisah Para Rasul mengutip nubuat ini untuk menyokong kebangkitan Kristus (Kisah Para Rasul 2:22-28 dan 13:34, 35).

Kedatangan-Nya yang Kedua Kali dan Pemerintahan Milenium
Penggambaran terhadap hal ini begitu banyak dalam Mazmur sehingga telah berada di luar jangkauan pokok ini untuk mengemukakannya. Namun, Mazmur 2 dan 72 cukup mewakili. “Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! …. Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia” (Mazmur 72:11, 17). Penggambaran ini melampaui apa yang telah dicapai Salomo, yang dilukiskan Mazmur ini, dan tidak diragukan telah menunjuk kepada Putra Daud yang lebih agung, saat Ia datang untuk menata dunia yang telah disalah atur manusia sejak peristiwa Kejatuhan ke dalam dosa.

Nubuat Mesianis dalam Kitab Nabi-Nabi
Pada dasarnya semua tulisan para nabi menunjuk kepada kedatangan dan pekerjaan Mesias, sehingga sebenarnya diperlukan berjilid-jilid buku untuk sepenuhnya membahas setiap perincian tentang pokok ini. Namun, sebagian besar rujukannya berkaitan dengan kedatangan Mesias yang kedua kali serta masa Milenium, yang berada di luar tujuan kita saat ini. Karena itu kita akan mengemukakan secara ringkas nubuat-nubuat yang telah terlihat dengan jelas berkenaaan dengan kedatangan-Nya yang pertama, walaupun, di mana perlu, sebagian yang mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali akan juga dikemukakan jika kedua kedatangan-Nya itu begitu tergabung.
Yesaya 7:14: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Tanpa melihat pada kontroversi yang telah berkembang liar menyangkut istilah “perempuan muda” (KJV: “ virgin,” perawan) dalam pasal ini, Perjanjian Baru membuatnya begitu jelas bahwa nubuat tersebut digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus dan fakta kata “parthenos” digunakan dalam Matius 1:23, sebenarnya sesuai Alkitab, telah menjawab secara tuntas fakta Yesus lahir dari seorang perawan.
Yesaya 9:6: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Ayat berikutnya adalah mengenai masa Milenium ketika Ia duduk di atas takhta Daud. Jelas ada penggambaran nubuat ini dalam Lukas 1:32, 33.
Yesaya 28:16: “Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!’” Rasul Petrus mengutip nubuat ini sebagai telah dipenuhi dalam kedatangan Yesus Kristus (1 Petrus 2:6-8).
Yesaya 42:1-3: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh- Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” Matius 12:15-21 menunjukkan bahwa dalam rujukan ini Yesaya berbicara tentang Yesus.
Yesaya 52:13-53:12: Rujukan Perjanjian Baru kelihatan tidak diperlukan untuk mengetengahkan mengenai nubuat luar biasa tentang penderitaan dan kematian Tuhan Yesus Kristus. Barangkali ayat-ayat Alkitab ini adalah yang paling dekat dibanding ayat-ayat lain dalam Perjanjian Lama yang memaparkan aspek menggantikan dari kematian Kristus. Filipus memberitakan Kristus dari ayat-ayat Alkitab ini (Kisah Para Rasul 8:27-35).
Yesaya 61:1, 2: “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung.” Yesus sendiri mengutip kata-kata tersebut di sinagoge di Nazaret dan memaklumkan, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:17-21). Bahwa Yesus menghentikan pembacaan-Nya di tengah ayat-2, secara dispensasional sangat penting. Ia tidak menyinggung tentang hari pembalasan, karena hal itu tidak akan digenapi sampai kedatangan-Nya yang kedua kali.
Nubuat tentang Kristus sebagai Tunas: Yesaya 4:2; 11:1; Yeremia 23:5; 33:15; Zakharia 3:8; 6:12, 13. Dalam ayat-ayat tersebut Kristus disebut sebagai Tunas yang ditumbuhkan Tuhan, Tunas dari tunggul Isai, Tunas Daud, Sang Tunas, Orang yang bernama Tunas.
Daniel 9:25, 26: “Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa ….” Inilah satu-satunya nubuat yang secara khusus menunjukkan waktu kedatangan Mesias ke dunia, atau lebih tepatnya, waktu kematian-Nya. Sir Robert Anderson mengetengahkan perhitungannya terhadap waktu yang dicakup: “masa antaranya mencakup hari yang akurat dan tepat 173.880 hari, atau tujuh kali enam puluh sembilan tahun nubuatan yang terdiri dari 360 hari, enam puluh sembilan minggu pertama dalam nubuat Gabriel.”
Mikha 5:2: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Bandingkan Matius 2:5-12.
Zakharia 9:9: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion,bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Bandingkan Matius 21:1-10.
Zakharia 11:12: “Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak.” Bandingkan Matius 26:15; 27:9, 10. Tidak diragukan para penulis Perjanjian Baru percaya nubuat yang begitu banyak dari Perjanjian Lama ini digenapi dalam kedatangan dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus, dan jika kita percaya pada pengilhaman Ilahi terhadap Alkitab pastilah kita percaya bahwa, seperti Yesus sendiri memberi kesaksian mengenai Alkitab, “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.”

 
Kerajaan Allah

(dalam Refleksi Spirituality)

Philosophy; Theology; Experience

Apa? Mengapa? Bagaimana?
Apa itu hidup Kristen? Mengapa kita harus hidup sebagai Kristen? Bagaimana kita hidup secara Kristen?
Apa itu karya Allah dalam hidup Kristen? Mengapa Allah berkarya dalam kehidupan Kristen? Bagaimana caranya Allah bekerja dalam hidup Kristen?
Apa itu kesulitan hidup sebagai orang Kristen Mengapa kita harus hidup sebagai Kristen yang berkemenangan ditengah kesulitan? Bagaimana menjadi Kristen yang berpengharapan walau dalam kesulitan?

 

Tujuan Kerajaan Allah dalam Spiritualitas Kristen

Apa itu hidup Kristen? (Mat. 6:25-34)

  1. Hidup bukan hanya urusan ‘hidup’ tapi ‘kehidupan’
  2. Hidup bukan hanya urusan ‘kini’ tapi ‘kekekalan’
  3. Hidup bukan hanya urusan ‘saya’ tapi ‘Dia’

Apa itu karya Allah dalam hidup Kristen? (Yoh. 3:16-21)
Ia memberikan Hak Istimewa:
Penciptaan ciptaan baru
Inkarnasi ‘di dalam Kristus’ agar orang percaya menjadi milik Allah
Kebangkitan berkemenangan
Ia membuka relasi secara berbeda
Before vs after
Under Law under Grace lihat Ibr. 4:14-16
Dalam kegelapan dalam terang
Ia menanamkan potensi ilahi

Apa itu kesulitan hidup hidup sebagai Kristen? (Roma 7:18-24)

  1. Tau kebenaran tapi tidak berdaya dalam dosa
  2. Tau kebenaran tapi terbiasa dalam dosa
  3. Tau kebenaran tapi terikat dalam dosa

Mengapa kita harus hidup sebagai Kristen? (Ef. 2:1-10)
Paulus melihat manusia hidup dari 2 terminologi Kerajaan, yaitu: (1). Kerajaan Angkasa (Ef. 2:2), yaitu roh yang menguasai dan bekerja di antara orang-orang durhaka, ciri-cirinya adalah tunduk pada hawa nafsu daging, kedagingan dan pikiran jahat, yang berujung pada murka Allah; dan (2). Kerajaan Allah (Ef. 5:5).

K.Angkasa ———–> Murka Allah
K.Allah ————> Anugrah Allah

Mengapa Allah berkarya dalam kehidupan Kristen? (Kol. 1:15-23)

  1. Kristus sebagai yang sulung (πρωτότοκος)
  2. Kristus sebagai ‘model’ yang sulung (πρωτεύων)
  3. Kristus sebagai ‘anak domba’ yang sulung (εἰρηνοποιήσας διὰ τοῦ αἵματος τοῦ σταυροῦ αὐτοῦ; having made peace through the blood of His cross)

Mengapa kita harus hidup sebagai Kristen yang berkemenangan ditengah kesulitan? (Ibr. 12:1-17)

  1. Kitalah ahli waris
  2. Konteks kita tidak pernah menjadi lebih mudah
  3. Keberhasilan bukanlah tujuan kita, melainkan proses

Bagaimana kita hidup secara Kristen? (2 Pet. 3:1-15)

  1. Waspada
  2. Iman
  3. Nameless but growing up

Bagaimana caranya Allah bekerja dalam hidup Kristen? (Yak. 1:27)

  1. Persepsi
  2. Penghayatan
  3. Pengalaman

Bagaimana menjadi Kristen yang berpengharapan walau dalam kesulitan? (Yesaya 54:1-6)

  1. Pengharapan harus dilepaskan dari jangkauan akali
  2. Pengharapan harus diselaraskan dengan rancangan ilahi
  3. Pengharapan harus didasarkan pada anugerah Allah

Jadi jika demikian, apakah sebenarnya spiritualitas Kristen itu? (Mat. 7:21-23)

  1. Spirituality tidak bisa digantikan dengan actuality
  2. Spirituality harus lahir dari intimacy
  3. Spirituality harus dijiwai sencitivity

 

RELEVANSI KERAJAAN ALLAH  BAGI KEHIDUPAN ORANG PERCAYA MASA KINI:

Setelah menggumuli hal-hal essensi dalam pembelajaran ini, silahkan mengisi bagian relevansi ini sebagai bentuk komitmen baru dalam mengisi hari-hari baru menurut Perjanjian Baru yang telah Tuhan Yesus buat dengan diri anda secara pribadi:

Dalam konteks pribadi:
Saya dulu adalah pribadi yang …

Namun, mulai sekarang saya akan menjadi pribadi yang …

Dalam konteks keluarga:
Dalam keluarga saya dulu adalah pribadi yang …

Namun, mulai sekarang saya akan menjadikannya sebagai keluarga yang …

Dalam konteks pelayanan:
Saya dulu dalam pelayanan hanya sebagai …

Namun, mulai sekarang saya akan melayani sebagai …
Perhatikanlah beberapa pikiran penutup berikut:

Tidak ada keputusan yang tidak mengandung resiko,
bahkan tidak mengambil keputusan pun tidak akan melepaskan kita dari resiko.
Jadi persiapkanlah keputusan sambil mengambil tanggung jawab dari itu. (NN)

Kita mengajarkan apa yang kita ketahui,
Tetapi kita hanya dapat memproduksi apa yang kita miliki (John Maxwell)

(G. B. Show) Kemajuan mustahil tanpa perubahan,
dan mereka yang tidak bisa mengubah pikiran pasti tidak bisa mengubah apapun

Banyak hal mungkin datang kepada mereka yang menunggu,
Tetapi itu hanyalah sisa dari mereka yang bekerja keras
— Abraham Lincoln –

Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah
dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Tuhan Yesus)

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: